Flawless Step by Step – Step 09

calm-happy

Title

Flawless Step By Step – Step 09

Author

tantriprtstht

Length

Chapter (Baca Chapter 01-08 dulu!)

Genre

Romance & Friendship

Rating

T (Teen)

Main cast

Taeyeon (SNSD) | SuHo (EXO) | Kai (EXO) | Kyuhyun (SuJu)

Desclaimer

FF ini asli dan murni seratus persen dari otak author. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator! No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik saya melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka.

Author’s Note

Ada pergantian POV di tengah-tengah cerita

 

 

“Sip, sudah selesai! Yoona, coba diperiksa!” ucapku lalu Yoona mengambil sebuah kertas yang kupegang.

Untuk beberapa saat, dia memeriksa kertas yang harus kuisi dengan dataku untuk mengambil peran utama dalam sebuah film. Saat ini aku, Yoona, Suho dan Seohyun sedang berkumpul bersama di restoran –tempat Seohyun, Suho dan SooYoung dulu bekerja—untuk merayakan perpisahan denganku karena aku akan pergi ke eropa untuk syuting film.

“Benar semua, Taeyeon-ssi! Selanjutnya kamu tinggal tanda tangan!” seru Yoona lalu mengembalikan kertas dan memberiku pulpen untuk tanda tangan.

Tanda tangan…. Entah sudah berapa kali aku memutuskan untuk latihan tanda tangan tapi tidak sempat. Tanda tangan yang dibuat Kai, belum kulatih sama sekali tapi akhirnya aku tanda tangan. Anehnya tanpa bantuan Kai, tanda tangan itu terlihat sempurna. Seperti aku dan Kai yang tidak bisa menyatu.

Air mataku menetes membuat Yoona, Suho dan Seohyun kaget. “Mian, aku keluar sebentar…”

“Kau ditolak oleh Kai?” tanya Suho membuat Yoona dan Seohyun melotot tapi aku mengangguk. Pertanyaan Suho membuatku batal pergi keluar untuk menenangkan diri. “Bagaimana bisa?”

“Dia bilang kami tidak bisa bersama…. Dia hanya menganggapku sebagai temannya…” jelasku sambil mengusap air mataku. Yoona memelukku erat.

“Tega sekali… Kai membuat Taeyeon menangis!” ucap Yoona lalu aku menggeleng.

“Gwechanna, kupikir Kai memang benar, kami tidak bisa bersama…..” lanjutku lalu Seohyun menarik tanganku.

“Ayo kita semua pergi!” ucap Seohyun membuatku kebingungan. “Masih tidak mengerti? Kita berpencar mencari Kai!”

Kami semua mengangguk dan berpencar mencari Kai. Meski sudah ditolak, aku harus berpamitan dengannya. Rasanya sangat aneh kalau aku pergi dari sisinya tanpa mengucapkan selamat tinggal….

Aku berhenti di sebuah taman saat melihat sosok Kai. Baru saja aku mau mendekati dan aku sadar kalau Kai sedang ngobrol dengan Suho. Ternyata Suho sudah tiba di sini duluan. Aku bersembunyi di balik pohon, berusaha mendengarkan pembicaraan mereka.

“Mau apa, Suho?” tanya Kai lalu Suho mendengus.

“Kenapa kau menolak Taeyeon?” tanya Suho lalu Kai beranjak pergi membuat Suho kesal. “YA! Dengarkan perkataan orang, dong!!”

“Apa urusannya denganmu?” tanya Kai sambil menatap Suho tajam. “Bukankah kau juga sudah berkali-kali menyakitinya?”

“Taeyeon sekarang sangat sedih karena kau campakkan, setidaknya ngobrollah dengannya sebelum dia pergi! Kita berdua tidak tahu kan kalau terjadi apa-apa padanya saat berada di Negara lain?” tanya Suho lalu Kai menggeleng.

“Bukankah bagus? Misalkan dia melanjutkan karirnya di luar negeri, dia memang cocok berada di tempat terbuka daripada berada di sisiku” jelas Kai.

“Kalau dia mengalami kecelakaan? Kamu sama sekali tidak peduli pada Taeyeon?!” bentak Suho lalu Kai membalik tubuhnya.

“3 hari lagi…. Aku akan pergi ke Los Angeles dan menetap di sana untuk belajar!”

“Apa katamu?”

Ucapanku membuat mereka menoleh padaku dengan ekspresi kaget. Air mataku menetes. “Taeyeon… Sejak kapan kau ada di sini? Bukankah kita berpencar?”

“Suho-ssi, aku hanya ingin bertanya pada Kai” lanjutku lalu aku mendekat pada mereka. “Apa benar perkataanmu barusan? Kau akan meninggalkanku? Ke Los Angeles?”

“Ck, bukan urusanmu, Taeyeon” jawab Kai acuh tak acuh membuatku semakin marah.

“Aku peduli padamu, babo!” teriakku.

“Memangnya kapan kau peduli padaku?! Aku yang selalu menolongmu, aku yang selalu menemanimu. Apa yang pernah kau perbuat untukku, hah?!” seru Kai membuat aku dan Suho bungkam.

Kai benar. Jika aku peduli, harusnya aku lebih berusaha mencarinya. Bukan dengan cara memancing dia dengan pengakuan rahasia Suho. Aku yang salah, aku tak pantas berkata bahwa aku peduli padanya.

“Kalau sudah mengerti, cepatlah pergi dari si—“

“Aku tidak mengerti!” seruku memotong ucapan Kai. “Aku tidak akan mendukungmu untuk melakukan itu! Tidak akan pernah!”

Aku segera berlari dari taman itu. Sungguh, baru kali ini aku melihat Kai semarah ini. Air mataku menetes deras, Kai babo babo babo! Meski aku menangis, langit tidak menangis. Aku tidak mengerti. Apa salahku? Apa yang telah aku lakukan sehingga hatinya menjadi keras?

Salah Taeyeon, selama ini hati Kai memang keras. Dia benci kalau orang lain masuk dalam kehidupannya. Tapi dia selalu membantu orang lain.

‘Taeyeon tidak akan kami serahkan!’

‘Syukurlah… Kau baik-baik saja’

Entah kenapa saat menolongku dia terlihat sangat tulus…. Aku rasa Kai tidak pernah berbohong. Apakah itu artinya…. Aku tak punya tempat di hatinya?

*

Aku kembali ke rumah. Yunho menatapku dengan kaget tapi setiap kali dia bertanya, aku hanya menggeleng. Aku segera memasuki kamarku, menutup jendela dengan korden dan mematikan lampu. Kembali terbayang sosok Kai yang terlihat seperti orang yang tidak kukenal. Aku menangis lagi. Sungguh, baru kali ini aku menangis separah ini.

TOK! TOK!

“Ne?” tanyaku.

“Ini aku, Yunho” jawab Yunho membuatku berusaha terlihat seperti tidak menangis. “Boleh aku masuk?”

“Ne, masuklah” ucapku lalu Yunho memasuki kamarku. Dia sangat bingung karena lampu dimatikan, karena itu dia langsung menyalakannya. Yunho duduk di sebelahku lalu menghembuskan napasnya.

“Kemarin malam kamu tidak pulang” ucap Yunho membuatku kaget. Kemarin malam… Aku tidur bersama Suho di sebuah hotel. Mana mungkin aku bilang padanya?

“Ah, itu—“

“Gwechanna. Kamu pasti punya asalan. Tapi lain kali katakanlah kalau mau menginap. Nanti aku cemas” lanjut Yunho membuatku sedikit lega. “Kau habis menangis ya?”

“Aniya….” Jawabku lalu tak terasa air mataku menetes lagi. “Ne, aku habis menangis”

“Karena apa?” tanya Yunho lagi lalu aku menggeleng. “Cerita saja. Tapi kalau kamu tetap tidak mau…. Artinya kamu habis patah hati”

DEG. Entah apakah Yunho memiliki kemampuan untuk membaca pikiran, tebakannya benar. Apa karena dia appaku karena itu sifat kami berdua yang mirip membuatnya mengetahui perasaanku? “Ne, aku habis patah hati”

“Mianhae, Taeyeon. Aku mengerti kamu masih muda dan masih banyak namja lain di dunia ini—“

“Tidak… Meski aku sudah dicampakkan, hanya dia yang berharga. Dia adalah orang yang kucintai di dunia ini lebih dari apapun, Appa” jawabku memotong perkataan Yunho.

“Siapa namja bodoh yang berani membuat gadis cantik sepertimu patah hati?” tanya Yunho tapi seketika Yunho menatapku tajam seperti mengetahui siapa namja itu. “Jangan-jangan…. Kai?”

Aku mengangguk. Tangisanku semakin deras, aku tak bisa menahannya lagi. “Appa… Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku seperti tidak punya tujuan hidup lagi….”

“Taeyeon, aku tahu kamu bukan orang yang mudah menyerah. Jangan takut. Lihatlah kedepan dan biarkan hatimu menjadi penuntunmu. Apa yang benar-benar ingin kau lakukan?” tanya Yunho panjang lebar.

“Aku ingin… Kai memberiku waktu yang lebih lama lagi. Aku tidak percaya dia akan pergi ke Los Angeles dan menetap di sana…. Entah sampai kapan….” Jawabku sambil menghapus air mataku. Yunho menghembuskan napasnya lalu menggeleng. “Waeyo?”

“Apa kau tidak mengerti…. Kenapa Kai melakukan semua itu?” tanya Yunho membuatku sadar bahwa Yunho mengetahui sesuatu tentang Kai.

“Jangan-jangan Appa tahu alasan Kai?” tanyaku lalu Yunho menutup mulutnya seperti sadar kalau dia keceplosan. “Jawab aku, Appa!”

“Ne, aku memang tahu alasan Kai” lanjut Yunho membuatku sangat kaget.

“Jelaskan secara rinci, Appa. Aku berjanji tidak akan memotong” ucapku lalu Yunho berdehem.

“Sebenarnya selain memintaku untuk menjagamu, Kai juga minta untuk dilatih sebagai artis professional. Awalnya aku tidak mau tapi begitu melihat kemampuannya membuat soundtrack, aku setuju untuk mengajari dia secara pribadi. Aku mengizinkannya tinggal di rumah keduaku yang juga mempunyai pengawasan ketat. Alat pelacakpun tidak bisa menembus jaringan di rumah itu.” jelas Yunho.

“Sambil bekerja, aku juga mendidik Kai agar menjadi artis. Aku sadar kalau Kai sebenarnya juga mempunyai bakat, sayangnya jika dia menggunakannya di Seoul, kesempatan untuk menunjukkan bakatnya tidak begitu besar. Karena itu aku merekomendasikan dia untuk belajar ke Los Angeles” lanjut Yunho.

“Kurasa jika di Los Angeles, Kai akan lebih serius dan mungkin kesempatan terbuka sangat lebar untuknya karena itu aku menyuruhnya ke sana. Kai langsung setuju dengan alasan selain belajar, dia ingin kembali menjadi artis yang sangat hebat sehingga kamu tidak berhenti mencapai mimpimu, Taeyeon…..” jelas Yunho panjang lebar.

Tak kusangka Kai bersungguh-sungguh mimikirkanku hingga saat ini. Kim Taeyeon babo! Selama ini aku tidak pernah memberikan Kai kesempatan untuk menunjukkan bakatnya, tetapi aku malah semakin menyusahkan dia dengan membantuku!

Aku benar-benar bodoh. Seharusnya kalau aku mencintainya, aku harus mendukungnya bukan malah menolaknya. Aku sadar itulah arti mencintai yang sesungguhnya. Dan aku sadar kalau aku telah menyakti hati Kai.

Aku mengambil HPku dan membuat Yunho sangat kebingungan. “Mau apa kau Taeyeon?”

“Aku… Ingin pesan tiket pesawat. Aku ingin segera pergi dari Seoul…. Untuk syuting”

*

TAEYEON POV END

AUTHOR POV

Seorang namja sedang membaringkan tubuhnya di bangku taman. Sambil memandangi langit, dia berkali-kali berkata dalam hati apakah dia siap atau tidak.

“Kai”

Sapaan dari seseorang membuat namja bernama Kai itu langsung bangkit dari tidurannya dan mencari sosok yang menyapanya.

“Rupanya Tuan Yunho….” Ucap Kai lalu duduk di bangku taman.

“Aku mau bicara sebentar” lanjut Yunho lalu duduk di sebelah Kai. “Tak kusangka kau menolak Taeyeon. Aku sebagai Ayahnya sangat kecewa padamu”

“Kalau bersamaku, mungkin dia tidak berkonsentrasi pada pekerjaannya… Aku sudah banyak mengganggunya” jawab Kai cepat. “Lagipula sebentar lagi aku juga akan berangkat ke Los Angeles…”

“Ada benda yang dititipkan untukmu” ucap Yunho membuat Kai penasaran.

Yunho memberikan benda itu pada Kai dan membuat wajah Kai seperti orang yang tidak menyangka bahwa benda itu akan diberikan padanya. “Mie instan….”

“Apa kau bisa masak mie instan itu tanpa Taeyeon?” tanya Yunho membuat Kai sedikit kesal.

“Mie instan siapapun bisa membuatnya kan? Kucing di jalan pun bisa” jawab Kai seadanya.

“Tapi apakah ada orang lain yang rela mengurangi satu-satu wortel di mie instan agar kau mau memakannya? Apakah ada orang lain yang mengetahui tingkat kadar bumbu?” tanya Yunho membuat Kai bungkam. “Hanya Taeyeon kan?”

“Aish, tidak kusangka aku kalah adu mulut…..” ucap Kai kesal. “Dia memang istimewa, justru itulah yang membuatku tidak bisa bersamanya”

“Taeyeon sudah menolak Suho” lanjut Yunho membuat Kai terkejut.

“Jinjja?” tanya Kai lalu Suho mengangguk.

“Ne…. Baginya posisimu tidak tergantikan. Dia sungguh-sungguh memikirkanmu” ucap Yunho lalu memberikan sebuah surat pada Kai. “Ucapan selamat tinggal”

Kai meraih surat dari Taeyeon yang sudah diberikan amplop dengan gambar kesukaan Kai.

Untuk Kai.

Apa kau tahu kisah putri duyung? Dia merelakan suaranya agar dia bisa bertemu dengan orang yang disukainya, tapi akhirnya itu semua sia-sia dan dia menjadi buih di lautan. Aku pikir aku juga sama seperti putri duyung itu. Aku rela meninggalkan sekolah, Eomma dan teman-temanku agar bisa bertemu dengan Suho, tapi pada akhirnya semua itu tidak ada hasilnya. Aku malah terjerat dengan banyak masalah. Tapi kau membuat semua itu berubah. Sekalipun ada orang lain yang mencintaiku dengan serius, dan mempunyai impian serta mimpi yang sama denganku…. Perasaan ini tidak berubah, Kai. Aku tahu kau menolakku tapi aku ingin terus memperhatikanmu sampai kau bisa mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Karena kamu adalah orang yang kucintai melebihi siapapun.

 

Kai membaca surat dari Taeyeon hingga air matanya menetes. Dia melipat surat itu dan memasukkannya ke saku dan segera berdiri dari bangku taman. “Kai… Kau mau ke mana?”

“Tentu saja mencari Taeyeon!” jawab Kai cepat.

“Tunggu, Kai! Aku lupa menyampaikannya padamu! Taeyeon… Sekarang sudah di bandara untuk berangkat dan mulai syuting di eropa!”

“Mwo?”

*

Taeyeon menggeret kopernya yang super berat itu. Temannya Yoona dan Suho mengantar kepergian Taeyeon dengan berat.

“Taeyeon-ssi, berjuanglah dalam pekerjaanmu! Kau temanku dan kau harus kembali dalam keadaan selamat!” ucap Yoona sambil memeluk Taeyeon.

“Pasti, Yoona-ssi, pasti” jawab Taeyeon lalu melepas pelukan Yoona.

“Taeyeon, bisakah kita bicara berdua di sana?” tanya Suho lalu Taeyeon mengangguk.

Suho membawa Taeyeon ke sebelah kanan bandara, tempat untuk orang keluar dari pesawat. Suho menyentuh rambut Taeyeon, lalu mengepangnya.

“Bawa jepit kupu-kupu?” tanya Suho lalu Taeyeon mengangguk dan memberikan jepit kupu-kupu yang ia ambil dari tasnya pada Suho. “Nah, selesai”

“Gomawo, Suho-ssi” ucap Taeyeon sambil tersenyum. “Aku janji tidak akan melepasnya sampai aku tiba di sana”

“Taeyeon-ssi, mungkin ini akan menjadi kepangan terakhir dariku untukmu. Bekerja di luar negeri sangat lah berat, berjuanglah” lanjut Suho lalu memeluk Taeyeon. “Berat rasanya untuk melepaskanmu…”

“Kau sendiri bagaimana Suho-ssi?” tanya Taeyeon sambil melepas pelukan Suho. “Meski rahasiamu sudah diketahui banyak orang…  Kau tetap akan melanjutkan karirmu kan?”

“Aku tahu banyak orang yang akan mengejekku saat aku tampil kembali tapi aku tidak sabar untuk menyusulmu” jelas Suho. “Aku pasti akan menjadi artis yang hebat”

“Ne, akan kutunggu sampai kapapun Suho-ssi!” ucap Taeyeon sambil tersenyum dan Suho tersenyum juga. “Sampaikan salamku untuk Kai, karena saat dia berangkat ke Los Angeles, aku tidak ada”

“Pasti, jika ada kesempatan” jawab Suho.

TING~TONG~

“Ah, sudah waktunya berangkat!” ucap Taeyeon lalu bersiap menggeret kopernya. “Gomawo sudah mau mengantarku”

“Taeyeon-ssi, bisa jinjit sebentar?” tanya Suho lalu Taeyeon berjinjit dan Suho menciumnya dengan sangat cepat.

“Suho…..” ucap Taeyeon tersipu saat ciuman mereka berakhir.

“Ini ciuman serius dariku…. Untuk pertama dan terakhir kalinya” lanjut Suho. “Pergilah!”

“Ne! Gomawo!” seru Taeyeon lalu langsung menggeret kopernya. Dengan perasaan malu, dia berjalan langkah demi langkah untuk meninggalkan Seoul…. Sementara atau selamanya.

*

AUTHOR POV END

TAEYEON POV

“Waah, menara Eiffel!” seruku riang.

Ternyata tujuan pertama adalah Paris. Aku tidak sendirian, ada produser Boa dan staff serta pemain lain di sini. Aku harus fokus pada pekerjaanku. Setelah jalan-jalan mengelilingi kota Paris, kami semua menuju hotel milik Produser Boa.

“Ini scriptmu, Taeyeon” ucap Boa sambil menyerahkan naskah film padaku. “Ini film layar lebar pertamamu, berusahalah”

“Gomawo…..” ucapku hati-hati.

“Pasti kamu gugup” lanjut Boa membuatku malu. Tebakannya tepat.

“Ne, gugup sekali… Pasti malam ini tidak bisa tidur…. Kalau nona Boa kan sudah dewasa, boleh minum minuman keras kalau ingin tidur….” Jawabku terbata-bata.

“Kebetulan aku bawakan sesuatu untukmu…. Ini, cobalah” ucap Boa lalu memberikan sebuah gelas padaku.

“Cocktail?” tanyaku lalu Boa mengangguk.

“Ne, cocktail kan non-alkohol, apalagi ini minuman dari luar negeri. Sama seperti dirimu yang harus mulai terbiasa tinggal di luar negeri” jelas Boa.

Aku langsung meneguk dengan cepat cocktail yang menurutku sedikit ada rasa jeruk itu. Tiba-tiba HPku berbunyi membuatku sangat kaget.

“Angkat saja, tidak apa-apa” ucap Boa lalu aku mengangguk.

“Annyeonghaseyo?” tanyaku pada penelepon yang belum sempat aku lihat namanya. Sebenarnya ini nomor tidak dikenal.

“Taeyeon! Ini aku Kyuhyun! Keadaan sekarang sedang gawat!” seru Kyuhyun dari telepon membuatku cemas.

“Yobo seyo, Kyuhyun-ssi! Tenanglah, bicara pelan-pelan!” jawabku yang tidak kalau panik.

“Barusan aku melihat Eommamu digotong oleh petugas ambulan dan dibawa ke Rumah sakit!”

“Mwo?! Ba, bagaimana bisa Kyuhyun-ssi?!” seruku sampai membuat Boa menatapku dengan tatapan heran.

“Kalau menurut saksi mata, Eommamu pingsan di tengah jalan sambil membawa barang belanja….”

“Annyeonghaseyo?! Kyuhyun, kenapa kau berhenti bicara?” seruku lagi.

“Mian, aku telepon pakai telepon umum, kalau ada waktu akan aku telepon lagi. Annyeong Taeyeon” ucap Kyuhyun lalu memutus hubungan telepon.

Aku segera mengambil koperku dan mengecek berkali-kali apa ada barang yang tertinggal atau tidak. Aku mengambil buku telepon Hotel juga HPku dan Boa hanya menatapku dengan heran. “Kau mau kemana, Taeyeon?”

“Aku ingin kembali ke Seoul” jawabku sambil mengetik nomor telepon bandara di Hpku.

“Tapi Taeyeon, syutingnya dimulai besok! Bukankah ini salah satu hal yang penting untukmu agar cita-citamu tercapai?!” seru Boa sambil menahanku.

“Eomma saya sedang sakit dan saya harus kembali untuk melihat keadaan beliau! Saya tidak ingin kehilangan dia!” seruku balik dan membuat Boa marah. “Annyeonghaseyo, saya pesan tiket untuk ke Seoul”

“Taeyeon!!”

Aku tidak menghiraukan Boa yang terus menerus meneriakiku dan akhirnya aku mendapatkan tiket pesawat untuk ke Seoul. Penerbangannya sebentar lagi dan ini saat yang tepat untuk meninggalkan hotel.

“Taeyeon! Kalau kau pergi sekarang, kau akan kehilangan peranmu sebagai tokoh utama!” teriak Boa sesaat sebelum aku membuka pintu.

“Ancaman anda memang bagus, tapi saya tetap harus pergi” ucapku kesal. “Mianhae, kalau ada urusan pekerjaan, silahkan telepon saya lagi”

“Tidak akan, Taeyeon! Sudah kuputuskan, kau akan kukeluarkan dari film ini! Impianmu hanyalah bayangan semata!” teriak Boa lalu aku langsung menutup pintu dan berlari menuju ke luar hotel.

Tidak sulit untuk mencari taxi, meski sempat terjebak macet tapi aku berhasil sampai di bandara dan memasuki pesawat tepat waktu. Yang kupikirkan sekarang bukanlah bagaimana caranya aku bisa mendapatkan kembali peran utama setelah aku kembali dari Rumah Sakit tapi aku hanya bisa berdoa. Kumohon Tuhan, jangan mengambil orang yang berharga untukku….

*

Hujan turun sangat deras di kota Seoul, tidak menghentikan niatku untuk ke Rumah Sakit. Setelah 14 jam berada di dalam pesawat, aku segera mencari taxi dan menuju Rumah Sakit yang alamatnya sudah di SMS Kyuhyun.

Begitu tiba di Rumah Sakit, aku langsung menemukan sosok Kyuhyun yang sedang duduk di ruang tunggu.

“Taeyeon!” sapa Kyuhyun begitu menyadari kehadiranku. “Sedang apa kau di sini?”

“Bagaimana keadaan Eomma?” tanyaku lalu Kyuhyun menggeleng.

“Aku juga baru tiba di sini. Kemarin aku tidak sempat ke sini tapi barusan aku bertanya pada suster kalau Eommamu sekarang sedang dioperasi” jelas Kyuhyun. “Bukankah syutingmu harusnya sudah dimulai?”

“Ah, aku memutuskan untuk melepaskan peran itu” jawabku membuat Kyuhyun kaget.

“Lalu bagaimana dengan produser Boa? Dia pasti marah besar!” seru Kyuhyun lalu aku mengangguk.

“Dia mengancamku tapi aku bilang tidak apa-apa. Dan akhirnya aku kehilangan peran utamaku” lanjutku lalu Kyuhyun memelukku erat.

“Mungkin ini belum saatnya. Bodoh sekali produser Boa tidak menyadari kehebatan aktingmu….” Pelukan Kyuhyun yang hangat membuatku menangis. “Gwechanna. Masih banyak peran lain yang hanya bisa dimainkan olehmu”

“Gomawo, Kyuhyun-ssi…..” ucapku lalu Kyuhyun mengangguk dan melepas pelukanku. “Entah bagaimana jadinya jika kau tidak ada di sini….”

“Bukankah aku sudah bilang, aku mencintaimu dan aku akan melindungimu” jawab Kyuhyun. “Gawat…..”

Kyuhyun menyentuh dahiku sedangkan pandanganku sudah berkunang-kunang. Kenapa tiba-tiba aku merasa sangat pusing? “Taeyeon-ssi, kau demam!”

*

Kubuka mataku dan menyadari kalau aku sedang berbaring dan menatap langit-langit. Bukan di kursi rumah sakit tapi sekarang aku sedang berada di sebuah kasur. “Ini di mana?”

“Sudah sadar?” tanya Kyuhyun membuatku kaget. Aku menyadari sedang ada penurun panas di dahiku. “Ini di rumah kita. Kau demam”

Aku berusaha duduk dengan tegak meski Kyuhyun sudah melarangku. Kyuhyun ke dapur dan membawakanku sebuah makanan yang sudah kukenal dan memang ingin aku makan.

“Mie instan. Mian, hanya ini yang bisa aku buat” ucap Kyuhyun lalu aku tersenyum tipis dan melahap mie instan itu.

“Gomawo…..” ucapku begitu mie instan yang kupegang sudah habis. Kyuhyun bernapas lega lalu kembali ke dapur dan membawakanku minum.

“Istirahatlah lalu kau boleh mengunjungi Eommamu” ucap Kyuhyun lalu aku mengangguk. Kyuhyun keluar dari kamarku. Aku menatap layar HPku. Sudah kuduga, produser Boa pasti tidak akan menghubungiku untuk mendapatkan kembali pekerjaan.

Aku membuka pilihan musik di HPku. Pandanganku tertuju pada “Standing” milik Kai. Tanpa pikir panjang, aku langsung memutarnya.

I’m standing in front of you right now

Looking at your face, your liar face

You are so hard to understand but it makes me love you more

Colors in autumn leaf fall between us

The wind is so cold but I will protect you

I’m not your guardian but I want to ask

If I have tiny place in your heart that makes you have to drink coffee before sleep

Is that the meaning that you’re getting stronger and stronger?

Again I look at your face

You trying to make a joke that you are fine

I already give all of my second to waste my time

Thinking about you, never stop crying when I see you

You don’t have to choose this path, baby?

Whenever you alone, just turn on the radio and hear the melody

While you thinking about me, I’m thinking about you that

Why you have to get this destiny?

Why you take this chance to say goodbye?

Why you leave me alone, in the crowd of people when I’m here for you standing….

I’m here for you standing, waiting for you (waiting for you)

I’m here for you standing, listen to you (listen to you hey…)

I’m here for you standing, to save you (ooh woo ooh)

I’m here for you standing, ready if you want to hug me so tight….

Air mataku menetes membayangkan kalau Kai sedang berdiri di depanku, menyanyikan lagu ini dengan dentingan gitarnya.

Why you leave me alone, in the crowd of people when I’m here for you standing

Kalimat itu…. Seperti perasaanku sekarang. Kenapa Kai seperti meninggalkanku, tidak peduli padaku meski aku dalam keadaan seperti ini di tengah-tengah banyak masalah sedangkan yang bisa kulakukan hanyalah menunggu dia?

Sadarlah Kim Taeyeon. Dia sudah menolak pernyataan cintamu, dia hanya menganggapmu sebagai teman. Aku tidak punya tempat khusus di hatinya. Perih, sakit. Tidak seharusnya aku jatuh cinta pada Kai padahal ada namja lain seperti Kyuhyun dan Suho yang selalu tersenyum untukku.

Karena pemutar musik di HPku aku ‘mix’ karena itu setelah lagu Kai, akhirnya berganti dengan lagu lain. Entah kenapa setelah 30 menit aku sadar kalau yang terputar adalah lagu galau semua. Dan tanganku meraih kertas untuk menulis judul lagu galau yang aku dengarkan.

Back to December milik Taylor Swift

Tried to Walk milik B1A4

Highway Don’t Care milik Tim McGraw

Waiting Outside The Lines milik Greyson Chance

First Love milik After School

Heaven milik Ailee

Gone Not Around Any Longer milik SISTAR19

Come Away to The Water milik Maroon5

Trap milik Henry Super Junior-M

Little Things milik One Direction

Two Is Better Than One milik Boys Like Girls

A Thousand Years milik Christina Perri

I Still Believe milik Hayden Penettiere

Home milik Michael Buble

Half of My Heart milik John Mayer

The House that Built Me milik Miranda Lambert

Someone Like You milik Adele

Ingin sekali rasanya menghapus semua lagu yang aku tulis di atas agar aku tidak galau lagi. Aku kehilangan peranku, aku kehilangan orang yang kusayang dan sekarang keadaanku benar-benar lemah.

Kuperhatikan sebuah gelas dan kemasan obat yang mungkin sudah disiapkan Kyuhyun jika aku merasa tidak enak badan. Aku memperhatikan kapsul itu dan aku mengambil semuanya, tidak peduli berapa jumlahnya yang pasti lebih dari 10. Aku langsung menelan semua kapsul itu dan meminum air sebanyak-banyaknya.

Aku harus kuat, aku harus bangkit. Aku tidak ingin terpuruk hanya keadaan ini. Aku tak peduli apakah obat ini akan membuatku dimarahi Kyuhyun, yang pasti aku harus bisa berjalan besok. Berdiri, standing dan mengambil apa yang berharga untukku.

*

Siang hari. Tadi pagi aku sudah dimarahi oleh Kyuhyun karena menelan kapsul obat tidak sesuai dosis, tapi setelah mendengar penjelasanku dan kutunjukkan daftar lagu galau yang sudah aku tulis, dia hanya pasrah menghadapiku yang menurutnya sangat mirip dengan Yunho.

Aku langsung melangkahkan kaki menuju tempat resepsionis rumah sakit. “Permisi, di mana ruangan tempat Kim SeungHwi dirawat?”

Resepsionis segera menujuk kea rah sebuah papan pengumuman yang berisi daftar jam membesuk. “Belum saatnya membesuk pasien”

“Mianhae, jam berapa yang paling dekat dengan saat ini?” tanyaku lalu resepsionis itu hanya menatapku datar.

“Jam 11 siang”

Aku memperhatikan jam. Kurang 3 menit lagi. Ketat sekali aturan rumah sakit ini. Aku yang datang jam 10:57 saja tidak diizinkan untuk melanggar waktu sedikit saja.

“Permisi nona, anda sudah boleh membesuk. Nona Kim Seunghwi dirawat di lantai 5 kamar nomor 7” ucap resepsionis itu lalu menuduk tanpa dosa.

Aku langsung mengambil langkah secepat mungkin menuju lantai 5 kamar nomor 7. Begitu kubuka pintu, aku langsung mendapati sosok Eomma yang sedang tertidur.

“Wah, ada yang membesuk ya?”

“Suster!” seruku lalu mendekat pada suster itu. “Bagaimana keadaan Eomma saya?”

“Perlu dirawat selama 3 minggu di Rumah Sakit. Operasinya lancar dan sukses, sekarang biarkan Eommamu istirahat dulu ya?” jelas suster itu sambil tersenyum.

“Kamsahamnida!” ucapku lalu memeluk Eomma yang masih tertidur. “Syukurlah Eomma….”

“Oh iya, apa kamu melihat orang lain?” tanya suster itu lalu aku menggeleng. “Karena kemarin malam waktu jam besuk terakhir, ada seorang namja yang datang membesuk dan tadi pagi kuperhatikan dia tertidur di sofa… Tapi apa sekarang dia sudah pulang, ya?”

“Mwo? Namja lain?” tanyaku lalu suster itu mengangguk.

Aku langsung berjalan keluar Rumah Sakit. Sebuah taman bunga yang sangat indah di belakang Rumah Sakit. Banyak sekali bunga bermekaran, seperti perasaanku yang lega karena Eomma baik-baik saja. Tapi siapa namja yang menjaga Eomma kemarin malam?

Kupu-kupu hinggap di rambutku membuatku kaget sekaligus senang. Indah, cantik. Dia terbang mengelilingiku seperti mengatakan aku harus mengikutinya. Aku mengikuti kupu-kupu itu dan dia mengajakku ke sebuah danau di tengah-tengah taman. Seorang namja tegak berdiri membelakangiku, namja yang sudah kukenal dengan sangat baik.

Dia menoleh padaku, lalu tersenyum karena kehadiranku di dekatnya. “Kau…..”

TO BE CONTINUED……………….

 

 

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s