Lachrymose

jjjja-copy

Lachrymose

kissmedeer

SNSD Taeyeon and EXO Xiumin

Romance-Sad and All Rated

Oneshot

Poster by BaeLyrii @ cafeposterart.wordpress.com

Jarum jam yang sedari tadi diperhatikan oleh namja tampan dan imut itu tetap bergerak dengan lancer tanpa hambatan tapi jalanan yang tengah dia lewati ini mengalami macet parah. Dia ada janji dengan istrinya pukul enam malam ini setelah pulang kerja untuk bertemu di sebuah restoran khas Jepang dimana mereka merayakan tahun pertama pernikahan mereka tahun lalu.

Dan kini, mereka akan merayakan tahun kedua di tempat yang sama. Dering panggilan masuk ponsel miliknya—Xiumin berbunyi, dengan cepat dia melihat dari mana panggilan tersebut dan mengangkatnya.

“Halo, Taeyeon-ya? Disini sangat macet. Apa kau sudah tiba?” Tanya Xiumin ketika dia menempelkan ponselnya ke telinganya.

“Tidak, Xiumin-ah. Aku baru saja tiba.”

“Benarkah? Tsk, jalan disini benar-benar padat. Aku takut merusak acara kita nanti.”

“Tidak. Aku akan menunggumu.

“Sungguh? Haha, bagaimana bisa aku tidak menyayangimu, yeobo.

“Hentikan kata manismu itu. Sudah, aku menunggumu. Aku mencintaimu, Xiumin-ah.”

“Aku juga. Aku sangat mencintaimu.” Lalu Xiumin memutuskan panggilan tersebut. Dia duduk sambil memerhatikan jalanan yang ramai dari jendela mobil tersebut. Raut wajahnya yang khawatir mulai Nampak, dia mengendurkan ikatan dasi yang keang dilehernya hingga melonggar lalu menghempaskan nafasnya kasar.

Sungguh. Ini benar-benar macet. Bisa-bisa acaraku dengan Taeyeon akan gagal, Xiumin membatin.

Xiumin menepuk pundak supirnya, seorang pria yang lebih tua darinya, “Ahjussi, aku turun disini saja.”

“Tapi, nyonya Taeyeon berpesan untuk mengantarkan anda sampai tujuan.”

Gwaenchana. Tidak ada waktu lagi jika aku menunggu macet seperti ini.”

“Oh, ne. Hati-hati, tuan.” Xiumin mengangguk lalu mengambil tas kerjanya dan keluar dari mobil tersebut.

Xiumin berjalan mekewati mobil-mobil yang berhenti dengan suara klakson yang nyaring sebagai suara pendukung suasana tersebut. Dia berjalan sambil menutup telinga kirinya karena terlalu bising dan tangan kanannya yang menjinjing tas kerjanya.

Bebrapa menit kemudian, Xiumin sudah lepas dari kebisingan dan kemacetan tersebut. Dia berdiri di pinggir jalan hendak mengehntikan taksi untuk dia tumpangi ke tempat tujuannya.

Tanpa dia sadari ada seseorang yang mengikutinya sedari tadi semenjak dia turun dari mobilnya. Orang tersebut memakai masker hitam, topi hitam, dan pakaian yang serba hitam. Dia terlihat seperti seorang perampok yang mengincar Xiumin.

Tiba-tiba orang tersebut berlari dan merebut tas kerja Xiumin yang penuh dengan berkas-berkas pekerjaannya serta beberapa barang pentingnya. Termasuk hadiahnya untuk Taeyeon, sebuah cincin berlian yang dikirim dari Negara tetangga—Jepang yang dibuat oleh temannya secara khusus untuk Taeyeon.

“HEI! PENCURI!” Teriak Xiumin lalu disusul dengan kejarannya pada perampok tersebut. Dia menyebrangi jalan raya yang lebar itu. Tiba-tiba terdengar suara klakson—TIN TIN! Xiumin menoleh ke cahaya besar yang tepat datang dari arah kirinya. Matanya terbelalak ketika melihat sebuah truk besar kurang dari satu meter dari tempat tengah dia pijaki tersebut.

BRUK!

Xiumin terjatuh. Dahi—tepat diatas matanya terbentur dengan bagian depan truk tersebut dengan keras. Darah segar keluar dari dahinya. Saat itu juga, dia tidak sadarkan diri.

.

.

.

Seorang wanita cantik duduk di atas papan halus yang hangat dan menopang dagunya di atas meja. Dia melihat orang-orang yang keluar masuk restoran tersebut. Dia mengecek arlojinya. Sudah jam tujuh, batinnya.

“Dan Xiumin masih belum datang. Aoa macetnya separah itu?” Gumamnya—Taeyeon. Tiba-tiba panggilan masuk ke ponselnya. Dengan cepat dia meraih ponselnya dan raut kekecewaan muncul di wajahnya yang cantik itu.

“Kenapa Han ahjussi yang menelepon?” Gumamnya sebelum mengangkat panggilan tersebut.

“Halo? Ada apa, ahjussi?”  Tanya Taeyeon. Ketika Han ahjussi—supir pribadi Xiumin tengah berbicara, Taeyeon hanya diam. Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Han ahjussi.

Perlahan air matanya terjatuh, jantungnya terasa berhenti berdetak. Sungguh, dadanya terasa sesak. Dia menangis dengan sangat.

“Ba-baiklah. Aku akan segera kesana.” Taeyeon langsung meninggalkan selembar uang di atas meja restoran tersebut lalu bangkit berdiri dan menuju rumah sakit dimana Xiumin berada sekarang.

.

.

.

Taeyeon duduk layaknya orang bodoh. Kini sudah jam Sembilan malam dan dia masih berada di ruang tunggu di depan ruang operasi dimana Xiumin berada. Xiumin tengah di operasi  sekarang. Taeyeon sudah menghubungi kedua orang tua Xiumin yang sedang mengurusi proyek di Busan sekarang. Katanya; kami akan pulang malam ini juga.

Taeyeon duduk sambil memegang tulang hidungnya—menutupi sebagian wajahnya yang memerah karena menangis. Dia tak berhenti berdoa untuk keselamatan suaminya bahkan dia tidak berminat untuk menyentuh makan malam sekalipun sebelum dia mengetahui bagaimana keadaan Xiumin sekarang.

Bahkan untuk bernapas pun susah. Bagaimana tidak? Suami yang sangat dia cintai itu sedang berjuang mempertahankan hidupnya.

Tiba-tiba ruang operasi terbuka, saat itu juga Taeyeon bangkit dari duduknya dan menghampiri dokter yang menangani Xiumin.

“Dokter, bagaimana keadaan suami saya?” Tanya Taeyeon langsung.

Dokter tersebut melepaskan kacamatanya lalu mengulas dahinya dengan resah.

“Dia baik-baik saja, bukan?” Taeyeon mencoba untuk memastikan.

“Tentu saja. Tapi, dia mengalami kebutaan.” Jawab dokter tersebut.

“Ke-kebutaan?” Tanya Taeyeon bergetar. “Bagaimana bisa dokter? Tolong jelaskan!” Pinta Taeyeon.

“Benturan yang mengenai dahi suami anda tersebut adalah mula dari semuanya. Mungkin saya bisa jelaskan lebih lanjut di ruangan saya.” Jelas sang dokter.

“Aku mengerti. Apakah aku bisa masuk?” Tanya Taeyeon.

“Anda bisa masuk jika suami anda sudah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa. Mohon menunggu sebentar.” Setelah mengucapkan itu, sang dokter berlalu meninggalkan Taeyeon sendirian.

Taeyeon menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit ini lalu terisak lagi. Dia menggigit bibir bawahnya dengan kesal. Kenapa seperti ini? Seandainya dia tidak membuat janji dengan Xiumin untuk merayakan tahun kedua pernikahan mereka mungkin hal ini tidak akan terjadi.

Sungguh, ini adalah bencana yang benar-benar tidak bisa diterima oleh Taeyeon.

“Xiumin-ah..

.

.

.

Matahari mulai terbit dari Timur namun Taeyeon masih belum menutup kedua matanya untuk beristirahat. Dia masih menunggu kedatangan orang tua Xiumin—setidaknya mereka bisa menjaga Xiumin untuk menggantikannya. Dia duduk di bangku sebelah kasur Xiumin sambil memerhatikan Xiumin dengan mata yang tertutup dengan rapat.

Sungguh, Taeyeon sangat sedih. Mata yang selalu berbinar untuk Taeyeon tidak akan bisa dia lihat lagi. Yang bisa dia lihat nanti hanyalah kedua mata Xiumin yang menatapnya dengan tatapan kosong. tiba-tiba air mata keluar lagi dari mata Taeyeon. Entah ini sebuah tangisan atau matanya yang mulai lelah karena terus-terusan terbuka begitu saja.

Taeyeon mengelus punggung tangan Xiumin lalu mengangkatnya dan ditempelkannya tangan Xiumin ke pipinya yang tirus itu. Dagu Taeyeon berkerut menahan isakkannya—dia takut membangunkan Xiumin. Namun, Taeyeon terlalu bodoh. Air mata yang keluar dari matanya tersebut mengalir sampai ke tangan Xiumin dan menyadarkannya.

Jari Xiumin bergerak dan mulutnya mulai menguap layaknya orang biasa yang sehat. Dia hendak memutar tubuhnya ke kiri namun dia mengerang kesakitan. Sepertinya pundaknya juga lebam karena tertabrak oleh truk dengan keras.

Xiumin sadar bahwa ada sesuatu di tangannya. Dia menoleh namun yang dia lihat hanyalah hitam. Hitam. Semuanya pekat berwarna hitam. Tentu dia terkejut. Apakah di kamarnya mati lampu? Tapi, bau ruangan ini benar-benar bukan bau kamarnya. Ini seperti bau rumah sakit.

“Xiumin-ah.” Panggil Taeyeon.

Xiumin menoleh ke asal suara tersebut namun yang dia lihat hanyalah satu warna, yaitu hitam pekat. Dia panik lalu mencari tangan Taeyeon dan ya, dia mendapatkannya.

“Taeyeon, kenapa gelap sekali? Apa kau membuat kejutan, huh?” Tanya Xiumin.

Perlahan Taeyeon memencet tombol untuk memanggil dokter untuk member tahu bahwa Xiumin telah sadar.

“Tidak. Aku sedang tidak membuat kejutan.” Jawab Taeyeon.

“Tapi, kenapa gelap seperti ini?” Tanya Xiumin lagi. Xiumin mencoba untuk mengingat apa yang terjadi sebelum dia terbaring di atas kasur ini. Sebuah truk yang menabraknya.

“Taeyeon-ya, apakah mungkin—“ tiba-tiba pintu ruangan Xiumin terbuka lalu dokter dan beberapa perawat memasuki ruangan. Taeyeon hendak berdiri untuk meninggalkan ruangan namun seorang perawat menghampiri Taeyeon.

“Nona bisa menunggu disini karena dokter ingin berbicara dengan anda dan suami anda.” Ucap sang perawat. Taeyeon berhenti lalu tersenyum, “baiklah.”

Taeyeon duduk di sofa di dekat pintu sambil melihat Xiumin yang sedang diperiksa oleh dokter. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, orang tua Xiumin telah tiba.

“Taeyeon-ya, ada apa?” Tanya sang umma.

“Apakah Xiumin baik-baik saja?” timpah sang appa.

Taeyeon hanya menunduk diam sambil berdiri dari duduknya, perlahan dia memberanikan diri untuk menatap kedua orang tua Xiumin—orang tuanya juga.

“Xiumin…Xiumin….”

“Taeyeon-ya…” Pinta sang umma agar Taeyeon berbicara dengan jelas.

“Xiumin buta, umma, appa.” Sahut Taeyeon dengan gemetar.

Saat itu juga lutut umma-nya melemas. Hampir saja dia terjatuh ke atas lantai yang dingin namun appa-nya menahan dnegan cepat.

Yeobo! Ayo, duduk!” Taeyeon juga membantu sang umma yang hamper saja tumbang saat itu. Tiba-tiba ada seorang perawat yang menghampiri mereka.

“Kalian bisa menghampiri dokter sekarang. Saya akan mengurus Nyonya ini.”

Appa dan Taeyeon mengangguk dengan lemas lalu menghampiri dokter yang berada di samping kasur Xiumin. Appa-nya langsung memegang tangan Xiumin yang sedikit dingin karena suhu ruangan yang rendah.

A…appa?!” Respon Xiumin.

“Baiklah. Aku harus memberi tahu kepada keluarga dari Xiumin sekarang.” Sang dokter berdeham pelan lalu menaikkan kacamata yang ia kenakkan, “Xiumin mengalami kebutaan permanen.”

“Apa?!” Xiumin tersentak lalu mencoba untuk duduk dari tidurnya. Dia menahan air matanya yang hampir keluar dari matanya sedangkan Taeyeon bisa melihat mata Xiumin yang mulai berlinang itu.

“Ba..bagaimana bisa?!” Tanya Xiumin tak sabar. Dia berusaha turun dari ranjang. Baru saja dia menginjak lantai yang dingin itu, dia sudah menabrak sebuah meja yang berdempetan dengan kasurnya.

Air matanya turun saat itu.

“Xiumin-ah!” Seru Taeyeon lalu berlari memutari kasur tersebut dan memeluk Xiumin dengan erat.

“Taeyeon­­-ya…” Panggil Xiumin. Dia tersedu. Dia membalas pelukan Taeyeon dengan erat lalu meletakkan kepalanya di pundak Taeyeon. Membiarkan air matanya yang keluar membasahi baju Taeyeon.

“Taeyeon-ya, maafkan aku. Sungguh, maafkan aku.” Xiumin semakin memeluk Taeyeon dengan erat.

Taeyeon menggeleng pelan lalu menenggelamkan wajahnya di tubuh Xiumin, “tidak apa. Yang penting kau baik-baik saja.”

“Tidak! Aku bisa apa, Taeyeon?” Teriak Xiumin sambil melepas pelukannya dan menatap Taeyeon. Namun yang dilihat oleh Taeyeon hanya tatapan kosong yang penuh dengan air mata.

“Aku tidak bisa menjagamu. Kau yang akan menjagaku. Aku tidak bisa melakukan sesuatu untukmu, kau yang akan nanti. Aku tidak bisa menjadi tangan dan kakimu, kau yang akan menggantikanku. Apa kau pikir aku kuat seperti itu? Melihat wanita yang aku cintai membanting tulangnya untukku?” Tanya Xiumin. Air matanya turun lebih deras dari sebelumnya.

“Xiumin-ah.. Percayalah padaku, aku bisa. Percayalah.” Taeyeon berusaha meyakinkan Xiumin sebisanya.

Haru biru menyelimuti ruangan tersebut. Umma-nya hanya bisa diam dengan tak percaya, melihat anaknya buta itu bukanlah kemauannya.

.

.

.

Langit kota Seoul ini mulai berganti warna menjadi oranye. Hari demi hari telah dilewati semenjak Xiumin keluar dari rumah sakit. Taeyeon mulai bekerja mengganti posisi Xiumin sebagai kepala direktur perusahaan sedangkan Xiumin hanya di rumah, duduk di sebuah sofa sambil mendengar radio.

Benar-benar menyedihkan.

Tiba-tiba pintu rumah mereka terbuka. Xiumin menoleh dengan cepat, “siapa disana?”

“Ini aku, Xiumin.” Suara yang sangat dikenal oleh Xiumin itu memasuki pendengarannya, siapa lagi kalau bukan Taeyeon? Istrinya.

“Oh, bagaimana? Apa kau lelah?” Tanya Xiumin. Pertanyaan ini selalu keluar secara rutin setiap sore dimana Taeyeon tiba di rumah seusai dia bekerja.

Taeyeon terkekeh pelan, “tentu. Siapa yang tidak lelah?”

“Ya, tentu saja.” Balas Xiumin dengan datar. Taeyeon banyak berubah semenjak dia buta. Waktu baru berjalan beberapa minggu saja. Tapi, Taeyeon sudah tidak seperhatian dulu. Mungkin dia terlalu lelah bekerja. Fisiknya lelah, batinnya lelah, pikirannya lelah.

“Aku membeli ayam goring tadi. Aku akan mengambil piring dan kita langsung makan malam. Okay?” Ucap Taeyeon sambil berjalan ke dapur.

Sedangkan Xiumin hanya tersenyum simpul sambil berjalan perlahan ke meja makan dengan tongkat panjang miliknya itu.

.

.

.

Malam pun tiba. Xiumin duduk di tepi kasur lalu menutupi kakinya dengan selimut. Namun, selimutnya tertahan. Sepertinya Taeyeon sednag menimpahnya.

“Taeyeon-ya..” Panggil Xiumin pelan. Dia takut jika Taeyeon sudah tidur. Tidak ada jawaban yang terdengar. Xiumin hendak membaringkan tubuhnya.

“Hm?” tiba-tiba terdengar respon dari Taeyeon.

“Oh-ehm, belum tidur?” Tanya Xiumin dnegan ragu.

“Aku sedang mengurus surat-surat untuk perusahaan paman yang berada di China.” Sahut Taeyeon.xiumin membisu, dia tidak tahu harus menjawab apa lagi.

“Kau tidur saja, Xiumin.” Suruh Taeyeon sambil meletakkan surat-surat tersebut ke meja yang berada di samping kasur mereka.

Ne. Selamat tidur, Taeyeon. Aku mencintaimu.” Salam tidur sari Xiumin itu hanya dibalas dengan dehaman singkat dari Taeyeon.

Sungguh, hati Xiumin menangis. Sepertinya matanya sudah tidak bisa menangis lagi. Mungkin kantung air matanya telah habis untuk menangis setiap Taeyeon bekerja.

Dan seperti malam sebelumnya. Mereka membelakangi satu sama lain. Tidak bertatapan dan membiarkan kesunyian berada di antara mereka.

.

.

.

Matahari mulai muncul dari timur. Sinar matahari menyinari wajah Xiumin—dia menghadap ke jendela. Xiumin terbangun, dia meraih ponsel yang ada di sebelahnya lalu menekan layarnya. Tibat-iba suara keluar dari ponsel tersebut. Member tahu tanggal dan waktu hari ini.

Hari Rabu, 26 Maret 2014. Pukul 05.00 pagi.

Xiumin tersentak mendengar suara tersebut. 26 Maret adalah hari ulang tahunnya dan dia masih hidup dengan memebebani istrinya. Dia bangun dari kasurnya lalu berjalan pelan-pelan keluar dari kamar. Dia yakin Taeyeon belum bangun dari tidurnya.

Xiumin berjalan ke dapur rumahnya. Dia meraih alat pembuat kopi lalu memasukkan bubuk kopi ke dalamnya dan beberapa sendok gula. Ya, Xiumin sudah hapal betul dengan kegiatan ini.

Dia berdiri kurang lebih 5 menit lalu alat pembuat kopi itu berbunyi, menandakan bahwa kopinya sudah tersedia. Dia menarik poci yang tersedia lalu menuangnya perlahan ke sebuah cangkir.

Kopi panas itu mengenai tangannya yang sedang memegang cangkir tersebut, “argh!” erangnya pelan. Lalu dia menuang kopi itu ke cangkir lainnya—untuk Taeyeon.

Ya, biasanya dia hanya membuat satu. Untuk dirinya sendiri karena dia takut jika Taeyeon tidak menyukai kopi dengan rasa aneh buatannya.

“Selesai.” Gumam Xiumin pelan lalu membawa kopi tersebut ke meja makan. Dia harus membangunkan Taeyeon sekarang.

.

.

.

“Taeyeon..” Xiumin membangunkan Taeyeon. Namun, Taeyeon tidak kunjung bangun. “Taeyeon-ya..” Xiumin mulai mengguncangkan tubuh Taeyeon.

“Hm..” Taeyeon menyahut. Perlahan matanya terbuka dan melihat XIumin yang tengah membangunkannya. Dia melihat ke jam dinding.

“Xiumin, ini baru jam 6. Terlalu pagi. Aku masih mau tidur.” Ucap Taeyeon. Xiumin membeku. Apakah Taeyeon melupakan bahwa hari ini hari ulang tahunnya?

“Ba-baiklah.” Xiumin berjalan meninggalkan Taeyeon. Mungkin Taeyeon masih belum sadar betul jadi seperti tadi.

.

.

.

Hari Rabu, 26 Maret 2014. Pukul 07.35 pagi.

Entah sudah keberapa kali Xiumin mengeceknya tapi Taeyeon masih belum keluar dari kamarnya. Sebenanrya Xiumin ingin membangunkan Taeyeon sekali lagi tapi dia harus mengerti seberapa lelahnya Taeyeon yang bekerja untuk menghidupinya.

Dia serba salah. Dia memang tidak bisa apa-apa. Apa yang bisa dilakukan oleh orang buta? Ah yah, ada, yaitu menyusahkan orang.

Itulah yang selalu dipikirkan Xiumin jika Taeyeon bersikap jutek kepadanya. Dia harus mengerti bagaimana keadaan Taeyeon sekarang yang jauh berbeda dengan dulu.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Xiumin menoleh dengan cepat, “Taeyeon? Kau sudah bangun?”

“Responmu jauh lebih cepat sebelum kau bisa melihat.”

Mungkin Yoon atidak sadar mengatakan itu, tapi Xiumin menyadarinya dengan betul. Hatinya terpahat. Apakah Taeyeon tidak memikirkan perasaan Xiumin? Seharusnya Taeyeon tidak menyinggung masalah kebutaannya.

“Taeyeon-ya..” Panggil Xiumin.

“Hm?”

“Aku membuatkan kopi untukmu.” Ucap Xiumin sambil menunjuk dua cangkir yang berada di hadapannya.

“Eoh? Terima kasih. Aku tidak mau.” Balas Taeyeon. Sungguh, Xiumin benar-benar ingin menangis.

“Sudah yah, aku ingin mandi dan ke kantor.”

.

.

.

Xiumin hanya duduk dengan tatapan kosong. Tentu, apa lagi yang bisa dia lihat kecuali sebuah warna yang hitam pekat? Tiba-tiba dia mendengar suara hentakan sepatu bertumit. Pasti itu Taeyeon.

“Aku pergi dulu. Oh yah, aku sudah minta tolong Han ahjussi untuk mengantarmu ke rumah sakit hari ini. Dokter ingin bertemu denganmu.” Ucap Taeyeon.

“Oh, baiklah. Hati-hati, Taeyeon.”

“Hm.” Lagi-lagi sebuah dehaman. Xiumin hanya menyandarkan kepalanya ke sofa lalu menutup matanya. Berusaha menenangkan dirinya.

.

.

.

Bau khas rumah sakit ini lagi-lagi memasukki indera penciuman Xiumin. Sebenarnya dia tidak begitu ingin datang ke rumah sakit jika itu bukan permintaan Taeyeon. Baru saja dia melangkahkan kakinya namun Han ahjussi menghampirinya dan berkata, “mari saya bantu, tuan.”

“Oh, terima kasih, ahjussi.” Balas Xiumin.

“Kalau boleh saya tahu, tuan mau ke dokter mana? Jadi saya bisa membantu.”

“Dokter Park spesialis mata.”

“Oh, baiklah.” Lalu Han ahjussi menuntun Xiumin berjalan menelusuri lorong ruamah sakit hingga berada tepat di depan ruangan dokter Park.

“Ini sudah tiba, tuan.” Ucap Han ahjussi.

“Terima kasih.” Balas XIumin lalu mengetuk pintu ruangan dokter Park. Pintu itu terbuka, muncullah seorang perawat.

“Apakah anda Xiumin?” Tanya sang perawat.

Ne. Saya ada janji dengan dokter Park.” Jawab Xiumin.

“Baiklah. Silahkan masuk.” Perawat tersebut menuntun jalan Xiumin hingga duduk di atas bangku yang berada di depan meja.

“Pagi, dokter Park.” Salam Xiumin sambil tersenyum.

“Pagi. Jadi begini, hari ini anda akan menjalani operasi.”

“O-operasi? Operasi apa?” Xiumin terbelalak. Sungguh jelas bahwa dia sangat terkejut, dia meremas sedikit ujung kemeja yang ia kenakan.

“Dokter Park, operasi apa? Aku tidak sakit apa-apa, bukan? Lagipula aku belum menjalani pemeriksaan dan Taeyeon tidak tahu akan hal ini. Aku harus member tahunya.” Oceh Xiumin panjang lebar. Dia bergegas untuk mengeluarkan ponselnya.

“Operasi mata. Ada yang menyumbangkan kedua matanya untukmu.” Saat ucapan itu keluar dari mulut sang dokter, ponsel yang dipegang oleh Xiumin terjatuh dan terhempas di atas lantai dingin tersebut.

“Me-menyumbangkan? Ma..matanya? Untukku?” Xiumin Nampak tak percaya, bukan, dia memang tidak percaya. Mana ada orang baik yang ingin menyumbangkan penglihatannya kepada orang lain? Siapapun orang itu, tidak akan ada yang mau.

“Identitas ornag tersebut disembunyikan. Dia tidak ingin anda mengetahuinya.” Balas sang dokter.

“Aku tidak mau. Biar saja aku buta jika aku tidak mengetahui siapa penyumbangnya. Setidaknya, aku harus berterima kasih padanya.”

“Kau lebih memilih perasaanmu itu atau rasa pemnyumbang tersebut yang telah memutuskan hal seberat ini?” Tanya dokter Park.

Xiumin terdiam. Dia memikirkan apa yang harus dia lakukan. Dia sangat ingin untuk bisa melihat lagi, mengerjap layaknya orang normal tapi apa dia layak untuk menerima ini semua? Emeperoleh sepasang mata yang seharusnya tidak ia miliki. Dia saja tidak mengetahui siapa pemilik mata tersebut tapi dia berani menggunakannya? Bukankah itu terdengar kejam?

Dokter Park mengeluarkan berkasnya berupa surat penyertujuan operasi yang telah ditanda tangani oleh sang pendonor, “kau harus menerimanya, Xiumin-ssi. Sang pendonor sudah menandatangani suratnya. Bukankah hal tersebut akan sayang jika kau lewatkan.”

“Tapi, bisakah aku memikirkan hal ini sebentar? Beri aku waktu.”

“Tidak ada waktu untuk ini, Xiumin-ssi. Kau harus mengambil keputusan dengan cepat.”

“Ba..baiklah. Bisakah kau memberika pena untuk menandatangani ini?” Minta Xiumin sambil membuka telapak tangannya kepada dokter tersebut.

“Oh, tentu. Terima kasih atas kerja samanya, Xiumin-ssi!”

.

.

.

Taeyeon baru saja tiba di rumah sakit setelah menerima panggilan dari Xiumin bahwa dia akan operasi mata hari ini juga. Taeyeon berjalan mencari Xiumin yang pastinya sedang duduk di ruang tunggu dan benar, ada Xiumin yang sedang duduk sambil memegang tongkatnya.

“Xiumin-ah..” Panggil Taeyeon pelan lalu duduk di sebelah Xiumin.

“Taeyeon?” Respon Xiumin.

Ne, bagaimana? Apa kau menyetujuinya?” Tanya Taeyeon.

“Tentu. Aku harus sangat berterima kasih kepada orang tersebut. Hm, kira-kira siapa ya? Apa kau tahu?”

“Tidak. Aku tidak mengetahui siapa dia.” Balas Taeyeon. Tiba-tiba tangan Xiumin memegang tangan Taeyeon dengan pasti. Dia tersenyum kepada Taeyeon dan berusaha untuk menatap matanya walaupun dia buta.

“Sebentar lagi aku akan melihatmu lagi, Taeyeon.” Xiumin bergirang lalu memperlihatkan deretan gigi putihnya itu.

“AKu akan melihat wanita yang aku cintai lagi seperti dulu.” Lanjut Xiumin sambil melepas pegangannya di tangan Taeyeon.

Tak lama kemudian, seorang perawat menghampiri Xiumin dan berkata, “Tuan Xiumin, silahkan ikut saya. Operasi anda akan dilaksanakan sebentar lagi.”

Xiumin menoleh ke arah Taeyeon, “doakan aku, Taeyeon-ya.”

“Pa..pasti.”

.

.

.

Setelah operasi…

.

.

.

Xiumin terbaring dengan perban yang menutupi matanya. Dia sudah sadar sedari tadi walaupun obat bius masih sedikit terasa olehnya. Tak lama kemudian, dia menderap suara derap kaki dari sebelah kirinya dan berhenti tepat di samping kasur yang tengah dia tiduri ini.

“Xiumin-ssi, apakah anda sudah sadar?” Suara dokter Park ini memasuki pendengaran Xiumin dengan mulus.

Xiumin tersenyum singkat, “ne.

“Baiklah.” Xiumin bisa merasakan bahwa sang dokter memegang tubuhnya yang mengisyaratkan bahwa dia harus bangkit untuk duduk agar perban yang dia kenakan bisa dilepas.

Decitan kasur rumah sakit terdengar ketika Xiumin bergerak untuk duduk. Dia tersenyum lagi, “apakah perban ini akan dibuka sekarang?” Tanya Xiumin antusias.

“Tentu.” Dokter Park membuka perban Xiumin perlahan. Kelopak mata Xiumin yang masih tertutup terlihat ketika perban itu berhasil dibuka dengan sempurna.

“Coba buka mata anda perlahan.” Suruhan dari dokter Park pun dituruti oleh Xiumin. Dia mengangkat kelopak matanya perlahan. Dia bisa melihat titik cahaya yang berasal dari pantulan cermin yang berada di hadapannya. Walaupun masih sedikit buram karena dia baru membuka matanya.

“Bagaimana?” Perlahan penglihatan Xiumin mulai jelas. Seluruh objek di ruangan ini dapat dia lihat dengan sempurna. Xiumin tersdenyum bahagia sambil melihat sang dokter.

“Ini sempurna. Aku sungguh berterima kasih kepada anda.” Ucap Xiumin.

“Tentu. Administrasi telah diselesaikan oleh istri anda. Saya pamit dulu.” Sang dokter pun keluar dari ruangan Xiumin.

Xiumin masih duduk sambil memerhatikan cermin besar yang memantulkan dirinya. Dia tersenyum sekilas, dia benar-benar bahagia karena dia dapat melihat lagi seperti dulu. Taeyeon pasti senang akan hal ini.

Dia mengedarkan pandangannya ke sebelah kanannya. Dia terkejut bahwa dia tidak berada di kelas VIP seperti biasanya. Sebuah gorden membatasi dirinya dengan seorang disana.

Firasatnya berkata, orang yang berada disana adalah pendonor matanya. Ya, jika identitasnya tidak ingin diketahui lebih baik dia tidak berada disana atau berada di ruangan lain.

Xiumin turun dari kasurnya lalu memakai sandal yang disediakan oleh rumah sakit. Dia berjalan perlahan mendekai gorden tersebut dan hendak membukanya.

Suara decitan besi yang menggantungi gorden itu dengan penyangganya terdengar. Perlahan Xiumin membuka gorden tersebut dan dia mendapatkan sosokn wanita cantik dengan rambut warna hitam terbaring diatasnya.

Jantungnya terasa dihantam dengan batu besar. Taeyeon yang berbaring diatas sana.

“Taeyeon!” Seru Xiumin lalu menghampiri Taeyeon dengan cepat. Dia memegang lengan Taeyeon dan memerhatikan wajah Taeyeon—berusaha memastikan bahwa dia tidak keliru.

“Taeyeon? Taeyeon-ya?” Taeyeon bergerak. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali lalu tersenyum hampa. Dia menoleh ke arah Xiumin lalu berusaha memegang tangan Xiumin.

Namun, gagal. Dia malah memegang besi pembatas kasur lalu dia membuang senyumannya begitu saja.

“Xiumin-ah..” Panggil Taeyeon.

TES..

Air mata Xiumin terjatuh mengenai lengan Taeyeon. Xiumin menangis. Tentu saja dia menangis karena Taeyeon. Dia menangis karena kini dia melihat Taeyeon yang sudah tidak bisa melihat. Taeyeon buta. Dia buta karena sudah mendonorkan matanya kepada Xiumin.

“Taeyeon-ya, maafkan aku.”

“Apa yang kau maafkan, Xiumin-ah?

“Taeyeon, kau tidak perlu seperti ini.”

“Seperti apanya?” Tanya Taeyeon. Baru saja Xiumin ingin menjawab tapi Taeyeon memotongnya, “ah! Yah, selamat ulang tahun, sayang. Aku mencintaimu.”

“Yoo..Taeyeon-ya..”

“Aku harap hadiah aku ini bisa menjadi kebahagiaan untuk kita berdua.” Harapan Taeyeon tersebut membuat hati Xiumin terketuk.

“Aku yakin kau bisa menggunakan kedua mataku dengan baik.” Lanjut Taeyeon.

Xiumin semakin tersedu. Dia menundukkan kepalanya, membiarkan tetesan air matanya jatuh ke atas lantai dengan mudahnya. Dia tidak menanhannya. Dia benar-benar menyesal.

“Xiumin-ah..” Taeyeon berusaha memegang pipi Xiumin yang basah dengan tangan mungilnya itu.

“Jangan menangis lagi. Kau bisa menjagaku, bukan? Itu kemauanmu, bukan?”

“Taeyeon..”

“Melihatlah untukku.” Minta Taeyeon sambil menghapus air mata Xiumin di pipinya.

“Taeyeon-ya, aku mencintaimu.” Xiumin menempelkan bibir tipisnya ke atas bibir tipis Taeyeon. Air mata yang mengalir dari mata Xiumin mengenai pipi tirus Taeyeon itu.

Aku lebih mencintaimu…

.

.

.

.

.

END

Halo! Ini FF khusus untuk ulang tahun Xiumin dan maaf kalau alurnya pasaran. Aku udah kehabisan akal untuk ini tapi aku udah serve my best for all of you! Semoga kalian merasa puas ya! Dan, kalian tahu pasti kalau aku ini bukan tipe author yang suka buat sequel. Jadi maaf ya, jangan berharap. Aku gak mau nge-cewain xD Makasih ya!

Advertisements

One thought on “Lachrymose

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s