Our Love – Part 4

our-love-asriwljng2

Title : Our Love

 Author : asriwljng

Length : Chapter (4.549 words)

Rating : General

Genre : Romance, Family, Sad

Main Cast :

–          Jessica Jung

–          Kris Wu

Other Cast : Find it by your self^^

Disclaimer : FF ini asli punyaku, jika ada kesamaan alur cerita dengan FF lain itu karna tidak kesengajaan.

BEWARE OF THE TYPO(s)!

***

Author POV

Jessica dan Kris hanya menikmati makanan mereka dalam diam, tidak ada yang berbicara. Yang terdengar hanya suara dentingan sendok dan garpu, serta deburan ombak yang menghantam batu besar di pantai ini. Sebenarnya, makan malam mereka ini sangat romantis, lebih dari romantis. Karena mereka makan malam di restoran yang terletak di pinggir pantai, dengan lilin-lilin untuk penerangan yang remang-remang. Restoran ini sebenarnya untuk sepasang kekasih atau pun suami istri, tapi bagi Jessica dan Kris, ini hanya restoran biasa. Persetan dengan restoran romantis. Yang penting rasa lapar mereka sudah hilang dan puas.

“Kita kembali ke Seoul kapan?” tanya Jessica setelah menelan suapan terakhirnya itu. Kris mengalihkan pandangannya dari ponselnya ke arah Jessica.

“Besok malam. Kenapa?”

“Seriuosly?” Jessica mendesah kesal dan menyederkan punggungnya di kursi ini. Matanya hanya memandang pantai ini dengan tatapan tidak minat. Berarti dia tidak jadi pergi bersama Luhan. Jessica menyesal telah menolak ajakkan Luhan tadi siang, dia pikir dia akan pulang 2 atau 3 hari lagi, tapi ternyata 1 hari lagi.

“Kalau gitu, aku ingin pergi setelah sampai hotel. Boleh, kan?” tanya Jessica lagi sambil memandang Kris dengan tatapan memohonnya, biasanya semua orang yang Jessica tunjukkan tampang ini akan luluh, tapi tidak tahu dengan Kris.

“Dengan Luhan? Ya sudah, jangan malam-malam ya. Ini sudah jam setengah tujuh malam. Jika tidak pulang sampai jam 10 malam, besok kau ku tinggal.”

Jessica menatap Kris datar karena mendengar kalimat terakhir Kris. Rasanya Kris memang sudah seperti ayahnya. Bawel sekali, terlalu protektif kepadanya. Jessica benci itu. Orang tuanya saja tidak pernah se-protektif ini kepadanya.

Okay, let’s go home.” Ucap Kris lalu langsung bangkit dari duduknya. Dia meninggalkan Jessica yang berjalan di belakangnya yang sedang menggerutu kesal. Tentu saja dia kesal, semua pengunjung menatapnya dan Kris bergantian, mereka pikir Jessica dan Kris sedang bertengkar karena berjalan berpisah seperti itu.

‘Ugh, restoran ini memang untuk sepasang kekasih rupanya.’ Ucap Jessica dalam hati.

***

Jessica POV

Aku mengecek penampilan ku lagi. Setelah memberi make up tipis di wajah ku, aku langsung mengambil tas kecil ku dan berjalan keluar menuju kamar hotel ini. Ku lihat Kris sedari tadi hanya diam sambil menonton televisi, tapi aku yakin yang menonton itu sebenarnya televisinya, mereka menonton Kris yang sedang terdiam seperti gadis-gadis yang baru saja putus dengan pacarnya.

“Aku pergi, ya.” Aku langsung membuka pintu kamar hotel dan langsung masuk ke dalam lift. Saat sampai di lobby, aku mencari-cari keberadaan Luhan. Aku menemukannya, dia sudah berada di luar hotel ini, dengan tangannya yang memegang rokok. Ku ulang, rokok. Mood ku menjadi sedikit buruk karenya rokok sialan itu, seharusnya Luhan tahu kalau aku tidak suka dengan rokok, terlebih dengan asapnya. Tapi kini dia malah merokok.

“Hai.” Sapa ku yang terkesan sedikit cuek dari biasanya.

“Hai, Jess!” Luhan langsung membuang puntung rokoknya itu ke tanah dan menginjaknya. Aku memperhatikan tingkahnya itu dengan tatapan datar, walaupun sebenarnya di dalam hati ku, aku sudah ingin berteriak kesal ke arahnya.

“Kau merokok?” tanya ku sambil mundur sedikit. Sedikit sekali. Luhan mengangguk dan ingin merangkul ku. Aku ingin menepisnya, tapi aku tidak berani. Perlu kalian tahu, Luhan adalah lelaki yang sangat sensitif, dia tidak bisa di tolak walaupun hal sekecil apapun. Dan dia, dia sedikit tempramental. Jadi aku hanya menerima dia merangkul ku menggunakan tangannya yang habis memegang rokok itu.

“Sejak kapan?” tanya ku lagi. Kami berjalan di trotoar sambil memandangi kota Bali yang semakin malam malah semakin ramai, turis asing juga banyak yang keluar dari berjalan menuju arah yang sama dengan kami berdua.

“Sejak putus dengan mu?” jawabnya yang terkesan seperti balik bertanya kepada ku. Aku langsung memberhentikan langkah ku dan menatapnya galak.

“Kau gila? Kau mau mati, ya? Tidak kasian dengan paru-paru mu? Paru-paru mu itu sekarang sudah berwarna hitam pekat! Aku yakin itu, sangat yakin. Memangnya apa enaknya rokok? Tidak ada, kan?” tanpa sadar aku membentaknya, aku cukup takut juga sebenarnya. Siapa tahu sifat tempramentalnya keluar sekarang, lalu dia menampar ku dan meninggalkan ku sendiri disini.

Tapi anehnya, dia malah tertawa dan mengacak-acak rambut ku dan membuat rambut ku sedikit berantakkan olehnya. “Ternyata kau masih peduli juga pada ku.”

Aku hanya diam, aku juga bingung kenapa aku tadi memarahinya seperti itu. Dia bukan siapa-siapa ku lagi, tapi aku peduli padanya. Apa aku mencintainya lagi? Tidak mungkin, dan tidak akan pernah. Karena ku yakin sekarang, aku menyukai Kris. Menyukai, bukan mencintai. Itu beda. Camkan itu.

Kami sampai di tempat tujuan kami. Aku memandang Luhan dengan tatapan ‘are-you-serious?’ Luhan menunjukkan smirknya pada ku. Aku merinding seketika melihatnya, di tambah lagi angin dingin kota Bali yang seperti menusuk-nusuk tulang ku.

***

Kris POV

Aku menonton televisi sambil memakan cemilan yang sudah ku beli tadi, 5 menit setelah Jessica pergi. Hanya acara ini yang bagus, selebihnya tidak ada. Aku hanya menonton film Iron Man 3, yang sudah ku tonton berkali-kali. Tapi tetap saja aku tidak pernah bosan dengan film ini. Padahal ini hanya sebuah film yang tidak jauh berhubungan dengan besi. Tapi teknologinya itu yang membuat ku betah menonton film ini.

Bel kamar hotel ku berbunyi. Jessica cepat sekali sudah pulang, padahal dia baru pergi selama satu jam. Mungkin dia tidak betah dengan mantan kekasihnya itu, bagus.

“Sud– Apa yang kau lakukan disini?” aku hendak menanyakan Jessica setelah membuka pintu, namun gadis di hadapan ku ini bukan Jessica, tapi Yuri. Gadis gila.

“Kau sendiri?”

“Kalau tidak kenapa dan kalau iya mengapa?” tanya ku balik dengan ketus. Rasanya aku sudah seperti perempuan saja berbicara seperti itu. Yuri terkekeh dan menengokkan kepalanya melihat sekeliling kamar hotel ku.

“Kau sendiri, aku tahu. Aku boleh masuk ya?”

“Alasan apa yang membuat ku harus menerima mu masuk?”

“Alasan yang mungkin.. ini adalah pertemuan terakhir kita?”

Aku tersentak mendengarnya. Pertemuan terakhir? Aku sama sekali tidak mengerti dengan ucapannya. Aku mendadak bodoh jika bersama Yuri. Yuri langsung masuk ke dalam kamar hotel dan duduk di sofa depan televisi, kini dia mulai mengambil cemilan ku dan memakannya sambil menonton film itu.

“Pertemuan terakhir apanya?” tanya ku sambil mentapnya dalam.

“Aku akan pindah bersama Luhan ke Miami.” Jawab Yuri sambil menundukkan kepalanya. Kenapa dia terlihat sangat lemah seperti ini saat membicarakan Luhan? Aku menjadi kasihan dengannya, biasanya aku memeluknya dan membisikkan kata-kata manis ku padanya. Tapi kini aku sadar, aku bukan siapa-siapa dia lagi. Aku tidak berhak melakukan hal seperti itu kepadanya.

“Jadi, mau menemani ku malam ini? Berbincang-bincang? Bernostalgia?” tanya Yuri yang ku yakin suaranya sudah bergetar, dan matanya mulai berkaca-kaca. Aku tak tahan lagi, aku segera memeluknya dan meletakkan kepalanya di dada ku.

Aku harap aku bisa melepaskannya dengan mudah.

***

Jessica POV

Aku memandang Luhan bersiap untuk memarahinya walaupun hasilnya sama saja, dia tidak akan mendengarkan ku. Ini sudah gelas alkohol yang ke-12 yang sudah dia minum. Dia mau mati, ya? Aku saja yang baru meneguk 3 gelas alkohol sudah sedikit pusing. Dan dia sudah 12 gelas, dan akibatnya dia sekarang mabuk, tapi terus menuangkan alkohol itu kedalam gelasnya. Sesekali aku mengambil gelasnya, tapi dia malah membentak ku. Hell yeah.

“Stop it, Lu! Kau akan mati!” aku melarangnya saat dia ingin menuang alkohol ke gelasnya lagi. Dia menatap ku tajam dan tatapannya seperti menusuk ku.

“Kenapa kau sedari tadi berucap ‘kau akan mati’?” tanya Luhan sambil sesekali mengerang. Mungkin dia sudah merasa pusing sekarang. Tentu saja! Kadar alkohol itu 25%, bagaimana kau tidak pusing?!

“Sudahlah, aku ingin pulang. Terima kasih untuk malam ini yang sangat membosankan.” Aku berdiri berniat untuk meninggalkan dia sendiri disini, tapi tangan kekarnya menahan ku untuk tidak pergi. Ugh sial, aku mulai panik sekarang.

“A-apa mau mu?” tanya ku terbata. Dia menyeringai kecil, memandang ku dengan tatapan tajamnya. Sungguh, dia benar-benar berbeda dengan Luhan yang dulu. Luhan yang selalu bersikap lembut padaku, kini sudah tidak ada lagi.

“Mau ku? Aku ingin kau, Jess.” Tatapannya berubah, tatapannya menjadi tatapan seduktif yang membuat bulu kuduk ku merinding saat ini juga. Aku harus kabur darinya, dia gila. Dia tidak waras lagi. Apa jangan-jangan dia hypersex?

Aku mencoba untuk melepaskan genggaman tangannya yang begitu erat pada ku, ku yakin setelah dia melepaskannya tangan ini akan memerah. Tubuhnya tidak begitu besar, tapi tenaganya kuat sekali. Wajahnya tidak terlalu seperti bad boy, tapi sebenarnya dia bad boy. Senyum malaikatnya membutakan ku, membutakan semua perempuan yang sudah dia kencani.

“L-lepaskan, ku mohon.” Ucap ku memohon sambil tetap berontak. Genggaman tangannya perlahan mengendur saat dia mulai mengerang ke sakitan sambil memegang kepalanya. Tanpa pikir panjang, aku segera melarikan diri dari Luhan. Lelaki sinting yang ku kira lelaki baik.

Aku sempat menengok ke belakang, dan meja tampat tadi aku dan Luhan sudah di datangi oleh kedua pelayan di bar ini. Mereke memopoh badan Luhan berdua. Aku tidak mempedulikan Luhan lagi, aku langsung keluar dari club ini yang terasa sangat pengap, tidak seperti di club Seoul. Tentu saja berbeda, di Seoul aku mendatangi club exclusive, tidak seperti ini. Perokok dimana-mana di dalam club ini.

Aku bersyukur karena masih mengingat arah jalan kembali ke hotel. Seharusnya aku menolak ajakkan Luhan! Dasar lelaki bejat!

***

Aku keluar dari lift ini tapi langsung disambut dengan pemandangan yang membuat ku kesal, tidak terlalu, sih. Tapi aku berhak kesal dengan ini. Kulihat Kris dan Yuri sedang berpelukan, mereka berdua belum menyadari keberadaan ku, karena mereka mememakan mata mereka menikmati pelukan ini. Kasihan sekali Kris, sepertinya dia menikmati sekali pelukan itu. Dia memang sudah lama tidak di peluk mungkin.

Aku kembali masuk ke dalam lift sebelum mereka melihat ku. Kalian tahu rasanya seperti apa? Rasanya sakit, teramat sakit. Aku juga tidak tahu kenapa bisa-bisanya aku merasakan sakit hati saat melihat mereka berpelukan seperti itu. padahal kan aku tidak mencintainya, hanya menyukainya. Itu berbeda, kan? Menyukai dan mencintai, menyukai memiliki batas untuk mencintai. Sedangkan aku masih jauh dari batas menyukai. Masih jauh sekali untuk melewati batas suka ku.

Aku keluar dari lift ini dan berjalan menuju cafetaria hotel ini yang beruntung sekali buka 24 jam. Jadi aku bisa menenangkan pikiran ku disini. Tapi, untuk apa aku harus menenangkan diri ku? Sepertinya tidak ada yang salah dengan ku. Ya, benar. Tidak ada yang salah dengan ku!

Hot chocolatenya satu.” Kata ku dengan bahasa Inggris kepada pelayan itu. Dia mengangguk dan tersenyum ramah pada ku, lalu meninggalkan meja ku.

Aku bingung juga, ada alasan apa Yuri datang ke kamar hotel ku untuk bertemu dengan Kris? Sepertinya mereka tidak mengenal sama sekali, tapi aku juga tidak tahu. Mungkin ada sesuatu yang tidak ku ketahui. Tapi aku bisa merasakan kalau pelukan tadi adalah pelukan perpisahan. Mungkin kah… Ugh sial, aku jadi kepikiran tentang mereka berdua, kan.

“Malam-malam disini sendiri? Tidak takut di culik, Jess?”

Aku segera mendongakkan kepala ku, dan langsung menangkap wajah Kris. Untuk apa dia kesini? Lalu dia tahu dari siapa aku disini? Aku hanya diam dan menyuruhnya duduk dengan isyarat lewat dagu ku. Dia langsung duduk dan menjentikkan jarinya bermaksud memanggil pelayan.

“Hei, kau belum jawab pertanyaan ku.” Katanya lagi setelah pelayan itu pergi.

“Pertanyaan apa?” tanya ku balik mencoba secuek mungkin. Dan berhasil, karena memang sifat asli ku yang cuek. Jessica Jung si perempuan tercuek di dunia.

“Sedang apa disini?”

“Sedang duduk. Memang tidak lihat?”

Kris menghela nafasnya, dia ingin berbicara namun pelayan sudah mengantarkan minuman ku yang sudah ku pesan 5 menit yang lalu.

“Kau kenapa?” tanya Kris lagi. Tergambar raut wajah tidak mengerti di wajahnya. Selama ini dia juga tidak pernah mengerti aku, kan? Aku hanya diam tidak menjawab pertanyaannya dan menyeruput hot chocolate ku pelan-pelan. Ini benar-benar hot chocolate, ini panas sekali. Lidah ku seperti terbakar rasanya.

“Aku sedang tidak mood, Kris. Kau kembali saja ke kamar, jangan buat mood ku makin hancur karena mu.” Jawab ku akhirnya sambil mengibaskan tangan ku untuk mengusirnya, tapi dia malah berdiam di tempatnya tanpa berniat sedikit pun untuk mengangkat bokongnya itu dari sofa empuk cafetaria ini.

“Karena apa? Karena tadi?” tanya Kris dengan tatapan menyelidiknya pada ku.

“Tadi? Tadi apanya?” tanya ku pura-pura tidak mengerti, padahal aku mengerti sama sekali. Rasanya aku ingin menampar wajah tampannya itu saja. Bosan juga aku harus melihat wajahnya terus menerus setiap hari.

“Ah sudahlah, aku lelah berbicara dengan mu.” Ucapnya menyerah dan menyederkan punggungnya di sandaran sofa ini.

“Maka dari itu kau lebih baik kembali ke kamar.”

“Aku tidak tega meninggalkan istri ku disini pada jam segini.” Ucapnya dengan penakanan di kata istri. Lalu dia tersenyum jahil kepada ku, tapi sayangnya aku sedang tidak tergoda dengannya.

“Hei, mau tahu sesuatu tidak?” tanya Kris dengan suara yang dia buat sok misterius itu, yang hasilnya gagal total.

“Tentang apa? Serius tidak? Kalau tidak, lebih baik tidak usah.”

“Ini penting, penting sekali, tentang Yuri dan Luhan.” Jawabnya yang langsung membuat ku menatap Kris dengan pandangan berminat untuk mendengarkan sesuatunya itu. Dia terkekeh pelan, namun pesanannya datang terlebih dulu.

“Luhan dan Yuri akan pindah ke Miami.” Kata Kris yang sukses membuat ku tersedak dengan hot chocolate milik ku. Sialan, tenggorokkan ku seperti terbakar seperti ini. Semoga tidak apa-apa. Kaget juga mendengarnya, namun apa peduli ku? Aku sudah tidak peduli lagi dengan Luhan, setelah mendepat perlakuan semena-menanya itu tadi saat di club.

“Oh, ada lagi?”

“Yuri hamil.”

“APA?!”

Aku.sangat.shock. Ku ulangi, aku sangat shock. Dia hamil anak siapa? Kasihan sekali nasibnya Yuri. Dia sepertinya hanya gadis rapuh yang tidak tahu apa-apa tentang dunia ini, dunia ini yang begitu kejam kepada semua orang, apa lagi kepada orang rapuh seperti Yuri, dan juga, uhm aku.

“Anak siapa?”

“Luhan.”

“Oh, lelaki bejat itu.”

Kris melihat ku dengan tatapan terkejut. Mungkin dia terkejut karena aku menyebut Luhan lelaki bejat. Tapi memang benar, kok. Buktinya dia menghamili Yuri. Ah sudahlah, aku terlalu malas untuk mengurusi Luhan. Dia juga akan pindah ke Miami, jadi aku tidak mungkin melihatnya. Pasti.

***

Author POV

Jessica dan Kris terlihat berjalan keluar dari ruang penerbangan. Kini, mereka sudah sampai dengan selamat di Seoul. Jessica membenarkan letak kaca mata hitamnya itu, lalu menarik kopernya dan berjalan lebih cepat lagi dari Kris. Dia terburu-buru sekarang. Tadi, setelah turun dari pesawat dia langsung mengaktifkan ponselnya, dan 2 pesan masuk dari Tiffany. Gadis itu mengatakan bahwa Jessica harus ke kampusnya hari ini juga, tidak ada besok. Seperti ingin mati saja, pikir Jessica.

“Kau langsung pulang, kan? Aku titip koper ku, ya. Aku harus ke kampus dulu. Letakkan saja koper ku di ruang tamu. Nanti aku akan pindahkan ke kamar ku. Okay, see you later, Kris.” Jessica memberikan kopernya kepada Kris setelah mereka sudah berada di dekat mobil yang sudah menunggu mereka sedari tadi. Kris hendak bertanya, namun Jessica sudah memberhentikan taksi dan langsung masuk ke dalamnya.

Dengan bantuan Park Ahjussi, Kris memasukkan kopernya dan koper Jessica di bagasi mobil. Lalu dia langsung masuk ke dalam mobil tanpa mengucapkan satu kata pun.

***

Jessica menelungkupkan kepalanya di atas kedua lipatan tangannya. Sedangkan Tiffany sedang memesankan makanan untuk Jessica di kafetaria kampus mereka. Jessica lapar sekali karena dia hanya makan saat pagi tadi, sebelum keberangkatannya menuju Seoul. Alhasil, penyakit maagnya kambuh dan membuatnya mengerang kesakitan sedari tadi.

“Ini. Di makan, di habiskan. Jangan di sisakan.” Ucap Tiffany sambil meletakkan nampa berisi makanan di depan Jessica. Jessica mengangkat kepalanya dan langsung berhadapan dengan nasi goreng kafetaria kampusnya yang terkenal sangat enak itu.

Thank you so much, Tiff.” Kata Jessica berterima kasih kepada sahabatnya itu dan langsung melahapnya dengan rakus. Seperti tidak pernah di kasih makan beberapa minggu. Tiffany memakan burgernya dengan pelan sambil memainkan ponselnya. Seperti biasa, mengobrol dengan Chanyeol lewat pesan singkat.

“Hei, kau tahu tidak?” tanya Jessica setelah menelan habis suapan terakhirnya itu.

“Tidak.” Jawab Tiffany singkat sambil terus memainkan ponselnya. Jessica mendengus sebal, dia kesal kalau Tiffany sudah bersama ponselnya, apa lagi jika sedang chatting dengan Chanyeol. Dia selalu di diamkan seperti ini.

“Aku bertemu Luhan di Bali.” Kata Jessica cuek yang sukses membuat Tiffany membulatkan matanya tidak percaya. Tentu saja, mereka bertiga dulu satu SMP, dan Tiffany juga kenal dekat dengan Luhan. Jessica selalu cerita kepadanya tentang Luhan, apa pun.

“Lalu? Kau mengobrol tidak dengannya?” tanya Tiffany penasaran. Ini lah Tiffany, sifat penasarannya tidak pernah di sembunyikan. Jessica mengangguk dan menyedot minumannya lewat sedotan bergaris-garis itu.

“Suami mu bagaimana?” tanya Tiffany lagi, namun suaranya lebih kecil dari sebelumnya. Jessica menghela nafas kecil, dia teringat saat pertemuan pertama Kris dan Luhan yang terlihat begitu banyak kebencian di mata mereka. Lalu, saat dia meminta izin kepada Kris untuk berjalan bersama dengan Luhan, Kris terlalu protektif padanya. Seperti takut kalau dia jatuh ke Luhan.

Jessica menceritakan semuanya kepada Tiffany. Dari awal pertemuan mereka, saat dia bertemu dengan Luhan di pantai dekat hotelnya, saat dia dan Luhan pergi bersama pada malam hari sebelum kembalinya Jessica ke Seoul, tentang Yuri dan Kris yang saling berpelukan di depan kamar hotelnya, tentang kepindahan Luhan ke Miami bersama kekasihnya itu, dan tentang kehamilan Yuri, kekasih Luhan.

Are you kidding me?! She is pregnant? Because Luhan?” Tiffany memekik kecil setelah mendengar cerita terakhir Jessica. Tiffany memang tahu betul bahwa Luhan mesum seperti dulu, tapi dia tidak pernah berfikir kalau Luhan akan menghamili perempuan sebelum menikah.

“Yap. Kelakuannya membuat ku jijik dengannya. Tapi aku kagum juga dengannya, dia bertanggung jawab. Yeah, walaupun mereka sepasang kekasih. Tapi kebanyakan jika sepasang kekasih pun, lelaki tidak bertanggung jawab, malah meninggalkan gadisnya. Betul, kan?” kata Jessica sambil matanya memandang lurus ke luar kafetaria, tepatnya ke arah taman kampusnya.

“Iya juga, Jess. Tapi tetap saja aku jadi benci dengannya. Setelah mendengar cerita mu bersama Luhan di club itu. Tidak tahu diri.” Ucap Tiffany sambil mengepalkan tangannya di bawah meja kafetaria. Jessica terkekeh kecil, seharusnya dia yang benci dengan Luhan, bukan Tiffany. Tapi dia memang benci dengan Luhan, kok.

“Oh, setelah lulus kau ingin bekerja dimana?” tanya Jessica penasaran. Dia belum memikirkan ini sebenarnya, padahal kurang dari 3 bulan lagi dia dan Tiffany akan meninggalkan kampus ini, alias lulus. Dia dan Tiffany dari dulu bercita-cita menjadi dasainer, Jessica yang ingin menjadi desainer para model catwalk, sedangkan Tiffany ingin menjadi desainer baju pengantin.

“Aku akan membantu ibu di butiknya. Ibu juga akan menambahkan gaun pengantin di butiknya. Jadi, aku bisa belajar lebih lagi dengan desainer senior yang akan ibu sewa.” Jawab Tiffany dengan bangga. Tidak perlu repot-repot lagi, pasti hal itu akan terjadi. Berbeda dengan Jessica. Mungkin dia akan menjadi desainer kecil-kecilan terlebih dahulu.

“Oh ya? Wah enak sekali. Semoga berhasil!”

“Kau mau bekerja dimana?”

“Tidak tahu.” Jawab Jessica lemas. Dia mengerucutkan bibirnya membuat Tiffany tertawa melihat tingkah laku temannya yang sangat kekanakkan.

“Tapi jika kau bekerja, memang keluarga mu menyetujuinya? Terlebih lagi keluarga suami mu.” Kata Tiffany lagi dengan suara yang kecil saat menyebutkan kalimat terakhir. Yeah, walaupun berita tentang Jessica sudah menikah sudah tersebar oleh seisi kampus, tapi tetap saja. Jessica tidak suka membicarakan itu.

“Aku akan bekerja. Jika mereka melarang ku, untuk apa aku giat belajar di kampus  selama ini? Itu sama saja.”

“Okay, semoga beruntung.”

Tiffany menepuk-nepuk pundak Jessica pelan, memberikan semangat kepada teman dari dia kecil sampai sekarang itu. Her bestie.

***

Kris memakan makanannya dengan pelan, sebenarnya dia tidak memakannya. Hanya mengaduk-aduk makanannya tidak jelas menggunakan sendoknya. Dia merasa sepi sekali, tidak ada Jessica. Biasanya selalu ada suara gadis itu, walaupun tidak sering. Tapi mendengarnya bisa membuat mood Kris menjadi baik, tentu Kris tidak menyadarinya. Dia hanya merasa tenang jika mendengar suara Jessica, walaupun suara gadis itu sedikit membuat telinganya sakit juga.

Kris meletakkan pasta miliknya di tempat cuci piring, lalu dia meninggalkan pasta yang masih tersisa setengah. Dia sedang tidak mood untuk makan, walaupun dia sangat lapar. Tapi sekarang dia sudah tidak terlalu lapar lagi. Kris berjalan menuju ruang santai di rumah ini, yang terdapat televisi dan semacamnya disana. Pekerjaannya hanya menonton saja, tidak ada kegiatan pergi ke kampus lagi. Karena sudah hampir 1 tahun dia lulus dan belum mendapatkan kerja. Padahal ayahnya sudah menyuruhnya untuk belajar tentang bisnis agar dapat mengurus perusahaan keluarganya setelah menikah.

Kris baru menghempaskan badannya di sofa kulit itu, ponselnya langsung berbunyi di dalam saku celana  pendeknya itu. Kris mengeluarkan ponselnya dan panggilan telepon dari ayahnya berbunyi. Dia mengerutkan keningnya dan langsung mengangkat telepon dari ayahnya.

“Hello?”

Kris? Kau dimana?

“Di rumah. Kenapa?”

Bisa ke kantor ayah? Ada yang ingin ayah sampaikan. Penting.

“Baiklah.”

Kris segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Setelah sampai, dia mengambil pakaian casual namun terlihat formal dari lemarinya. Dia memakai t-shirt kotak-kotak yang di padukan dengan jaket kulit coklatnya itu, dan jeans ketatnya yang berwarna hitam. Dan di padukan dengan sepatu basket favoritnya yang berwarna biru gelap dan putih.

Kris mengambil kunci mobil yang berada di atas kasurnya itu, lalu dia keluar dari kamarnya dan siap menuju kantor ayahnya. Mungkin sesuatu yang tidak dia pikirkan akan terjadi sebentar lagi.

***

Kris mengetuk pintu ruangan kerja ayahnya. Tak lama, pintu kayu dengan pahatannya yang menakjubkan itu terbuka dan muncul lah ayahnya dari dalam. Kris langsung masuk ke dalam ruangan ayahnya dan duduk di kursi kosong yang berhadapan langsung dengan kursi ayahnya, yang di batasi oleh meja kerja yang di penuhi oleh berkas-berkas penting perusahaan ini.

Ayahnya lalu duduk di hadapannya dan memangdangnya serius, sama seperti saat mengatakan tentang perjodohan itu beberapa hari yang lalu.

“Ada apa?” tanya Kris langsung kepada ayahnya. Ayahnya menghela nafas sebentar.

“Ayah ingin kau menjadi direktur utama perusahaan ini, sedangkan ayah hanya menjadi komisaris perusahaan ini. Ayah tahu kau suka dengan tentang bisnis. Kau mau, kan?”

Kris terdiam mendengar ucapan ayahnya. Dia tidak pernah terpikirkan untuk menjadi direktur perusahaan keluarganya. Ini jelas sekali membuatnya gugup karena perusahaan ini bukan hanya milik ayahnya, melainkan milik keluarga besar dari ayahnya. Dan karena dia menjadi anak tunggal, dia harus menerimanya. Dia harus menerima untuk di jadikan direktur perusahaan ini oleh ayahnya. Sebenarnya dia tidak apa, karena dia sempat belajar-belajar tentang pekerjaan ini dengan ayahnya dan dengan sekretaris ayahnya itu, Lee Sajangnim.

“A-aku mau, tapi aku tidak terlalu mengerti. Aku hanya belajar dikit tentang ini dengan ayah dan Lee Sajangnim.”

Ayahnya tersenyum ke arah Kris, yang bisa membuat hati Kris terasa hangat. Lalu Kris segera keluar dari ruangan ayahnya setelah selesai bertemu dengan ayahnya.

***

“Bagaimana kalau kita membuat pizza?” usul Kris sambil terus menuruni anak tangga ini, sedangkan Jessica mengikuti Kris dari belakang sambil berpikir. Dia tidak bisa memasak, apa lagi memasak pizza. Tapi dia segera mengangguk setuju karena dia baru sadar kalau Kris bisa memasak.

“Baiklah.” Jawab Jessica setelah sadar Kris tidak akan bisa melihat dia menganggukkan kepalanya tadi.

Setelah sampai di dapur, Kris mengeluarkan beberapa bahan untuk membuat pizza dari kulkasnya. Jessica memperhatikan Kris yang terlihat cool saat memasak. Karena beberapa temannya mengatakan bahwa lelaki yang bisa memasakn itu katanya keren. Jessica tidak mempercayainya, tapi saat melihat Kris saat ini ternyata perkataan teman-temannya benar.

“Mau membantu ku tidak?” tanya Kris menyadarkan Jessica dari lamunannya. Jessica mengangguk dengan cepat dan menghampiri Kris yang kini sedang berkacak pinggang ke arahnya. Mungkin tadi dia terlalu lama melamun.

“Sekarang harus apa?” tanya Jessica sambil memainkan beberapa peralatan masak disini.

“Menyampur adonannya menjadi satu.” Jawab Kris sambil mengambil sekantung penuh tepung. Jessica mengangguk dan memperhatikan cara Kris memasak. Dia terus memperhatikan semuanya dengan teliti, seperti sedang memperhatikan dosennya saat sedang mengajar.

Kris terus menyurh Jessica mengambil beberapa bahan atau peralatan yang di perlukan, sedangkan Kris yang bertugas untuk memasaknya. Benar-benar memasaknya. Dia tidak membiarkan Jessica memasak bersama dengannya. Dia takut masakannya gagal karena Jessica yang salah sedikit atau salah menggunakan peralatan masaknya.

“Hei, aku ingin mengoleskan saus tomatnya.” Ucap Jessica sambil mengambil sebotol saus tomat di dekatnya. Kris menatap Jessica datar yang menunjukkan bahwa Jessica tidak boleh mengoleskan saus tomat di atas adonan pizzanya itu. Jessica mendengus kesal dan berjalan meninggalkan Kris menuju meja makan. Lebih baik dia menunggu masakan itu jadi di meja makan daripada harus berada di samping Kris.

Kris menaburkan parutan pizza di atas adonan pizzanya, lalu menaburkan juga beberapa potongan paprika yang sudah dia potong. Dan menambahkan beberapa topping lain untuk pizzanya. Setelah semuanya selesai, dia memasukkan pizzanya ke dalam oven yang suhunya sudah Jessica atur beberapa menit yang lalu.

Kris melepas celemeknya dan menggantungnya di samping tempat pencuci piring, lalu dia mencuci tangannya yang penuh dengan adonan pizza. Setelah mengeringkan tangannya, dia menghampiri Jessica di meja makan yang sedang menopang dagunya sambil melamun.

“Tidak baik melamun, nona manis.” Ucap Kris sambil mengacak rambut Jessica pelan.

“Kau menyebalkan sekali, Kris!” kata Jessica kesal sambil merapihkan tataan rambutnya menjadi semula. Kris tertawa kecil dan menarik kursi kosong di samping Jessica. Dia tahu pasti Jessica sedang kesal dengannya karena beberapa kali di larang untuk membantu.

“Jangan marah.” Ucap Kris menggoda Jessica. Jessica lagi-lagi mendegus karena Kris. Sudah beberapa kali dia mendengus malam ini untuk Kris. Dan akhirnya Jessica tahu bahwa sebenarnya Kris memang menyebalkan, berbeda sekali dengan sifatnya di luar sana. Sifatnya terlihat cuek dan dingin. Tapi ternyata Kris menyebalkan.

“Jess, coba ceritakan semua tentang mu.”

Jessica mengernyit heran mendengar ucapan Kris. Kris hanya memandang Jessica dengan tatapan memohonnya itu. Jessica menaikkan kedua bahunya tidak peduli.

“Sebentar lagi aku lulus kuliah.”

“Aku sudah tahu itu.”

“Cita-cita ku menjadi desainer terkenal.”

“Oh ya? Apa lagi?”

“Aku terlibat dalam perjodohan gila dengan lelaki bernama Kris Wu. Lelaki yang paling menyebalkan di seluruh dunia. Lelaki yang tidak membiarkan seseorang membantunya. Ugh, sombong sekali.” Kata Jessica di akhiri dengan mencibir tidak jelas kearah Kris. Sedangkan Kris hanya menahan tawanya saat mengetahui bahwa Jessica marah padanya hanya kerena tidak di biarkan membantu untuk memasak.

“Baiklah, lain kali aku akan membiarkan mu memasak bersama ku.”

“Tidak. Kau saja masak sendiri. Giliran mu, coba ceritakan semua tentang mu.” Kata Jessica sambil berdiri dari duduknya untuk mengambul air minum di dalam kulkas. Dia mengambil satu botol air mineral dingin dan kembali menghampiri Kris.

“Sebentar lagi aku menjadi direktur di perusahaan ayah ku.”

“Sombong sekali.”

“Aku mem-“

“Eh, kau bilang kau akan menjadi direktur? Benarkah? Selamat!”

“Aku mempunyai mantan kekasih bernama Kwon Yuri. Dia berselingkuh bersama mantan kekasih istri ku.”

Jessica langsung tersedak minumannya sendiri saat mendengar bahwa Yuri adalah mantan kekasih Kris. Jessica terbatuk beberapa kali, sedangkan Kris mengelus punggung Jessica pelan. Dia tidak tahu kalau Jessica akan kaget seperti ini. Jessica tanpa sadar memegang dadanya sendiri. Rasanya seperti ada yang mengganjal di sana. Seperti rasa sakit. Mungkin dia sakit hati? Tidak mungkin, jawab Jessica dalam hati.

“Duh, aku tidak menyangka. Lalu bagaimana perasaan mu saat mengetahui Yuri hamil karena Luhan? Dan saat mengetahui bahwa dia akan pindah ke Miami bersama Luhan?” ucap Jessica berpura-pura tertarik dengan cerita Kris. Walaupun sebenarnya dia merasa takut mendengarnya. Dia takut kalau Kris masih mencintai Yuri. Yeah, dia sadar kalau dia tidak berhak mengatur perasaan Kris. Tapi sekarang dia istrinya, seharusnya dia berhak.

“Aku kaget mendengarnya. Aku tidak tahu kalau Yuri murahan seperti itu. Padahal saat berpacaran dengannya aku jarang melakukan skinship dengannya. Tapi saat dia bersama Luhan, dia melakukan hal yang lebih dari skinship. Aku berterima kasih sekali kepada ayah karena-“ ucapan Kris terhenti saat mendengar suara dentingan dari alat pemanggangnya berbunyi. Dia segera bangkit dari tempat duduknya dengan  terburu-buru dan menghampiri oven itu.

Dia merutuki dirinya sendiri karena hampir saja terlepas untuk mengucapkan alasan ayahnya menjodohkannya dengan Jessica. Kalau dia terlepas berbicara seperti itu, dia tidak tahu reaksi apa yang akan Jessica tunjukkan kepadanya. Mungkin marah, kesal, dan benci. Mungkin, tapi Kris tidak tahu.

Kris segera mengambil pizza itu dari dalam oven, sebelumnya dia menggunakan sarung tangan tebal untuk mengambil loyang pizza itu. Kalau tidak, tangannya mungkin akan melepuh karena panas. Dia segera memindahkan pizza itu dari loyangnya ke piring yang berukuran cukup besar. Kris membawanya ke meja makan yang disana masih ada Jessica.

“Makannya sambil menonton film saja.” Ucap Kris mengajak Jessica. Jessica hanya mengikuti Kris dari belakang. Dia sedikit merasakan ada yang berubah saat Kris mengatakan tentang ayahnya itu. Dia dan Kris menjadi canggung, tapi Jessica tidak tahu itu benar atau tidak. Tapi dia berharap Kris tidak menyembunyikan sesuatu kepadanya. Karena dia merasa kalau Kris menyembunyikan sesuatu darinya.

TBC

HELLLOOOOOOOOOOOOOWWWWWWWWWWWW! Akhirnya part 4 publish setelah telat beberapa hari wkwkwk. Maaf banget-bangetan kalo part ini makin ga jelas. Sumpah deh, aku ngerasa ga ada apa-apanya sama part ini. Aku ga puas banget sama part ini. Jadi maaf ya kalo kalian juga ga dapet feel apa-apa pas baca part ini.

Comment dan like ditunggu. Thanks~

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s