[Freelance] Story

(new) story

Title
Story

Author
Soshikkum

Lenght
Oneshot

Genre
Family, Romance, Sad

Rate
PG 14

Cast
Hyoyeon-Sehun-Taeyeon

Other Cast
Baekhyun-Jessica-Sooyoung-Chanyeol

Recommend
SNSD-Complete EXO-Miracle in December Jin-Gone S.M The Ballad-Breath

-story-

Kepingan-kepingan salju mulai turun menutupi taman, pepohonan, jalan, atap-atap gedung dan rumah tanpa henti.

Dentingan khas piano mulai menyeruak memenuhi rumah sederhana di salah satu distrik di Seoul, membuat rasa dingin diluar berbanding terbalik dengan suasana hangat di dalam rumah itu.

Gudaegil baraeyo
neomuna sojunghan georyo
gudae-ui sarangi
oh it’s true ojik seoroman bomyeo
gudae gyeote itkko shipeo

Manheun shigan soge byeonhagetjjiman
du son nochi ankireul
just for love
yeongweontorok majimagil sarang

Gudaegil baraeyo
to make my life complete
you make my life complete

(SNSD-Complete)

Permainan piano yang dimainkan Hyoyeon terdengar sangat manis dan suara angelic milik Taeyeon menyatu dengan baik bagaikan kolaborasi antara pianist dan penyanyi terkenal. Terlebih tiap lirik dari lagu itu memiliki makna mendalam membuat suasana semakin hangat.

“Eonni suaramu sangat indah, gomawo sudah bernyanyi untukku.” Hyoyeon bangkit dari kursinya dan memeluk Taeyeon yang sedang berdiri di samping piano berwarna coklat itu. “Permainan pianomu juga sangat baik Hyo-ah.” Jawabnya membalas pelukan adiknya.

“Hyoyeon-ah, kau ingat 2 tahun lalu saat kau memainkan piano dan aku bernyanyi untuk eomma dan appa?”

“Tentu aku ingat eonni, bagaimana bisa aku lupa momen seperti itu.” Ia meletakkan dua cangkir coklat hangat diatas meja lalu mengikuti Taeyeon yang sedang duduk disofa. “Dan itu adalah yang terakhir sebelum mereka…” Hyoyeon berhenti sejenak untuk menahan air matan yang sebentar lagi akan mengalir di kedua pipinya.

Dengan cepat Taeyeon merangkulnya hangat. “Uljima, kau tak mau eomma dan appa sedih kan? Jadi jangan menangis ne?” walaupun ia berusaha menenangkan Hyoyeon, sesungguhnya dalam hati yang terdalam ia juga merasakan apa yang Hyoyeon rasakan. “Aku masih disini bersamamu, dan akan selalu bersamamu, karena aku tak akan meninggalkanmu Hyo.”

-story-

Angin membuat hari bersalju itu semakin dingin. Hyoyeon mengeratkan mantel yang digunakannya sambil mempercepat langkahnya. Ia membersihkan sedikit sisa salju yang menempel di mantel dan kepalanya sesampainya di depan rumah.

Tok tok tok. Tok tok tok. Tok tok tok.

Tak ada sahutan dari dalam rumahnya. Dingin dan rasa khawatir membuatnya memaksakan diri membuka pintu berwarna putih gading itu. ‘Tak terkunci.’

“Eonni?” Ia mengedarkan pandangannya disekeliling ruang tengah yang biasanya Taeyeon tengah duduk di sofa menunggunya pulang kuliah, tapi pada nyatanya gadis dengan pipi chubby dan sedikit semburat merah itu tak berada disana.

“Eonni aku pulang.” Hyoyeon kembali bersuara memanggil kakaknya itu dengan melangkah perlahan dan matanya masih melihat sekeliling.
.
.
.
.
.
.

Jantungnya serasa melompat tinggi saat ia membalikan badannya dan menemukan Taeyeon tengah membawa kue dengan buah sebagai hiasannya serta banyak lilin menyala diantara tumpukan buah-buah itu. “Saengil chukka hamnida, saengil chukka hamnida, saranghaneun Hyoyeon-ah, saengil chukka hamnida~”

Ia merasakan matanya memanas dan senyum v-line terbaiknya dengan mudahnya mengembang di bibir merah muda itu. “Saengil chukkae Hyongie~” Air mata yang sedari tadi menggenangpun terjun bebas di kedipan pertamanya setelah kejutan itu.

“Hey, apa kau tak dengar? Taeng-ah adikmu itu tiba-tiba tuli karena tadi kita mengejutkannya.” Seru Baekhyun yang merupakan kekasih Taeyeon.

Hyoyeon berpura-pura kesal. “Anio, aku tidak tuli oppa.” Balasnya dengan sengit. “Lalu jika kau tak tuli mengapa hanya diam saja? Cepat tiup lilinnya. Atau setidaknya kau berterimakasih pada kami.” Kalimat terakhirnya terdengar sangat kecil tapi masih bisa di dengar oleh kedua gadis bermarga Kim itu.

“Baekhyun, kau membuat kejutan ini menjadi tak sesuai rencana.” Gerutu Taeyeon sambil mengerucutkan bibirnya. “Ne oppa, aku jadi tak ingin meniup lilinnya karenamu.” Tambah Hyoyeon dan itu membuat Baekhyun merasa bersalah. “M-mian.” Duo Kim itu tertawa melihat tingkahnya. “Kami hanya bercanda.” Jawab keduanya berbarengan.

“Kita ulang saja, hana deul set.” Taeyeon memberi aba-aba pada Baekhyun untuk mengulang nyanyian lagu ulang tahun. “Saengil chukka hamnida, saengil chukka hamnida, saranghaneun Hyoyeon-ah, saaengil chukka hamnida~”
.
.
.

Hyoyeon mengepalkan tangannya di depan dada dan menutup matanya. ‘Semoga kebahagiaan ini tak menjadi yang terakhir. Semoga aku bisa melihat Taeyeon eonni dan Baekhyun oppa mengucapkan janji suci sehidup semati di altar, dan memberikan keponakan lucu untuk menambah kebahagiaan ini.’ untuk kedua kalinya ia menangis membayangkan semua harapannya terwujud.

Kemudian ia meniup lilin-lilin itu. “Yeaaay, saengil chukkae~” Seru pasangan itu bahagia.

-story-

1 year later

Loker dengan nama ‘Hyoyeon Kim’ sudah penuh dengan kartu, surat, dan hadiah ulang tahun, sampai-sampai si pemilik bingung sendiri harus diapakan semua pemberian teman-temannya itu.

“Woah~ kau selalu mendapat banyak kiriman saat ulang tahun Hyo.” Mendengar itu Hyoyeon hanya tertawa ringan. “Kau juga Jess. Bahkan kau lebih banyak sepertinya. Terkhusus dari…” Sebelum melanjutkan kata-katanya, ia melirik sedikit kearah Jessica –sahabatnya.

Dari gelagat Hyoyeon-pun Jessica sudah tau nama siapa yang akan disebutkannya. Yeoja yang bisa disebut ‘barbie berjalan’ itu meletakan telunjuknya di bibirnya sendiri bermaksud menyuruh sahabatnya tidak melanjutkan kata-katanya.

Bukan Hyoyeon namanya kalau tidak usil. “K…….” Jessica semakin heboh. Bahkan ia sampai menghentakan kakinya kecil dan itu semakin membuat Hyoyeon bersemangat mengerjai sahabatnya yang sudah panik level atas. “Kris” Nama laki-laki itu tersebut juga, namun Jessica bisa bernafas lega karena Hyoyeon menyebutkannya dengan sedikit berbisik.

 

 

“Hyo-ah kau membuatku panik! Aku benci padamu!” Jessica melipat tangannya di depan dada lalu berbalik memunggungi Hyoyeon. “Kalau begitu aku juga benci padamu.” Dengan cepat Jessica berbalik lagi menghadap Hyoyeon yang tengah menutup kembali pintu lokernya. “M-mwo? Aku hanya bercanda Hyo, tak perlu anggap serius, yayaya?” Kini ia mengeluarkan jurusnya, apalagi kalau bukan aegyo. Sedikit aneh memang, tapi Hyoyeon selalu meleleh melihatnya ber-aegyo.

Pupus sudah harapan Jessica saat Hyoyeon tidak meresponnya sama sekali, bahkan ia meninggalkannya yang masih terpaku di depan jajaran loker besi itu. “Hyoyeon! Aku Cuma bercanda.” Dengan bersusah payah ia mengejar Hyoyeon yang nyatanya berjalan sangat cepat.

“Hyo, please? I’m just kidding really~” Hyoyeon menatap wajah Jessica yang sangat lucu itu lalu tersenyum manis. “Kenapa kau pabo sekali Jess? Aku juga hanya bercanda, astaga.” Kemudian keduanya tertawa bersama, menyusuri lorong kampus untuk pulang.

nan saenggag manhamyeon
sesangeul neoro
chaeul su isseo eum
nunsongi hanaga ne
nunmul han bangul inikka

(EXO-Miracle in December)

Hyoyeon menitipkan buku-buku yang ia bawa di pelukannya itu pada Jessica untuk mengangkat panggilan di hp-nya.

“Yeoboseyo? Waeyo oppa?”

“……”
.
.
.

Waktu berjalan amat lambat bagi Hyoyeon setelah mendengar penuturan Baekhyun. Ia terdiam ditempat, seluruh anggota tubuhnya seakan berhenti bekerja, matanya memancarkan kekosongan. “Hyo-ah, gwenchanayo?” Hyoyeon  sama sekali tak menjawab pertanyaan Jessica.

“Odi-odissoyo?”

“……”
“N-ne oppa.”

Dengan sesegera mungkin Hyoyeon berlari, tak memperdulikan Jessica yang berkali-kali memanggilnya, tak memperdulikan orang-orang yang menatapnya sinis karena dengan cerobohnya ia menabrak orang-orang itu. Saat ini ia hanya fokus pada satu hal, Kim Taeyeon.

Nafasnya masih tersengal-sengal, namun ia tetap berlari di lorong rumah sakit menuju tempat yang tadi Baekhyun beritahukan melalui telponnya.

Hyoyeon berhenti saat ia melihat Baekhyun yang sedang duduk sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya. “Oppa.” Panggilan lirih Hyoyeon menyadarkan Baekhyun.

Kini Hyoyeon sudah berada dipelukan Baekhyun yang ia anggap sebagai kakaknya sendiri. “Oppa, Taeyeon eonni? Dia baik-baik saja kan?” Ia menatap Baekhyun dengan kedua matanya yang jelas memancarkan kekhawatiran.

 

Perlahan Hyoyeon mulai memasuki ruangan dimana Taeyeon berada diikuti Baekhyun.

Bau  obat-obatan menusuk indra penciuman, dan instrumental rumah sakit terpampang jelas dihadapannya. Semua ini membuatnya teringat kembali saat dimana kedua orangtuanya dirawat karena kecelakaan. Semua ini bagaikan deja vu baginya, namun bedanya disana terbaring Taeyeon, kakaknya yang merupakan satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini.
.
.
.

Air mata tak pernah berhenti mengalir. Hyoyeon menggenggam tangan Taeyeon lembut, ia tak ingin membuat kakaknya itu tersakiti. Kemudian tangan itu ditempelkan pada pipinya. Ia bisa merasakan dinginnya tangan yang terlihat pucat itu. “Eonni kau jahat. Kenapa kau tak bilang padaku? Kenapa kau merahasiakannya dariku eonni?” suara tangisannya makin jelas terdengar.

Perlahan Taeyeon membuka matanya. “Hyoyeon-ah.” Suaranya sangat lemah, terlebih dengan alat bantu pernafasan yang bertengger diwajahnya dan menutup hidung serta mulutnya itu membuat suara indah Taeyeon semakin samar terdengar dan suara itu menyadarkan Hyoyeon yang tengah menangis sesenggukan disampingnya.

Hyoyeon membenarkan posisi duduknya. “Eonni, apa ada yang sakit? Atau kau ingin sesuatu? Katakan saja padaku eonni.” Taeyeon hanya tersenyum kecil. Jari jemari lentik itu menghapus air mata di kedua belah pipi manis milik adiknya.

“Kau habis menangis? Apa yang kau tangisi? Apa Baekhyun mengganggumu lagi?” Ia melirik Baekhyun yang tengah menatap dua kakak beradik itu nanar. Gurauan Taeyeon sama sekali tak ditanggapi oleh Hyoyeon maupun Baekhyun.

“Eonni, aku tak bercanda aku…” kembali Taeyeon tersenyum dan itu membuat hati Hyoyeon makin terasa ngilu. “Eonni.” Kemudian tangisnya pecah dalam pelukan Taeyeon. Sekuat tenaga Taeyeon menahan air matanya agar tak memperburuk suasana. Baekhyun memutuskan untuk memunggungi mereka.

 

 

Dengan lembut Taeyeon melepas pelukannya dari Hyoyeon, dihapusnya lagi air mata adik yang sangat ia cintai itu. “Hyo-ah, cepat selesaikan kuliahmu agar kau cepat menjadi dokter sesuai impianmu.” Satu tetes cairan bening keluar dari kedua matanya yang indah.

“Ne, itu pasti eonni, aku akan segera menjadi dokter lalu menyembuhkan penyakitmu ini.” Taeyeon hanya tersenyum lalu menggeleng. “Kau tak perlu menyembuhkanku Hyo, karena… karena… sebentar lagi aku… aku…” ucapannya sedikit terpotong-potong karena ia berusaha menahan gemuruh di dadanya. Matanya mulai memerah menahan kesedihan yang amat mendalam.

 

 

“A-ah aku tau, aku tak perlu menyembuhkanmu karena sebentar lagi kau akan kembali sehat, lalu kembali ke rumah iya kan eonni?” kembali Taeyeon menggelengkan kepalanya. Tangannya mengisyaratkan Hyoyeon untuk mendekat, lalu mendekapnya erat seakan tak ingin kehilangan adik yang tak pernah ia merasa menyesal memilikinya.

“Gapai semua mimpimu Hyo, jadilah dokter, temukan pangeran impianmu, berbahagialah bersamanya.” Ia menarik nafasnya perlahan.

“Eonni akan menyaksikan itu semua dari atas sana, bersama appa dan eomma. Percayalah jika semua itu benar terwujud, kami akan tersenyum. Eomma dan appa akan tersenyum melihat putrinya yang cantik berhasil memenuhi mimpinya. Dan aku akan tersenyum karena melihat pianist favoritku mendapatkan apa yang ia inginkan.”

Dalam pelukan itu Hyoyeon menangis sejadi-jadinya. Begitupun Baekhyun yang kini menatap langit-langit kamar rawat Taeyeon, tak kuat melihat semua ini.
.
.
.
.
.
.
Lama kelamaan pelukan itu mengendur, membuat Hyoyeon menegapkan badannya lagi lalu menatap Taeyeon yang semakin lama senyumannya melemah. Alat pendeteksi jantung juga menunjukkan gerakan yang melemah dan akhirnya menunjukkan garis lurus disertai bunyi nyaring menusuk telinga.

“Andwe! Andwe! Ireona eonni ireona… Kau belum melihatku mendapat penghargaan sebagai mahasiswa terbaik saat wisudaku. Nanti aku akan memberikan sambutan, dan menyebutkan namamu, eomma, appa, Jessica, dan Baekhyun oppa. Lalu kau bertepuk tangan dengan bangga bersama dengan Baekhyun oppa serta Baekyeon, anak kalian. Hahaha nama itu indah bukan eonni? Jadi bangunlah, bangun eonni bangun.” Ocehnya tak jelas. Hyoyeon tau biarpun ia mengucapkan itu, Taeyeon tak akan pernah kembali.
.
.
.
.
.
.

Baekhyun memeluk Hyoyeon untuk menguatkannya, walaupun ia sendiri tak tau pasti bagaimana keadaan hatinya saat ini, melihat wanita yang selama ini ia cintai pergi meninggalkan beribu kenangan indah. “Hyo-ah kau tak boleh seperti ini.” ucapnya menahan tangis. “Oppa, Taeyeon eonni hanya bersandiwara bukan? Dulu ia pemeran drama terbaik disekolah, jadi ini bagian dari aktingnya kan oppa? Katakan ya oppa, katakan.”

Makin erat pelukan Baekhyun pada Hyoyeon yang begitu rapuh itu. “Anio Hyo, kakakmu… kakakmu sudah pergi. Biarkan ia pergi agar tak merasakan sakit lagi. Memang kau tak senang kalau Taeyeon sudah tak tersiksa dengan penyakitnya ini?” Hyoyeon hanya terus menangis dan menangis di dalam pelukan Baekhyun yang bisa ia rasakan kepedihan juga melanda hati tunangan kakaknya itu.

-story-

Hyoyeon’s

Tanganku mengarah mengambil bingkai foto berwarna ungu yang menyimpan foto Taeyeon eonni.

 

 

 

 

 
Dia terlihat manis bukan? Aku mengambilnya saat ia sedang berada di acara pentas sekolah dulu.

Senyum indahnya selalu membuatku tersenyum, aku seperti mendapat energi tambahan disaat aku tengah lelah seperti sekarang jika aku melihat senyum itu. Senyumnya merupakan senyuman yang sangat aku rindukan tiap detiknya.

Kusentuh kaca yang tepat mengarah pada pipinya yang menggemaskan seakan merupakan wujud asli dari seorang Kim Taeyeon. Tanpa aku minta air mata yang sempat tertampung mengalir anggun di pipiku. Air mata yang menggambarkan bagaimana aku sangat merindukannya.
.
.
.

Tok tok tok. “dokter Kim, apa kau didalam?” tok tok tok. Suara itu membuatku buru-buru menghapus jejak air mata tadi. “Ne, masuk saja.” kemudian pintu ruanganku terbuka menampakkan Sooyoung yang merupakan suster asistenku dengan wajahnya yang terlihat panik. “Wae?!”

“Sooyoung cepat ambil pemompa jantung itu!” setelah mendapatkannya aku mulai menekan dada bagian kiri pasienku. 1 kali, 2 kali, 3 kali, tak ada perubahan sama sekali. Kali ini akan kucoba lagi untuk menolongnya. “Dokter jangan!” tanganku ditahan oleh seseorang, adik dari pasienku. “Jangan dilanjutkan, eonni pasti akan kesakitan.” Lirihnya memohon padaku. “T-tapi…” Gadis berumur kira-kira 17 tahun itu menggeleng. Akhirnya aku mengangguk mengerti lalu mundur beberapa langkah, membiarkan ia menghabiskan waktunya bersama sang kakak yang begitu dicintainya.

 

Gadis itu memeluk pasienku yang dia panggil Yoona eonni. Tak lama detakan jantung pasienku melemah dan melemah hingga pada akhirnya berhenti, membuat tangis dari adiknya itu terdengar jelas di telingaku.

Remuk dan sakit. Itu yang kurasakan saat ini. Semuanya hampir seperti kejadian 7 tahun lalu. Kejadian yang begitu memilukan untuk kuingat kembali, tapi tak akan pernah bisa hilang dari ingatanku.

“Sooyoung kau bisa mengurusnya? Aku akan memberikan berkas pemeriksaannya ke administrasi.” Ia mengangguk, lalu aku pergi keluar ruangan itu.
.
.
.
.

Tatapanku kosong, otakku terus memutar kejadian itu bagaikan film. Kutahan tangisanku sampai aku kembali ke ruanganku. Kuambil berkas pemeriksaan gadis bernama Im Yoona itu. Aku mulai membacanya. Umurnya 25 tahun, sama disaat Taeyeon eonni meninggalkan dunia ini.

Haruskah semua ini berkaitan? Seakan cerita yang memiliki 2 versi dengan pemeran utama yang berbeda?

-story-

Kutatap danau kecil yang memang disediakan rumah sakit tempatku bekerja untuk pasien-pasiennya. Angin yang bergerak lambat membuat suraiku bergerak kearah yang sama dengan daun-daun yang berwarna coklat keemasan yang sudah terlepas dari rantingnya sebelum akhirnya mendarat indah dimana saja. ‘Musim gugur. Musim kesukaan Taeyeon eonni.’

Aku mendengak menatap lukisan tuhan yang sangat indah. ‘Aku merindukanmu eonni. Apa kau sudah bertemu eomma dan appa? Kau sudah ceritakan semua yang kita lakukan? Kau sudah tak merasakan sakit lagi kan?’

Sehun’s

Gadis itu lagi. Gadis yang selama 1 minggu ini duduk di kursi taman dan selalu terdiam menatap sekeliling, menikmati hembusan angin yang lembut, tersenyum lalu menitikan air mata.

Awalnya kupikir dia pasien rumah sakit jiwa yang tersasar hingga berada disini. Tapi sekarang aku tau kalau dia salah seorang dokter rumah sakit ini. Bahkan dokter spesialis. Padahal kalau dilihat-lihat umurnya tak berbeda jauh dari umurku, mungkin juga sama.

Selama ini aku hanya mengamatinya, tapi sama sekali berbicara padanya, atau mendengar suaranya. Dengan ragu aku mendekati dokter muda itu, lalu duduk di sisi lain kursi taman yang ia juga gunakan.

 

 

“Hey.” Pertama. “Hey.” Kedua. “Emm Hey?” ketiga, tak sama sekali mendapat respon. Kutepuk pundaknya pelan hingga ia terlonjak kaget. “K-kau siapa? Haish kau hampir membuatku jantungan.” Ternyata dengan ekspresinya yang seperti itu dia sangat lucu. Aku  hanya menunjukan senyum kikuk padanya.

“Dari tadi aku menyapamu tapi tak kau gubris sedikitpun, jadi aku melakukannya hehe, tapi aku sama sekali tak berniat mengganggu lamunanmu.” Ia mengangguk kecil kemudian kembali menatap dedaunan yang terseret-seret di tanah.

 

“Namaku Oh Sehun, kau bisa memanggilku Sehun.” kuulurkan tangan kananku untuk mengajaknya berkenalan setelah sekian menit tak ada pembicaraan diantara kami. Ia menatapku sebentar, tepat dimataku. Kalau kalian ingin tau, matanya sangat indah, sungguh. Kemudian senyum berbentuk v-line itu terulas di bibirnya. “Aku Hyoyeon, Kim Hyoyeon. Aku..”

“Seorang dokter disini-kan?” tatapannya padaku kini seperti tak percaya. “Darimana kau tau?” aku hanya tersenyum geli. “Suster asistenmu.” Kemudian ia mengangguk mengerti.

 

 

Perbincangan sore itu sangat menyenangkan bagiku, walaupun kami hanya membahas hal yang lumrah dibicarakan. Dokter yang sekarang kuketahui bernama Hyoyeon sangatlah menyenangkan. Dia periang, easy going, dan ramah. Tapi yang paling memikat dari semuanya adalah senyumannya. Tiap kali ia tersenyum padaku membuat jantungku berdetak tak beraturan.

“Sehun-sshi, sepertinya aku harus kembali. Jam istirahatku berakhir 5 menit lagi. Terimakasih sudah menemaniku.” Kemudian ia tersenyum, harus kutegaskan. Dia, Kim Hyoyeon, tersenyum padaku untuk yang kesekian kalinya.

“A-ah ne, cheonma.” Kubalas senyumannya. “Anyeong.” Dan ia melambaikan tangannya kearahku sembari berjalan, tentunya sambil tersenyum. Waktu terasa sangat cepat, padahal sudah 1 jam. Mungkinkah? Molla.

“Aku jadi penasaran seperti apa rupanya.” Ucap Chanyeol disebrang sana. “Chanyeol, apakah menurutmu aku menyukainya?” melalui speaker hp, aku bisa mendengar ia tertawa. “Mungkin, dari tadi kau bercerita mengenai emm Hyoyeon, dan tak pernah menyebut kejelekannya. Kau juga selalu merasakan jantungmu berdetak tak beraturan jika melihat senyumnya. Kurasa kau memang menyukainya.”

Yang dikatakan Chanyeol membuatku berfikir. “Hey kau masih disana Oh Sehun?” pertanyaannya menyadarkanku. “N-ne. Oya, sepertinya aku harus istirahat, anyeong.” Setelah ia menjawabnya, kumatikan hp ku itu lalu berbaring.

Aku menyukainya. Tidak aku mencintainya.

-story-

Musim gugur telah berganti menjadi musim dingin. Sejauh ini, hubunganku dengan Hyoyeon semakin dekat. Kami selalu bertukar cerita layaknya seorang teman. Dan sampai saat ini pula aku belum menungkapkan mengenai perasaanku padanya. Entah karena aku tak percaya diri, atau karena aku takut.

Semua barang-barang di ruangannya selalu tertata rapih. Ya kini aku berada di ruangannya selagi Hyoyeon memeriksa pasiennya sebentar.

Aku tertawa kecil melihat salah satu foto yang berada di bingkai merah muda di mejanya.

 

 

 

 

 

Tak kusangka ia bisa berpose seperti itu. Tapi siapa wanita disebelahnya? Wajahnya mirip dengan foto seseorang yang juga disusun bersebelahan dengan foto tadi. Sahabatnya? Kakaknya? Entahlah.

“Maaf kau sudah menunggu lama.” Dengan jas khas dokter berwarna putih itu ia begitu terlihat manis. “Gwenchana, tak terlalu lama.”

“Hyoyeon.” Ia menoleh padaku. “Ne?” sejenak aku terdiam. “Siapa gadis yang berfoto bersamamu itu?” aku menunjuk fotonya yang tadi. Ditunjukkannya senyum tipis sederhananya tapi tetap terlihat cantik. “Kakakku.”

“Kau mau minum apa?” padahal aku belum sempat bertanya lebih jauh mengenai kakaknya, tapi ia sudah bertanya hal lain seolah tak ingin membahasnya lebih lanjut. “Sepertinya tak perlu, aku harus segera kembali.” Hyoyeon hanya membalasnya dengan anggukan kecil. “Kau yakin?” kuanggukan kepalaku mantap. “Baiklah, sampai jumpa.”

“Sampai jumpa.” Aku tersenyum padanya yang juga sedang tersenyum. Kubuka pintu ruangannya untuk keluar dan bertemu dengan Sooyoung.

Hyoyeon’s

Pasti Sehun melihat foto ini tadi. Fotoku bersama Taeyeon eonni di sebuah studio sehari setelah ulang tahunku 8 tahun yang lalu. Dan itu juga merupakan foto terakhir yang kuambil bersamanya.
.
.
.
Sooyoung yang datang membawa berkas berisikan perkembangan kesehatan pasien-pasien yang kurawat membuatku tersadar kembali dari lamunan itu. “Kau mengenal namja tadi dokter kim?” Aku hanya mengangguk sambil terus membalik lembar demi lembar kertas-kertas itu. “Kau mengenalnya juga Soo?”

“Ne, dia yang bertanya mengenai dirimu padaku. Sepertinya dia menyukaimu.” Mendengar itu aku hanya tertawa. “Tapi aku merasa kasihan padanya. Umurnya sama dengan umurmu, tampan dan sangat baik. Namun ternyata ia mengidap leukimia.”

Mataku yang semula menatap tiap kalimat yang berjajar di kertas bewarna putih itu kini kualihkan kearah lawan bicaraku, menatapnya tak percaya. “L-leukimia?” Sooyoung mengangguk lalu kembali membereskan beberapa peralatan yang ia bawa.

Leukimia? Benarkah Sehun mengidap leukimia? Penyakit yang sama dengan Taeyeon eonni dan penyakit yang juga merenggut nyawanya. Apa takdir sedang menarikku kedalam sebuah cerita yang penuh kerumitan seperti ini?

Sejak Sooyoung keluar dari ruanganku, aku hanya bisa terdiam. Merenungi beberapa kejadian yang begitu sulit kumengerti. Antara percaya dan tidak, tapi aku merasa bahwa aku sudah terjatuh dalam pesona seorang Oh Sehun, namja yang baru kukenal 1 bulan ini.

Dadaku sesak, mataku memanas, mulutku terkatup rapat. Haruskah aku merasakan hal yang sama seperti 7 tahun yang lalu? Kehilangan seseorang yang membuatku selalu tersenyum hanya karena sebuah penyakit yang disebut leukimia?

-story-

Sedari tadi aku hanya menggenggam cangkir yang berisi espresso. “Hyoyeon-ah, kau kenapa? Apa ada masalah?” kuanggukan kepalaku untuk menjawab pertanyaan Baekhyun oppa. “Ceritakan.” Detik selanjutnya aku bercerita panjang lebar mengenai segala sesuatu yang mengganjal hatiku padanya.

“Oppa, aku ingin menjauh.” Baekhyun oppa hanya menatapku bingung. “Menjauh?” kuanggukan kepalaku lesu. “Waeyo?”

Mataku mulai tergenang, tanganku tambah kuat menggenggam cangkir putih itu. “Aku tak ingin terlalu jauh mencintainya. Aku tak ingin mencintainya, karena aku tau nanti rasa sakit yang kurasakan dulu saat kehilangan eonni akan kembali setelah aku mencintai Sehun.” tetes demi tetes air mata kini semakin deras mengalir.

“Hyo-ah dengar. Apa kau pernah melihat aku menjauhi Taeyeon walaupun aku tau dia mengidap leukimia?” aku menggeleng.

“Kau tau apa alasanku mengapa aku terus menjaganya, aku terus bersamanya walaupun aku tau ia akan pergi meninggalkanku?” kembali kugelengkan kepalaku lemah.

“Itu karena aku tak bisa menyalahkan Taeyeon atas semua ini. penyakit yang dideritanya bukan atas keinginannya, semuanya kehendak tuhan. Hal itu yang mendasariku untuk terus mendukungnya.”

-story-

Sehun’s
2 minggu ini aku tak bertemu dengan Hyoyeon. Saat aku menyapanya ia selalu menghindar tanpa alasan yang aku sendiri tak tau mengapa.

Flashback
“Hyoyeon-ah! Kau ingin ke danau?”
“Mian Sehun aku sibuk.” Lalu ia pergi dengan sedikit berlari.

Kuketuk pintu ruangannya. Lalu pintu itu terbuka.
“Hey, boleh aku main?”
“A-ah tapi aku ada sesuatu yang harus kuselesaikan, mian.” Kemudian ia menutup pintunya.
Flashback end

Lusa Hyoyeon ulang tahun. Sepertinya aku akan mengejutkannya. Tanganku mulai bergerak menulis rencana yang akan kulakukan untuknya di hari bahagianya itu.

-story-

Hyoyeon’s
Butiran-butiran berwarna putih suci itu turun dari langit. Kuhembuskan nafasku perlahan saat melihat remainder yang ada di hp-ku. Hari ini tepat 7 tahun kepergian Taeyeon eonni. Aku berencana pergi ke makamnyaa, sekedar bertegur sapa.

Air mataku perlahan membasahi pipiku berbarengan dengan kepingan-kepingan salju itu. aku sangat merindukan sosoknya yang hangat. Aku merindukan sosoknya yang selalu terlihat ceria hingga aku bisa tak menyangka bahwa ia memiliki penyakit itu.

Kusentuh tiap inchi piano yang sudah jarang kumainkan, mungkin yang terakhir bersama dengan Taeyeon eonni dan Baekhyun oppa. Aku merindukan suaranya yang indah dan terkesan menenangkan. Aku merindukan apapun mengenai Taeyeon eonni.

Waktu sudah menujukkan pukul 7 pagi, sehingga aku harus pergi ke rumah sakit untuk menjalani tugas keseharianku.
.
.
.

“Saengil chukka hamnida~ saengil chukka hamnida~ saranghaneun Kim Hyoyeon~ saengil chukka hamnida~ Saengil chukkae Hyoyeon!” Betapa kagetnya melihat Sehun di depan rumahku dan membawa kue di tangannya.  Setelah kepergian Taeyeon eonni, tak ada yang merayakan ulang tahunku, karena mereka tau alasannya.

“S-sehun kau sedang apa disini? Bagaimana kau tau rumahku?” Ia hanya tersenyum, senyuman yang membuatku merasa hangat walaupun keadaan Seoul tengah bersalju, tapi senyuman itu juga memberikan sakit dan bersalah. “Memberikan kejutan di hari ulang tahunmu.” Terpancar jelas wajah bahagianya.

“Mian Sehun, ini bukan hari ulang tahunku.” Jawabku bohong lalu berjalan meninggalkannya yang masih memegang kue ulang tahun. Kue yang sama seperti saat Taeyeon eonni memberikan dan merayakan ulang tahunku yang terakhir bersamanya.

 

 

Aku terus berjalan tanpa menghiraukan teriakannya. Entah sudah berapa kali ia memanggilku, tapi sama sekali tak ku hiraukan.

“Hyoyeon! Kim Hyoyeon! Aku tau jika kau tak ingin merayakan ulang tahunmu karena tepat hari ini merupakan hari kematian kakakmu! Aku tau jika kue yang kubawa persis seperti kue terakhir yang ia berikan!” seketika langkahku terhenti. Kudengar langkah kaki dari belakangku.

Kubalikan badanku dan sekarang aku berhadapan dengan Sehun. “Hyoyeon aku…” ucapannya terhenti saat air mata yang sedari kutahan merembes di kedua pipiku.

 

 

“Lalu jika kau tau semua itu, kenapa kau masih melakukannya?! Kenapa?! Kau ingin menyiksaku?! Kau ingin membuatku terus menerus berada dalam situasi seperti ini?!” ia terlihat kaget karena pertama kalinya aku berteriak padanya dan menangis dihadapannya.

“Pergilah. Lebih baik kau pulang, disini sangat dingin.” Aku berbalik dan meninggalkannya.

 

“Aku hanya tak ingin kau terus menerus terjerat dalam bayang-bayang meninggalnya kakak mu Hyo!” kali ini aku lagi-lagi tak menggubris teriakannya. Teriakan yang terdengar kefrustasian di dalamnya.

-story-

A few month later
author’s

Baik Hyoyeon maupun Sehun tak ada yang ingin saling menghubungi. Keduanya terlalu canggung untuk melakukannya terlebih dahulu, walaupun mereka memiliki perasaan yang sama.

Tak bisa dipungkiri kalau keduanya selalu memikirkan yang lain. Sehun merasa rindu akan kehadiran Hyoyeon yang bisa dibilang penyembuhnya. Ia tak pernah merasa begitu tersiksa akan penyakit yang dideritanya jika ia melihat senyuman manis milik Hyoyeon.

Hal yang sama juga dirasakan Hyoyeon. Saat ia melihat Sehun dan berada di dekatnya, ia bisa merasakan nyaman yang begitu hangat, sama seperti ia dekat dengan Taeyeon.
.
.
.
.

Hyoyeon membiarkan kakinya terkena deburan ombak yang menggelitik kaki. Menghabiskan sore hari di pantai sendirian membuatnya tenang. Sesekali ia bermain dengan air laut yang terasa asin itu. kegiatannya memang terlihat menyenangkan, tapi ia masih merasakan hatinya kosong walaupun ia melakukannya.

“Hyoyeon?” Sontak suara itu membuatnya menghentikan kegiatan itu. Matanya membulat kaget melihat Sehun yang tanpa sengaja bertemu dengannya. “Sehun?” namja itu tersenyum sehangat pasir pantai.

Sehun dan Hyoyeon duduk bersebelahan diatas pasir menatap matahari yang tak lama lagi akan berganti dengan bulan.

“Kenapa kau menjauh dariku Hyo? Bahkan sebelum aku mengejutkanmu waktu itu kau sudah menjauhiku.” Sehun masih menatap hamparan ombak dihadapannya. Hyoyeon terdiam, ia tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya, tapi…

 

“Apa kau menjauhiku karena kau sudah tau aku mengidap leukimia?”

 

Pertanyaan Sehun 100% benar. Hyoyeon hanya mengalihkan pandangannya, berusaha menahan sesak di dadanya. “Aku mencintaimu Kim Hyoyeon.” Angin yang berhembus membuat pipi Hyoyeon yang telah dialiri air mata terasa dingin
Sehun meletakkan jarinya di dagu Hyoyeon, membuat gadis itu menatapnya. “Aku mencintaimu, kau cinta pertamaku. Kau adalah kekuatanku untuk melawan sakit dari penyakit ini. Kumohon jangan pergi dariku. Kumohon.” Tatapan Sehun yang sangat dalam, dan gerakan jari lentik Sehun di pipinya untuk menghapus jejak air mata membuat hati Hyoyeon bergetar.

Perlahan wajah keduanya mendekat dan mendekat, mata keduanyapun tertutup rapat.
.
.
.
.
.

Hyoyeon menarik wajahnya menjauh. “Mian Sehun, aku tak bisa, maaf.” Kemudian ia berdiri berniat menjauhi Sehun. “Jangan pergi Hyo kumohon, aku mencintaimu.” Suara Sehun begitu terdengar memilukan di telinga Hyoyeon. Pelukan Sehun semakin membuat sore menjelang malam ini semakin hangat.

“T-tapi aku takut, aku takut kehilanganmu seperti aku kehilangan Taeyeon eonni.” Lirih Hyoyeon di dalam pelukan Sehun. Dengan lembut Sehun mengusap rambut yeoja yang kini menangis itu.

 

“Aku tak akan meninggalkanmu Hyo.” Hyoyeon bisa merasakan hembusan nafas lelaki itu di puncak kepalanya. “Itu juga yang Taeng eonni janjikan padaku. Tapi nyatanya ia meninggalkanku”

Sehun hanya tersenyum tipis. “Kakak mu berjanji seperti itu karena itu yang diinginkannya, tak ingin meninggalkanmu dan selalu berada disisimu. Dan aku pun begitu. Aku ingin kau selalu ada disisiku, menemaniku dan menyemangatiku. Aku ingin bersamamu Hyo.”

Keduanya saling melempar pandangan mendalam. “Percaya padaku Hyo, aku tak akan meninggalkanmu selagi nyawaku masih berada di ragaku ini. Kau percaya padaku?” sejenak Hyoyeon menundukkan kepalanya dalam lalu mengangguk dan kembali memeluk Sehun.

-story-

“Aku tak bisa mengelak bahwa aku mencintainya. Itu yang membuatku tersadar bahwa aku membutuhkannya seperti dia membutuhkanku.

Aku tau aku takut akan kehilangannya, aku takut merasakan hal yang sama seperti saat kehilangan Taeyeon eonni. Tapi yang dikatakan Baekhyun oppa benar, penyakit yang dideritanya bukan atas keinginannya.

Dan jika memang aku harus kehilangan Sehun seperti aku kehilangan Taeyeon eonni, aku harus yakin bahwa memang tuhan memiliki alur cerita rahasia yang lebih baik untuk hidupku.”

-The End-

Anyeong readers~ akhirnya selesai juga Fiction aneh ini hehehehe.. mian banget kalo pada ga ngerti maksud dari cerita ini, dan feel nya juga ga dapet .-.

Tinggalin beberapa kata di komen box yang ada di bawah ini ya, biar aku tau tanggapan readers mengenai Fiction gajelas ini.. I LOVE YOU ❤

-soshikkum-

2 thoughts on “[Freelance] Story

  1. baru tau ada ff ini 😀 jadi baru baca sekarang deh
    kenapa blognya innactive? padahal ini blog yang paling aku tunggu2. kan masih banyak ff yg belum selesai T,T

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s