[Freelance] Miracle in December – EXOTaeng

miracleindecemberreq

Title                 : Miracle in December (EXOTaeng)

Author             : shndylfha

Length             : Oneshoot

Rating             : PG 15

Genre              : Angst, Love, Romance

Main Cast        : EXO member without Luhan, Sehun, Chen and DO with Kim Taeyeon

Poster              :LeeHwara Art at highschoolgraphics.wordpress.com

Ost                  : EXO – Miracle in December, My Turn To Cry, The First Snow

Author Note    : Halo^^ aku EXOTaeng shipper, jadi wajar aja kalo semua pairingnya sama Taeyeon, ini cerita cinta masing-masing member. Dan maaf untuk late postnya, rencana awal mau dikirim pas bulan desember lalu bertepatan dengan keluarnya Miracle in Decembernya EXO. Cuman karena laptop rusak dan gak bisa diperbaikin, makanya baru bisa post sekarang karena udah ada laptop yang baru, untung aja harddisk dari laptop lama bisa di jadiin external disk dan bisa ngelanjutin FF ini. Mudah-mudahan masih ada yang mau nge baca yah:’)

Disclaimer         : This is just fanfiction. All the stories are fiction. If there are same tittle or same story it just an accident. This is PURE REALLY from my mind. Don’t bash and critic allowed^^

-Miracle In December-

 

Kai-Taeyeon (Christmas Present)

“Ginger-ah, bring her back to me.” –Kim Jongin

“Apa yang kau lakukan?” Ucap lelaki berpostur tubuh cukup ideal dengan warna kulit yang sawo matang sembari memberi back hug kepada gadisnya yang sedang asyik berkutit dengan laptop.

“Mencari jenis poodle untukmu.” Jawab gadisnya yang masih sibuk membuka situs tempat penjualan hewan, sedangkan lelaki yang bernama Kai itu lalu melepaskan pelukannya kemudian berlalu dari gadisnya.

Gadis itu, Kim Taeyeon. Ia tau betul sifat Kai yang bisa berubah-ubah dalam kurun waktu tidak cukup dalam semenit. Hubungan mereka sudah terjalin cukup lama, 3 tahun lebih. Taeyeon tau pasti apa alasan Kai berubah jadi tak acuh dengannya, hanya karena satu hal kecil yaitu ketidak sukaan Kai pada seekor anjing, sedangkan Taeyeon adalah pecinta hewan imut itu. Pertengkaran mereka biasa dikarenakan kasus tersebut, hingga Taeyeon berinisiatif untuk membeli anjing poodle untuk Kai agar namjanya itu bisa belajar menyukai anjing. Tetapi tetap saja, Kai kokoh pada pendiriannya.

Taeyeon menghentikan aktifitasnya lalu menyusul Kai yang sedang asyik membuat secangkir coffee late kesukaannya. “Mianhae, aku tak bermaksud menghancurkan mood-mu.” Bujuk Taeyeon sewaktu tiba tepat disamping Kai. Kai hanya menatap datar kearah Taeyeon lalu kembali fokus kepada coffee  late-nya.

“Sebentar lagi bulan desember, itu berarti natal akan segera tiba. Mari bertukar hadiah.” Kai menghentikan adukannya lalu menatap Taeyeon seolah meminta gadis itu untuk mengulangi perkataannya.

Taeyeon tersenyum, “Mari bertukar hadiah seperti tahun-tahun sebelumnya, Tuan Kim.” Ulangnya. Kai tersenyum, melihat seutas senyum tercipta di wajah yeojanya itu membuat Kai langsung luluh seketika. Hanya Taeyeon yang selalu berhasil membuat Kai luluh dengan sebuah senyuman. Kai mengangguk lalu mengecup bibir gadisnya sekilas.

-25 December-

“Gomawooooo, aku sangat menyukainya.” Taeyeon menampakkan senyum termanisnya mendapat hadiah syal bertuliskan ‘Jongin -KIM- Taeyeon’ dari Kai sebagai hadiah natalnya.

“Tentu saja kau harus menyukainya, karena aku membuatnya dengan tanganku sendiri. Aku sampai harus meminta noona mengajariku menyulam hanya untuk syal ini.” Senyum Taeyeon tak pernah pudar, apalagi sewaktu Kai mengucapkan pengakuannya barusan. Tanpa malu-malu Taeyeon mengecup pipi Kai sebagai tanda terimakasihnya.

“Lalu, mana hadiah untukku?” Ucap Kai ketika menyadari Taeyeon tidak membawa bingkisan sedari tadi. Seperti teringat sesuatu, Taeyeon menyuruh Kai menunggu sebentar lalu gadis itu keluar dan masuk kembali sambil menggendong seekor poodle berwarna coklat lengkap dengan pita pink merah di bagian perutnya.

“Ini hadiah untukmu.” Serah Taeyeon, Kai yang tadinya sangat penasaran langsung berubah menjadi sangat dingin dan menatap benci kearah yeojanya.

Taeyeon yang mengerti situasi mencoba menjelaskan kepada Kai, “Aku ingin kau menyukai apa yang kusukai. Mereka tidak buruk, Kai. Lihatlah! lucu kan?” Taeyeon tersenyum mencoba membuat Kai mampu menerima alasannya kemudian melanjutkan perkataannya. “Aku sudah memberinya nama, namanya Ginger. Lengkapnya Ginger Kim. Aku akan membantumu me-”

“KIM TAEYEON!” Kai setengah berteriak membuat perkataan Taeyeon terhenti. Menurut Kai, saat ini Taeyeon sedang bermain-main dengannya. “Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak menyukai hewan seperti ini! Apa kau tidak mengerti?” Lanjut Kai dengan nada membentak.

Baru kali ini Taeyeon mendengar Kai membentaknya, biasanya jika mereka sedang berselisih Kai tak akan sampai membentak. “A.. a.. aku tau… Tapi..” Taeyeon tidak mampu berkata-kata.

“Aku berusaha sekuat tenaga untuk memberi yang terbaik untukmu, tapi apa yang kau berikan padaku? Lelucon ini?” Suasana semakin tegang, mata Taeyeon berkaca-kaca mendengar ucapan Kai yang sangat menusuk hatinya. Kai hanya tidak tau kalau Taeyeon juga sangat bekerja keras untuk mencari anjing poodle terbaik untuknya, hingga ia harus menuju kesebuah penjual yang terletak di daerah pinggiran hanya untuk mendapatkan seekor poodle.

“Sampai kapanpun AKU TAK AKAN PERNAH MENERIMA HEWAN INI!” Lagi- lagi Kai membentak Taeyeon membuat kesabaran yeoja itu habis.

“Aku sangat mencintai memelihara hewan ini, aku hanya ingin orang yang aku cintai bisa menerima apa yang kusukai. Bagaimana kita bisa bersama jika perbedaan itu tak bisa membuat kita bersatu?” Taeyeon tak bisa menahan lagi butiran kristal yang keluar dari pelupuk matanya membuat Kai merasa sedikit menyesal.

“Kau selalu bilang kalau kau sangat mencintaiku! Kalau kau mencintaiku kau juga harus mencintai kegemaranku! Sudah tiga tahun aku berusaha menahan hal ini. Tapi tidak untuk saat ini, Kim Jongin! Aku sangat mencintaimu! Aku sangat menghargai keputusanmu, tapi aku ingin kau belajar satu hal, perbedaan yang ada diantara kita bukan membuat kita bersatu tetapi membuat kita harus saling menjaga jarak!” Taeyeon melepaskan poodle itu dihadapan Kai.

“Terserah kau mau menerimanya atau tidak. Aku tidak peduli lagi. Ini adalah hadiah terakhir dariku, gomawo. Mari mengakhiri kenangan 3 tahun kita.” Taeyeon mengambil nafas lalu menyeka airmatanya dan memantapkan diri berlalu dari hadapan Kai yang hanya bisa terpaku.

1 year later…

Semenjak kejadian pertukaran hadiah tahun lalu membuat Kai sadar akan semua keegoisannya, oleh karena itu untuk menebus kesalahannya terhadap Taeyeon ia mencoba untuk menyukai dan merawat poodle yang diberikan Taeyeon sebagai hadiah terakhir untuknya. Dan juga, semenjak kejadian itu, Taeyeon tidak pernah lagi menampakkan diri dihadapan Kai. Menurut kabar yang didapat oleh Kai, saat ini Taeyeon sedang berada di Eropa.

Kai telah terlambat. Tepat hari ini adalah satu tahun semenjak poodle bernama Ginger Kim itu diberikan kepada Kai. Sekarang Kai mulai menyukai hewan itu, bahkan ia menganggap Ginger adalah hadiah natal terbaik dari Taeyeon. Setiap menatap Ginger, Kai selalu teringat oleh Taeyeon bahkan selalu saja ia merasa sangat sesak. Saat ini hanya Ginger lah yang bisa sedikit mengurangi rasa kepedihan Kai.

Seandainya waktu itu ia menyukai poodle, seandainya waktu itu ia tidak membentak Taeyeon atau seandainya dia hanya mendiami Taeyeon mungkin semua ini tak akan terjadi. Mungkin mereka masih bisa saling bertukar hadiah natal dan melalui tahun keempat mereka ditemani oleh Ginger. Tapi itu semua hanya seandainya…

Kai berjanji, sepulang Taeyeon dari Eropa ia akan mencoba memperbaiki hubungan dengan yeoja yang ia tak bisa lupakan itu. Walaupun kemungkinan besar Taeyeon sudah memiliki orang lain disisinya, tapi ia akan tetap berusaha… berusaha mengejar cintanya yang pergi karena sebuah perbedaan.

 

Xiumin-Taeyeon(Christmas Three)

“I will come to you, Kim Taeyeon”-Kim Minseok

Namja bermata bulat lengkap dengan kemeja putih dan dilapisi sebuah baju hangat berwarna orange tersenyum sambil menghiasi pohon natal mini dihadapannya, ini merupakan tahun ketiganya menghias pohon natal itu seorang diri. 3 tahun lalu ia masih ditemani oleh seorang yeoja bertubuh mungil yang hidup di panti asuhan tersebut dan merupakan kekasihnya saat itu.

Minseok menghela napas lalu menatap keluar jendela, memaksakan dirinya untuk mengingat kenangan 3 tahun lalunya yang tak bisa ia lupakan sampai mati.

Flashback

Dengan bangganya Minseok menghampiri yeoja bersurai panjang yang sudah mengisi hari-harinya selama 5 tahun terakhir. Yeoja itu Kim Taeyeon. Salah satu penghuni panti asuhan yang sudah menghabiskan hidupnya selama belasan tahun di tempat itu. Menurut pengakuan Taeyeon sendiri, sewaktu berumur 4 tahun ia telah dibawa di panti asuhan itu, mungkin kedua orangtuanya tidak menyukai kehadiran Taeyeon. Nama Taeyeon sendiri di berikan oleh ibu panti asuhan yang berarti penyabar dan lembut hati. Sedangkan Minseok adalah anak dari salah satu donatur dana terbesar di panti asuhan tempat Taeyeon, pertemuan pertamanya dengan Taeyeon diawali saat musim dingin ia melihat yeoja itu sedang menghiasi pohon natal mini. Ketertarikan Minseok muncul saat menatap yeoja yang penuh kedamaian itu dan memberanikan diri untuk mendekatinya. Disitulah awalnya Minseok mulai merasa kalau ia telah menemukan yeoja yang diimpikannya.

“Kau sudah datang?” Taeyeon tersenyum penuh arti melihat kedatangan Minseok yang membawa sebungkus plastik besar berisi hiasan untuk pohon natal yang kini berada dihadapan Taeyeon.

Minseok hanya tersenyum lalu duduk disamping Taeyeon, “Mari kita menghiasinya.” Merekapun mulai menghiasi pohon natal mini itu dengan sangat bahagia di temani salju yang turun menambah kesan romantis.

“Minseok-ah.. Aku memiliki hadiah untukmu.” Taeyeon menyerahkan sebuah kotak persegi panjang berwarna perak kepada Minseok. Minseok hanya tersenyum dan menerima kotak itu.

“Harusnya kau memberitahuku, supaya aku juga menyiapkan hadiah untukmu.” Sekarang Minseok mulai membuka kotak itu dan tersenyum melihat isinya. Sebuah sweater berwarna orange, warna kesukaan Taeyeon lengkap dengan sebuah pin berwarna keemasan berbentuk bintang. Taeyeon tau betul kalau kekasihnya itu sangat menyukai bintang.

Taeyeon tak mengindahkan perkataan Minseok. “Gomawo, Kim Minseok. Beberapa tahun ini kau sudah mau menjadi pendamping gadis yang tak punya orang tua ini.” Senyum Minseok memudar mendengar perkataan Taeyeon. Ia menatap yeojanya itu yang kelihatan sangat pucat.

“Aku akan memberimu hadiah besok.” Minseok mencoba setenang mungkin.

“Apa kau tak bosan menghabiskan waktumu 5 tahun lebih denganku dan melewati natalmu dengan menghias pohon natal bersamaku?” Lagi-lagi Taeyeon tidak mengindahkan perkataan Minseok, wajah pucat Taeyeon kini memandang salju yang turun melalui jendela didepannya.

“Apa yang sedang kau katakan? Aku tidak bosan dan tidak akan pernah bosan, Kim Taeyeon. Asal kau tau, aku sangat bersyukur memilikimu. Memiliki wanita yang kelembutannya seperti malaikat.” Minseok menggenggam tangan Taeyeon yang sangat dingin, ia mengeratkan genggamannya.

Taeyeon mengalihkan lagi tatapannya menatap Minseok lalu melihat sekilas hadiah yang baru ia berikan kepada kekasihnya itu. “Aku hanya punya satu permintaan.” Ucap Taeyeon lirih lalu melanjutkan kalimatnya, “Setiap tahun saat kau menghiasi pohon natal, pakailah baju hangat ini. Arra?” Minseok kembali tersenyum, lalu mengangguk.

“Bahkan ketika aku bertambah besar, aku akan tetap memakai baju hangat ini.” Taeyeon tersenyum, wajahnya memucat. Minseok bisa merasakan itu. Ia membawa Taeyeon dalam pelukannya mencoba memberi kehangatan kepada yeojanya. “Gwenchana?” Ucap Minseok dengan nada khawatir. Taeyeon hanya mengangguk sambil memejamkan matanya.

Entah sudah berapa lama mereka ada dalam posisi seperti itu, Minseok merasa ada yang aneh dengan Taeyeon. Badannya semakin dingin dan setelah ia lihat, wajah yeojanya itu sudah sangat pucat. Perasaan Minseok menjadi tidak tenang, ia membaringkan Taeyeon di sofa samping pohon natal mini itu lalu memanggil ibu panti asuhan.

Beberapa waktu kemudian, sebuah berita duka menghantam ketegaran Minseok. Firasat buruknya benar. Setelah di periksa oleh dokter, ternyata Taeyeon sudah menghembuskan nafas terakhirnya dari beberapa jam yang lalu.

Tubuh Minseok bergetar hebat, ia rasa tulang-tulangnya menyusut mendengar perkataan dokter, “Kanker rahim yang dideritanya dari kecil tidak bisa ditangani lagi.” 5 tahun menjalin hubungan dengan Taeyeon, ia tak pernah tau kondisi kesehatan Taeyeon yang sebenarnya. Minseok terjatuh tepat dihadapan Taeyeon yang sudah tak bernyawa lagi, ia menggenggam tangan gadisnya itu dan butiran-butiran kristal dari pelupuk matanya mengalir keluar. Anak-anak panti asuhan dan ibu panti asuhan yang melihat adegan itu memandang sedih kearah Minseok yang sangat kehilangan. Isakan Minseok semakin jadi dan mulai memeluk tubuh Taeyeon berharap ada keajaiban yeojanya itu bisa kembali.

Flashback END

Minseok menyeka airmatanya mengingat kejadian menyedihkan itu, sesuai dengan janji terakhirnya kepada Taeyeon, dari 3 tahun lalu baju hangat orange itu selalu menemani Minseok jika menghiasi pohon natal dan seterusnya akan seperti itu.

“Pohon natalnya telah selesai ku hias, Taeyeon-ah. Kau curang, membiarkanku menghias sendirian.” Ucap Minseok lirih, lalu berdiri bergegas keluar panti asuhan itu. Ia tidak lupa memakai jacket berwarna hitamnya lalu memasang pin bintang pemberian Taeyeon di jacketnya. Di temani dengan sebuah kotak persegi perak, ia melangkahkan kakinya menuju pemakaman Taeyeon tanpa mempedulikan salju yang menghujaninya.

“Merry Christmas, Kim Taeyeon. Bogoshippo.” Minseok meletakkan kotak persegi perak itu di dekat batu nisan bertuliskan nama Taeyeon, airmatanya terjatuh lagi. Ternyata kepedihannya 3 tahun lalu belum bisa terobati.

 

Tao-Taeyeon (Coldest Man)

“I will give you all my time, please comeback.” – Huang Zi Tao

Huang Zi Tao. Siapa yang tak mengenalnya? Pewaris satu-satunya Huang Group yang merupakan satu dari 3 perusahaan terbesar di dunia bertempat di China. Ayahnya, Huang Chae Tan adalah seorang pendiri Huang Group mulai dari nol hingga bisa terkenal seperti saat ini. Tapi, ini saatnya Huang Chae Tan memberikan harta terbesarnya itu kepada putra semata wayangnya di karenakan kondisinya yang semakin memburuk. Dengan senang hati Tao menerima tawaran dari ayahnya, dan sekarang ia mengurus perusahaan ayahnya yang berada di Seoul, Korea Selatan. Jangan salah kira, sedari ia tinggal di Seoul seorang wanita dengan latar belakang penyanyi solo internasional, yaitu Kim Taeyeon telah menemani hari-harinya dan memiliki hubungan spesial dengannya. Pasangan yang sangat serasi, begitulah pendapat masyarakat luar. Bagaimana tidak, seorang pewaris perusahaan ternama dan seorang penyanyi solo yang sudah mendunia menjalin hubungan cinta, ditambah keadaan fisik keduanya yang terbilang diatas rata-rata. Perfect, bukan? Tapi, kisah cinta mereka yang sudah terjalin selama 4tahun akhirnya harus berakhir dengan kepedihan yang mungkin tidak akan bisa terobati.

***

Setelah menyelesaikan tur dunianya di New York, Taeyeon akhirnya kembali ke Seoul dan meminta kepada agency untuk memberinya waktu beristirahat. Ia ingin memiliki waktu bersama kekasihnya di akhir tahun. Taeyeon melangkahkan kakinya memasuki bangunan megah yang tak lain adalah perusahaan milik Tao. Semua karyawan sudah mengenal Taeyeon dan menganggapnya sebagai ‘Nyonya Presdir.’ Mereka sangat menghormati Taeyeon seperti menghormati presdir mereka, Huang Zi Tao.

Taeyeon sudah terbiasa memasuki ruangan Tao tanpa harus meminta izin terlebih dulu. Senyum mengembang di wajah Taeyeon sesaat setelah melihat namja bermata panda itu.

“Annyeong Tuan Huang.” Sapa Taeyeon dan mendekati Tao di meja kerjanya yang masih sibuk membalik-balik sebuah dokumen yang kelihatannya cukup penting.

Tao menatap sekilas ke arah Taeyeon mendapati gadisnya kini berdiri tepat di hadapannya. Tao ikut berdiri dan memeluk gadis kesayangannya itu. “ Aku merindukanmu, Kim Taeyeon.” Ucapnya sambil tersenyum sesudah melepas pelukannya.

“Benarkah? Kalau begitu, ayo kita makan siang.” Senyuman Taeyeon tak pernah pudar dari bibir tipisnya itu. Tao hanya mengangguk dan merangkul Taeyeon menuju salah satu restoran di perusahaannya tak lupa Tao membawa dokumen yang tadi ia sempat amati.

Sekarang mereka duduk berhadapan setelah memesan menu makan siang, jauh dari harapan Tao memiliki aktifitasnya sendiri di bandingkan melepas rindu dengan Taeyeon. Yup, pria keturunan China itu kembali sibuk mengamati dokumen yang tadi dibawanya, sedangkan Taeyeon hanya sibuk menatap namjanya itu. Baginya, ini sudah menjadi hal yang biasa.

“Ini.” Taeyeon menaruh di atas meja sebuah kotak yang cukup besar berisi hadiah untuk Tao. Kotak itu berhasil menarik perhatian Tao lalu ia menatap yeojanya seolah-olah bertanya –apa ini?-

“Buka saja, itu hadiah untukmu.” Tanpa babibu, Tao langsung meraih kotak itu dan membukanya. Keningnya berkenyit melihat hadiah pemberian dari Taeyeon itu.

“ Aku membelinya di Eropa, sekarang sudah mulai musim dingin. Jangan terlalu sibuk, kau juga harus memperhatikan kesehatanmu. Setidaknya jas hangat itu bisa membantumu agar terhindar dari penyakit flu dan kedinginan.” Ucap Taeyeon kembali tersenyum dan hanya mendapat respon anggukan dari Tao. Tepat setelah menganggukkan kepalanya, hp Tao berbunyi tanda adanya seseorang yang menelfon.

Taeyeon tak mengejapkan matanya menatap Tao, entah kenapa ia bisa jatuh cinta kepada pria dingin itu. “ Ada klien dari Jepang yang sedang menungguku, bisakah kita bertemu dilain waktu? Aku harus segera pergi.” Tao bangkit dari duduknya dan menatap Taeyeon, mau tidak mau Taeyeon hanya mengangguk dan tetap memperlihatkan senyum terbaiknya.

“ Dan oh iya, untuk ini terimakasih. Aku pasti akan selalu memakainya. Kau pulang dan beristirahatlah dulu.” Ucap Tao mengingat hadiah pemberian Taeyeon dan mengambilnya lalu mengecup sekilas kening Taeyeon dan bergegas pergi tanpa menunggu respon Taeyeon.

Soloist ternama itu menatap namjanya yang pergi semakin menjauh, kepedihan kembali menghantam hatinya. Siapa yang kira, dibalik senyumannya yang sangat manis ternyata ia selalu merasa sangat pedih dengan tingkah Tao yang bisa dibilang tidak pernah memiliki waktu bahkan sedikitpun untuknya, sebaliknya Taeyeon selalu berusaha meluangkan waktunya hanya untuk bertemu sekedar untuk melihat namjanya itu. Sudah dari awal Taeyeon merasa sedikit menyesal telah menjalin hubungan dengan pengusaha ternama itu, tapi dilain sisi ia tak bisa melepaskan pria bermata panda tersebut.

“mengapa kau menjalin hubungan denganku, jika pada akhirnya kau tak mengharapkanku, Tao-ah?” Batin Taeyeon seraya bulir-bulir putih dari matanya yang sudah tak bisa ia tahan akhirnya tertumpahkan.

2 year later…

Seorang pria keturunan China yang terkenal dengan mata pandanya dan seorang yang merupakan satu-satunya pewaris tunggal perusahaan terbesar yang tak lain adalah Huang Zi Tao kini berdiri di hadapan cermin besarnya sambil mengenakan kemeja putih di lapisi sebuah coat berwarna hitam abu-abu pemberian wanita yang paling disayanginya, Kim Taeyeon.

Setelah merasa puas dengan penampilannya, Tao mengambil sebuah kotak putih kecil yang ia sudah siapkan dan melangkahkan kakinya keluar rumah menuju tempat peristirahatan terakhir yeoja yang masih sah menjadi kekasihnya sampai saat ini.

Tao memilih berjalan kaki menuju pemakaman Taeyeon, memorinya kembali terputar ke dua tahun lalu saat Taeyeon masuk rumah sakit karena kecelakaan hebat yang dialaminya sewaktu pulang bertemu Tao. Kenangan itu, hal yang paling tak ingin Tao ingat seumur hidupnya tapi ia tak bisa memungkiri bahwa kejadian tu memisahkan dunia Tao dengan yeoja yang sangat ia cintai. Tao masih ingat jelas apa yang dikatakan Taeyeon sesaat sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, “Tao-ah, gwenchana. Kau jangan menangis. Ini… ini takdir kita… mari kem..bali… bertemu di… ke..hi..du..pan.. yang.. lain..nya… Ta..pi.. kau.. ha..rr..rrrusss.. ber..rr..janjj..jii.. padaku un..tuk.. le..bih.. mem..perhati..kan..ku.. oke…? Aku… Aku… Kim Tae… Yeon… ah, aniya… Huang… Tae..yeon… sa..ngat.. sanggg…. nggatt.. mencin…ta…ii… Huang… Zi.. Tao…” Setelah itu, Taeyeon benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya dengan sebuah senyuman dan airmata yang jatuh dari pipinya. Disaat itu juga, Tao merasakan penyesalan yang amat dalam, kepedihan yang sama seperti Taeyeon rasakan. Inilah konsekuensinya. Ia harus kehilangan wanita yang sangat di cintainya.

Saat ini, satu yang Tao butuhkan, yaitu kemampuan untuk mengendalikan waktu. Tapi itu mustahil, ia tak bisa memutar waktu. Ia hanya bisa mengenang kenangannya dengan Taeyeon. Tao menitikkan airmatanya, ia sangat amat merindukan seorang Kim Taeyeon, bukan. Lebih tepatnya Huang Taeyeon.

 

Chanyeol-Taeyeon (Stupid doctor ever)

“Marry me, Kim Taeyeon” –Park Chanyeol

“Hey doctor!” Sapa seorang yeoja mungil kepada seorang dokter muda sambil menepuk pundak namja yang lengkap memakai pakaian putih khas dokternya.

“Kebiasaanmu tak berubah, Kim Taeyeon! Ck.” Respon dokter muda itu kepada yeoja mungil yang kini berjalan tepat disampingnya.

Taeyeon hanya nyengir dan memberikan sebotol cola dingin kepada dokter bernama Park Chanyeol itu. “Minumlah. Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” Ucap Taeyeon sambil membuka cola miliknya dan duduk di lobby bersama Chanyeol.

“Seperti biasa, tugas dokter tidak mudah dan harus teliti.” Ujar Chanyeol sambil ikut membuka tutup cola pemberian yeoja yang tak lain adalah yeojachingu dan merupakan sahabatnya dari kecil.

“Tapi itulah yang kau mau, itulah keinginanmu, Tuan Park.” Taeyeon menatap namjanya sambil menampakkan senyumannya.

Chanyeol mencubit sekilas pipi Taeyeon, ia tak bisa menahan dirinya melihat yeoja yang sangat ia cintai itu ketika sedang tersenyum, tetapi kalimat Taeyeon selanjutnya membuat mood Chanyeol jadi down. “jadi, kapan kau akan melamarku, Doctor Park?”

Chanyeol sama sekali tidak menampakkan senyumnya, “Aku masih sibuk dengan tugasku Taeyeon, dan aku juga belum siap untuk membangun rumah tangga.” Sekarang giliran Taeyeon yang menghapus senyum manis dari bibir mungilnya.

“Ne, ara. Aku hanya bercanda. Jangan cepat marah begitu, chagiyaaaa.” Balik Taeyeon yang mencubit pipi Chanyeol mencoba mengembalikan mood kekasihnya itu. Chanyeol menampakkan deretan gigi putihnya dan membawa Taeyeon dalam pelukannya.

Disisi lain, Chanyeol masih penasaran. Sudah beberapa bulan terakhir Taeyeon meminta untuk segera melamarnya, meski selalu saja Taeyeon mengatakan ia hanya bercanda tetapi Chanyeol merasa ada makna tersendiri dari kalimat Taeyeon.

***

Hari ini, Chanyeol sudah berjanji pada Taeyeon untuk jalan-jalan bersama dan untuk itu Chanyeol pulang lebih awal dan bertemu Taeyeon disebuah mall dekat rumah sakit tempat ia bekerja.

“Eotte? Bagaimana pekerjaanmu?” Salah satu kebiasaan Taeyeon adalah menanyakan pertanyaan tersebut ketika sudah bertemu sang kekasih.

“Seperti biasa nyonya Kim. Tak ada yang berubah. Bagaimana denganmu?” Jawab Chanyeol dan mengisyaratkan Taeyeon untuk menautkan tangan di lengannya lalu mereka jalan bersama menyusuri mall itu. Pasangan yang sangat serasi, walaupun tinggi mereka lumayan berbeda jauh tapi tetap saja orang-orang yang melihat kemesraan mereka pasti akan iri.

“Kau tahu aku sangat menyukai anak-anak, dan menjadi guru TK sangat menyenangkan bagiku.” Jawab yeoja mungil itu sambil tersenyum menatap Chanyeol.

Chanyeol mengangguk, ia sudah sangat puas walau hanya melihat senyuman yeoja yang sangat di cintainya itu. “Lalu, kemana kita sekarang?”

Taeyeon mengedarkan pandangannya dan mencari sebuah toko yang ingin ia masuki, sampai lagi-lagi ia tersenyum puas setelah mendapatkan toko tersebut dan tanpa berkata-kata ia menarik Chanyeol menuju toko tersebut.

Chanyeol mengkerutkan dahinya melihat Taeyeon yang menariknya kesebuah toko perhiasan. Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran yeojanya itu.

“Annyeonghaseyo. Ada yang bisa kami bantu?” Ucap sang pegawai toko kepada couple tersebut.

“Kami ingin mencari sebuh cincin couple yang simple tapi menarik.” Chanyeol membelalakkan matanya mendengar ucapan Taeyeon. Tetapi ia masih tetap mengikuti Taeyeon mencari-cari cincin. Cincin couple? Chanyeol tak habis pikir dengan pemikiran Taeyeon, ia merasa lagi-lagi Taeyeon akan meminta untuk melamarnya.

Mata Taeyeon tertuju pada sebuah cincin couple yang terbuat dari emas putih dengan desain yang tidak begitu ramai tapi terkesan menarik.

“Aku menyukai cincin ini, bagaimana denganmu?” Ucap Taeyeon kepada pria jangkung disampingnya sambil menunjuk cincin yang menarik perhatiannya itu.

Chanyeol tidak tersenyum sedikitpun. Ia malah menarik Taeyeon keluar dari toko itu dengan sedikit paksaan. Kesabarannya sudah benar-benar habis.

“Apa maksud dari ini semua Kim Taeyeon?” Chanyeol masih mencoba menahan amarahnya mengetahui sekarang mereka berada di tempat umum.

“Maksud dari apa? Aku hanya ingin membeli sebuah couple ring untuk kita sebagai tanda keseriusan hubungan ini. Apa tidak boleh?” Balas Taeyeon membela diri.

“Bukan itu, tapi untuk apa? Tidak biasanya kau seperti ini. Beberapa bulan belakangan ini kau sedikit berbeda. Mengapa kau selalu memintaku untuk melamarmu?” Sekali lagi, Chanyeol masih bisa mengendalikan dirinya tapi tidak untuk Taeyeon.

“Kalau begitu, aku yang bertanya padamu. Mengapa kau tak mau melamarku? Apa selama ini kita menjalin hubungan hanya main-main?” Chanyeol terpaku. Sebenarnya ia ingin menikahi Taeyeon, tapi tidak untuk sekarang.

“Kau diam? Kau tak bisa menjawab pertanyaan simple itu? Baiklah. Arasseo, aku tak akan pernah meminta untuk dilamar lagi.” Seluruh pasang mata menatap ke arah couple itu. Mata Taeyeon berkaca-kaca dan ia bergegas pergi meninggalkan Chanyeol yang masih berdiri terpaku.

***

“Doctor, hari ini ada seorang pasien yang harus segera di operasi.” Ucap salah seorang dokter kepada sang profesor muda yang tak lain adalah Park Chanyeol dengan sedikit tergesa-gesa karena harus terburu-buru.

“Sekarang? Apa penyakitnya? Kita harus mempelajari penyakitnya terlebih dahulu.” Chanyeol sedikit heran, tidak biasanya mereka harus melakukan operasi semendadak itu.

“Ani. Kita tidak punya waktu lagi. Ia seorang wanita muda penderita kelainan hati dari kecil. Ia  belum di operasi sebelumnya, dan ini operasi pertamanya. Sayangnya, dalam perjalanan menuju rumah sakit keadaannya semakin memburuk. Kita akan bekerja sama dengan profesor Song dalam pengangkatan batu dihati wanita ini.” Chanyeol menganggukkan kepalanya tanda mengerti ucapan asistennya tersebut dan langsung berlari kearah ruang operasi.

Di dalam ruangan operasi Profesor Song bersama beberapa asistennya telah menunggu, dan setiba Chanyeol dan beberapa asistennya mereka langsung memulai operasi.

Chanyeol sedikit tersentak melihat wajah sang wanita penderita kelainan hati itu. Waktu seakan berhenti sejak Chanyeol menatap yeoja tersebut. Sebuah perasaan sakit menghantam dirinya, orang yang berbaring dan akan ia operasi sekarang adalah wanitanya sendiri. Gadis yang selalu menemani hari-harinya dari kecil hingga ia sukses sekarang.

“Profesor! Kita tak punya banyak waktu. Tolong berkonsentrasi.” Suara profesor Song membawa Chanyeol kembali kealam sadarnya. Operasi pun dimulia, Chanyeol mencoba berkonsentrasi mengoperasi wanitanya. Ia berusaha agar Taeyeon bisa bangun kembali, tapi dalam benaknya masih timbul beribu pertanyaan.

-Desember (1 month later)-

Chanyeol berjalan memasuki salah satu toko perhiasan yang pernah ia datangi bersama Taeyeon beberapa bulan lalu. Dengan di balut kemeja berwarna biru muda, dasi hitam dan sebuah jacket kulit yang sewarna dengan dasinya, ia langsung menjatuhkan pandangannya pada sebuah cincin couple yang dulu Taeyeon inginkan, untungnya belum terjual.

“Aku menginginkan cincin couple ini.” Ucap Chanyeol dan menunjuk cincin tersebut. Sang pegawai langsung mengambil cincin itu dan menaruhnya daalam sebuah kotak berwarna hitam dibalut pita berwarna pink.

“Kekasihmu pasti akan sangat menyukainya, seleramu cukup bagus, Tuan.” Ucap sang pegawai lalu menyerahkan kotak tersebut kepada Chanyeol. Sang penerima hanya tersenyum miris mendengar ucapan pegawai tersebut.

Sekarang, Chanyeol melajukan mobilnya kesebuah tempat yang tiap harinya ia selalu kunjungi. Beberapa waktu kemudian, ia sudah tiba ditempat itu. Ia turun dari mobilnya sambil menggenggam seikat bunga, kotak kecil dan sebuah kertas yang terlipat rapi.

Chanyeol berlutut setiba ditempat yang ditujunya. Ia menaruh seikat bunga tersebut diatas gundukan tanah depan nisan bertuliskan nama KIM TAEYEON.

“Annyeong Taeyeon-ah. Aku datang lagi.” Sapa Chanyeol kepada wanita yang sudah berbeda dunia dengannya. Yup, operasi sebulan lalu berhasil merenggut nyawa Taeyeon. Chanyeol merasa sangat kacau dan menyalahkan dirinya sendiri. Sudah dari kecil ia bersama Taeyeon, tetapi ia sama sekali tidak mengetahui penyakit mematikan yang di derita gadisnya itu.

Airmata Chanyeol mulai menetes. “Seperti yang kau tuliskan disurat ini, aku datang untuk melamarmu Taeyeon-ah.” Ia menggenggam erat kertas tersebut dan mencoba menahan agar airmatanya tidak terjatuh lagi.

“Ini hadiah untukmu. Would you marry me, Kim Taeyeon?” Ucapnya lagi lalu membuka kotak hitam yang berisi cincin couple dan memakai kedua cincin itu satu dijari manisnya, dan cincin untuk Taeyeon ia kenakan dijari kelingkingnya. Chanyeol tersenyum melihat kedua cincin yang terpampang indah dijarinya, tapi hatinya masih merasakan kesakitan yang luar biasa.

“Mianhae, jeongmal mianhae Taeyeon-ah. Kalau kau memberitahuku dari awal soal penyakitmu aku pasti akan berusaha dan terus merawatmu sampai kau sembuh. Wae? Mengapa kau tak memberitahuku?” Suara Chanyeol terdengar serak, ia belum bisa menerima kepergian Taeyeon.

Sekarang ia tahu mengapa Taeyeon meminta untuk dilamar. Angin berhembus kencang dan surat yang sedari tadi terlipat akhirnya terbuka, ternyata itu adalah tulisan Taeyeon sebelum ia di operasi. “Aku akan menunggu hingga natal tahun ini. Kau harus melamarku,arra? Setidaknya, aku ingin merasakan berumah tangga denganmu sebelum aku harus pergi untuk selamanya. –Kim Taeyeon” Sayangnya, mipi terakhir Taeyeon tak bisa terwujudkan.

 

Lay-Taeyeon (Regret)

“To late to realize, i’m sorry noona.” – Zhang Yixing

 

Zhang Yixing, namja keturunan China asli yang sekarang menetap di Seoul, Korea Selatan. Salah besar jika ada seseorang yang tak mengenalnya. Dia adalah seorang composer dan pengarang lagu nomor  satu di dunia, Yixing atau yang akrab di panggil Lay itu terkenal juga dengan dimple nya yang mampu memikat wanita. Dibalik keberhasilan seorang Lay, ternyata ada seseorang yang selalu setia menjadi penyemangatnya dan selalu menemaninya sedari awal ia memantapkan dirinya untuk menjadi seorang composer. Ia adalah Kim Taeyeon, seniornya saat di kampus dulu.

Musim dingin dibulan desember saat itu menambah kepedihan dan penyesalan yang beberapa tahun ini Lay rasakan. Saat ini, Lay sedang asyik menekan tuts-tuts orgen dihadapannya. Sepertinya, ia ingin membuat sebuah lagu. Merasa sedikit lelah, Lay memilih untuk istirahat sejenak. Ia mendudukkan dirinya dan menutup matanya mencoba kembali kemasa lalu, masa-masanya sebelum menjadi orang terkenal seperti sekarang ini.

Flashback

“Noona! Aku lelah!” Namja berambut pirang itu membaringkan dirinya diruang yang cukup besar itu, dan seorang gadis mungil ikut duduk disamping namja bernama Lay itu berbaring.

“Wajar, tak ada yang mudah di dunia ini. Tapi selagi kau mau berusaha dan tetap pada pendirianmu. Yakinlah dengan cepat kesuksesan akan menghampirimu.” Gadis mungil berponi bernama Taeyeon itu tersenyum, Lay kemudian duduk dan membalas senyuman tulus itu.

Secara refleks, Lay memeluk Taeyeon. Sedangkan Taeyeon sempat terkejut mendapat perlakuan tersebut dari sang hoobae. “Gomawo.. Jeongmal gomawoyo noona. Hanya noona yang selalu mampu menyemangatiku, noona yang bersamaku sedari awal. Tetaplah bersamaku noona, sampai kesuksesan itu menghampiriku.” Taeyeon lagi-lagi tersenyum dalam pelukan Lay sembari mengelus pundak namja China itu.

Flashback END

Lay membuka matanya, mengingat satu cuplikan kenangan yang tak akan pernah bisa ia lupakan. “Jeongmal jweseonghaeyo noona.” Lay membaringkan kepalanya diatas tuts-tuts orgen dan kembali mengingat satu lagi cuplikan kenangan terpahit yang pernah ia alami.

Flashback

Siapa yang duga, hanya bermodalkan sebuah keberanian dan percaya diri, dalam waktu tidak cukup satu bulan seorang mahasiswa biasa menjadi terkenal didunia oleh karena lagu ciptaannya di beli oleh salah satu management terbesar di Seoul.

Akhirnya seiring berjalannya waktu, Zhang Yixing resmi menjadi seorang composer dan pengarang lagu terlaris di dunia. Tapi sayang, kesuksesannya membuat ia melupakan seseorang yang sedari awal berada disisinya untuk membantunya.

Taeyeon duduk setenang mungkin di cafe dekat apartement Lay menunggu namja itu datang menghampirinya. Jujur saja, Taeyeon sangat kecewa melihat tingkah Lay yang seolah-olah melupakannya setelah ia menjadi sukses. Untuk itu saat ini Taeyeon memutuskan sesuatu, ia harus membicarakan ini dengan namja itu langsung.

“Heyyo noona! Ada apa? Lama tak berjumpa.” Sapa namja berdimple itu dan duduk dihadapan sang yeoja yang dipanggilnya noona. “Mian noona, aku tak punya banyak waktu. Ada kesibuk-”

“Aku tidak akan berlama-lama Lay.” Putus Taeyeon yang merasa tidak dipentingkan lagi oleh Lay. Menurutnya, namja yang berada dihadapannya sekarang berbeda dengan namja yang dulu dikenalnya.

“Aku hanya datang untuk menyampaikan 3 hal padamu.” Taeyeon menarik nafas sejenak lalu melanjutkan kalimatnya, “Pertama, chukkae. Kesuksesan telah berhasil menghampirimu, tapi jangan cepat puas dan teruslah mengembangkan bakatmu.” Sang lawan bicara hanya terdiam menunggu kelanjutan kalimat Taeyeon. “Kedua….” Taeyeon menggantungkan kalimatnya, sebenarnya ia masih tidak sanggup mengucapkan kalimat selanjutnya.. “Kedua?” Ulang Lay.

“Kedua… Aku tak akan pernah mengganggumu lagi, aku akan pergi dari kehidupanmu dan mencoba melupakanmu. Maaf, mungkin menurutmu ini tidak penting. Tapi untukku pribadi ini sangat penting. Kau tak perlu khawatir, aku tak akan ada untukmu lagi.” Jujur saja, Lay merasa ada kepedihan tersendiri mendengar penuturan Taeyeon.

Taeyeon menutup matanya, mencoba mengendalikan dirinya sebelum akhirnya mengucapkan hal ketiganya, “ Dan yang terakhir. Maafkan aku,tapi mungkin aku yang terlalu berharap. Aku..aku mencintaimu Zhang Yixing. Tapi tenang saja, aku tak akan memintamu untuk membalas perasaanku.” Ada perasaan sedikit lega ketika Taeyeon menyampaikan perasaannya. Kedua bola matanya bertemu dengan mata sang pemilik dimple itu. Taeyeon tidak tahan menatapnya, rasanya terlalu sakit. Ia lalu bangkit berdiri, “Maaf mengganggu waktu sibukmu.” Ucap Taeyeon yang masih bisa menegarkan dirinya dan tersenyum miris lalu pergi dari hadapan Lay yang masih terpaku mendengar semua penuturan Taeyeon.

Flashback END

Lay menekan seluruh tuts orgennya secara bersamaan untuk meluapkan emosinya. Ia mengutuki dirinya sendiri, ia terlalu bodoh untuk menyadari kehadiran wanita terbaik dalam hidupnya. Setahun telah berlalu sejak ia kehilangan Taeyeon, dan baru sekarang ia merasakan cinta yang terlalu dalam untuk Taeyeon.

Lay menghembuskan nafasnya kasar,ia bangkit berdiri dan mengambil sebuah kaset dari DVD Playernya, kaset itu berisi lagu yang ia ciptakan dan nyanyikan sendiri lalu menaruhnya kedalam amplop berwarna merah bertuliskan “happy wedding.”

Setelah memantapkan dirinya, dibalut kemeja berwarna putih, jas hitam yang ia biarkan terbuka dan syal coklat bercorak cukup menarik menutupi lehernya untuk menghindari kedinginan bulan desember yang semakin menusuk. Lay berjalan menuju mobil sport tanpa menampakkan sedikitpun dimplenya, kakinya masih berat menuju tempat yang akan ia datangi saat ini. Ia tak mampu dan tak akan pernah mampu, tapi bagaimana pun  disinilah ketegarannya di uji.

Salah satu ruangan di gedung mewah bernama ‘Seoul Hotel’ itu kini dipenuhi dengan corak berwarna putih keemasan dan didepan ruangan tersebut banyak berjejer foto-foto mesra seorang yeoja bertubuh mungil dan namja yang cukup tinggi dan memiliki badan ideal yang telah menjadi satu dan sudah diberkati di gereja tadi. Di ujung foto-foto tersebut tertulis nama  mereka berdua “Choi Siwon & Kim Taeyeon”.

Lay tak berkedip menatap deretan-deretan foto itu, kepedihan itu kembali ia rasakan. Keegoisan merasukinya, ia merasa hanya dialah yang pantas bersanding dengan Taeyeon. Tapi bagaimana bisa? Karena dirinyalah yang menyianyiakan yeoja mungil itu terlebih dahulu. Lelaki yang bersanding dengan Taeyeon sekarang bukan sembarang lelaki, ia juga merupakan pewaris tunggal sebuah perusahaan terbesar saat ini. Mata Lay memerah, rasanya ia ingin berteriak  meminta Taeyeon kembali padanya.

Beberapa waktu ia menatap frame sepasang kekasih itu, akhirnya ia memantapkan dirinya memasuki ruangan itu. Ia melangkahkan kakinya lurus dan menatap hanya satu arah, kearah pelaminan dimana seorang yeoja yang ia kembali harapkan duduk bersanding dengan namja lain.

“Noona..” Sapa Lay lirih menatap kearah yeoja mungil yang terlihat sangat menawan dibalut gaun berwarna putih yang sangat cocok dibadannya. Namja yang duduk disamping Taeyeon ikut menatap kearah Lay yang menatap Taeyeon dengan tatapan penuh arti.

Sekarang Lay dan Taeyeon duduk di salah satu pojokan ruangan, sebelumnya Taeyeon telah meminta izin kepada Siwon untuk berbincang sebentar dengan teman lama ini. Dengan senang hati Siwon memberikan waktu kepada mereka, tetapi sebelumnya Lay telah menyerahkan hadiah spesial yang ia ingin berikan kepada Taeyeon yaitu sebuah lagu karyanya sendiri yang sekarang telah mengalun indah di ruangan tersebut. Lagu berjudul ‘First Snow’ itu cukup mengambil perhatian para tamu yang datang.

“Aku kira kau tak akan datang.” Ucap Taeyeon memecah keheningan yang sempat terjadi.

“Mana mungkin aku tak datang dihari special noona-ku sendiri. Ternyata impianmu tercapai, menikah dihari natal.” Taeyeon tersenyum mendengar penuturan Lay yang sampai saat ini belum menatapnya.

“Haha, ini juga keinginan Siwon oppa. Oh ya, ini lagu ciptaanmu? Aku menyukai musiknya.” Ujar Taeyeon lagi menikmati alunan lagu yang berbunyi.

“Itu adalah kisah pribadiku noona.” Respon Lay berusaha menatap Taeyeon, sedangkan sang yeoja hanya menatap heran kearah Lay menunggu kelanjutan kalimat pria berdimple itu. “Aku ingin sekali kembali ke masa-masa kita dulu. Sebelum aku seperti saat ini, sebelum aku melupakanmu karena hasratku yang terlalu ingin cepat sukses, sebelum noona memilih untuk pergi dari kehidupanku dan sebelum noona menjadi milik orang lain.” Taeyeon terpaku, sama seperti saat dulu Lay terpaku karena ucapannya. “Aku menyukaimu noona, sangat menyukaimu. Aku memang terlambat menyadarinya dan mungkin tak akan ada kesempatan lagi untukku. Ini memang kesalahanku.” Lanjut Lay masih tetap menatap teduh kearah Taeyeon.

“Kau pasti bisa mendapat seseorang yang lebih lebih lebih baik dariku.” Ucap Taeyeon mencoba mencairkan suasana, jujur saja Taeyeon sedikit kaget mendengar ucapan Lay barusan.

“Aniya noona, tak ada yang sepertimu.” Balas Lay tak setuju dengan penuturan Taeyeon.

Taeyeon tersenyum, tulus. “Memang tak ada yang sepertiku. Tapi banyak yang jauh lebih baik dariku. Lagian ini bukan kesalahanmu karena tidak menyadarinya dari awal. Ini semua sudah takdir. Jalan kita berbeda Lay, mungkin dimasa dulu aku menyukaimu dan kau baru menyadarinya. Tapi sekarang aku sudah punya kehidupan baru.” Hati Lay semakin tertusuk mendengar kalimat terakhir Taeyeon,ia sadar tak ada harapan lagi untuk bisa kembali dengan yeoja mungil itu.

“Percaya padaku, akan ada yang lebih baik. Sama seperti ketika aku bertemu dengan Siwon oppa, ketika hatiku hancur dan pedih karena tak bisa bersamamu, ia datang mencoba membangkitkanku bahkan selalu ada disampingku. Suatu saat nanti, kau juga akan bertemu dengan seorang wanita lain yang akan memperhatikanmu lebih dari perhatianku padamu dulu.” Senyuman Taeyeon terukir kembali, berbeda dengan Lay yang semakin sakit mendengar penuturan Taeyeon.

Namja asli China itu tak sanggup lagi, ia meninggalkan ruangan megah itu dan meninggalkan Taeyeon seorang diri yang masih heran melihat tingkah Lay. Lay berjalan dengan gerakan cepat, secepat airmata yang berhasil membasahi pipinya. Ia menepuk-nepuk dadanya, mencoba untuk menenangkan hatinya yang teramat sakit. “aku berjanji,di kehidupan berikutnya, kau akan menjadi milikku noona. Saranghaeyo.”

 

Suho-Taeyeon (Short Love Letter)

“I know, i am a stupid man ever.” – Kim Joonmyeon

“Taengoo! Camkamman-yo!” Teriak seorang namja yang memiliki wajah susu sambil sedikit berlari kearah seorang yeoja yang tinggi semampai dengannya.

“Mwoya?” Respon yeoja yang dipanggil Taengoo itu membalikkan badannya dengan ekspresi datarnya.

“Ige, lihatlah. Aku mendapat surat lagi!” Namja itu menyodorkan sebuah kertas yang terlipat rapi kepada yeoja di depannya. Sang yeoja tak merubah ekspresinya sama sekali melihat kertas tersebut.

“Yak! Suho-ya, apa urusannya denganku jika kau mendapat surat?” Namja bernama Suho itu mengernyitkan dahinya heran mendengar penuturan gadis berponi itu. Sang gadis kembali berbalik dan meninggalkan Suho dengan keheranannya.

“Ani, aku hanya ingin memberimu Taeyeon. Mungkin saja kau tau siapa pengirimnya.” Kejar Suho mensejajarkan langkahnya dengan yeoja bernama asli Taeyeon. Taeyeon menghentikan langkahnya dan kembali menatap Suho.

“Ck. Kalau aku mengetahuinya, aku pasti akan langsung memberitahumu. Yang pastinya itu dari penggemar rahasiamu yang mungkin sangat mengagumimu. Puas?” Omel Taeyeon lalu memutar bola matanya, sedangkan Suho terkekeh melihat wajah Taeyeon yang sangat lucu itu.

“Haha, yasudah. Jangan seperti itu nyonya Kim. Mau ku traktir makan? Kajja!” Senyuman kembali tercipta diwajah Taeyeon ketika Suho menarik tangannya dan menggenggamnya dengan erat.

Suho dan Taeyeon sudah bersahabat dari awal mereka masuk SMA, dan sampai hari ini saat mereka telah menduduki bangku kuliah mereka masih tetap bersahabat dan tidak memiliki hubungan yang lebih. Siapa yang duga, sedari kelas 3 SMA dulu Suho selalu mendapatkan surat yang bisa dikatakan surat cinta dari penggemar rahasianya yang sampai saat ini ia belum mengetahui orangnya. Tapi yang menarik dari penggemarnya ini adalah surat yang selalu ia berikan pada Suho selalu berisi kalimat yang sama. “To My Guardian : I love you so much. Don’t leave me. Okay?”

Suho selalu merasa heran karena hampir tiap hari ia mendapat surat berisi kalimat seperti itu. Dan Taeyeon yang memang pada dasarnya bersifat emosian sudah bosan mendengar kalimat penasaran dari sahabatnya jika menanyakan pendapat tentang siapa kira-kira pengirim surat itu.

“Taengoo..” Panggil Suho sambil memperhatikan sahabatnya yang sedang melahap jajangmyeon di hadapannya.

“hm?” hanya itu respon Taeyeon dan masih tetap fokus pada aktivitasnya.

“Jadilah kekasihku.. ” Gumam Suho pelan dan lembut tapi mampu membuat Taeyeon tersendak bahkan hampir memuntahkan seluruh isi mulutnya jika ia tidak segera minum.

“Berhenti menggodaku, pabo! Uhuk.. uhuk..” Taeyeon masih terbatuk-batuk karena kalimat yang diucapkan Suho, sedangkan Suho hanya terkekeh.

“Aku tidak berniat menggodamu. Tapi aku juga bereaksi seperti itu ketika pagi tadi Jessica noona menyatakan perasaannya padaku.” Kali ini mata Taeyeon terbelalak mendengar penuturan Suho sedangkan sang namja hanya mengkerutkan dahinya. “Jessica sunbae menyatakan perasaannya padamu?” Suho hanya mengangguk innocent menjawab Taeyeon.

Taeyeon menelan salivanya lalu kembali bertanya, “Dan… apa kau menerimanya..?” Ucap Taeyeon ragu-ragu.

“Belum. Aku berjanji memberikan jawabannya lewat telfon nanti malam.” Respon Suho santai. “Menurutmu, apakah aku harus menerimanya?” Lanjut Suho lagi, dalam beberapa waktu Taeyeon terdiam. “Tanya hatimu, paboya!Ck.”

***

Masih pagi, kampus sudah di hebohkan dengan kabar jadiannya Jessica dan Suho, mengapa heboh? Karena Jessica yang terkenal dingin dan banyak lelaki yang enggan mendekatinya, akhirnya memiliki kekasih yang berbanding terbalik dengan sifat dinginnya.

Tidak terasa hubungan mereka malah membawa dampak negatif untuk persahabatan Suho dan Taeyeon. “Suho-yaa~ aku iri padamu.” Ujar Taeyeon suatu saat ketika ia duduk berdua dengan sahabatnya dihalaman belakang kampus. Suho mengkerutkan dahinya dan menatap Taeyeon yang terduduk disampingnya.

“Aku juga ingin sepertimu, memiliki seorang kekasih yang bisa menjadi pelindungku dan menjadi pangeranku.” Ucap Taeyeon tersenyum lalu balik menatap Suho. Suho ikut tersenyum, tapi senyuman itu hanya sesaat ketika ia mendengar kelanjutan ucapan Taeyeon, “Aku akan pergi. Jauh. Dan ku mohon, kau jangan tanyakan aku akan pergi kemana.” Taeyeon menghela napasnya lalu kembali menatap kedepan, mencoba menghindari tatapan mata Suho. “Gomawo, jeongmal gomawosso, kau sudah mau menemaniku sedari SMA sampai sekarang. Tapi maaf, aku tak bisa terus ada disampingmu.” Lanjut Taeyeon masih tetap dengan posisi yang sama.

“Apa kau mau tau, mengapa sejak kau jadian dengan Jessica eonni, kau tak pernah menerima surat itu lagi?” Taeyeon memantapkan dirinya untuk kembali menatap Suho. Suho hanya mengangguk dan tetap menunggu lanjutan ucapan Taeyeon, “Karena ia tak mau menjadi perusak hubunganmu dengan wanita yang kau cintai.” Suho masih tidak mengerti, tanpa berbicara Taeyeon bisa menangkap arti dari tatapan Suho saat itu. Suho seolah bertanya – dari mana kau mengetahuinya – “Jelas saja aku tahu. Karena aku… akulah orang itu, Guardian.” Setelah mengucapkan kalimat itu dengan senyuman tulus dibibir mungilnya, Taeyeon langsung bangkit berdiri dan pergi dari hadapan Suho dengan wajah pucat dan kepedihan yang ia rasakan.

2 months later..

Di balut kemeja putih bercorak polkadot dan sweater berwarna biru tua menemani kesepian dan kepedihan yang masih dan bahkan belum ia hilangkan setelah kejadian dan pertemuan terakhirnya dengan Taeyeon 2 bulan yang lalu. Setelah pernyataan Taeyeon waktu itu, Taeyeon benar-benar hilang dari kehidupan Suho. Tapi untung saja, Suho masih bisa mengetahui kemana Taeyeon pergi yaitu pulang ke kampung halamannya di Jeonju. Terkadang Suho memperhatikan Taeyeon dari jauh sekedar memastikan kesehatan sahabat terbaiknya itu. Ya, Taeyeon pergi menghindari Suho bukan hanya karena orang yang disukainya berpacaran dengan orang lain tetapi karena ia tak ingin Suho mengetahui penyakit mematikan yang dideritanya.

Baru pagi tadi Suho mendapat kabar bahwa Taeyeon akan berangkat keluar negeri dan menerima perawatan intensif disana, untuk itu dengan sedikit keragu-raguan Suho ingin menghampiri Taeyeon. Butuh waktu yang cukup lama sampai akhirnya Suho memutuskan untuk menyusul Taeyeon ke bandara International, semoga saja ia belum terlambat.

Dengan keyakinan yang pasti, Suho mengambil kotak berwarna merah dan sebuah kartu ucapan kecil untuk diberikan kepada Taeyeon. Harapan Suho hanya satu, Taeyeon mau menerima pemberiannya dan memaafkan kebodohannya yang tak pernah menyadari betapa besar cinta sahabatnya itu untuk dirinya. Ia juga bisa berharap masih bisa melewati natal tahun ini dengan yeoja itu. “To My Angel : Bogoshipda. Saranghae.” Kalimat itulah yang tertulis di kartu ucapan kecil itu.

 

Baekhyun-Taeyeon (Hard Times)

“I can’t live without you, my stronger.” – Byun Baekhyun

 

Sarangi gomawo jul mollasseottdeon naega..

“Suaramu makin indah saja, Tuan Byun.” Dentingan piano yang mengalun menemani suara namja yang memainkannya kini berhenti ketika seorang yeoja bersurai panjang berwarna hitam kecoklatan dan berponi yang cocok untuk wajah mungilnya, datang menghampiri dan memberikan pujian kepada sang namja.

“Kau datang.” Respon namja itu lalu berdiri dengan senyuman seperti malaikat kemudian mengecup dahi sang yeoja, yeoja mungil itu ikut tersenyum menerima perlakuan romantis dari namja yang tak lain adalah kekasihnya sendiri.

Sang namja yang bermarga Byun dan bernama lengkap Byun Baekhyun itu lalu mempersilahkan sang yeoja duduk di bangku panjang tempat ia memainkan pianonya.

“Bagaimana pemotretanmu hari ini noona?” Tanya Baekhyun terus memperhatikan yeoja yang ternyata lebih tua darinya itu.

“Seperti biasa, semuanya berjalan lancar.” Jawab gadis itu lalu mengambil sebuah kertas yang berisikan lirik lagu berjudul ‘Miracle in December’ “Jadi ini lagu yang akan kau nyanyikan?” Lanjutnya.

“Ne, noona akan melihat penampilanku nanti kan?” Tanya Baekhyun lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari yeojanya. Sang yeoja hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

Byun Baekhyun adalah seorang penyanyi yang sudah debut sejak 2 tahun lalu dibawah salah satu management terbesar di Korea Selatan, SM Entertainment. Sedangkan yeojanya yang bernama lengkap Kim Taeyeon adalah sunbaenya di management yang sama. Taeyeon adalah seorang member dari Girlband yang sudah melegenda, Girls’ Generation. Hubungan yang mereka jalani memang belum bisa dikatakan lama, hanya saja mereka sudah saling mengenal sejak Baekhyun menjadi trainer di management tersebut. Tak ada yang tersembunyi dari mereka, bahkan public pun sudah mengetahui hubungan mereka yang sudah terjalin hampir 6 bulan.

***

“Noona, kau dimana?” Ucap seorang namja yang tak asing lagi bagi Taeyeon di seberang telfonnya.

Sabarlah, aku pasti akan kesana.” Balas Taeyeon, saat ini gadis itu sedang berada disalah satu pusat perbelanjaan untuk memberikan sebuah hadiah kepada namjanya, karena hari ini Baekhyun akan comeback khusus edisi natal sambil bermain piano.

“Tapi sebentar lagi acaranya akan dimulai noona, aku mau noona menyaksikanku dari awal.” Taeyeon tersenyum mendengar perkataan Baekhyun barusan.

“Aku tak akan terlambat. Gidaryooo~” Ucap Taeyeon kemudian memutuskan panggilannya secara sepihak.

Beberapa waktu kemudian, Taeyeon sudah memilihkan sebuah hadiah kecil untuk Baekhyun, dan secepat itu juga ia pun mengendarai mobil pribadinya menuju tempat Baekhyun akan comeback.

Dilain sisi, Baekhyun terlalu gelisah menunggu kedatangan Taeyeon. Menurutnya, orang pertama yang harus melihat penampilannya adalah Taeyeon. Bagaimana tidak, sedari dulu Taeyeon adalah motivatornya untuk menjadi seorang penyanyi, dan yang membuatnya lengkap adalah ketika pernyataan cintanya untuk sang idola diterima dan sampai sekarang mereka masih termasuk ‘Best couple artist’.

Baekhyun kembali menelfon Taeyeon, “Noona, kau dimana sekarang?”

“Aku sudah dijalan Baekhyun-ah,ada sedikit kemacetan.” Ucap yeojanya dari seberang sana.

“Sebentar lagi aku akan tampil, eottokkae? Aku ingin kau juga melihat penampilanku, noona.” Ucap Baekhyun lagi dengan raut wajah khawatirnya.

“Sabarlah, aku akan mencari jalan pintas.” Respon Taeyeon, dan setelah itu ia membalikkan mobilnya, mencoba mencari jalan pintas agar tiba dengan cepat tetapi ternyata panggilan Baekhyun belum terputus dan Taeyeon hanya menaruh hp tersebut disampingnya. Karena tidak ingin membuat sang kekasih merasa kecewa, untuk itu Taeyeon melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.

Baekhyun sontak berdiri dan membelalakkan matanya mendengar suara yang ia dengar dari hubungan telfonnya dengan Taeyeon. Badannya melemas, firasatnya memburuk.

“Noona, noona. Apa kau bisa mendengarku?” tak ada respon dari seberang sana, yang berbunyi hanyalah suara sirene ambulans. “NOONAAAAAA!!!” Teriak Baekhyun histeris, bertepatan dengan itu seorang staff acara musik itu memanggil Baekhyun untuk bersiap-siap tetapi Baekhyun tidak mengindahkan ucapan staff itu dan berlari keluar dari gedung dengan secepat kilat.

Para fans yang menunggu comeback Baekhyun kemudian penasaran dan merasa heran dengan sikap Idolanya yang tiba-tiba saja pergi.

tidak mengindahkan ucapan staff itu dan berlari keluar dari gedung dengan secepat kilat.

Para fans yang menunggu comeback Baekhyun kemudian penasaran dan merasa heran dengan sikap Idolanya yang tiba-tiba saja pergi. “Yak! Lihatlah berita ini.” Ucap seorang fans kepada fans yang lainnya sambil memperlihatkan sebuah artikel yang berjudul “Kim Taeyeon get Accident in Way to See Baekhyun’s Perform.”

Pada hari itu, hari ke 5 dibulan December yang harusnya menjadi hari comeback Baekhyun menjadi hari terburuk dalam hidupnya. Yah, karena kecepatan yang terlalu tinggi Taeyeon mengalami kecelakaan karena tidak memperdulikan mobil dari arah lawannya. Untungnya, orang sekitar cepat menghubungi rumah sakit hingga Taeyeon masih bisa memiliki kesempatan untuk hidup.

“Tenanglah Baekhyun, Taeyeon tak senang melihatmu seperti ini.” Saat ini seluruh member Girls’ Generation, Baekhyun, dan beberapa member SM Ent lainnya sedang berkumpul dirumah sakit untuk menunggu kelanjutan kabar kondisi Taeyeon. Tiffany, salah satu member GG dan merupakan sahabat terbaik Taeyeon mencoba menghibur Baekhyun yang tak henti-hentinya menangis.

“Bagaimana aku bisa tenang jika penyebab dari kecelakaan Taeyeon noona adalah aku sendiri?” Ucap Baekhyun dengan badannya yang bergetar hebat.

“Aniya, ini murni kecelakaan Byun Baekhyun. Bagaimana pun, ini memang salah satu hal yang akan Taeyeon alami dalam hidupnya.” Ucap Tiffany lagi dan menepuk punggung Baekhyun, mencoba menenangkan namja berkulit susu itu. Baekhyun hanya terdiam dan masih belum bisa menerima semua ini.

“Baekhyun-ah, ini untukmu. Tadi saat polisi sedang menyelidiki mobil Taeyeon, ia menemukan ini. Dan hadiah ini ternyata untukmu.” Ucap seorang namja yang cukup tinggi dan merupakan visual Super Junior-sunbae Baekhyun- menghampiri Baekhyun dan menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna merah.

Baekhyun mengambil kotak itu dan membukanya. Sebuah gelang bermanik-manik hitam dengan hiasan yang berbentuk salib. Simple tapi cukup membuat hati Baekhyun sakit, apalagi ketika membaca sebuah kertas kecil yang berada dibawah gelang itu. ‘Chukkae, Byun Baekhyun! Let’s go for a long time. I’ll always be your stronger, my baby’. Tangisan Baekhyun makin menjadi membuat seluruh member yang ada disitu merasa iba melihat keadaan penyanyi itu yang sangat rapuh.

***

Pihak SM Ent tak bisa berbuat apa-apa mendengar perkataan Baekhyun yang ingin vacuum dari dunia entertain nya untuk sementara dan entah kapan ia akan kembali ke dunianya itu, setelah Taeyeon di vonis koma berkepanjangan, Baekhyun tak bisa berbuat apa-apa dan untuk itu setiap hari ia menemani Taeyeon dirumah sakit.

Para fans juga sangat menyayangkan keputusan Baekhyun untuk vacuum, tapi dilain sisi mereka mengerti keadaan Baekhyun sekarang yang sedang mengalami masa-masa tersulitnya. Bagaiman Baekhyun bisa menjalankan aktivitasnya sedangkan yeoja yang selama ini menjadi penyemangatnya sedang berbaring tak berdaya dirumah sakit.

Masih ada rasa bersalah dalam diri Baekhyun, tetapi member GG dan SM Ent selalu memberinya kekuatan dan meminta Baekhyun untuk berfikir positif.

Pagi ini, Baekhyun menghampiri Taeyeon seperti biasanya dan membawa sekuntum bungan favorit yeojanya itu. “Cepat sembuh, noona. Aku akan tetap menunggumu.” Ucap Baekhyun tulus sambil menggenggam erat tangan Taeyeon yang sedang berbaring ditemani tabung oksigen. Lagi-lagi Baekhyun merasakan kepedihan lagi, “Aku janji, aku tak akan pernah meninggalkanmu, noona.” Lanjut Baekhyun lalu mengecup kening sang kekasih.

 

Kris – Taeyeon (unforgettable)

“I’m not professional anymore when I am not with you.” – Wu Yifan

 

“Baik! Sudah selesai.” Ucap namja berambut blonde itu masih lengkap memegang kuas lukis ditangannya, perkataan itu ditunjukkan kepada seorang yeoja dihadapannya yang menjadi model lukisnya. Yeoja itu adalah wanita tercantik yang ia pernah temui setelah ibunya.

“Wah! Ini sangat indah Kriscasso!” Respon yeoja itu yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping namjanya yang ia beri julukan ‘kriscasso’.

Yeoja itu bertubuh mungil, berbanding terbalik dengan sang namja yang memiliki tinggi di atas rata-rata. Namja itu bernama asli Wu Yifan, dia keturunan China asli dan sekarang melanjutkan study arsitekturnya di Seoul, Korea Selatan. Sedangkan sang yeoja bernama Kim Taeyeon, keturunan Korea Selatan asli tepatnya di daerah Jeonju. Ia juga seorang mahasiswa kesenian disalah satu universitas art terbaik di Seoul. Awal pertemuan mereka dikarenakan Taeyeon pernah melakukan study banding di universitas arsitektur tempat Wu Yifan. Panggilan yang diberikan Taeyeon untuk sang kekasih adalah ‘Kriscasso’ dan biasa di singkat Kris.

“Ambillah ini dan simpan baik-baik. Oke?” Kris menyerahkan lukisan itu kepada Taeyeon yang di terima dengan senang hati oleh yeoja mungil itu. Taeyeon memberikan rasa terimakasihnya dengan mendaratkan sebuah kecupan di pipi Kris yang mampu membuat wajah lelaki itu memerah.

***

Taeyeon mencoba menahan seluruh amarahnya dan berlari sekencang mungkin menjauhi rumahnya. Yah, seperti inilah keluarga Taeyeon. Perbedaan antara ia dan ayahnya membuat Taeyeon harus selalu menahan kesabarannya tapi tidak untuk saat ini, kesabarannya sudah habis. Tuan Kim ingin sekali anaknya menjadi pebisnis sepertinya dan bukan seorang penyanyi seperti cita-cita Taeyeon, dan itulah yang selalu menjadi perdebatan antara Tuan Kim dan anaknya.

“Kris.. jebal, angkat telfonnya. Aku membutuhkanmu.” Ucap Taeyeon sambil terus mengulang-ulang menelfon Kris. Saat ini, Taeyeon duduk disebuah taman sepi. Pertengkaran dengan ayahnya kembali terbayang-bayang olehnya. Hingga bayangan itu hilang ketika hpnya berbunyi tanda sebuah pesan masuk.

“Aku lagi sibuk, akan ku hubungi nanti.”

Bukannya membalas, tapi Taeyeon langsung membanting ponselnya. “tak ada yang bisa mengerti perasaanku saat ini.” Batin Taeyeon frustasi dan emosinya kini terluapkan melalui airmatanya.

***

Sudah lebih dari sebulan Taeyeon tak pernah memberi kabar kepada sang kekasih, Kris. Handphonenya juga tak pernah aktif, Kris ingin sekali menghampiri Taeyeon kerumah dan kampusnya, tapi kesibukannya untuk event pameran dikampusnya sendiri membuat ia bahkan tak punya waktu biarpun sekedar untuk beristirahat sejenak.

Hari ini, 25 Desember merupakan hari jadinya dengan Taeyeon yang genap berusia satu tahun dan juga bertepatan dengan pameran dikampusnya terlaksana. Sampai akhir acara pameran, Kris tidak menemukan kehadiran Taeyeon. Sehari sebelum pameran, Kris sempat mengunjungi kampus Taeyeon untuk bertemu gadisnya yang menghilang secara tiba-tiba, tetapi Tiffany yang notabennya adalah sahabat baik Taeyeon mengatakan bahwa ia juga tidak mengetahui keberadaan Taeyeon. Hingga hari ini, akhirnya Kris mengetahui kemana sebenarnya Taeyeon menghilang.

“Jangan pernah mencari Taeyeon lagi. Ia sudah belajar dengan baik diluar negeri.” Itulah kalimat yang terlontar saat Kris memberanikan diri menelfon ayah Taeyeon.

Kris tak tahu harus berbuat apa, apa ia harus mempercayai kalimat Tuan Kim? Kris merasa frustasi. Ia memasuki ruang lukis yang biasa menjadi tempatnya menghilangkan frustasinya.

Kris terduduk diatas bangku depan kertas lukis yang biasa ia gunakan untuk melukis. Lelaki itu mengambil pensil dan mencoba menarik sebuah garis ingin memulai lukisannya, tapi entah mengapa saat ini fikirannya tidak bisa diajak bersahabat. Yang terngiang di ingatannya hanya kenangan bersama Taeyeon. Kris mencoba untuk tidak rapuh, tapi itu salah. Ketegarannya sudah sangat rapuh bahkan ia tidak bisa menerima kepergian Taeyeon yang secara tiba-tiba.

Apakah ini salahnya yang terlalu mengabaikan Taeyeon? Kris masih tidak tau apa yang menyebabkan Taeyeon pergi secara tiba-tiba, apakah kini hubungannya yang tepat berumur satu tahun telah berakhir? Kris meramas pensil yang di genggamnya.

“KIM TAEYEON…. AKU INGIN KAU KEMBALI!” Teriak Kris dengan penuh emosi, bahkan tangan yang biasa ia gunakan untuk melukis serasa tak bisa lagi melakukan hal itu. Natal berikutnya, akankah Taeyeon kembali?

END

Kyaaaaa…. Maaf buat cerita amburadul ini dan maaf banget karena 4 member EXO tak sempat masuk dalam list yang dibuatin cerita padahal di posternya ada T.T bukannya gak mau buatin, tapi otak lagi buntu juga sekarang udah mau mid T.T apalagi ini ceritanya udah telat banget dipublish sekarang, jadi harus buru-buru publish. Aku janji ff-ff ku selanjutnya akan lebih baik dari ini, maklumin yaaa aku juga masih newbie T.T Terimakasih banyak buat semua yang mau baca ff ini. Maaf banget buat kejelekannya. Btw, cerita mana yang kalian suka ?*kalau ada. Hehe._. kritik allowed^^~

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s