[Freelance] The End of Fairytale (Chapter 2)

The End of The Fairytale poster

Title
The End of The Fairytale : 2

 

Author
L’Cloud

 

Length
Three Shot

 

Rating
PG 18+

 

Genre
Romance

Angst

 

Main Cast
Taeyeon

Sehun

Luhan

 

Author Note

Hey, comeback with the second part. Semoga gak jadi bosenin okay. Dan apapun endingnya ntar, sama Sehun atau sama Luhan, semoga nggak akan jadi masalah. ^^ makasih buat supportnya. Dan skali lagi aku 96 Line, jadi boleh panggil aku kakak adek atau lily aja. ^^

#L’s

Chapter 1 _

“K..Kkeramik? K..k..keramik?”,bibir Taeyeon bergetar gugup. Pikirannya berkecamuk tanpa bisa ia kendalikan. Nafasnya naik turun, dan semakin naik ketika benda pipih itu sudah naik dalam genggamannya.

Tangan Taeyeon secara kasar membalikkan badan lelaki yang terlungkup menghadap tanah. Dan bola matanya membesar seketika.

“T..tidak mungkin.. bukankah dia.. ss..sudah mati?”,gumam Taeyeon lirih.

Mata Taeyeon menggenangkan banyak air mata. Ia memejamkan matanya agar air mata itu bisa menetes mengalir membasahi pipinya. Dan pada momen itulah, pria itu, Oh Sehun, tak sanggup lagi menahan diri untuk menyunggingkan smirknya.

‘Semudah ini saja?’,ucap Sehun dalam hati.

#L’s

‘tok..tok..tok!’,terdengar suara pintu di ketuk dengn kerasnya.

 

Taeyeon yang sedari tadi hanya bisa memandang tubuh di depannya sembari menggigiti kukunya serta merta berlari menuju pintu. Di putarnya knop pintu berharap dokter pribadinya sudah berdiri dengan siaga untuk menolong orang yang kini ada di kamar Taeyeon.

“Selamat malam dok— ”, ucapan Taeyeon terpotong saat menyadari siapa yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya.

Yuri. Ia tengah menatap Taeyeon dengan wajah sebal sekaligus khawatir. Matanya seolah berkata pada Taeyeon untuk menjelaskan apa yang tengah terjadi. Yuri menarik tangan Taeyeon menuju ruang tamu. Dihempaskannya tubuh Taeyeon di sofa hitam milik Taeyeon.

“Jelaskan padaku, apa yang membuatmu berteriak tadi?”,Yuri memandang tajam Taeyeon.

“Aku tak apa Yuri yah. Hanya saja aku, menabrak seseorang.”

“Oh, bagus, dan kau tak segera mengabariku. Lalu, apakah orang itu meminta ganti rugi? Jangan bilang kalau mungkin saja kau ditipu.”

“Tidak. Sebenarnya, orang itu, di sini. Di rumah ini. Dia belum sadar.”,Taeyeon menggigit bibirnya.

“Astaga?! Apa kau gila? Kenapa malah kau bawa ke rumahmu? Harusnya kau bawa dia ke rumah sakit! Bagaimana bila ia ternyata kriminal yang sedang beraksi. Kau ini, sangat ceroboh! Lebih buruknya lagi, bila ia malah mati di sini! Kau tak memperhitungkannya? Ia bisa saja kehilangan banyak darah!”

“Aku bahkan tak mengemudikan mobilku dengan kencang! Orang itu pasti mabuk! Kau tahu bukan, sepelan apa aku mengemudikan mobilu? Apa pria itu buta hingga ta bisa melihat mobilku? Astaga! Aku harus bagaimana?”

“Lau kenapa tak kau bawa saja ia ke rumah sakit?! Ha?!”,Yuri nyaris berterik kepada Taeyeon.

“Aku tak akan ppernah lagi pergi ke rumah sakit! Kau tahu itu Yuri! Kau tahu! Sebentar lagi mungkin dokter Byun datang. Jangan beri aku masalah tambahan dengan menyuruhku pergi ke rumah sakit.”,Taeyeon membuang mukanya. Wajahnya sudah memerah seolah isi hatinya nyaris meledak.

Yuri memndang Taeyeon kemudian terenyuh. Taeyeon trauma kembali ke rumah sakit. Untuk itulah ia memiliki dokter pribadi. Yuri mendekati Taeyeon kemudian memeluknya hangat.

“Maafkan aku. Sepertinya kau terlihat begitu risau. Apa ada masalah lain Taeyeon?”,Yuri melepaskan pelukannya kemudian duduk di samping Taeyeon.

Taeyeon merogoh sakunya. Sebuah lempengan keramik dengan motif teratai di tangan Taeyeon tak menjawab pertanyaan Yuri.

“Ada apa dengan keramik itu? Apa ada masalah? Taeyeon, lupakanlah bocah kecil itu. Kau bilang dia sudah mening..”

Taeyeon membungkam mulut Yuri saat tangannya menunjukkan keramik lain di sakunya. Dahi Yuri berkerut. Ada 2 keramik? Begitulah yang ada dipikiran Yuri. Ia menggeleng seolah berkata tak mungkin. Dan Taeyeon hanya menghembuskan nafasnya berat.

“Wajahnya masih sama seperti saat itu. Matanya, bibirnya. Aku ingin tak percaya, tapi mataku tak mungkin salah Yuri.”

“Tapi kau bilang dia..”,Yuri tak sanggup melanjutkan ucapannya.

“Aku hanya mengira sperti itu. Selama ini dia tak muncul seperti janjinya! Tentu saja kupikir dia sudah mati! Semua orang pasti akan berfikir sama!”

“Lalu, apa yang akan kau lakukan pada orang itu?”

“Entahlah. Aku tak benar-benar tahu.”

‘tok..tok..tok..’, ketukan pintu menghentikan obrolan mereka.

Taeyeon bergegas berjalan menuju pintu rumahnya. Ia buka pintu di depannya tak sabar.

“Dr. Byun.”,ujar Taeyeon.

#L’s

“Kau tak apa?”,tanya Taeyeon pada Sehun.

“Mm.. ya, lagipula kau tahu aku sudah sadar sebelum dokter itu datang.”,

“Ya, kau benar. Baiklah, ini sudah malam. Kau boleh meninggalkan rumahku sekarang. Ibumu pasti sudah menunggu di rumah. Atau mungkin.. istri.”,Taeyeon menyedekapkan tangannya.

“Ah.. pulang ke rumah ya.. kau benar, aku juga ingin pulang ke rumah. Baiklah. Aku akan pulang ke rumah.”,Sehun berdiri sembari memasang wajah lesu.

“Apa ada masalah?”

“Mm.. tt..tidak. tidak ada masalah.”

“Syukurlah, kalau begitu. cepatlah pulang.”

“Ya..ya.. baiklah..”,Sehun melangkah pelan menuju pintu dengan kaki yang seolah-olah pincang.

‘hentikan aku gadis dingin.. cepat hentikan.’,harap Sehun.

“Xi Luhan. Apa kau.. Xi Luhan?”Taeyeon berteriak tertahan menghentikan Sehun.

Sehun menghentikan langkahnya kemudian menahan senyum. Badannya berbalik sembari memasang wajah heran.

“Bagaimana kau… biisa tahu namaku?”,Sehun menatap Taeyeon seolah tak percaya.

“Kau Xi Luhan?”,Taeyeon menggigit bibirnya.

“Ya, memang begitu. Ada apa? Jangan membuang waktuku. Kenapa? Ha? Hh, yasudah, aku ingin pulang. Bye. Terimakasih sudah menolongku.”,Sehun menatap Taeyeon tak suka lalu berbalik memunggungi Taeyeon.

Air mata Taeyeon mengalir pelan. Bibirnya bergetar karna teralu banyak yang ingin ia katakan. Kaki gadis itu melangkah mendekati tubuh Sehun yang masih berjalan terpincang. Tangan kanannya menyentuh lengan Sehun.

“Kau ingin meninggalkanku lagi?”,sebuah kalimat meluncur dari bibir Taeyeon.

“Kau ingin meninggalkanku lagi? Kenapa? Kenapa kau meninggalkanku lagi? Kamar itu bagaikan neraka setelah kau pergi. Lalu sekarang kau ingin meninggalkanku lagi? La..gi?”,kaki Taeyeon melangkah lebih dekat. Dan tanpa dihitung lebih lama lagi, tubuh kecil itu sudah memeluk tubuh Sehun.

“Agasshi, a..apa yang kau lakukan?”,Sehun terkejut melihat reaksi Taeyeon. ia bahkan tak berfikir Taeyeon akan melakukan hal ini.

“Jangan pergi. Kumohon jangan pergi..”,pinta Taeyeon.

“Tapi agasshi, lepaskan.. Lepaskan..”

Taeyeon menggeleng,”Jika aku melepaskannya, jika saja aku melepaskannya, kau akan meninggalkanku lagi. Aku tak akan membiarkanmu pergi.”,kali ini tangisan taeyeon menjadi lebih keras.

“Aku.. tak akan pergi agasshi. Tapi tolong lepaskan. Le..pas..kan..”,dengan penuh hati-hati Sehun melepaskan pelukan tangan Taeyeon.

Sehun membalikkan badannya sembari menatap Taeyeon,”Jadi agasshi, siapa kau sebenarnya?”

Author’s POV end.

Sehun’s POV start.

“Aku.. tak akan pergi agasshi. Tapi tolong lepaskan. Le..pas..kan..”,dengan penuh hati-hati kulepaskan pelukan tangan gadis itu.

Sejujurnya aku tak berfikir dia akan sejauh ini. Aku hanya ingin menginap di rumah ini sampai aku bisa kembali ke rumah. Toh memang kebiasaanku memanfaatkan wanita-wanita yang suka padku. Tapi ini benar-benar lain. Aku tak tahu bagaimana menghadapinya.

Kubalikkan badanku sembari menatapnya

”Jadi agasshi, siapa kau sebenarnya?”,tanyaku berpura-pura.

“Aku.. aku gadis itu. Apa kau lupa? Apa kau lupa? Lihat ini. Lihatlah!”,gadis itu mengusap matanya kemudian menyodorkanku keramik, yang aku sudah tahu itu apa.

“Itu milikku!”

“Bukan. Ini milikku. Dan yang ini..”,gadis itu menyodorkan lagi satu tangannya kemudian melanjutkan,”yang inilah milikmu.”

Aku terdiam sejenak kemudian kkukerutkan dahiku. Showtime.

“Kau, gadis itu? Gadis di rumah sakit itu? Apa kau benar gadis itu?”,kugenggam tangan ringkihnya.

Air mata gadis itu kembali meleleh. Ia mengangguk. Tanpa kusadari, genggaman tanganku semakin kuat kepadanya. Kutarik badannya ke dalam pelukanku. Kupeluk ia seerat mungkin. Aku sedang tidak sadar. Aku melakukannya tanpa sadar. Ada apa denganku? Apa aku sudah gila? Air mata gadis itu sudah membuatku gila?

Sehun’s POV end.

#L’s

Taeyeon’s POV start.

Mungkin ini begitu murahan. Sebuah kisah yang biasanyaa ku cibir. Pangeran masa kecil, Pangeran yang siap menyelamatkan putrinya dari menara. Kisah gadis yang akan sembuh dari kutukan saat menemukan cinta sejati. Kisah mermaid yang rela mati demi bertemu pangerannya. Ya, memang benar, itu semua hanya dongeng. Dan hidupku sudah menjadi salah satu dari dongeng yang biasa ku cibir. Kalian benar, mungkin aku memang putri dongeng.

Dan pangeran itu ini tengah tertidur pulas di sampingku. Menutup mata sembari menggenggam tanganku erat. Kulepaskan satu tanganku dari genggamannya. Kugerakkan tanganku menyentuh wajahnya. Pipi itu masih sama. Mata itu. Bibir itu. Kugenggam kembali tangan Luhan erat.

“Jangan pergi lagi.”,bisikku pelan kepadanya.

Taeyeon’s POV end.

Author’s POV start.

Taeyeon memejamkan matanya untuk tidur setelah ia puas memandang wajah di depannya. Tanpa ia pernah tahu, Sehun belum benar-benar tertidur. Ia menahan debar di dadanya setelah sentuhan lembut Taeyeon membuatnya tak bisa tidur nyenyak. Ia merasakan sentuhan yang berbeda dari sentuhan gadis-gadis lain yang pernah menjadi perempuannya.

#L’s

“Kulihat kau menjadi gadis periang akhir-akhir ini.”,Yuri memukul punggun Taeyeon pelan.

“Apa kau berpikir begitu?”

“Ya.. apakah ini karena pria bermarga Xi itu? Aaah, jika tahu begitu, aku pasti sudah mencarikan dia untukmu sejak lama.”,ucap Yuri sembari terkekeh.

“Lalu, kenapa tidak? Ah, kau ini jangan membahas diaa saat aku tengah di kantor. Kau bisa membuatku tak konsentrasi.”

“Astaga! Apakah dia sepenting itu bagimu? Kau ini seperti anak kecil yang baru jatuh cinta saja! Itulah akibatnya bila kau terlalu sering menatap keramik. Baru melihat lelaki idaman hati saja sudah nyaris gila. Hahahaha..”,kali ini Yuri mengeraskan tawanya, dan Taeyeon tak keberatan soal itu.

Taeyeon tersenyum menanggapi ucapan Yuri. Fokusnya tiba-tiba saja berubah saat ia merasakan getara handphone di tangannya. Sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Ia meletakkan telunjukkan di bibir meminta Yuri untuk memelankan suaranya. Tangan lentik Taeyeon yang lain menekan tombol hijau di screen Handphonenya.

“Yeoboseo?”,ucap taeyeon.

“…..”

“Aah, ne, Arra.. Aku memang sedang di Caffé. Akan ku tunggu kedatangan anda.”

“….”

“Ne, baik.”

Dan sambungan telepon terhenti. Taeyeon kembali menatap Yuri, kali ini dengan mimik yang serius.

“Pengacara ayahku akan datang.”,ucap Taeyeon.

“Pengacara? Tapi kupikir kau bahkan tak ingin menyinggung tentang itu lagi. Bukankah itu yang membuatmu menolak bertemu dengan pengacara itu selama ini?”,tanya Yuri terhern-heran.

“Ya, kau benar. Aku bahkan tak tahu nama pengacara itu dan rupanya sekalipun. Aku memang masih ragu untuk memenuhi permintaannya. Tapi dia bilang ada sesuatu yang sangat penting, yang harus dia katakan.”

“Lalu?”

“Lalu, semalam saat aku mendiskusikan hal ini dengan Luhan, dia memintaku untuk menyanggupi pertemuan ini. Dia bilang sangat penting bertemu dengan orang yang mungkin sangat tahu seluk beluk ayahku. Jadi..”

“Kau menemuinya karna hal penting itu, atau karna Luhan yang memintamu?”

Taeyeon menggigit bibirnya. Tentu karena Luhan.

Yuri menghembuskan nafasnya. Pikirannya terjatuh ke dlam dunianya sendiri. Entah mengapa Yuri merasa sesuatu tak akan berjalan lencar nantinya. Hatinya penuh perasaan tidak nyaman seolah sesuatu akan terjadi.

Cukup lama ruangan yang awalnya dipenuhi canda tawa itu membisu. Kebisuan itu terpecah oleh getar handphone Taeyeon yang menadakan sebuah pesan masuk.

“Saya sudah sampai. Pria dengan kemeja merah marun.”,begitu bunyi pesan itu.

“Aku harus ke sana Yuri.”,ucap Taeyeon.

“Ya, lakukanlah. Kuharap dengan usahamu menemui pengacara itu, tidak membuatmu menghidupkan kembali ancaman yang pernah kau terima.”,Yuri keluar dari kantornya di ikuti langkah Taeyeon.

Pikiran Taeyeon tak karuan hingga ia tak sdar kini ia sudah berada di ruangan Caffé. Matanya ia edarkan ke seluruh sudut ruangan.

“Maaf, aggashi..”,seseorang membuyaran fokunya dengan sebuah tepukan pundak.

Secara spontan Taeyeon membalikkan badaannya untuk melihat siapa orang itu. Dan seseorang dengan kemeja merah marun sudah berdiri di depannya. Taeyeon membungkukkan badannya.

“Kim Taeyeon imnida.”,

Pria itu ikut membungkukkan badannya kemudian menjawab ucapan Taeyeon dengan memperkenalkan dirinya,”Saya pengacara Oh, tapi kurasa anda boleh memanggil saya Luhan. Nama saya, Oh Luhan.”

Luhan, maksudku, Luhan yang sebenarnya, kini menyunggingkan senyum lebarnya. Begitupun Taeyeon. Ia juga menyunggingkan senyumnya, karena lagi-lagi seseorang membuatnya teringat pada Luhan, pria yang sebenarnya adalah Sehun, orang yang kini tinggal di rumahnya.

#L’s

“Oppaa!!!”,Taeyeon berlari menuju kamarnya.

“Luhan oppa..”,sekali lagi Taeyeon memanggil Sehun. Namun ia tak menemukan sosok itu di kamarnya.

Taeyeon terus melangkahkan kakinya menyusuri rumahnya. Ia masuki setiap ruang yang ada. Instingnya mencoba menerka-nerka di mana Sehun berada. Di kamar mandi, di taman, di perpustakaanya, di ruang erjanya, di ruang karaoke rumahnya. Tapi nihil. Hati Taeyeon menjadi tak menentu. Pikirannya berkecamuk karna matanya tak kunjung menemukan sosok yang ia harapkan.

“Apa Oppa meninggalkanku lagi..?”,Taeyeon menggumam begitu pelan. Air matanya nyaris saja menetes.

“Taeyeon ah? Kau sudah pulang?”,suara Sehun membuat Taeyeon kembali semangat.

Ia menelusur mencari asal panggilan tadi. Dan eureka. Taeyeon menemukan sosok itu tengah berkeliaran di dapurnya dengan celemek yang sudah di penuhi noda cream.

“Oppa..”,wajah Taeyeon heran sekaligus geli.

“Kenapa? Kenapa kau memasang wajah seperti itu?”,Sehun masih berkutat dengan kue di depannya.

“Kau memasak kue itu?”

“Iya.. Aku memasaknya sendiri. Ini karena kau tak menyiapkan pesta selamat datang untukku.”,Sehun terkekeh pelan.

“Oppa.. maafkan aku.. Tapi kau benar-benar mengagumkan. Jarang sekali ada lelaki yang bisa memasak kue.”

“Itulah aku.. aku adalah lelaki paling mengagumkan di dunia ini. Jadi, kau tak boleh bermain api dengan lelaki lain.”

“Kau ini bicara apa? Tentu saja aku tak akan bermain api. Oh, ada yang bisa kubantu oppa?”,tanya Taeyeon sembari berjalan mendekat.

Tangan Taeyeon meraih celemek yang tergantung di dinding. Seperti tidak terbiasa, ia kesulitan mengenakan celemek itu. Ia tak bisa menalikan tali yang harus melilit pinggangnya. Beberapa kali ia mencoba menali tali itu dengan baik namun tak juga berhasil.

“Sini biar aku saja.”,ucap Sehun seraya menahan tangan Taeyeon.

Sehun menali celemek itu gesit. Tangan dan pandangannya berhenti sejenak, kemudian ia tersenyum. Perlahan, tangan itu memeluk tubuh Taeyeon dari belakang. Pelukan yang semakin erat dan semakin erat.

“Luhan oppa..”,Taeyeon tersipu mau kemudian tangannya menggengam tangan Sehun yang melingkar di pinggangnya.

“Kau jangan pergi. Kau tak boleh pergi dariku.”,ucap Sehun mantap.

“Tentu oppa. Aku tak akan pergi.”

“Apapun yang terjadi?”,tanya Sehun meyakinkan.

“Tentu oppa. Apapun yang terjadi.”,Taeyeon menjawab itu mantap.

Sehun tersenyum begitu lebar kemudian membalik tubuh Taeyeon. Ia kembali memeluk Taeyeon lalu mencium bibirnya sekilas.

“Ayo bantu aku membuat topping.”,ujar Sehun.

“Ne.”,Taeyeon mengangguk antusias sembari menatap Sehun berbinar. Ciuman yang sekilas tadi seolah me recharge energi gadis itu.

Sehun kembali sibuk dengan kue buatannya. Tangannya menata rapih whipe cream di atas kuenya. Seluruh konsetrasinya erpusat pada kue yang ia buat. Sementara itu Taeyeon memotong-motong beberapa buah cherry yang akan digunakan sebagai topping. Sesaat dapur itu sepi.

“Oppa, kau tak ingin bertanya pertemuanku dengan pengacara ayahku hari ini?”,Taeyeon angkat bicara. Tangnnya masih belum melepaskan buah-buah cherry merah.

“Ahya.. bagaimana pertemuanmu?”,ucap Sehun seraya terus merapihkan whipe creamnya.

“Cukup baik. Dia orang yang baik dan ramah. Semua berjalan lancar.”

“Ah.. Syukurllah kalau begitu. Apa dia tampan? Apa dia lebih tampan dariku? Ha?”,Sehun terkekeh pelan dan Taeyeon tersenyum lebar.

“Yaaa.. cukup tampan. Dia terlihat sepeeti member idol group. Cantik. Oya oppa, apa kau tahu siapa namanya?”,Taeyeon meletakkan cherry ditangannya kemudian menatap Sehun berharap lelaki itu akan tertarik.

“Awas saja jika kau berani bermain hati dengannya di belakangku. Hahaha.. Siapa namanya? Kau belum memberitahuku.”

“Namanya tuan Oh. Oh Luhan.”,ucap Taeyeon.

Sehun terkejut sesaat. Ia menekan cream terlalu keras karna rasa terkejutnya. Cukup beruntung bahwa Taeyeon tak dapat membaca kecemasan Sehun.

“Apa? Luhan? Haha.. benar-benar kebetulan bukan?”,Sehun mencoba menghilangkan suara gugupnya.

“Ne! Benar-benar kebetulan. Eh, oppa, sepertinya kau menghias kue itu dengan sedikiit.. mm..”

Sehun tersadar bahwa ia sudah merusak kuenya. Ia benar-benar gugup hingga tak sadar dengan apa yang tangannya kerjakan. Ia berulang kali menelan ludahnya dan pandangan matanya berpindah-pindah arah penglihatan.

“Mm.. sepertinya kue ini sudah selesai..”,ucap Sehun.

“Ne oppaa.. tinggal letakkan cherry di sini. Di sini.. dan.. strawberry di sini. Aaah! Cantik sekali.. Jjang!

Sehun menatap Taeyeon yang begitu bahagia menghias kuenya. Tangan Sehun menyentuh tangan Taeyeon lembut. Ia tersenyum sembari menatap gadis itu begitu dalam. Bibirnya seolah ingin mengatakan sesuatu namun tertahan di lidahnya yang begitu kelu.

“Aku akan slalu di samping oppa..”,ujar Taeyeon seolah memahami apa isi pikiran Sehun.

Sehun mengangguk senang kemudian lagi-lagi memeluk tubuh kecil Taeyeon. ia memeluk tubuh itu begitu erat seolah tak rea bila dipisahkan sehari saja.

‘Apakah ini karma? Aku mencintai orang yang suatu hari nanti mungkin akan benar-benar membenciku..’,ucap sehun pelan dalam hatinya.

#L’s

“Agasshi, maaf saya terlambat!”,seseorang dengan langkah tergopoh-gopoh menghampiri Taeyeon yang masih sibuk meneguk kopinya sembari mengamati aktivitas orang-orang di sekelilingnya.

Dengan senyum lembutnya Taeyeon menjawab tenang,”Tak apa Tuan Oh. Kau hanya terlambat lima menit dari janji. Lagipula aku sangan senang duduk di halte ini. Menghabiskan waktu dengan memandangi apa yang orang lain lakukan.”

“Ah I see..”,Luhan mengangguk tanda mengerti. Kemudian pandangan matanya tertuju pada sesuatu di tangan Taeyeon. ia mengamati benda itu hingga Taeyeon sadar Luhan tengah melihat keramiknya.

“Ini keramik yang bagus bukan?”,tanya Taeyeon menyadarkan Luhan.

“Ah i..iya. bisa ku pinjam itu agasshi?”,ucap Luhan ragu.

Taeyeon mengangguk senang kemudian menyerahkan lempengan keramiknya pada Luhan.

“Ini…”,Luhan menggumam pelan kemudian menepis pikirannya.

‘Tidak Luhan.. Tidak.. dia sudah meninggal karna penyakitnya. Gadis itu bukan Kim Taeyeon.’, ucap Luhan dalam hati.

“Keramik ini benar-benar berarti bagiku.”,Taeyeon menatap dalam keramik itu.

“Sepertinya keramik seperti ini banyak di produksi sekarang. Saat aku kecil aku pernah membuat yang seperti ini bersama kakekku di China. Sepasang. Persis dengan gambar teratai seperti ini.”,ucap Luhan sembari mengembalikan keramik itu pada Taeyeon.

Taeyeon mengerutkan keningnya. Meskipun ia tak suka dengan ucapan itu, hatinya justru merasakan sesuatu yang aneh dengan nada ucapannya. Taeyeon menelan air ludahnya sesaat.

“Kau orang China? Mengapa margamu Oh?”,tanya Taeyeon.

“Namaku Luhan. Itu nama China agasshi. Soal margaku.. Em, itu karna ibuku menikah dengan seorang keturunan Korea bermarga Oh. Saat aku kecil, margaku Xi. Jadi, nama kecilku Xi Luhan.”,jawab Luhan panjang lebar yang membuat Taeyeon membelalakkan matanya.

Otak Taeyeon yang di atas rata-rata seolah menangkap sesuatu yang benar-benar buruk. Ia berusaha tidak menduga-duga tapi pikirannya terlalu cepat berfikir sebelum ia larang. Perasaan Taeyeon berubah tak menetu.

“Dulu keramik yang seperti ini pernah kuberikan pada seorang gadis kecil. Aku berharap bisa bertemu dengannya. Tapi sepertinya mustahil.”,lanjut Luhan.

“Ken..napa? ken..apa tak mungkin?”,bibir Taeyeon bergetar tipis.

“Karna aku tak pernah tahu namanya. Dan kupikir ia sudah meninggal.”

“Apa.. dia sakit? Sakit parah? Dia ada di rumah sakit?”

“Ya.. begitulah. Aku bahkan bertemu dengannya di rumah sakit. Haha.. tapi yasudahlah, agasshi, bukankah kita bertemu untuk membahas sesuatu yang lain? Yang lebih penting.”,Luhan tersenyum kecut seolah benar-benar tak ingin membahas lagi kenangan itu.

“Kenapa??!! Kenapa kau berfikir dia sudah meninggal? Kau bahkan tak pernah mencarinya!!”,Taeyeon berbicara setengah berteriak kepada Luhan. Matanya seolah memancarkan rona  marah sekaligus bimbang.

“A..ada apa a..aga..shi? Kenapa kau mem..benta..ku?”,tanya Luhan tak mengerti.

“K..kau!! Kau… hhh..”,Taeyeon mulai menurunkan nada bicaranya kemudian menghembuskan nafasnya resah.

“Maafkan aku. Aku hanya terbawa suasana ceritamu.”,Lanjut Taeyeon.

Luhan memandang Taeyeon dalam kemudian mengangguk tanda mengerti. Ia berusaha tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Taeyeon. Ia tak ingin mengerti.

#L’s

Taeyeon termenung di balkon rumahnya. Pandangan matanya menerawang jauh namun kosong. Pikirannya melayang-layang kembali pada kejadian tadi siang. Angin malam bahkan tak bisa membuatnya lupa akan hangatnya sinar tadi siang.

“Xi Luhan? Jika dia Xi Luhan, lalu siapa lelaki itu? Jika lelaki itu bukan Xi Luhan, mengapa dia bisa memiliki keramik itu? Mengapa dia bisa mengetahui kisah itu?”,gumam Taeyeon begitu pelan.

Di kejauhan, nun di sana di taman belakang rumah Taeyeon, Sehun sibuk memikirkan bagaimana caranya agar selamanya ia tetap bersama Taeyeon. Ia benar-benar sudah tercandu oleh Taeyeon. Ia seolah lupa siapa dirinya yang sebenarnya dan apa yang dulu membuatnya ingin mendekati Taeyeon. Tentu saja, Sehun dulu hanya ingin mempermainkan Taeyeon layaknya gadis-gadis yang pernah ia mainkan. Namun siapa sangka Sehun justru jatuh cinta oleh kepolosan dan ketulusan Taeyeon begitu cepat.

“AAAhhh!!!”,Sehun menggeram keras sembari memukul kursi tempatnya duduk.

Sehun berjalan tergesa meninggalkan taman. Kakinya melangkah penuh hentakan menyusuri taman itu.

Shit!”,maki Sehun manakala ia tergelincir ke dalam genangan air yang terbentuk oleh keran air yang lupa dimatikan.

Sehun berdiri dari posisi terjerembabnya. Ia membersihkan bajunya yang kini penuh dengan tanah basah. Mulutnya tak berhenti memaki dan memaki.setelah ia rasa cukup bersih, ia memalingkan wajahnya ke depan untuk kembali meninggalkan taman. Namun Taeyeon sudah berdiri di sana. Memandangnya dengan tatapan heran.

“Ada apa oppa?”,tanya Taeyeon.

“Oppa tergelincir chagiya.”

“Ah, I see. Lepaskan bajumu oppa. Biar kubawa itu ke ruang cuci.”

Sehun mengangguk kemudian melepaskan kaos putih ketatnya. Taeyeon memandang lekat tubuh Sehun. Matanya menangkap ada yang hilang di tubuh Sehun. Sesuatu yang seharusnya ada karena ia pernah melihat tanda itu semasa ia mengenal Luhan saat kecil.

“Di mana bekas jahitan itu?”,tanya Taeyeon tanpa ragu.

“Jahitan.. Apa?”

“Jahitan di dada oppa. Sesuatu yang membuat oppa begitu malu saat kecil. Bekas operasi itu di mana?”,Taeyeon memandang Sehun curiga.

Sehun berfikir sejenak kemudian memulai aktingnya,”Ah, itu! Oppa sudah melakukan operasi plastik. Kau tahu bukan, oppa benar-benar malu..”

Taeyeon menggigit bibir atasnya.

“B..benarkah?”,Taeyeon mencoba menghilangkan rasa ragunya.

“Tentu saja.. apa kau tak percaya pada oppa?”,Sehun tersenyum hangat mencoba meyakinkan.

“Aku percaya pada oppa..”,jawab Taeyeon kemudian membalas senyuman itu.

“Baiklah kalau begitu oppa akan mandi. Kau sebaiknya cepat tidur karna ini sudah terlalu malam.”

“Nde..”

Sehun melangkah pergi sementara Taeyeon memandang tubuh itu berjalan menjauh. Seiring dengan semakin jauhnya rasa percaya Taeyeon pada Sehun.

#L’s

TBC~

Maap ya lama banget lanjutannya.. mana pendek lagi.. hehehe.. banyak tugas soalnya.. –v maafkan saya..

Terimakasih buat yang udah baca dan sempetin comment. Buat yang udah follow twitterku juga makasih pus welcome.. J

Terimakasih lagi buat yang setia baca J

One thought on “[Freelance] The End of Fairytale (Chapter 2)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s