[Freelance] Painful Memories

(new) painful memosies

[Oneshot] Painful Memories
by: Soshikkum
Romance, sad, drama for PG 16
with:
SNSD Hyoyeon – EXO Sehun

∞∞∞∞∞∞
Note for readers: Enjoy reading this fanfict, and leave some words in comment box ^^
Recommend: Ailee – Tears stole the heart
∞∞∞∞∞∞

Sehun tengah memandang kosong botol-botol soju yang ada di atas meja dihadapannya. Walaupun sudah meminum banyak soju, tetap saja tak bisa membuatnya menghilangkan rasa bersalah dan penyesalannya.

“Oh Sehun kau bodoh. Kau adalah laki-laki terbodoh yang pernah ada.” rutuknya pada diri sendiri. Ia menatap tiap inchi apartemennya. Tiap sudut tempat ini memiliki kenangan yang indah, kenangan indah Sehun bersama seorang wanita yang sangat ia cintai, Kim Hyoyeon.

painful memories®

Bau harum menyeruak memanjakan indra penciuman Sehun dan membuat perut namja itu mengeluarkan suara-suara aneh. Ia berjalan menuju dapur dimana Hyoyeon sedang memasak makanan yang menimbulkan harum itu.

“Apa masih lama?” tanyanya dengan manja sambil memeluk Hyoyeon dari belakang lalu meletakkan dagunya pada bahu Hyoyeon dan membuat yeoja itu tertawa kecil. “Hentikan Sehun, kau membuatku geli.” Ucapnya sambil berusaha melepaskan pelukan itu.

Selain karena Sehun lebih kuat, namja itu juga keras kepala hingga makin sulit bagi Hyoyeon untuk melepasnya. “Tidak mau.” Jawab Sehun tanpa melepaskan sedikitpun pelukannya dari Hyoyeon.

painful memories®

Sehun hanya tersenyum pahit mengingat semua itu. Masih terekam jelas di otaknya bagaimana ia bermanja-manja dengan Hyoyeon. Bahkan masih pula jelas teringat saat ia tak mau makan jika Hyoyeon tak menyuapinya.

Kali ini matanya menatap televisi serta seperangkat game elektronik yang tak jauh dari sofa yang ia duduki. Senyum miris tergambar jelas diwajahnya yang juga terlihat menyedihkan itu.

painful memories®

“Kau akan kalah lagi! Hahaha! Aku memang tak pernah terkalahan!” Seru Sehun. Malam itu, ia dan Hyoyeon tengah bermain game bersama. “Oh tidak secepat itu, tunggu pembalasanku Oh Sehun.” Suasana semakin riuh hanya karena permainan mereka berdua.

 

“Aish!” gerutu Hyoyeon. “Sudah kubilang kau akan kalah, hahaha.” Sehun dan Hyoyeon duduk bersandar di sofa karena terlalu lelah bermain. “Kau harus mendapat hukuman.” Dengan cepat Hyoyeon menghadapkan diri kearah Sehun. “Mwo?! Tadi kau tak bilang seperti itu! Tak adil, kau curang!” Protes Hyoyeon tak terima, lalu membuang muka menolak menatap Sehun yang sedang terkekeh kecil. “Hey santai saja, lagipula itukan tadi, sekarang aku berubah pikiran.” Jawabnya dengan senyum jahil.

 

“Baiklah, apa hukumannya?” Hyoyeon hanya bisa pasrah dengan apa yang nanti terjadi. “Tapi kau harus terima apapun itu, ok?” pertanyaan itu hanya dibalas anggukan lemah dari Hyoyeon. Sejenak Sehun berfikir, lalu ia menyentuh bibir Hyoyeon dengan telunjuknya. Mengetahui apa yang Sehun pikirkan, Hyoyeon membulatkan matanya. “Shireo! Aku tak mau.” Tolaknya lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Tapi tadi kau sudah setuju untuk menerima apapun.” Ucap Sehun dengan penekanan di kata ‘apapun’.

Hyoyeon mengembuskan nafas beratnya. “Gurae, terserah kau saja.” jawabnya malas. Senyum sumringah mengembang di bibir Sehun. Tak lama, bibir keduanya sudah bersentuhan.

painful memories®

Untuk kesekian kalinya ia menenggak soju yang masih tersisa di genggamannya. “Aku merindukanmu Hyo. Kembalilah.” Suaranya sudah tak dapat terdengar dengan jelas karena kesadarannya menurun yang disebabkan terlalu banyak meminum soju. Lama kelamaan Sehun terlelap di sofa dengan kondisi yang sangat kacau.

.

Sinar matahari yang menembus melalui jendela apartemennya memaksa Sehun untuk terbangun. Matanya berkali-kali mengerjap untuk menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk melalui indra pengelihatannya.

Ia berusaha bangkit dari tidurnya, namun kepalanya terasa sangat berat, dan badanya tersa sakit, mungkin karena ia tertidur di sofa. Perlahan nyawanya sudah terkumpul membuatnya menyadari ada yang berbeda. Sebuah kain kecil yang terasa dingin berada di keningnya, kepalanya berada diatas sebuah bantal lembut, dan tubuhnya tertutupi selimut tebal.

 

“Kau sudah bangun?” suara itu, suara yang sangat ia rindukan. Sehun mengalihkan pandangannya kearah dimana suara itu berasal. Tak salah lagi, itu suara Hyoyeon, gadis yang selama ini ia harapkan kehadirannya.

Sehun berusaha bangkit dari tidurnya, sampai dimana Hyoyeon menahannya. “Kondisimu belum membaik, tak usah dipaksakan.” Ucapnya sambil merebahkan tubuh Sehun perlahan.

“Aku akan membuatkanmu sarapan.” Hyoyeon melempar senyumnya pada Sehun. senyum yang selama 3 bulan ia nantikan. Senyum yang selama 3 bulan ini ia rindukan. Walaupun itu hanya sebuah senyum kecil dan Sehun tau, dibalik senyum itu masih ada rasa sakit yang mendalam.

painful memories®

Kepingan-kepingan salju beriringan turun dari langit malam menyentuh permukaan kota Seoul. Lampu indah menghiasi tiap sudut kota, membuat ibukota negeri gingseng ini begitu hidup.

Mobil sedan berwarna kelabu itu membelah jalanan Seoul yang tak pernah sepi walaupun udara diluar sangat dingin. Suasana di dalam mobil itu begitu senyap, tak ada suara satupun yang tedengar.

Sehun menatap kearah depan dengan serius tanpa membuka suara sedikitpun. Begitupula dengan Hyoyeon. Yeoja itu tak berbicara sepatah katapun. Ia tau, bahkan sangat tau bahwa saat ini namja yang berada disampingnya sedang menyimpan emosi yang begitu memuncak. Tapi iapun tak menampik bahwa dirinya juga sudah tersulut emosi, namun ia masih berusaha meredamnya.

 

Ya, pertengkaran hebat tengah terjadi dalam hubungan sepasang kekasih ini. “Masih tak ingin mengakuinya Kim Hyoyeon?” pertanyaan dari Sehun yang terdengar dingin menusuk membuka percakapan tertunda diantara mereka. “Mengakui apa? Mengakui bahwa aku kencan dengan laki-laki lain? Untuk apa aku mengakuinya kalau memang pada kenyataannya hal itu tak benar?” jawabnya tak kalah dingin. Sehun membuang nafasnya kasar.

 

“Aku melihatnya sendiri, jadi kau tak perlu mengelak.” Hyoyeon membuang pandang kearah jalanan yang ditepiannya menumpuk salju putih. “Apa yang kau lihat? Kau melihat aku berpegangan tangan? Berpelukan? Berciuman dengan Luhan? Apa kau lihat itu? Tsk, bahkan 4 tahun persahabatan kami, ia hanya sekali memelukku, itupun sebelum aku menjadi kekasihmu. Aku tak pernah melakukan skinship dengannya selain itu.”

Sehun menepikan mobilnya. Dengan tangan yang masih menggenggam stir ia kembali membuka mulutnya. “Kau pergi berudua dengannya, bersama disebuah taman.” Sungguh hal itu merupakan alasan terkonyol yang Hyoyeon pernah dengar.

 

“Oh Sehun, dengar. Luhan adalah sahabatku dan kau tau itu…” kata-kata Hyoyeon terpotong karena Sehun merengkuh pundaknya untuk membuat Hyoyeon menghadap kerahnya. “Kau akan terlihat seperti wanita murahan jika kau jalan dengan lelaki lain padahal kau sudah memiliki kekasih Kim Hyoyeon.” Nada bicara Sehun mulai meninggi.

Mendengar kata-kata itu membuat Hyoyeon semakin tersulut emosi. Tangannya menampar pipi Sehun keras. Matanya mulai tergenang dengan air mata sedih bercampur kecewa. “Jaga ucapanmu! Apa aku harus mengulang kata-kataku? Kami hanya jalan berdua, menghabiskan waktu bersama sebagai sahabat. Lalu apa itu akan membuat orang berfikir bahwa aku wanita murahan hah?!” Hyoyeon berusaha mengatur deru nafasnya.

 

Sehun memegang pipinya yang mulai memerah karena bekas tamparan Hyoyeon. “Baiklah, lebih baik sudahi saja hubungan ini. Aku terlalu lelah.” Kembali Hyoyeon menatap Sehun. pandangan tak percaya terpampang jelas dari matanya. Perlahan tetes demi tetes air mata mengalir dipipinya. “Kau lelah? Jika kau lelah bagaimana denganku? Apa kau pikir selalu dicurigai bukan sesuatu yang melelahkan?” tanyanya lirih.

Keduanya terdiam sesaat. “Jika memang hanya perpisahan yang membuat segalanya membaik, baiklah.” Hyoyeon mengambil tasnya, dan menghapus air matanya. Semuanya berakhir, itulah yang ada di benak yeoja itu. Ia membuka pintu mobil Sehun dan beranjak turun. “Terimakasih untuk selama ini, kuharap kau dapat menemukan gadis yang mampu menegerti dirimu dan membuatmu selalu tersenyum. Anyeong.” Ucapnya sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan Sehun sendiri.

painful memories®

Tak terasa setetes air mata penyesalan mengalir membasahi pipi tirus milik Sehun. “Makanlah, kau pasti semalam belum makan.” Kata-kata Hyoyeon terdengar hangat namun tak sehangat dulu. ‘Hyoyeon sering mengatakan ini dulu, namun mengapa sekarang terasa sangat berbeda’. Dengan cepat Sehun menghapus jejak air mata itu dengan punggung tangannya kemudian ia menatap nampan berisi makanan yang Hyoyeon buatkan untuknya.

 

“Semalam Baekhyun menghubungiku. Dia bilang kau sakit, jadi aku kesini untuk melihat keadaanmu.” Sehun mengganti arah tatapannya untuk melihat Hyoyeon yang duduk di sofa yang tak berada jauh dari tempatnya. “Kupikir tak akan separah ini. Ternyata kau mabuk berat semalam. Maaf jika aku berbuat lancang, tapi tak perlu khawatir setelah kau selesai makan, aku akan segera pulang.”

Lagi dan lagi, tak ada sedikitpun kata-kata yang Sehun ucapkan. Kepalanya terus menerus berfikir dan mencerna tiap kata yang Hyoyeon ucapkan.

Hyoyeon menatap Sehun sebentar. “Kenapa? Makanlah, aku tau kau lapar. Lagipula kau harus segera membaik agar besok bisa kembali bekerja.” ‘Bahkan setelah kejadian itu, ia masih memperhatikanku? Maafkan aku Hyo.’

Sehun tak kunjung menyentuh apapun atau berbicara sedikitpun dan itu membuat Hyoyeon sedikit gelisah. “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya sambil meletakkan tangannya di dahi Sehun untuk mengecek cepat suhu badan namja itu.

 

Tangan kanan Sehun kini menggenggam tangan Hyoyeon yang masih menempel di dahinya dan itu membuat Hyoyeon sedikit canggung. Cepat-cepat ia melepaskan tautannya dengan Sehun, tapi namja itu lebih cepat. Belum lama tangan mereka terlepas, Sehun sudah menggenggam lagi tangan Hyoyeon, lalu menatap iris matanya lekat.

“A-aku, sepertinya aku harus kembali, aku takut ibuku khawatir.” Kembali Hyoyeon menghentakkan tangannya dan membuat pegangan Sehun lepas. Ia membereskan tas serta mantelnya dan bersiap pulang.

Langkahnya terhenti seketika saat tangan hangat milik Sehun melingkar dipinggangnya. “A-apa yang kau lakukan?” Hyoyeon berusaha melepas pelukan itu dengan sedikit canggung dan takut. “Jangan dilepaskan, biarkan seperti ini.” Ucap Sehun makin mengeratkan pelukannya.

 

“Mianhe, mianhe Hyoyeon.” Suara Sehun terdengar seperti bisikan di telinga Hyoyeon. Dalam hati yang terdalam, ia sangat merindukan suara itu, ia merindukan sosok Sehun. “Hyoyeon-ah, mianhe. Kumohon jangan pergi, tetaplah disini. Aku berjanji tak akan membuatmu menangis lagi. Kumohon kembalilah, aku menyesal. Aku sungguh membutuhkanmu Hyo.” Kalimat itu benar-benar membuat hati Hyoyeon tergores. Sejujurnya ia juga mengharapkan hal yang sama, tapi ia terlalu takut.

 

Waktu terasa berjalan sangat lambat bagi Hyoyeon. Jauh di dalam hatinya ia memang ingin Sehun kembali kedalam kehidupannya. Memberikan warna dan kehangatan yang selama ini hilang begitu saja. Hyoyeon ingin kembali merasakan rasa aman yang selama ini dirasakannya. Yeoja itu membutuhkannya, sama seperti Sehun yang juga membutuhkan Hyoyeon. Tapi rasa sakit yang masih membekas serta takut yang tak memiliki alasan jelas itu membuatnya harus berfikir berulang kali.

Air mata dengan mudahnya menyeruak dari mata indah Hyoyeon. Ia takut, ia sakit, tapi ia membutuhkan Sehun. Membutuhkannya seperti oksigen. Membutuhkannya seperi cahaya matahari. Namja itu tak pernah hilang dari letak istimewa dihatinya.

Akhirnya dengan sedikit usaha yang keras, pelukan Sehun bisa terlepas darinya. Hyoyeon menghadapkan dirinya kearah Sehun. ditatapnya wajah Sehun yang sangat dirindukannya. Mata coklat indah yang membuatnya nyaman begitu terlihat menyedihkan. Hyoyeon menggelengkan kepalanya. “Anio. Ini tak bisa terjadi Sehun. Maafkan aku.”

 

Lagi-lagi langkahnya terhenti karena Sehun menahannya. “Jaebal, berikan aku kesempatan, dan aku berjanji tak akan membuatmu pergi jauh lagi.” Hyoyeon menggeleng. Tangan Sehun mendorong Hyoyeon kearahnya, lalu mencium bibir merah muda yeoja itu. tak ada nafsu disana, hanya sekedar mengalirkan rasa rindu yang begitu mendalam.

Tubuh Hyoyeon masih dalam rerngkuhan Sehun. Ia berusa mendorong Sehun, tapi namja itu tidak dengan mudahnya melepaskan yeoja yang selama ini menghilang dan meninggalkan sebuah luka dalam.

“Kumohon. Tetap lah disini Hyo, aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu.” Ucapnya setelah melepas ciuman itu. Hyoyeon hanya menatap Sehun nanar. “Jangan membuatku semakin sulit Sehun. Berhentilah memohon.” Matanya memerah menahan tangis.

Telapak tangan Hyoyeon yang terasa hangat mendarat di kedua pipi Sehun lembut. “Kau bukan Sehun yang kukenal, jadi kembali lah seperti dulu. Aku yakin kau akan menemukan wanita yang jauh lebih baik daripada wanita yang sekarang berdiri dihadapanmu.” Ia tersenyum sesaat ditengah rasa sesak yang melandanya. “Jaga kesehatanmu. Sampai jumpa.” Ucapnya lalu pergi meninggalkan Sehun yang sangat rapuh seorang diri.

 

Kini yang Sehun bisa lakukan hanyalah menangis dan merutuki kebodohan yang telah dibuatnya. Membiarkan seorang yang sangat ia butuhkan dan sangat ia cintai pergi merupakan sebuah keputusan terbodoh yang pernah ia lakukan.

Namun, tanpa sepengatahuan Sehun, kini dibalik pintu apartemennya, Hyoyeon tengah menangis. Gadis itu menumpahkan air mata yang selama ini tertahan. “Nado saranghae Oh Sehun.”

THE END

∞∞∞∞∞∞
Waa~ I’m back with another Hyoyeon’s fanfiction.
Dari beberapa minggu yang lalu udh nulis banyak FF dengan cast Hyoyeon tapi sama sekali belum menemukan titik terang untuk mengakhirinya, dan tanpa sengaja dapet pencerahan jam 3 malem lalu lahirlah FF dadakan ini hehehe. Jadi maaf banget banget kalo hasilnya (sangat) tidak memuaskan ya readers😦
Tinggalin jejak kalian di komen box ya ^^
Thanks for reading my lovely readers❤

One thought on “[Freelance] Painful Memories

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s