[Freelance] Talking to The Moon

talking to the moon

Title: Talking to The Moon

Writing by Monstaxr (@lyaulaul / @byundbee)

Cast:

Byun Baekhyun – Kim Taeyeon

Other Cast:

Find it by your self!

Oneshot 3K+ Words | Teen | Sad – Romantic – Angst

Disclaimer:

I don’t own the cast. But the storyline and the plot is mine. Everything here belongs to God and their family, their agency too. I just used their physical representation.

Copyrighted ©monstaxr 2014 All Right Reserved

Bulan, katakan padanya

Sedang apa ia saat ini?

Bulan, katakan padanya

Selamat malam

Bulan, katakan padanya

Aku rindu

Persetan dengan bulan malam ini yang ditutupi awan hujan, Taeyeon masih termenung di depan kaca jendela kamarnya. Hujan lebat malam ini telah mengguyur sebagian wilayah di Korea Selatan, termasuk Seoul kediaman Taeyeon berada. Ditemani secangkir kopi dan beberapa kertas tugas yang belum diselesaikannya. Kopi hangat itu diminumnya perlahan untuk berjaga jika kedua mata gadis itu mengajaknya pergi ke dunia mimpi. Taeyeon tidak bergeming, dirinya masih terpaku pada rintik-rintik hujan yang jatuh. Kali ini rintik hujan itu tidak jatuh dari langit. Namun, dari sepasang mata indah seorang gadis bermarga Kim. Cairan bening itu terus meluncur hingga membasahi pipi si gadis.

-oOo-

Seorang gadis lugu baru saja memasuki pekarangan SMA idamannya dengan perasaan bahagia yang meluap-luap. Name tag kuning bertuliskan nama ‘Kim Taeyeon’ melekat pada seragamnya. Ini merupakan tahun pertamanya di SMA. Gadis itu mengedarkan penglihatannya ke sekeliling kawasan sekolah. Ia mencari kelas yang tahun ini akan ditempatinya. Akan menghabiskan waktu jika ia mencari kelas itu satu persatu, jadi ia memilih untuk bertanya pada seseorang. Di sisi lain, mungkin seseorang itu bisa menjadi teman barunya. Ia kembali mengedarkan pandangannya. Seorang pria tengah memeriksa papan besar dengan belasan kertas yang bergantungan. Kelihatannya pria itu juga salah satu dari ratusan orang yang berhasil masuk ke SMA yang sama dengan Taeyeon. Taeyeon menghampirinya.

“H-hai” sapa Taeyeon agak gemetar.

Pria itu mencari sumber suara. Ia menemukan sesosok manusia yang tadi memanggilnya. Sembari pria itu berbalik badan, Taeyeon berhasil melihat name tag pria itu, ‘Byun Baekhyun’. Kulit putih nan mulus bak porselen, pria bermarga Byun itu terlihat sangat tampan. Setidaknya tampan menurut tipe seorang Kim Taeyeon.

“Oh, murid baru juga?” balas pria itu lembut.

“Kau juga? Namaku Kim Taeyeon, salam kenal” ucap Taeyeon memperkenalkan diri.

“Byun Baekhyun, senang bertemu denganmu” sahut pria itu seraya mempertunjukan sebuah garis lengkung pada bibirnya yang membentuk senyuman.

Baekhyun menempati kelas 10-A. Ia sudah menemukan kelasnya, bagaimana dengan Taeyeon? Baekhyun menyuruhnya untuk pergi ke ruang tata usaha dan bertanya pada guru piket disana. Taeyeon yang ‘benar-benar’ baru saja memasuki kawasan SMA itu, tidak mengetahui berbagai ruang disana. Baekhyun mengantarnya ke ruang tata usaha. Harus sedikit cepat sebelum akhirnya bel berbunyi.

“Aku ingin mencari kelas” ucap Baekhyun mendahului.

“Siapa namamu?” tanya guru yang ada di ruang tata usaha dengan nada mengintrogasi.

“A-ah, bukan aku. Aku Byun Baekhyun di kelas 10-A. Gadis ini belum menemukan kelasnya” balas Baekhyun pada guru yang kelihatannya adalah salah satu guru killer.

“Siapa namamu?” tanya guru itu sekali lagi, namun kali ini ia bertanya pada Taeyeon.

“Kim Taeyeon dari SMP–“ belum sempurna kalimat Taeyeon selesai, guru itu sudah memotongnya, “Kim Taeyeon. 10-A. Kalian teman sekelas, nak”

Baekhyun dan Taeyeon adalah teman sekelas. Hari-hari mereka jalani. Berawal dari sebuah kata ‘Hai’, satu persatu murid pada kelas 10-A menjadi semakin akrab seperti manusia-manusia normal lainnya. Senang dan sedih ada pada perasaan setiap murid. Belasan dari puluhan murid di kelas sudah mempunyai tambatan hatinya masing-masing, begitu pun Taeyeon. Mungkin beberapa dari mereka sudah mempunyai status tetap berpacaran, mantan, dan istilah-istilah percintaan lainnya. Taeyeon hanya menganggap seseorang yang mengisi hatinya adalah panutan, harapan dan idolanya, walaupun hati kecilnya masih menunggu kehadiran seseorang itu untuk merubah statusnya menjadi jalinan cinta. Ia terus menahannya. Seperti pada dongeng-dongeng anak kecil kebanyakan, seorang putri hanya dapat menunggu pangerannya datang. Pangeran itu, Byun Baekhyun.

Sejak ia bertemu dengan pria manis itu, Taeyeon mempunyai sebuah kebiasaan aneh. Ia selalu datang ke balcon di dekat kamarnya atau terkadang duduk di taman belakang rumahnya. Bulan, bukan hanya sebuah benda angkasa baginya. Bulan adalah sebuah alat komunikasi. Bulan adalah teman terbaik.

Taeyeon sangat menjunjung tinggi derajat seorang wanita. Taeyeon tak pernah berani menghubungi Baekhyun. Ia takut Baekhyun menganggapnya sangat murahan dengan mengirim pesan singkat atau menghubunginya untuk mengajak berbincang. Menurutnya, itu sangatlah kampungan. Taeyeon selalu mencurahkan isi hati tentang pria idamannya pada sosok benda angkasa yang terlihat di malam hari. Bulan, hampir semua manusia pernah melihatnya. Ia berharap Baekhyun juga melihatnya pada setiap malam. Ia berharap bulan akan mengantarkan pesannya pada Baekhyun. Walaupun banyak halangan yang terjadi di angkasa sana, seperti dihadang awan hujan, hanya bintang yang terlihat, ataupun gerhana. Taeyeon masih akan tetap ada di luar rumah saat malam tiba. Bahkan Ibunya pernah menemukan tubuh Taeyeon yang terbaring pingsan dengan tubuh dingin di bangku taman saat malam hari ditengah hujan lebat.

Memasuki tahun kedua di SMA terbaik di Seoul. Merupakan kebanggaan telah berada 2 tahun disana, hanya menunggu setahun lagi untuk dapat melanjutkan jenjang ke Universitas ternama. Kali kedua Baekhyun dan Taeyeon adalah teman sekelas. Candaan yang tak pernah hilang sejak pertama mereka bertemu selalu melekat pada bibir masing-masing.

“Kita sekelas lagi? Wah, bosan sekali melihat wajahmu ya kkk” ucap Baekhyun yang memasuki ruangan yang sama bersamaan dengan Taeyeon.

“Aku akan mengutuk kepala sekolah!” sahut Taeyeon.

Dari candaan berbasa-basi hingga candaan paling konyol seperti,

“Pagi Baekhyun! Apa kau sudah membaca koran pagi ini?” sapa Taeyeon di hari berikutnya.

“Belum, kau seperti tahu saja apa yang koran bicarakan” balas Baekhyun dan beberapa orang teman lainnya ikut tertawa karena lawakan mereka.

Taeyeon menaruh tasnya diatas meja. Kemudian, ia mengambil satu kursi disebelah Baekhyun lalu memulai panggung komedinya bersama Baekhyun. Teman-temannya hanya dapat tertawa melihat tingkah mereka berdua.

“Seorang pria batal membeli handphone Samsung Galaxy S4 karena tidak mempunyai keyboard. Aku khawatir jika pria itu adalah kau”

“Bodoh, Samsung Galaxy S4 itu layar sentuh! Mana ada keyboardnya?!”

Atau dengan candaan yang lebih kreatif,

“Kecil, darimana asalnya imajinasi?” tanya Baekhyun pada Taeyeon.

“Aku tidak kecil! Mungkin hanya kurang tinggi. Hm” Taeyeon terdiam untuk memikirkan jawaban dari teka-teki yang Baekhyun berikan.

“Sudah kecil, bodoh pula. Imajinasi berasal dari imajipadi kemudian imajiberas lalu ibumu memasaknya menjadi imajinasi

“Mana ada yang seperti itu, huh?!”

Baekhyun dan Taeyeon memiliki bakat dalam bidang musik. Mereka pandai bernyanyi dan memainkan berbagai alat musik, dari gitar akustik hingga harpa yang jarang sekali orang memainkannya. Mereka sering diundang sebagai penghibur di acara-acara resmi sekolah.

Hari itu datang, seorang imigran asal China masuk ke keluarga 11-A tempat Baekhyun dan Taeyeon berada. Name tag kuning bertuliskan, Wu Yi Fan itu merubah segalanya. Malam setelah kedatangan pria imigran itu adalah malam berbahagia bagi SMA yang mereka tempati. Merupakan perayaan ke puluhan tahun sekolah berdiri. Sekolah mengadakan pesta yang menganjurkan muridnya berdandan layaknya sebuah pesta berlangsung dengan dress juga jas hitam. Taeyeon sangat mengharapkan Baekhyun mengajaknya untuk ikut berpesta dan menjadi pasangan dansanya, namun Baekhyun tak pernah datang. Ia malah lebih rajin melihat pandangan murid baru yang selalu tertuju padanya.

Taeyeon masih duduk di depan meja riasnya. Ia menatap lebih dalam wajahnya yang dilapisi make up karya ibunya. Ia tampak sangat berbeda dari hari-hari biasanya. Lebih cantik dan manis dengan berbagai aksesoris kecil yang melingkar di tangan, leher, dan telingannya. Ibu telah memanggil Taeyeon beberapa kali untuk segera berangkat, namun Taeyeon masih ragu untuk keluar dari kamarnya. Ibu berkata seorang teman Taeyeon menjemputnya. Aneh, Taeyeon rasa ia tak punya janji dengan siapapun. Akhirnya ia turun dari kamar dan menghampiri ibunya di ambang pintu. Kemudian ia terkejut untuk beberapa saat.

Thank you, mrs. I’ll take care your daughter

Pestanya tiba, semua murid dan guru berdandan sangat cantik dan tampan. Turun dengan elegant dari kendaraan mewahnya masing-masing. Taeyeon juga, ia turun dari mobil mewah milik seseorang yang awalnya berhasil membuat dirinya terkejut. Semua pandangan tertuju pada mereka berdua.

“Kau berlagak sok english ya” ucap Taeyeon.

Pfft, aku lulusan sekolah dasar ternama di Australia! Kau tak tahu itu kan? Hahaha” Baekhyun membalas.

Baekhyun menjemput Taeyeon. Sungguh, Taeyeon benar-benar mengira bahwa dirinya sedang berada dalam mimpi indah. Baekhyun dan Taeyeon tampil maksimal dengan wajah mereka yang mendukung, semua perhatian tersita pada penampilan mereka. Pesta pun dimulai. Setelah beberapa pidato dari orang-orang yang bersangkutan, waktunya menikmati musik. Taeyeon sangat berharap Baekhyun akan mengajaknya berdansa dan membuat beberapa ‘kejutan’ lainnya. Namun itu akan selalu menjadi harapan. Ia tak dapat melihat atau menemukan Baekhyun dimana-mana. Hanya pasangan-pasangan yang tengah berdansa. Ruangan penuh dengan manusia. Menyerah, ia keluar dari gedung tempat acara berlangsung. Ia melingkari kedua jari telunjuknya lalu melihat ke kanan dan kiri seperti anak kecil yang kehilangan jejak ibunya.

Lagu kedua untuk calonku nanti hahaha

Si kecil, Kim Taeyeon

Dia cantik, manis, pintar, segalanya bagiku

Dari pertama kali kami bertemu setahun lalu,

Saat ia menanyakan dimana kelasnya,

Dan guru tata usaha bilang bahwa kelas kami sama

Aku sudah tahu jika ialah jodohku nanti hahaha

Hari-hari kemarin kami berbagi canda dan tawa

Hari ini aku mengantarnya ke acara ini

Lagu ini menggambarkan suatu kebiasaanku

Aku akan mengatakan padanya bahwa,

Betapa lemahnya aku tanpamu.

Lagu dari Bruno Mars, Talking to The Moon.

 

I know you’re somewhere out there,

Somewhere far away

I want you back

I want you back

 

My neighbors think I’m crazy,

But they don’t understand

You’re all I had

You’re all I had

 

At night when the stars light up my room,

I sit by myself,

 

Talking to the moon

Tryin’ to get to you

In hopes you’re on the other side

Talking to me too

Or am I a fool?

Who sits alone

 

Do you ever hear me calling?

‘Cause every night, I’m talkin’ to the moon

Still tryin’ to get to you

 

Taeyeon duduk di bangku dekat pohon. Suasana lebih hening di luar, tak segemuruh di dalam dengan berbagai nada dan tertawaan. Taeyeon terlihat bagai peri bulan yang merindukan tempat asalnya. Ia marah. Ia tidak dapat melampiaskan amarahnya dengan pukulan atau tendangan, namun dengan tangisan. Ia menatap kembali bulan.

Bulan, katakan padaku

Dimana Baekhyun?

Bulan, katakan padanya

Apa ia mencintaiku?

Bulan, dengarkan aku

Bahagia sekali saat Baekhyun datang ke rumah dan menjemputku. Namun kali ini aku mengharapkan lebih dari itu. Aku ingin ia menjadi kekasihku, menjadi milikku. Kapan? Aku tidak mungkin menunggu terlalu lama.

Hi, Taeyeon-ssi. Wassup? What are you doing here?” seseorang menyapa Taeyeon dari belakang. Awalnya Taeyeon kira suara itu milik Baekhyun yang tadi sempat menggunakan lagak english nya, nyatanya bukan.

Hi, Yi Fan. I don’t know. I just–

Well, kau pasti ingin menghirup udara segar kan? Di dalam sangat riuh, sebaiknya kau tidak masuk gedung dulu”

Yeah, you’re right

Gedung tempat acara berlangsung riuh dengan cemoohan bahwa Baekhyun ditolak gadisnya. Taeyeon adalah gadis yang diincar pandangan Baekhyun, namun tak berhasil ditemukan. Ia memutuskan untuk turun dari panggung, mencari sosok gadis itu.

“Boleh aku duduk di sebelahmu?” tanyanya pada Taeyeon.

Of course” balas Taeyeon singkat.

Keheningan panjang menghantam mereka. Taeyeon yang masih tetap dengan wajah mendongak keatas memerhatikan bulan, dan Yi fan yang hanya diam memainkan jari-jarinya. Keheningan berakhir saat tak sengaja Yi fan melihat air mata yang turun dari mata kecil Taeyeon.

“Kau menangis?” tanyanya.

Taeyeon tidak bergeming. Ia masih sibuk dengan aktifitasnya. Kelamaan tangisannya makin dalam membuat Yi fan tampak panik. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.

“Kau tahu? Wanita adalah manusia terjelek saat menangis” ucap Yi fan seraya mengeluarkan sapu tangannya dan menyeka air mata Taeyeon yang terus turun.

“Bercerminlah, riasanmu berantakan. Tidak seperti hari-hari biasanya Taeyeon yang tampak manis, lucu, imut, menggemaskan, dan periang. Kali pertama aku melihatmu seperti ini” lanjutnya lagi.

Taeyeon terkejut atas perlakuan Yi fan padanya. Ia berhenti menangis sebelum sapu tangan milik Yi fan basah kuyup akibat air mata seorang gadis.

“Kau lah gadis pertama yang aku perhatikan saat aku hijrah kemari” tambahnya.

“Kau tahu jika aku sering memerhatikanmu, right?” tambahnya lagi seakan kalimat-kalimat sebelumnya belum cukup.

“Aku belum banyak bicara denganmu. Aku tak tahu apa penyebabmu menangis. Aku tak tahu terlalu banyak tentang dirimu, tapi hatiku berkata lain. Aku ingin tahu segalanya tentang dirimu. Aku ingin membuatmu bahagia dan tidak bersedih kembali. Hatiku perih melihat air matamu jatuh. Murahan? Ya, sebut saja aku pria murahan. Baru mengenal beberapa jam yang lalu dan kali ini aku ingin menyatakan perasaanku padamu. I want you, girl. So, would you be mine?

Seseorang memerhatikan mereka dari beberapa menit yang lalu. Hatinya terasa pecah. Pecah dan remuk hingga berkeping-keping.

-oOo-

Entah beberapa hari setelah pesta anniversary sekolah, Taeyeon merasakan sesuatu yang janggal pada seorang pria. Taeyeon merasa pria itu menjauh. Dan usaha Taeyeon sejak setahun yang lalu, hancur. Pria itu menjadi pendiam dan nyaris tak pernah menyapanya walaupun sepatah kata ‘Hai’ yang keluar. Status Taeyeon berubah menjadi Yi fan’s mine. Taeyeon tidak mengindahkan 2 kata itu, ia masih menginginkan pria bermarga Byun datang padanya. Ia tidak sama sekali menyukai atau pun mencintai Yi fan, itu semua terasa seperti keterpaksaan daripada ketertarikan.

Tak ada canda dan tawa yang biasanya selalu menyelimuti atap kelas 11-A. Taeyeon merasa sebagian dari dirinya hilang. Apalagi setelah mendengar kabar tentang Baekhyun yang baru saja dekat dengan seorang gadis. Hatinya yang telah dimiliki Yi fan nyaris sebagian besar hancur berkeping-keping.

Bulan, apakah kau tahu?

Aku tidak mencintai Yi fan

Bulan, aku terlalu bodoh

Malam itu, baru pertama kali seorang pria menyatakan perasaannya padaku. Jelas, aku terkejut. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Karena itu, aku menerimanya.

Bulan, aku menyesalinya

Bulan, percayalah

Di hatiku, masih ada rasa untuk mencintai Baekhyun.

Memasuki tahun terakhir, tak terasa hanya menunggu beberapa bulan lagi untuk menjalani ujian kelulusan. Taeyeon tidak terlalu peduli dengan ujian itu, nilai kesehariannya selalu A+. Selalu meraih peringkat 5 besar di kelasnya. Selalu bertanding dalam bidang akademik atau pun non-akademik dengan pria bermarga Byun. Sejak air matanya sering terkuras karena pria imigran yang tidak ia cintai, ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan pria itu saat menjelang pembagian rapot kelas 11-A. Ia kembali mencoba menyapa Baekhyun. Ia mencoba untuk kembali padanya. Ia mencoba untuk kembali lebih dekat dengannya. Ia mencoba kembali untuk menjadi milik Baekhyun. Ia terus berusaha. Untungnya tuhan selalu mempertemukan mereka dalam kelas yang sama, sehingga akan terlihat lebih mudah jika dilakukan.

Kabar mengejutkan terjadi, seseorang mengatakan Baekhyun tengah menjalin kasih dengan seorang gadis yang bermarga Jung. Bukan main Taeyeon terkejut. Ruang oksigennya terasa sangat sempit dan membuatnya untuk sulit bernafas. Detang jantungnya berdegup kencang layaknya pelari maraton setelah berlari beberapa meter di depannya. Pasang matanya telah menampung tetesan air yang siap meluncur ke pipi bawahnya.

“T-tidak mungkin” ucapnya gemetar.

Baekhyun kembali dekat dengan Taeyeon. Kali ini tampak terlalu tragis, Baekhyun selalu bercerita tentang kekasihnya pada Taeyeon. Walaupun saat Taeyeon sedang menangis karenanya, ia tak terlalu peduli.

“Hey bodoh kenapa kau menangis? Jelek sekali” ejek Baekhyun.

Taeyeon tidak bergeming dari posisi pertamanya, dengan wajah yang tertutup kedua lengan mungilnya.

“Setidaknya kau masih lebih jelek dariku, buat apa kau duduk disampingku?” sahut Taeyeon masih dengan posisinya membuat beberapa kata tak terdengar jelas di telinga lawan bicaranya.

“Kau tahu? Eunji itu sangat manis, pintar, dan cantik. Ia juga pintar menyanyi” ucap Baekhyun.

Taeyeon hanya diam dan melanjutkan tangisannya. Ia tidak mau menanggapi.

Matanya sembab, nyaris setiap harinya ia terus menangis. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya seorang gadis Kim Taeyeon yang periang. Ibunya juga ikut khawatir dengan keadaan putrinya yang makin hari makin aneh. Beberapa hari tanpa makan, ditambah lagi dengan beberapa mili liter tetesan air mata yang terus keluar, juga sering keluar dari kamarnya saat malam tiba membuat kondisi Taeyeon semakin memburuk. Seminggu terserang penyakit typus. Taeyeon sangat senang saat tahu bahwa ia tidak akan bertemu dengan Byun Baekhyun selama seminggu. Ia tidak perlu repot-repot kembali menangis. Namun, semua percuma saja. Kenangan masa lampau lah yang kembali membuatnya menangis.

Sialan, air mata” gumamnya merasakan tetesan air yang baru saja jatuh pada kedua pipi gadis itu.

Kalian pasti tahu tentang pelajaran ilmu pengetahuan sosial yang telah guru ajar saat kita masih di sekolah dasar. Mereka bilang, “Jika teman kita sakit, kita harus memjenguknya”. Menurut Taeyeon apalah ucapan guru itu, ia lebih membenci temannya menjenguk.

“Apa kabarmu? Eunji dan aku baru saja merangkai beberapa tangkai bunga untukmu. Kami harap kau lekas sembuh” ucap Baekhyun mewakili kekasih dan beberapa murid kelas 12-A yang ikut menjenguk di belakangnya.

“Kalian terlihat cocok sekali, semoga hubungan kalian longlast ya! T-terimakasih juga untuk tangkai bunga dari kalian. Aku harap tuhan mendengar permintaan kalian untukku” sahut Taeyeon sambil menahan sebuah tangisan.

“Tidak usah terharu melihat kami datang kemari” timpalnya lagi.

Taeyeon tersenyum. Senyuman getir. Bukan terharu.

You’re right, Byun-ssi. Thanks a lot

Beberapa bulan dilewati, Taeyeon tak pernah mendengar lagi desas-desus Baekhyun tentang kekasihnya. Taeyeon sangat berharap jika mereka telah memustuskan hubungan. Taeyeon sangat terkejut saat Baekhyun datang ke mejanya lalu berbisik, “Pulang sekolah nanti, kutunggu kau di gerbang

Baekhyun mengajak Taeyeon untuk berjalan-jalan. Mereka pergi ke tengah kota, mencari tempat makan yang sangat terkenal di kawasannya, mencari beberapa barang antik untuk dibeli, dan melakukan beberapa hal lainnya layaknya sepasang kekasih yang sedang berkencan. Mereka berhenti di sebuah toko aksesoris.

“Kau menyukai kalung seperti apa?” tanya Baekhyun.

Taeyeon terkejut. Ia memilah-milih kalung yang tersedia di toko aksesoris itu. Pandangannya tertuju pada sebuah kalung yang berbentuk bulan sabit. Kecil, namun berkilau. Ia menunjukannya pada Baekhyun.

“Pertama aku melihatnya, dan aku tertarik” sahut Taeyeon.

Sama seperti saat pertama kali kita bertemu.

“Cantik, aku akan memberinya pada Eunji untuk hadiah ke-3 bulan kami. Terimakasih telah menemaniku mencarikan hadiah yang cocok” balas Baekhyun.

Taeyeon terdiam. Ini kesekian kalinya ia tersenyum walaupun hatinya remuk.

“Tentu, senang dapat membantumu” ucapnya.

Mereka melanjutkan perjalanan setelah membeli secone ice cream. Mereka berhenti di pinggir jalan layang. Melihat matahari tenggelam yang diapit oleh beberapa gedung-gedung tinggi menjulang. Taeyeon bertopang pada sebuah besi yang ada, ia memendam sebagian wajahnya diantara kedua lengannya. Baekhyun berdiri disampingnya juga ikut menaruh kedua lengannya diatas besi.

Waktu, bersamamu, terasa lebih singkat.

“Indah, bukan?” ucap Baekhyun mengawali pembicaraan.

Taeyeon kembali terdiam. Kali ini Baekhyun tahu apa yang sedang Taeyeon lakukan, menangis. Baekhyun tahu, saat Taeyeon menangis sebenarnya ialah yang salah. Ia lah yang menyakiti hati gadis itu. Padahal Baekhyun tak ada sedikit pun niatan ingin menyakiti gadis yang sangat ia sayangi dan cintai. Mereka terdiam dalam lingkup waktu yang cukup lama sampai jam tangan menunjukkan pukul 18:30 KST dan mereka pulang kembali ke rumah kediaman masing-masing.

-oOo-

Tahun terakhir dilewati dengan baik. Taeyeon meraih nilai terbaik se-SMAnya. Ia juga dapat jalur undangan menuju universitas-universitas ternama di Korea maupun luar negeri. Semua diraihnya dengan baik, hanya satu yang belum ia dapatkan. Seorang pria bernama, Byun Baekhyun.

Menyakitkan mengetahui kenyataan telah lama kita menunggu seseorang, dan orang yang kita tunggu belum tentu mencari kita.

Bulan, kemana cahayamu?

Tak ada teman disini, hanya aku

Bulan, kenapa malam ini hujan?

Apa karena kau juga sedang bersedih?

Bulan, sampaikan padanya

Aku masih mencintainya

Sampai kapan pun.

Air mata menghujani kedua pipi Taeyeon. Keheningan malam sangat mendukung suasana hati gadis ini. Suaranya gemetar akibat tangisan-tangisan yang keluar dari bibir pinknya. Kedua lengannya masih menopang kepalanya. Wajah dan rambutnya kusut. Ibunya mengerti apa yang anaknya sedang alami, dan menurutnya ia tak boleh ikut campur. Ia hanya berharap putrinya akan segera pulih.

Malam semakin larut, ia masih menunggu kehadiran bulan yang sedari tadi tertutup kegelapan awan hujan. Tak ada suara sama sekali hingga sesuatu mengagetkannya. Terdengar dari lantai bawah, gadis itu menghampirinya. Jika itu adalah seorang pencuri, ia berharap pencuri itu akan langsung membunuhnya.

Ia berdiri di ambang pintu, mengambil sebuah payung untuk melindunginya dari tetesan hujan. Ia segera membuka pintu.

GREP

Ia tertegun. Kaget sekaligus tak percaya. Payungnya jatuh entah kemana di atas tanah.

“K-kau? Untuk apa kau k-kesini? Pakaianmu basah semua”

“Maafkan aku atas semua kesalahan yang telah membuat hatimu sakit. Aku hanya ingin memberitahumu satu hal. Aku, aku sangat mencintaimu. Dan tak ada yang lain selain dirimu”

END

 

 

A/N:

Woohoo! Sebelumnya makasih banyak yang pernah baca fanfict pertamaku yang berjudul “Take me somewhere far away”. Big thanks for you guys! Ini fanfict kedua aku, maaf kalau memang masih ancur. Bcs aku hanya seorang gadis kelas 9 yang bentar lagi mau jadi seorang siswi SMA. AMIN. Kosakataku masih sedikit fufufu~ Fanfict ini dibuat setelah aku nangis denger lagu Bruno Mars judulnya Talking to The Moon malem-malem-_-. Adegan di jalan layang itu aku ambil dari anime kesukaan aku dulu Kami Chama Karin yang lagi bareng sama Kazune. Aku harap fanfict kali ini lebih baik dari sebelumnya. Aku harap kalian juga ngerti ya alur ceritanya LOL. Makasih sebesar-besarnya buat bestie ku NATASYA PUSPA HERBIAN/NATASYA PH AKA JUNXE yang sering berbagi suka duka love story nya sama mantan tersayang dia glgzw. MAKASIH SEBANYAK BANYAKNYA BUAT KALIAN YANG TERNYATA MAU BACA FANFICT INI! IH AKU SENENG BANGET MAKASIH LOH SERIUS! Kalian bisa mengunjungi wp pribadiku di monstaxr.wordpress.com DONT FORGET TO LIKE AND COMMENT, THANKS!!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s