[Special Taeyeon’s Birthday] I See the Light

poster-tantriprtstht-iseethelight

Title

I See the Light

Author

Tantriprtstht

Length

Oneshot

Genre

Dream, Alternative Universe, Sad Romance, Fluff

 

Rating

PG-13

 

Main cast

Taeyeon (SNSD)

 

Desclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator! No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik saya melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m just newbie.

 

Poster by

Yoora Art Design

 

TAEYEON POV

 

All those days watching from the windows. All those years outside looking in. All that time never even knowing, just how blind I’ve been?

Apa kabar? Jimat keberuntunganku. Hari yang kita berdua tunggu telah tiba, maaf membuatmu cukup lama menunggu. Sejak hari itu, aku sudah belajar sekeras mungkin yang kubisa. Sampai terkadang aku diejek anti social oleh kedua temanku.

Jimat keberuntunganku, apa kau rindu padaku? Aku sudah berusaha menahan rasa rinduku padamu dengan bekerja keras. Tapi bagian dari rasa rindu itu selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Sekecil apapun, seringan apapun.

Apa kau tahu, mulai musim semi nanti aku akan tinggal sendirian. Di tempat yang jauh dari keluargaku, dari dirimu juga. Kau tahu kan aku tidak jago memasak….. Apa kau sudah menyiapkan berbagai menu yang bisa kumasak di rumah baruku nanti? Cukup tulisan juga tidak apa, aku akan senang hati menerimanya.

Aku sudah tiba di lokasi, lho. Syukurlah tidak terlambat. Kau ingat warna favoritku? Ya, ungu. Aku menyiapkan alat-alat tulisku serba ungu hari ini. Yah, kecuali penghapus berwarna ungu karena itu dilarang untuk digunakan. Bukan dilarang, tapi dianjurkan tidak memakainya. Apakah bisa bersih? Tak seorangpun tahu.

Rasanya aku memang hampir terlambat. Karena saat aku memasuki ruanganku, semuanya sudah duduk di tempatnya masing-masing.

“Tes masuk akan dimulai 10 menit lagi.”

Aku duduk di sebelah anak laki-laki yang memakai kacamata. Apakah sampai sekarang kau masih memakai kacamata jika membaca atau pergi jalan-jalan? Aku hanya menggunakan kacamata saat belajar. Tapi hari ini aku mungkin akan dibantu oleh cahaya matahari yang memasuki ruangan lewat jendela. Aku bisa melihat lebih jelas.

“Siapkan alat-alat tulis di meja, atur jarak dengan peserta di sebelah kalian.”

Sebelah kiriku jendela yang menghalangiku dengan langit. Langit luas yang di bawahnya terdapat dirimu. Aku sudah menyiapkan segalanya, mental terutama. Kartu ujian juga tidak lupa aku bawa.

Di papan tulis sudah tertulis bagaimana cara mengisi formulir tes masuk. Ya, itulah salah satu manfaat memiliki kartu ujian. Aku bisa tetap mengingat namaku sendiri. Selama 1 tahun belakangan ini yang kulakukan hanya belajar.

‘TES MASUK UNIVERSITAS JURUSAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN ILMU KEGURUAN’

Lembar soal dan lembar jawaban mulai dibagikan. Anak laki-laki di sebelah kanan menyerahkan keduanya untukku. Dugaanku benar, dia cukup gugup. Tangannya gemetar saat menyerahkannya padaku. Mungkin bukan hanya dia, mungkin juga peserta lain, mungkin juga pengawasnya dan aku sudah pasti. Tidak perlu cemas. Kau akan menungguku, kan? Pasti.

“Pertanyaan nomor satu : ceritakan mengapa kau memilih jurusan ini”

*****************

And at last I see the light and it’s like the fog has lifted, it’s like the sky is new.

1 TAHUN YANG LALU………..

“Ba, bagaimana cara kalian menentukan tujuan hidup?”

Aku tahu pertanyaanku ini aneh sampai-sampai kedua sahabatku yang sedang asyik menyantap muffin mereka menatapku kaget.

“Kenapa formal begitu, Taeyeon?”

Kenapa? Lebih tepatnya mengapa. Yah, sejak formulir penentuan tujuan hidup yang dibagikan sekolah, kami yang masih duduk di kelas 2 SMA harus mulai memikirkan bagaimana caranya terjun di dunia masyarakat dengan santai. “Habis, kalian berdua menyilaukanku……”

“Bicara apa kamu?” Tanya Tiffany lalu berdehem. “Kalau aku sih, tidak perlu berpikir susah-susah. Sejak kecil aku suka dunia modeling, kupikir itulah hal yang bisa kulakukan. Bagiku, yang terbaik itu kalau bisa melakukan hal yang kusukai. Makanya kupilih jurusan modeling dan acting.”

“Bagus, tuh!”

“Fanny memang hebat. Kau akhir-akhir ini sering muncul di majalah…. Aku bahkan suka semua rekomendasi baju yang kau berikan padaku.” Pujiku tanpa malu-malu.

“Hehe, terima kasih. Kalau hal itu bisa membuat orang lain senang, aku jadi ingin berusaha lebih keras lagi!”

“Hebat! Kalau Seohyun, kenapa ingin masuk fakultas hukum?” tanyaku pada temanku yang satu lagi. Jujur saja, pilihannya cukup mengejutkan kalau mengetahui fakta bahwa dia anak yang benar-benar kalem.

“Aku? Hm…. Awalnya, waktu SD, aku tertarik pada sebuah drama tentang pengacara.” Jelasnya tetap kalem. “Kebetulan, pamanku seorang jaksa. Saat mendengarkan ceritanya, kupikir belajar hukum itu menarik.”

Penjelasan Seohyun membuatku bingung apakah aku harus memilih antara hobiku atau hal apa yang belum aku ketahui dan saking menariknya aku ingin mempelajarinya.

“Sudahlah Taeyeon,” ucap Seohyun setelah melihat ekspresiku. “Sekarang ini cukup menemukan hal yan ingin kita lakukan, kan.”

Begitukah? Begitu ya. Aku telah menjadikan dia alasan. Aku harus memikirkan baik-baik masa depanku. Dulu aku pernah bilang ingin cepat-cepat lulus agar bisa kembali ke sisinya. Itu memang benar, tapi yang pertama-tama harus kupikirkan adalah aku ingin menjadi sosok seperti apa saat berdiri di sisinya.

Berbagai pertanyaan terlintas di benakku hingga aku melangkahkan kakiku pulang ke rumah. Cukup terburu-buru karena aku pikir mungkin aku bisa berpikir dengan tenang jika aku berpikir di kasur empukku. Aku ingin melakukan apa? Ingin menjadi orang dewasa yang seperti apa? Aku senang melukis, apa aku harus masuk sekolah pelukis? Atau aku harus mencari referensi dulu? Sekarang aku harus mencari jawabannya.

“Ada nggak?”

Suara anak laki-laki. Aku melihat seorang anak laki-laki dan perempuan, sepertinya usia mereka sebaya. Mereka anak SD sekitar sini. Tapi apa yang dilakukan mereka, yang laki-laki seperti mengamati bawah tanah melalui penutup saluran air sedangkan yang perempuan menunggu di sampingnya.

“Gelap, nggak kelihatan!” seru yang laki-laki. “Tapi kayaknya nggak ada, deh!”

“Iya…..”

Entah kenapa aku benar-benar penasaran. Aku mendekati mereka berdua yang masih di tempat dan tanpa mengucapkan salam pada mereka, aku langsung bertanya, “Ada yang jatuh ya?”

“Uwaaa!” teriak yang laki-laki. Melihat wajahnya, aku jadi teringat seseorang. “Ah, ceweknya kakakku!”

Aku berusaha mengingat-ingat apa yang pernah kulakukan dulu. Mungkin dia adik dari salah satu teman laki-lakiku, yang salah mengira aku pacar kakaknya. “Ng aku bukan pacarnya, cuma teman.”

“Eeeeh? Nggak asyik ah!”

“Kamu sedang cari apa?” tanyaku tanpa menghiraukan komentarnya.

“Aku sedang mencari gantungan kunci Jiyeon!” jawabnya sambil memperkenalkan teman perempuannya.

“Apa jatuh ke dalam saluran air?”

“Nggak juga, sih! Kami nggak tahu jatuh di mana! Benda itu selalu tergantung di tasnya, tapi kemarin hilang di jalan pas pulang ke rumah! Iya kan, Jiyeon?” anak perempuan yang pemalu itu tidak menjawab. “Apa boleh buat, deh jadi kubantu cari! Soalnya dia ini menolak waktu mau kuganti dengan gantungan kunci punyaku!”

“Mi, Minho salah paham…..” ujar Jiyeon pelan setelah Minho menjelaskannya panjang lebar. “Aku cuma mau….. gantungan itu….”

“Benda itu sangat berharga bagimu, ya?” tanyaku dan aku juga tak mendapat jawaban. Tapi aku mendapat anggukan kecil yang cukup untuk membarakan semangatku. “Oke. Kalau begitu kita pakai taktik campur tangan.”

“Taktik apaan tuh?” Tanya Minho dengan mulut lebarnya yang menunjukkan giginya yang habis dicabut.

“Mencari dengan bantuan banyak orang, Minho. Dan Jiyeon ya?” tanyaku lalu tersenyum dan menundukkan badan sedikit. “Aku Kim Taeyeon. Aku boleh ikut mencarinya, kan?”

Apakah begitu sulit seorang anak kecil untuk berkata ‘ya’? Pasti ada alasannya. Karena itu kali ini aku juga hanya dibalas dengan anggukan. Itu cukup untuk sebuah jawaban sekarang. “Kalau gitu, pertama-tama coba ingat-ingat kapan gantungan itu masih ada. Kamu bilang hilang di jalan pas pulang sekolah kemarin, kan?”

Lagi-lagi Jiyeon hanya mengangguk. “Tapi waktu keluar dari sekolah masih ada, kok! Aku masih lihat waktu bawain ranselnya Jiyeon….”

“Kenapa Minho bawain ranselnya?”

“Karena kalah suit. Yang kalah harus bawain ransel temannya. Kakak nggak tahu mainan itu?” tanyanya balik kepadaku. Dasar mainan anak muda zaman sekarang, dulu aku dan dia tidak pernah bermain permainan konyol seperti itu. “Tapi langsung kukasih ke dia, kok. Terus, setelah itu Jiyeon?”

“Nggak tahu. Pas sampai di rumah, sudah hilang.” Jawab Jiyeon pelan dan untung aku masih bisa mendengarnya.

“Kalau gitu, kita telusuri jalan pulang yang dilalui kemarin, sambil bertanya ke anak-anak yang biasa pulang lewat sana apakah ada yang melihat gantungan itu atau tidak.” Jelasku panjang lebar tapi Minho masih kebingungan. “Kalau lihat gantungan kunci yang jatuh, apa yang akan Minho lakukan?”

“Aku pungut, dong!”

“Ya, benar. Mungkin ada orang yang memungutnya.” Jawabku. Sudah aku duga bahwa kebiasaan seorang cowok jika menemukan sesuatu yang menarik di jalan pasti akan langsung memungutnya. Dasar cowok.

“Anak SMA memang pintar, ya! Ayo, Jiyeon!” seru Minho masih menunjukkan giginya. “Kalau ada Taeyeon, pasti ketemu!”

Uwah. Aneh. Perasaan apa ini? Aku yang selalu merepotkan orang lain, aku yang selalu tidak mau berusaha lebih dahulu, aku yang hanya tahu bagaimana caranya bersenang-senang. Aku yang seperti ini, ternyata bisa menjadi kekuatan bagi anak-anak ini. Aku harus berusaha!

*************

All those days chasing down a daydream, all those years living in a blur, all that time never truly seeing things, the way they were.

                Ini langkah terjauh yang pernah aku tempuh. Syukurlah aku masih ingat jalan ke sini. Tapi apakah gantungan kunci milik seorang gadis kecil bisa jatuh di dekat hutan? Awalnya aku tidak percaya, tapi memang jalan ini yang kemarin dilaluinya.

Matahari hampir terbenam. Kami sudah bertanya pada semua anak-anak yang kami temui, mencoba menelusuri tempat mereka bermain kemarin, termasuk di sungai. Aku hanya bersyukur kami ke sungai yang bersih dan jernih. Tapi usaha kami sia-sia.

“Sebelah sana?” tanyaku.

“Gak ada! Sama sekali!” seru Minho dengan suara letih. “Ah…. Lapar….. Jiyeon, pencarian hari ini dihentikan dulu, ya? Besok kutemani cari lagi.”

Ekspresi Jiyeon tiba-tiba berubah. Apakah dulu aku juga menunjukkan ekspresi seperti ini di depan Tiffany dan Seohyun? Ekspresi bahwa barang yang kucari waktu itu benar-benar berharga dan membuatku berjanji tidak akan menghilangkannya lagi. Selamanya.

“Minho, maaf. Kamu pulang duluan saja…..” ucap Jiyeon sambil berpikir, “Aku mau cari bentar lagi.”

“Eeeh kok gitu—“

“Pokoknya harus kucari!”

Aku bangkit berdiri dari sikapku yang bersiap mencari di antara semak-semak lalu meletakkan tanganku di atas kepala Jiyeon. Untuk menenangkannya. “Karena…. Itu harta Jiyeon, kan?”

“Se, sebenarnya….. gantungan kunci itu punya temanku, Bora. Bora memberikannya ke aku waktu dia pindah sekolah. Juga sambil berkata kalau aku nggak boleh lupain dia…..” jelas Jiyeon panjang lebar dengan penuh emosi. “Bora pasti akan sedih kalau tahu aku menghilangkannya….. Aku ingin menemukannya. Harus….”

“Ah, begitu ya.” Aku tersenyum kepada Jiyeon. “Baiklah aku juga ingin sebentar lagi mencarinya bersamamu.”

“Aku juga!” seru Minho tiba-tiba. “Lagipula masih satu tempat lagi, kan? Taman di dekat rumahmu! Memang sih jauh tapi kita tidak boleh menyerah!!”

Jiyeon menahan tangisnya dan mengangguk dengan dalam. Anak ini memikirkan temannya dan memiliki tekad yang sangat kuat. Siapa yang tak ingin tidak membantunya? Karena aku ingat, saat masih kecil dulu, aku merasa senang sekali saat ditanggapi dengan serius olehnya.

“Ayo kita berangkat!” seru Minho memimpin jalan.

Aku menggandeng tangan Jiyeon dan menuntunnya jalan bersama. “Aku mengerti kok perasaan Jiyeon. Aku juga pernah mengalami hal yang mirip denganmu.”

“Benarkah?” tanyanya dan aku mengangguk.

“Bagaimana kalau aku cerita sambil kita ke taman?” tanyaku balik lalu Jiyeon dan Minho mengangguk bersamaan. “Sebenarnya ini tidak baik sih untuk diceritakan pada anak-anak seperti kalian…. Karena ini menyangkut orang yang sangat kusuka…..”

Mereka berdua diam dan menungguku untuk melanjutkan. “Jadi, saat kecil aku tidak tinggal di sini. Aku tinggal di Jeonju. Dan aku memiliki teman masa kecil yang sangat baik. Dia sebaya denganku dan aku benar-benar menyukainya.”

Aku berusaha mengingat-ingat rupanya. “Dia lebih tinggi dariku, rambutnya rapi kadang dia memakai kacamata. Dia baik, lucu dan membuatku selalu ingin bersamanya. Keinginan itu makin besar seiring aku bertambah besar dan saat aku SMP aku menyatakan perasaan padanya.”

“Apa diterima?”

“Tentu saja!” ucapku bangga pada Minho.

“Kau bukan cowok kakakku ya?” Tanya Minho dan aku hampir lupa kalau Minho masih menganggapku seperti itu.

“Bukan,” jawabku lalu bersiap melanjutkan cerita. “Tapi saat pertengahan SMA kelas 1, ayahku dimutasi dan terpaksa kerja di Busan. Akhirnya aku dan sekeluarga pindah. Dia memberiku sepaket alat-alat melukis yang sampai sekarang tak pernah kugunakan sih. Karena saat sekali aku menggunakannya, aku kehilangannya seperti Jiyeon.”

“Yah, panjang ceritanya. Saat liburan aku pergi ke taman dengan air mancur dan aku mencoba melukisnya. Aku tidak sendirian karena ditemani 2 temanku. Saat aku sedang melukis, salah satu temanku memintaku menemaninya membeli es krim karena temanku yang satu lagi sedang di toilet. Aku meninggalkan alat-alat melukisku di sana. Saat aku kembali, alat-alat lukisku sudah berantakan karena anak kecil….”

“Seperti kami?” Tanya Jiyeon.

“Bukan! Usianya sekitar 2 atau 3 tahun. Kalian kan sudah besar, sudah sekolah lagi!” jawabku sedikit gugup. “Saat mengumpulkannya, yang kurang hanyalah sebuah kuas. Aku sangat sedih. Padahal aku berjanji aku akan melukis dan mengirimkan lukisanku padanya. Aku mencarinya dibantu kedua temanku dan teman-temanku sampai menyerah mencarinya. Hingga akhirnya aku mencarinya sendirian.”

“Lalu?”

“Sampai sekarang kuas itu tidak pernah ditemukan. Sampai sekarang aku takut menghubunginya, lho! Padahal sudah hampir setahun kami tak pernah bertemu.” Jelasku panjang lebar.

“Semoga kuas itu segera ketemu ya, kak!” ucap Jiyeon lalu aku mengangguk. Tak terasa kami sudah sampai di taman.

Aku, Minho, dan Jiyeon segera mencari di taman yang cukup kecil ini dengan membagi tempat mencari. Aku mencoba mendekati ayunan tapi tidak ada. Tapi aku menemukan sebuah gantungan beruang di belakang semak-semak ayunan. Mungkin kah ini?

“Hei! Minho! Jiyeon! Apa ini?” tanyaku sambil memanggil mereka. “Ini bukan?”

Mata Jiyeon kaget sekaligus berbinar-binar melihat apa yang ada di tanganku. Sepertinya aku benar! “Ini kak!”

“Syukurlaaah! Mungkin terjatuh saat kamu bermain ayunan!” ucapku sambil tersenyum.

“Lain kali dijaga baik-baik, Jiyeon!”

“Iya!” kali ini Jiyeon seakan-akan sangat mudah untuk menjawab ‘ya’. Sepertinya misiku berhasil. Dan tanpa kusadari hari sudah gelap. Tunggu! Aku sih baik-baik saja tapi bagaimana dengan kedua anak ini?

“KALIAN BERDUA HARUS SEGERA PULANG!” teriakku di taman yang sepi ini. “Cepat! Cepat! Kuantar, deh! Aku tahu di mana rumah Minho. Rumah Jiyeon di ma—“

“Ah….. Jiyeon!!!” suara seseorang. Dan di belakang kami hanya ada wanita muda dengan sepedanya kelihatan letih. Mungkinkah beliau ibu Jiyeon? Karena mereka berdua terlihat sangat mirip.

“Ibu….” Dugaanku benar rupanya. Gawat. Wajah ibu Jiyeon seperti bersiap-siap memarahi Jiyeon.

“Dasar! Ibu sudah bilang kan, jangan main sampai larut begini! Ayahmu juga sangat cemas dan sekarang sedang mencarimu kemana-mana tahu?!”

“Ah…. Maaf!” ucapku sambil membungkuk hingga membentuk 90 derajat. “Aku juga sudah salah karena menahan Jiyeon!”

“Eh? Kamu anak SMA, kan?”

“Iya—“

“Kalau begitu, kamu pasti tahu betapa bahayanya bagi anak-anak sekecil ini berada di luar sampai selarut ini, kan? Apa kamu tahu betapa cemasnya orang tua saat anak kecilnya tidak pulang tanpa memberi kabar?” kata-katanya benar. Akulah yang paling patut disalahkan. “Di mata anak-anak ini kamu terlihat sebagai seorang kakak yang hebat. Jadi, kuharap kamu bertindak dengan lebih bertanggung jawab lagi.”

“Ya….” Aku ingin menangis. Tapi aku tidak boleh menangis. “Maafkan aku.”

“Ayo….. kita pulang!” seru ibu Jiyeon lalu melirik ke arah Minho. “Bibi juga akan mengantar Minho.”

“Tidak perlu tante!”

“Ah, sudahlah!”serunya. Tiba-tiba Jiyeon berlari ke arahku yang masih mematung di tengah jalan.

“Ada apa?” tanyaku yang sudah tidak bisa tersenyum.

“Ah itu… Ma, maaf kakak jadi ikut dimarahi. Terus, makasih sudah bersusah payah membantuku mencarinya!” ucap Jiyeon lalu aku hanya terdiam. Akhirnya dia mengikuti ibunya dan Minho pulang.

Pada akhirnya yang telah kulakukan hari ini bukanlah hal yang salah, tapi juga bukan hal yang benar. Aku jadi teringat pada masa kecilku. Ada hal yang bisa kulakukan, ada juga hal yang tidak bisa kulakukan. Sepertinya aku sudah menemukan hal yang ingin kulakukan.

Aku ingin mengabarinya. Ya, aku ingin. Aku mengeluarkan ponselku dan mencari nama seseorang yang memberikan aku kuas, dulu. Di kontakku dan aku langsung menekan tombol telepon. Aku berharap dia tidak mengangkatnya. Tapi dia mengangkatnya.

“Halo?”

Suara yang benar-benar aku rindukan. “Hai. Maaf tiba-tiba menghubungimu.”

“Ya, tidak apa. Ada apa Taeyeon?” tanyanya lagi dengan suara yang lebih jelas.

“Begini…. Sekolahku sudah membagikan formulir pilihan masa depan.” Ucapku memulai pembicaraan. “Dan aku ingin kamu jadi orang pertama yang tahu tentang pilihanku.”

“Benarkah?” tanyanya kali ini dengan nada yang terdengar antusias. “Apa pilihanmu? Melukis?”

“Bukan. Aku akan memilih fakultas ilmu pendidikan dan ilmu keguruan.”

“Maksudmu IKIP?” Aku tidak menjawabnya. Aku ingin dia mengetahui alasanku secara langsung tanpa bertanya padaku.

“Dengar deh,” ucapku lagi mengalihkan pembicaraan. “Ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu. Dan aku sangat…. Ingin bertemu denganmu.”

“Hari Minggu nanti aku akan pergi ke Busan untuk menemuimu.”

“Benarkah?” kali ini aku yang bertanya. Dia akan mengunjungiku? Rasanya seperti mimpi.

“Ya, tunggulah aku. Hari sudah malam, cepatlah tidur, Taeyeon.”

“Baiklah, akan kutunggu. Selamat malam.” Ucapku lalu menutup telepon. Hari Minggu? Dia akan ke Busan? Menemuiku? Aku jadi tidak sabar.

Aku harus pulang dan segera mengisi formulir masa depan dan mencari tahu lebih banyak tentang tujuanku. Ilmu Pendidikan. Dan sekarang yang kupikirkan hanya dua hal itu.

***********

Now he’s here shining in the starlight. Now he’s here, suddenly I know. If he’s here it’s crystal clear, I’m where I’m meant to go.

                Aku berlari-lari melintasi stasiun tepatnya tujuanku adalah peron kedatangan. Mengapa aku bisa terlambat untuk menjemputnya? Semalam aku tidak bisa tidur. Aku senang sekaligus sedikit gugup.

“Ng… Nggak ada…..” gumamku lalu segera mengambil ponsel dari tasku. Aku harus meneleponnya. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dan secara spontan membuatku menoleh ke belakang.

“Aku di sini.” Ucapnya membuat segala rasa rinduku terbang entah ke mana. “Ternyata aku datang lebih cepat dari festival salju Busan. Hahaha.”

Hari Minggu tiba. Setelah aku memberikan kabar tentang pilihan karir di telepon, tiba-tiba saja dia berkata akan ke Busan untuk menemuiku dan sekarang dia berdiri di depanku. Apa hanya perasaanku kalau dia bertambah tinggi?

Setelah kubilang ingin masuk ke fakultas ilmu pendidikan, aku langsung tahu dia sangat gembira dari nada bicaranya. Lalu tiba-tiba saja malamnya sebelum aku tidur dia mengirim pesan padaku bahwa dia perlu ke Busan untuk menyampaikan sesuatu.

Kira-kira apa, ya? Sebenarnya aku juga masih ada satu hal yang belum kusampaikan padanya. Bagaimanapun aku tidak bisa mengatakannya di telepon.

“Pacar temanmu ada yang masuk klub baseball, ya?” tanyanya tiba-tiba saat kami melintasi lapangan baseball dalam perjalanan menuju rumahku.

“Ah, iya. Pacar Tiffany pemain baseball.” Jawabku.

“Apa dia bertanding hari ini?” tanyanya lagi. Sejak kapan dia begitu peduli dengan temanku?

“Sepertinya tidak.” Jawabku lagi.

“Kamu pernah cerita sih kalau kamu menonton pertandingan baseball pacar temanmu bersama temanmu.” Jelasnya setelah melihat ekspresi wajahku. Aku berusaha mengingat-ingat. Itu terjadi sekitar 4 bulan yang lalu.

“Kau ingat ya?” tanyaku.

“Ingat dong, aku bahkan ingat es krim rasa bulu babi yang kau makan saat ulang tahun Seohyun. Atau seminggu yang lalu kau bertengkar dengan kakakmu karena dia memakan puddingmu, kan?” jelasnya panjang lebar.

“Apa aku sering mengirim pesan tidak penting?” tanyaku sedikit gugup.

“Aku ingat semuanya, kok.” Jawabnya sambil tersenyum. “Aku senang kamu memperlihatkan sekolahmu. Aku selalu ingin tahu kamu berada di tempat seperti apa.”

Apakah ini yang ia ingin sampaikan padaku? Jika iya, dia mengatakannya dengan baik. Seolah-olah dia bersedia kapan saja jika aku mintai bantuan. Seolah-olah aku adalah barang berharga yang harus dilindungi dan diketahui keberadaannya. Aku harus memikirkan baik-baik cara menyampaikan hal yang ingin kusampaikan hari ini.

“Ayo kita cepat ke rumahmu.” Ucapnya sambil mengulurkan tangan dan aku menggenggam tangannya yang hangat.

Begitu sampai di rumah, giliranku lah yang menyampaikan apa yang ingin kusampaikan. Meski saat ini aku tidak siap untuk melihat ekspresinya, ucapan yang keluar dari mulutnya serta apa yang akan dia komentari.

“Sebenarnya aku berbohong padamu.” Katanya tiba-tiba. “Aku bohong soal kedatangan keretaku yang jam 11 siang. Sebenarnya aku sudah tiba di Busan 3 jam yang lalu.”

Aku cukup kaget mendengarnya. “Lalu kenapa kau menyuruhku datang menjemputmu di stasiun jam 11? Saat kau mengirimiku pesan, aku masih membersihkan ru—“

“Karena aku harus menyerahkan ini padamu,” ucapnya lalu mengulurkan sebuah benda yang baru saja ia keluarkan dari kantung celananya. Sebuah kuas. Bukan kuas biasa, tapi kuas yang kuhilangkan saat aku melukis di dekat air mancur.

“Bagaimana bisa….. Kuas ini ada padamu?” tanyaku sambil menerima kuas yang keadaannya masih baik itu.

“Aku punya saudara di Busan dan tadi pagi aku mengunjungi mereka untuk memberi salam. Anak 3 tahun yang tinggal di sana sepertinya suka sekali bermain dengan kuas ini. Ternyata ada namamu di sana. Lalu aku bertanya pada orang tuanya dia dapat kuas ini darimana. Dan syukurlah mereka memberi izin aku untuk mengembalikannya padamu.” Jelasnya panjang lebar. “Kenapa kau tak pernah cerita bahwa kuas ini menghilang?”

“A…. Aku takut dimarahi olehmu….” Jawabku sedikit gugup.

“Aku akan membelikannya untukmu, berapa saja.” Ucapnya setelah meniup napas panjang. “Aku akan melakukan apa saja untukmu.”

Aku terhanyut oleh kata-katanya. Lagi. Ini mungkin bukan yang ingin ia katakan tapi sungguh enak di dengar. Dan tak terasa aku yang terhanyut sudah sampai di depan rumah. Berikutnya giliranku menyampaikan keputusanku.

“Masuklah.” Ucapku sambil membuka pintu. “Kakak mengajak ayah dan ibu pergi sampai malam agar aku bisa menceritakan apa yang kuinginkan.”

Aku menyuguhkannya kopi instan dan syukurlah tidak ada tanda-tanda menolak darinya. “Maaf cuma ini.”

Aku meniup napas panjang. “Aku ingin bicara soal pilihan karirku berdua saja denganmu.”

“Kau memilih IKIP kan?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Ya. Aku sudah melihat bermacam-macam universitas dan meminta saran dari guru. Akhirnya aku menemukan universitas yang kuinginkan.” Aku menutup mataku. “Aku ingin masuk ke universitas di Seoul. Karena itu, aku nggak bisa melanjutkan sekolah di Jeonju.”

“Ini bukan karena semua perbuatanku padamu atau ada yang salah di Jeonju. Kau telah memberiku kesempatan untuk memperluas pandangan dan pilihanku dengan memberiku banyak waktu. Akan tetapi, keputusan akhirku tetap nggak berubah.” Aku mencoba menciptakan senyum yang dapat mencairkan suasana tegang ini. “Setelah lulus kuliah, aku ingin kembali ke sisimu. Itulah masa depan yang kuharapkan.”

“Kau yakin?” tanyanya dengan ekspresi kosong membuatku ingin menangis. “Setelah kita lulus SMA, dengan pilihan seperti itu, kita akan jarang bertemu selama 4 tahun. Di tempat yang baru, kamu akan melihat dan mengetahui lebih banyak hal dibanding sekarang, juga bertemu dengan banyak orang. Pandangan dan pilihanmu pun akan semakin luas. Kamu yakin ingin tetap bersamaku?”

“Aku…. Iya! Aku yakin!” ucapku lalu mengajaknya berjanji kelingking. “Tapi janji dulu, kau nggak akan selingkuh dan akan menghubungiku tiap hari. Bohong juga nggak apa. Akan kuperlihatkan aku bukan gadis seperti dulu, gadis manja yang bisa berjuang meski harus berpisah selama 4 tahun.”

“Lalu…..” aku menangis. “Katakan ‘berjuanglah’ padaku. Kau jarang mengatakan hal-hal seperti itu padaku, kan….”

Tertawa. Itu yang dapat kudengar. Bukannya membalas jari kelingkungku, dia menggenggam tanganku dengan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Taeyeon….. Selulus SMA nanti, mari kita menikah.”

BRAK!

Suara barang jatuh. Dan aku melihat ayah, ibu, dan kakak di balik tubuh orang yang sedang sangat dekat denganku, jarak kami terlalu dekat. Bibir kami terlalu dekat.

“Kalian berdua duduk!” seru ayah membuat kami langsung duduk di kursi meja makan, bersebelahan. Ayah yang terlihat tidak tenang ditemani ibu duduk di hadapan kami. “Apa maksud semua ini? Jelaskan!”

“Ayah, aku—“

“Aku minta maaf karena datang memberi salam dalam keadaan seperti ini.” Ucapannya memotongku. “Sejak musim semi tahun ini, aku berpacaran dengan Taeyeon.”

“Tapi…. Tadi rasanya aku mendengar kata yang aneh. Me….Me….” mungkin maksud ayah menikah. “Begitu. Kamu tidak berniat menikahi putriku yang masih SMA, kan? Meski kamu juga masih SMA…..!”

“Berarti sebentar lagi aku akan punya adik ipar, dong. Aku nggak keberatan, kok.” Ucap kakak yang sedang asyik menonton TV.

“Kenapa kau bisa setenang itu? Kau kan kakaknya!”

“Habis, aku sudah lama tahu hubungan mereka.” Jawab kakak membuat ayah kaget.

“Kalau ibu?! Ibu juga tahu?!” Tanya ayah semakin emosi.

“Eh. Ibu juga kaget mendengar mereka pacaran.” Jawab ibu, “Tapi perasaan Taeyeon samar-samar terlihat, sih. Kalian kan sudah akrab sejak kecil.”

“SEJAK KECIL?! Kau kecil-kecil sudah jadi penggoda!”

“Dia nggak goda aku, kok! Aku duluan yang jelas-jelas mendekatinya—“

“KAU DIDEKATI PUTRIKU?!” teriakan ayah makin kencang. “Lho?! Kenapa sekarang jadi begini?!”

“Ayah tenang dulu dong—“

“Mana mungkin aku bisa tenang!!” ayah memukul meja sekeras-kerasnya. “Tiba-tiba datang laki-laki mengaku berpacaran dengan putriku, bahkan ingin menikahinya. Sebagai seorang ayah, sudah pasti tidak bisa diterima! Putriku itu masih 17 tahun!”

Gawat. Tidak kusangka ayah akan menentang keras hubungan kami. “Aku mau cari angin. Dan kau! Kuharap kau sudah tidak ada di rumah ini saat aku kembali. Kalau melihatmu, rasanya aku ingin menghajarmu.”

Ayah bangkit dari kursi dan bersiap-siap meninggalkan kami yang berada di ruang keluarga. “Ayah….” Ucap kakak pelan. “Dulu ayah pernah bilang kan kalau salah satu dari kami mempunyai masalah, kita semua sekeluarga akan ada untuk saling mendukung. Apa kali ini pengecualian?”

Dan ayah pergi. Aku kehabisan kata-kata untuk selanjutnya. “Terima kasih, kak.” Aku mengejar ayah yang masih memakai sandalnya dan belum keluar dari rumah. “Ayah! Maaf…. Karena telah sembunyi-sembunyi dan membuat ayah kaget, tapi aku betul-betul menyukainya. Baik sekarang maupun nanti, aku selalu ingin berada di sampingnya.”

Ayah membuka pintu dan pergi. Syukurlah ayah mendengarkanku. Aku akan bicara lagi saat ayah sudah kembali. Begitu aku membalikkan badan, aku sudah melihat sosok yang baru saja kutemui ingin pergi. “Tunggu! Kau mau pulang?”

“Hei, ayahmu biasanya jalan-jalan ke mana?” tanyanya tenang.

“Mungkin di sungai dekat sini.”

“Terima kasih.” Jawabnya lalu memakai sandalnya. “Aku akan bicara dengannya. Tenang saja.”

“Maafkan ayahku ya…..”

“Kalau ayahmu marah, itu bukti kalau dia sayang padamu.” Ucapnya sambil tersenyum. “Oh ya, kamu belum jawab, lho.”

Soal itu? Ah…. Menikah. “Ah! Soal itu ya….. Terima kasih. Aku sama sekali nggak menyangka kau akan mengatakan itu. Aku senang sekali, tapi….. tapi…..”

Saat aku memikirkan yaha, tiba-tiba saja aku sudah jatuh ke pelukannya. “Tidak perlu dijawab sekarang. Boleh kamu jawab setelah lulus SMA atau setelah lulus kuliah. Jangan cemas, akan aku tunggu kok. Pasti.”

Dan kali ini dia pergi. Aku hanya berharap dia benar-benar bisa berbicara dengan ayah dan ayah tidak menghajarnya. Semoga tangan ayah tidak tega memukul wajah tampannya. Ayah sudah lama mengenalnya dan aku tahu mereka berhubungan baik. Semoga jika dia saja percaya pada jalan pikiranku, pilihan, serta kemauanku….. Ayah juga berpikir seperti itu.

Ayah…. Tolong maafkan keegoisanku yang seperti ini.

**************

Now I’m here, blinking in the starlight.  Now I’m here, suddenly I see, standing here, it’s oh so clear. I’m where I’m meant to be.

                Pintu terbuka membuatku bangkit dari renunganku di atas meja belajarku. Yang datang bukan dirinya, tapi ayah. Kepergian yang cukup lama, 1 jam. Tapi aku tidak melakukan apa-apa selain menunggu pintu itu terbuka dan yang datang adalah ayah.

“Ayah!” ucapku lalu bergerak mendekati ayah. Dan ayah berhenti melangkah saat jarak kami 2 meter.

“Kamu tidak boleh menemuinya lagi.” Aku mematung. Apa maksudnya?

“Juga jangan mengiriminya pesan, meneleponnya atau menghubunginya. Sekarang fokuskan saja pikiranmu untuk ujian. Kamu harus lulus ujian masuk universitas.” Jelasnya tanpa mengubah ekspresinya. “Kalau bisa memenuhi syarat yang ayah berikan ini, maka ayah akan mengakui perasaanmu, dan kesungguhan hati kalian berdua.”

“Kejam….” Ujar kakakku dari belakangku. “Masih ada 1 tahun lagi sebelum lulus SMA, lho.”

“Kalau segitu saja tidak bisa, berarti perasaanmu memang cuma sedangkal itu.” Jelasnya lagi. “Ayah juga mengatakan hal yang sama padanya.”

“Aku mengerti.” Ucapku dengan tekad bulat dan langsung masuk ke dalam kamarku. Yang bisa kulakukan sekarang hanya belajar. Aku tidak akan mengeluh seperti dulu. Aku akan mewujudkan masa depan yang kutulis di formulir itu. Dan membuktikan perasaanku.

And at last I see the light.
And it’s warm and real and bright.
And the world has somehow shifted.

FLASHBACK END

“Waktu tinggal 5 menit!”

Aku buru-buru membaca soal terakhir. Kuharap soalnya cukup mudah untuk aku jawab.

“Pertanyaan nomor 70 : tuliskan apa yang akan kau lakukan jika kau lulus ujian masuk.”

Cukup mudah. Dan aku bisa mengisinya tanpa berpikir. 4 jam berada di ruangan ini membuatku pusing sekaligus senang karena perjuanganku selama 1 tahun lebih akhirnya terbayar.

Aku sama sekali tidak tahu kabarnya sekarang. Dia mendaftar di universitas mana, ingin masuk fakultas apa dan apakah dia ada ujian masuk universitas seperti aku. Yang pasti dia akan tetap di Jeonju, sedangkan aku di Seoul. Aku benar-benar tersiksa.

“Halo, ibu?” ucapku begitu keluar dari ruangan.

“Bagaimana?” tanyanya di seberang telepon.

“Aku sudah selesai. Sekarang aku akan kembali ke hotel. Aku akan beli makan malam dulu.” Jelasku.

“Kau tidak ingin menemuinya?” Tanya ibu dengan nada pelan. “Ini hari spesial kan.”

“Apa boleh?”

“Ibu yakin masih ada kereta untuk pergi ke Jeonju. Pergilah. Ibu beri izin dan tak akan beritahu ayah.”

“Terima kasih.” Ucapku pelan.

Aku segera berbalik arah menuju stasiun. Aku tidak peduli seberapa laparnya nanti aku dalam perjalanan 2 jam itu. Mungkin sampai sana masih ada makanan enak yang dijual.

Beruntungnya aku langsung bisa menaiki kereta ke Jeonju 2 menit setelah aku membeli tiket. Aku langsung memasuki kereta dan memilih tempat duduk. Aku tahu ini curang, ayah bisa terkejut jika tahu aku melakukan ini.

10 hari sudah terlalu lama bagiku sekarang yang harus menunggu apakah aku diterima atau tidak. Yang kuinginkan adalah menemuinya meski cuaca hari ini tak begitu bersahabat.

Keadaan seperti ini juga tidak bersahabat, mengingat senyummu yang sudah lama tidak bisa kulihat. Bahkan aku tidak menangis saat mendengar kabar itu, betapa kejamnya aku. Yang ditekankan oleh belajar.

Jika aku tidak ke sana sekarang, menemuinya, mungkin aku tidak akan tahu keadaannya selamanya. Aku harus mengunjunginya sebelum 4 tahun yang lama akan datang menenggelamiku dengan banyak buku dan tugas. Fisikku siap tapi mentalku tidak.

Aku tertidur dalam perjalanan menuju Jeonju dan tiba saat perutku sudah keroncongan. Aku tak perlu bertanya alamatnya, diam-diam aku sudah mencatat alamatnya sejak 3 bulan yang lalu. Hanya satu jalan yang kutempuh dan sebelum ke tempat yang sepi itu, aku sudah membeli buket bunga.

Dan begitu tiba, perutku sudah berhenti mengeluh. Tempat dia berbaring, tempat dia akan tertidur selamanya. Makamnya.

“Hai……” sapaku pada angin.

Syukurlah petugas merawat tempat ini dengan  baik. Karena makam yang sebagian disumbangkan oleh keluargaku masih terlihat baik. Aku hampir tak percaya saat mendengarnya meninggal karena kecelakaan 4 bulan yang lalu.

“Mungkin jika di sini sekarang…. Aku  boleh menangis…..” gumamku lalu air mataku menetes. “Aku hari ini ada ujian masuk, aku sangat takut. Aku menggunakan fotomu di ponselku sebagai jimat keberuntunganku. Apa kau mendoakanku di atas sana? Apa kau sudah memberiku bantuan sebanyak yang kau bisa? Karena tadi aku bisa mengerjakannya dengan baik, tanpa berpikir panjang dan aku juga tidak menyia-nyiakan waktu.”

“Kau tahu, harusnya aku kembali ke Busan besok dan membantu kakakku menyiapkan pernikahannya. Aku harus naik kereta pagi tapi sekarang sudah malam dan aku berada di tempat ini…..” jelasku panjang lebar dan masih menangis. “Aku membawakan buket bunga, kupikir kau selama ini kesepian…..”

“Aku minta maaf karena aku memilih untuk kuliah di Seoul, aku tidak bisa sering-sering datang ke sini.” Ucapku lagi. “Mungkin setelah kuliah aku akan kembali ke Busan untuk membantu kedua orang tuaku…..”

“Kau tahu, aku akan menjadi guru yang hebat dan mendidik anak-anak agar menjadi sebaik kamu. Sebijaksananya kamu, se-optimisnya kamu. Menumbuhkan rasa rela berkorban sebesar milikmu dan suka kegiatan menolong sebanyak dirimu.” Bodohnya aku tidak membawa sapu tangan.

“Aku masih saja bodoh dan aku masih butuh bantuanmu ke depannya. Masih ada tahun-tahun yang panjang untukku dan aku harus segera menemukan teman.” Ucapku lagi. “Tiffany pergi ke Amerika untuk melanjutkan sekolah, sedangkan Seohyun tidak jadi kuliah di fakultas hukum tapi fakultas psikologi. Aku juga tidak mengerti alasannya. Bicara apa sih aku ini….”

Aku terus menangis dan menangis sampai-sampai air mataku jatuh di buket bunga yang kuletakkan. “Oh ya aku belum menjawab apa aku ingin menikah denganmu atau tidak. Kau bilang aku boleh menjawabnya setelah lulus SMA kan? Jawabanku iya. Tentu saja aku mau, itu sudah kuanggap bagian dari masa depan yang kuharapkan. Maafkan aku karena selalu membuatmu menunggu.”

“Dan terima kasih….. Karena telah menjadi teman terbaikku sejak aku kecil.”

Aku bangkit berdiri dan meninggalkan makamnya, samar-samar aku bisa merasakan kehadirannya. Selamat tinggal, teman baikku. Aku tidak akan pernah melupakanmu.

Aku kembali ke stasiun dan berharap masih ada kereta terakhir menuju Seoul. Dan ternyata ada. Saat aku hendak memesan tiket, aku melihat sosok laki-laki yang duduk di sebelahku saat ujian masuk tadi. Kacamatanya lebih bersih dari yang tadi. Sepertinya dia mengingatku. Bagaimana tidak selama 4 jam aku duduk di sebelahnya terus.

“Malam.” Sapanya.

“Malam juga.” Sapaku balik dan aku berharap bekas menangisku tadi tidak terlihat jelas di wajahku. “Aku juga ingin ke Seoul.”

“Apa ada urusan penting sampai-sampai kau harus ke Jeonju?” tanyanya lalu aku berusaha tersenyum.

“Hanya mengunjungi teman.” Jawabku. “Sebenarnya bukan teman biasa, dia pacarku. Tapi dia sudah meninggal.”

“Aku turut sedih.” Ucapnya lalu memesankan tiket Seoul untukku. “Ini….”

“Terima kasih.” Ucapku lalu melirik jam. “Untuk apa kau ke Jeonju?”

“Berdoa di kuil. Jeonju memiliki kuil terbaik di seluruh Korea Selatan.” Jawabnya membuatku tertarik.

“Benarkah?” tanyaku. Mungkin aku bisa berdoa untuk dia jika mampir ke Jeonju. “Bisakah kau mengajakku ke sana kapan-kapan?”

“Dengan senang hati.” Ucapnya. “Siapa namamu?”

“Kim Taeyeon. Calon mahasiswa fakultas ilmu pendidikan dan ilmu keguruan.”

Dan senyum di wajahku terbentuk kembali bersama dengan pertemuan baru ini. Aku seperti melihat cahaya.

All at once everything looks different, now that I see you.

TAEYEON POV END

I SEE THE LIGHT

SPECIAL TAEYEON’S BIRTHDAY

THE END

———————————————–

Annyeong!

Sudah dari awal author ingin membuat FF yang berkisah tentang pilihan masa depan. Author sebentar lagi UN dan author belum memilih mau masuk jurusan apa nanti SMA. Pelajaran PKn Author yang tentang potensi diri mengatakan :

“Jika ingin mencapai prestasi maksimal di bidang yang kau kuasai, maka kau harus mengetahui potensi dirimu terlebih dahulu”

Inilah yang menginspirasi cerita ini. Well, yang pasti Taeyeon gak akan pernah masuk Ilmu Pendidikan hehehe J

Oh ya di sini tidak ada cast cowok karena ini benar-benar spesial ulang tahun Taeyeon. Kalian bebas memberi pendapat siapa yang pantas untuk 2 cast cowok di sini (tulis di komentar) ada 2 ff untuk ulang tahun Taeyeon, kemarin jam 6 malam salah satunya dipost judulnya I’ll find you.

Jangan lupa tinggalkan komentar, author sangat menghargai kritik dan saran dari kalian semua. Karena nggak mudah untuk mencari waktu membuat FF di sela-sela kesibukan perisapan UN

Sekali lagi FF ini author persembahkan untuk Kid Leader Kim Taeyeon yang menjadi bias perempuan pertama author. Panjang umur and be the best generation for all the girls in the world. Love you.

Song from the Fan Fiction: OST.Disney Tangled – I See the Light.

 

28 thoughts on “[Special Taeyeon’s Birthday] I See the Light

  1. Waktu aku tau ada cast namja nya aku langsung kepikiran Chanyeol. Ga tau kenapa. Trus kalo yg pke kacamata itu Baekhyun. Aku juga g tau lngsung kepikiran Chanyeol sm Baekhyun

    • hehe terima kasih sudah kasi pendapat ya chingu~ ngomong ngomong author belum pernah buat taeyeon-chanyeol hehe jadi pingin coba

  2. Bengong aku pas lihat ada kata makam. Jreng. Namja itu. Namja yg menjadi jimat Taeyeon, aku malah terbayang Suho. Entah kenapa, haha. Lalu, namja yang duduk di samping Taeyeon, bingung deskripsikannya bagaimana. Yang cocok? Mungkin em, Baekhyun? Kekeke~
    Btw, nice thor. Pokoknya ceritanya itu alurnya ringan banget, apalagi bahasanya. Hanyut dalam cerita. Biasanya aku cepat bosan dengan cerita fluff. Tapi ini daebak banget! Keep writing thor! Hwaiting! ^^

    • bengong tapi masih baca kan chingu hehe
      syukurlah alur, feel, bahasa semuanya nyantol ke pembaca dan aku senang banget pas kamu bilang gak bosen hehe gomawo supportnya!~

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s