Wrecking Ball (Chapter 8)

wrecking-ball4

Wrecking Ball – Chapter 8

By kissmedeer

Xiumin, Sunny, Kyungsoo

Romance-Sad | All Rated

FF ini sudah di-publish kemarin tapi salah dokumen, saya mohon maaf🙂

Dua insane itu tengah berjalan kaki dari ujung komplek perumahan. Perumahan dimana rumah Sunny berada. Jari mereka berada disela-sela jari masing-masing. Sunny menggenggam tangan Xiumin erat. Begitupun Xiumin.

Mereka sudah berpakaian rapi dan bersih. Taeyeon yang baik hati itu sudah menyediakan baju layak pakai untuk mereka.

Mereka berjalan. Menikmati detik-detik kebersamaan mereka yang akan berhenti dan berubah menajdi orang yang canggung ketika sudah tiba di rumah Sunny.

Mereka tersenyum. Melihat manic mata satu sama lain.

Jantung mereka berdebar kencang. Ya, itu yang selalu mereka rasakan jika sedang berdua. Hanya berdua.

Akhirnya mereka tiba di depan gerbang pintu besar dan Sunny tersentak karena ada mboil yang terparkir di teras rumahnya.

Siapa yang datang?, batin Sunny.

“Ini rumahmu?” Tanya Xiumin sambil memerhatikan seluk beluk rumah Sunny dari luar.

Sunny tersenyum, “Iya.”

“Rumahmu bagus.” Puji Xiumin.

“Lebih bagus lagi bagian dalamnya.” Ucap Sunny dengan sombong.

Xiumin langsung menjitak Sunny, “sudah. Masuk sana.” Suruh Xiumin.

Sunny tersenyum lalu memeluk Xiumin. Dia tersenyum. Menenggelamkan senyumannya di tubuh Xiumin.

Gomawo.” Ucap Sunny.

Xiumin mengelus kepala belakang Sunny, “cheonma.”

“Baiklah. Aku masuk dulu, ya?” Pamit Sunny.

“Ya, sampai nanti!” Sunny langsung melemparkan senyumannya lalu masuk ke dalam rumahnya.

.

.

.

Xiumin menginjak gedung serba putih dan bau obat yang sangat menyengat. Dia memasuki lorong-lorong dimana Kyungsoo—hyung-nya di rawat inap.

Dia menoleh lewat kaca tembus pandang yang berada di pintu. Mencari sosok Kyungsoo yang terbaring diatas kasur—yang menrutunya pasti kelelahan.

Namun, nihil.

Dimana Kyungsoo?

.

.

.

Kamar yang Nampak mewah dan elegan ini tengah dihuni oleh seorang pria dengan beanie di kepalanya dan duduk di atas kursi rodanya sambil menatap sebuah layar kecil yang tak lain adalah televisi langsung dari CCTV yang berada di depan rumah ini.

Matanya nampak memerah. Tubuhnya yang melemas mendadak memanas. Bibirnya yang sedari tadi melengkung dengan sempurna kiri berubah menjadi sebuah garis lurus. Hatinya yang bersorak berubah menjadi kemarahan. Puluhan pertanyaan melayang-layang dikepalanya.

Tiba-tiba pintu kamar yang dia tempati itu terbuka. Seorang wanita yang selalu mengisi penuh hatinya muncul dihadapannya. Wanita itu berjalan ke sisi ranjangnya lalu duduk membelakangi pria tersebut.

Bahkan dia tidak sadar kehadiranku disini, pria tersebut—Kyungsoo membatin.

“Apa kau senang?” Sebuah pertanyaa terlontar dari mulut Kyungsoo. Wanita itu—Sunny berbalik ke asal suara. Jantungnya berdegup kencang bahkan hampir lepas dari tempatnya. Tenggorokannya serasa kering sehingga dia tidak bisa menjawab pertanyaan Kyungsoo.

“Sunny, apa kau senang?”

Sunny menatap Kyungsoo dengan dalam. Senang? Sungguh! Dia masih belum mengerti apa maksud Kyungsoo.

“Sunny, jawab aku.” Minta Kyungsoo sambil membalas tatapan Sunny.

Sunny masih tidak menjawab. Dia diam. Dia sibuk dengan pikirannya, apa yang harus dia jawab? Respon apa yang harus dia berikan? Sunny melirik ke belakang Kyungsoo. Sebuah televisi menyala dan menampilkan jalanan depan rumahnya yang agak sepi.

Sunny menelan saliva-nya susah payah lalu sebuah senyuman muncul di wajah pucat Do Kyungsoo.

“Aku tahu betul bahwa kau bahagia.” Ucap Kyungsoo sambil melihat ke kakinya yang berada di atas tumpuan kursi roda tersebut.

“Asal kau bahagia, akupun begitu.” Bohong Kyungsoo sambil menatap manik mata Sunny dengan dalam.

Hati Sunny terasa terpaku. Dia sungguh jahat. Dia sangat jahat. Dia benar-benar jahat. Apakah manusia seperti dia masih layak untuk hidup?

“Kyungsoo-ah..” Panggil Sunny. Kyungsoo langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan menelepon seseorang.

“Halo, kau dimana?” Tanya Kyungsoo.

“Cepat kembali. Aku mau kembali ke rumah sakit.” Lanjut Kyungsoo lalu menutup teleponnya.

“Sunny” panggil Kyungsoo lalu mendekati Sunny yang masih berdiri di pinggir kasurnya. Dia meraih tangan kecil dan mulus milik Sunny itu lalu menciumnya.

“Aku mencintaimu, Sunny.” Entah itu sudah menjadi pengakuan Kyungsoo sudah keberapa kalinya. Saat itu juga, air mata muncul dari mata Sunny. Mengalir dengan sempurna di pipinya.

Kyungsoo berbalik hendak meninggalkan Sunny sendirian disana. Dia berharap bahwa Sunny akan menahannya, memeluknya, menciumnya, tersenyum untuknya. Cairan bening yang selalu ditahan oleh Kyungsoo itupun keluar dari matanya.

Dia menangis. Kyungsoo menangis. Dia menangis karena Sunny.

.

.

.

Xiumin duduk di ruang tunggu tepat di depan ruang rawat inap milik Kyungsoo. Tiba-tiba sosok wanita paruh baya yang sangat dia kenali muncul di hadapannya. Dia Nampak buruk.

Umma..” Panggil Xiumin yang hanya ditanggapi dengan tatapan dingin milik umma-nya. Sungguh, Xiumin tidak mengenali umma-nya sendiri.

Umma!” Dengan lantang Xiumin memanggil umma-nya—menahan lengannya juga.

“Salahku apa?” Tanya Xiumin dengan mudahnya. Umma-nya menoleh bahkan rahangnya mengeras.

“Kau pikir umma tidak tahu apa yang kau lakukan?” Tanya umma-nya.

“Me-mela—“

“Berciuman dengan calon kakak iparmu, apakah itu layak, Xiumin?” Tanya sang umma sambil menatap mata Xiumin yang terbelalak.

Perlahan genggaman Xiumin di lengan umma-nya terlepas. Dia melemas. Dia menahan tubuhnya yang hampir tumbang ke dinding menggunakan tangan kanannya.

“Apa kau tidak tahu perjuangan Kyungsoo untuk hidup? Dia berjuang sendirian tanpa orang tuanya! Orang tuanya saj atidak ingin mengasuh dia. Aku sangat menyesal memberikannya kepada adikku. Dia benar-benar tidak bisa mengurus Kyungsoo dengan benar. Xiumin, kau mengerti betul bukan perasaan umma-mu ini?” Perkataan yang keluar dari mulut umma-nya itu masuk ke pikiran Xiumin perlahan.

Xiumin menutup matanya dengan tangan kanannya lalu terperosot hingga terjatuh di atas bangku. Dagunya berkerut, dia menahan isakkannya. Hidup ini berat. Hidup Xiumin benar-benar berat.

.

.

.

Sunny turun dari taksi yang dia tumpangi lalu berlari menahan Kyungsoo yang sedang berjalan dengan kursi rodanya.

“Kyungsoo-ah!” Panggil Sunny. Kyungsoo terus berjalan menjauhinya.

“Kyungsoo! Kumohon berhenti!” Minta Sunny dan Kyungsoopun berhenti di depan pintu utama rumah sakit ini. Kyungsoo memutar kursi rodanya hingga berhadapan dengan Sunny.

“Kenapa kau mengikutiku?” Tanya Kyungsoo.

Aku bersalah, Sunny membatin. Sedetik kemudian dia tersadar lalu menggeleng kepalanya pelan, “Aku mencintaimu, Kyungsoo-ah.”

Kyungsoo tersenyum simpul, setidaknya dia masih bisa senang mendengar perkataan yang bohong itu. Kyungsoo melirik ke belakang tubuh Sunny.

“Ada Xiumin dibelakangmu.” Dengan cepat Sunny menoleh ke belakang namun nihil, tidak ada siapapun disana.

“Tapi, tidak ada Xiumin disana.” Ucap Sunny dengan polos.

“Jika kau benar-benar mencintaiku kau tidak akan menoleh untuk Xiumin.” Balas Kyungsoo lalu memutar lagi kursi rodanya. Dia mengangkat tangannya untuk meminta bantuan suster yang ada.

“Tolong antarkan aku ke ruanganku.” Perintah Kyungsoo.

Ne.” Jawab suster itu sambil tersenyum lalu mengambil alih kursi roda Kyungsoo.

Sedangkan Sunny berdiri disana. Hatinya enar-benar sakit. Dia merasa sangat sesak. Dia menutup wajahnya yang memerah dan pipinya yang basah. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang pastinya sedang menatapnya sekarang.

.

.

.

“Sampai sini saja.” Suruh Kyungsoo kepada suster tersebut.

“Tapi, pak—“

“Tak apa. Sampai sini saja. Saya bisa sendiri.” Potong Kyungsoo. Suster tersebut mengangguk lalu Kyungsoo berjalan dengan kursi rodanya menuju lorong ruang rawat inapnya.

Dia melihat seorang wanita paruh baya dan pria yang tampan. Pria yang dia lihat bersam Sunny lewat CCTV. Pria sama yang datang ke tempat pemotretan mereka.

“Berciuman dengan calon kakak iparmu, apakah itu layak, Xiumin?”

Suara wanita tua itu bergema di lorong rumah sakit ini. Kyungsoo terkejut. Berciuman? Kakak ipar? Xiumin? Misteri apa yang tidak diketahui oleh Kyungsoo?

“Apa kau tidak tahu perjuangan Kyungsoo untuk hidup? Dia berjuang sendirian tanpa orang tuanya! Orang tuanya saj atidak ingin mengasuh dia. Aku sangat menyesal memberikannya kepada adikku. Dia benar-benar tidak bisa mengurus Kyungsoo dengan benar. Xiumin, kau mengerti betul bukan perasaan umma-mu ini?” Kyungsoo semakin terkejut mendengar perkataan yang keluar dari mulut wanita itu.

Kyungsoo bisa melihat Xiumin yang terperosot lalu duduk di atas bangku di depan ruangannya itu. Dengan kekuatan yang masih dia punya, dia berjalan menghampiri dua insan itu.

“Maaf, apakah aku menganggu?” Tanya Kyungsoo kepada keduanya. Keduanya menoleh dengan tatapan tak percaya.

“Kyungsoo-ah, kau mendengarnya?” Sang umma merespon dengan cepat.

“Iya. Jadi…bisakah kau ceritakan semuanya dengan lengkap?”

.

.

.

.

.

TBC

6 thoughts on “Wrecking Ball (Chapter 8)

  1. Akhirnya di update~ rasanya sepi udah hampir 2minggu wp ini tanpa ff sunny:( Keren thorr. ini angst-nya makin kerasa . sad-hurt-angst ada. lengkap. makin greget masa thor>< makin bikin penasaran buat next chapternya.
    Next chapter ditunggu thor^^

  2. Akhirnya di update~ rasanya sepi udah hampir 2minggu wp ini tanpa ff sunny:( Keren thorr. ini angst-nya makin kerasa . sad-hurt-angst ada. lengkap. makin greget masa thor>< makin bikin penasaran buat next chapternya.
    Next chapter ditunggu thor^^

  3. Lagi enak enak baca malah tbc -_______,-

    akhirnya update jugaaaaa (/ ;w;)/
    entah kenapa makin kesini makin ga suka sama si kyungsu ~w~

    next chap di tunggu sangaaat~

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s