[Special Taeyeon Birthday] I’ll Find You

poster-ill-find-you

Title

I’ll Find You

Author

Tantriprtstht

Length

Oneshot

Genre

 Romance

 

Rating

PG-15

 

Main cast

Taeyeon (SNSD)

 

Desclaimer

The story 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator! No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik saya melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m just newbie.

 

Poster by

Yoonra Art Design

 

AUTHOR POV

Silent love is calling faith to shatter me through your hallways…. Into echoes you can feel and rehearse the way you heal.

Matahari di atas kepala, namun tidak panas dan membakar kulit. Tidak ada satupun yang berlindung di bawah bayangan hitam. Tapi jika meminum air dingin di waktu seperti ini? Hmm sangat nikmat. Siapapun akan melakukannya jika datang dengan terburu-buru, berlari-lari tanpa henti sepulang dari sekolah. Atau kerja.

Tapi laki-laki ini berbeda. Dia bahkan berpikir hal seperti itu membuang-buang waktu. Oh ayolah hanya mengambil gelas, memasukkan es batu dan menuangkan air tidak memakan waktu sampai 5 menit. Justru bagi laki-laki ini, waktu seperti itu sangatlah berharga.

Berharga untuk apa? Ya, laki-laki ini beberapa hari sekali datang dari sekolahnya dengan terburu-buru, membuka pintu dengan mengucapkan salam yang super dahsyat, berlari-lari ke lantai 2 tempat kamarnya berada dan mengganti bajunya dengan baju yang lebih pantas. Dan keluar lagi dari rumahnya dengan sebuah buku di tangan kirinya. Di bukanya pintu pagar, lalu menyebrangi jalan perumahannya dan berhenti tepat di depan rumah. Seberang rumahnya.

Ting tong~

Baiklah, cukup malu diakui bahwa untuk menekan tombol bel saja dia cukup gugup. Berkali-kali dia melihat ke arah kakinya apakah tali sepatunya sudah terikat dengan benar atau tidak. Padahal dia memakai sandal rumah.

Pintu terbuka dan seorang perempuan berambut panjang, bermata cantik seperti bulan dengan tubuh mungil menghampirinya sambil tersenyum. Laki-laki ini juga tersenyum, tak kalah lebar dengan ditemani pipi meronanya.

“Biar kutebak….. Sudah selesai, ya?” Tanya perempuan itu sambil membukakan pagar dan mempersilakannya masuk. Laki-laki itu hanya mengangguk dan itu cukup membuat kedua mata perempuan itu membesar. “Benarkah, hebat!”

Kursi di kebun membuat laki-laki itu tak pernah masuk ke dalam rumah sang perempuan. Mereka berdua biasanya berbincang-bincang di situ, kebanyakan tentang hobi mereka yang hampir sama. Kecuali si laki-laki yang senang berolah raga sedangkan si perempuan tidak sama sekali.

“Sayang sekali endingnya, sangat menggantung.” Ucap si laki-laki dengan nada kecewa membuat si perempuan tertawa kecil.

“Masih ada buku ketiga, sabarlah!” serunya riang. Si laki-laki menyerahkan buku bersampul hijau dengan tulisan tercetak besar di covernya, Insurgent. Si perempuan menerimanya dengan senang hati. “Andai saja aku punya teman sepertimu di sekolah!”

Ya, mereka memang tidak bersekolah di tempat yang sama. Si laki-laki bersekolah di sekolah umum, dengan murid yang tentu saja laki-laki dan perempuan, pelajaran kebanyakan aktif di lapangan dan praktek. Sedangkan si perempuan bersekolah di sekolah khusus putri yang muridnya hanya perempuan, pelajarannya kebanyakan pemahaman dasar teori.

“Maksudmu laki-laki sepertiku? Tentu saja tidak ada di sekolahmu, Taeyeon. Sekolahmu kan sekolah khusus.” Jawab si laki-laki santai.

Si perempuan hanya mengangguk dan mengamati buku miliknya yang baru saja kembali. Mereka berdua duduk di bangku yang cukup kecil, namun tidak ada kecanggungan di antara mereka.

Pertemuan merekapun terjadi secara alami, yaitu Taeyeon yang mengantarkan kue ulang tahun mamanya untuk dibagikan ke para tetangga, salah satunya rumah si laki-laki. Yang menerimanya adalah laki-laki tersebut dan entah kenapa hanya dengan sekali tatapan mata, mereka bisa mengobrol di bawah bulan dengan angin malam yang dingin lebih dari 30 menit. Untuk pertama kalinya, mereka langsung tahu bahwa mereka cocok satu sama lain.

Apakah ada perasaan khusus di antara mereka? Entahlah. Taeyeon sama sekali tidak pernah mengenal apa itu cinta. Dia sejak kecil hanya mempunyai teman perempuan. Bahkan dia baru tahu bahwa ada anak laki-laki sebayanya yang menjadi tetangganya. Memang, si laki-laki baru pindah ke kota tempat Taeyeon tinggali sejak kecil.

Sedangkan si laki-laki, dia tahu, sadar dan mengenal apa itu cinta. Dari mana? Tentu saja dari buku-buku yang dia baca sekaligus pengalamannya bercinta. Dan itu tidak cukup berhasil. Padahal kakak perempuannya saja sudah mempunyai pacar, orang tuanya selalu menanyakan hubungan asmara kakak perempuannya. Jujur, si laki-laki iri. Dia ingin ditanyai seperti itu dan bercerita banyak hal tentang perempuan pujaan hatinya.

Tumbuhnya perasaan cinta bisa dibilang mungkin tidak akan pernah ada di hati Taeyeon. Tapi di hati si laki-laki, masih bisa dan masih ada kesempatan. Dan kalau mungkin dia bisa mengajari Taeyeon apa itu cinta.

“Kai, apa itu cinta?” Tanya Taeyeon dengan suara lirih.

“Cinta itu…..”

***************

Make them dance, just like you. Because you make me move and you always make go.

Pertemuan di musim semi hingga sekarang tidak pernah turun hujan saat mereka berbincang-bincang. Tapi hari ini berbeda.

Taeyeon yang datang untuk memperkenalkan buku barunya ke Kai sekaligus Kai yang janji akan menunjukkannya film bagus, terpaksa tidak saling melempar senyum di beranda Kai saat hujan membasahi kaki mereka.

“Permisi…..” ucap Taeyeon pelan.

“Tidak ada siapa-siapa kok.” Jawab Kai lalu menutup pintunya. “Kita lanjutkan nontonnya di lantai 2 saja. Di kamarku. Bukumu tidak ketinggalan, kan?”

Taeyeon mengangguk lalu mengikuti Kai yang berjalan menaiki tangga ke lantai 2. Buku yang dipegangnya adalah buku terbarunya, The Fault In Our Stars. Dalam Bahasa Indonesia artinya salahkan bintang-bintang. Tapi Taeyeon tidak bisa menyalahkan bintang-bintang sekarang. Dia harus menyalahkan awan yang membuat hujan turun sehingga tidak bisa duduk di lantai beranda Kai yang menjadi lantai beranda favoritnya. Aneh? Ya aneh.

Saat Taeyeon memasuki kamar Kai, yang bisa dia rasakan hanyalah kehangatan Kai. Taeyeon menatap kagum setiap sudut ruangan yang sebenarnya hanya wallpaper biasa. Kai sibuk dengan laptop dan layar projektornya.

“Apa di sekolahmu ada layar projector? Kita nonton pakai ini saja, supaya seperti di bioskop.” Jelas Kai lalu Taeyeon membuka karpet yang dia temukan di sudut ruangan.

“Bioskop tidak lengkap tanpa snack dan minuman.” Sahut Taeyeon sambil tersenyum membuat Kai mengusapkan tangannya ke kepala Taeyeon. Kenapa? Tak seorangpun tahu.

“Kalau begitu aku akan buatkan pop corn dan minuman. Tunggulah di sini. Aku tidak mempunyai diary jadi kau bebas melihat apapun.” Jelas Kai panjang lebar dan diikuti anggukan Taeyeon.

Saat Kai pergi, yang pertama terpikirkan oleh Taeyeon adalah kasur. Dia langsung berbaring di kasur, melompat-lompat di atasnya dan mencoba menarik korden warna hitam dan anehnya dia tidak  bisa berhenti tersenyum.

Selanjutnya adalah meja belajar dan rak bukunya. Meja belajar Kai hanya dipenuhi buku cerita. Sedikit sekali buku pelajaran yang dia miliki dan Taeyeon baru ingat sekolah Kai mementingkan praktek daripada teori. Wajar kan kalau di dalam kamarnya banyak barang-barang aneh.

Tapi sebuah ide terlintas di kepala Taeyeon saat menemukan pensil dan selembar kertas. Dia menggambar sketsa wajah Kai, dan dia bisa menggambarnya dengan bagus tanpa harus melihat sedetikpun wajah Kai. Entah mengapa dia bangga.

Dia juga menulis pesan singkat di bawahnya. Dan saat hendak meletakkan kertas itu di tas sekolah Kai, suara langkah kaki di tangga yang makin mengeras membuatnya menyembunyikan kertas itu di sakunya.

“Lama menunggu?” Tanya Kai sambil meletakkan pop corn dan 2 gelas coca cola dan Taeyeon menggeleng sambil membuat senyuman seperti dia tidak melakukan apa-apa. Tapi sepertinya Kai tahu apa yang dilakukan Taeyeon saat melihat permukaan kasurnya sudah kusut. “Baiklah, aku akan mematikan lampu. Dan kita lanjutkan nonton filmnya.”

Lampu dimatikan dan film berlanjut. “Benar, seperti di bioskop.”

“Kau suka?”

“Ya, aku suka sekali.” Jawab Taeyeon sambil melihat Kai yang melahap pop corn dan pandangannya focus menonton. “Apa kita bisa seperti ini lagi?”

“Seperti ini? Bisa. Aku punya banyak sekali film di laptopku.” Jawab Kai hendak mengambil minum tapi berhenti saat melihat binar mata Taeyeon. “Berapakalipun, kau mau.”

Taeyeon tersenyum seperti biasa lalu melanjutkan menonton film. Tapi pembicaraannya dengan Kai baginya belum boleh berakhir. “Hei, judul film ini apa?”

“Kau lupa? Judulnya Rise of The Guardians.” Jawab Kai cepat dan kali ini dialah yang melihat Taeyeon focus menonton film. “Kau bosan? Intinya begini. Tokoh utamanya, Jack Frost dipilih sebagai guardian baru untuk melindungi anak-anak dari si pemberi mimpi jahat, Pitch Black. Dia bersama guardians lain berusaha tetap melindungi kepercayaan anak-anak terhadap mereka.”

“Sudah-sudah, jangan dilanjutkan! Aku ingin menontonnya!” seru Taeyeon sambil menutup mulut Kai membuat Kai tertawa. “Apa yang lucu? Kau memberitahuku terlalu banyak!”

Kai hanya menggeleng sambil melihat Taeyeon. “Jack Frost tidak akan melindungi anak nakal sepertimu, Taeyeon.”

Ya, Kai tahu bahwa yang dikatakan dirinya sangat kekanak-kanakan. Apakah dongeng masa sekarang bisa dipercaya? Tapi Kai dan Taeyeon sama-sama percaya dengan dunia cerita, termasuk dongeng. Dan salah satunya adalah kisah Jack Frost si roh musim dingin.

“Aku bukan anak-anak lagi. Aku tidak butuh pelindung seperti Jack Frost.” Jawab Taeyeon kali ini menatap Kai. Tidak ada yang menonton film. Dan tidak ada yang makan maupun minum. “Tapi tetap saja aku butuh seorang guardians.”

“Kau lupa kalau aku bisa jadi guardianmu kapan saja?” Tanya Kai lalu Taeyeon tertawa. “Aku akan melakukan apa saja untukmu.”

Taeyeon hanya tersenyum tapi pipinya memerah. Dia tidak sanggup berlama-lama bertatapan mata dengan Kai. Itu membuatnya sakit. Sakit dalam arti yang bagus, sebenarnya. Sakit yang bikin dia ingin merasakan sakit itu sekali lagi.

“Kai, apa kau pernah punya pacar?”

“Pernah, sekali.”

“Bagaimana rasanya?”

“Buruk. Tak begitu menyenangkan. Rasanya sakit yang dialami hatiku membekas setiap kali aku mengingatnya.” Jelas Kai panjang lebar sambil memakan pop cornnya.

“Lalu, apakah sakit itu sekarang sudah sembuh?”

“Belum.”

“Kenapa?” Tanya Taeyeon penasaran. “Apa tak ada obatnya?”

“Ada. Tapi itu sulit dicari.” Jawab Kai tapi sinar mata Taeyeon yang menginginkan jawaban lebih belum redup. “Harus ada seseorang, orang lain yang menggantikan orang itu.”

Taeyeon mengangguk, tapi bukan tanda dia mengerti. Tanda dia cukup tahu sampai di situ, tak perlu lebih. Cinta adalah hal baru baginya, terutama apa yang dirasakannya saat Kai berkata bahwa dirinya akan menjadi guardian untuknya, untuk Taeyeon. Bagaimana tidak bisa dia terpesona, bohong jika dia berkata tidak. Seakan bertemu jodohnya, dia memberanikan diri menunjukkan sketsa wajah Kai yang baru saja dibuatnya.

Kai memperhatikan lukisan Taeyeon lalu tersenyum puas. “Bisa kau bacakan apa yang kau tulis di pojok kertas ini?”

Taeyeon juga tersenyum dengan pipi merah, member senyuman terindahnya. Untuk pertama kalinya. “Aku……”

**************

I’ll run away with your foot steps, I’ll build a city that dreams for two. And if you lose yourself I will find you.

Musim gugur datang, daun-daun yang berwarna merah, kuning dan cokelat berjatuhan. Sangat licin jika kita berjalan bahkan berlari-lari dengan jalanan penuh daun ini. Yang bisa kita lakukan hanyalah berdiri, menyaksikan keindahan jatuhnya daun satu per satu.

Di depan rumahnya, Taeyeon berdiri. Dan di seberangnya adalah rumah Kai. Di depan rumahnya juga, Kai berdiri. Keduanya sudah siap dengan sapu masing-masing dan beberapa kantong plastik. Yang berjalan duluan adalah Kai, dia tidak bisa membiarkan seorang perempuan menjemput dirinya.

“Selamat pagi, malaikat.” Sapa Kai sambil tersenyum. Taeyeon juga tersenyum dengan pipi merahnya. Kai mengulurkan tangan, untuk digenggam Taeyeon di hari baru ini. “Siap?”

Keduanya berlari ke tengah jalan, dengan sapu masing-masing mereka mengumpulkan daun dan memasukkannya ke beberapa kantong plastik besar. Hari ini Kai berjanji akan mengajari Taeyeon cara membuat kasur daun. Awalnya Taeyeon ragu apakah ini boleh dilakukan karena ini kegiatan liar pertamanya sejak hatinya, harinya, hidupnya diwarnai oleh nama satu orang, Kai. Tapi Taeyeon ingin tahu segalanya tentang Kai, dan ingin melakukan segalanya yang dia bisa dan dia mampu dengan Kai. Sebanyak mungkin membuat kenangan indah.

Bukan hanya jalan di depan rumah mereka, tapi satu perumahan mereka bersihkan. Dengan kantong plastik yang mereka sediakan cukup banyak, mereka bisa mengumpulkan banyak daun.

“Terima kasih!” seru warga perumahan mereka melihat jalan di depan rumahnya hanya ada sedikit daun.

Sesekali warga sekitar memberi mereka makan dan minuman. Energi mereka tidak habis untuk mengumpulkan daun dan membawa kantong plastik yang sudah besar.

“Ini sangat menyenangkan! Ternyata selain menonton film, bermain dengan alam juga seru!” seru Taeyeon sambil melompat-lompat.

“Awas! Licin—“

Dan benar saja, Taeyeon tergelincir dan untunglah sebelum kepala Taeyeon menyentuh aspal, Kai berhasil menarik tangan Taeyeon dan memeluknya dengan erat. Dan itulah pelukan mereka sejak pertemuan pertama di musim semi dan hujan pertama di musim panas. Kai berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai guardian. Dan Taeyeon merasa pilihan hatinya memang tepat.

Sore datang dengan cepat. Mereka tak bisa melupakan senyuman yang diberi warga kepada mereka. Yang tersisa adalah kantung plastik dengan penuh daun.

“Kita mau bawa ke mana daun-daun ini?” Tanya Taeyeon lalu Kai tersenyum.

“Ikut aku.”

Kai membawanya ke sebuah taman yang sepi, tanpa orang. Kai tersenyum puas melihat taman seakan-akan mengatakan tempat ini sudah pas. “Taruh sapumu, pakai sarung tanganmu. Kita akan membuat gunung dari daun-daun yang kita kumpulkan.”

Taeyeon hanya mengangguk dan mengikuti perkataan Kai. Dia membuka kantung plastik yang berisi daun-daun satu per satu, dan membantu Kai membuat gunung besar. Butuh waktu cukup lama membuatnya karena Kai sama sekali tidak bisa berhenti mengganggu Taeyeon yang bekerja.

“Ini praktek pertamaku di alam bebas, tolong jangan ganggu aku!” seru Taeyeon yang masih sibuk.

“Ah, tapi kau sangat lucu dan menggemaskan untuk aku kerjai!”

Dengan pertengkaran kecil yang mereka masing-masing yakin akan memperdalam rasa suka mereka, gunung daun musim gugur pun selesai.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan dengan ini?” Tanya Taeyeon lalu Kai menarik Taeyeon dan menggendongnya ala tuan putri. “Huwaa! Mau apa kau?”

“Lihat saja!” Kai berlari ke gunung daun yang sudah mereka buat, melompat setinggi-tingginnya dan menjatuhkan dirinya dan Taeyeon ke tumpukan daun itu.

Saat Taeyeon membuka mata, daun-daun sudah mengelilinginya dan Kai, ada daun-daun yang jatuh dari atas juga sedangkan tubuhnya sama sekali tidak merasakan sakit karena di bawahnya juga merupakan tumpukan daun.

Dan yang menyempurnakan moment istimewa ini adalah senyuman Kai yang sangat cocok dengan warna musim gugur. Taeyeon baru menyadari betapa sempurnanya senyuman yang dimiliki Kai. Taeyeon merasa dirinya sedikit curang karena dialah yang satu-satunya perempuan dengan laki-laki senyuman terindah di dunia.

“Inilah kasur daun!” seru Kai bangga dan Taeyeon memeluknya erat.

“Terima kasih.” Kata-kata itu keluar berkali-kali dari mulut Taeyeon. Senang, kaget, bahagia, tidak menyangka, semua rasa berbunga-bunga itu bercampur aduk menjadi satu.

Untuk selanjutnya, mereka menyaksikan matahari terbenam dengan kasur daun. Tangan mereka saling menggenggam, mereka siap untuk musim berikutnya yaitu musim salju.

“Sebentar lagi musim salju. Ini akan jadi kasur daun pertamaku dan kasur daun terakhirku di musim gugur tahun ini.” Jelas Taeyeon. “Kita bisa membuatnya lagi tahun depan, kan?”

“Tentu saja, tahun depan kita akan membuat yang lebih nyaman dari ini.” Jelas Kai lalu menunjuk sebuah awan. “Bentuknya mirip kelinci.”

“Kelinci bulan?” Tanya Taeyeon lalu Kai mengangguk. Mereka juga percaya akan adanya kelinci bulan.

“Sama seperti matamu, mata bulan.” Sahut Kai lalu menatap Taeyeon. “Dan hanya mata itulah yang mengingatkanku betapa berharganya hidup.”

Taeyeon tersenyum tipis. “Kau harus terus hidup dan kita harus tetap bersama. Aku ingin membuat banyak kenangan bersamamu hingga aku tak bisa lagi bergerak untuk membuat kasur daun.”

Kai tertawa dan mengusapkan tangannya ke kepala Taeyeon. “Kita akan membuat tempat hanya untuk kita bersenang-senang.”

“Boleh aku mengundang yang lain?” Tanya Taeyeon lalu Kai menggeleng.

“Ayolah….. Satu orang saja!”

“Siapa?” Tanya Kai penasaran dan Taeyeon tersenyum usil.

“Dia……”

******************

High on words we almost used. We’re fireworks with a wet fuse. Flying planes with paper wheels to the same Achilles heels.

Kai menatap ke luar jendela dengan perasaan cemas. Sekitarnya dari tadi sangat gaduh. Badai salju datang satu sekolah rebut karena jam pulang sudah dimundurkan satu jam dari biasanya.

“Taeyeon pasti khawatir. Handphoneku ketinggalan…. Aku tidak bawa payung…..” gumam Kai cemas. Teman-temannya yang lain sama seperti dirinya menunggu badai salju reda.

Kai hanya bisa membayangkan apa yang sedang dilakukan Taeyeon sekarang. Mungkin jam pulang Taeyeon juga dimundurkan? Tapi tadi pagi dia tidak melihat Taeyeon di stasiun bus. Melihatnya keluar rumah saja tidak.

Kai dan Taeyeon memang menunggu bus di stasiun yang sama. Terkadang jika kebetulan mereka keluar dari rumah bersamaan, mereka akan berjalan ke stasiun bersama.

Kembali dia membayangkan Taeyeon mungkin cemas akan dirinya tidak menghubunginya, atau dia belajar seperti biasanya. Atau mungkin dia terjebak di tengah badai salju. Kai menggelengkan kepala. Roh macam apa yang membuatnya berpikir seperti itu. Jangan sampai Jack Frost karena jika Jack Frost, dia bersumpah tidak akan mengundang Jack Frost untuk tinggal bersama dirinya dan Taeyeon. Itu hanya khayalan.

“Kai!” seru seseorang di belakangnya. Temannya yang bernama Suho hanya satu-satunya orang di belakangnya. Sepertinya semua orang di kelas sudah pergi.

“Kemana semuanya?” Tanya Kai sambil melihat ke sekeliling kelas.

“Kantin membagikan kopi hangat gratis. Hanya kau yang belum mengambil bagianmu.” Jelasnya. “Ayo ke kantin.”

“Terima kasih.” Jawab Kai lalu mengikuti murid paling pintar di kelasnya berjalan menuju kantin. Kai selalu bertanya apapun kepadanya. Dan sekarang ada satu pertanyaan di hatinya yang menunggu untuk dijawab. “Kira-kira kapan badai salju ini akan berakhir?”

“Coba kupikir. Kira-kira 2 jam lagi. Masih lama sekali bukan?” Tanya Suho membuat Kai sedikit kecewa. “Jangan khawatir, temanku. Mungkin kantin juga akan membagikan makanan hangat gratis.”

Kai tertawa kecil mendengar jawaban Suho. Dia bertanya kapan badai salju akan berakhir agar dia bisa segera pulang. Dia harus pulang cepat hari ini, harus!

“Bukan itu yang kuharapkan, tapi terima kasih kawan.” Sahut Kai lalu mereka berdua terus terdiam hingga sampai di kantin.

Kantin cukup ramai, tapi syukurlah Suho sudah menyediakan duduk untuk Kai di antara para laki-laki yang lain. Ada 2 gelas kopi di sana. Miliknya dan milik Suho.

“Minum kopi begini enaknya cerita apa?” Tanya Baekhyun antusias.

“Pacar?”

Pertanyaan itu membuat Kai tersedak saat dia minum kopi. Membahas Taeyeon bukanlah hal yang baik sekarang. Dia akan makin galau dan berharap kopi yang diminumnya bisa membuat dirinya ngantuk agar tidak terlibat dalam pembicaraan. Mana ada kopi seperti itu.

“Mulai dari aku.” Ujar Kris. “Pacarku…. Di sekolah ini. Kalian tahu siapa orangnya. Akhir-akhir ini dia suka sekali menghamburkan uang untuk belanja di mall. Aku sudah berkali-kali mengingatkannya untuk hemat. Tapi dia hanya mendengarkanku. Kalau dia belanja dengan temannya atau keluarganya, dia akan menghabiskan uangnya.”

Semua yang duduk di meja berbentuk lingkarang hanya bisa menggelengkan kepala dan beberapa di antara mereka memberi nasihat pada Kris, beberapa menikmati kopi dan hanya Kai yang berusaha menikmati kopi sambil mendengarkan nasihat mereka satu per satu. Dia pikir suatu hari nasihati itu akan berguna untuknya. Dalam menjalin hubungan dengan Taeyeon.

“Pacarku,” sahut Luhan. “Akhir-akhir ini sangat tergila-gila akan anjing. Saat aku main ke rumahnya untuk mengerjakan PR bersama, dia terus menerus memanjakan anjingnya. Aku bahkan tak bisa bertanya satupun soal pada dia padahal dia selama ini membantuku dalam belajar. Dia bahkan mencium anjingnya, sepertinya dia lebih suka mencium anjingnya daripada anjingku…. Maksudku aku!”

Cerita dari Luhan kali ini sedikit lucu, semuanya tertawa. Beberapa menyarankan Luhan agar dia membeli anjing betina, beberapa menyarankan Luhan agar dia membunuh anjing pacarnya. Tindakan yang cukup kejam.

“Bagaimana denganmu, Kai?” Tanya Baekhyun pada Kai.

“Aku?”

“Ya, bagaimana dengan pacarmu?”

“Pacarku baik-baik saja, tidak seperti pacar kalian semua yang membuat pusing.” Jawab Kai sambil meneguk kopinya. Dia berharap dia sekarang bisa tidur. Dia tidak ingin meneruskan pembicaraan ini.

“Sudah berapa tahun?”

“Musim panas nanti satu tahun.”

“Apa kau pernah ke rumahnya dan dia pernah ke rumahmu?”

“Dia pernah ke rumahku.” Jawab Kai lalu berpikir sejenak. “Tapi aku tak pernah ke rumahnya. Maksudku pernah, tapi tak pernah masuk.”

“Sudah pernah memeluknya?”

“Sudah.”

“Kapan?” Tanya Lay.

“Musim gugur, tahun kemarin.” Jawab Kai mantap.

“Sudah pernah menciumnya?”

Kali ini Kai terdiam sebelum menjawabnya. “……belum.”

Semua yang duduk di meja menatap Kai dengan pandangan tidak percaya. Kai sudah mengira pertanyaan ini akan datang dan dia sudah siap bagaimana dia akan menjawabnya.

“Gila! Kau sangat terlambat!” seru Suho.

“Kenapa? Haruskah aku menciumnya secepat mungkin?”

“YA!” jawab semua teman-teman Kai kompak membuat seisi kantin menoleh ke arah meja mereka.

“Ciuman pertama? Sudah pernah?” Tanya Suho lalu Kai menggeleng.

Memang meski sebelumnya Kai pernah punya pacar, Kai tidak seagresif itu. Dia tidak berani mencium seorang perempuan lebih dahulu. Dia pikir akan lebih baik jika seorang perempuan menciumnya dulu. Karena tiu akan member poin plus pada si perempuan sebagai perempuan pemberani.

“Aku menunggu pacarku untuk menciumku.” Sahut Kai setengah yakin setengah tidak.

“Kau penakut atau apa? Jika kau menginginkan sebuah ciuman, kau tidak bisa menunggu!” jelas Luhan. Kai berharap dia tidak akan mendapat nasihat dari teman-temannya yang lain. Dia bisa gila.

“Ya, kau seharusnya selangkah lebih maju.” Tambah Baekhyun.

“Siapa tahu pacarmu dari dulu sudah menunggumu untuk menciumnya.”

“Benarkah?” dan entah kenapa kali ini Kai tertarik.

“Ya, kau pikir seorang perempuan juga tidak bisa menunggu?” Tanya Kris lalu Kai menggeleng.

Kim Jong In ditunggu seseorang di kelas

Suara pengumuman dari speaker membuat meja tempat Kai dan teman-temannya duduk hening. Baiklah kali ini Kai bisa keluar dari pembicaraan. Dia merasa sedikit lega.

“Aku pergi dulu, semuanya.” Ucap Kai lalu melangkah dengan puas.

Kai berlari di koridor sekolah dengan senang sesekali berteriak ‘Yes’ dia tidak peduli, tidak ada seorangpun bisa mendengarnya karena semuanya sedang di kantin. Dan sekarang dia menguasai koridor sekolah. Masih ada satu hal yang harus dia lakukan. Menemui seseorang di kelas. Mungkin kakaknya datang menjemput karena dia pulang telat.

Langkah Kai berhenti saat dia tepat berdiri di depan pintu kelasnya. Entah mengapa dia sedikit takut membuka pintu. Hanya kakak perempuannya kan? Apa yang harus ditakutkan? Kai membuka pintu dan mendapati malaikatnya berdiri di sana.

“Kai!” sapanya riang tapi Kai masih menatapnya tidak percaya.

Taeyeon seakan-akan tahu apa yang sedang dipikirkan Kai, menjelaskan semuanya. Bahwa dia hari ini sebenarnya demam, tapi dia menjemput Kai di sekolah setelah mendengar dari orang tua Kai bahwa Kai belum pulang. Demamnya belum sepenuhnya sembuh tapi Taeyeon berkata dia harus datang dan menjemput Kai.

“Kenapa?”

“Kau lupa? Hari ini ulang tahunmu kan!” seru Taeyeon lalu mengeluarkan potongan tart mini dari tasnya. “Aku membuatnya bersama ibumu hari ini tapi aku tidak sabar untuk memberikannya padamu secepatnya.”

Taeyeon menyondorkan sebuah potongan tart mini dan garpu pada Kai. Taeyeon mendorong Kai agar duduk di salah satu bangku. Taeyeon juga mengeluarkan termos dan gelas lalu menuangkan isi termos yang ternyata teh ke gelas warna hitam yang dia ambil dari rumah Kai.

“Bagaimana demammu?”

“Aku sudah sehat. Dingin tidak akan menggangguku.” Jawab Taeyeon lalu menutup Taeyeon. “Aku cukup kesulitan mencari alamat sekolahmu, di jalan juga tidak ada siapa-siapa. Badai salju juga tidak reda-reda. Tapi untunglah aku menemukannya….. dan menemukanmu!”

Kai meletakkan piring dan garpunya lalu memeluk Taeyeon erat. Dia sama sekali lupa bahwa hari ini dia berulang tahun karena dia cemas dengan keadaan Taeyeon. Justru Taeyeon baik-baik saja malahan dia menyibukkan diri dengan mempersiapkan ulang tahunnya. Mungkin tak peduli dirinya akan pulang kapan, seperti Taeyeon akan selalu ada untuknya.

“Kau memang pacar terbaik di dunia!”

Taeyeon tersenyum mendengar perkataan Kai. Kai menangis, sedikit tapi dia tidak menunjukkannya di depan Taeyeon. Dia menunjukkannya di belakang Taeyeon, saat dia memeluknya. Dia teringat akan cerita teman-temannya tentang pacar mereka. Dan kali ini Kai-lah yang merasa beruntung karena memiliki pacar seperti Taeyeon.

Setelah Kai menghabiskan kuenya, mereka berdua sama-sama menunggu badai salju yang tak kunjung reda. Semua teman-teman Kai masih di kantin, mungkin mereka tidak mau keluar dari kantin yang sudah dipenuhi alat penghangat.

“Kau tak kedinginan?”

“Tidak. Kau sendiri?” Tanya Kai lalu Taeyeon menggeleng.

“Aku keasyikan membuat kue sampai lupa menyiapkan hadiah untukmu.” Jelas Taeyeon malu-malu. “Apa yang kau inginkan?”

“Tidak usah……” jawab Kai tapi tatapan mata Taeyeon membuatnya menyerah. “Baiklah. Satu pertanyaan……”

“Apa?” Tanya Taeyeon sambil berjalan ke arah tempat sampah kelas Kai untuk membuang piring kertas tempat Kai melahap habis kuenya.

“Apa kau….. Menungguku untuk menciummu?”

Suasana hening sesaat sampai Taeyeon benar-benar sadar dia harus menjawab pertanyaan Kai. Jantung Kai tidak bisa memompa darah dengan santai. “Aku—“

“Aku tahu aku aneh. Baiklah. Pertanyaan barusan tidak perlu dijawab!” seru Kai sambil memukul kepalanya sendiri, membuat Taeyeon tertawa kecil tapi Kai tidak menyadarinya.

Taeyeon berjalan menuju arah Kai dan berusaha menenangkannya. Sisi baru Kai yang dia lihat kini membuatnya tidak bisa berhenti terus menggali apa yang dipikirkan Kai. “Mungkin kau bisa menggantinya dengan kata-kata lain?”

Kai tampak terkejut dengan pertanyaan Taeyeon. Tentu saja dia mengerti maksud Taeyeon tapi tergantung dari jawaban Taeyeon. “Beneran?”

“Jika itu bisa memenuhi kado ulang tahunmu, silakan!” sahut Taeyeon mantap sambil tersenyum. Dan Kai menelan ludahnya sebelum bertanya pada Taeyeon.

“Bolehkan aku menciummu sekarang?”

Dan jawabannya hanya satu.

**********************

Open up your skies to the speed of life. Put your love in light, turn up your night, I will find you.

Baru kali ini dia merasa kamarnya sangat berantakan. Itu karena malam ini usianya akan bertambah, ya dia berulang tahun malam ini.

Dan senyum Taeyeon terus mengembang sepanjang pesta kecil diadakan di kamarnya karena para sahabatnya bisa datang meski sekarang sedang liburan pergantian musim.

“Taeyeon, aku akan pulang sekarang. Selamat ulang tahun!” seru Jessica lalu Taeyeon melambai-lambaikan tangan.

Ulang tahunnya selalu jatuh bertepatan dengan liburan pergantian musim. Antara musim dingin dan musim semi. Hanya beberapa dari sahabatnya yang bisa datang. Orang tua Taeyeon sedang pergi bersama di sebuah mall, sepertinya untuk memilih kado ulang tahun yang pas untuk putri mereka satu-satunya.

Banyak teman Taeyeon yang sebenarnya bisa datang tapi karena acara bersama keluarga, yang datang hanya sedikit. Itu sebabnya pesta malam ulang tahunnya dirayakan di kamarnya.

“Sekarang….. Aku harus beres-beres…..” gumam Taeyeon lalu mulai membersihkan kamarnya.

Salah satunya adalah Kai. Taeyeon tidak dapat merusak kegiatan keluarga Kai yang sudah direncanakan sejak bulan lalu. Ya, Kai dan keluarganya sedang berlibur ke luar negri. Itu agenda rutin mereka setiap liburan pergantian musim.

Kai tiap hari mengirim e-mail untuk memberitahu keadaannya. Tapi Taeyeon sendiri ragu apakah lelaki yang sudah hampir setahun pertemuan pertama dengannya mengingat atau bahkan mengetahui hari ulang tahunnya.

“Salah sendiri ulang tahun di liburan….. huft.” Gumam Taeyeon lalu melanjutkan kegiatannya.

Setelah merapikan kamarnya, saatnya membuka kado dari teman-temannya. Meski dia belum berulang tahun, tidak ada aturan kalau harus membuka kado di hari ulang tahun di keluarganya. Maka dia membuka satu-satu kado dari teman-temannya.

“Satu set aksesoris dari Hyuna!” seru Taeyeon.

“Boneka lumba-lumba dari Minah…..!”

“Hihihi voucher belanja baju dari Jessica!”

Taeyeon tertawa saat membuka satu per satu kado dari teman-temannya. Dan yang membuatnya paling lama terdiam adalah saat melihat kado dari salah satu temannya, yaitu bingkai foto.

Mengapa? Karena selama berpacaran, dirinya dan Kai belum pernah mengambil foto sekalipun. Mereka selalu mengingat moment dengan kata-kata, senyuman, tatapan mata. Tidak ada salahnya mengabadikan dengan foto. Tapi mau foto dengan Kai sekarang? Tidak mungkin.

Kring~

“Halo?” Tanya Taeyeon yang berharap yang meneleponnya adalah Kai.

“Taeyeon? Ini Ayah.” Jawab seseorang dari seberang telepon. “Pestanya sudah selesai?”

“Sudah, ayah. Barusan aku selesai merapikan kamar…..” jawab Taeyeon agak malas. “Ada apa?”

“Begini, kamu jangan marah ya. Ayah dan Ibu mengikuti undian di mall dan memenangkan tiket gratis menginap di hotel bintang 5 malam ini karena itu ayah dan ibu tidak bisa pulang hari ini…..” jelas ayah Taeyeon perlahan-lahan.

“Aku bisa menerimanya kok, yah. Selamat bersenang-senang.” Sahut Taeyeon sedikit kecewa tapi berusaha menutupinya.

“Baiklah, Taeyeon. Kami janji besok ulang tahunmu akan dirayakan seperti yang kau mau. Ayah janji, ibu janji.” Ujar Ayahnya sedikit senang mendengar jawaban Taeyeon.

“Kupegang janji kalian ayah, ibu.” Jawab Taeyeon sambil tersenyum simpul.

“Sekarang sudah malam, tidurlah. Selamat malam.”

“Malam, ayah.” Taeyeon menutup telepon rumahnya dengan sedikit kesal. Malam ulang tahun pertamanya tanpa orang tua.

Bukan berarti Taeyeon manja. Taeyeon hanya tidak biasa dan tidak familiar tidak kondisi seperti ini. Dia langsung mengganti pakaiannya dengan piyama, menggosok giginya lalu ke kamarnya untuk tidur. Rumahnya terasa sepi.

“Syukurlah rumahku tidak berlantai 2. Aku tidak membayangkan betapa sepinya nanti.” Gumam Taeyeon sambil memeluk bonekanya. “Aku berharap aku mimpi indah……”

Tapi malam itu Taeyeon sama sekali tidak bisa tidur. Dia bisa tidur jika sepi tapi tidak sepi yang seperti ini. Maka dia tetap memejamkan mata, namun tak berani tidur. Dia tidak mau melihat jam berapa sekarang. Nanti dia akan seperti orang bodoh.

Kring~

Kali ini ponselnya berbunyi. Taeyeon mencari keberadaan ponselnya dengan tangannya dan mendapatinya berada di meja lampu sebelah kasurnya. “Halo?”

“Taeyeon, ini aku.”

“Kai?” Tanya Taeyeon tak percaya. “Aku…. Kangen.”

“Haha.”

“Maaf, aku tiba-tiba berkata seperti ini. Sudah 2 minggu aku tak mendengar suaramu.” Jelas Taeyeon malu-malu. “Bagaimana liburanmu, menyenangkan?”

“Menyenangkan….. Aku tak sabar untuk berbagi cerita denganmu.”

“Aku tak sabar untuk mendengarnya….. Ngomong-ngomong untuk apa kau meneleponku malam-malam?” Tanya Taeyeon yang baru sadar bahwa dirinya sudah mengantuk.

“Apa aku mengganggu?”

“Sama sekali tidak.” Jawab Taeyeon cepat.

“Baiklah, aku meneleponmu karena aku ingin mengucapkanmu selamat ulang tahun.” Jelas Kai membuat Taeyeon sedikit terkejut.

“Memangnya jam berapa sekarang?” Tanya Taeyeon.

“Jam 12, malam. Jam 00 tanggal 9 Maret!”

“Hahahaha…….” Taeyeon tertawa sambil menangis. Dia sama sekali lupa kalau dirinya ulang tahun. “Kai, maaf dan terima kasih. Aku benar-benar senang. Tadi aku hanya mengadakan pesta kecil dengan teman-temanku, orang tuaku menginap di hotel….. Aku sendirian sekarang di rumah…..”

“Hei, ceritanya nanti saja jika aku sudah kembali! Aku belum menyiapkan kado untukmu! Kau ingin apa?” Tanya Kai di seberang telepon.

“Aku…. Ingin kita berfoto bersama!” ucap Taeyeon cepat tanpa berpikir panjang. “Aku ingin kita mengambil foto bersama, untuk pertama kalinya!”

“Baiklah, boleh juga idemu.”

“Kapan sebaiknya?” Tanya Taeyeon.

“Kapan? Sekarang juga bisa.” Jawab Kai membuat Taeyeon bingung.

“Apa maksudmu?” Tanya Taeyeon bingung.

“Buka jendela kamarmu.”

Taeyeon membuka jendela kamarnya dan sangat terkejut. Yang dilihat bukanlah sebuah kamera seperti yang dia kira, yang mungkin sudah disiapkan Kai sebelum dia pergi 2 minggu lalu. Jelas tidak mungkin. Yang dia lihat bukan juga kamera jarak jauh yang sebenarnya belum ada di dunia ini tapi…..

Guardian-nya.

“…………………………….”

********************

 

First met : Cinta itu sebuah rasa yang membuatmu mementingkan orang yang kau cinta dibandingkan dengan dirimu sendiri.

First rain : Aku ingin menjadi pacarmu. Dan aku ingin kau menjadi guardianku.

First fun : Dia Jack Frost.

First kiss : Ya.

First surprise : Happy Birthday, I’m home.

Music :

Zedd – Find you (feat. Matthew Koma & Miriam Bryant)

Beautiful lyrics for beautiful couple.

 

I’LL FIND YOU

SPECIAL KIM TAEYEON’S BIRTHDAY

-THE END-

*****************

Annyeong! Tantriprtsht fans Taeyeon sejati membawakan fanfic khusus ulang tahun Taeyeon.

Kenapa harus Kai? Karena kalau Baekhyun Author sudah bosan. Lagipula Baekhyun cukup milik Author seorang (?) *abaikan

Happy Birthday for the kid leader Kim Taeyeon! March 9th oh yeah!

Semoga fanfiction ini membuktikan kemampuanku sebagai penulis fanfiction. Sudah 1 tahun Author membuat fanfiction dan fanfiction pertama Author adalah fanfiction ulang tahun Taeyeon. Dan sekarang Author menulisnya lagi dengan gaya beda, couple beda, cerita yang benar-benar beda! Mohon beri komentar!

Musiknya adalah zedd musisi Jerman favorit ^^ lagu itu adalah OST film yang akan datang tayang tanggal 21 Maret yaitu Divergent. Semoga meski sibuk Author masih bisa nonton di hari pertama tayang *amin

Segitu dulu, mohon beri komentar, kritik dan saran sekaligus beri ucapan selamat ulang tahun pada Taeyeon! Beri dia cinta yang banyak!

 

ANNYEONG~

43 thoughts on “[Special Taeyeon Birthday] I’ll Find You

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s