Adelaide Sky

Adelaide Sky

req-postergenie-redoo

 [satu alasan kenapa jatuh cinta itu perlu ]

[Length: one-shot – Rating: PG – Cast: Tiffany & Jessica – Genre: fluff, romance, friendship]

[AuthorGenie]

***

‘Falling in love is is a crazy thing to do. It’s kind of like a form of socially acceptable insanity’

–  Spike Jonze-

 ***

Jarum pendek pada jam dindingnya merujuk di angka 3 ketika ponselnya berdering, memperdengarkan refrain lagu Growl ke seluruh ruang sepi kamarnya. Sedikit mengerang, Tiffany Hwang meraih ponsel pipih yang dia letakkan diatas nakas samping ranjang. Kedua bola matanya masih enggan dibuka sepenuhnya.

“halo” katanya membuka pembicaraan tanpa melihat nama yang tertera di layar.

“Tiff….”

“god, Jess. You must have a good damn reason why you call me at this time” ada nada kesal terselip disuaranya. Bagaimana tidak, dia baru sampai apartemen satu jam lalu karena sibuk rapat, mengurusi acara tahunan kampus dan pagi ini, dia dituntut harus sudah ada di kampus jam sepuluh pagi.

Astaga, dia tidak pernah menyangka akan merindukan tidur.

“Yifan….” Mendengar nama itu disebut, spontan kedua mata Tiffany terbuka, kantuk seakan pergi, membuatnya bisa mendengarkan deru nafas dari seberang panggilan yang terdengar putus-putus. Persis seperti orang yang sedang menahan tangisnya supaya tidak pecah.

Yifan.

Dia kenal lelaki itu. Kenal betul malah. Dia lah yang membantu Yifan si kapten tim bakset sekolah, pujaannya seluruh gadis untuk mendapatkan hati Jessica Jung, gadis paling dingin sekaligus sahabat baiknya sedari kecil. Tiffany masih ingat betul, susahnya meyakinkan Jessica agar mau menerima pernyataan cinta Yifan. Tiffany masih ingat betul, menyemangati Yifan untuk bersabar setiap kali lelaki jangkung itu mau menyerah terhadap Jessica. Karena pada akhirnya, semua usaha tersebut berbuah manis.

Jessica mau membuka hati untuk Yifan.

Dan kini, nyaris genap dua tahun sudah masa sekolah telah berlalu, dia melanjutkan pendidikannya di Jepang. Sementara Yifan dan Jessica tetap memilih Korea. Sepasang kekasih itu memilih kampus yang sama dengan jurusan berbeda. Tiffany pun masih memegang peran sebagai tempat konsultasi cinta keduanya, ketika hubungan mereka sedang dilanda masalah dia pasti langsung tahu, kemudian memberikan solusi sampai keduanya kembali ber lovey-dovey. Seolah dunia milik berdua saja.

Semuanya benar-benar berjalan normal sampai Yifan mendapati beasiswa basket di Kanada beberapa bulan lalu.  Semenjak Yifan pergi ke Kanada, dia mulai sering mendengar keluhan Jessica mengenai Yifan yang mulai mengurangi frekuensi memberi kabar, Yifan yang mulai mengabaikan pesan serta panggilannya dan Yifan yang mulai bersikap acuh.

Kenyataan memang tidak pernah salah mengatakan bahwa jarak mampu menghancurkan hubungan sepasang kekasih tidak perduli sudah berapa lama hubungan tersebut terjalin.

“Yifan kenapa lagi?”

 

“selingkuh…. Dia selingkuh, Tiffany. Aku tahu hal ini pasti terjadi”

“hei Jess, kau tidak bisa membuat kesimpulan tanpa bukti jelas”

“barusan aku membuka pesan facebooknya, ada seorang gadis bernama Jinri bilang kalau apa yang mereka lakukan tadi malam merupakan ketidaksengajaan, mereka sama-sama mabuk, Yifan punya pacar dan si Jinri itu tidak mau berhubungan dengan pria yang sudah punya pacar.” ungkap Jessica dalam satu tarikan nafas. Tiffany tidak mendapati nada kecewa apalagi amarah dari suaranya, yang terdengar malah seperti orang pasrah mau dicabut nyawanya.

“kau sudah membicarakan ini dengan Yifan?”

“belum. Aku tidak mau mengganggu konsentrasinya, sebentar lagi pertandingan pertamanya mulai”

“demi Tuhan Jessica Jung!” pekik Tiffany kesal sambil menendang selimut berwarna pink yang tadinya melindungi tubuh kurusnya dari udara dingin malam “Yifan selingkuh, Jessica. Dia berhubungan sex dengan gadis lain dan kau masih memikirkan pertandingannya?” astaga, dimana akal sehatnya sih?!!

“pertandingan itulah alasan kenapa dia pergi, Tiffany. Basket adalah hidupnya. Aku tidak sampai hati mau membebankannya dengan masalah seperti ini”

“masalah seperti ini? Jessica, ini bukan masalah biasa. Yifan sedang tidak cemburu gegara Jongin junior dari kelas teater mengajakmu berkencan. Kau tidak bisa menyelesaikannya hanya dengan kalimat “aku tidak mungkin menerima ajakannya, Yifan. Aku sudah punya kau” tidak Jessica Jung, tidak bisa. Yifan selingkuh. Dia tidur dengan gadis yang pasti sudah dia kenal sebelumnya karena jika tidak,  gadis itu tidak mungkin menulis begitu. Dan lebih dari segalanya, Yifan menyakitimu, Jessica. Dia mengingkari janjinya untuk selalu setia padamu……” kalimat terakhir terdengar seperti bisikan.

Tiffany menutup kedua kelopak mata, mengingat-ingat akan alasan kenapa mau menolong Yifan mendapatkan Jessica. Saat itu, Yifan terlihat sangat bersungguh-sungguh. Seakan dia lebih baik sendiri seumur hidup bila tidak memiliki Jessica. Lalu  tatapannya ketika melihat Jessica. Jenis tatapan yang seolah mampu berkata ‘aku hanya bisa melihatmu’ semua wanita menginginkan ini tentunya.

Yifan sampai bersumpah akan selalu melindungi, membahagiakan dan tidak akan pernah mengecewakan Jessica. Berjanji padanya bahwa dia tidak akan melupakan pertolongan Tiffany. Namun, seharusnya dia bisa sadar lebih awal, janji yang diucapkan dibawah pengaruh sihir jatuh cinta tak seharunya dipercayai.

“kau harus bicara padanya, Jessica. Masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Kau tidak mungkin juga bersikap seolah-olah tidak pernah membaca pesan-pesan itu Karena jika iya, hanya semakin memperlebar lukamu. Yifan pun harus tahu kalau dia sudah mengingkari janjinya yang dia utarakan sendiri.

Terdengar helaan nafas. Dia seakan bisa melihat Jessica di sana, merebahkan tubuh menatap langit-langit kamar dengan tatapan hampa. “pasti Tiffany, setelah pertandingannya selesai”

“Wu Yifan brengsek”

“hei, jangan berkata begitu. Dia kan temanmu juga”

“sungguh, Jessica. Bagaimana kau bisa bertutur kata setenang ini setelah mengetahui kekasihmu tidur dengan gadis lain?”

“kau mengharapkan aku menangis meraung-raung di jam sepagi ini, Tiffany Hwang?” kata Jessica skeptis. Menyebabkan derai tawa kami menguar, sedikit memecahkan suasana hening malam.

“kau tahu, kejadian ini membuatku berfikir mungkin aku sudah tidak cukup baik lagi di sandingkan dengan Yifan. Makanya dia berbuat begitu”

 

“ayolah Jessica, jangan menunjuk dirimu sebagai biang onar disini. Kau tidak pernah memulainya”

“atau memang jarak semacam ini tidak bekerja baik dalam hubungan kami”

“setidaknya kau mau mencoba, Jessica….”

“dan aku mau ini berhasil, Tiffany. sangat ingin berhasil” sekarang, gendang telinganya mendapati suara Jessica mulai berubah serak akibat air mata yang hanya Jessica dan Tuhan lah yang tahu sejak kapan sudah membanjiri wajah gadis berwajah cantik itu “hubungan ini bukan berumur satu atau dua bulan, tapi empat tahun, Tiffany. Empat tahun dan aku sudah punya bayangan sempurna tentang rupa pakaian pernikahan kami, rumah untuk memulai kehidupan baru bersamanya sekaligus sepasang anak kembar” Tiffany hanya bisa menutup mulut. Mendengarkan tangis sahabatnya perlahan bertambah keras. Seandainya dia di sana, sudah pasti di peluknya gadis itu erat, membiarkan ujung pakaiannya kusut karena diremas kelewat kencang.

“mendapati kenyataan ini aku selalu bertanya, kenapa Yifan tidak bisa mencintaiku seperti aku mencintainya? Padahal, dia tinggal bilang maka aku pasti berubah menjadi gadis ideal yang dia inginkan, Tiffany. Kalau dia mau aku ada di sana, setiap minggu pun aku rela pergi kesana” seketika dada Tiffany dibuat sesak mendengarnya. Gadis bermarga Jung itu selalu memasang wajah dingin pada dunia, Yifanlah yang selalu memperlihatkan cintanya tanpa pamrih. Dia tidak pernah tahu kalau Jessica sebegitu dalamnya  mencintai Yifan.

oh my god, Jessica……..”

“kendati begitu, aku bukanlah pelabuhan terakhir hatinya, Tiffany. Aku rasa, dia juga sadar akan hal ini. Tetapi, Yifan itu pemuda paling baik yang pernah ku kenal, dia tidak mungkin mengucapkan kata putus. Separah apapun hubungan ini. Akulah yang harus melakukannya”

“Jess, kau yakin?”

“tentu tidak” balas Jessica sambil tertawa kecil. Ada rasa sakit dibalik tawa itu. “tapi aku tidak mau menjadi pembatas bagi kebahagiannya. Siapa tahu setelah hubungan kami berakhir, dia bisa mendapati seseorang yang bisa memberikannya kebahagian lebih dari yang ku lakukan”

“you’re the best, jess. Trust me.”

“astaga Tiffany, apa jadinya aku tanpamu, huh?”

yeah, mungkin kau sudah terjun bebas dari jembatan Mampo” candanya mengahasilkan derai tawa kami untuk kedua kali.

“terima kasih karena mau menjadi pendengar di jam sepagi ini, Tiff. Aku akan segera bicara dengan Yifan. Hanya menunggu waktu yang tepat saja”

 

“aku juga akan bicara padanya”

 

“jangan terlalu kasar padanya, oke?”

 

“tidak janji”

“Tiffany Hwang. Bagaimanapun Yifan pernah menjadi bagian paling penting di hidupku. Menyakiti Yifan sama saja dengan menyakitiku, sahabat baikmu ini”

“tapi dia selingkuh, Jessica. Jarak dia buat menjadi alasan. Sungguh tidak masuk akal! Dia bukan anak umur lima tahun. Harusnya dia tahu bagaimana menjaga kualitas hubungan kalian”

“hanya karena selingkuh satu kali bukan berarti mengubah persepsiku terhadapnya menjadi lelaki para buruk di dunia, Tiffany. Tidak berarti membuatku lupa akan kebahagaian yang selama ini dia limpahkan padaku. Yifan itu pemuda baik-baik. Sayang saja, lingkungan baru mengubahnya. Dia cuma butuh tambahan waktu untuk menyesuaikan diri”

Jessica memang keras kepala, namun yang tidak bisa dia terima adalah sahabatnya itu masih teguh pada pendirian bahwa Yifan seorang pemuda baik-baik setelah apa yang Yifan lakukan. Mereka mungkin sudah mengenal satu sama lain sedari kecil, tetapi ketika bicara mengenai cinta. Tiffany harus mengakui dia tidak tahu apa-apa tentang Jessica.

***

Jatuh cinta.

Mendengar dua kata itu langsung menimbulkan banyak persepsi dibenak setiap orang. Tiffany sendiri, hingga kini masih tidak mengerti analogi jatuh cinta. Bagaimana cara dua kata itu bekerja, mempengaruhi pikiran dan membuat akal sehat lenyap seketika.

Menilik dari berbagai pengalaman orang disekitarnya. Jatuh cinta seperti memiliki limit. Rasa manis menyengat di awal perlahan luntur, berubah menjadi pahit yang tak kalah menyengat.  Menurutnya ada cukup banyak alasan untuk tidak jatuh cinta sampai Jessica memberikannya satu alasan kenapa harus jatuh cinta, yang berhasil mengingatkan bahwa dia pernah jatuh cinta.

Dua hari setelah panggilan dini hari itu, Tiffany mendapati panggilan dari Jessica. Kali ini saat matahari baru setengah menenggelamkan diri. Dia berdiri di bibir beranda, menikmati proses bergantian tersebut. Ponselnya menempel di telinga bagian kanan.

“kami resmi putus”

“haruskah ku ucapkan selamat?”

“sepertinya aku harus mencari sahabat baru” balas Jessica sinis.

“coba saja kalau bisa. Siapa sih yang mau meladeni gadis kepala batu sepertimu selain aku?”

“Wu Yifan?”

“oh berhenti menyebut namanya, Jessica Jung. Aku muak” protesnya dan entah mengapa dia jadi merasa seperti dia lah yang diselingkuhi Yifan bukannya Jessica.

“kau sudah bicara padaya, Tiff?”

“belum. Aku masih menunggu dia menghubungiku duluan dan jika dalam tiga hari ke depan dia tidak, aku akan menghubunginya”

“ingat jangan terlalu keras padanya, ya”

“kau berkata seolah aku ini suami tempramental yang hendak mencekik leher anaknya” desis Tiffany memicu derai tawa Jessica menyeruak.  “seriously jess, aku masih tidak mengerti. Bagaimana bisa kau bersikap santai dan begitu optimis? Yifan patut disalahkan, kau tahu. Seandainya dia tidak selingkuh, kalian tentu masih bersama hingga detik ini”

“aku tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Kau harus mengalaminya sendiri” Tiffany yakin di seberang sana, sahabatnya itu sedang mengulum senyuman.

“dengan jatuh cinta? Oh tidak. Aku punya cukup banyak stok alasan untuk tidak jatuh cinta”

“aku punya satu alasan yang bisa meruntuhkan semua alasanmu”

“katakan” tantangnya. Memandang bola api  besar yang kini sudah tinggal separuh tenggelam.

 

“jatuh cinta terkadang meninggalkan luka mendalam. Susah untuk dilupakan. Namun, jatuh cinta berhubungan dengan hati, ketika kau jatuh cinta hatimu akan melakukan apapun, bahkan sampai menomorduakan logika. Ketika kau jatuh cinta, tidak masalah bila setelahnya harus menangis, merasakan perih berkepanjangan, asalkan bisa menikmati bahagia jatuh cinta yang hanya bisa di rasakan dalam hitungan detik. Karena, jatuh cinta adalah hal paling nikmat yang pernah Tuhan ciptakan, Tiffany”

Sungguh dia kehilangan kata-kata.

Sebelumnya tidak ada yang pernah menjabarkan jatuh cinta segamblang ini padanya dan dia tidak pernah menyangka penjelasan ini di tuturkan Jessica Jung. Gadis yang terkenal karena wajah tanpa ekspresi. Jika Jessica saja bisa mengerti sebegitu detail mengenai jatuh cinta, kenapa dia tidak?

Maka dia mulai memutar ulang kumpulan ingatannya, mencongkel-congkel memori ketika dia pernah merasakan jatuh cinta dan yang muncul adalah Byun Baekhyun. Pemuda pendek pemilik senyuman paling manis sejagad raya. Vokalis utama boy grup EXO.

Ya. Tiffany pernah tergila-gila pada pemuda bersuara emas itu. Rela menghabiskan uang tabungan guna di belikan album EXO, sabar mengantri bersama tubuh-tubuh manusia lain demi mendapat segores tanda tangan, satu kalimat sapaan juga seulas senyuman. Semua dia rasakan penuh suka cita, menyampingkan fakta setibanya di rumah ibunya akan mengamuk, lalu kemudian dia akan  diseret menuju ruang tamu, mendengar nasihat sang ibu selama satu jam penuh. Seandainya saja ibunya tahu, kala itu dia tidak mendengar barang satu katapun yang ibunya ucapkan. Akal sehatnya sudah dirampas oleh Byun Baekhyun.

“ah Byun Baekhyun!” katanya. Ada nada riang yang keluar bersamanya.

“Byun Baekhyun?”

“Yup. Byun Baekhyun. Aku pernah merasakan jatuh cinta padanya!”

“Byun Baekhyun, member boy band EXO itu?”

“Bingo!”

“astaga, kau gila Tiffany”

“hei! Kau tidak ingat apa pengorbananku demi bertemu dengannya! Aku rela tidak belanja seminggu penuh dan di hukum tidak boleh ke luar rumah oleh ibu!” protesnya tidak terima Jessica menyepelekan cintanya pada Byun Baekhyun.

“itu namanya mengagumi. Bukan jatuh cinta, bodoh”

“jatuh cinta” balasnya tak mau kalah.

“kau gila” suara yang terdengar datar. Kalau saja mereka tengah berhadapan pasti Jessica memberinya tatapan paling dingin.

“karena aku jatuh cinta. Oh Byun Baekhyun ~” sahutnya menyanyikan kalimat terakhir. Jessica nyaris menekan tombol mengakhiri panggilan.

 

“kau harus segera mencari kekasih, Tiffany Hwang. Pilih yang bisa meladeni omong kosongmu tentang Byun Baekhyun. ups, terdengar mustahil” sambarnya sinis.

“jangan khawatir, Jess. Aku akan menikahi Byun Baekhyun”

“baiklah, aku selesai denganmu. Jangan hubungi aku lagi sampai kau mengenyahkan obsesimu terhadap Byun Baekhyun”

“atau sampai aku berhasil mengencaninya?”

 

“atau sampai kau mengirimkan undangan pernikahan kalian”

“tentu, Jessica! Kita lihat nanti”

“yeah, kita lihat nanti” dan kali ini Jessica benar-benar menekan tombol ‘end’ tidak mau mendengar lebih banyak ocehan tentang Byun Baekhyun.

Disisi lain, matahari sudah sepenuhnya tenggelam, di gantikan sepotong bulan yang merangkak naik ke langit. Mensejajarkan posisinya dengan hamparan bintang-bintang. Tiffany Hwang tersenyum lebar-lebar sambil menatap ke atas langit. Perkataannya tadi itu memang terdengar konyol. Kendati begitu, seperti yang Jessica bilang jatuh cinta itu menghilangkan akal sehat. Sama seperti Jessica yang mau mencoba mempertahankan hubungannya bersama Yifan meskipun ada ribuan jarak membentang di antara mereka.

Dia juga setidaknya ingin mencoba.

Karena jatuh cinta bukanlah tindakan kriminal.

Karena jatuh cinta tidak pernah memilih kepada siapa dia bersandar.

Karena jatuh cinta selalu akan menuntunmu pada pelabuhan yang tepat.

.

.

.

.

.

.

.

Dan lima tahun kemudian Jessica Jung mendapati sebuah undangan berwarna pink menyembul dari balik kotak suratnya. Kedua bola matanya di buat hampir meloncat keluar dari rongga membaca deretan huruf hangul yang di tulis menggunakan tinta hitam.

Byun Baekhyun

Tiffany Hwang

Seakan undangan itu belum cukup, pada halaman belakang undangan dia menemukan secarik kertas yang sengaja di tempelkan. Jessica tahu betul siapa pemilik tulisan tangan itu.

Jessica! Aku menepati janjiku kan? Memang butuh waktu lama sih, tapi itu lah jatuh cinta. Membutuhkan waktu, tidak bisa instan. Jangan lupa untuk datang ya! Akan ku batalkan pestanya tanpamu!  

P.S: oh ya Jess satu lagi, jatuh cinta itu konyol.

Much love from your best friend ever,

 

Tiffany Hwang

 

—END—

A/N:  because long distance relationship never work on me. And this, I don’t have an idea why end up like this…..that byun baekhyun always show up everytime I write so, forgive me will ya? please jangan jera baca tulisanku yang suka ngelantur yak! daaan disini ada yg suka ff genre keluarga gak? aku buat satu nih sayangnya ga bisa di post disini karena……. bukan exoshidae ;-; kalo ada yang penasaan tinggal klik ini aja yah! much love – Genie.

Advertisements

24 thoughts on “Adelaide Sky

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s