Our Love – Part 3

our-love-asriwljng2

Title : Our Love

 Author : asriwljng

Length : Chapter (4.698 words)

Rating : General

Genre : Romance, Family, Sad

Main Cast :

–          Jessica Jung

–          Kris Wu

Other Cast : Find it by your self^^

Disclaimer : FF ini asli punyaku, jika ada kesamaan alur cerita dengan FF lain itu karna tidak kesengajaan.

BEWARE OF THE TYPO(s)!

***

Author POV

Kris membuka pintu kamar hotel mereka dan segera masuk ke dalam di ikuti oleh Jessica di belakangnya. Dia meletakkan kedua koper yang tadi dia bawa di dekat pintu kamar hotelnya. Lalu Kris langsung menghempaskan badannya di sofa hotel ini. Sedangkan Jessica, langsung masuk ke dalam kamar mandi karena tiba-tiba dia kebelet pipis.

Kris menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Entah kenapa dia bisa mengatakan bahwa dia adalah suami Jessica kepada Luhan dan Yuri tadi. Seharusnya dia ikut berbohong saja mengikuti Jessica, mengatakan bahwa dia saudara Jessica. Mungkin Kris ingin membuktikan perkataannya saat di basement malam itu, saat dia mengataka bahwa dia akan mendapatkan pengganti Yuri yang lebih baik.

Kris juga dapat melihat Yuri yang terlihat begitu rapuh saat bersama Luhan, berbeda saat Yuri bersama Luhan malam itu, saat Yuri terlihat sangat bahagia. Kris tidak peduli lagi tentang Yuri walaupun sebenarnya dia masih sangat mencintai Yuri. Mantan kekasih yang bertahan paling lama dengannya selama 2 tahun.

Jessica lalu keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang berbeda, lebih santai. Dia menggunakan kaus putih yang longgar dan hotpants berwarna hitam yang hampir tidak terlihat akibat kaus kebesarannya itu. Siapa pun dapat melihat paha putih mulus Jessica yang bisa membuat semua lelaki terdiam. Seperti Kris saat ini.

***

Jessica POV

Aku keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah berbeda. Tadi aku keluar dari kamar mandi untuk mengambil pakaian di koper ku, tapi karena Kris sepertinya sedang memikirkan sesuatu, jadi dia tidak menyadarinya. Aku berniat untuk keluar dari kamar hotel ini dan ingin bermain di pantai yang dekat dengan hotel ini.

Aku tidak peduli kalau aku sangat lelah dan sangat butuh tidur untuk meluruskan tubuh ku, tapi saat aku melihat deburan ombak di bawah sana, aku rasanya ingin sekali bermain di pantai itu atau sekedar berjalan-jalan sore di sekitar pantai itu.

“Kris, aku ke pantai yang di dekat hotel ya. Jangan mencari ku, jangan menelfon ku, karena percuma saja. Aku tidak membawa ponsel ku. Good bye!

Lalu aku mengambil sendal yang masih berada di koper ku, lalu memakainya dan cepat-cepat keluar dari kamar hotel ku. Aku sudah tidak sabar lagi! Sudah lama juga aku tidak ke pantai, sekitar 6 bulan yang lalu ku rasa.

“Aku ikut.” Ucap Kris sambil berdiri dari duduknya.

“Jangan! Nanti kau merusak mood ku. Pokoknya jangan, kalau ingin pergi juga tidak apa, tapi jangan ke pantai. Karena nanti aku bisa melihat wajah mu. Aku malas. Ah sudahlah, selamat tinggal!” aku langsung keluar dari kamar hotel ini dan memasuki lift yang berada tepat di depan kamar ku, dan kebetulan sekali liftnya sedang terbuka.

Aku tadi juga dapat mendengar helaan nafas dari Kris. Mungkin dia lelah dengan sikap ku. Terlalu cuek mungkin? Aku tidak peduli, ini salahnya kenapa menerima perjodohan gila ini, dan itu lah sebabnya menerima perjodohan ini. Aku memperlakukannya seperti tidak mengenalnya sama sekali. Dan aku membiarkannya melakukan hal apapun yang dia suka, berselingkuh pun juga tidak apa. Sudah ku bilang, aku tidak peduli, kan?

Aku memencet tombol lobby di lift ini. Lalu lift ini mulai turun menuju lantai tujuan ku. Suara dentingan khas lift terdengar dan aku langsung keluar dari dalam lift ini ketika pintu lift sudah terbuka. Begitu aku keluar dari hotel ini, udara segar langsung menyerbuku. Rambut ku yang sengaja tidak di kuncir berkibaran.

Aku menunduk saat mendengar beberapa turis asing bersiul ke arah ku. Menyeramkan, apa orang asing memang selalu seperti itu, ya?

Setelah berjalan sekitar 10 menit, aku langsung sampai di pantai yang tadi terlihat dari kamar hotel ku. Tidak banyak orang yang datang ke pantai itu. Beberapa anak kecil berenang di tepian laut menggunakan ban dan itu semakin membuat mereka lucu. Tapi sebenarnya aku sama sekali tidak suka dengan anak kecil, karena aku pusing sekali jika mendengar mereka sudah menangis. Rasanya kuping ku ingin ku lepas saja dari tubuh ku.

Aku berjalan menyusuri sekeliling pantai ini, aku melepas sendal ku agar dapat merasakan pasir yang menyentuh kaki ku dengan lembut. Aku melihat sekeliling pantai ini, ternyata ada juga orang yang sedang surfing, sudah lama sekali aku tidak surfing. Aku rindu bermain surfing, namun sepertinya tidak untuk sekarang.

Mata ku menangkap sesosok lelaki yang sedang berjalan ke arah ku, aku menghampiri lelaki itu yang kebetulan sedang sendiri. Dia adalah Luhan, dan dia tidak bersama Yuri sekarang. Jadi ku rasa aku bisa bertukar rindu bersamanya dengan sedikit bebas, karena tidak ada yang menganggu.

“Luhan!” aku berteriak memanggilnya, dia membalikkan badannya ke belakang dan langsung tersenyum lebar ke arah ku. Aku berlari kecil menghampirinya. Aku merasa seperti sedang syuting untuk film, karena aku berlari sambil angin menerpa rambut ku dan membuat rambut ku berkibaran. Lupakan.

“Sendiri saja?” tanya Luhan sambil matanya mencari-cari seseorang.

“Iya, memangnya mau dengan siapa lagi?” aku menjawabnya sambil meneruskan langkah kami. Aku dapat mencium jelas aroma tubuh Luhan, wanginya tidak berubah sejak dulu. Dan ini salah satu favorit ku dari Luhan, aroma tubuhnya.

“Suami mu?”

Ugh, please. Jangan sebut dia suami ku. Aku benci mendengarnya. Dan ya, uhm aku juga sedikit malu.”

“Malu kenapa?”

“Karena aku bertemu dengan cinta pertama ku setelah bertahun-tahun tidak bertemu, lalu saat betemu malah aku sudah menikah. Sounds like, ugh memalukan.”

Luhan hanya tertawa mendengar ucapan ku. Itu benar, walaupun sedikit berlebihan. Tapi aku memang malu. Luhan saja masih berpacaran, sedangkan aku sudah menikah. Aku dan Luhan diam dan terus melanjutkan langkah kami. Sampai akhirnya kami menemukan sebuah cafe yang menjual kopi dan dessert.

“Lu, aku ingin kesana. Aku sedikit lelah. Ikut, ya?” aku menunjuk cafe itu dan tanpa menunggu persetujuannya, aku langsung menarik tangannya memasuki cafe itu. Aroma kopi langsung menyeruak memasuki indra penciuman ku saat membuka pintu cafe ini. Ugh, betapa aku sukanya dengan aroma kopi.

“Kesukaan mu tidak pernah berubah, ya?” tanya Luhan saat kami selesai memesan minuman kami di kasir. Aku tertawa kecil dan mengangguk. Ternyata Luhan masih ingat kopi kesukaan ku sampai sekarang, vanilla latte. Entahlah aku juga bingung kenapa aku sangat suka minuman itu, padahal itu hanya kopi yang bisa di bilang biasa jika di bandingkan dengan kopi yang lainnya.

Aku menyerahkan uang 50 ribu kepada kasir itu. Oh, dan tentu saja aku sudah menukar beberapa uang ku menjadi rupiah ketika di bandara tadi. Karena kalau tidak, aku tidak dapat membeli apapun. Setelah petugas kasir itu memberikan kembalinya kepada ku, pesanan ku dan Luhan telah jadi. Luhan mengambil nampan yang berisi pesanan kami dan kami meninggalkan tempat kasir itu mencari tempat yang kosong.

“Disana!” aku menunjuk bangku kosong yang berada di pojokkan cafe ini. Sepertinya saat bertemu Luhan, kebiasaan ku dengannya dulu terulang lagi. Saat kami sedang kencan ke cafe, kami selalu memilih tempat di pojokkan. Karena tidak banyak orang yang dapat melihat kami dan mendengar pembicaraan kami.

Luhan lalu meletakkan nampan tadi di atas meja kayu ini. Aku mengambil minuman ku dan mulai meminumnya.

“Jadi, bagaimana kabar mu selama ini, Lu?” aku memulai pembicaraan di antara kami.

Luhan berdehem sebentar sebelum menjawab pertanyaan ku, menjernihkan suaranya, “Baik, kau bagaimana?”

“Well, seperti yang kau lihat sekarang.”

“Antara baik dan tidak? Benar?”

Aku mengangguk. Luhan memang tahu betul tentang ku. Yeah, karena kami berhubungan cukup lama dulu, hampir 2 tahun. Lama, bukan? Walaupun saat itu hanya cinta monyet. Kami terdiam cukup lama, sepertinya tidak bertemu selama beberapa tahun membuat kami jadi canggung memulai pembicaraan. Padahal dulu kami mengobrol tentang apa saja, hal yang tidak penting saja kami bicarakan dan berakhir menjadi pertengkaran kecil.

“Ah, aku jadi canggung bertemu dengan mu, Jess. Mungkin karena kau sudah memiliki suami?” Luhan menggoda ku sambil mengedipkan satu matanya. Aku memajukan bibir ku, pertanda tidak suka dengan ucapannya. Dia hanya tertawa, lalu kami mulai mengobrol tanpa ada rasa canggung sama sekali.

***

Kris POV

Aku hanya berdiam diri di dalam kamar hotel ini tanpa melakukan hal apapun. Sungguh aku sangat bosan, namun karena Jessica menyuruh ku untuk berdiam di sini, dan tidak tahu juga aku ingin kemana, jadi aku hanya menetap di dalam kamar hotel sambil sesekali menonton acara televisi di kamar hotel.

Aku mengecek jam di ponsel ku, sekarang sudah jam setengah 6 sore, dan Jessica belum pulang juga. Ini sudah 2 jam setelah dia pergi. Kemana dia? Tidak mungkin ada seseorang yang ingin menculiknya, dia keras kepala seperti itu. Aku mengambil ponsel ku dan mengetik beberapa kata untuknya, namun saat ingin mengirim pesan itu, aku baru ingat dia tidak membawa ponselnya. Buktinya, ponselnya tergeletak di atas kasur begitu saja.

Aku memutuskan keluar untuk mencarinya. Repot jika dia hilang, dan saat kembali ke Korea nanti pasti ibu dan ayahnya akan menyalahkan ku karena tidak becus menjaga Jessica dengan baik. Sebelum pergi, aku mengganti pakaian ku terlebih dahulu, karena sedari tadi aku memang belum melakukan apapun selain menonton.

Aku mengganti pakaian ku menggunakan kaus hitam polos dan celana jeans berwarna biru gelap yang panjangnya sampai lutut ku. Lalu segera keluar dari kamar hotel ini untuk mencari Jessica.

***

Hell! Dimana gadis itu? aku sudah mencarinya selama 15 menit di sekitar pantai ini namun aku tidak dapat melihatnya. Apa mungkin dia di culik? Atau tenggelam di laut sana? Bodoh, tidak mungkin. Aku menghela nafas dan menendang pasir sembarangan.

“Ah!” suara pekikkan seseorang terdengar setelah aku menendang pasir-pasir itu. Sial, apa dia kena pasir itu? Gadis itu menengok kebelakang untuk mengetahui siapa yang telah menendang pasir ke arahnya, aku memasukkan kedua tangan ku ke dalam saku jeans ku dan berlagak seperti tidak tahu menahu tentang pasir itu.

“Kris, aku tahu kau yang melakukannya.” Aku menoleh terkejut setelah gadis itu selesai mengucapkan kata-kata itu. Ajaib! Kenapa dia bisa tahu nama ku, ya? Tapi aku merasa familiar dengan namanya. Aku tidak dapat mengenali gadis itu karena beberapa rambutnya yang terkena angin menutupi wajahnya.

“Kau siapa?” kau bertanya dengan heran sambil berjalan mendekati gadis itu.

“Aku Yuri.” Yuri membenarkan rambutnya yang menutupi wajahnya dan segera menguncir rambutnya dengan asal-asalan. Jika aku masih menjadi kekasihnya, mungkin aku langsung mengomel kepadanya karena menguncir rambut dengan asal, karena akibat kunciran yang asal-asalan itu bisa membuat rambut mu kusut.

“Oh, hai.” Ucap ku datar setelah selesai memperhatikan rambutnya itu. Dia tersenyum kecil dan langsung duduk di atas pasir ini. Aku tetap berdiri sambil mata ku terus memandang lurus kedepan.

“Tidak ingin duduk?” tanya Yuri, wajahnya mendongak menatap ku dari bawah. Aku memandangnya sekilas dan menggeleng.

“Kris, aku rindu pada mu.” Yuri mengucapkannya sambil menatap wajah ku dari bawah lagi, aku tersenyum miris mendengarnya, aku juga merindukannya. Sangat malah. Tapi dia sudah menyia-nyiakan ku. Aku hanya menjawab dengan suara deheman. Yuri hanya menghela nafas, dia hanya diam tanpa mengucapkan satu kata pun. Mungkin dia tahu kalau mood ku tiba-tiba menjadi buruk.

Saat aku ingin meninggalkannya, suaranya yang lembut itu memanggil ku, dan membuat ku langsung menengok ke arahnya. “Aku bisa menjelaskan semuanya.” Ucapnya dengan nada memohon pada ku, dan dia memasang wajah memelasnya pada ku.

“Maaf, tapi aku harus mencari Jessica yang belum pulang sedari tadi. Aku juga tidak peduli lagi dengan alasannya. Ingat, aku sudah menikah.” Aku langsung meninggalkannya yang terdiam mendengar kalimat terakhir ucapan ku. Dia tidak punya harapan apa pun lagi pada ku, benar kan?

Aku menghampiri cafe yang berada di sekitar cafe ini, lalu memesan kopi hangat untuk ku. Saat aku sedang menunggu pesanan ku jadi, aku melihat seorang gadis sedang tertawa bersama lelaki di pojok cafe ini. Aku memperhatikan gadis itu. I got you, Jess.

“Ini pesanan anda.” Pelayan itu memberikan kopi pesanan ku kepada ku, aku mengambilnya dan segera menghampiri Jessica yang sedang bersama Luhan, kekasih Yuri sekarang. Kenapa Luhan suka merebut yang sudah menjadi milik ku? Tidak ada perempuan lain, ya?

***

Jessica POV

Aku tertawa sambil berusaha untuk mengecilkan suara ku, padahal aku dan Luhan hanya membicarakan tentang masa SMP kami, tapi kenapa aku tertawa? Padahal hal yang lucu juga sepertinya tidak lucu sama sekali. Mungkin ini efek karena aku rindu padanya. Kami juga membahas tentang beberapa kejadian lucu dalam hubungan kami.

Itu sangat memalukan. Kenapa Luhan masing mengingatnya? Aku kan sudah lupa dengan itu, tapi Luhan membahasnya dan aku kembali mengingat hal memalukan itu.

Seseorang meletakkan gelas kopinya di atas meja ku dan Luhan. Aku mendongak menghadap orang itu dan langsung menemukan Kris sudah berdiri dengan wajah datarnya. Untuk apa dia kesini? Dia menganggu sekali, padahal aku dan Luha sedang asik mengobrol meningat masa lalu.

Jess, let’s go back to our hotel. Ibu mu tadi menelpon dan menanyakan diri mu. Aku bingung harus menjawab apa.”

“Bilang saja pada ibu aku pergi. Kenapa sepertinya susah sekali?” aku menjawabnya dengan ketus. Kris menghela nafas lalu langsung menarik ku keluar dari cafe ini. Beberapa pengunjung cafe menatap kami heran, lalu kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Kenapa sih dia suka sekali menarik ku seperti ini?

***

Aku dan Kris sudah sampai di kamar hotel kami. Tanpa mengucapkan satu kata pun kepada Kris, aku mengambil pakaian ku di koper dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badan ku ini. Selama aku mandi, aku memikirkan kegiatan yang akan besok ku lakukan. Aku tidak tahu apapun tentang Bali, aku hanya tahu tentang pantainya. Lalu besok aku kemana, ya?

Aku keluar dari kamar mandi sudah dengan memakai pakaian ku, rambut ku terbungkus menggunakan handuk karena masih basah. Aku melihat Kris yang sedang tertidur di kasur, tapi letak kepalanya berada di kepala tempat tidur, memang tidur dengan posisi seperti itu enak, ya?

Aku menaikkan kedua bahu ku tidak peduli dan mengambil ponsel ku. Lalu mencari tahu tentang tempat yang terkenal di daerah Bali. Tapi besok aku pergi dengan siapa? Kris? Ugh, aku tidak mau. Aku tidak ingin liburan ku di Bali rusak olehnya. Yeah, sebenarnya ini liburan dia juga.

***

Kris POV

Setelah kami kembali dari restoran hotel untuk makan malam, aku langsung merebahkan diri di kasur, lalu Jessica merebahkan dirinya di kasur juga bersama ku setelah keluar dari kamar mandi. Dia merebahkan dirinya di kasur ini seperti tidak menganggap ku ada. Padahal 2 hari yang lalu, dia ngotot sekali untuk menyuruh ku pisah kamar dengannya.

“Kau tidur di kasur ini?” tanya ku sambil menatap sisi kiri wajahnya. Cantik juga dia jika di lihat dari samping. Jessica hanya menjawab dengan gumaman singkat sambil terus memainkan ponselnya.

“Ya sudah, aku akan pesan extra bed untuk ku.” Ucap ku sambil mengambil telepon yang sudah di siapkan kamar hotel ini. Jessica langsung menengok ke arah ku, ada yang salah, ya?

“Apa?” tanya ku heran.

“Tidak. Ya sudah sana, pesan saja extra bed, aku kasihan pada mu jika tidak memesan extra bed dan tidur di samping ku, aku pastikan besok pagi kau sudah berada di lantai.” Jawabnya sambil mengibaskan tangannya, bermaksud untuk menyuruh ku cepat-cepat menelpon petugas hotel. Aku tersenyum melihatnya dan menggeleng.

Setelah menunggu sekitar 30 menit, petugas hotel itu datang sambil membawakan extra bed yang ku pesan, mereka meminta maaf karena telah membuat ku menunggu lama, alasannya karena hotel ini sedang ramai, dan banyak sekali yang meminta extra bed. Aku memaklumi dan memberikan mereka tip.

Aku melihat Jessica yang sudah ingin tidur, dia meletakkan ponselnya di meja kecil di samping kasur, lalu menyalakan lampu kecil agar tidak terlalu gelap.

“Hei, besok kau mau kemana?” tanya ku sambil merapikan kasur ku.

“Tidak tahu. Ada saran?”

Jimbaran Beach?

Sounds great. Nice dream, Kris.” Ucapnya lalu langsung menutup matanya. Tak lupa dia tersenyum kecil ke arah ku. Hei, ada apa dengannya? Aneh. Sikapnya sekarang berbeda, di mulai sejak tadi pagi saat kejadian di dapur, itu memang wajar, sih. Tapi aneh saja, padahal dia biasanya bersikap cuek pada ku, cuek sekali, bahkan terkesan dingin walaupun aku sudah mencoba bersikap baik kepadanya, dan, ehm belajar mencintainya.

Lalu tadi dia mengucapkan selamat malam yang menurut ku sangat manis, sangat manis untuk Jessica. Karena Yuri selalu mengucapkan seperti itu sebelum dia tertidur. Ugh, kenapa aku selalu membicarakan Yuri saat mengingat sikap manis Jessica? Apa aku masih mencintainya setelah di menyiakan ku?

Aku tersadar saat mendengar dengkuran halus Jessica. Dia pasti lelah sekali hari ini. Aku menghampirinya, lalu mengecup keningnya cukup lama, “Sweet dreams, Jess.”

***

Jessica POV

Aku langsung terbangun dari tidur ku saat merasakan sinar matahari yang memasuki kamar hotel ini melalui celah-celah jendela kamar ini. Aku mengerjapkan mata ku berkali-kali agar dapat menyesuaikan pengelihatan ku. Aku tidak bangkit dari tempat tidur ini karena aku terlalu malas, jadi aku hanya tiduran di kasur empuk ini.

Aku langsung bangkit dari duduk ku karena merasa nyawa ku sudah cukup terkumpul. Lalu aku berjalan ke arah kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan menyikat gigi. Entah ini benar atau tidak, semalam aku merasakan ada sesuatu yang menyetuh kening ku, dan mendengar suara seseorang. Apa itu Kris?

Aku menggeleng dan membersihkan mulut ku dari busa-busa penyebab sikat gigi. Lalu aku mengambil handuk kecil untuk mengeringkan wajah ku. Saat aku keluar dari kamar mandi, aku melihat Kris masih terlelap. Dia tidur di extra bed itu, menurut ku extra bed itu sama sekali tidak nyaman, dan malah akan membuat punggung Kris sakit karena lantai. Sepertinya aku harus menyuruhnya tidur di kasur bersama ku malam ini. Kasihan sekali dia.

“Kris, wake up!” aku menepuk bahunya cukup keras, namun dia belum bangun sama sekali. Apa dia begitu lelah sampai tidur semalaman tidak cukup?

“Hei!” aku menggoyangkan badannya kali ini, berharap dia akan segera bangun. Akhirnya dia bergerak juga.

Wake up, lazy boy.” Aku langsung berdiri dan merebahkan diri ku di kasur lagi. Aku segera mengambil ponsel ku dan mencari tahu tentang Pantai Jimbaran, usulan Kris semalam.

“Jam berapa sekarang, Jess?” tanya Kris dengan suara seraknya. Oh gosh, suaranya sangat sexy saat baru bangun seperti itu. suaranya yang memang sudah berat dan serak saat baru bangun tidur.

“Jam 8, kenapa?”

“Sepertinya kita harus siap-siap untuk pergi ke pantai. Aku mandi dulu. Setelah itu kau. Got it?” ucapnya memerintah ku layaknya aku itu adalah gadis kecilnya, gadis kecil yang maksud ku anaknya. Aku mengangguk dan menyuruhnya cepat masuk ke dalam kamar mandi.

“Tidak ingin mandi bersama?” tanyanya sambil memperlihatkan wajahnya di balik pintu kamar mandi.

“Hei!” aku mendengus kesal, pasti wajah ku sudah memerah sekarang. Aku baru tahu ternyata dia suka menggoda seperti itu. Dan kurasakan jantung ku lebih cepat dari biasanya. Aku meyakinkan diri ku sendiri untuk tidak mencintainya, karena tidak akan pernah terjadi di dalam hidup ku untuk mencintai Kris.

***

Kris POV

Aku menunggu Jessica selesai mandi sambil memainkan ponsel ku, mencari tahu tentang Pantai Jimbaran. Sebenarnya, aku juga tidak tahu menahu  tentang pantai itu, namun kata Sehun–sahabat ku, tempat itu sangat bagus dan sepi. Jadi bagus untuk pergi berdua dengan kekasih. Setelah melihat gambaran tentang pantai itu, ucapan Sehun memang benar. Pantai itu bagus dan sepi.

Lalu aku mencari-cari lagi tempat yang bagus di Bali, yang terkenal. Lalu aku menemukan tempat Bali Bird Park, entahlah itu tempat apa. Yang pasti itu tempat berkumpulnya burung, karena sudah ketahuan karena nama tempatnya. Apa disana banyak sekali jenis-jenis burung? That must be amazing, dude.

Jessica keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian perginya. Tapi rambutnya masih basah, dan aku harus menunggu sampai rambutnya kering baru kami akan pergi. Mungkin lebih baik pergi ke Bali Bird Park terlebih dahulu, baru ke pantai. Karena pantai di Bali saat sore pasti keren. Dan bisa melihat sunset dengan jelas.

“Jess?” panggil ku. Dia hanya menolehkan kepalanya ke arah ku dan sibuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer miliknya itu.

“Bagaimana kalau ke pantainya sore saja? Biar bisa melihat sunset dengan jelas, la–“

“Lalu sekarang kita ngapain?” ucapnya tidak terima. Bahkan dia langsung menoleh ke arah ku sambil menatap ku kesal. Aku menunjukkan wajah datar ku, dia langsung tersenyum kikuk.

“Aku kan belum selesai berbicara, Jess.”

“Okay, lanjutkan.”

“Jadi, kita akan ke Bali Bird Park. Itu temp–“

“Oh aku tahu! Itu bagus! Baiklah kita kesana. Aku akan cepat!”

Dua kali, hari ini dua kali dia memotong pembicaraan ku, padahal sebelumnya tidak pernah, malah dia selalu mendiamkan ku bicara. Dia lagi kenapa, sih? Sikapnya dua hari belakangan ini aneh. Ada racun di tubuhnya, ya? Aku menggeleng, pikiran ku memang gila seperti ini. Tidak ada yang tahu kecuali teman terdekat ku, bahkan keluarga ku tidak ada yang tahu.

Okay, i’m done!” ucapnya langsung bangkit dari tempat duduknya. Dia sudah rapi, bahkan dia sudah memakai make upnya yang tipis itu. Berarti aku lama sekali melamun sampai dia sudah selesai bersolek.

***

Kris POV

Aku dan Jessica tersenyum singkat kepada pegawai hotel yang memberi salam singkat kepada kami saat berjalan di lobby, sebenarnya mereka tidak hanya memberi salam kepada kami saja, tapi kepada semua pengunjung hotel, salah satu syarat dalam pekerjaan. Kami menaiki taksi yang sudah stand by di depan hotel ini, mereka mungkin memang sudah di sewa oleh hotel ini, aku tidak tahu juga.

Aku mengucapkan tujuan kami kepada supir itu setelah masuk ke dalam taksi. Jessica hanya memandang jalanan daerah Bali dengan wajah datarnya itu. Memang sudah biasa, ekspresi wajahnya sangat datar, sama seperti ku.

“Ya, bu?”

Suara Jessica terdengar, rupanya dia sedang mengangkat telfon dari ibunya. Jessica hanya menjawab seadanya dan menyebutkan tujuan kami hari ini. Lalu Jessica menutup sambungan telfonnya dan meletakkan ponselnya kembali ke dalam tasnya.

“Ibu mu bilang apa?”

“Dia menanyakan kabar kita, menanyakan tujuan kami hari ini, lalu dia menitip oleh-oleh.” Jawab Jessica tanpa menatap wajah ku, mungkin pemandangan jalanan kota Bali lebih menarik dari ku.

***

Aku dan Jessica berjalan mengikuti pemandu ini sambil melihat-lihat burung-burung yang di rawat dengan baik oleh tempat ini. Burung-burung disini sangat cantik, dan berbagai macam jenis burung ada disini. Jujur saja, aku tidak begitu suka dengan burung. Aku tidak suka mendengar kicauan mereka yang sangat berisik menurut ku. Namun entah kenapa rasanya aku biasa saja di dalam tempat ini walaupun kicauan burung tidak berhenti sedari tadi.

Jessica sedari tadi juga memotret beberapa burung disini yang menurutnya menarik, tapi dia selalu menolak jika ditawarkan untuk meletakkan burung itu di bahunya atau di lengannya. Aku baru tahu Jessica penakut, ku pikir dia gadis yang tangguh, tangguh yang maksud ku tidak takut hal seperti ini.

“Masih tidak ingin mencoba meletakkan burung itu di bahu mu?” tanya ku kepada Jessica. Dia memberikan death glarenya pada ku. Aku tertawa kecil dan mengacak rambutnya pelan. Kurasa aku sudah bisa melakukan kontak fisik dengannya, walaupun bukan kontak fisik yang, uhm you must know, guys.

Akhirnya kami selesai mengelilingi tempat ini, dan kami berterima kasih kepada pemandu kami tadi karena sudah menjelaskan semuanya dengan jelas kepada kami.

“Langsung ke pantai? Aku lapar, Kris.” Jessica terduduk dengan lemas di salah satu bangku kayu di sekitar sini. Aku melihat jam di tangan ku, ternyata ini memang  sudah melewati jam makan siang 30 menit, pantas saja Jessica sudah lapar. Kami tadi juga tidak sempat sarapan. Duh, bodohnya aku.

“Oh, maaf. Tadi aku lupa mengajak mu sarapan. Ayo makan. Kau mau makan apa?” aku tersenyum kikuk kepada Jessica. Dia mencibir dan langsung berpikir.

“Makanan khas Bali. Sepertinya enak. Tapi dimana?”

Aku melihat sekeliling ku, disini ada beberapa toko baju, toko oleh-oleh, namun aku tidak melihat satu pun restoran makanan khas Bali disini. Kasihan dia jika harus mati kelaparan sekarang ini.

There!” ucap Jessica bersemangat sambil menunjuk satu restoran di arah barat kami.

“Okay, let’s go.” Ucap ku sambil merangkul Jessica. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada ku, sejak semalam aku sudah berani menyentuhnya. Mungkin aku salah makan saat makan malam di restoran kemarin.

***

Jessica POV

Aku bingung dengan perilaku Kris sejak tadi pagi. Saat ingin mandi, dia menggoda ku. Saat di taman burung itu, dia mengacak rambut ku. Dan kini, dia merangkul ku erat seperti tidak ingin kehilangan ku. Sebenarnya ini hal yang wajar karena kami memang sudah memiliki ikatan. Ikatan secara paksa. Tapi ini aneh saja menurut ku, dia sudah berani melakukan kontak fisik dengan ku. Yeah, memang seharusnya lelaki lebih berani melakukan kontak fisik seperti ini. Mungkin dia sudah menyukai ku, oh tapi tidak mungkin, itu terlalu cepat. Apa lagi lelaki seperti Kris.

Pegawai restoran yang bertugas untuk membukakan pintu untuk pengunjung membukakan pintu kepada kami dan mengucapkan selamat datang meggunakan bahasa Indonesia. Aku hanya memberikan senyuman tipis padanya.

Kami mencari tempat di dalam restoran ini, dan karena kebetulan restoran ini cukup ramai, kami mendapat tempat duduk di pojokkan restoran ini. Mereka tahu posisi kesukaan ku ternyata.

Setelah kami duduk, seorang pelayan mendatangi meja kami.

“Selamat datang, apa yang ingin kalian pesan?” ucapnya dengan bahasa Inggris yang fasih, mungkin banyak turis asing yang datang kesini, jadi persyaratan bekerja disini harus bisa berbahasa Inggris. Ah sudahlah, kenapa aku jadi memikirkannya?

“Aku memesan 2 hidangan yang berbeda tapi yang paling favorit disini. Minumannya ice tea saja. Terima kasih.”

“Baiklah, kalian bisa menunggu beberapa menit. Jika ada yang di perlukan, kalian bisa memanggil saja atau pelayan yang lain.” Ucap pelayan itu dengan sopan dan langsung meninggalkan meja kami. Aku memandangi luar jendela ini, kebetulan kami mendapat tempat di pojok yang tepatnya berhadapan dengan pemandangan belakang restoran ini.

Hanya taman biasa saja sebenarnya, namun dekorasinya yang membuat ku betah memandanginya. Ada beberapa orang yang sedang mengatur taman itu. Mungkin tempat ini akan di sewa dan diadakan di taman ini.

“Ponsel mu bergetar, Jess.” Ucap Kris mengagetkan ku. Aku langsung mengambil ponsel ku dan membuka pesan singkat yang di kririm kan kepada ku.

Unknown number. Siapa ya?

To: Jessica.

Ada waktu luang malam ini? Kalau ada, mau temani aku jalan? Luhan.

Oh ternyata Luhan. Aku tidak tahu akan ada waktu luang atau tidak, sekarang saja ini sudah jam 1 siang, dan kami belum ke pantai. Mungkin sampai di hotel bisa saja jam 6 sore atau lebih. Dan pasti aku sangat sangat lelah dan langsung tertidur begitu sampai di kamar hotel.

To: Luhan

Maaf, aku tidak bisa menemani mu pergi, Lu. Aku sedang pergi dengan Kris, Mungkin besok?

Ada rasa kecewa juga sebenarnya saat aku menolak pergi bersamanya. Tapi seharusnya Luhan yang kecewa, bukan aku. Aneh memang. Dan kenapa Luhan tidak meminta Yuri untuk menemaninya jalan? Mungkin mereka sedang bertengkar, tidak tahu lah.

“Hei, Kris. Ini bagus, kan? Lihat lah, warna bulunya sangat keren. Hitam, hijau, biru, dan kuning. Warnanya sangat nyentrik.” Ucap ku sambil menunjukkan foto burung itu kepada Kris, aku lupa nama burung ini apa. Pemandu tadi menjelaskannya dengan cepat sekali.

“Bagus, sih. Tapi aku lebih suka dengan burung yang berwarna merah, kuning, dan hijau itu. Apa ya nama burung itu?”

“Pokoknya, ini yang paling bagus. Aku akan mencetaknya dan menempelkannya di dalam kamar ku.” Ucap ku asal dan meletakkan kembali ponsel ku di atas meja.

“Yang benar saja? Nanti jika burung itu keluar dari fotonya dan memakan mu bagaimana? Kau aneh.”

“Tidak mungkin! Dan yang benar, kau lebih aneh daripada ku.”

Kami diam karena pesanan kami sudah datang. Aromanya enak sekali. Aku tidak sabar untuk mencicipi makanan ini.

***

Aku berdiri di belakang tubuh Kris yang tidak memakai baju, hanya memakai boxer hitam miliknya. Sedangkan aku, aku memakai jaket panjang karena aku hanya memakai bikini. Angin sore di Bali ternyata dingin juga.

“C’mon, Kris! Aku tidak mau!” aku menggerakkan tangannya yang ku pegang. Kris hanya tertawa mendengarnya. Tidak ada yang lucu sama sekali, aku sedang ketakutan sekarang. Dia kejam sekali, istrinya sedang ketakutan tapi dia malah tertawa. Tidak punya hati.

“Kenapa harus takut, sih? Setahu ku kau suka surfing.” Kris kini membalikkan badannya ke arah ku. Aku mendongak ke arahnya, tatapan ku langsung bertemu dengan mata hazelnya itu. ini gila, tapi aku dapat merasakan jantung ku berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Tapi itu beda dengan ini.” Ucap ku lemas dan menunduk. Menunduk karena tidak sanggup menatap matanya lagi. Matanya terlalu indah, aku tidak ingin terjatuh lebih dalam kepadanya.

“Ayolah, ku jamin ini akan seru. Kau pasti ketagihan.” Ucapnya meyakinkan ku sambil memegang kedua bahu ku erat.

“Tapi, bagaimana jika aku jatuh? Maksud  ku, bermain banana boat memang akan jatuh ke laut. Tapi aku tidak bisa berenang di laut, Kris! Trus kalau aku mati bagaimana? Jika aku mati, kasihan ibu, ayah, da Krystal. Pokoknya kalau aku mati nanti, aku akan menghantui mu! Everyday!” kata ku panjang lebar tanpa mengambil nafas, rasanya seperti habis selesai lari estafet, berlebihan memang, tapi benar. Buktinya saja aku terengah-engah setelah selesai berbicara seperti itu kepada Kris.

I’ll protect you. I promise.” Ucapnya tulus dan langsung meraih wajah ku dengan kedua tangannya itu, lalu dia mencium kening ku.

Aku membeku di tempat ku, rasanya seperti ada sesuatu yang berterbangan di perut ku. Apa aku mulai jatuh cinta dengannya? Ini terlalu cepat. Tapi bisa saja, karena aku tidak sedang menyukai lelaki manapun. Oh, tapi ku mohon jangan, ini terlalu cepat.

Pinky promise?” aku menyodorkan kelingking ku kepadanya. Pinky promise, seperti adegan yang berada di film-film, atau drama. Dia tersenyum dan menautkan kelingkingnya dengan kelingking ku. Tanpa sadar, aku tersenyum padanya. Senyum tulus ku yang pertama untuknya.

I think i love you, Kris.

TBC

WHAT WAS THAT?! APA YANG AKU TULIS DI AKHIRAN? KENAPA JADINYA BEGINI? SOMEBODY HELP MEEEEEHHHHH /teriak bareng Tiffany/?

Aku gatau mau ngomong apa, pokoknya makasih aja buat semua readers yang udah kasih like dan commentnya buat ff ini. Without you, ff ini nothing oke? HAHAHA

COMMENT DAN LIKENYA DI TUNGGU!!!xx

Oh btw, yang punya wattpad, kalian bisa follow aku dengan id asriwljng. Thankseu~

32 thoughts on “Our Love – Part 3

  1. thor jangan ada han-yul nya yaa, habisnya kasian nanti krissica nya keganggu hehe😀 tapi keren keren
    hwaiting!!

  2. Krissica makin deket sica Udh mulai meleleh sama kris moga Yuri and Luhan ga jadi pengacau di rumah tangga mereka Next Thor semangat keep writing~

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s