[Freelance] Confessions (Chapter 6)

jbrQRBZ97VvXc1

Judul:Confessions (chapter 6)

Author: Jung Eun Gi

Rating: PG-15

Length: chaptered

Genre: romance,angst,family

Main cast: Jessica Jung, Kris Wu

Support cast: Krystal Jung, Suho, Im Yoona, others find in the stories

Author’s note: cerita ini murni dari hasil pemikiran otakku, so don’t bash don’t judge and please appreciate it. Please tinggalkan jejak setelah membaca sebagai gomawo readers~ sorry for typos, imperfection is human! Enjoy reading ^^

Poster by http://www.minus.com/baboracoon

Author POV

 

“Ne eomma, sebentar lagi aku akan berangkat ke Jeju. Mianhae, aku tidak dapat menjadi asisten designer-mu selama aku ke Jeju.” Jessica berkata dengan raut wajah sedih meskipun Song Jihyo, yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri tidak dapat melihat ekspresinya saat ini.

 

“Gwenchanha. Sudah seharusnya kau menikmati liburanmu, Sica-ya. Baiklah kalau begitu, jaga dirimu baik-baik. Have fun! Temui aku jika kau sudah kembali ke Seoul. Anyeong”, suara Jihyo terdengar lewat iphone yang dibalut casing berwarna hot pink milik Jessica.

 

“Eo arasseo. Jangan bekerja terlalu keras dan jaga kesehatanmu, eomma. Anyeong” Jessica menghembuskan napasnya pelan dan duduk bersandar di sisi tempat tidurnya. Sayang sekali ia tidak dapat menemui Jihyo eomma terlebih dulu karena sebentar lagi ia akan berangkat ke airport.

 

  Tok tok

 

Jessica tersadar dari lamunannya dan menengok ke arah pintu kamar ketika terdengar suara ketukan dari luar yang disertai munculnya kepala Mom dari balik pintu.

 

“Jess? Can I come in?”

 

Jessica hanya mengedikkan bahunya tanpa suara dan merapatkan bibirnya. Ia kan sedang ngambek dengan mom and dad karena tidak jadi ke LA dan malah berakhir ke Jeju.

 

“Kau habis menelepon seseorang? Nugunde? Namja chingu?” Selidik nyonya Jung jahil.

 

“Mom, please” Jessica memutar kedua bola matanya.

 

Nyonya Jung terkekeh geli melihat putrinya itu dan ikut duduk di sebelah Jessica.

 

“Kau sudah siap? Tidak ada yang tertinggal kan? Ayo jalan sekarang, sepertinya teman-temanmu sudah menunggu di airport. Kajja” Nyonya Jung mengulurkan sebelah tangannya, mengajak Jessica untuk berdiri.

 

Jessica menerima uluran tangan dari mom lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju cermin besar di sana dan mematut dirinya sendiri dari ujung kepala sampai ujung kaki. Bagi seorang Jessica, fashion airport sangatlah penting. Kali ini, ia mengenakan kemeja lengan pendek dengan motif kotak-kotak berwarna pink yang bagian ujung tengah kemeja itu diikat di depan perut sehingga menunjukkan sedikit perut dan pinggang langsingnya, lalu celana panjang jeans warna biru gelap dan striped-wedges berwarna pink salmon. Rambut panjangnya tergerai indah sempurna dengan bagian ujung yang di curly dan poni yang di kepang menyamping.

 

“Aigoo, you look beautiful Jess. Let’s hurry up, honey” Nyonya Jung menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dan tersenyum geli.

 

***

Jessica POV

 

Maybe you shouldn’t come back
Maybe you shouldn’t come back to me
Tired of being so sad,
Tired of getting so mad, baby
Stop right now,
You’ll only let me down

 

Suara Demi Lovato memenuhi gendang telingaku melalui earphone yang aku jejalkan pada kedua telingaku. Aku tertegun ketika mendengar sebait lyric lagu itu yang sangat mengenai hatiku. Bagaimana tidak? Lagu ini membuatku teringat pada Kris. Ya, Kris. Laki-laki yang sukses membuat hidupku naik turun seperti rollercoaster.

 

Terkadang ia bersikap manis kepadaku yang sukses membuatku salah tingkah dan bahagia seharian penuh. Namun, ia juga alasanku untuk menumpahkan air mataku. Contohnya saja seperti hari ini.

 

Saat memasuki kabin pesawat, Suho langsung menempati tempat duduk di sebelah Yoona. Aku mulai menyadari adanya hubungan manis antara kedua orang yang kusayangi itu karena Yoona pernah curhat denganku tentang perasaannya pada Suho. Aku memutuskan untuk duduk di depan mereka di sebelah jendela pesawat, tidak tahu siapa yang akan menjadi teman perjalananku kali ini. Tidak lama kemudian, aku mendapati Krystal dan Kris berjalan bersama melewatiku and guess what? They sit together in front of me. Aku hanya bisa mendengus sinis dan membuang muka menghadap jendela di sebelahku. Melihat mereka berdua yang mengobrol dan bercanda dengan nyaman satu sama lain membuat mataku panas. Tanpa kusadari, air mata menetes di sebelah pipiku yang langsung kuhapus menggunakan punggung tanganku dengan kasar.

 

No Jessica. Don’t cry. Aku mengingatkan diriku sendiri berkali-kali dalam hati. Aku tidak mau sampai mereka melihatku menangis. Beberapa saat ketika pesawat lepas landas, aku segera beranjak ke toilet dan menumpahkan air mataku di situ. I’m so pathetic.

 

***

“Ya Jessica. Ayo bangun! Kau mau tidur terus sampai kapan hah?”, aku merasakan bahuku diguncang-guncang dan membuka kelopak mataku lalu mendapati Suho di depan wajahku.

 

Tanpa banyak bicara, aku segera bangun, menyisir rambutku dengan jari-jari tangan dan mengekori mereka keluar dari pesawat.

 

“Ya Jessica, kau tahu? Jika tadi kau tidak bangun juga, kami berniat meninggalkanmu di pesawat haha..” kata Suho begitu kami sudah menaiki mobil yang disiapkan mom and dad untuk mengantar kami ke villa keluargaku, tempat kami akan menginap selama berada di Jeju.

 

“Tinggalkan saja. aku tidak peduli” sahutku malas sambil menopang daguku dan memandang keluar jendela dengan malas.

 

“Eo? Ya! wae irae? Aku hanya bercanda. Jangan membuat mood kami rusak. kami di sini kan untuk bersenang-senang, benar kan teman-teman?”

 

Yoona langsung memukul sebelah lengan Suho dan menyuruhnya diamtanpa berkata apapun. Diam-diam aku berterima kasih pada Yoona. Aku sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun saat ini. Bersenang-senang? Hah yang benar saja. aku bahkan tidak tahu apakah aku masih bisa bersenang-senang setelah melihat Krystal dan Kris bersama di pesawat tadi. Aku punya firasat bahwa hubungan mereka akan semakin dekat. Seeing them together on the plane has just ruined my mood, literally.

 

I don’t know why I’m so afraid to lose you, Kris. When you’re not even mine.

 

***

Kris POV

 

Aku berjalan keluar dari kamar yang akan kutempati bersama Suho di Villa milik keluarga Jessica menuju dapur. Meski hanya satu lantai, tapi villa ini termasuk luas dengan dominasi kayu dan sebagian tembok yang dicat berwarna putih elegan. Selain itu, banyak terdapat kaca-kaca besar sebagai jendela sekaligus pembatas antara halaman belakang dan bagian dalam villa. Aku berjalan sambil terkagum-kagum mengamati design interior villa ini.

 

“Eo? Sedang apa kalian?” aku mendapati Yoona dan Krystal di dapur.

 

“Oppa? Kau sudah mandi? Aku dan Yoona eonni habis berbelanja dari supermarket dekat sini. Kami berencana memasak untuk makan malam nanti. Waeyo?” Krystal sesekali melirikku saat menjawab dan kembali sibuk mengeluarkan belanjaan dari kantong plastik.

 

“Belum. Aku mandi nanti saja.” Aku menengok ke sana sini, entahlah sepertinya ada yang kurang. Ah iya benar juga, dimana orang itu? aku tidak melihatnya sejak terakhir kali masuk ke kamar untuk mandi dan membereskan barang-barang bawaanku.

 

“Ya, Jessica tidak membantu kalian?” aku bertanya tentang keberadaan gadis itu secara tidak langsung.

 

“Aku tidak tahu dimana dia sekarang. Ia menolak untuk ikut ke supermarket dan sejak kami kembali, aku tidak melihatnya di villa ini. Mungkin ia sedang pergi ke suatu tempat” kali ini Yoona yang merespon pertanyaanku.

 

Aku lagi-lagi menggangukkan kepalaku lalu berjalan menghampiri mereka, berniat untuk membantu mereka memasak makan malam. Tidak lama kemudian, Suho bergabung bersama kami di dapur. Kami memasak sambil mengobrol dan bercanda sehingga ruang dapur tidak pernah sepi.

 

“Ayo foto bersama” tiba-tiba Krystal mengajak kami semua foto bersama di dapur, masih dengan celemek dan keringat pada wajah kami karena belum mandi dan hawa panas akibat panas dari kompor. Entah sejak kapan, gadis itu sudah menggenggam Polaroid di tangan kanannya.

 

Kami semua merapat dan melebarkan bibir kami membentuk senyuman. Entah kenapa kelakuan Krystal mengingatkanku pada Jessica di hari pertama kami berjumpa. Waktu itu Jessica juga mengajakku berfoto di depan restoran tempat kami makan. tanpa kusadari, aku tersenyum kecil.

 

***

Jessica POV

 

Semilir angin laut menerpa wajahku dengan aroma air lautnya yang khas. Aku mengambil napas panjang dengan kedua mata yang terpejam dan merasakan aroma air laut yang menusuk dan memenuhi rongga hidungku. Rambutku sedikit messy karena terpaan angin laut dan aku tidak peduli.

 

Aku duduk di atas tumpukan batu-batu pantai dengan kaki yang menggantung dan sedikit menyentuh permukaan air laut. Aku sering mengunjungi spot favoritku ini jika sedang berkunjung ke Jeju terlebih karena sepi dan jauh dari jangkauan para turis yang selalu meramaikan pantai-pantai di Jeju.

 

Mataku menatap lurus ke depan dan kadang, aku mengalihkan perhatianku pada permukaan air laut yang jernih di bawah kakiku. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berdiam diri di tempat ini hanya untuk sekedar refreshing dan memikirkan banyak hal.

 

Aku kembali ke villa saat hari sudah gelap dan mendengar tawa teman-temanku dari arah dapur. Aku bermaksud untuk memauski kamarku secara diam-diam ketika suara Kris menegurku dan membatalkan niatku yang semula.

 

“Ya Jessica, dari mana saja kau?”

 

“Bukan urusanmu” sahutku dengan wajah datar.

 

“Haish jinnja! Cepatlah ke sini! Bantu kami menyiapkan makan malam” Kris melmabai-lambaikan sebelah tangannya, menyuruhku untuk bergabung bersama mereka.

 

“Arasseo arasseo”, aku memonyongkan bibirku dan melangkah dengan malas ke dapur.

 

***

            Aku memegang pisau dapur dengan kikuk dan mengiris sayuran dengan konsentrasi penuh. Hey! Jangan salahkan aku jika aku tidak jago memasak. Selama ini, aku hanya memasak pastry seperti kue-kue dan dessert saja. Ya, tentu saja aku malas memasak sayuran karena takut bertemu dengan musuh bebuyutanku yaitu cucumber, alias ketimun.

 

Selain alergi dengan ketimun, aku juga tidak menyukainya, sangat-sangat TIDAK menyukainya. Bahkan jika ada ketimun di atas meja makan yang jaraknya beberapa centimeter dari pandanganku, aku tidak mau makan di meja itu juga. Bukannya bersikap berlebihan, aku hanya tidak ditakdirkan untuk bersahabat dengan satu jenis sayuran itu.

 

Beberapa helai rambut panjangku yang kubiarkan tergerai begitu saja sangat menggangguku di saat-saat seperti ini. Selain menutupi pandanganku, rambutku terasa seperti menggelitik wajah dan leherku. Tiba-tiba, aku merasakan sepasang tangan yang mengangkat rambutku lalu menguncirnya agak tinggi dekat puncak kepala. Aku menengok melalui pundakku untuk menegetahui siapa si pemilik tangan itu dan aku mendapati Krystal tersenyum lebar di balik punggungku.

 

“Cha, eonni terlihat terganggu dengan rambut panjangmu itu jadi kukuncir saja. tidak apa-apa kan?”sahut Krystal dengan wajah riangnya.

 

“Eo, gomawo” balasku dengan ekspresi datar. Aku kembali memotong sayuran-sayuran dan tidak menggubris Krystal. Jujur saja, aku masih bingung harus bersikap bagaimana terhadapnya. Di sisi lain, aku masih kesal dengannya karena ia telah menarik perhatian orang-orang di sekitarku, terutama Kris.

 

Tidak lama kemudian, kami semua duduk di ruang tengah untuk menyantap makan malam kami yaitu bibimbap yang disuguhkan pada sebuah mangkok besar untuk dimakan bersama-sama sambil menonton Tv. Semuanya terlihat bersemangat untuk memakan bibimbap itu kecuali aku.

 

Aku hanya bisa tercengang menatap ke dalam mangkok besar itu dan mendapati musuh-musuh bebuyutanku bertengger dalam damai, apalagi kalau bukan ketimun. Dekat-dekat dengan ketimun saja aku tidak mau, apalagi jika harus memakannya! Tunggu, bukankah tadi yang bertugas memotong sayuran itu aku? Aku tidak ingat pernah memotong ketimun, kecuali jika memang ada orang lain yang memotongnya.

 

“Sica-ya, kenapa hanya dipelototi saja? memangnya kau tidak lapar? Enak loh” Tanya Yoona masih dengan mulut yang setengah penuh.

 

“Aku tidak ingat pernah memotong ketimun” sahutku melantur, menghiraukan pertanyaan Yoona.

 

“Eo? Ketimun? Aku yang memotongnya, eonni. Memangnya kenapa?” Krystal memandangku dengan wajah innocent-nya.

 

“Mwo?!” aku melototi gadis itu.

 

“Waeyo eonni? Kau tidak suka?”

 

“Krystal-ya, Jessica alergi dengan ketimun dan membencinya setengah mati” ucap Suho dengan raut was-was sambil melirikku sesekali.

 

“Mwo?! Jinjjayo? Mianhae eonni, aku tidak tahu. Eonni mau makan apa? Mau kubuatkan sesuatu?” Krystal memandangku dengan wajah memelas.

 

“Ani, lupakan saja” aku mendengus pelan dan beranjak dari dudukku, tidak sudi dekat-dekat dengan ketimun apalagi karena baunya yang mulai memasuki rongga hidungku.

Aku tidak tahu apakah Krystal melakukan hal ini dengan disengaja atau tidak. Yang pasti, kadar kekesalanku kepadanya makin menjadi-jadi.

 

“Chamkanmannyo eonni! Let me cook something for you”

 

Aku pikir Krystal akan mengikutiku, tapi aku salah. Aku melirik dari sudut mataku dan lagi-lagi rasa nyeri menjalar dalam hatiku. Aku melihat Kris menahan tangan Krystal dan menariknya pelan seraya menyuruhnya duduk kembali. Krystal sempat ragu sejenak dan menatap Kris dengan raut bingung.

 

“Ya Jessica, makanlah. Kau singkirkan saja mentimunnya, kau bisa memberikannya padaku kalau mau. Bagaimana?” Kris menatapku dengan sebelah alis yang dinaikkan.

 

“Andwaeyo! Meski jika disingkirkan, tetap saja masih akan ada baunya” gerutuku kesal karena Kris yang tidak mengerti seberapa bencinya aku terhadap ketimun.

 

“Mwoya…berlebihan sekali. Ya sudah, terserahmu saja” Kris mencibir ke arahku dan melanjutkan aktivitas makannya yang sempat tertunda

 

***

Author POV

 

Jessica berjalan lunglai di trotoar sambil menggigit red bean vanila ice cream berbentuk ikan dan menenteng kantung belanjaan supermarket di tangan satunya lagi. semilir angin malam menghembus tengkuknya dan langkah kakinya membuat rambut ekor kudanya bergoyang ke sana kemari. Ia menghentikan langkahnya saat mendapati bangku panjang berwarna cokelat yang mengarah ke pantai lalu duduk di situ sambil menikmati menu makan malamnya berupa ice cream dalam diam.

 

Tidak ada Yoona, Suho ataupun Kris yang menemaninya saat ia memutuskan untuk keluar villa demi mencari makan dan menetralisir hidungnya dari aroma ketimun. Ia sama sekali tidak napsu makan setelah mendengar cibiran dari mulut Kris, apakah laki-laki itu akan menganggap dirinya sebagai daddy’s little girl yang manja dan menyebalkan? Semoga saja tidak. Jessica mengadahkan kepalanya dan menatap langit malam yang hanya dihiasi beberapa bintang saja. ia menghela napas panjang dan bergumam,”kenapa nasibku menyedihkan sekali sih?”

 

Jessica merasa benar-benar kesepian saat ini. Tidak ada Stephanie yang dulu selalu ada untuknya, tidak ada Suho yang biasanya selalu menemaninya maupun Yoona yang notebene-nya adalah satu-satunya sahabat perempuannya di Korea. Bahkan ia tidak berani mengharapkan Kris akan menemaninya. Tiba-tiba ia teringat saat pertama kali mengenal Kris, laki-laki jangkung itu mau menemaninya makan malam.

 

“If only I could turn back time…” lagi-lagi Jessica bergumam sambil menghela napas. Seperti tersadar dari lamunannya, Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan pikirannya dari Kris yang hanya akan membuatnya semakin sedih. Jessica bangkit dari duduknya, mengambil kantung belanjaannya dan berbegegas kembali ke villa.

 

***

            “Ah eotteokhae? Aku yakin pasti sica eonni semakin membenciku sekarang” Krystal menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

 

Kris menatap gadis di sebelahnya dengan tatapan sendu. Ia mengangkat sebelah tangannya dan mengusap-usap punggung gadis itu, menenangkan. “Mianhae. Ini semua gara-gara aku. Hey, jangan berpikir seperti itu. Jessica gadis yang baik, ia tidak mungkin membenci adiknya sendiri. Ia hanya perlu waktu”

 

“Oppa, tidak bisakah kau lihat bahwa keberadaanku selalu membuatnya uring-uringan? Ani, lebih tepatnya, keberadaanku di dekatmu selalu membuatnya uring-uringan. Selama ini, ia tidak pernah bersikap baik padaku karena kedekatan kita” Krystal mulai menyuarakan unek-uneknya pada laki-laki jangkung di hadapannya itu.

 

Kris menaikkan sebelah alisnya dengan kening berkerut, mencoba menerka apa maksud dari perkataan gadis dengan wajah sedikit mirip dengan Jessica. Melihat itu, Krystal mendengus tidak sabar dan menghela napas panjang.“Ia cemburu, oppa! Tidakkah kau merasakannya? Laki-laki memang sangat tidak peka…” gerutu Krystal.

 

Kris tertegun mendengar kata-kata Krystal. Benarkah? Benarkah itu? benarkah Jessica cemburu? Mungkinkah gadis itu masih menyimpan perasaan untuknya? Setelah ia menolak perasaan gadis itu dulu? Kris tampak ragu, ia tidak berani untuk berharap banyak. sekarang, apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia percaya dengan tuturan kata dari Krystal, atau haruskah ia tetap mengikuti pendirian konyol yang menyiksanya selama ini?

 

***

            Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Di saat orang-orang tengah terlelap, Jessica masih berkutik di dapur. Dapur terlihat berantakan, terdapat peralatan memasak yang sudah kotor dan gula berceceran dimana-mana. Jessica tampak focus mengerjakan aktivitasnya itu tanpa rasa kantuk sedikit pun dan sesekali, dahinya tampak berkerut saking fokusnya.

 

“Hahh akhirnya selesai juga” Jessica meregangkan tubuhnya. Ia menatap hasil masakannya dengan raut bangga dan mata berbinar. Kemudian, ia menyusun kue-kue itu di atas piring putih bersih. Kue-kue berukuran sedang dengan bentuk bundar dan warna yang berbeda-beda. Ya, Jessica membuat macaroons, kue manis dengan rasa yang berbeda-beda sesuai warnanya yang biasa didapati dalam tumblr photography itu. Kemudia, ia menancapkan batang-batang lilin yang kurus dan agak panjang di atas beberapa macaroons buatannya.

 

Jessica membuat macaroons tengah malam begini bukan tanpa alasan. Sudah merupakan tradisi sejak ia duduk di bangku SD dan masih tinggal di LA dulu, ia selalu merayakan ulang tahun orang-orang kesayangannya dengan menyuguhkan macaroons yang ia beli di toko alih-alih kue ulang tahun. Saat SMP, ia mulai belajar cara memasak macaroons untuk disuguhkan pada Stephanie maupun kedua orang tuanya saat mereka berulang tahun. Bahkan 2 tahun belakangan ini, ia juga menyuguhkan macaroons saat Suho berulang tahun.

 

Jessica duduk di meja makan dengan sepiring macaroons yang ditancapkan lilin-lilin ulang tahun di atasnya lalu menyalakan lilin-lilin itu dengan korek api. Kemudian, ia mengarahkan kamera iphone-nya pada macaroons, kemudian dirinya sendiri.

 

“Happy Birthday Stephanie Hwang!!” Jessica tersenyum lebar sambil melambaikan sebelah tangannya ke arah kamera.

 

“Look what I’ve cooked for you in the middle of the night. Kau masih ingat tradisi ulang tahun kita kan? Apa kau merindukan macaroons buatanku? Hehe kujamin tidak ada toko manapun di LA yang dapat membuat macaroons seenak buatanku. Maafkan aku karena aku tidak menepati janjiku untuk ada di sana dan ikut merayakan ulang tahunmu di LA” tiba-tiba ekspresi Jessica berubah dari yang tadinya ceria menjadi sedih. Sedetik kemudian, Jessica mengontrol ekspresinya lagi. ia tidak mau mengirimkan video birthday message untuk Steph dengan raut sedih.

 

“Actually, I’ve got many things to say, but I gotta go to clean up the messy kitchen hehe bye S! Enjoy your day!” Jessica menghentikan rekaman dan meniup lilin-lilin itu. ia berniat untuk mem-post video tersebut di instagram besok pagi. Jessica menghela napas dan bangkit berdiri lalu berjalan menuju dapur untuk membereskan semuanya. Tanpa Jessica sadari, daritadi sepasang mata memperhatikan gerak-geriknya dari jauh.

 

***

 

“need some help?” tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Jessica yang sedang mencuci peralatan memasaknya. Saking kagetnya, Jessica hampir melepaskan genggamannya dari piring yang sedang ia cuci. Meskipun takut, ia memberanikan diri menolehkan kepalanya ke arah suara itu berasal.

 

“K..Kris?” Jessica menelan ludah tapi juga merasa lega di saat yang bersamaan ketika mengetahui bahwa itu suara Kris, bukan suara seperti yang terdapat di film-film horror. Wajahnya masih pucat akibat berkhayal adegan-adegan di film horror yang ia kira akan ia alami saat itu.

 

Menunggu Jessica yang tidak kunjung merespon pertanyaannya, Kris menggeser tubuhnya mendekat ke arah Jessica, mengambil piring dari tangan gadis itu dan mulai mencucinya tanpa menghiraukan Jessica yang sedang melongo menatapnya.

 

“Wae? Kenapa kau malah diam di situ? Bantu aku mengeringkan peralatan memasakmu ini” Kris melirik Jessica yang masih terdiam di sebelahnya. Jarak mereka saat ini sangatlah dekat, bahkan siku Kris menyentuh lengan mungil gadis disebelahnya itu.

 

Jessica menundukkan kepalanya, masih enggan bertatapan dengan Kris saat itu. “Aniya, gwenchanha.sini, biar aku saja” Jessica berusaha merebut kembali panci yang sedang dicuci Kris. Dengan cekatan, Kris berhasil menghindari tangan Jessica dan memutar badannya menghadap gadis itu.

 

“Aish jinjja. Kenapa kau keras kepala sekali sih? Ikuti saja kata-kataku jika kau tidak ingin sakit karena mencuci piring semalaman”

 

“Heol jinjja. Overprotective sekali kau” Jessica mencibir dan menuruti kata-kata Kris. Diam-diam, Jessica mengulum senyumnya. Kedua orang itu melanjutkan aktivitas mereka masing-masing dalam diam, hanya suara air yang mengalir dari keran tengah terdengar di villa itu.

 

Tidaklama kemudian, Jessica tengah mengelap piring terakhir yang menjadi objek yang terakhir dicuci Kris. Ya, laki-laki itu tidak membiarkan Jessica mencuci piring di tengah malam menjelang subuh seperti ini dan menggantikan gadis itu untuk mencuci semua peralatan masak serta piring yang tadi digunakan Jessica entah untuk apa.

 

“Nah, sudah selesai!!” Jessica memekik senang saat memandang dapurnya yang sudah kembali tertata bersih nan rapi.

 

“Eo? Eodiga?” Jessica menatap Kris bingung saat menyadari laki-laki itu tengah mengalungkan kamera DSLR di lehernya sambil menenteng 2 buah jaket.

 

“Aku ingin ke pantai. Kau tahu? Aku menyukai fotografi dan sepertinya aku ingin menjadikan objek matahari terbit dari pantai kali ini. Mau ikut?”

 

Jessica mengangguk-anggukan kepalanya antusias dan saat ini ia tidak merasa mengantuk sama sekali meski belum tidur semalaman. Ia akan mengganggap ini sebuah kencan sekalipun jika Kris tidak menganggapnya begitu, ia tidak peduli.

 

TBC

 

ATTENTION PLEASE~

aku cm mau mengumumkan kalo chapt selanjutnya, akan ak post d wp pribadiku di jungeungi.wordpress.com soalny kl post d wp pribadi itu lebih cepet tp bukan berarti ak ga akan kirim k exoshidae lagi lohh. Ak ttep akan kirim tp kn ga tau akan d post kpn sm adminny jd bs aj lama br d post. Mohon pengertianny aj y readers, soalny kn admin d exoshidae jg punya kesibukan msg2, ak jg ga tega sm adminny berhubung jmlh ff freelance yg membludak >< jd tolong jgn desak admin d sini untuk cepet2 post hehe

Oh iya, ff ini akan tamat d chapt 8 huhu keep comment ya readers~ saranghae!

Ps: chapt 7 akan d post s wp pribadi author tgl 28 februari 2014

 

Mian y kl ad yg ga sk kl jessica msh sedih2 gt soalny emg ak ud bikin jln ceritanya begitu >< namany jg genre ny ad angst nya :p d tunggu aj yaa chapt2 selanjutny! Gomawo~

21 thoughts on “[Freelance] Confessions (Chapter 6)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s