[Freelance] Lost

PicsArt_1388289667690

Lost

By Lee Yoon Ji

Main Cast

Choi Sooyoung | Kim Joon Myeon(Suho)

Support Cast

Random Idol

Genre

Romance | Happy | Friendship

Length

Oneshot

Rating

Teen

Disclaimer

Cast milik Tuhan, orang tua, dan SM Ent. Cerita murni milik saya. Tolong berikan komentar yang membangun seperti kritik atau saran karena itu lebih author hargai daripada cuma ‘keren thor’ ‘sequel dong thor’, kalo kalian udah punya niat nulis kayak gitu, mending jadi Siders aja tapi…balik lagi ke rule dari site ini. Happy Reading ^^. Maaf kalo ceritanya maksa..kkk

**

Prolog

Pukul 11 malam gerimis bercampur titik-titik putih salju membasahi jalanan di depan mereka. Asap rokok yang keluar dari hidung dan mulut seorang namja terpaksa menghilang lebih cepat. Tenggelam di antara titik-titik hujan yang turun dari langit. Aroma aneh antara debu yang terkena air menyeruak ke dalam rongga hidung.

“Apa yang kau lakukan di sini Kim Joon Myeon?”. Tanya seorang yeoja tinggi dengan rambut coklat sedikit bergelombang sebahu.

“Namaku sudah bukan itu lagi Choi Sooyoung”. Bantah Joon Myeon sambil terkekeh. Asap-asap putih terus keluar dari mulutnya seperti ada kebakaran yang terjadi dalam tubuh tegapnya. Choi Sooyoung mendengus sambil menggoyang-goyangkan kakinya pada genangan air di depan toko. Membiarkan kaki jenjangnya melewati kanopi toko yang sedari tadi melindungi tubuhnya bersama Joon Myeon dari air hujan.

“Tentu saja. Siapa yang tahu kehidupanmu selama 8 tahun terakhir ini jika kau saja tidak menampakkan diri di hadapan ‘kami’ semua”. Joon Myeon tersenyum kecil mendengar celotehan Sooyoung. Senyum dalam arti setuju.

Wae? Kau merindukanku?”. Tanya Joon Myeon sambil memajukan wajahnya ke wajah Sooyoung. Dari jarak cukup dekat bisa di lihatnya sebuah bibir berwarna merah muda sedang menarik sebuah senyum kosong tak menyentuh mata.

“Rindu? Cih, persetan dengan semua kata-kata seperti itu Kim Joon Myeon!”. Lagi-lagi Joon Myeon tersenyum mendengar cara bicara Sooyoung yang cukup kasar itu walaupun saat ini yeoja itu sedang mengenakan sweater berwarna pink, celana panjang hitam dan sebuah tas bahu berwarna coklat.

“Kau menghilang dan berdiri disini seperti tidak ada yang terjadi. Kau brengsek, Kim Joon Myeon.” Desis Sooyoung tak sabar. Tenggorokannya sakit menahan sesuatu, namun dia yakin bukan asap rokok Joon Myeon yang menyebabkannya.  Hanya sebuah perasaan yang terbendung lama dan dia benci merasakannya.

Joon Myeon tertawa. Suara tawanya menggema di malam yang sepi itu. Dia menjatuhkan puntung rokok, menginjaknya hingga mati di jalanan yang basah. Sooyoung diam-diam memperhatikan walau sekarang Joon Myeon punya kebiasaan buruk, namja itu tidak ingin membuat orang-orang di sekitarnya ikut terlibat walau harus di akui sejak tadi asap rokok Joon Myeon menyesakkan dadanya.

“Apa kau tidak penasaran kemana saja aku selama 8 tahun terakhir ini Choi Sooyoung?”. Sooyoung mendengus cukup keras sambil memandang Joon Myeon seakan namja itu gila, namja itu bukan teman masa kecilnya yang menghilang selama 8 tahun seperti kabut, tapi tetap saja Sooyoung tidak bisa menahan rasa penasarannya yang langsung memuncak sejak menemukan diri Joon Myeon sudah berdiri di depan toko coklat tempat ia bekerja dengan sebuah senyuman yang menyentuh mata. Senyum yang di rindukan Sooyoung untuk menghangatkan dirinya di setiap musim dingin yang singgah di Seoul.

**

-Sooyoung-

Aku mendorong pintu kaca dengan bel emas di bagian atasnya dan memasukkan diri dalam toko cokelat yang selama 4 tahun terakhir ini membiayai kehidupanku. Sinar matahari yang lemah berusaha menembus kanopi toko yang berwarna pink-putih. Toko cokelat tempatku bekerja itu terselip di antara deretan gedung-gedung tinggi kota Seoul dan aku merasa jauh lebih kerdil dibanding semua itu.

“Kau tidak insomnia kan Choi Sooyoung?”. Tanya Jessica Jung. Owner toko coklat yang setiap hari selalu duduk di pangkuan kekasihnya yang wajahnya lebih mirip gangster dibanding manajer bank swasta. Aku menggeleng lalu mulai mengikat celemek yang biasa kukenakan untuk menghindari cairan coklat menempel di bajuku. Jessica tampak tidak puas dengan jawabanku walau akhirnya dia langsung melesat menuju dapur dan mulai mencairkan beberapa batang coklat lagi untuk mengisi persediaan.

Kling

Aku menoleh ke arah pintu dan tidak tahu harus memberi respon apa. Dengusan, helaan nafas. Tak pernah ada yang sebanding untuk mengungkapkan bagaimana perasaanku yang sesungguhnya ketika melihat sosok Joon Myeon sudah masuk dengan jaket kulit hitam, tatanan rambut kurang rapih serta jam tangan Rolex pada tangan kirinya.

“Apalagi sekarang?”. Tanya tanpa berbasa-basi. Joon Myeon mendaratkan dagunya di atas etalase pendingin dan melempar sebuah senyum yang masih sama seperti 8 tahun lalu aku terakhir kali melihatnya.

“Bersikap sopanlah sedikit. Aku ini pembeli”. Jawab Joon Myeon santai. Aku mendengus lalu kembali melanjutkan pekerjaanku menyusun coklat-coklat yang tadi sudah di bawakan Jessica dari dapur.

“Aku pesan coklat madu…dan juga dirimu”. Joon Myeon menunjuk sebuah deretan coklat dengan topping emas di atasnya lalu beralih menunjuk diriku yang masih sibuk menyusun etoile dalam etalase.

“Aku sedang bekerja”. Bantahku dalam suara rendah ketika sadar mata dingin Jessica sudah mulai mengawasi kami dari dapur. Joon Myeon terkekeh kecil lalu memajukan wajahnya ke dekat wajahku.

“Kalau begitu aku akan menunggumu”.

-Joon Myeon-

Aku bersandar pada tiang listrik depan toko coklat Sooyoung dan menemukan yeoja itu sudah keluar dari tempatnya bekerja saat jam pada tangan kiriku menunjukkan waktu pukul 12 siang. Sooyoung menyodorkan sebuah kotak penuh aroma coklat di hadapanku yang sukses membuatku melukis sebuah senyum yang selama ini tidak pernah kutunjukkan pada yeoja manapun.

“Puas?”. Tanya Sooyoung setelah aku mengarahkan mataku ke dalam kotak dan menemukan coklat madu pesananku sudah berada utuh di sana. Aku mengangguk lalu mengikuti langkah kaki Sooyoung yang menuju mini market di ujung jalan.

Tanpa merasa aku mengikutinya Sooyoung terus-terusan berjalan tanpa menoleh ke belakang sekalipun dan itu membuatku bertanya-tanya dalam hati kejadian apa yang sudah mengubah sahabat masa kecilku itu menjadi yeoja muram yang hanya berdiri di balik etalase pendingin sebuah toko coklat, melempar senyum palsu yang tidak menyentuh mata dan terus-terusan mematuhi perintah yeoja dengan wajah kaku sedingin es yang tadi pagi memperhatikan kami berdua dari arah dapur.

“Tunggu di sini, aku hanya ingin membeli kimbap segitiga dan minuman”. Ucap Sooyoung untuk pertama kalinya. Aku mengangkat bahu lalu duduk di salah satu kursi yang tersedia di depan mini market tersebut. Hanya perlu 5 menit untukku menunggu keluarnya Choi Sooyoung yang ikut bergabung bersamaku dengan duduk di kursi kayu yang dilapisi cat putih sementara aku berada di seberangnya.

Sooyoung sudah membuka bungkusan kimbap segitiganya walau dia tidak juga memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Dia melamun.

“Apa?”. Tanyanya ketika tersadar. Aku mengangkat bahu lalu mulai memasukkan sesendok kecil coklat madu ke dalam mulutku. Sooyoung mendengus lalu mulai melahap puncak kimbapnya dan mengunyah dalam diam.

-Author-

Untuk pertama kali selama ia bekerja Choi Sooyoung ingin Jessica menghampiri dirinya dan mengatakan bahwa jam makan siangnya sudah habis sehingga ia bisa meninggalkan Joon Myeon sendirian seperti yang namja itu lakukan pada dirinya.

“Sekarang jawab pertanyaanku. Kenapa kau ada di sini?”. Sooyoung menaikkan alis mendengar pertanyaan Joon Myeon yang terdengar asal-asalan walaupun dia tahu dari pancaran mata Joon Myeon pertanyaan itu sudah bersarang cukup lama dalam otaknya.

“Kenapa aku ada di sini?”. Ulang Sooyoung sambil meletakkan kimbap segitiganya yang terlihat menyedihkan di atas plastik pembungkus. Joon Myeon mengangguk dan menyilangkan tangan di atas meja.

“Mmm kenapa? Kenapa kau tidak kuliah dan menyalurkan bakatmu menjadi seorang sutradara? Kenapa kau justru hanya berdiri di belakang etalase pendingin sebuah toko coklat kerdil dan mempunyai seorang bos yang tampak seperti patung es hidup?”. Choi Sooyoung tertawa kering mendengar pertanyaan beruntun Joon Myeon yang terdengar tidak terima terhadap kenyataan hidup yang Sooyoung hadapi.

“Kenapa kau ingin tahu?”. Joon Myeon mengangkat bahu dan memandang Sooyoung santai.

“Hanya ingin. Selama 8 tahun aku tidak bertemu denganmu dan aku yakin ada alasan kuat di balik kehidupan surammu saat ini, bukan begitu?”. Kali ini Sooyoung tertawa dengan jelas. Bukan tawa kering seperti sebelumnya. Sebenarnya tidak ada sesuatu yang lucu dalam pertanyaan Joon Myeon barusan padanya, tapi Sooyoung hanya ingin tertawa. Atau lebih tepatnya mentertawai hidupnya sendiri yang persis seperti ucapan Joon Myeon barusan, suram.

“Sekarang kau lebih terlihat seperti dirimu Choi Sooyong”. Sooyoung menghentikan tawanya lalu mulai menyingkirkan rambut-rambut pendek yang tergantung di dahinya. Menghalangi pandangannya untuk melihat lebih jelas sosok namja yang setiap malam musim dingin ia rindukan untu memeluknya dalam lelap. Mengusir mimpi buruk yang setiap malam ia berusaha hindari walaupun kenyataannya mimpi-mimpi itulah yang membuat dirinya lebih kuat.

-Sooyoung-

“Jangan tanya aku. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa tiba-tiba hidupku menjadi seperti ini”. Ya. Aku memang tidak tahu apa penyebab semua kesuraman yang tiba-tiba menyelimuti hidupku sejak 8 tahun yang lalu. Tepat sejak Joon Myeon menghilang tanpa jejak seperti asap rokok yang saat ini sudah keluar lagi dari bibir dan hidungnya. Joon Myeon membuang puntung rokoknya ke jalan yang masih basah, menginjaknya lalu menatapku dengan tatapan selembut chess cake buatan Jessica.

“Fikirkanlah selama sisa waktu kerja mu hari ini dan ceritakan padaku saat kau pulang nanti. Aku akan menjemputmu”. Joon Myeon berdiri terlebih dahulu, mengambil kotak coklat madunya dan pergi melangkah ke dalam lorong gedung tinggi yang tidak terjangkau cahaya. Membuatnya benar-benar tidak terlihat karena pakaian hitam yang ia kenakan.

Aku tidak tahu bahwa dampak munculnya Joon Myeon secara tiba-tiba dalam hidupku juga mempengaruhi kewaspadaan Jessica yang selama ini kutahu selalu berada di tingkat terendah.

“Teman, pacar atau…”.

“Teman”. Sahutku cepat sebelum Jessica melanjutkan pilihannya. Kulihat dia mengangkat bahu kecilnya lalu tanpa bertanya apa-apa lagi ia meletakkan kunci toko di atas etalase dan menghilang di balik tingginya seorang Kris Wu.

-Joon Myeon-

Aku menekan stater motor setelah sebelumnya meyakinkan Sooyoung bahwa transportasi cepat ini aman untuk di gunakan. Kurasakan tangan Sooyoung melingkar di pinggangku dan membuatku semakin bersemangat membawanya kembali ke rumah.

“Kau sudah memikirkannya?!”. Teriakku melawan deru angin yang membuat telinga tuli. Kudengar Sooyoung bergumam dan sayangnya aku tidak menangkap apa yang yeoja itu katakan.

“Ulangi!”. Kurasakan dengusan nafas Sooyoung menyentuh leher dan telingaku.

“Sudah tapi aku tetap tidak tahu jawabannya!”. Kali ini aku yang mendengus. Sooyoung mengeluarkan jari telunjuk kanannya ketika kami sudah sampai di sudut sebuah apartement tingkat 2 yang berada di ujung jalan 5 blok dari toko coklat tempat ia bekerja. Kutarik pedal rem dan mengeluarkan sandaran motor.

“Ini rum-“.

“Selamat malam”. Potong Sooyoung sebelum aku menyelesaikan perkataanku. Aku memandang gedung tinggi berwarna kusam itu dengan hati penuh tanda tanya. Gila. Terlalu banyak pertanyaan yang muncul dalam fikiranku semenjak aku bertemu Sooyoung. Dan ucapan itu… selama malam. Kapan terakhir kali aku mendengarnya?. 8 tahun yang lalu??.

**

-Author-

“Kau mulai menulis lagi?”. Tanya sebuah suara yang tiba-tiba merasuk ke dalam gendang telinga Sooyoung. Yeoja jangkung itu menoleh dan mendapati kepala tunangannya berada dekat sekali dengan kepalanya.

“Sejak kapan kau ada di situ?”. Tanya Sooyoung balik kepada Suho yang sudah melingkarkan lengan penuh ototnya ke pinggang ramping milik Sooyoung. Suho memiringkan kepalanya tampak seperti orang berfikir.

“Sejak kau mengetik kata ‘Prolog’…” sebuah tinju melayang pelan ke dada Suho yang sudah terkekeh lalu kembali melanjutkan perkataannya “…aku bercanda. Baru sekitar 5 menit yang lalu”. Sooyoung memajukan bibir madunya yang tipis lalu berusaha melepaskan cengkraman lengan Suho dari pinggangnya.

“Apa yang kau bawa itu?”. Tanya Sooyoung sambi menunjuk sebuah kotak hitam berbentuk lonjong yang dia ingat tidak ada sebelumnya. Suho tersenyum kecil lalu menghampiri kotak tersebut dan membawanya ke hadapan Sooyoung.

“Coklat madu kesukaan seorang Kim Joon Myeon yang meninggalkan Choi Sooyoung selama 8 tahun”.

**

Epilog

“Selesai?”. Tanya Sooyoung sambil memiringkan kepalanya memandang Joon Myeon. Joon Myeon menggeleng lalu mulai mencari-cari pertanyaan yang selama ini selalu ia simpan dalam kepalanya untuk di tanyakan pada Sooyoung.

“Ayolah Kim Joon Myeon, aku lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan konyolmu itu”. Ucap Sooyoung dengan nada mengeluh yang kentara. Joon Myeon pura-pura tidak mendengar lalu kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi kayu depan mini market yang selama beberapa bulan ini selalu menjadi tempat dirinya dan Sooyoung makan siang bersama.

“Kita tidak bertemu selama 8 tahun Choi Sooyoung. Wajar saja aku punya banyak pertanyaan untukmu”.

“Kita tidak bertemu karena kau menghilang”. Sooyoung membantah ucapan Joon Myeon yang terdengar lebih seperti pembelaan diri di banding ucapan bantahan biasa.

“Persetan dengan kata ‘menghilang’ itu. Yang jelas tidak akan pernah ada kata ‘cukup’ atau ‘berhenti’ jika kita sudah bertemu…” Joon Myeon mengangkat jari telunjuk dan tengahnya yang saling bersatu “…karena aku selalu menempel di hidupmu”.

END.

*Hayoooooo ada yang paham maksud author??? Atau pada bingung???? Buat yang bingung daripada nanti author di koment macam-macam kayak ‘kurang ngerti thor’ atau apalah, author bakal ngasih tahu yang sebenarnya. Dalam Fanfic ini ada fanfic lain. Paham? Jadi intinya si Sooyoung itu sebenarnya bikin cerita dengan namanya sendiri sama Joon Myeon. Nah, Suho itu tunangannya Soo dalam dunia nyata(bukan dalam cerita yang Soo buat). Masih blm ngerti? Kekeke maafkan ke-gaje-an author ^^ *bow*

7 thoughts on “[Freelance] Lost

  1. maaf ya thor sebelumnya, aku pernah baca ff dengan cerita yang sama banget kayak gini, cuma beda cast nya aja. ini author nya sama atau gimana ya?

  2. Masih bingung..
    Dan klo boleh ya minta sequel..
    Kta2’a bagus cma ya itu aku kurang mudeng sma cerita’a..

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s