[Freelance] Fake (Sequel of The Burn Rose) (Chapter 2)

fake

Title : Fake chapter 2

Author : N_Bingle

Length : chapter

Rating : PG15+

Main cast :

Huang zi Tao

Tiffany Hwang

Kris Wu

Other cast :

Huang hi Han (OC)

Huang Ji Zun (OC)

SNSD

EXO

Genre : angst,

Disclaimer : FF ini Cuma punya author!! Don’t copy paste!!

Notes : mian yahh sebenarnya aku Cuma targetin 2 chapter tapi berhubung ide-ide itu sulit untuk dituangkan hanya dalam 2 chapter maka aku membuat FF ini menjadi chapter yang lebih dari 2 dan belum tau sampai chapter brp, sooo aku minta maaf banget klw ceritanya ngebosenin maklum remaja 14 tahun yang masih labil memilih kata-kata, ^^

Aurhor POV

“eonni! Rambutmu halus sekali, kau sering perawatan di salon mana?” Tanya Ji Zun dengan antusias kepada Tiffany

“emm… aku jarang ke salon aku lebih sering melakukan perawatan di rumah” jawab Tiffany

“maldo andwe, hebat! Eonni bisa melakukan perawatan sendiri, oppa! lain kali ajak aku ke rumah Tiffany eonni yahh, aku ingin diajari cara merawat rambut oleh eonni! Ne?” jelas Ji Zun dengan riang.

Tao yang sejak tadi menyetir sedikit terkejut dengan permintaan adiknya yang ke sekian kalinya itu, tapi mau bagaimana lagi, baru hari pertama bertemu dengan Tiffany, Ji Zun sudah histeris bukan main.

Berbeda dengan Han yang sejak tadi sibuk dengan smartphonenya, walau ia seringkali melirik dua sijoli yang duduk didepannya, Han kembali tertawa kecil ketika kembali mengingat apa yang baru saja terjadi di antara dua orang itu.

Setelah kurang lebih 15 menit perjalanan dari bandara, akhirnya mereka tiba di depan apartemen Tiffany.

“gumawo, Ji Zun-ah eonni pamit, ne?” kata Tiffany sebelum turun dari mobil Tao

“eonni! Aku akan sering-sering kesini yahh!! Aku juga akan ajak Tao Gege, hehehehe” jawab Ji Zun tanpa menghilangkan senyumannya yang manis itu.

“ne”

Sebelum membuka pintu, Tiffany sempat menengok kearah Tao, seperti tersirat sebuah ungkapan dari mata mereka, “gumawo” dengan jawaban “ ini hanya bentuk turut keprihatinanku” .

@ apartemen Tao

“huaaa, melelahkan sekali tadi, tubuhku seperti mau remuk” kata Ji Zun

“Ji Zun-ah, bantu aku membereskan kamar, kalau kau tidak mau tidur di luar saja” kata Han ketus

“EONNIIIIII, AKU LELAH!!” teriak Ji Zun

“jadi kau mau tidur di luar?” Tanya Han kembali

“GEURE!!  AKU AKAN MEMBANTUMU!” kata Ji Zun lagi

“good girl” kata Han

@ kamar Han

Dua orang adik kakak ini sedang repot-repotnya membereskan kamar. Ini dikarenakan kamar di apartemen Tao hanya 2 maka dari itu, Han harus mau berbagi kamar dengan sang adik, alhasil kamar Han kembali di rombak untuk mengganti kasur yang lebih luas.

“ya! Bagaimana persaanmu hari ini?” Tanya Han

“senang sekali, akhirnya aku bisa bertemu dengan Tiffany eonni, dia lebih cantik daripada foto yang Gege kirimkan padaku” jawab Han

“kau sangat menyukainya?” Tanya Han lagi

“ne! neomu neomu joah!!” jawab Ji Zun dengan riang

“tapi bagaimana kalau seandainya mereka sudah tidak bersama lagi, apa kau masih menyukai Tiffany?” Tanya Han kearah yang lebih rinci

“emm… aku akan membunuh Tiffany eonni!! Heheheheh, itu tidak mungkin” jawab Ji Zun

“hehhehehe” Han hanya tertawa getir mendengar jawaban adiknya

Setelah selesai membereskan kamar Ji Zun langsung mandi dan setelah itu langsung bergulat dengan mimpinya. Waktu ini dimanfaatkan Han untuk ke kamar Tao untuk membicarakan rencana selanjutnya.

“oppa” kata Han ketika masuk ke kamar Tao

“emm” jawab Tao yang sedang tidur tengkurap di kasurnya

“kau mau minum kopi?” Tanya Han

“eoh” jawab Tao

Han akhirnya kembali ke dapur untuk membuat kopi untuk kakaknya. Hari ini benar-benar diluar perkiraan mereka berdua, Han dan Tao. Hari yang sempat mereka pikir sebagai malapetaka buat mereka berdua ternyata menjadi hari yang berjalan dengan lancar. Sempat terpikir oleh mereka berdua, mungkin saja Ji Zun akan kecewa dengan mereka atau yang lebih parah ia menangis dan meminta pulang kembali ke Beijing karena kecewa dibohongi. Dengan segera Han menggelengkan kepalanya, menghapus semua kemungkinan yang mulai menghantuinya, karena tidak focus membuat kopi tangan Han sempat tersiram air panas.

“argh!” ringis Han, ia segera menyiram tangannya dengan air dingin

Iapun kembali ke kamar Tao dengan membawa dua gelas kopi, Han menaruh dua gelas itu di meja di samping tempat tidur Tao.

Posisi Tao dari awal Han masuk ke kamar lalu membuat kopi sampai Han kembali membawa dua cangkir kopi, masih sama seperti pertama, tidur tengkurap.

“kau pasti masih belum percaya dengan hari ini kan?” Tanya Han

“…”

“aku juga, ternyata dia bisa juga diajak kerja sama” kata Han

“…”

“kopi ada di meja, aku keluar dulu, kalau kau belum mau membicarakan untuk selanjutnya tidak apa-apa” Han segera keluar dari kamar Tao dengan membawa kopinya.

Setelah Han keluar dari kamarnya, perlahan Tao bangkit dari tidurnya dan segera menyambar kopi yang berada di atas mejanya. Ia memang masih sangat lelah untuk membahas rencana mereka selanjutnya, Tao berfikir dengan setujunya Tiffany dengan rencana mereka ini maka masalah juga sudah selesai, karena dengan sendirinya Tiffany akan memainkan perannya dalam rencana ini, dia tidak mungkin mengelak.

OTOS

“huh… Yoong-ah, aku lapar” kata Tiffany

“tunggu sebentar tugasku sebentar lagi akan selesai, setelah itu kita pergi cari makan” kata Yoona yang sejak tadi berkutat dengan laptopnya.

1 menit… 2 menit… dan ….

“keut!!” kata Yoona sambil menutup laptopnya

“kajja!” kata Tiffany

@restaurant

“ya! Bagaimana hubunganmu dengan adiknya Tao oppa?” Tanya Yoona antusias

“emm… dia benar-benar polos” jawab Tiffany sambil melahap roti panas yang baru tiba di mejanya

“ya! Aku bertanya ‘hubungan’ bukan ‘orang seperti apa dia’!” kata Yonna

“mi..an aku sangat lapar,” kata Tiffany dengan mulut yang penuh dengan roti

“emm… hubungan kami baik-baik saja” jawab Tiffany setelah menelan rotinya

“sampai kapan kau akan berpura-pura?” Tanya Yoona lagi

“entahlah.. jangan bahas ini ketika sedang makan, nanti saja sebaiknya kau habiskan rotimu sebelum aku menghajarnya” kata Tiffany sambil menatap roti yoona

Setelah selesai memanjakan perut mereka, akhirnya Yoona dan Tiffany kembali ke apartemen Tiffany. Malam ini mereka memilih untuk berjalan kaki menuju apartemen Tiffany, sepanjang jalan mereka asik , membincangkan sesuatu sampai tertawa terpingkal-pingkal, tapi ketika mereka melewati sebuah café , mereka melihat Tao sedang meminum segelas minuman beralkhohol, dan tampaknya dia sudah mabuk. Yoona perlahan mendekati café itu, ia ingin memastikan bahwa orang yang dia lihat itu benar Tao, sedangkan Tiffany, ia hanya menatap Yoona tajam.

“excuse me ma’am… do you want to try some bonus from us, when you can drink 3 bottle of wine from this café we will give you two voucher to enter this café and free to buy anything that you want  from this café, do you want to try?” salah satu pelayan café itu menawari Tiffany bonus, kemudian dia kembali melihat kearah Tao, dia sudah menghabiskan 3 botol wine dan sekarang tampak ia sedang memesan botol yang ke 4, dengan segera Tiffany berlari masuk ke dalam café itu dan menarik lengan Tao kasar.

“neo mwoya!!” kata Tiffany

“eoh? Neo wasseo? Annyong nae chagi..” kata Tao yang berusaha memeluk Tiffany

Dengan segera Tiffany menyingkirkan tangan Tao , sekarang dia benar-benar mabuk. Tiffany menatap miris kea rah Tao, sedangkan Yoona dia hanya berbincang dengan pelayan yang menawarkan bonus kepada Tiffany tadi.

“apa yang kau lakukan?” Tanya Tiffany pada Tao

“tenang saja Ji Zun sudah tidur” jawab Tao sambil berdiri sempoyongan

“bukan masalah dia sudah tidur atau belum, tapi kenapa kau seperti remaja labil yang kehilangan arah? Apa kau pikir dengan minum seperti ini akan menyelesaikan masalah?” Tanya Tiffany

“aku hanya tertarik untuk mencoba bonus yang diberikan oleh café ini” jawab Tao

“babo” kata Tiffany

Akhirnya Tiffany dan Yoona membopong Tao ke dalam taxi, untuk mengantar Tao pulang. Setelah menyebutkan alamat apartemen Tao pada supir taxi, Tiffany langsung menelpon Han.

“yeoboseyo” kata Tiffany

“o! ada apa?” Tanya Han

“emm.. Han-shi, emmm sekarang ini Tao sedang mabuk jadi aku memesan taxi untuk mengantarnya pulang” kata Tiffany

“oo.. geure”

Tiba-tiba terdengar suara seseorang selain Han di telpon.

“eonni aku lapar”

Tiba-tiba Ji Zun sudah muncul di ambang pintu kamarnya sambil menggaruk tengkuknya dengan mata yang masih mengantuk.

“o! astaga Ji Zun sudah bangun, lebih baik, kau ikut masuk ke dalam taxi dan ikut mengantar Tao pulang, okay? Annyeong!”

“geunn… aishh! Apa lagi ini?”kata Tiffany kesal

“ma’am is there any problem?” Tanya supir itu

“o, no, but wait a minute”

“ada apa?” Tanya Yoona

“gawat, Han memintaku untuk ikut”

“Ji Zun?”

“ya, tiba-tiba dia terbangun, emmm ya sudah aku duluan, kau bisa pulang sendiri kan?” Tanya Tiffany

Akhirnya Tiffany dan Tao pergi bersama ke apartemen Tao. Selama di perjalanan Tiffany hanya memasang wajah kesalnya, karena sejak tadi Tao selalu menjatuhkan kepalanya di pundak Tiffany. Kalau saja ia menghiraukan Tao tadi, mungkin sekarang ini ia sedang tertawa terpingkal-pingkal bersama dengan Yoona di apartemennya.

Akhirnya mereka sampai, tampak Han yang sedang menunggu mereka di depan gedung apartemen, tapi tidak ada Ji Zun.

“o! neo wasseo, dia benar-benar bodoh, Tiffany-shi gumawo, kalau tidak ada kau mungkin malam ini dia tidak pulang” kata Han sambil membantu Tiffany membopong Tao kedalam lobi apartemen.

“gwencana, tadi juga aku tidak sengaja lewat dan melihatnya” jawab Tiffany

Setelah menekan tombol lift, mereka berdua menunggu lift terbuka dan itu cukup lama. Terjadi keheningan di antara mereka. Hanya suara ngelantur Tao yang kedengaran, Han yang melihat kelakuan kakaknya itu hanya mendengus kesal. Akhirnya Han mencoba untuk memulai percakapan.

“emm… aku belum membicarakan dengan Tao untuk selanjutnya, apa kau ada ide?”  Tanya Han

Ting!

“o! pintunya sudah terbuka, kajja!” kata Tiffany, sebenarnya itu salah satu mengalihkan pembicaraan

Sesampainya di apartemen Tao, mereka berdua langsung bergegas membopong Tao ke kamarnya, Ji Zun hanya melongo melihat mereka masuk ke kamar Tao, kemudian ia berfikir sejenak lalu tersenyum dan bergegas menghabiskan ramennya.

“aigoo…  dia berat sekali, padahal kita berdua membopongnya, aku tidak bisa membayangkan kalau aku menggendongnya, huftt..” kata Han

“emm… aku pamit pulang dulu kalau begitu” kata Tiffany

“o! ya sudah, emm mianhae aku tidak bisa mengantarmu sampai ke bawah, di luar ada Ji Zun aku akan menyuruhnya untuk mengantarmu sampai ke bawah” kata Han yang hendak membuka pintu kamar Tao tapi langsung dihadang oleh Tiffany

“aniyo! Nan gwencana, kau urus saja dia, aku bisa turun sendiri” jawab Tiffany

Setelah keluar  dari kamar Tao, Tiffany melihat Ji Zun sedang memandang Tiffany tatapan yang sulit diartikan, Tiffany tampak bingung dengan tatapan Han

“eonni..” kata Ji Zun

“arra… besok kau boleh ke apartemenku” kata Tiffany

“ani.. aku bukan ingin membahas itu, aku ingin membahas Tao oppa” jawab Ji Zun

Mendengar itu, Tiffany segera mengganti raut wajahnya dengan wajah yang lebih sumringah, ini hanya acting Tiffany, ketika Ji Zun mengatakan ingin membahas Tao, Tiffany merasa Ji Zun sudah mulai curiga dengan hubungan mereka sekarang, maka dari itu ia segera memainkan perannya di sini.

“wae?” Tanya Tiffany dengan wajah sumringahnya

Terlihat Ji Zun sedikit terkejut dengan ekspresi Tiffany.

“menurutmu dia laki-laki seperti apa?” Tanya Ji Zun

“emm.. dia sedikt menyebalkan, hehe tapi terkadang dia sangat pendiam”

Apa yang baru saja dikatakan Tiffany tidak masuk dalam skenarionya, ini memang benar, berdasarkan apa yang dia rasakan selama  masih menjalin hubungan dengan Tao

“geure?” kata Ji Zun

“ne, emm kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?” Tanya Tiffany

“karena kalau aku bertanya hal yang sama pada Tao gege, pasti jawabannya akan sama denganmu” jawab Ji Zun

Tiffany hanya tersenyum mendengar jawaban Ji Zun, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, suaranya berasal dari pintu kamar Tao, dengan wajah (?) dan pakaian yang berantakan, ia keluar dari kamarnya dan menuju dapur lalu membuka kulkas dan meminum air mineral dari kulkas tersebut.

“Ji Zun-ah, ini sudah malam, aku pamit pulang dulu” kata Tiffany

“tidak pamit pada oppa?” Tanya Ji Zun

“emm.. oppa, aku pulang dulu” kata Tiffany

Tao hanya tersenyum licik mendengar Tiffany memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’”

“tunggu sebentar, aku ganti baju dulu” kata Tao lalu masuk kembali ke dalam kamarnya

Tiffany mengerti dengan perkataan Tao, itu berarti ia akan diantar pulang oleh Tao. Setelah beberapa menit di dalam kamar, Tao akhirnya keluar juga dengan menggunakan mantel yang Tiffany berikan padanya saat mereka masih bersama. Tiffany hanya memandang Tao dengan tatapan benci.

“Ji Zun-ah, tidurlah sudah malam” kata Tao sambil memasang mantelnya

“kau yakin? Barusan kau mabuk, bisa-bisa aku tidak selamat sampai di apartemenku” kata Tiffany sinis.

Tao kemudian menatap Tiffany dengan senyum khasnya lalu perlahan menggenggam tangan Tiffany.

lalu mereka berdua akhirnya keluar dan segera menuju lift.

Selama di dalam lift, terjadi hening di antara mereka, bukan canggung, tapi mereka memang merasa nyaman dengan kondisi seperti ini. Sudah lama rasanya mereka tidak berbicara berdua dengan serius. Setelah pintu lift terbuka, Tiffany dengan segera  berjalan keluar tapi langkahnya terhenti ketika Tao tiba-tiba menarik kasar tangannya.

“neo mwoya?!?” kata Tiffany

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Tao. Sedangkan laki-laki itu, ia hanya kembali tersenyum dan kembali menggenggam tangan Tiffany masuk ke dalam mobilnya walau Tiffany sudah berusaha sekeras mungkin untuk melepaskan tangan Tao, tapi usahanya nihil.

Mereka berdua sekarang ini sedang dalam perjalanan menuju apartemen Tiffany. Tao sedang serius menyetir dan Tiffany sedang mengelus pergelangan tangannya yang merah kerena perlakuan Tao barusan.

“apa lagi ini?” Tanya Tiffany dengan nada bergetar

“hanya settingan” jawab Tao santai

 

“apa ini karena pengaruh ahlkohol yang kau minum?” Tanya Tiffany lagi

“molla”

“michin namja!” kata Tiffany sinis

“…”

“setelah selesai balas dendam denganku sekarang kau memanfaatkanku untuk adikmu itu? Heh? Neo jjinja michin namja” kata Tiffany dengan nada yang penuh emosi

“…”

“percuma berbicara dengan panda” kata Tiffany

Tao hanya memandang sejenak ke arah Tiffany dan kembali menyetir dengan serius

“kurasa karena actingku kurang memuaskan, adikmu sepertinya mulai curiga denganku, tapi tenang saja, aku sebenarnya merasa cukup kasihan padamu, maka dari itu aku akan berusaha mengimbangi actingmu, tapi aku juga ingin minta maaf sebelumnya kalau nanti aku tiba-tiba melakukan sesuatu di luar scenario, terkadang aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri” jelas Tiffany

“kalaupun adikku tahu,  sebenarnya tidak ada masalah denganku” kata Tao yang disambut tatapan cukup terkejut dari Tiffany.

‘apa maksud orang ini?’

TBC

7 thoughts on “[Freelance] Fake (Sequel of The Burn Rose) (Chapter 2)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s