Our Love – Part 2

our-love-asriwljng2

Title : Our Love

 Author : asriwljng

Length : Chapter(5.058 words)

Rating : General

Genre : Romance, Family, Sad

Main Cast :

–          Jessica Jung

–          Kris Wu

Other Cast : Find it by your self^^

Disclaimer : FF ini asli punyaku, jika ada kesamaan alur cerita dengan FF lain itu karna tidak kesengajaan.

BEWARE OF THE TYPO(s)!

***

Kris POV

Aku mengetuk pintu ruangan kerja ayah dengan tempo yang cepat. Aku sangat penasaran sekarang. Entahlah, feeling ku sangat kuat tentang ini. Jadi aku harus menanyakannya kepada ayah. Aku butuh pembuktian sekarang. Jika ayah tetap berbohong atau tidak menjawabnya, aku terus memaksanya agar memberitahu ku yang sebenarnya.

“Ada apa, Kris?” ayah melepas kaca mata bacanya setelah mendengar ku masuk. Aku menghampiri ayah yang masih tetap berada di kursi kerjanya.

“Alasan yang sebenarnya untuk menjodohkan ku dengan Jessica apa? Apa ini terkait dengan Yuri?” tanya ku to the point. Aku tidak suka berbasa-basi. Memakan waktu. Ayah menghela nafas dan menatap ku sendu. Ugh, aku benci tatapan itu.

“Kau memang pintar, Kris.” Aku hanya diam dan menunggu perkataan selanjutnya. Ayah belum juga membuka mulutnya untuk menjawab ku. C’mon!

“Ya, perjodohan ini berkaitan dengan Yuri. Ayah meminta salah satu orang suruhan ayah untuk mengikuti kalian berdua, kemana pun. Tapi kau tidak menyadarinya, kan? Bahkan, ayah juga menyuruh mereka mengikuti Yuri kemana pun dia bergi, walaupun dia sedang tidak bersama mu. Dan sebulan yang lalu, kami tahu kalau Yuri berselingkuh di belakang mu. Ayah dan ibu melakukan ini agar kau tidak terpuruk. Ayah tidak bisa membiarkan mu  menjadi lelaki yang lemah hanya karena kehilangan satu gadis yang sangat kau cintai. Ingatlah, masih banyak gadis yang lebih baik dari Yuri. Dan ayah serta ibu sudah menemukan gadis itu, dia adalah Jessica. Anggap saja Jessica adalah jodoh mu, sampai kau mati nanti. Ini semua untuk kebaikan mu, Kris.” Jelas ayah panjang lebar. Penjelasannya sudah lebih dari cukup. Aku mengerti sekarang, mereka terlalu baik untuk ku. Bahkan mereka memikirkan tentang jodoh ku kelak. Yang ternyata bukan Yuri, melainkan Jessica.

Tunggu, lalu tentang perusahaan ayah Jessica? Apa itu benar atau tidak?

“Tentang perusahaan ayah Jessica itu hanya kebohongan yang sudah kami susun Kris. Dan yang mengusulkan perjodohan ini Ayah, bukan orang tua Jessica. Sebenarnya kami juga sudah berteman sejak kuliah, kami berjanji jika kami memiliki anak yang berbeda jenis kelaminnya, kami akan menjodohkannya. Dan janji itu tercapai, akhirnya.”

Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Kesal, benci, senang, dan sedih semuanya bercampur menjadi satu di dalam diri ku saat ini. Dan mendengar penjelasan ayah membuat ku mengerti, akan ku lakukan semuanya untuk membahagiakan kedua orang tua ku. Walaupun masa depan ku yang menjadi taruhannya sekarang.

Tapi mereka sudah menyiapkan seseorang yang baik untuk ku, kan? Pilihan orang tua tidak pernah meragukan, aku berharap kehidupan ku dan Jessica nanti akan berjalan dengan lancar. Aku juga berharap kami bisa saling mencintai saat sudah menikah nanti.

***

Jessica POV

And here i am. Di butik gaun pengantin yang katanya gaunnya sangat cantik dan mewah itu. Aku menerima perjodohan itu setelah berpikir berjam-jam sampai waktu tidur ku terbuang begitu saja. Alasan yang kuberikan kepada ibu dan ayah karena aku kasihan dengan karyawan di perusahaan ayah, tidak masuk akal memang. Tapi ayah dan ibu harus berterima kasih kepada karyawan itu karena mereka yang membuat ku menerima perjodohan gila ini.

Baiklah, lupakan tentang itu. Sekarang aku berada di ruang ganti. 2 pegawai ini sedang sibuk memakaikan gaun pengantin yang sangat susah ini. Apa lagi bagian belakang gaun ini seperti memiliki ekor, panjang sekali. Aku takut nanti aku akan tersandung saat sedang berjalan menuju altar. Huh, seharusnya mereka pakaikan saja aku pakaian gembel untuk hari nikah ku nanti, toh siapa yang akan mengkhawatirkan ku? Kris saja tidak. Karena tidak ada cinta.

“Hei, apa tidak ada gaun yang lain? Kalian tahu tidak? Gaun ini sangat membuat ku gerah. Setelah hari pernikahan ku nanti, gaun ini akan ku buang saja, kalau bisa ku bakar.” Ucap ku kepada 2 pegawai itu. Mereka saling menatap tapi tidak memberikan respon apapun dengan perkataan ku. Apa ini yang pemilik butik ini ajarkan kepada mereka? Mendiamkan kostumer yang sedang berbicara kepada pegawainya, begitu?

“Kalian tidak sopan. Cepat buka gaun ini. Aku ingin pulang.”

“Tapi kau belum menunjukkannya kepada keluarga mu, nona.”

“Lihat wajah ku, apa aku peduli?” aku menunjuk wajah ku sendiri sambil menatap tajam 2 pegawai itu. Mereka mengangguk dan segera melepaskan gaun pengantin ini dari tubuh ku. Andai saja aku menikah dengan seorang yang ku cintai, aku rela memakai gaun itu, walaupun yang paling susah di seluruh dunia.

Aku segera keluar dari ruang ganti itu tanpa mengucapkan satu katapun kepada pegawai itu. lalu saat aku keluar dari ruang ganti itu, wajah berbinar dari ibu dan ibu Kris pudar saat mendapati aku keluar bukan menggunakan gaun pengantin, melainkan memakai baju ku yang semula. Aku tidak peduli, mereka harus memaklumi ku. Harus.

“Jessie, kenapa kau tidak memakai gaun itu?” tanya ibu sambil mendekati ku.

“Aku tidak suka. Gaun itu susah dan itu membuat ku gerah. Carikan saja aku gaun yang simpel. Tidak memakai gaun pengantin juga tidak apa.” Aku menghempaskan tangan ibu dari bahu ku. Lalu berjalan keluar dari butik ini secepat mungkin. Aku bisa membayangkan ekspresi ibu dan ibu Kris, pasti mereka sangat terkejut. Apa peduli ku?

Tak sengaja aku menabrak seseorang saat baru saja keluar dari butik ini. Apa dia tidak mempunyai mata? Seharusnya dia melihat aku sedang jalan disini. Mungkin dia buta. Ah sudahlah, aku tidak peduli. Aku menghampiri mobil ku yang terparkir di depan butik ini. Namun tangan seseorang menahan ku untuk pergi. Siapa dia? Ibu?

“Kenapa tidak masuk?”

Aku kenal suara ini. Ya, dia Kris! Dasar lelaki gila, seenaknya saja menahan ku untuk pergi. Seperti kejadian tadi malam. Sebenarnya mau dia apa?

“Aku sudah masuk.”

“Ibu mu dan ibu ku dimana?”

“Di dalam. Masuk saja sana.” Aku segera menghempaskan tangan ku dari genggamannya. Dan melanjutkan lagi jalan ku yang terhenti karena Kris. Aku langsung saja masuk ke dalam mobil ku dan menjalankannya meninggalkan butik ini dan meninggalkan ibu. Terserah ibu mau pulang naik apa, yang terpenting sekarang aku tidak di ganggu oleh ibu dan Kris.

***

Kris POV

Aku berdiri di belakang ibu dan ibu Jessica. Sekarang mereka berdua sedang mengurus pakaian kami untuk pernikahan kami yang akan di laksanakan 1 minggu lagi. Ini terlalu cepat, aku pikir kami akan menikah 1 bulan atau 2 bulan lagi, tapi ternyata salah.

Aku sempat terkejut juga saat ibu menelfon ku mengatakan bahwa Jessica menerima perjodohan ini, dan ibu menyuruh ku datang ke butik ini untuk menjemputnya dan katanya melihat Jessica saat memakai gaun itu. Tapi saat aku baru mau masuk ke dalam butik ini, Jessica sudah ingin meninggalkan butik ini. Aku tidak tahu apa dia sudah mencoba gaunnya apa belum.

“Kris, tadi kau lihat Jessica?” tanya ibu Jessica. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum sebagai jawaban, lalu ibu Jessica menghela nafas. Sepertinya dia sudah lelah sekali mengurus sifat Jessica yang begitu keras. Dan yang ku tahu Jessica bersikap seperti itu kepada ibunya karena ibu dan ayahnya itu bukan orang tua kandungnya. Tapi aku tidak peduli. Itu urusan pribadinya.

“Kau pulang dengan apa?” tanya ibu kepad Ibu Jessica.

“Naik taksi saja. Anak itu sudah meninggalkan disini.”

“Kalau begitu kau ikut dengan ku saja, nanti ku minta Kris untuk mengantarkan mu.”

“Bagaimana, Kris? Kau mau mengantarnya, kan?” lanjut ibu. Aku mengangguk. Lalu kami bertiga keluar dari butik itu untuk kembali ke rumah masing-masing.

***

Jessica POV

Rasanya cepat sekali, sekarang adalah hari pernikahan ku dengan Kris. Orang tuaku dan orang tua Kris memang niat sekali untuk menjodohkan kami, semuanya sudah benar-benar di siapkan dari jauh-jauh hari. Aku dan Kris tinggal menerima jadinya saja. Sekarang aku sedang berada di ruangan ku di rias, aku sudah memakai gaun yang waktu itu ku coba. Uh, ku kira ibu akan mencarikan gaun yang lain untuk ku.

Done.” Ucap penata rias ku sambil meletakkan blush on yang tadi dia gunakan di pipi ku. Aku mengamati diri ku di cermin ini. Ini bukan seperti diri ku yang biasanya, aku sangat cantik. Walaupun penata rias ini hanya memberi make up yang tipis, tapi make upnya membuat wajah ku berubah sekali. Aku bahkan tidak yakin kalau ini diri ku sendiri.

Aku mengambil ponsel ku dan membuka aplikasi kamera, memfoto diri ku sendiri dengan make up ini dan tataan rambut yang berbeda. Sekedar kenangan, siapa tahu nanti aku dan Kris akan berpisah? Bisa saja aku merindukannya dan dengan melihat foto itu rindu ku hilang. Lupakan.

Aku melihat jam yang menggantung di dinding, 30 menit lagi acara pernikahan ku di mulai, pengucapan janji suci, yang sebenarnya di ucapkan dengan tulus tanpa ada paksaan maupun ke bohongan. Tapi aku melanggarnya. Oh Tuhan, maafkan aku.

***

Kris POV

Aku berdiri di atas altar dengan gugup, menunggu Jessica yang akan datang bersama ayahnya. Semua tamu undangan sudah duduk dengan manis di tempat duduknya masing-masing. Aku meremas tangan ku sendiri, tangan ku sampai berkeringat karena kegugupan ku yang terlalu berlebihan. Aku menikah dengan orang yang tidak ku cintai saja gugup seperti ini, bagaimana jika aku menikah dengan orang yang sangat-sangat ku cintai? Mungkin aku sudah meleleh di tempat ku berdiri.

Suara pintu gereja terbuka, dan muncul lah Jessica bersama ayahnya. Dan kedua anak kecil yang seang menaburkan bunga mawar merah dan putih. Mereka Lauren dan Daniel, ke dua sepupu ku yang baru berumur 6 tahun itu. Lalu aku melihat Jessica, dia tersenyum, namun kentara sekali kalau itu adalah senyuman yang di paksakan. Berbeda sekali dengan wajah ayahnya yang sedang tersenyum berbahagia.

Aku meraih tangan Jessica saat dia sudah berada di dekat ku, dan membawanya ke atas altar dan kami mengucapkan janji suci yang di pimpin oleh pastur ini. Dan aku mengecup bibirnya sebentar. Lalu terdengar suara tepukan tangan yang sangat meriah. Aku melihat wajah ibu dan ayah yang sangat bahagia, bahkan aku bisa melihat air mata ibu yang hampir mengalir itu.

Aku harap Jessica memang jodoh ku yang sebenarnya, seperti yang sudah ayah katakan waktu itu. Dan ku harap, aku bisa mencintai Jessica lama-kelamaan, dan Jessica pun sama seperti itu. Ku mohon, tidak ada gangguan di dalam hubungan ini. Dan jagalah hubungan ini sampai ajal menjemput ku dan Jessica. Semoga Tuhan mendengar doa ku.

***

Author POV

Jessica dan Kris hanya berdiri bersama sambil menjabat tangan orang yang memberi mereka ucapan selamat. Tak banyak dari teman mereka yang datang, kebanyakan rekan bisnis ke dua orang tua mereka. Kris dan Jessica berdiri dengan canggung, walaupun Kris sudah berusaha membangun pembicaraan di antara mereka berdua. Tapi Jessica terlihat sama sekali tidak tertarik berbicara dengannya.

Dan tamu yang sedari tadi Jessica tunggu akhirnya datang juga, Tiffany bersama kekasihnya, Chanyeol. Mereka sangat terlihat serasi. Sudah 2 tahun mereka bersama dan tidak pernah ada yang berusaha menganggu hubungan mereka, dan yang membuat hubungan mereka bertahan sejauh ini juga karena mereka percaya satu sama lain. Betapa irinya Jessica dengan mereka.

“Congrats, Jessie!” ucap Tiffany sambil memeluk Jessica. Jessica membalas pelukannya dan mengelus punggung Tiffany pelan. Sepertinya Jessica sedang butuh pelukan seseorang sekarang.

“Congrats, dude.” Chanyeol menjabat tangan Kris memberi ucapan selamat. Kris membalas jabatan tangan Chanyeol dan tersenyum ramah.

“Thanks.”

“Jaga Jessica, ya. Aku dan Tiffany sudah lama sekali mengenalnya. Walaupun di antara kalian tidak ada cinta sama sekali, tapi aku dan Tiffany menitipkan Jessica dengan mu.” Ucap Chanyeol menasihati Kris, Chanyeol menepuk pundak Kris pelan dan membiarkan Kris yang tiba-tiba terdiam dengan ucapan Chanyeol tadi.

***

Kris POV

Acara pernikahan kami sudah berakhir sejak 30 menit yang lalu. Setelah semua tamu undangan keluar dari gedung ini, ini adalah giliran kami untuk pulang ke rumah yang sudah orang tua kami berikan. Aku menyuruh Jessica mengaitkan tangannya di lengan ku. Karena saat kami keluar dari gedung ini, banyak sekali wartawan yang sudah menunggu di depan sana.

Aku semakin mendekatkan Jessica ke arah ku, karena tak jarang beberapa wartawan yang tidak sengaja ataupun sengaja menyenggol Jessica. Dan melindunginya dari kilatan-kilatan kamera yang membuat sakit mata melihatnya.

Aku dan Jessica masuk ke dalam mobil yang sudah di siapkan untuk kami. Jessica langsung menghela nafas lega setelah mendudukkan dirinya di jok mobil ini.

“Astaga, kenapa banyak sekali wartawan?”

“Itu karena mereka ingin meliput pernikahan kita, Jess. Mereka pasti sudah membaca artikel tentang kita, dan semua warga Korea juga tahu itu.”

“Hah? Artikel apa?”

“Kau tidak tahu?”

“Sama sekali tidak.”

“Artikel itu ten–“

“Ah sudah lupakan. Aku tidak mau mendengar tentang artikel itu.”

Jessica langsung menyuruhku berhenti berbicara ketika aku mau menjelaskan tentang artikel itu. Dia benar-benar tidak ingin menerima perjodohan ini, ya? Aku juga sama seperti dia, tapi aku masih bisa mengerti keadaan, apa lagi perjodohan ini di lakukan demi diri ku sendiri. Bagaimana ya reaksi Jessica saat mendengar alasan sebenarnya kami di jodohkan? Pasti dia akan sangar marah. Dan mungkin tidak akan memaafkan ke dua orang tuanya, terlebih keluarga ku.

***

Jessica POV

Kami sudah sampai di rumah baru kami. Aku sempat terkejut melihat rumah ini. Luar biasa hebat, ini besar sekali. Bahkan besar rumah ini hampir sama dengan rumah ku. Seharusnya orang tua kami berfikir saat ingin membeli rumah ini, kami hanya tinggal berdua. Tidak akan bertambah lagi. Apa lagi anak. Aku tidak sudi jika mengandung anak Kris.

Baiklah lupakan. Sekarang aku baru saja turun dari mobil setelah menerima bantuan kecil dari Kris untuk membenarkan ‘ekor’ gaun ku ini. Hari in aku sangat lelah karena hampir seharian penuh menggunakan gaun ini, asal kalian tahu saja gaun ini sangat berat. Dan aku berdiri menggunakan heels yang memiliki tinggi 10 cm. Rasanya aku mau pingsan saja.

Aku masuk ke dalam rumah ini dan langsung mencari kamar untuk mengistirahatkan diri ku malam ini. Dan bersyukurlah karena di rumah ini terdapat 3 kamar. Aku mengambil kamar yang paling ujung yang berada di lantai dua.

“Hei, Kris! Kamar ku berada di ujung sana. Kau pilih saja kamar mu yang mana. Di rumah ini ada 3 kamar. Baiklah, selamat malam.” Ucap ku sambil menunjuk kamar ku. Kris hanya mengangguk tanpa mengucapkan satu kata pun.

***

Ugh, ini sangat menjengkelkan! Sudah 10 menit aku berusaha untuk melepas gaun ini dari tubuh ku, namun aku sama sekali tidak berhasil. Aku ingin meminta bantuan Kris, tapi rasa gengsi ku lebih besar dan membuat ku yakin kalau aku bisa membuka gaun ini sendiri, walaupun kecil kemungkinannya.

Suara ketukan pintu kamar ku terdengar, aku berjalan dengan lambat karena gaun ini memperlambat jalan ku. Apa harus gaun ini ku gunting agar terbuka dari tubuh ku? Tapi setelah melihat gaun ini lebih lama lagi, aku jadi tidak yakin.

“Ada apa?” tanya ku langsung kepada Kris setelah membuka pintu kamar ku. Enak sekali dia, dia sudah memakai pakaiannya yang lebih santai, sedangkan aku masih memakai gaun ini.

“Aku hanya ingin memberi tahu kalau besok kita akan pergi ke Bali. Ibu sudah meletakkan tiketnya di meja rias kamar ku.”

“Oh, ya sudah. Jam berapa?”

“Jam setengah 10 pagi kita take off. Jadi, kita pergi ke bandara jam setengah 10 pagi. Bisa?”

What?! Are you kidding? Sekarang saja sudah jam 11 malam dan kita akan pergi jam segitu? Aku tidak bisa bangun pagi. Jadi besok jangan salahkan aku jika kita ketinggalan pesawat.

Saat aku mau menutup pintu kamar ku, Kris menahannya. Ingin sekali aku memakinya karena sudah menganggu waktu istirahat ku. Sebenarnya apa maunya? Menganggu ku? Ini suadh lebih dari cukup untuk menganggu ku.

“Apa lagi?!”

“Kau perlu bantuan untuk melepas gaun mu tidak?”

“Tidak, terima kasih.”

Aku menutup pintu kamar ku lagi, dan kembali ke kasur ku. Apa aku harus tidur menggunakan gaun ini? Lalu bagaimana besok  keadaan tubuh ku saat bangun tidur? Sangat menyedihkan. Seharusnya aku menerima saja penawaran Kris tadi, dan buang saja rasa gengsi ku padanya! Sekarang pasti dia sudah kembali ke kamarnya dan sudah bersiap untuk tidur.

***

Kris POV

Aku berdiam beberapa detik di depan pintu kamar Jessica. Berpikir apa harus aku masuk  ke dalam kamarnya atau tidak. Aku kasian sekali melihatnya, saat dia membuka pintu kamarnya tadi, wajahnya merah padam dan terlihat sangat kesal. Dan aku yakin penyebabnya karena dia tidak bisa membuka gaunnya itu.

Gaun itu memang gaun yang paling susah desainnya yang pernah ku lihat. Apa lagi gaun itu memiliki ‘ekor’ yang panjang di belakangnya, yang bisa saja membuat orang itu terjatuh saat ada seseorang yang tidak sengaja menginjak gaun itu.

Aku langsung saja membuka pintu kamarnya dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia terlihat sangat kaget setelah aku masuk ke dalam kamarnya.

“Kau mau apa ke sini?”

“Untuk membuka gaun mu. Aku kasihan sekali melihat mu masih memakai gaun itu. berbalik lah.” Aku mendekatinya dan menarik tangannya agar bangun dari tempat tidurnya. Dan dia langsung berbalik membalakangi ku. Aku langsung melepas resletingnya.

T-thanks. Kau boleh keluar sekarang.” Ucapnya sambil menunduk. Aku tersenyum tipis melihat kelakuannya tadi. Apa dia takut kalau aku melihat badannya? Tadi aku hanya melihat punggungnya yang putih bersih itu. Tidak semua badannya. Lupakan.

Aku keluar dari kamarnya dan kembali ke kamar ku yang berada di sebelah kamarnya. Lalu langsung memejamkan mata ku untuk tidur saat sudah sampai di kasur ini. Kasur ini sangat empuk, benar kata Jessica, sepertinya aku besok tidak bisa bangun pagi karena aku sangat lelah sekarang.

***

Author POV

Pasangan kekasih itu menarik koper mereka masing-masing memasuki ruang keberangkatan di bandara ini. Tangan mereka yang menganggur saling mengait dan berjalan beriringan dengan gembira. Gadis itu tersenyum senang, namun jika seseorang melihat senyuman itu lebih teliti lagi, senyuman itu juga terdapat senyuman miris.

Lelaki itu juga tersenyum sambil terus menggandeng tangan kekasihnya. Senyumannya terlihat sangat gembira, dan terlihat sangat licik. Entahlah, sepertinya lelaki itu punya maksud lain terhadap gadisnya ini. Tidak ada seorang pun yang tahu tentang pikirannya terhadap kekasihnya ini.

Saat mendengar suara yang memanggil mereka agar cepat masuk ke dalam pesawat, mereka mempercepat jalan mereka karena 20 menit lagi pesawat mereka akan take off. Dan mereka akan meninggalkan negara ini untuk beberapa hari.

***

Jessica POV

Sekarang sudah menunjukkan waktu pukul setengah tujuh pagi, dan aku sudah bangun setelah mendengar suara alarm dari ponsel ku yang terus berbunyi untuk meminta di matikan. Semalam aku memasang alarm agar aku tidak telat terbangun untuk hari ini. Sebenarnya aku juga sangat excited karena akan pergi ke Bali. Tempat yang terkenal dengan pantainya yang sangat indah itu.

Mereka sepertinya tahu sekali kalau selama ini aku ingin sekali pergi kesana, namun tidak pernah tersampaikan. Jadi bisa di bilang hari ini aku sangat semangat. Bali, i’m coming!

Aku segera bangkit dari tempat tidur ku dan berlari menuju kamar mandi di dalam kamar ini, membersihkan tubuh ku. Semalam aku belum sempat mandi sama sekali, setelah Kris membantu melepas gaun ini, aku segera mengganti pakaian ku menjadi piyama dan langsung terlelap begitu saja.

Berbicara tentang Kris, apa lelaki itu sudah bangun? Sepertinya dia tipikal yang sama seperti ku, susah untuk bangun pagi. Ah tapi mungkin dia sudah bangun, kan dia yang memberi tahu ku kalau pagi ini kita akan pergi. Lupakan tentang Kris, aku tidak ingin memikirkan lelaki itu. Setelah selesai mandi, aku keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe yang sudah ku bawa dari rumah ku. Bathrobe kesayangan ku yang berwarna merah muda dan terdapat motif hello kitty.

Aku mengambil pakaian yang masih berada di koper ku, semalam aku tidak sempat untuk memasukkan pakaian ku dalam lemari, mandi saja tidak sempat. Aku memilih pakaian yang bisa di bilang favorit ku, sweater hijau tebal dan celana jeans berwarna abu-abu cerah. Aku tahu Bali terkenal dengan cuacanya yang panas, namun aku ingin sekali memakai sweater ini, hadiah terakhir yang ibu kandung ku berikan pada ku sebelum dia meninggal.

Sial, aku jadi rindu dengan ibu kandung ku. Aku belum ke makamnya 1 bulan ini. Biasanya aku selalu ke makam ibu dan ayah bersama Krystal, namun karena Krystal sibuk belakangan ini, aku jadi tidak sempat mengunjungi makam ibu dan ayah. Yeah, walaupun aku bisa saja datang sendiri kesana. Namun pasti ibu dan ayah lebih senang lagi jika kedua anaknya datang mengunjungi mereka berdua.

***

Kris POV

Kini aku sedang berada di dapur, memasakkan sarapan untuk ku dan Jessica. Aku sudah bangun sejak jam setengah 6 pagi, dan aku juga sudah rapi, tinggal menunggu Jessica selesai bersiap-siap, kami selesai sarapan, lalu kami pergi ke bandara untuk pergi ke Bali.

Aku hanya memasak nasi goreng seafood untuk sarapan pagi ini, karena ku yakin di dalam pesawat nanti kami akan di beri makanan, karena perjalan dari Seoul ke Bali cukup memakan waktu yang lama. Aku tidak tahu berapa jam, tapi pasti lama. Dan aku memasak pagi ini karena ku tahu Jessica tidak bisa memasak, aku bisa memasak, namun tidak seenak makanan ibu. Ah, pasti aku akan rindu sekali masakan ibu.

Aku menuang nasi goreng ini ke piring yang sudah ku siapkan. 2 piring untuk ku dan Jessica. ku harap Jessica suka masakan ku, dan aku juga berharap dia tidak alergi dengan seafood, karena Yuri alergi dengan seafood. Sial, kenapa aku harus meningat wanita itu lagi?

Lalu ku dengar suara sepatu dari arah belakang ku, pasti Jessica. Siapa lagi? Hanya kami berdua yang tinggal di rumah ini. Rumah yang lebih dari mewah. Aku jadi kasian jika nanti kami berdua mempunyai pembantu, pasti pekerjaannya sangat banyak dan melelahkan.

“Kau memasak? Wow hebat.” Jessica langsung duduk di kursi makan, aku memberikan satu piring berisi nasi goreng seafood itu kepadanya, dan langsung di terima olehnya sambil tersenyum. Ini pertama kalinya aku melihatnya tersenyum dengan tulus seperti itu.

“Kau tidak alergi dengan seafood, kan?” tanya ku pada Jessica. Jessica menggeleng dan tetap asik memakan makanannya, kelihatan sekali kalau dia lapar, dia makan dengan tempo yang sedikit lebih cepat. Ah, aku baru ingat terakhir dia makan jam 7 malam kemarin. Pantas saja dia lapar sekali pagi ini.

Aku mulai memakan makanan ku, enak seperti biasanya. Tidak sia-sia ibu mengajarkan ku masak saat kecil. Waktu itu ibu berkata kalau aku harus bisa memasak, karena siapa tahu aku mendapat istri yang tidak memasak. Dan sekarang terjadi, aku memang benar mendapat istri yang tidak bisa memasak.

***

Jessica POV

Masakan Kris tidak buruk juga, bahkan ini sangat enak. Aku jadi malu sendiri karena aku sama sekali tidak bisa memasak. Apa jangan-jangan Kris sudah tahu aku tidak bisa memasak? Ah ini memalukan. Sepertinya mulai sekarang aku harus belajar memasak. Jika Kris pergi dan aku sendiri di rumah, lalu tiba-tiba aku lapar, bagaimana? Tidak mungkin aku menyuruh Kris pulang hanya untuk memasakkan ku, kan? Tapi memesan makanan cepat saji juga bisa. Ah sudahlah, lupakan.

Aku sekilas melihatnya, ternyata selera fashionnya bagus juga. Dia memakai kemeja putih berlengan panjang, dengan kancing kemejanya yang dia kancing sampai atas. Lalu dia menggunakan celana jeans hitam yang terlihat pas sekali dengan kaki panjangnya itu. Ku akui hari ini dia tampan, walaupun mungkin sehari-harinya dia juga tampan. Tapi aku tidak peduli, hanya hari ini saja dia terlihat tampan bagi ku.

Aku bangkit dari duduk ku dan meletakkan piring kotor ini ke dalam wastafel, lalu mencucinya dengan bersih dan meletakannya di rak piring yang berada di samping ku. Setidaknya aku bisa mencuci piring, dan menyapu. Yeah, jadi aku tidak terlalu malu di depan Kris karena tidak bisa melakukan banyak pekerjaan rumah tangga. Aku mengecek jam arloji yang berada di pergelangan kiri ku, sekarang sudah jam setengah 8 pagi. Ini masih terlalu cepat kami berangkat menuju bandara. Tapi aku takut kalau di jalan nanti kami terjebak macet, dan kami akan tertinggal pesawat. Lebih baik kami berangkat sekarang.

Kris datang mendekati ku sambil membawa piringnya yang sudah kosong, aku mengambilnya dan segera mencucinya. Sekarang ini pekerjaan ku.

“Eh?” Kris bergumam pelan saat melihat sikap ku. Aneh? Memang. Tapi ini sekarang pekerjaan ku. Aku sekarang sudah menjadi istri dari seorang Kris Wu. Dan sudah tugas ku untuk mengerjakan semua ini, termasuk memasak walaupun sebenarnya aku tidak bisa.

“Kita berangkat sekarang, Kris?” tanya ku sambil mengeringkan tangan ku di kain kecil yang tergeletak di dekat wastafel ini. Kris mengecek jamnya, lalu mengangguk. Dan tak lupa dia tersenyum. Sial, hari ini dia benar-benar tampan. Senyumannya membuat ku sedikit terpaku, walaupun itu hanya senyuman tipis. Ingat, senyuman tipis.

***

Kris POV

Hari ini Jessica sedikit berubah. Sifatnya sedikit melembut terhadap ku, walaupun dia masih bersikap acuh kepada ku. Tapi sepertinya dia sudah sadar sekarang dia sudah menjadi istri. Dan dia tahu pekerjaannya sebagai istri. Tadi dia langsung mengambil piring kotor bekas makanan ku, lalu mencucinya.

Aku tidak mempedulikan hal itu, aku langsung pergi meninggalkan Jessica untuk mengambil koper ku yang masih berada di kamar ku, ku lihat koper Jessica sudah berada di samping anak tangga. Sepertinya itu kopernya yang semelam, dan ku tebak pasti dia belum sempat membereskan semua pakaiannya ke dalam lemari.

***

Setelah menghabiskan waktu satu jam di perjalanan untuk menuju ke bandara, akhirnya kami sampai juga di bandara ini tanpa ada halangan sama sekali saat menuju kesini. Jalanan kota hari ini sangat sepi dan tidak banyak mobil yang melintas. Mungkin karena hari ini hari minggu jadi semua orang masih menghabiskan waktu pagi mereka di kasur tercintanya.

Supir yang tadi mengantarkan kami ke bandara membuka pintu bagasi mobil ini dan mengeluarkan kedua koper kami.

“Terima kasih.” Ucap ku dan Jessica bersama. Sopir itu hanya mengangguk dan masuk kembali ke dalam mobil dan tak lama mobil itu sudah meninggalkan ku dan Jessica di bandara ini. Aku mengecek lagi jam arloji ku, sekarang sudah jam setengah 9, aku membantu Jessica membawa kopernya. Remember, i’m her husband.

Jessica berjalan di samping ku sambil terus memainkan ponselnya, sedari tadi di dalam perjalanan di juga tidak lepas sama sekali dengan ponselnya. Sebenarnya apa yang dia lihat? Tapi kadang dia juga memanyunkan bibirnya sambil mencibir pelan. Itu sangat menggemaskan.

“Kita langsung saja ke tempat keberangkatan?” tanya Jessica sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku jeansnya. Aku mengangguk, lalu kami berjalan lurus menuju ruang keberangkatan untuk mengurus segalanya. Mungkin memerlukan waktu 30 menit? Aku tidak tahu, sudah lama aku tidak pergi ke luar negeri.

***

Jessica POV

Aku terbangun dari tidur ku saat merasakan seseorang menggoyangkan badan ku pelan. Aku menggeliat kecil dan terbangun dari tidur ku. Tulang belakang ku rasanya seperti remuk, sakit sekali tidur dalam keadaan duduk seperti ini, walaupun kursi pesawat ini empuk, sangat empuk malah. Kris melambaikan tangannya di depan wajah ku, aku segera tersadar dan sudah sepenuhnya bangun.

“Sudah sampai?” tanya ku dengan suara serah, khas suara orang yang baru bangun tidur.

“Belum, 5 menit lagi mendarat.” Jawab Kris singkat. Aku hanya diam dan melihat ke jendela di samping ku, karena kebetulan sekali aku mendapat duduk di ujung. Aku bisa melihat kota Bali dengan jelas dari atas, pantai saja sudah kelihatan dari atas sini.

Rasanya aku tidak sabar untuk menginjakkan kaki ku di pasir pantai Bali.

“Ayo.” Kris mengulurkan tangannya untuk mengajak ku bangun. Aku menatapnya heran dan bangun sendiri. Tumben sekali dia ingin membantu ku berdiri. Padahal aku juga bisa bangun sendiri. Sudahlah. Aku dan Kris keluar dari pesawat ini bersama penumpang pesawat yang lain.

Here we are! We arrive in Bali!

***

Kris POV

Setelah urusan di bandara selesai, kami segera pergi menuju hotel yang akan kami tempati selama kami tinggal di Bali. Kami menggunakan taksi menuju ke hotel itu, untung saja supir taksi ini bisa berbahasa inggris dengan baik, jadi kami tidak repot untuk berbicara dengannya.

Setelah 30 menit di perjalanan, kami sampai juga di hotel ini. Ternyata Bali itu sangat panas, dan penduduknya bisa di bilang lumayan banyak, karena tadi kami sedikit terkena macet. Supir taksi itu membuka pintu bagasi ini dan kami mengambil koper masing-masing.

“Bisa?” tanya ku saat melihat Jessica susah untuk membawa kopernya. Tanpa menunggu jawabannya, aku segere membawakan kopernya dan kami masuk ke dalam hotel ini. Sungguh, hotel ini sangat mewah, sampai aku dan Jessica sempat ternganga melihat lobi hotel ini. Lobi hotel saja sudah bagus, apa lagi kamarnya?

“Kau tidak salah hotel, kan?” tanya Jessica sambil kami berjalan menuju meja resepsionis.

Welcome to this hotel. Can i help you?” tanya resepsionis itu dengan sopan, ke dua telapak tangannya dia rapatkan dan dia letakkan di depan dadanya, lalu dia sedikit menunduk untuk memberi salam, mungkin. Aku tidak tahu.

“Ya, apa ada kamar yang kosong?” tanya ku menggunakan bahasa Inggris.

“Maaf, tapi semua kamar di sini sudah penuh. Apa kalian tidak memesan kamar terlebih dahulu sebelum datang kesini?”

Aku coba mengingat, tertulis dengan jelas di kertas kecil di samping tiket kami bahwa ini adalah hotel kami. Lalu aku mengambil dompet ku dan mengambil secarik kercas yang sudah terlipat. Aku tersenyum melihat kertas itu dan segera memberikannya kepada resepsionis itu.

“Oh, Mr. Wu dan Mrs. Wu? Kamar kalian nomor 625 di lantai 6, ini kuncinya.” Resepsionis itu langsung memberikan kunci kamar kami setelah membaca tulisan di dalam kertas itu. Aku mengambil kertas itu dan segera menarik koper ini.

***

Jessica POV

Saat aku dan Kris ingin meninggalkan meja resepsionis itu, seseorang memanggil ku dari belakang. Aku heran kenapa di Bali ada orang yang mengenal ku, apa aku terkenal? Aku langsung membalikkan badan ku dan menemukan seorang lelaki bersama perempuan yang sedang tersenyum ke arah ku. Mereka berdua menghampiri kami, aku mengernyitkan kening ku heran. Dia siapa?

Who are you?” tanya ku kepada lelaki itu.

“Kau tidak kenal dengan ku? Serius?”

“Siapa?” tanya ku heran. Hei, aku tidak mengenal lelaki ini, tapi aku merasa familiar dengan wajahnya. Apa aku pernah mengenalnya dulu?

“Aku Luhan! Teman SMP mu, oh maaf, cinta pertama mu!”

“Luhan?” aku menyebut namanya pelan, sambil mengingat-ingat masa SMP ku yang katanya dia adalah cinta pertama ku. Benarkah? Ingatan ku buruk sekali, payah.

“Masih tidak mengingatnya?”

“Oh! Xi Luhan! Ah lupakan tentang itu, itu hanya masa lalu.” Ucap ku malu kepadanya, Luhan hanya tersenyum menyeringai melihat ku. Ugh, kebiasaannya memang tidak pernah berubah dari dulu. Selalu menyeringai seperti itu kepada ku saat aku sedang malu atau tersipu.

“Kenalkan, dia Yuri, kekasih ku.” Ucap Luhan sambil menggandeng kekasihnya yang ternyata bernama Yuri, cantik juga, warna kulitnya coklat dan membuatnya tampak sexy. Pantas saja Luhan menyukai Yuri, Luhan dari dulu memang terkenal dengan pikiran mesumnya.

“Hai! Aku Jessica! Nice to meet you, Yuri!” aku mengulurkan tangan ku untuk menjabatnya, bermaksud untuk berkenalan.

Nice to meet you too, Jessica.

Aku mengalihkan pandangan ku kearah Kris, sedari tadi dia hanya memandangi Yuri tajam, apa pikirannya sama dengan Luhan? Mesum? Ah jangan sampai! Itu akan menjadi mimpi buruk bagi ku. Apa lagi kami satu kamar saat di hotel ini. Hentikan pikiran bodoh mu, Jessica.

“Dia siapa?” tanya Luhan sambil matanya terfokus ke arah Kris. Mati aku, aku harus menjawab seperti apa? Apa aku harus memberi tahunya bahwa Kris itu suami ku? Tidak-tidak, itu bukan keputusan yang baik. Aku malu.

“Dia saudara ku.” Ucap ku berbohong pada Luhan. Luhan mengangguk lalu menjabat tangan Kris, Kris membalas jabatan tangan Luhan tanpa mengucapkan satu kata pun. Tapi aku dapat melihat tatapan mata Kris dan Luhan seperti seseorang yang sedang marah. Entahlah, aku tidak tahu dan aku tidak peduli.

“Oh maaf, sebenarnya aku suaminya. Kami akan kembali ke kamar kami. Sampai jumpa.” Ucap Kris dan langsung menarik ku menjauh dari Yuri dan Luhan. Maksudnya apa? Dia cemburu? Tidak mungkin. Tapi maksudnya menarik ku menjauh dari mereka apa? Mereka tidak salah apa-apa. Lelaki ini benar-benar membuat ku kesal, selalu. Aku berharap aku bisa cepat berpisah dengannya agar tidak menjadi gila karenanya.

TBC

YEAAAAAAAAYYY PART 2 UPDATE WAHAHAHAHA. CEPET KAN? IYA KAN? IYA DONG! KAN LAGI MOOD LANJUTIN FF INI :3

Makasih buat semua readers maupun silent readers yang udah baca dan comment! Makin semangat tau lanjutin ff ini :3 Maaf banget bangetan kalo part ini ga jelas dan bosenin -_- ide ku mampet/? Ga banyak ngomong deh -_- cuman pengen comment dan likenya aja hehehehehehehehe😀

Oh ya, kayaknya part 3 rada lambat karena bentar lagi UTS, senin depan huhuhuhu😦 siap-siap nunggu lama kaya ff ku yang sebelum-sebelumnya ya😉

29 thoughts on “Our Love – Part 2

  1. Thor, kenapa Sica nya kejam gitu ya??
    Aduh Luhan dan Yuri pasti jadi pengganggu hubungan Kris dan Sica deh TT
    Semoga Sica-nya cepat membuka hati ke Kris

  2. Jessica dingin banget sama Kris, kasihan banget deh..
    Bagus banget, kapan mereka honey moon? Udah bayangin gimana kalau mereka honey moon di Bali xD /plak/
    Kris yang sabar ya… Jangan biarin Jessica direbut Luhan! Dan jangan sampek kamu nyakitin Jessie! Kamu tau apa ini? /nunjukin golok ke Kris/
    Ceritanya menegangkan, romantis tapi kurang, dan pingin nyakar muka Yuri >,< /esmosi/
    Semangat buat UTSnya thor! Keep writing! Fighting~~ ^^

  3. woahhh,author salah,siapa bilang ff ini gk jelas?? malah ini bagus loh! aku suka aku suka!!😀
    ceritanya bikin greget bgt apalagi scene terakhirnya pasangan Kris-Jessica ketemu sm Luhan-Yuri,huwaaaaa>< bisa jadi perang dunia ketiga nih… :3
    dan kayanya td si Kris itu cemburu apa emang mau mana-manasin Yuri kalo dia udh nikah sm Sica?? .-.
    aduhhhh,intinya ff author bagus+bikin pensasaran+gregetan,saeng smpe kesel sendiri bacanya :3
    daebakk!😀 chapter selanjutnya ditunggu ne?? ^_^

  4. next chapter juseyoo \o/
    seru banget chapter yang ini thorr!!
    huaaaa>< seneng banget kris sama jessica udah nikahh
    aku ga sabar kelanjutannya! penasaran banget kris sama jessica bakal ngelakuin adengan panas ga ya? *eh hihi
    thor next chapternya kalo bisa dipanjangin yaa hihi
    aku tunggu yaa ^^ fightingg

  5. D kurangi typo-y ya author…
    Aq bca part 1 bgus banget….
    D part 2 ini karna ada bbrapa kalimat yg tiba” muncul ….pdhal lg g fly ma crita jd jtuh lg ragara authory sendri yg nyuruh ‘lupakan’….
    Selamat berfkir untuk next party author yg kece….

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s