G-A-M-E-O-V-E-R (Chapter 5)

gameover1(ladyoong's created)

JESSIE KIM

PROUDLY PRESENT

 

.

.

I got you.” Seringai Tiffany semakin lebar saat memperhatikan layar monitor besar dihadapannya. Bukan, ia tidak sedang memperhatikan acara tv yang menampilkan dua kelompok yang saling mengejar dan mencabut nama dipunggung. Namun seorang lelaki yang sedang memegang revolvernya sambil berusaha menembaki pion-pion lawannya.

Berterima kasihlah pada anak buahnya yang berhasil membobol sistem kamera pengintai jalanan tanpa diketahui oleh pihak polisi.

Pandangannya beralih pada wanita dibelakang Jongin yang sama sibuknya seperti lelaki incarannya tadi. Menatap wanita itu cukup lama lalu mengalihkan kembali perhatiannya pada hal lain–apa saja yang bisa mengalihkannya. Jadi, dia sudah menemukan mereka…

Ketika Tiffany hendak berbalik menuju ruangan bosnya–god! Ia sangat yakin bisa menangkap tikus itu kali ini, sebuah suara mengalihkannya, “Miss!

Tiffany menghentikan langkahnya, mengangkat alisnya.

He’s calling someone!

Tiffany langsung melupakan rencana sebelumnya dan membalikkan badannya untuk melihat sendiri dalam layar besar itu. Ada Jongin disana, sebelah tangannya memegang handphone yang ditempelkan ke telinganya.

Tiffany mengerutkan alisnya lalu memandang tajam ke arah bawahannya, “What are you doin’?” nadanya membentak membuat bawahannya sedikitnya menciut mendengarnya, “Disconnect it, quickly!

Mendengar itu, secepat kilat pria yang menjadi bawahannya langsung menekan beberapa tombol, berusaha secepat mungkin melacak jaringan komunikasi dan memutusnya.

Tiffany menatap layar dihadapannya dengan garang. Mau apalagi ulah tikus itu, huh?

Ditekannya tombol earphone di telinganya, menghubungkannya dengan seseorang yang beberapa saat lalu ia hubungi.

“Tiif–“

“Apa yang anak buahmu lakukan, huh?!” nada suara wanita itu diatas rata-rata kali ini.

“Apa maksudmu?” balas seseorang di seberang sana. Nada suaranya tak terima.

“Tangkap tikus itu, sekarang. Aku tak peduli apa yang kalian lakukan, jangan biarkan dia lolos.”

Belum sempat orang diseberang menjwabab, bunyi ‘tut’ pendek mengakhiri percakapan mereka. Napasnya terengah-engah karena terbawa emosi. Oh, kurasa dia harus menuda rencananya untuk memberi tahu bosnya tentang ini. Tidak, ia tak akan biarkan tikus itu lolos kali ini. Bagaimana pun caranya, ia harus mendapatkannya.

With Hyoyeon, Jessica and  Kim Jongin as a main cast

Check the new cast out as a main cast too

With action and friendship

(poster by Ladyoong at HSG)

(please read the note at the end)

.

.

.

“Luhan, aku butuh bantuanmu. Sekarang!”

“Jongin?” tak ada suara parau sehabis bangun tidur lagi yang terdengar.

“Ya, ini aku.” Jongin berbicara setengah berteriak dengan telepon di tangannya, “keadaan tidak baik disini. Kau harus cepat menolongku.” Sebuah tembakan lolos dari revolvernya. Shit! Meleset!

“Beritahu aku dimana posisimu.”

“Aku ada di–“

“Apa? Bicara yang jel–“

“Luhan? Aku tak bisa dengar suaramu! Luhan! Luhan!”

Tut…

“Oh, Shit!” umpat Jongin. Ia hampir saja membanting smartphone ditangannya bila Jessica tidak segera memelototinya. Ayolah, itu tipe yang baru keluar, setidaknya ia ingin bisa menikmatinya sebentar sebelum benda kotak itu berakhir di aliran sungai.

“Sambungannya terputus.” Jongin mengembalikan benda itu pada Jessica.

Jessica terdiam sejenak, “tentu saja. Mereka sudah tahu dimana posisimu sekarang. Mereka bisa lakukan apapun untuk membuatmu terpojok.”

Jongin terdiam. Benar juga. Kenapa tidak terpikir olehnya? God, tapi dengan cara apa ia bisa menghubungi Luhan tanpa bisa dilacak?

Persetan dengan itu. Sekarang waktunya mempertahankan nyawa. Luhan pasti bisa menemukannya, lelaki itu punya cara sendiri yang tidak dipikirkan orang lain.

Jongin mengintip sedikit dari bibir tembok dengan kepalanya. Seorang sniper melihat kearahnya mengarahkan senapannya kearah Jongin, dengan cepat lelaki itu menembakkan peluru panas dari revolvernya kearah sniper tadi. Sayangnya, sebuah peluru dari arah lain hanya berjarak satu senti lagi dari kepalanya sebelum dengan cepat Jessica menariknya.

 

“Kita tak bisa terus berada di dalam sini.” Ucap Jongin.

“Aku punya ide.” Jessica membalikkan badannya, menatap beberapa warga yang bersembunyi di tempat yang sama dengan mereka, yang menatap mereka dengan wajah ketakutan. Maniknya menangkap sebuah skateboard yang dipegang seorang anak lelaki, “kau membutuhkan ini?” sebuah gelengan jawabannya, “tidak? Kalau begitu, aku pinjam.” Tanpa menunggu jawaban, Jessica segera merebut skateboard itu dan meletakkannya di tanah.

Wanita itu menurunkan ranselnya lalu mengeluarkan sebuah benda kotak hitam dan sebuah remote control dari dalamnya. Memasangkan kotak hitam itu diatas skateboard, yang otomatis memicu sebuah lampu berkedip-kedip dan menekan beberapa tombol di benda tersebut.

Jongin cukup bingung ketika ia akhirnya menyadari rencana yang dilakukan Jessica, “How clever!” pekiknya.

.

.

.

DOR!

Hyoyeon kembali bersembunyi di balik bibir gang setelah sebelumnya sebuah peluru ia lontarkan kearah seorang sniper yang tadi mengacungkan senapan panjang kearahnya. Wanita itu yakin pelurunya tidak meleset tapi ia tidak tahu di bagian mana pelurunya bersarang di tubuh sniper itu.

CKREK

Gadis itu mengganti peluru revolvernya dengan yang baru setelah menembak beberapa sniper yang terus mengarahkan senapan kearahnya.

Dirinya memaki Jessica dan Jongin yang saat ini malah tak bisa dihubungi. Alih-alih mendengar suara cempreng Jessica, ia malah mendengar bunyi kresek berisik di telinganya.

Wanita berambut pirang itu menghembuskan nafas kasar. Ia tak bisa terus berada disini. Ia harus mencari Jongin dan Jessica lalu segera pergi dari sini. Secepatnya. Dirinya melangkahkan kakinya keluar dari bibir gang. Orang-orang yang ketakutan sambil berjongkok segera menjauh darinya.

Secepat kilat Hyoyeon segera berlari saat tak mendapati para sniper itu di dekat dirinya. Baru beberapa meter ia melangkahkan kakinya, sebuah pukulan mendarat dengan telak di lengan kirinya–membuat revolvernya terlempar sekitar 2 meter kearah depan.

Gadis itu langsung membalikkan badan dan segera menghindar saat menyadari sebuah tongkat terarah kearahnya. Hyoyeon membenarkan posisinya yang sedikit limbung dan kembali menghindar saat tongkat kembali terarah kearahnya, kali ini dari sebelah kiri.

Shit!” makinya.

Gadis itu mengambil sebuah tempat sampah yang berada tidak jauh darinya dan melemparnya ke arah si pelempar tadi, yang sayangnya dapat di tangkis dengan mudah oleh si pelempar tersebut. Orang-orang yang berada di antara mereka berteriak histeris dan lebih memilih menjauh daripada membantu Hyoyeon.

Hyoyeon berusaha mengambil revolvernya yang terletak lumayan jauh darinya saat tangan si pemukul meraih bahunya lalu mendorongnya dan membuatnya terjungkir. Gadis itu sedikit mengerang sebelum dengan gesit menyadari tongkat pemukul mengarah pada dirinya, ia berguling kearah samping. Masih dalam keadaan terbaring Hyoyeon menendang kaki si pemukul membuat lelaki itu terjatuh. Secepat kilat gadis itu bangkit tapi gagal karena kakinya ditarik oleh si pemukul.

Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba asap berwarna orange menguar di udara, mengalihkan perhatian kedua orang tersebut. Hyoyeon terkesiap sejenak sebelum akhirnya menyeringai. Ia tahu asap apa itu. Dengan cepat gadis itu menendang lelaki tadi dan segera mengambil scarf di tas kecil di pinggangnya lalu melilitkannya di sekitar area hidung dan mulut.

Hyoyeon bangkit berdiri sambil menunggu beberapa menit sampai asap orange tadi hilang dari udara. Setelah dirasanya cukup, ia membuka scarf di area hidung dan mulutnya lalu menyimpannya kembali di dalam tas pinggangnya. Dapat ia lihat lelaki tadi dan orang-orang di sekitar mereka terkapar tak berdaya. Tidak, mereka tidak mati. Hanya hilang kesadaran dan mungkin dalam waktu yang cukup lama. Gadis itu tersenyum saat sadar bahwa asap itu adalah cara yang sama yang dulu pernah mereka lakukan saat masih menjadi agent.

Pasti Jessica

Hyoyeon mengambil revolvernya dan menyelipkannya di tas pinggangnya. Baru ia akan berbalik arah saat sebuah tembakan meleset kearahnya, beruntung Hyoyeon segera sadar dan menghindarinya. Ia menatap sniper yang berada di atap sebuah apartemen dengan sebuah masker yang menutupi mulutnya.

Again? God!

Baru gadis itu akan mengambil revolvernya saat sebuah tembakan kembali melesat kearahnya, kali ini hampir mengenai pundak sebelah kanannya. “Shit!

Lepas dari si pemukul, ia malah di bombardir oleh tembakan dari sniper diatas apartemen. How great!

Hyoyeon melihat seorang sniper yang hendak mengarahkan laras panjangnya kearahnya malah jatuh tak berdaya diatas gedung, seperti habis ditembak. Gadis itu menggulirkan pandangannya kearah sebuah van yang melesat kearahnya dan berhenti tepat di hadapannya, membuatnya mengernyit saat pintu geser di samping van itu terbuka.

“Hyo!”

“Jess?”

“Cepat masuk!”

“Tunggu sebentar.” Hyoyeon menodongkan revolvernya kearah sebuah papan reklame dan menembaknya hingga papan itu terjatuh dan menghentak tanah dengan keras. “Ayo!” dan dengan itu pintu van tertutup sempurna dan melaju.

Bukan dengan alasan Hyoyeon menembak papan reklame tersebut. Sejak beberapa menit yang lalu ia sadar bahwa alat pelacak dan pengintai terletak di papan itu. Tepatnya sebuah benda kecil yang tertempel di papan itu.

.

.

Shit!”

Tiffany melepas earphone-nya dengan kasar saat layar dihadapannya menampilkan layar abu-abu kosong. Ia memijit pelipisnya pelan sambil terus mengumpat. Tak ada anak buahnya yang berhasil dan Oh God! Ia lagi-lagi gagal menangkap tikus itu.

Matanya menyipit–menandakan ia tengah berpikir–sebelum akhirnya gadis itu menyeringai dan kembali memakai earphone-nya.

Ia menekan tombol di earphone-nya dan menunggu orang di seberang menjawabnya.

“Yes, Miss?”

“Prepare my flight to Korea, now!”

.

.

“Dia Luhan.”

Jongin bersuara ketika van yang mereka tumpangi berbelok ke sebuah taman kota yang tidak terlalu ramai, memecahkan keheningan sekaligus menjawab pertanyaan kedua wanita itu.

Sementara yang di bicarakan, Luhan, membalikkan badannya ke arah mereka dan tersenyum lalu berpindah tempat duduk ke belakang van.

He’s manly and hot!” Jessica berbisik ke Hyoyeon yang ditanggapi dengan sebelah alis yang terangkat. Sementara itu, Jongin yang tidak sengaja mendengarnya hanya memutar bola matanya.

Luhan menekan sebuah tombol di dalam van itu. Seketika sebuah meja muncul dari dalam dinding van yang cukup luas untuk mereka berempat itu. Diatas meja tersebut muncul sebuah layar tipis dan sebuah keyboard yang muncul dari permukaan meja tadi.

“Kenapa harus disini?” satu pertanyaan dari Hyoyeon membuat lelaki itu membukan suaranya untuk pertama kalinya.

“Karena kecil kemungkinannya mereka bisa melacak kita.” Benar juga.

Tapi satu pertanyaan lagi muncul di benak Hyoyeon, apa dia tahu siapa aku dan Jessica?

Seakan mampu membaca pikirannya, Luhan bersuara dengan pandangan yang tetap focus kearah layar dihadapannya, “aku adalah partner Kai dan tentu saja, aku tahu siapa kalian,” jari-jarinya sibuk mengetikkan sesuatu diatas keyboard.

Oh…

Kai?

Serentak Hyoyeon dan Jessica menengok kearah Jongin yang tengah mengambil sebuah soft drink dari kulkas kecil di dekat mereka, “Apa? Itu codename-ku,” jawabnya enteng.

“Aku akan menunjukkan sesuatu pada kalian,” ucapnya kembali mengalihkan perhatian kedua wanita itu. Jarinya menekan ‘enter’ di keyboard-nya. Seketika gambar-gambar muncul disana.

“Kami sudah mencari tahu dan mencurigai tiga orang yang terlibat dalam kasus penggagalan misi kalian–SSA–sekaligus orang yang memiliki hubungan tidak baik dengan Kim Il Wook,” ucap Luhan sembari menunjukkan tiga gambar di layar komputernya. Dua gadis didekatnya memperhatikan dengan serius, “ketiganya sama-sama pernah menyewa kelompok pembunuh bayaran yang pernah mengejar Kai. Aku yakin kalian pasti tahu soal itu.” Lanjutnya lagi.

Tentu. Kelompok setengah pembunuh bayaran setengah yakuza? Oh, apa bedanya? Cari tahu saja sendiri. Mereka ingat ketika suatu pagi mereka sedang menonton berita pagi di ruang makan asrama, kelompok itu masuk dalam berita pagi di televisi dan kurang dalam waktu 2 jam mereka–lebih tepatnya Hyoyeon–menemukan Jongin di tempat pembuangan sampah. God, betapa takdir begitu menarik!

Luhan meng-klik sebuah gambar lelaki berkacamata, yang walaupun terlihat cukup berumur tapi wajahnya masih bisa dibilang tampan, kepada mereka, “Steven Chang. Dia adalah makelar senjata. Mengadakan transaksi dengan banyak pengusaha untuk menawarkan senjata yang mereka buat, bahkan pada Navy Seals America, legal ataupun ilegal. Dia bekerja sama dengan Kim Il Wook untuk menyediakan senjata bagi para agent. Hubungan mereka memburuk karena sebab yang belum jelas dan setelah hal itu, kami menemukan catatan bahwa ia pernah menyewa kelompok pembunuh bayaran.”

Luhan meng-klik tombol kursor ‘next’ lalu menampilakan gambar kedua, seorang lelaki berwajah blasteran dengan rambut pirang yang disisir kebelakang, “Andreas Smith, Direktur sebuah produsen elektronik terbesar, Mapple. Hubungannya cukup baik dengan Kim Il Wook sampai hak cipta produknya digugat oleh salah satu produsen asal Korea Selatan, Sungsang. Sayangnya, Kim Il Wook masih memiliki hubungan kekerabatan dengan direktur produsen asal Korea tersebut, setelahnya kalian pasti tahu yang terjadi. Andreas menghentikan kerja samanya dengan Il Wook dan ada beberapa catatan yang menunjukkan bahwa dia juga pernah menyewa kelompok pembunuh bayaran tersebut setelah kejadian itu terjadi.”

Gambar ketiga memperlihatkan seorang lelaki muda dengan rambut pirang dan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya sedang berjalan di bandara sambil menenteng tas di tangannya. Hyoyeon menyipitkan matanya melihat gambar tersebut. Bukan karena lelaki itu memiliki garis rahang yang tegas yang memperlihatkan wajahnya yang tampan, tapi ia tertarik dengan seorang perempuan yang, sepertinya, tidak sengaja tertangkap di foto tersebut.

Sedetik kemudian, Hyoyeon sadar. Matanya melotot tak percaya kearah Jessica, begitupun sebaliknya Jessica yang menatap Hyoyeon dengan alis berkerut.

Hyoyeon kembali mengembalikan pandangannya kearah Luhan, “darimana dan kapan kau mendapatkan gambar itu?”

Luhan mengangkat alisnya–bingung melihat reaksi kedua wanita dihadapannya–sebelum menjawab, “itu foto yang tidak sengaja diambil oleh salah seorang pengantar di bandara. Dan kau bisa lihat sendiri kapan foto itu diambil,” tunjuk Luhan kepada deretan angka kecil di bagian bawah gambar.

2011/12/20

Hyoyeon membulatkan matanya. Foto itu diambil dua tahun setelah kejadian ‘itu’ terjadi. Bagaimana bisa?!

“Jessie,” yang dipanggil masih sibuk mengatur otaknya karena terkejut. Berbagai macam perasaan muncul dalam dirinya.

“Kalian baik-baik saja?” Jongin mendekat kepada mereka. Melihat perubahan ekpresi mereka dari jauh tentu sudah cukup menjelaskan bahwa ada sesuatu yang terjadi.

Hyoyeon masih menatap gambar di hadapannya, “Siapa lelaki itu?”

“Namanya Kevin Wu. Dia seorang pengusaha di Kanada. Hubungannya dengan Kim Il Wook sangat baik sebelum sesuatu terjadi diantara mereka. Kami berhasil menemukan bekas percakapan mereka di telepon, alasan yang membuat hubungan mereka memburuk. Dan baru-baru ini, dia terlihat memiliki kerja sama dengan ketua organisasi pembunuh bayaran itu.”

Jongin menambahkan, “Dia juga adalah mantan pendiri SSA.”

Jessica masih memelototkan matanya ketika berbicara, “Hyoyeon, mungkinkah…” suaranya terhenti.

Luhan dan Jongin saling bertatapan dan mengerutkan alis ketika mendengar apa yang diucapkan Jessica. Apanya yang mungkin?

Hyoyeon menatap gambar wanita yang berada di belakang lelaki bernama Kevin Wu itu.

“Tiffany…dia masih hidup, Jess,”

TBC

Such a long chapter (again) haha :’) Maafkan daku reader karena baru sekarang bisa publish maapin… dipikir-pikir saya kalo publish udah telat malem terus lagi ya… Ya pokoknya ini disini Luhan udah muncul YEAYY!!! My baby Lulu omaygadd akhirnya dia muncul juga :’)) Disini belum banyak perannya, but next, he’ll be an important cast too. Oh ya, saya juga mau lurusin kesalahpahaman ya.

Pertama, itu Tiffany dia ga berada di Korea tapi di Amerika makanya dia pake kamera pengintai gitu, kalo di satu negara, kenapa ga langsung saya setting supaya Tiffany yang menangani?

Kedua, Jessica dan Kai itu BUKAN PAIRING okay. hanya karena mereka punya adegan berdua it doesn’t mean they’re a couple 🙂 Sekali lagi, Romance akan muncul tapi nanti tidak sekarang.

Satu inpo lagi, saya tergila-gila sama V and RapMon!! Omaygad! They such a sexy boys I’ve ever seen!! Akhir kata. Read and Review sangat diwajibkan^^

17 thoughts on “G-A-M-E-O-V-E-R (Chapter 5)

  1. Akhirnya dilanjut juga..
    Yeay Luhan udah kluar 😀
    Adegan nya bikin tegang thor
    Keren,,,
    Kris juga ada,, tp kok kayanya jadi peran jahat??
    Hehehehe 😀
    Aku tunggu cerita selanjutnya,, keep writing

  2. Finally di post juga chapter ini, udah nunggu lumayan lama dan akhirnya di post juga haha, keren banget seperti biasa, aaa luhan kris muncul, semoga pairingnya hyokai hansic yeay /shipper kumat ditunggu kelanjutannya ya author-nim, hwaiting!

  3. Lama banget gx d lanjut ny eon, karana ff ini agx rumit jadi aku hrus baca chap yg kmaren dehh…
    Sumpah ini seru banget eon,,
    Suka ama hyoyeon ny yang pinter baanget… tpi ttep aja masih bnyak prtnyaan yg blm kejawab.. lanjut ny jngan lama2 yh eon…
    Oh ya eon, ff2 ny yg dlu2 gx akan d lanjut lagi? Pdhal aku nunggu bangey loh eon 🙂

  4. Kyaaaa… Dapet hidayah dari mana thor bisa bikin ff sekeren ini? :’)
    sorry nih thor, aku baru comment di chap 5 soalnya aku punya kebiasaan baca ff kalo part nya udah banyak. Kagak mau di PHP in, kaya ff ‘our marriage if ridiculous’ #nyindir
    so, maapin aku ya thor. Next jangan lama-lama!!!!!!!

  5. yaampun ini keren bgt thor.
    ff chapter yg selalu bikin aku nggak bosen buat bacanya.
    aku suka gaya bahasanya, actionya juga oke.
    tp agak diperpanjangin dong thor tulisannya.
    next chapter jgn lama lama. can’t wait!!!
    HanSica jjang!!!!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s