Our Love – Part 1

our-love-asriwljng2

Title : Our Love

Author : asriwljng

Length : Chapter

Rating : General

Genre : Romance, Family, Sad

Main Cast :

–          Jessica Jung

–          Kris Wu

Other Cast : Find it by your self^^

Disclaimer : FF ini asli punyaku, jika ada kesamaan alur cerita dengan FF lain itu karna tidak kesengajaan.

BEWARE OF THE TYPO(s)!

***

Jessica POV

Ini bukan seperti yang aku impikan selama ini. Seharusnya kita menikah dengan orang kita sayang, kan? Tapi itu tidak berlaku pada ku. Ibu dan ayah ku menjodohkan ku dengan salah satu anak dari teman mereka. Alasan mereka menjodohkan ku karena perushaan ayah bangkrut dan teman ayah ku akan membantu jika aku ingin menikah dengan anaknya. Hell no!

Mengenal saja tidak, tapi sudah di ajak untuk menikah. Malang sekali nasib ku. Andai saja ibu dan ayah kandungku masih berada di dunia ini, bersama ku. Pasti ini tidak akan terjadi. Aku rela jatuh miskin namun tetap tinggal bersama orang yang ku cintai. Daripada hidup dengan harta yang belimpah namun tidak ada rasa sayang di hidup ku. Apa gunanya aku hidup? Tidak ada.

“Jessie, ibu mohon. Bantu ibu sekali ini saja, ya?” ibu bahkan rela untuk berlutut di depanku. Aku mengalihkan wajah ku untuk tidak melihat tampang ibu yang memelas pada ku. Apa kau pikir itu berhasil, huh?

“Jessie, look at me!” ibu membentak ku. Apa maksudnya? Ibu kandung ku saja tidak pernah membentak ku saat aku melakukan kesalahan. Dan dia membentak ku karena aku tidak menuruti permintaannya?

“Apa hak mu untuk membentak ku, huh?” aku mulai kehabisan emosi juga. Aku bertanya padanya dengan nada suara yang tinggi. Aku tahu ini salah, tapi aku memang tidak bisa mengontrol emosi ku.

Ibu tersentak karena aku balas membentaknya.

“Please, apa kau mau jatuh miskin?”

“Apa artinya hidup dengan harta belimpah jika tidak ada kasih sayang, bu?” aku bertanya padanya dengan tenang. Ibu terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan ku. Pertanyaan ku benar, kan? Harta tidak ada apa-apanya dengan kasih sayang.

Ibu keluar dari kamar ku dengan lemas. Aku kembali berbaring di tempat tidur ku dan menutup diri dengan selimut sampai kepala ku. Baiklah, ini saatnya untuk melakukan hibernasi sampai besok siang. Who cares?

***

Kris POV

Langkah ku terhenti saat ayah memanggil ku untuk mengajak ku berbicara di ruang kerjanya. Apa penting sekali sampai harus berbicara di ruang kerja? Aku mengikuti ayah yang sedang berjalan menuju ruang kerjanya. Selama kami berjalan menuju ruang kerja ayah aku hanya memainkan ponsel ku, lebih tepatnya sedang saling mengirim pesan dengan kekasih ku. Yuri.

Ayah membuka pintu ruang kerjanya itu dengan pelan. Dan ibu ternyata sudah berada di dalam sana sedang meminum tehnya. Aku menyimpan ponsel ku dan duduk di samping ibu, lalu ayah duduk di hadapan ku sambil menatap ku serius. Ada apa ini? Aku menjadi merinding karena tatapan ayah.

“Ada apa, yah?” aku bertanya dengan pelan pada ayah. Ayah mengambil nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan ku.

“Kau mau membantu ayah, tidak?”

“Membantu apa?”

“Terimalah perjodohan ini.”

Rasanya seperti ada sesuatu yang menghantam punggungku dengan keras. Perjodohan apa? Mereka sama sekali belum memberitahunya pada ku. Itu berarti aku harus berakhir dengan Yuri? Oh Tuhan, bagaimana bisa aku berpisah dengan gadis itu. Gadis yang sudah menjadi pengisi hati ku selama 2 tahun belakangan ini.

“Perjodohan apa?” tanya ku berusaha untuk tetap tenang.

“Kami ingin menjodohkan mu dengan anak teman kami, perusahaannya akan bangkrut sebentar lagi. Jika kau menerima perjodohan ini, kau juga menyelamatkan hidup banyak orang, kan?” kali ini Ibu yang menjawab pertanyaan ku. Ibu menatapku dengan pandangannya yang memelas.

“Tapi kalian tahu kan kalau aku sudah mempunyai kekasih?”

“Kami tahu, Kris. Kau bisa berbicara kepada Yuri dengan hati-hati. Karena jujur saja kami juga menyukai Yuri. Tapi tolonglah kami, Kris.” Ayah juga memandangku dengan tatapannya yang memohon. Oh bagus, apa yang bisa ku lakukan saat mereka menatap ku seperti itu? Aku tidak ingin menjadi anak yang durhaka jika menolak permintaan mereka, tapi aku juga tidak ingin menyakiti hati Yuri.

Dan jika aku menerima perjodohan ini, aku juga menyelamatkan hidup karyawan yang bekerja di perusahaan teman ayah. Jika aku menolak, seperti apa nasib karyawan-karyawan itu? Mereka bisa saja tinggal di pinggir jalan kota ini. Aku tidak tega.

“Biarkan aku memikirkan ini terlebih dahulu.” Aku langsung bangkit dari duduk dan keluar dari ruang kerja ayah tanpa menatap mereka lagi. Kepala ku mendadak pusing.

***

Author POV

Gadis itu menyandarkan kepalanya di lengan kekasihnya yang terasa nyaman sekali. Di dalam kamar ini, mereka membagi ciuman untuk menghangatkan diri mereka masing-masing. Suara erangan dari gadis itu terdengar saat tangan kekasihnya menyentuh kulitnya.

“Kau berjanji untuk meninggalkannya?” kekasihnya bertanya sambil terus mencium leher jenjang gadis itu.

“Iya, aku janji akan meninggalkannya untuk mu, my love.” Jawab gadis itu di sela-sela erangannya. Kekasihnya tersenyum lebar mendengar jawaban gadisnya itu. Sekarang, gadisnya itu miliknya selamanya. Tanpa ada yang bisa merebutnya.

***

Jessica POV

Sepertinya semua orang tidak pernah senang melihat ku tidur sampai siang, ya? Aku tidak tahu siapa yang mengetuk pintu kamarku sedari tadi tanpa henti. Pintu itu tidak di kunci sama sekali, seharusnya orang itu membuka saja agar tidak menganggu tidur ku yang sangat berharga ini. Aku buru-buru memejamkan mata ku lagi saat pintu sudah terbuka dan ibu masuk ke dalam kamar ku. Apa dia akan membicarakan perjodohan itu lagi?

“Jessie, ibu tahu kau sudah bangun.” Ibu duduk di tepi ranjang ku sambil mengelus rambut ku.

“Tidak, aku masih tidur. Lebih baik ibu keluar saja.” Aku menghempaskan tangan ibu yang mengelus rambut ku. Aku sebal sekali dengan ibu. Seharusnya dia mengerti aku tidak akan pernah menerima perjodohan ini. Tidak akan pernah. Tapi kenapa dia terus membujuk ku untuk menyetujuinya? Ugh, dan ayah tidak menunjukkan dirinya sejak tadi malam di hadapan ku. Seharusnya saat keadaan seperti ini ayah ada.

“Jessie, ibu–“

“Lebih baik ibu menjodohkan Krystal saja dengan anak dari teman ibu. Krystal pasti akan menerimanya.” Aku menaikkan selimut ku sampai menutupi wajah ku lagi, dan suara ku sedikit terpendam karena tertutup oleh selimut.

“Tidak, jangan Krystal. Dia masih harus kuliah, sayang.”

“Aku juga masih kuliah ibu!” aku membentaknya lagi. Ugh, Tuhan. Maafkan aku untuk sekali ini saja, ya? Walaupun aku membentak ibu tiri ku tapi dosanya sama, kan?

“Tapi setidaknya 3 bulan lagi kau lulus.”

“Terserah. Pokoknya aku tidak mau. Aku akan bunuh diri jika tetap di jodohkan. Aku tidak berbohong. Aku lebih baik mati saja.”

“Jessie! Jaga ucapan mu, nak!” ibu memukul lengan ku yang terselimuti. Biarkan saja, aku memang bersungguh-sungguh dengan ucapan ku. Kalian bisa memegang janji ku. Huh, tapi sepertinya aku masih terlalu muda untuk mati sekarang. Jadi apa yang harus ku lakukan?

“Sudahlah, lebih baik ibu keluar.” Aku mengusir ibu untuk cepat keluar dari kamarku. Untuk saat ini aku sedang tidak ingin melihat atau berbicara dengan ibu. Aku terlalu emosi untuk ini.

“Yang terpenting anak dari teman ibu sudah menyetujui perjodohan ini. Kami tinggal menunggu mu saja, tapi walaupun begitu perjodohan ini akan terus berlanjut.”

“APA?! Apa dia tidak mempunyai kekasih, huh?”

“Memangnya kau mempunyai kekasih? Tidak, kan? Sama saja. Mandi lah, ini sudah jam 10 dan jam 12 nanti kita akan makan siang dengan teman ibu beserta anaknya.”

Ibu keluar dari kamar ku meninggalkan ku yang sedang ternganga lebar karena mendengar ucapan ibu. Apa benar lelaki itu sudah menerima perjodohan ini? Duh, ternyata hidupnya lebih miris daripada ku. Dia langsung menerima perjodohan ini, begitu? Tapi aku tetap akan menolak perjodohan ini! Walaupun aku tahu tidak akan bisa. Tamat lah hidup mu, Jessica Jung.

***

Kris POV

Ini berat bagi ku, tapi aku menyetujui perjodohan ini. Jujur saja aku kasihan dengan karyawan-karyawan itu jika mereka tidak bekerja dan tidak bias menafkahi keluarga mereka. Secara tak langsung kan itu juga salah ku karena tidak menerima perjodohan ini, dan maka dari itu aku menerima perjodohan ini. Hitung-hitung agar membuat ayah dan ibu senang.

Lihat saja, setelah aku mengatakan pada mereka bahwa aku menyetujui perjodohan ini, senyuman mereka tidak pernah lepas dari bibir mereka. Apa mereka senang sekali dengan perjodohan ini? Aku saja biasa saja dengan perjodohan ini, tapi kenapa mereka yang begitu senang? Aneh.

“Sehabis ini kau bisa siap-siap untuk pergi.” Ibu berbicara pada ku sambil tersenyum dengan senang. Apa aku akan bertemu dengan perempuan yang akan di jodohkan dengan ku?

“Kemana?”

“Kita akan makan siang bersama bersama keluarga teman ku.” Ibu lalu meninggalkan ku sambil mengusap bahu ku halus, di ikuti ayah di belakang sambil tersenyum pada ku.

Seperti apa ya gadis itu? Apa dia lebih cantik daripada Yuri? Menyebut nama Yuri, aku sama sekali belum memberi tahu hal ini padanya. Bagaimana reaksinya ya setelah mendengarnya?

***

Jessica POV

Aku memandang pantulan diri ku di cermin ini. Aku sebenarnya sangat malas untuk bertemu lelaki itu berserta keluarganya. Acara ini lebih seru lagi jika aku kabur dan tidak mengikuti semua permainan mereka. Coba saja, Jessica Jung, tidak akan bisa.

Aku menghela nafas. Lalu memandang lagi pantulan diri ku sendiri di cermin ini. Aku memakai dress terusan sampai lutut berwarna merah terang tanpa lengan, make up tipis dan lipstick merah muda yang warnanya hampir sama dengan bibir ku. Dan sepatu heels putih dengan tinggi 5 cm. Hahaha aku terlalu cantik untuk datang ke acara menyebalkan ini.

“Jessie, sudah siap?” ibu mengetuk pintu kamar ku 3 kali. Aku menghela nafas lagi, lalu berjalan keluar dari kamar untuk pergi makan siang bersama keluarga lelaki itu.

“Sudah, bu.”

“Jessie, kau cantik sekali, nak.” Ayah memuji ku saat aku dan ibu sudah sampai di ruang keluarga. Aku hanya tersenyum simpul, mereka selalu memuji ku seperti itu jika menginginkan seusatu. Aku sudah hafal betul taktik mereka.

***

Aku bosan. Kami sudah menunggu 10 menit namun teman orang tuaku belum datang juga. Tidak tepat waktu. Aku tidak suka sama sekali dengan seseorang yang tidak tepat waktu, itu sangat membuang waktu ku. Lebih baik di gunakan hal yang lebih bermanfaat lagi.

Lalu pintu restoran ini terbuka dan keluarga yang berjumlah 3 orang itu masuk ke dalam restoran ini. Ibu dan ayah langsung saja berdiri dari tempat duduk mereka untuk menyambut teman mereka. Aku hanya duduk sedari tadi sampai ibu memukul ku pelan untuk menyuruh ku berdiri menyambut mereka. Memangnya penting menyambut mereka?

“Ini anak mu? Cantiknya!” seorang perempuan memegang kedua bahu ku dan melihat ku dari atas sampai bawah. Aku hanya tersenyum simpul kepada perempuan ini ketika dia memuji ku.

Lalu makanan yang entah kapan di pesan itu datang dan langsung memenuhi meja kami. Ugh banyak sekali. Memangnya siapa yang ingin memakan sebanyak ini? Aku hanya diam, lelaki itu duduk di hadapan ku sambil kepalanya tertunduk. Wajahnya sama dengan ku, malas. Harusnya dia menolak saja perjodohan ini, jangan menerimanya. Aku dan dia kan rugi, hanya orang tua kami saja yang untung karena perjodohan ini.

***

Kris POV

Astaga, gadis itu ternyata lebih cantik dari Yuri. Pipinya yang tembam itu membuat ku gemas. Namun tetap saja aku dan dia sama sekali tidak setuju dengan perjodohan ini. Lihat saja wajahnya, sedari tadi wajahnya tertekuk seperti itu dan tidak tersenyum sama sekali.

Dia hanya tersenyum jika ada sesuatu yang penting, seperti jika orang tua ku mengajaknya berbicara, atau orang tuanya yang sedang memujinya. Yang ku tahu, nama gadis ini Jessica karena ibu menyebutnya seperti itu.

“Jessie, makanlah. Jangan di aduk seperti itu saja.” Ibunya menegur Jessica karena melihat anaknya sedari tadi hanya mengaduk makanannya tanpa minat.

“Aku ke toilet dulu.” Dia langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju toilet tanpa mendengar persetujuan kami.

Aku hanya memandangnya yang berjalan seperti mayat itu ke arah toilet. Aku tahu perasaannya seperti apa. Kesal, marah, sedih pasti bercampur jadi satu. Sama dengan ku. Namun aku masih bisa mengontrolnya dengan baik. Berbeda dengannya yang masih tidak bisa mengontrol perasaannya itu.

***

Jessica POV

Aku permisi kepada mereka untuk izin ke toilet. Aku berjalan dengan lemah menuju toilet di dalam restoran ini. Argh! Rasanya aku ingin menangis saja. Menangisi hidup ku yang begitu miris. Lebih baik aku mati.

Aku memasuki salah satu bilik toilet, lalu menguncinya dan duduk di atas toilet dengan diam. Aku melamun, tidak tahu melamunkan apa. Ini semua tidak adil! Kenapa harus aku? Kenapa tidak Krystal? Dia lebih manja dari ku, dan dia pantas mendapatkan ini. Karena ini pilihan ibu dan ayah. Tapi aku yang mendapatkannya. Mereka pikir aku tidak bisa mencari jodoh ku sendiri? Aku bisa!

Namun aku hanya tidak ingin menjalin hubungan dulu sebelum bekerja. Entahlah, aku tidak tahu alasannya apa. Namun aku belum siap. Tanpa sadar, air mataku mengalir membasahi pipi ku. Ah tidak, aku cengeng sekali. Ini bukan diri ku yang seperti biasanya.

Aku menghapus air mataku menggunakan tissue yang di sediakan di dalam toilet ini. Mata ku pasti memerah dan sedikit sembab. Bagaimana cara menutupinya, ya?

***

Kris POV

Aku menunggu gadis itu sampai dia keluar dari dala toilet ini. Sudah hampir 5 menit aku menunggu namun gadis itu belum keluar juga. Sebenarnya apa yang dia lakukan di dalam toilet? Menangis? Atau meratapi nasibnya?

Suara pintu yang terbuka membuatku langsung berdiri dengan sigap, dan gadis itu muncul sambil sedikit membersihkan wajahnya dengan tissue toilet ini. Matanya memerah dan sedikit sembab. Apa benar dia menangis?

“Kau menangis?” aku langsung memegang tangannya saat dia berlalu di depan ku. Dia tidak melihat ku, ya? Apa aku transparan di matanya?

“Astaga! Apa yang kau lakukan disini, huh?” dengan refleks dia melepaskan tangannya dari genggaman ku dan memekik kaget saat aku menggenggam tangannya.

“Kau menangis?” tanyaku lagi.

“Aku? Menangis?” dia langsung tertawa tanpa melihat keadaan sekitar. Cukup sepi sih, tapi kan pelayan yang berjaga di depan lorong toilet dapat mendengar suaranya. Dia langsung berhenti tertawa setelah pelayan menyuruhnya untuk mengecilkan suaranya.

“Tadi kau bertanya apa?” dia memandang ku tepat di mata. Yuri saja tidak berani.

“Kau menangis?”

“Tidak lah. Untuk apa menangis? Tidak penting.” Dia tertawa hambar setelah menjawab pertanyaan ku. Pandangannya lurus ke depan, seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu dia tersenyum tipis pada ku sambil kembali ke tempat dimana orang tua kami berada.

Aku menyamakan langkah ku dengannya dan langsung merangkulnya. Kris, apa yang kau lakukan? Aku membentak diri ku sendiri menyadari perbuatan yang ku buat sekarang. Ini terlalu awal. Bahkan kami baru bertemu sehari.

Dia ingin melepaskan rangkulan ku darinya. Namun aku menahannya sampai kembali ke tempat kami yang semula. Orang tua kami memandang dengan heran, lalu segera tersenyum. Aku tida tahu apa artinya senyuman itu.

***

Jessica POV

Aku memutuskan untuk tidak pulang bersama mereka. Aku tidak tahu ingin kemana. Aku tidak ada tujuan. Aku ingin sekali rasanya melampiaskan semua emosi ku ini. Namun kepada siapa? Kasihan jika aku melampiaskannya kepada Tiffany. Dia tidak tahu apa-apa.

Aku mengambil ponsel ku yang berada di tas kecil milikku. Lalu menelfon Tiffany.

“Kau dimana?”

Di rumah, kenapa?

“Aku ke rumah mu, sekarang. Tidak ada penolakkan. Sampai jumpa.”

Aku menutup sambungan telfon ku dengan Tiffany dan memberhentikan taksi kosong yang kebetulan lewat di depanku. Aku memberikan alamat rumah Tiffany dan supir taksi itu segera menjalankan taksi ini menuju rumah Tiffany.

***

Aku duduk di ruang tamu Tiffany sambil memperhatikan sekeliling rumahnya. Aku selalu suka rumahnya. Desainnya, tata letak barang-barangnya, dan warna rumahnya. Semuanya di susun rapi dan membuat semua orang betah berlama-lama di rumahnya walaupun tidak mewah malah terkesan sederhana.

Namun karena Tiffany tidak suka kotor dan selalu membersihkan semua barang-barangnya, jadi rumahnya sangat bersih. Tiffany  muncul dari arah dapur dengan dua gelas minuman. Lalu dia meletakkannya di hadapan ku.

“Jadi, apa kau mau menceritakan sesuatu pada ku?”

Aku menarik nafas panjang dan menceritakan semuanya pada Tiffany. Tiffany menahan tawanya karena mendengar cerita ku. Cerita tentang perjodohan bodoh itu. Namun setelah melihat wajah ku, tawa Tiffany langsung terhenti dan bersiap memberikan solusinya pada ku.

“Kalau menerut ku, kau terima saja perjodohan itu. Hitung-hitung kau membantu orang yang bekerja di perusahaan ayah mu, kan?”

“Tapi– ah, kau tidak mengerti! Jika kau menjadi aku, pasti kau juga menolak perjodohan ini walaupun hidup karyawan ayah ku sebagai ancamannya.”

Aku mengacak rambut ku frustasi. Tiffany sama sekali tidak membantu. Tapi memang benar katanya, membantu karyawan yang bekerja di perusahaan ayah. Lalu jika aku menolak perjodohan ini, hidup mereka akan seperti apa? Jatuh miskin mendadak, gitu?

“Tapi, aku juga tidak bisa menolak perjodohan ini. Lelaki yang di jodohkan dengan ku menerima perjodohan ini dengan mudahnya.”

“Benarkah?” Tiffany tersentak mendengar pernyataan ku. Ternyata bukan hanya aku saja yang kaget mendengar hal itu, Tiffany juga. Karena menurut drama atau film yang pernah ku tonton, biasanya lelaki yang bersikeras menolak perjodohan, dan perempuan yang pasrah dengan keadaan. Tapi itu berbeda sekali dengan ku. Disini, di kehidupan nyataku, aku yang bersikeras menolak perjodohan itu, dan lelaki itu yang pasrah dengan perjodohan ini.

***

Kris POV

Aku menghampiri toko bunga langganan ku. Aku ingin membelikan mawar merah untuk Yuri. Dan malam ini aku berencana untuk menjelaskan semuanya pada Yuri, dan memintanya untuk tetap berada di sisi ku walaupun perjodohan ini berlangsung, atau bahkan saat aku dan perempuan itu akan menikah. Karena aku mencintai Yuri dengan sepenuh hati ku.

“Hello, Kris! Long time no see!” wanita paruh baya itu menghentikan aktivitasnya yang sedang menyirami bunga-bunganya. Wanita paruh baya itu sangat dekat dengan ku, karena aku sudah sering sekali ke toko bunganya.

“Bonjour, ahjumma!” aku menyapanya dengan bahasa Belanda yang seadanya. Karena ahjumma itu memang asli datang dari Belanda, katanya.

“Kau mencari  bunga apa, Kris?”

“Seperti biasa, mawar merah, ahjumma.”

Ahjumma itu mengangguk dan mengambilkan mawar merah yang sudah disusun di buket bunga. Aku langsung membayarnya dan keluar dari toko bunga ini. Karena sekarang sudah menunjukkan waktu pukul 5 sore, aku sedang tidak ingin berlama-lama di apartemen Yuri.

***

Aku menunggu Yuri di basement apartemennya, aku hanya berdiam diri di dalam mobil ku menunggu Yuri pulang dari kerjanya. Sudah hampir 30 menit aku menunggunya disini, dan aku juga tidak bisa menghubunginya sama sekali. Ponselnya tidak aktif. Kemana dia? Sungguh, perasaan ku tidak enak sekarang.

Tak lama, mobil sedan mewah berwarna hitam lewat di depan mobil ku. Lalu penumpangnya turun bersama dengan pengemudi mobil itu. Amarah ku rasanya tidak bisa tertahan sama sekali. Aku langsung keluar dari mobil ku dan menghampiri Yuri dan lelaki yang aku juga tidak tahu siapa.

“Hei, Kwon Yuri!” teriakkan ku menggema di basement ini. Yuri menengok ke arah ku dengan wajahnya yang panik.

“Kris, ini–“

“Kalau begitu, kita akhiri saja hubungan ini. Untuk apa aku mempertahankannya? Dan lagi pula sebentar lagi aku juga akan menikah dengan perempuan pilihan orang tua ku yang jelas lebih baik daripada diri mu.” Ucap ku dingin dan berlalu meninggalkan Yuri bersama selingkuhannya itu. Perasaan ku memang benar, sesuatu yang buruk memang akan terjadi.

***

Jessica POV

Setelah pamit dari rumah Tiffany, aku tidak tahu ingin kemana. Yang jelas, aku sedang tidak ingin berada di rumah terlebih dahulu. Aku muak dengan semua ini, rasanya aku seperti mainan mereka yang bisa seenaknya di perlakukan begitu saja. Aku itu manusia!

Aku memutuskan untuk pergi ke club malam yang dulu sering ku kunjungi bersama Tiffany. Sudah lama sekali aku tidak kesana. Mungkin jika aku pergi kesana aku bisa menghilangkan stress ku, walaupun dengan cara yang salah. Apa peduli ku?

***

Aku turun dari taksi ini dan langsung masuk ke dalam club ini. Rasanya sudah lama sekali tidak merasakan kehidupan malam seperti ini. Sudah sekitar 1 tahun mungkin? Aku juga lupa, bahkan aku juga lupa kenapa aku berhenti untuk datang ke club. Jujur saja aku rindu sekali untuk minum alkohol dan semacamnya. Karena setelah berhenti untuk datang ke club, aku tidak pernah lagi menyentuh minuman itu.

Penjaga pintu masuk club mempersilahkan ku masuk setelah aku menunjukkan kartu pengenal ku, karena tadi mereka yakin sekali kalau aku itu di bawah umur. Karena wajah ku yang seperti anak kecil mungkin? Ugh, kalian salah besar.

Saat memasuki club ini, suara dentuman musik langsung menyambut ku. Dan suasana club yang khas yaitu lampu yang remang-remang membuat pengelihatan ku sedikit tidak jelas. Aku mengambil duduk di dekat barista ini.

“Margarita, please.” Ucap ku kepada barista itu.

“Please wait, girl.”

Aku tertawa kecil dan mengangguk. Lalu mengeluarkan ponsel ku yang berada di dalam tas. Terdapat 3 pesan dan 1 panggilan tak terjawab dari ibu. Aku membacanya satu persatu.

Kau dimana? Cepat pulang, nak.

Kau baik-baik saja, kan? Jessie, pulang lah.

Jessie, sesuatu yang buruk tidak terjadi pada mu, kan? Ibu khawatir.

Semua pesan itu terkirim sekitar 2 jam yang lalu. 4 jam setelah aku memisahkan diri dari ibu dan ayah yang pulang kembali ke rumah, sedangkan aku pergi ke ruma Tiffany dan berakhir di tempat ini. Club malam.

“This is your margarita.”

“Thanks.”

***

Kris POV

Setelah kejadian di basement tadi, aku tidak tahu harus kemana. Emosi ku bahkan masih tidak bisa ku kontrol. Yuri benar-benar keterlaluan. Kesetiaan ku kepadanya dia anggap apa? Apa aku kurang baik untuknya? Sungguh, aku menyesal pernah mencintai perempuan sepertinya. Dan pantas saja 1 bulan terakhir ini sikap Yuri berubah, dia seperti berusaha menjauhi ku.

Aku menghentikan mobil ku karena lampu merah. Dan aku dapat melihat club malam yang berada di persimpangan jalan ini. Sebenarnya aku sangat ingin ke club itu, menghilangkan semua stress ku, tapi saat ini aku sedang tidak ada mood untuk menenggak satu tetes alkohol.

Pandangan ku terhenti kepada gadis yang baru saja keluar dari dalam taksi yang berhenti di depan club itu. Gadis yang memakai baju terusan berwarna merah, heels berwarna putih dan rambutnya yang berwarna coklat gelap. Sepertinya aku mengenal gadis itu, tapi siapa? Kali ini aku benar-benar benci dengan otak ku yang tidak bisa mengingat sesuatu dengan lama.

“Apa itu Jessica?” tanya ku pada diri sendiri. Gadis itu masuk ke dalam club itu sendiri, tanpa ada teman. Aku mulai was-was, apa yang dia lakukan di dalam club itu?

Setelah lampu merah telah berganti menjadi lampu hijau, aku menjalankan mobil ku menuju club itu dan memarkirkannya di tempat yang sudah di sediakan. Entah lah, aku tidak tahu kenapa aku ingin mengikuti gadis itu. Mungkin karena sebentar lagi dia menjadi tunangan ku jadi aku mengikutinya? Aku juga tidak tahu, ini hanya keinginan ku.

Aku keluar dari mobil ku dengan cepat dan langsung memasuki club itu, sebelumnya aku menunjukkan kartu pengenal ku kepada penjaga pintu masuk club ini. Setelah memasuki club ini, aku di sambut dengan suara dentuman musik yang keras dan kegiatan orang-orang yang sedang bercumbu. Oh my, get a room, please.

Mata ku langsung menangkap Jessica yang sedang menidurkan kepalanya di atas meja bar. Entah dia sedang apa, atau dia sudah mabuk? Secepat itu? Aku menghampirinya dan langsung duduk di sebelahnya.

Lalu aku memesan vodka kepada barista itu, dan setelah 5 menit menunggu, vodka ku sudah datang di depan ku.

“Kau kenapa kesini?” aku bertanya kepada Jessica yang sedang meneguk margarita miliknya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah ku dengan wajah terkejut, seperti baru menyadari ada seseorang yang berada di sampingnya.

“Kau siapa?” tanya Jessica sambil menyipitkan matanya. Benar, gadis ini sudah mabuk.

“Kau sudah mabuk, ya? Ayo pulang. Kasian ibu dan ayah mu.”

“Mana mungkin aku sudah mabuk? Ini baru gelas pertama ku. Kau yang mabuk, tuan.”

Dia melupakan ku secepat itu? Memangnya saat berbicara di lorong toilet tadi, dia tidak melihat ku, ya? Apa dia pelupa seperti ku? Ah tidak tahu, aku harus membawanya pulang, sekarang juga. Tempat ini tidak baik buatnya, dia hanya gadis polos yang tidak mengerti apa-apa.

“Aku Kris! Ayo pulang!” aku menarik tangannya untuk segera keluar, namun dia menghentakkan tangannya dengan keras dan berhasil lepas dari genggaman ku.

“Kris? Kau siapa? Aku tidak mengenal mu sama sekali! Jangan berbicara yang seenaknya! Apa ini modus yang kau lakukan agar wanita mau bermain dengan mu?” ucapnya dengan emosi. Good, bahkan dia tidak tahu nama ku sama sekali. Pikirannya sedang kemana saat siang tadi? Melayang-layang?

“Aku yang akan di jodohkan dengan mu! Sekarang sudah tahu siapa aku, kan? Jessica, tempat ini tidak baik untuk mu.” Kalimat terakhir yang ku ucapkan dengan lemah. Agar dia mengerti kalau tempat ini memang benar-benar tidak cocok untuknya.

“Oh, nama mu Kris? Kenapa kau bisa berada disini?” dia bertanya dengan polos kepada ku. Aku menghela nafas kesal.

“Aku hanya melihat mu sedang masuk ke dalam club ini. Jadi aku mengikuti mu saja.”

“Bukan di suruh oleh ibu?”

Aku menggelengkan kepala ku. Lalu Jessica mengangguk mengerti lalu meminum margaritanya lagi, sampai habis. Dia mengabaikan ku begitu saja, mungkin dia menganggap aku tidak ada di dekatnya saat ini.

“Tidak ingin pulang?”

“Kau saja.” Ucapnya cuek tanpa menatap ku. Aku benci jika seseorang tidak menatap lawan bicaranya. Tidak menghargai orang, betul kan?

“Ayo pulang.” Ajak ku dengan tajam. Dia hanya menggeleng dan siap untuk memesan margarita keduanya.

“Tidak usah di buatkan pesanan gadis ini. Dia harus pulang.” Ucap ku memberhentikan barista itu yang sudah ingin membuatkan minuman Jessica.

***

Jessica POV

Lelaki ini gila, ya? Dia tidak seharusnya mengurus urusan pribadi ku. Memangnya aku sudah menyetujui perjodohan gila itu? Sama sekali belum. Baru dia yang menyetujuinya. Tapi dia mengikuti ku ke dalam club ini. Ini bahaya, bisa saja dia di suruh ibu untuk mengikuti ku. Bisa saja, kan? Kebiasaan ku datang ke club telah terbongkar olehnya!

Bahkan dia menyuruh barista itu untuk tidak membuatkan margarita ku dan kini dia sedang menarik ku secara paksa keluar dari dalam club ini. Apa-apaan dia ini!

“Lepaskan!” aku menghentakkan tangan ku dengan keras, namun genggamannya sangat erat sampai pergelangan tangan ku terasa sakit.

Lelaki ini, yang ku tahu bernama Kris, membuka pintu bagian penumpang yang di depan dan menyuruh ku masuk, memaksa lebih tepatnya. Aku menurutinya, jadi aku masuk ke dalam mobilnya dan duduk dengan diam menunggunya masuk ke dalam mobil.

“Kau mau membawa ku kemana? Turun kan aku! Aku tidak ingin pulang sekarang.” Ucap ku dengan panik saat Kris mulai menjalankan mobilnya. Dia tetap tenang dan fokus dengan jalanan dan tidak mempedulikan ku.

“Apa aku harus menarik rem tangan ini agar kau berhenti?” aku memagang rem tangan ini bersiap untuk menariknya. Kris hanya menengok pada ku tanpa berniat menjawab pertanyaan ku, ralat maksud ku ancaman.

“Aku tidak bercanda, Kris!”

“Lakukan.”

Aku langsung menarik rem tangan ini dan mobil Kris berhenti mendadak. Untung posisi mobil ini sedang berada di pinggiran jalan, jadi tidak menghalangi jalan pengemudi lain. Aku melepas seat belt dan segera keluar dari dalam mobil ini. Dan yang menyebalkannya, kunci mobil ini harus di buka dengan tombol yang ada di sisi Kris. Sial.

“Bukalah, ku mohon.” Aku memohon padanya agar pintu mobil ini di buka.

“Kau ingin menculikku ya?!”

“Kris! Please, open the door.

“Okay, okay! Aku akan menuruti permintaan mu! Tell me!

“Aku tidak meminta apa pun dari mu.” Jawabnya dengan tenang namun menusuk. Tajam sekali perkataannya. Lalu maksud dia menarik ku keluar dari club itu apa? Apa dia ingin menculik ku? Ah, tentu tidak mungkin. Aku bahkan tidak sudi jika dia menculik ku.

“Turunkan aku. Sekarang juga. Cepat buka kuncinya.”

“Kau harus pulang, Jess.”

“Iya, nanti.”

“Sekarang!” dia membentak ku. Semua orang membentak ku. Apa salah ku? Aku tidak melakukan kesalah kepada mereka semua. Enyahlah kalian semua! Aku benci kalian!

“Tidak bisa kah kau menuruti permintaan seseorang?” tanya Kris dengan lemah, matanya menatap lurus ke mata ku. Pertanyaan apa itu? Dia bukan meminta, namun memaksa.

“Kau memaksa, bukan meminta.”

“Ibu mu meminta mu untuk menerima perjodohan ini. Terima lah.”

“Ibu memaksa, bukan meminta.”

“Terima saja! Memangnya susah?”

Aku menggertakkan gigi ku kesal. Dia memperlakukan ku layaknya dia kenal dekat dengan ku, padahal kenyataannya aku belum mengenalnya, bahkan kami baru kenal beberapa jam yang lalu. Kenapa dia ikut campur dengan masalah ku? Dia bukan siapa-siapa ku. Aku menyenderkan punggung ku ke jok mobil ini, mengalihkan pandangan ku keluar jendela.

Aku mendengar suara helaan nafas keluar dari mulut Kris. Tapi dia tidak mengucapkan satu kata pun. Berapa lama lagi aku menunggu sampai pintu mobil ini di buka? Besok pagi?

“Aku hanya meminta, terima lah perjodohan itu. Aku mohon.”

Ucapannya membuat ku terdiam, kenapa ucapannya terdengar sangat memohon? Aku jadi kasihan dengan dia. Tapi bukan berarti aku akan menerima perjodohan ini. Aku tidak akan menerimanya! Sampai kapan pun. Aku dan Kris hanya diam. Dia tidak mengucapkan satu kata pun.

“Lihat saja nanti.” Jawab ku pada akhirnya.

“Kau boleh keluar sekarang.” Kris lalu membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan ku keluar dari mobilnya. Dan dengan senang hati, aku langsung keluar dari ‘penjara’ itu dan mencari taksi yang kosong yang lewat di dekat ku. Aku masih tidak ingin pulang, tapi aku bingung harus kemana.

Pikiran ku semakin bercampur saat permohonan Kris terlintas di otak ku. Apa yang harus ku lakukan? Menerima perjodohan gila itu? Tidak mungkin!

TBC

New FF! Ide ff ini terlintas saat baca ff temen yg perjodohan juga. Tapi cerita aku sm dia beda kok, tenang aja. Dan yaaaaaaa aku juga kangen bikin ff krissica:/ jadi muncul lah ff ini dari kandangnya. Comment dan like banyak bakal lanjut ke part 2, kalo dikit ya……. liat aja nanti.

Thanks for reading!xx

32 thoughts on “Our Love – Part 1

  1. Annyeong! Readers baru🙂
    Ceritanya keren, kasihan banget mereka berdua. Yang satu kayak sapi perah, yang satu diselingkuhin. Kasihan banget, tapi jalan ceritanya keren! Suka banget, apalagi couplenya royal ice. Semoga aja, Jessica mau menerima perjodohan itu. Hatinya Kris mulia banget. Berharap yang terbaik buat mereka berdua! Fighting thor! ^^

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s