No More Like Those Memories

no-more-like-this-memories-vi-storyline-kris-yuri

No More Like Those Memories || Written by Vi || Starring SNSD Yuri | EXO-K Kris || Rated for Teen || Romance, Friendship, Sad || Disclaimer: I just borrow the cast || Note: inspired by anime movie “5 Centimeters Per Second”. Sorry for bad fanfic and story. Poster by Lee Yongmi @ cafeposter. Had been published in YoongEXO

Summary: Ini hanyalah kisah mengenai dua orang teman masa kecil yang berpisah karena sang lelaki harus pindah ke kota lain. Namun, sebelum sempat mengatakan bagaimana perasaan mereka yang sesungguhnya pada satu sama lain mereka harus berpisah dan tidak berhubungan pada satu sama lain lagi hingga tahun-tahun berlalu dan yang tersisa hanyalah sebuah memori. Apa suatu hari mereka bisa bertemu ?

*****

Kris !” Sesosok gadis berlari-lari kearah sesosok lelaki berambut coklat muda itu. Lelaki itu tersenyum saat ia telah melihat gadis tersebut. Ia melambaikan tangannya pelan pada gadis itu sebagai sapaan.

“Yuri ! Kau benar-benar datang..” Sang lelaki kecil tersebut pun menurunkan lambaian tangannya saat melihat sang gadis berlari kencang kearahnya. Sang gadis bernama Yuri itu mengangguk sembari tersenyum. Kini kedua anak kecil yang bersahabat baik itu tengah berada di sebuah stasiun kereta. Kris akan pergi, ia akan segera pindah dari Tokyo ke Osaka.

“Tentu saja. Ini kan saat-saat sebelum kau pergi ke Osaka. Ohya , kapan kau bisa kembali ?” tanyanya polos. Kris –si lelaki– nampak berpikir sejenak kemudian ia berkata, “entahlah, aku harap aku bisa kembali sesering mungkin.” Yuri nampak kecewa dengan jawaban Kris. Ia mengerucutkan bibirnya kecewa.

“Kris ! Ayo cepat kemari, kereta sudah tiba !” teriak ibu Kris. Kris mengangguk kemudian menolehkan kepalanya kearah Yuri, “sampai jumpa, Yul.” Yuri pun mengangguk dan melambaikan tangannya. Tak butuh waktu begitu lama, kereta sudah berangkat, Yuri pun berteriak , “kembalilah sesering mungkin !”

.

.

*****

Yuri POV

Itu 10 tahun yang lalu..

Aku terus menyuruhnya berjanji untuk kembali sesering mungkin agar kami bisa bermain bersama-sama seperti dulu lagi. Tapi , ia tidak sungguh-sungguh menjanjikan hal itu denganku dan ia belum kembali hingga sekarang. Apa ia akan kembali padaku suatu hari nanti ?

Kuputar bolpoinku berkali-kali untuk menghilangkan rasa bosan. Sesekali aku juga mengingat masa laluku bersama Kris 10 tahun yang lalu. Kami tidak pernah berhubungan lagi, sebab dulu kami tidak tahu nomor ponsel satu sama lain dan setelah ia pindah ke Osaka , aku tak tahu dimana ia tinggal , maka aku tak bisa mengirim surat padanya pula.

Kuhentikan putaran bolpoinku. Mataku pun beralih kearah frame foto yang memajang foto kami berdua saat membuat boneka salju dulu. Apa sekarang ia masih suka membuat boneka salju sepertiku ya ? Kurasa tidak .. Kris mungkin sudah lupa denganku ..

Ia mungkin sudah melupakanku .. Sebab aku mengingatnya karena ia teman terbaikku bagi diriku yang tertutup dan sulit bergaul ini .. Dan ia juga .. Orang yang kucintai selama 10 tahun.

Akupun berdiri dari kursi yang kududuki ini lalu berjalan menuruni anak tangga dan keluar rumah. Merasa udara begitu dingin, aku kembali masuk ke dalam rumah dan mengambil mantel putih untuk kukenakan.

Aku berjalan kearah stasiun kereta di tengah hujan salju yang tak begitu deras ini. Cuaca yang sama persis seperti cuaca saat ia akan meninggalkanku. Apa keadaan stasiun juga ramai seperti dulu ya ?

Tak butuh waktu begitu lama aku sampai di stasiun kereta. Ramai. Kejadian 10 tahun yang lalu itu seolah terulang kembali namun tidak , kenyataannya kejadian itu tak terulang kembali. Hanya keadaan cuaca serta tempatnya saja yang sama.

Aku memasuki stasiun kereta dan berdiri melihat kereta yang lalu lalang. Betapa berharapnya diriku bisa menemukan kereta yang berasal dari Osaka.

Rasa rinduku pada Kris meluap seketika saat melihat kereta yang berasal dari Osaka tiba. Aku tahu hal itu karena saat kereta ini tiba ada petugas stasiun yang menyebutkan darimana kereta ini datang.

“Apa mungkin diantara orang-orang ini ada Kris ? Haha ~ Tidak mungkin, tidak mungkin, ini bukanlah dongeng-dongeng yang sering mendapat happy ending,” kata Yuri lirih sambil menahan air mata yang sudah bersiap melesat turun dari matanya.

BRUK

Seseorang menabrakku dari belakang,beruntung tak ada satupun dari kami yang terjatuh. Aku menoleh memandangi lelaki yang menabrakku itu, ia mengenakan topi beserta syal dan mantel tebal.

“Maaf,” kataku sambil membungkuk 90 derajat. Lelaki itu menganggukkan kepalanya kemudian berjalan meninggalkanku. Sementara lelaki itu meninggalkanku, aku diam-diam berharap bahwa yang menabrakku barusan adalah Kris.

“Tidak mungkin kebetulan Kris datang saat aku datang ke stasiun ini kan ?”

*****

Kris POV

Huff, udara di Tokyo dingin sekali. Dimana ya Taeyeon-neechan ? Masa’ ia belum datang menjemputku sih ? Aku merasa haus dan saat aku melihat mesin penjual minuman di stasiun ini, aku merogoh sakuku untuk mencari dompetku. Namun , tak kudapatkan apapun di sakuku.

“Aissh, jangan-jangan aku menjatuhkannya,” batinku.

Kuingat-ingat kembali kapan dan dimana aku menjatuhkannya. Tiba-tiba aku ingat bahwa saat menabrak seorang gadis setelah turun dari kereta tadi aku tengah mengambil dompetku dan tampaknya setelah menabraknya aku menjatuhkan dompetku karena kaget.

“Aissh, tapi stasiunnya ramai sekali,” batinku. Aku berlari mencari sang gadis yang kutabrak barusan. Saat kulihat sang gadis ia sudah hampir membuka dompetku dan akupun buru-buru meraih dompetku dari tangannya.

“Maaf,” katanya cepat saat menyadari kedatanganku. Wajahnya cantik sekali setelah kulihat dengan jelas.

“Tidak apa-apa,” kataku sambil menyimpan dompetku ke sakuku. “Aku tidak bermaksud lancang, aku hanya ingin mengetahui nama pemiliknya dan akan kuberikan ke orang yang memilikinya,” jelasnya ketakutan. Akupun bingung mengapa ia ketakutan. Apa wajahku yang terkesan dingin ini mengerikan baginya ?

“Hmm, karena kau sudah menemukan dompetku, biar kubelikan kau minuman. Aku yakin kau pasti sedang menunggu seseorang,” kataku sambil tersenyum. Ia terkejut dan menggeleng, “tidak perlu, aku tidak menung–”

“Tidak apa-apa, sudahlah, biar kubelikan !” kataku sambil menggandengnya. Kumasukkan uang koin kedalam mesin tersebut dan minuman yang kuinginkan pun keluar. Kuberikan satu untuknya dan satu lagi untukku.

“Te-terima kasih,” katanya pelan. Aku menggeleng, “bukan apa-apa. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku karena kau sudah menemukan dompetku.”

“Hey ! Laki-laki bertopi putih !” Teriakan itu terdengar di telingaku. Suara nyaring itu .. Taeyeon-neechan !

“Taeyeon-neechan ?” kataku sambil menoleh ke sumber suara. Tampak sesosok gadis pendek berambut hitam tengah berkacak pinggang sambil memandangiku geram.

“Jangan berpacaran di stasiun ! Pulang denganku sini !” teriaknya galak. Aissh, sepupuku yang galak ini .. Bisakah ia membedakan orang yang berpacaran dengan yang tidak ? Sudahlah , kumaklumi saja , ia juga tak pernah memiliki pengalaman berpacaran kan ? Makanya ia iri padaku yang bisa dekat dengan seorang perempuan dulu.

“Tunggu , neechan ! Aku tidak berpacaran !” teriakku balik padanya.

“Sudah dulu ya, aku sudah dijemput, sampai jumpa, semoga kita bisa bertemu lagi ya,” pamitku pada gadis berambut coklat itu. Ia tampak melongo menatapku. Anehnya, sikap melongo gadis itu mengingatkanku pada Yuri. Apa yang sedang dilakukannya sekarang ya ? Apa ia baik-baik saja ? Apa ia merindukanku ? Apa mungkin kita bisa bertemu lagi ? Kami bahkan tidak bisa berhubungan selama 10 tahun ini.. Alamat serta nomor telpon saja tidak tahu, bagaimana caranya mau berhubungan kan ya ? Aku berharap kejadian dulu bisa terulang lagi, setidaknya kalau itu bisa terulang lagi, aku bisa memberikan Yuri nomor telpon ibuku agar ia bisa menelponku lewat telpon ibuku saat aku ke Osaka.

“Apa suatu saat aku bisa bertemu dengannya lagi ?” batinku.

*****

Yuri POV

Senyuman lelaki barusan mengingatkanku pada Kris. Apa ia Kris ? Oh .. Mana mungkin , Yuri. Ini bukan dongeng !

Tapi, sungguh entah mengapa lelaki barusan mengingatkanku pada Kris. Ia tampak mirip sekali dengan Kris saat tersenyum dan minuman kesukaannya juga sama dengan Kris. Tunggu.. Mungkin minuman yang dibelinya ini bukan kesukaannya ya..

“Arghh ! Bertemu dengan lelaki barusan malah membuatku makin rindu padanya !” teriakku frustasi. Untung stasiun lagi ramai, jadinya tak banyak orang yang mendengar teriakanku.

Aku berjongkok dan membenamkan kepalaku diantara kedua tanganku. Aku mulai terisak. Aku tak bisa menahan rasa rindu ini lagi .. Rasa rinduku meluap-luap. Terlebih aku juga tak tahu bagaimana wajahnya setelah 10 tahun ini , aku tak bisa mencarinya !

“Aku merindukannya ! Aku tak bisa berpindah hati ke lelaki lain karena aku yakin ia akan kembali dulu. Namun makin lama rasa yakin itu menghilang .. Karena aku sadar ini bukanlah dongeng .. Meski rasa yakin itu menghilang, rasa cintaku padanya masih ada , itu semua karena perasaan cintaku padanya yang kuat dulu,” seruku di dalam hati.

Setelah setengah jam menangis di stasiun, kusadari udaranya semakin dingin. Akupun berdiri dan berjalan keluar dari stasiun. Mataku membengkak –dapat kurasakan itu– namun tak kupedulikan. Aku terus berjalan di bawah dinginnya hujan salju yang terus menerpaku sedari tadi. Kuberjalan terus sehingga aku melihat sebuah kafe di pinggir jalan. Aku memasuki kafe tersebut dan dapat melihat sesosok lelaki yang baru kulihat tadi tengah duduk di dekat jendela sambil menyesap bubble tea. Bubble tea ? Mirip dengan minuman kesukaan Kris dulu, apa ini hanya kebetulan ?

Aku duduk tepat di samping lelaki yang kutemui tadi. Berharap ia akan menyebutkan namanya. Andai namanya Kris , ia ingin langsung mengatakan namanya agar ia bisa memastikan apa ini Kris yang dikenalnya atau bukan. Tapi kalau bukan , maka itu memang hanyalah lelaki yang kebetulan mirip dengan Kris.

“Apa yang ingin anda pesan ?” tanya pelayan kafe tersebut. Aku berkata, “coklat panas 1.” Sang pelayan langsung mencatat kemudian bertanya , “ada lagi ?” Aku menggeleng. Ia mengangguk dan membawa catatannya ke koki.

Aku dapat melihat lelaki itu membuka ponselnya dan menelpon seseorang melalui Video Call.

“Bagaimana keadaan ibumu ?” tanyanya pada seorang gadis di video call itu. “Kris ! Cepatlah pulang ! Ibuku ingin makan ! Apa kau sudah membeli makanannya ?” seru seorang gadis yang kukenal sebagai kakak lelaki itu tadi siang. Suara video callnya begitu kencang sehingga beberapa orang terganggu.

Tunggu .. Kakaknya memanggilnya .. Kris ? Aku berniat memanggilnya, “Se–”

“Ini pesanannya, terima kasih.” Sang pelayan mengantarkan makanan yang dipesannya dan ia menutup video callnya. Ia berdiri dan berjalan keluar. Aku buru-buru mengejarnya namun ia sudah berjalan keluar di tengah hujan salju yang tiba-tiba begitu kencang. Aku sulit melihat jalanan yang diterpa hujan salju sekencang ini. Aku memanggil namanya keras-keras, “Krisnnn !”

*****

author POV

“Krisnnn !” teriak Yuri. Kris yang mendengar suara itu terdiam. Seseorang memanggil namanya.

“Apa itu teriakan Yuri ? Taeyeon-neechan tidak mungkin ke daerah sini kan ?” gumam Kris. Ia berusaha melihat ke belakang untuk mencari siapa yang memanggilnya namun ia tak dapat melihat dengan jelas karena hujan salju yang deras sekali.

“Mungkin karena aku selalu menginginkan kedatangan Yuri aku jadi membayangkan teriakan Yuri, betapa lucunya aku .. Yuri tidak tahu bahwa aku datang hari ini .. Malah mungkin ia sudah melupakanku dan hanya aku yang mengingatnya karena perasaanku padanya ..” batin Kris miris. Iapun berjalan terus menerus dan belok ke kanan di tikungan yang ada.

Yuri terus meneriakkan nama Kris. Ia merasa yakin bahwa usahanya tidak sia-sia dan dapat menemukan Kris pada akhirnya.

Sesampainya Yuri di persimpangan jalan , ia melihat 3 jalan. Lurus, kanan, dan kiri. Ia tidak tahu dan tidak bisa melihat dengan jelas kemana Kris pergi.

Iapun terdiam di tengah jalan dan membekap mulutnya untuk menahan isak tangisnya.

“Mengapa saat aku sudah tahu bahwa ia memang Kris aku harus kehilangannya ?” gumam Yuri sambil menangis. “Apa kita berdua tidak bisa bersama lagi ? Apa kami berdua hanyalah kenangan ?” batin Yuri.

Ia pun berhenti menangis dan berjalan ke rumahnya yang kebetulan tinggal belok ke kanan.

“Mungkin aku memang harus menyerah ..”

END / TBC

MIan gaje, aku mau buat sequel tapi aku mau minta pendapat kalian dulu apa perlu buat sequel untuk ini / tidak, pls komen ya !

Normal
0

false
false
false

IN
JA
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

18 thoughts on “No More Like Those Memories

  1. itu yul ny jg tnggal di tokyo jg ?

    adduh yulnnie yg sbar ne ? mgkin suatu saat bs d prtemukn lg🙂

    Iya sequel.. d tggu

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s