Wrecking Ball (Chapter 7)

wreckingball

Wrecking Ball – Chapter 7

By kissmedeer

Minseok, Sunny, Kyungsoo, Taeyeon

Romance-Sad | PG 17+

“Aku mencintaimu, Minseok.” Pengakuan yang keluar dari diri Sunny itu mempu membuat tubuh Minseok bergetar. Minseok tidak merespon, dia hanya memegang punggung tangan Sunny yang dingin dan lembut itu.

“Sungguh, aku mencintaimu.” Ulang Sunny.

Minseok langsung memutar posisinya, berhadapan dengan Sunny lalu menariknya ke dalam dekapannya. Dia memegang kepala belakang Sunny dan mencium puncak kepalanya.

“Aku juga.” Balas Minseok.

Tangisan Sunny pecah. Ntah dia sudah memilih jalan yang benar atau salah. Memilih membahagiakan Kyungsoo dan menyakiti Minseok.

Bohong jika Minseok tidak sedih, tidak terpukul, merasa dibuang layaknya permen karet yang manisnya sudah habis.

“Sunny.” Panggil Minseok sambil memegang dagunya. Sunny mengerjapkan matanya yang terhalangi oleh air matanya itu.

“Jadilah milikku.” Lanjut Minseok lalu mencium bibir Sunny.

Mereka tidak peduli berapa pihak yang tersakiti. Mereka tidak peduli berapa orang yang memerhatikan mereka. Mereka tidak peduli tentang orang lain.

Mereka egois.

Semua orang egois.

Dan mereka menyadari itu.

.

.

.

Jika ada penghargaan manusia terhina di dunia ini, mungkin itu akan menjadi milik Sunny. Mengencani Minseok tapi akan menikah dengan kakaknya, Kyungsoo. Kini Sunny sedang duduk melihat cermin yang besar dengan tatapan kosong. Wajahnya sedang dirias oleh piñata rias yang dipilih langsung oleh Taeyeon.

Ya, Taeyeon membantu banyak untuk kali ini. Dia membantu masalah Minseok, Sunny dan Kyungsoo, serta latar belakangnya Minseok dan Kyungsoo.

Dan dia sudah dipercayakan oleh umma Minseok dan Kyungsoo untuk mengatur semua pernikahan yang akan dilaksanakan lima hari lagi.

Hari ini adalah hari pemotretan pre-wedding Kyungsoo dan Sunny.

“Sudah siap?” Tanya Kyungsoo dengan topi yang menutupi rambutnya yang mulai menipis sambil duduk diatas kursi roda.

Sunny menoleh sekilas lalu tersenyum, “tentu.”

“Kau selalu cantik, Sunny.” Puji Kyungsoo sambil tersenyum dengan bibirnya yang putih pucat.

“Kau juga selalu tampan.” Balas Sunny. Kyungsoo langsung bersemu merah. Rasa malu yang naik itu tetap bisa menembus kulit pucat Kyungsoo.

“Terima kasih.” Kata Kyungsoo seiring senyumannya. Senyuman yang membentuk hati itu.

“Terima kasih juga.” Balas Sunny.

.

.

.

Sunny duduk sambil memerhatikan seorang pria yang menarik seluruh perhatiannya sedari tadi. Siapa lagi kalau bukan Minseok?

Baru saja Sunny mau menghampiri Minseok tapi pundaknya tertepuk oleh orang lain. Sunny menoleh.

“Oh, Taeyeon? Ada apa?” Tanya Sunny.

Taeyeon memberi isyarat untuk mengikutinya. Sunnypun mengangguk.

Sedangkan Minseok, dia berdiri sambil memerhatikan lokasi pemotretan Kyungsoo dan Sunny nanti. Hatinya menangis. Dia benar-benar berharap bahwa pria yang disebelah Sunny nanti adalah dirinya.

Mungkin dia akan. Pasti dia akan disebelah Sunny.

Tapi, dia bukanlah yang pertama.

“Permisi, apakah kamu yang namanya Minseok?” Tiba-tiba terdengar suara di samping kiri Minseok.

Dia menoloeh lalu menangkap seorang pria yang memakai topi dan duduk di atas kursi roda. Kakaknya, Kyungsoo.

“Iya.” Minseok sedikit menundukkan kepalanya lalu tersenyum. Senyuman canggung yang pernah ada.

“Aku senang melihatmu.” Ucap Kyungsoo sambil memegang lengan Minseok.

Minseok tersentak. Sebenarnya, dia masih belum percaya bahwa lelaki yang nampak tidak sehat ini adalah Kyungsoo, kakaknya.

“Aku juga.” Balas Minseok.

“Jadi kau suka melihatku tidak sehat begini?” Canda Kyungsoo.

“Tidak. Bukan itu maksudku. Sungguh.” Minseok nampak panik. Sungguh, Minseok tidak pernah berharap agar Kyungsoo terus-terusan ‘tidak sehat’ agar dia bisa bersama Sunny nantinya.

“Aku hanya bergurau” Kyungsoo melepaskan genggamannya pada lengan Minseok sambil mellihat lokasi pemotretan yang masih dalam masa persiapan.

“Aku senang. Akhirnya, Sunny mau menjadi milikku.”

Telinga Minseok terasa panas. Dia tahu Kyungsoo tidak tahu apa yang terjadi diantara dirinya dan Sunny. Tapi, Minseok juga manusia. Dia punya hati yang sama seperti orang lain. Dia bisa sedih, marah, senang. Sekalipun dia manusia es yang ada di dunia ini.

“Aku turut senang, hyung.” Bohong Minseok.

Kyungsoo menepuk pundak Minseok, “doakan kami.”

Sebuah senyuman muncul di wajah Minseok, “pasti, hyung.”

.

.

.

“Pemotretanmu akan selesai jam empat sore, Sunny.” Ucap Taeyeon sambil merapikan rambut Sunny yang sedikit berantakan.

Sunny melihat ke arah jarum jam. Sekarang baru pukul satu siang.

“Kenapa lama sekali?” Tanya Sunny.

Taeyeon mengangkat bahunya sekali, “Mana aku tahu? Aku bukan photographer-nya.”

Sunny hanya tersenyum sekilas sebagai tanda bahwa dia mendengar jawaban Taeyeon.

“Selesai.” Ucap Taeyeon sambil bangkit dari duduknya.

Gomawo.” Balas Sunny sambil melihat pantulan dirinya sendiri di kaca.

“Kau cantik, Sunny.” Puji Taeyeon sambil merapikan gaun selutut yang dipakai Sunny.

“Kau juga, Taeng.” Balas Sunny lagi lalu berjalan keluar. Taeyeon mengikutinya dari belakang.

“Ngomong-ngomong, kemarin kalian kemana saja?” Tanya Taeyeon.

Sunny menghentikan langkahnya dan menoleh, “kemarin?” Dia berusaha mengelak.

“Kemarin? Ah yah! Maksudku dua hari yang lalu. Kemarin lusa!” Ternyata Taeyeon jauh lebih teliti dibanding Sunny.

Sunny bungkam. Dia memegang bibirnya sekilas. Taeyeon membuatnya mengingat kejadian manis itu lagi.

“Kalian..?” Taeyeon mengerti mengapa Sunny memegang bibirnya tersebut. “Berciuman?!” Lanjut Taeyeon.

“Tidak!” Kelak Sunny.

“Lalu ini maksudnya apa?” Tanya Taeyeon sambil memegang bibir tipisnya itu.

“Dia yang menciumku.”

.

.

.

Minseok dan Taeyeon duduk di atas bangku panjang yang tak jauh dari lokasi pemotretan. Mereka masih bisa melihat pasangan tersebut dengan jelas—walaupun terhalangi para staffs.

Minseok menghelakan napasnya dan hal tersebut mengundang perhatian Taeyeon.

“Kau cemburu?” Tanya Taeyeon dengan kekehan diujung perkataannya.

Minseok menggeleng, “tidak akan.”

“Ya! Akui saja!” Paksa Taeyeon sambil menyikut lengan Minseok.

Sekali lagi Minseok menggeleng, “tidak!”

“Dasar!” Gumam Taeyeon lalu melihat Sunny dan Kyungsoo yang sedang pemotretan lagi. Dia tersenyum simpul. Betapa bahagianya dia—Kyungsoo. Senyuman paling indah terukir diwajahnya. Sedangkan Sunny? Palsu.

.

.

.

“Ya! Bagus sekali!” Teriak sang fotografer. Sang fotografer berjalan mengelilingi Sunny dan Kyungsoo berusha amencari sudut yang bagus untuk hasil yang sempurna.

Sunny berdiri dan Kyungsoo duduk di atas batang pohon besar. Sunny memeluknya dari belakang dan keduanya tersenyum.

“Satu! Dua! Tiga!” Dalam satu detik, fotografer tersebut bisa memfoto mereka lebih dari tiga kali. Fotografer tersebut menurunkan kameranya dan melihat hasilnya.

“Sempurna!” Ucapnya kegirangan lalu menatap pasangan tersebut—Sunny dan Kyungsoo.

“Besok smeua foto sudah jadi. Kalian bisa mengambil di studioku dan selamat atas hari bahagia kalian.” Ucap sang fotografer sambil meletakkan kameranya dan pergi meninggalkan lokasi.

Sunny tercengang. Dia menoleh ke salah satu staff yang masih ada.

“Maaf, sekarang jam berapa ya?”

“Pukul setengah tiga.” Jawab staff tersebut sambil melihat arlojinya.

“Bukannya—“

“Sunny, aku harus kembali ke rumah sakit sekarang.” Pamit Kyungsoo.

Sunny langsung menoleh ke Kyungsoo dan—CHU!

Bibir Sunny yang berwarna merah muda itu mengenai bibir Kyungsoo yang mulai memutih—lipstick yang ia kenakan sudah mulai menghilang karena aktivitasnya sedari tadi.

Sunny langsung memundurkan kepalanya, memberi jarak diantara mereka.

“Woah!” Kyungsoo mengeluarkan suaranya dan tertawa. “Ini pertama kalinya! Terima kasih atas ciumanmu, calon istriku.” Lanjut Kyungsoo.

Sunny terbelalak. Dia pikir Kyungsoo yang menciumnya. Apakah tadi hanya sebuah ‘kecelakaan’?

Kyungsoo dibantu oleh perawat untuk duduk di atas kursi rodanya, “jangan terlalu terkejut, Sunny. Jantungmu bisa copot nanti.” Kata Kyungsoo sambil menjauhi Sunny. Kursi rodanya didorong oleh perawat tersebut.

“Ya! Yang tadi tidak termasuk dalam hitungan!” Teriakkan Sunny itu hanya dibalas dengan lambaian tangan Kyungsoo.

Saranghae!” Teriak Kyungsoo.

Hati Sunny tergetar. Bukan karena Sunny mencintainya tapi Kyungsoo benar-benar tulus padanya. Dia bingung, dia mengatai dirinya sendiri. Kenapa manusia keji seperti dia layak hidup?

.

.

.

Sunny duduk diatas batang pohon di lokasi pemotretan tadi. Setengah jam sudah dia duduk disana sendirian. Dia mendapat pesan dari salah satu staff bahwa aka nada seseorang yang menghampirinya nanti.

Sunny yakin bahwa itu Minseok.

“Sunny.” Panggil seseorang dari belakang. Dia menoleh dan menangkap sosok Minseok menggunakan tuxedo putih dengan senyuman tampannya.

“Minseok?”

“Kenapa? Terpesona?” Tanya Minseok sambil memasukkan tangannya ke saku celananya dan melemparkan smirk-nya.

Sunny menggeleng dengan cepat, “tidak. Aku rasa Kyungsoo jauh lebih tampan.”

Minseok menghelakan napasnya dan melihat arloji yang meligkar di lengan kirinya. Sudah pukul empat lewat.

“Tsk! Kenapa waktu itu cepat sekali?” Gumam Minseok.

“Kau bicara apa?” Tanya Sunny karena dia tidak bisa mendengar gumaman Minseok.

Minseok langsung tersenyum dan berjalan cepat menghampiri Sunny, menjepit Sunny diantara kakinya dan batang pohon besar itu.

“Aku tidak mau membuang waktu kita, dear.” Gumam Minseok lagi. Suaranya hampir sama dengan angin.

“Huh?” Lagi-lagi Sunny tidak mendengar gumaman Minseok.

Minseok langsung memegang pinggang Sunny dan mengangkat Sunny dengan seluruh tenaganya hingga kaki Sunny menginjak batang pohon tersebut.

“Aku mencintaimu, Lee Sunny.”

Minseok langsung membungkam mulut Sunny dengan bibirnya. Perlahan tangan Minseok naik hingga memegang leher belakang Sunny. Dia memperdalam ciuman mereka.

Sunnypun begitu. Dia mulai melingkarkan tangannya ke leher Minseok.

Sunny melepaskan ciuman mereka lalu tersenyum, “kau selalu memulainya duluan.”

Minseok membalas senyumannya, “jadi kau yang mau memulainya duluan?”

Sunny mendongakkan kepalanya, melihat awan-awan gelap yang menutupi matahari. Bau hujanpun mulai tercium.

“Mungkin sebentar lagi akan hujan.” Ucap Sunny.

“Masa bodoh dengan itu.”

“Bagaimana jika aku yang memulainya duluan, Minseok?” Tanya Sunny dengan smirk-nya.

Minseok terkejut, “hei! Siapa yang mengajarimu?”

“Bukannya kau?” Tanya Sunny lalu mendorong Minseok hingga terkapar diatas dedaunan yang hijau.

Sunnyca berbaring tepat disebelah Minseok. Melihat awan yang mulai mengumpul. Tiba-tiba setetes air terjatuh dari langit sana.

“Hujan.” Gumam Sunny.

“Aku menyukai hujan.” Sahut Minseok.

“Kenapa?” Tanya Sunny.

“Hanya aku yang mengetahui itu.” Setelah Sunny mendengar jawaban Minseok, dia merangkak ke atas tubuh Minseok dan meletakkan kepalanya tepat diatas dada bidang Minseok.

“Aku mencintaimu, Kim Minseok.” Sunny langsung memutar posisinya agar berhadapan dengan Minseok lalu tersenyum dan menutup matanya.

Dia menempelkan bibirnya ke atas bibir Minseok. Dia membiarkan hal tersebut berlangsung beberapa detik. Tiba-tiba hujan turun dan membasahi tubuh mereka.

Sunny melepaskan ciumannya dan bangkit berdiri hendak meneduhi tubuhnya. Tapi, Minseok jauh lebih cepat. Dia langsung menarik lengan Sunny hingga dia berlutut dan menghadap Minseok yang masih setengah tiduran itu.

Minseok mencium Sunny lagi. Minseok menciumnya seakan ini adalah ciuman perpisahan mereka. Seolah mereka tidak akan bertemu lagi. Seolah salah satu dari mereka akan pergi jauh.

Minseok menangis lagi. Tapi, hujan menghapus air matanya.

Minseok terus mencium Sunny. Dia menggigit bibir bawah Sunny hingga mulut Sunny terbuka dan dia langsung memasukkan lidahnya agar berperang dengan lidah Sunny.

Minseok mendorong tubuh Sunny hingga terbaring diatas rumpur yang basah. Minseok menahan tubuhnya dengan kedua tangannya yang tepat berada di kanan-kiri kepala Sunny.

Sunny membuka matanya perlahan. Dia bisa melihat Minseok yang menutup matanya dengan rapat. Dia terlihat tenang. Perlahan bola matanya turun dan melihat hidung Minseok yang memerah.

Sunny terkejut. Apa Minseok menangis?

Baru saja dia mau melepaskan tautannya dengan Minseok tapi tangan kanan Minseok memegang pinggangnya sehingga Sunny ‘lupa’ untuk melepaskan tautan mereka.

Sore itu, dibawah pohon dan hujan mengguyur mereka. Mereka masih bisa membagikan rasa sayang mereka. Lewat perkataan, sentuhan, ciuman. Terkadang hidup mereka harus bersembunyi layaknya sekarang.

Hidup mereka penuh dengan drama.

.

.

.

TO BE CONTINUE

8 thoughts on “Wrecking Ball (Chapter 7)

  1. YA…AWOOOOOOHHHHH THORR AKU SUKAKK BANGET BENERAN…LANJUT YG CEPET SUMPAH THOR😀

    AKU PENASARAN SUNNY SAMA SIAPA ? MINSEOK ATAU KYUNGSOO.

  2. Wuah ratingnya makin naik nih xD jangan2 nanti nc21 lagi huahahah /ga
    makin seruuuu, suka banget banget sama bahasanya!
    Jangan cepet cepet ending deh yah.-.

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s