Wrecking Ball (Chapter 6)

wreckingball

Wrecking Ball – Chapter 6

By kissmedeer

Minseok, Sunny, Kyungsoo, Taeyeon

Romance-Sad | PG 17+

Sunny baru saja berjalan dan berusaha meraih tombol gawat darurat agar dokter dan suster masuk untuk memeriksa keadaan Kyungsoo.

Namun, tangannya tertahan.

Kyungsoo mengerjapkan matanya berkali-kali, dia berusaha mengeluarkan suaranya lagi.

“Sunny.. Menikahlah denganku.”

Mulut Sunny terkatup rapat. Matanya terbelalak mendengar perkataan Kyungsoo yang baru saja keluar dari mulutnya.

“Sunny..”

Sunny mengacuhkan panggilan dari Kyungsoo. Dia langsung menekan tombol merah.

“Kenapa kau tekan?” Bisik Kyungsoo dengan susah payah.

Sunny diam. Air matanya mengalir dengan lancar dari matanya, “Mianhae.”

“Sunnyhh..” Seusai Kyungsoo mengeluarkan suaranya itu dokter dan beberapa suster masuk untuk menangani Kyungsoo.

“Anda boleh menunggu diluar.” Perintah salah satu suster.

Sunny mengangguk lalu meraih tasnya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.

Mianhae.

.

.

.

Sunny menutup pintu ruangan rawat inap Kyungsoo perlahan kemudian dia berdiri dibalik pintu tersebut sambil memerhatikan Kyungsoo yang sedang ditanagi oleh dokter.

Sunny menangis lagi. Dia terisak.

Tiba-tiba sebuah tepukkan mendarat di pundak kanannya. Sunny menoleh.

“Maaf telah menganggu. Bisakah kita bicara sebentar?”

Sunny menatap orang asing tersebut dengan aneh. Melihat orang tersebut saja tidak pernah tapi dia ingin berbicara dengan dirinya?

“Aku..” Orang asing tersebut nampak ragu lalu menunduk dan membuang napasnya, “aku umma dari Kyungsoo.” Lanjut orang asing itu.

“Oh? Bukankah orang tuanya sedang berada di Jepang?” Tanya Sunny.

“Aku adalah umma biologisnya.”

.

.

.

Dua insan itu sedang duduk di bagian ruang tunggu tepat didepan ruangan rawat inap Kyungsoo. Sunny masih duduk diam dengan posisi tangan yang dia tumpuk diatas tasnya.

Dia menunggu suara orang asing yang mengaku sebagai umma Kyungsoo tersebut.

Sunny percaya. Mungkin saja dia tidak.

Dia baru saja bertemu dengan orang ini tapi dia juga tidak tahu bagaimana latar belakang keluarga Kyungsoo dengan jelas.

“Jadi begini..” Sunny langsung menoleh ketika orang itu mengeluarkan suaranya.

“..Kyungsoo adalah anakku. Adikku tidak bisa mempunyai anak karena sebuah kecelakaan yang menimpahnya selagi gadis. Jadi, aku mempercayai anakku untuknya.”

Tiba-tiba tangan Sunny digenggam oleh orang tersebut.

Sunny terkejut. Sebenarnya, dia mau mengibaskan tangannya agar terlepas dari genggaman orang tersebut. Namun, dia khawatir jika orang tersebut tidak melanjutkan ceritanya.

“Dia anakku yang sudah dijodohkan denganmu ketika sekolah dasar dan juga..” Wanita tersebut menatap kedua mata Sunny yang masih berlinang dan memerah.

“Kau kenal Minseok? Dia adalah adik dari Kyungsoo.”

Ntah mengapa dada Sunny terasa sesak. Dia menangis. Menangis dengan sangat. Bulir-bulir bening yang mengalir di pipinya itu jauh lebih deras dari pada hujan yang membasahi jalanan diluar sana.

Dia melepaskan tangannya lalu menghapus air matanya. Dia berusaha menahan tangisannya, dagunya berkerut karena menahan isakkannya.

“Sunny, kau tahu betul berapa lama Kyungsoo bsia bertahan. Jadi, aku mohon, sangat memohon. Bisakah kau mengkabulkan permintaan terakhirnya?”

Sunny bungkam. Ya, dia sayang Kyungsoo. Tapi bukan seperti ini.

“Aku mohon. Aku benar-benar memohonmu kali ini.” Wanita itu langsung memegang tangan Sunny dengan erat.

“Tapi—“

“Perlukah aku berlutut dihadapanmu?” Belum sempat mengelak. Wanita itu sudah turun dari duduknya dan berlutut di depan Sunny.

Ahjumma.

“Perlukah aku mencium kakimu? Aku mohon.” Kini wanita itu yang menangis. Perlahan dia menurunkan wajahnya.

Sunny menghelakan napasnya, “baiklah. Aku mau.”

.

.

.

Tiga hari kemudian

.

.

.

Seorang wanita mengetuk pintu kamar yang penuh dengan coretan yang terukir di atas kertas putih dan ditempelkan di pintu tersebut.

“Minseok.” Panggil wanita itu.

Tidak ada jawaban.

“Minseok.” Wanita itu mengetuk lagi dan tiba-tiba pintu itu terbuka.

Muncullah Minseok dengan keadaan yang sangat berantakan. Rambutnya berantakan, kantung mata muncul dibawah matanya. Dia seperti zombie.

“Ada apa, Taeyeon-ah?”

Wanita tersebut—Taeyeon langsung menutup hidungnya rapat. Bagaimana tidak? Bau yang tidak enak itu keluar dari mulut Minseok begitu saja.

“Cepat mandi! Kita pergi sebentar lagi.”

Mwo?

“Kita pergi! Sudah sana! Mandi!”

“Baiklah.” Minseokpun menutup pintu kamarnya lagi.

.

.

.

Bukannya segera membersihkan diri, Minseok malah duduk dipinggi kasurnya sambil menatap jendela dengan tatapan sayu. Dia menahan air yang sebentar lagi keluar dari habitatnya dan mengalir di pipinya yang agak mencekung itu.

Bagaimana tidak? Sudah tiga hari dia mengurung dirinya di kamar. Dia keluar ketika tengah malam layaknya tikus untuk mengambil roti gandum dan susu coklatnya.

Dia hampir gila. Dia hampir putus asa. Dia hampir mengakhiri hidupnya.

Mungkin mudah baginya jika dia loncat dari apartment-nya yang berada di lantai 10 ini.

Tapi, dia tidak mau menyusahkan orang lain.

Minseok cukup tahu diri ternyata.

.

.

.

Minseok keluar dari kamarnya dengan mantel tebal yang selalu dia kenakan itu. Dia menggunakan krim mukanya agar terlihat lebih baik.

“Kita mau kema—“ Ucapan Minseok terhenti ketika melihat seorang wanita yang tengah dia rindukan.

Sunny duduk tepat disebelah Taeyeon.

“Taeyeon..” Minseok memelas seakan-akan meminta penjelasan.

Taeyeon bangkit berdiri, begitupun Sunny yang berada disebelahnya.

“Tolong temani dia.” Minta Taeyeon.

Minseok mengerutkan dahinya lalu menghempasnya napasnya, “apa?” Tanya Minseok acuh tak acuh.

“Temani dia mencari gaun pengantin.”

Minseok tersentak lalu mengacak rambutnya frustasi. Mungkin mengakhiri hidupnya lebih baik. Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat.

.

.

.

Minseok dan Sunny duduk di bangku belakang taxi yang tengah berjalan dengan canggung. Keduanya sibuk dengan acara memandangnya ke luar jendela.

Minseok melirik sekali ke Sunny lalu tersenyum sekilas. Dia nampak sangat baik.

Dehaman keluar dari mulut Minseok, “kita mau kemana?”

“Aku sudah memberi alamatnya ke supir.” Jawab Sunny dengan cepat.

“Baiklah..” Minseok menggantungkan perkataanya lalu menoleh ke Sunny. “Kenapa tidak pergi dengan hyung-ku?” Pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja dari mulut Minseok.

Minseok memang bodoh. Dia tahu betul bahwa Kyungsoo masih kritis di rumah sakit. Tapi, emosinya juga tidak harus ditahan terus-menerus bukan?

“Dia masih belum baik.” Jawab Sunny seperlunya.

Minseok terkekeh, “ya, kau betul.”

.

.

.

Minseok duduk di sofa yang disediakan oleh toko bridal ini sambil membuka majalah yang ada dengan asal. Dia bahkan tidak melihat isi dari majalah itu. Dia sedang menunggu Sunny yang menukar bajunya menjadi gaun pengantin yang dipilih oleh dirinya sendiri.

Tiba-tiba tirai dimana Sunny menukar baju terbuka.

Minseok memerhatikan Sunny dari ujung sepatu tumitnya hingga ke ujung rambutnya.

Minseok terpesona.

Hatinya bergetar hebat. Otaknya bergumul dengan hatinya. Otaknya mengatakan, Sunny adalah milik Kyungsoo. Sedangkan hatinya mengatakan, jangan bohongi perasaanmu, Minseok.

“Ba-bagaimana?” Tanya Sunny gugup.

Minseok bangkir dari berdirinya lalu melangkahkan kakinya dua langkah lebih dekat.

Dia masih terpesona.

“Minseok?” Panggil Sunny. Diluar kendali otaknya, Sunny melemparkan senyumannya kepada Minseok.

Saat itu juga wajah Minseok bersemu merah. Hawa toko tersebut mendadak jadi panas.

“Bagus. Sangat bagus. Ya. Sempurna.” Itulah yang keluar dari mulut Minseok. Dia selalu gugup jika berada didepan Sunny.

“Tapi aku terlihat gendut.” Ucap Sunny sambil menoleh ke punggungnya.

Minseok menggeleng, “kau terlalu kurus, Sunny.”

“Serius?” Sunny berusaha meyakinkan dirinya.

Minseok tersenyum. Senyuman indah yang muncul itu mampu membuat Sunny melayang.

Kini, Sunnylah yang bersemu merah.

“Kau nampak sempurna. Aku serius.”

.

.

.

Lagi-lagi Minseok duduk di atas sofa tersebut. Kali ini dia duduk sambil melipat tangannya di depan dada sambil mengedarkan pandangannya ke gaun-gaun pengantin yang lain.

Mengapa aku yang menemani Sunny? Kenapa tidak Taeyeon?

“Minseok.” Panggilan Sunny itu menyudahi pikiran Minseok.

“Sudah selesai?” Tanya Minseok sambil bangkit berdiri.

“Iya, sekarang bisa temani aku ke toko cincin? Aku ingin mengambil cincin.”

Minseok diam. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia cemburu. Dia tidak bisa membohongi perasaannya.

“Maaf.” Hanya sepatah kata itu yang keluar dari mulut Minseok lalu berjalan menjauhi Sunny dan mendekati pintu keluar.

Sunny tidak menyerah. Ini waktu dan moment yang berharga baginya. Dia yakin dia tidak bisa pergi bersama Minseok lagi seperti ini.

“Minseok.” Panggil Sunny sambil berlari mengejarnya. Sunny menahan pintu yang masih terbuka yang baru saja dibuka oleh Minseok.

“Minseok!” Teriak Sunny sambil menahan lengan Minseok.

Situasi berbalik.

Dengan cepat, Minseok memutar tangannya dan menarik lengan Sunny lalu menyamakan posisi wajahnya dengan wajah Sunny. Sedetik kemudian, bibir mereka bertemu.

Mereka berciuman.

Minseok bisa merasakan lengket di permukaan bibirnya karena pelembab yang digunakan Sunny. Dia memejamkan matanya rapat, berusaha merekam saat-saat ini diotaknya dengan jelas.

Sedangkan Sunny melotot hingga matanya hampir keluar dari tempatnya. Namun, mata Sunny perlahan berubah. Menjadi tatapan kekhawatiran ketika melihat air mata mengalir dari mata Minseok.

Sunny memundurkan kepalanya, berusaha membuat jarak di antara mereka.

Namun Minseok menahan kepala belakang Sunny dengan tangan kirinya dan memegang tengkuk Sunny dengan tangan kanannya.

Ciuman tersebut berubah. Minseok sedikit menghisap bibir bawah Sunny hingga nampak merah.

Jauh lebih merah dari baju yang dia kenakan.

Sunny lemas. Dia tidak bisa menolak lagi. Dia senang. Hatinya bersorak.

Tak lama kemudian, Minseok melepaskan tautan mereka lalu tertunduk malu sambil menggaruk punggung lehernya.

“Maafkan aku. Aku adik ipar yang lancang bukan?”

Sunny diam.

Minseok melangkah mundur lalu menundukkan tubuhnya, “sekali lagi aku minta maaf.” Seusai ucapan itu selesai. Minseok berbalik hendak meninggalkan Sunny.

Namun, sebuah pelukkan mendarat di punggung Minseok.

“Jangan tinggalkan aku.” Sunny mengeratkan pelukkannya. Otomatis, Minseok memegang punggung tangan Sunny yang sedikit dingin itu.

“Aku mencintaimu, Minseok.”

.

.

.

TO BE CONTINUE

7 thoughts on “Wrecking Ball (Chapter 6)

  1. Annyeong thor^^
    maaf nih, dari part 1 aku nggak comment soalnya kuota habis. Jadi baru bisa comment di part ini. Maaf ya thor udah jadi siders

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s