Wrecking Ball (Chapter 5)

wreckingball

Wrecking Ball – Chapter 5

[wyfosh]

Main Cast : Minseok, Sunny, Kyungsoo, Taeyeon

Romance, Sad | All Rated

[Semua marga tidak diganti jadi jangan dipertanyakan]

“Dia..”Ucapan yang keluar dari mulut umma-nya Minseok itu tergentung begitu saja ketika melihat dua orang tergeletak di atas kasur rumah sakit ini dengan lemah dan wajah yang putih pucat.

Minseok yang masih duduk di kursinya tetap diam memerhatikan dan menunggu perkataan apa yang akan dilanjutkan oleh umma-nya.

Namun yang muncul bukanlah perkataan. Sebuah cairan bening mengalir dari mata kanannya. Dia menangis.

Minseok bangkit berdiri lalu menghampiri umma-nya, “Ada apa, umma?”

“Dia saudaramu.” Kata ummanya di dalam tangisannya sambil menunjuk seorang pria yang tengah berbaring lemas di atas kasur tersebut.

Dan Minseok hanya mengetahui namanya, Do Kyungsoo.

“Di-dia saudaramu, dia sepupumu. Dia anak dari adik umma, sayang.”  Perkataan yang keluar dari mulut umma-nya tersebut.

Minseok tercengang. Perlahan dia menggerakkan bola matanya ke arah Do Kyungsoo. Dia menelan saliva-nya dengan sulit. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya.

Dia saudaraku?

“Minseok, dia kenapa, nak?” Tanya umma-nya.

Minseok menggeleng, “Aku tidak tahu.” Setelah jawaban Minseok yang keluar dari kerongkongan keringnya itu, umma-nya berjalan ke arah Kyungsoo yang masih terbaring lemas tak berdaya dengan bibirnya yang berwarna putih dan nampak kering.

Bulir-bulir bening muncul dari pelupuk matanya, perlahan bulir=bulir tersebut mengalir lancar di pipi yang sudah mulai mengendur itu.

Umma?” Panggil Minseok.

Tidak ada jawaban.

Yang muncul hanyalah isakkan kecil yang keluar dari mulut umma-nya.

“Kyungsoo-ah.”

.

.

.

Minseok dan umma-nya sedang duduk di café kecil yang berada di lantai dasar rumah sakit ini. Ada lebih dari ribuan pertanyaan yang berlari di benak Minseok. Sedangkan umma-nya hanya duduk diam dengan ketenangan sembari menatap secangkir kopi yang berada dihadapannya.

Umma.” Ini sudah lebih dari ketiga kalianya Minseok memanggil umma-nya dan tidak membuahkan respon apapun.

Umma, kau kenapa?” Tanya ulang Minseok.

Masih tidak ada jawaban. Minseokpun geram. Dia tak sabar kemudian bangkit dari duduknya dan hendak meninggali umma-nya sendirian.

Tiba-tiba tangannya tertahan oleh umma-nya. Minseok menoleh ke sepasang mata itu. Tatapan yang dia tatap itu benar-benar berbeda dengan biasanya.

“Kau mau kemana?” Pertanyaan simple itu sangat mengguncangkan tubuh Minseok. Nada dingin yang kelaur dari kerongkongan umma-nya menusuk ke dalam pendengarannya.

“Me-melihat temanku.” Jawab Minseok dengan gugup. Umma-nya benar-benar berbeda.

Tiba-tiba umma-nya menghempaskan tangan Minseok begitu saja kemudian bangkit berdiri dari duduknya dan menatap mata Minseok dengan dalam.

“Ada apa? Kenapa?” Tanya Minseok.

“Siapa yang kau lihat? Lee Sunny atau Do Kyungsoo, hah?!” Bentak umma-nya tepat di depan wajah Minseok.

Minseok terbelalak. Mengapa semuanya bisa seperti ini?

“Jawab aku!” Pinta sang umma.

Minseok tertunduk diam. Tidak memberi respon. Rasa dingin menyelimuti punggung lehernya, rasa malu, rasa marah, rasa jengkel. Bulu kuduknya berdiri, dia bisa merasakan banyak tatapan yang memerhatikan mereka.

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Minseok. Rambut Minseok berantakan, pipi kanannya merah menggambarkan sebuah telapak tangan kecil dari umma­-nya sendiri, darah daging yang sama.

“Jawab aku!” Ucap umma-nya dengan geram.

Minseok mendongakkan kepalanya, menatap mata umma-nya dengan dalam, “apakah itu urusanmu?” Pertanyaan enteng yang keluar dari mulut Minseok itu memancing amarah umma-nya.

PLAK!

Tamparanpun menyusul di pipi kiri Minseok.

“Kurang ajar!” Bentakkanpun menyusul.

Minseok membuang nafasnya kasar, “apa salahku?!”

“Kau salah mencintai orang, Minseok!”

“Minseok! Ahjumma!” Terdengar suara Taeyeon diujung sana. Keduanya—umma Minseok dan Minseok menoleh ke asal suara tersebut.

Minseok melihat Taeyeon sekilas lalu melihat ke umma-nya kembali.

“Tak heran mengapa selama ini kau memaksaku untuk bersama Taeyeon.”

Minseokpun berlalu, berjalan ke arah Taeyeon lalu menarik lengan kanan gadis itu pergi dan berlalu dari café kecil tersebut.

.

.

.

Minseok dan Taeyeon duduk di atas bangku panjang yang berada di taman belakang rumah sakit ini. Minseok hanya duduk diam sambil memerhatikan sebuah pohon besar. Sedangkan Taeyeon mengiuti arah mata Minseok.

Sebenarnya Taeyeon mau saja menanyakan bagaimana keadaan Minseok, teman semasa kecilnya itu.

Tapi, Taeyeon tidak mau menjadi manusia yang memakai topeng.

Ya, Taeyeon sudah mengetahui semuanya dan ia rasa, ini adalah saat Minseok mengetahui semuanya juga.

“Minseok.” Panggil Taeyeon.

Minseok tidak merespon. Dia tetap focus kepada pohon besar yang ada dihadapannya.

Taeyeon membuka tasnya kemudian tangannya mengeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam tasnya. Dia membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya.

Foto-foto Minseok dengan Sunny.

Di taman, di café, dan ketika Sunny bersama Kyungsoo di rumah Kyungsoo.

“Lihatlah.” Perintah Taeyeon sambil memberikan foto-foto tersebut.

Minseok melirik sekilas ke foto-foto tersebut. Matanya berlinang. Yang bisa dia lihat hanya foto-foto yang diambil secara diam-diam. Mengapa umma-nya tega melakukan ini?

“Kyungsoo dan Sunny sudah dijodohkan dari mereka kecil, saat masih sekolah dasar.” Penjelasan Taeyeon itu masuk begitu saja ke pendengaran Minseok.

“Sebenarnya kita juga dijodohkan,” Taeyeon menggantungkan perkataanya hingga Minseok menatapnya, “tapi, aku sudah mempunyai kekasih. Jadi, perjodohan kita dibatalkan.” Lanjutnya.

“Kyungsoo sedang sekarat sekarang. Dia mengidap kanker darah stadium akhir.” Minseok menoleh ke Taeyeon lagi. Matanya sudah benar-benar merah dan dipenuhi dengan air matanya.

“Kyungsoo itu sebenarnya kakamu, dia diberikan ke adik dari umma-mu karena dia tidak bisa mempunyai anak. Jadi, kau paham mengapa umma-mu benar-benar membela Kyungsoo saat ini?”

Minseok tersentak. Air mata yang dia tahan akhirnya terjatuh. Dia mendongakkan kepalanya, menatap awan-awan yang sedang bergerak pelan karena ditiup angin.

Yang dia inginkan adalah air mata dia masuk lagi tapi air matanya malah mengalir dengan lancar dari ujung matanya.

“Minseok, aku harap kau bisa memahami situasi sekarang.”

“Aku tidak mencintai Sunny.” Minseok akhirnya membuka suaranya. Dia menghapus air matanya yang mengalir di pipinya.

“Aku hanya menyukainya. Aoakah aku salah?” Lanjut Minseok.

Taeyeon tercengang, dia tidak pernah melihat Minseok serapuh ini.

“Haruskah aku mengalah?” Tanya Minseok.

Taeyeon bungkam. Dia tidak tahu harus menjawab apa sekarang.

“Kau tidak perlu membayangkan menjadi diriku. Aku tahu bahwa kau tidak akan kuat, Taeyeon-ah.”

Mianhae.”

“Untuk apa meminta maaf? Kau tidak salah. Tidak ada yang salah kali ini.”

“Minseok..”

“Aku harus mengerti, Taeyeon-ah.” Minseok tersenyum parau.

“Tapi, Minseok..”

“Aku duluan.” Minseokpun pamit. Dia berjalan dengan foto-foto tadi ditangannya sambil berjalan memasuki gedung rumah sakit lagi.

.

.

.

Sunny bangun dari tidurnya. Dia mengedarkan pandangannya. Dia memejamkan matanya, berusaha mengingat apa yang terjadi. Namun, yang dia ingat hanyalah paras Minseok yang memasuki kamar Kyungsoo.

Sunny mengerutkan dahinya, “Minseok ada disini.”

Dia mengedarkan pandangannya sekali lagi. Berusaha menermui sosok Minseok di ruangan ini.

Bukan Minseok yang dia tangkap malah sosok Kyungsoo yang masih terbaring lemas.

Sunny bangkit dari kasurnya lalu berjalan dan duduk di bangku tepat disebelah Kyungsoo. Dia memegang tangan Kyungsoo, memberikan kehangatan kepada Kyungsoo.

Setidaknya, Sunny memiliki tenaga lebih melewati infuse tadi.

“Kyungsoo-ah.” Panggil Sunny.

Saat itu juga tangan Kyungsoo bergerak.

“Kyungsoo?” Sunny melebarkan kedua matanya ketika melihat jemari Kyungsoo mulai bergerak.

“Sunny..” Bisikkan yang keluar dari mulut Kyungsoo itu semakin meyakinkan diri Sunny bahwa Kyungsoo benar-benar sudah sadar.

Sunny baru saja berjalan dan berusaha meraih tombol gawat darurat agar dokter dan suster masuk untuk memeriksa keadaan Kyungsoo.

Namun, tangannya tertahan.

Kyungsoo mengerjapkan matanya berkali-kali, dia berusaha mengeluarkan suaranya lagi.

“Sunny.. Menikahlah denganku.”

.

.

.

TO BE CONTINUE

3 thoughts on “Wrecking Ball (Chapter 5)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s