[Freelance] Touch Love (Chapter 3)

Untitled-1

Title

TOUCH LOVE

Author

DeliaAnisa

Genre

Drama, family, romance, and little sad

Length

Multichapter

Rating

PG-15

Main Cast

Kim Taeyeon and Byun Baekhyun

Other Cast

Yoon SoHee, Oh Sehun, Kyung Soo, Xiu Luhan, etc

Disclaimer

Ini FF hasil dan murni dari imjinasi saya, maaf jika ada kesamaan dan tentunya itu tidak disengaja, and don’t plagiat.

Author Note

Sekedar ocehan yang gk penting >.< aku termasuk penggila mellow drama, jadi kayanya ini ff nyimpangnya kesitu, dan pastinya ini ff gk ada unsur comedynya sama sekali karena aku emang gk bisa berhumor xD.. jadi harap pengertiannya yahh 😀

 

HAPPY READING AND ENJOY okk ^^

 

 

 

 

Taeyeon segera mengambil mantel dan mulai beranjak keluar dari kamarnya, dia menuruni anak tangga dengan mengendap-endap, berusaha untuk tidak membangunkan sang ibu yang dilihatnya tengah terbaring disofa dengan lelap, mata taeyeon berubah menjadi sendu, ia tidak tau siapa yang salah? Dia bersikeras jika dia bukanlah seseorang yang kejam terhadap ibunya, dia sama seperti anak yang lain, sebagaimana layaknya seorang anak yang menyayangi ibunya, namun bedanya. Mereka tidak pernah saling mengerti.

Taeyeon sudah keluar dari rumahnya, ia membuka pagar dengan sangat pelan tanpa ingin mengeluarkan suara decitan sedikitpun.  

Tujuan pertama taeyeon kemari adalah karena ia memang penasaran, kenapa bocah itu berada kembali didepan rumahnya apalagi dengan berbaring ditanah. Sangat menjijikan pikirnya.

Ia segera mendekati luhan dengan langkah kaki yang tenang, menatap bocah itu dengan pandangan menyelidik seperti halnya yang dilakukan ia sejak luhan meminta makanan sore tadi. Taeyeon terkejut, ia segera membekap mulutnya sendiri tanpa sadar, wajah luhan sedikit membiru, lebam kah? dan disela-sela bibirnya mengeluarkan cairan amis, darah mungkin?. Taeyeon mundur, karena ia terlalu terkejut dan takut, apakah bocah ini mati?.. hanya itu yang mulai mengembung dikepalanya. Taeyeon terlihat seperti wanita pemberani, namun nyatanya ia begitu sangat penakut, ia memang benci dengan darah. Badannya bergetar dan perlahan ia berbalik hendak meninggalkan sosok luhan yang semula ia tatap….

 

Hening..

 

 

“eomma andwae.”

Suara lirihan dibelakangnya, membuat ia terpaku ditempatnya, ia mencoba menghembuskan nafasnya dan kembali berbalik… luhan belum mati?

Taeyeon berjalan cepat menuju tempat dimana luhan terkapar lemah ditanah, ia mulai mengkhawatirkan seorang xiu luhan yang baru saja ia kenal. Lucu sekali memang, namun belum sampai ia menggubris tubuh luhan, ia lebih dulu menginjak beberapa daging, matanya lebih memfokuskan untuk memastikan apakah benar itu daging miliknya yang sejak tadi ia berikan pada luhan? Karena cahaya disekitar rumahnya memang remang-remang membuat pandangannya kabut, tapi dengan kesigapan matanya ia mulai yakin, itu memang daging miliknya, tapi kenapa bisa berada ditanah seperti ini? Siapa yang tega membuang daging sebanyak dan semahal ini? Itu sungguh keterlaluan.

.

.

.

Baekhyun terlihat gelisah diambang pintu, sesekali ia mengecek arlojinya-23 KST-, tak henti-hentinya ia berlagak kesana-kemari, tak lupa bibir bawah berwarna cherrynya ia gigit, ia sedang dalam keadaan khawatir dan gelisah. Sudah cukup ia kehilangan seseorang yang seminggu lalu nyawanya menghilang bak ditelan bumi tiba-tiba, sekarang haruskah ia kehilangan seseorang yang sangat berarti untuknya lagi, sehun? Adiknya, kemana ia sekarang? Sudah terlalu dalam luka yang tampak dihati seorang byun baekhyun. Apakah harus ia kembali meneguk kepahitannya sendiri?

Ekor matanya tiba-tiba saja melirik rumah yoon sohee, dadanya kembali terketuk. ia tak ingin terlihat seperti pria yang lemah, karena ia sudah berjanji dengan apa yang akan ia lakukan nantinya, dia tidak ingin mati karena yoon sohee, jika suatu saat ia melanggar janjinya sendiri, itu tandanya baekhyun pecundang karena kalah dengan tangisnya sendiri, ia memutar bola matanya, tak ingin masa lalunya kembali terusik dan tak ingin juga ia mencari-cari sebuah kenangan manis atau pun pahit bersama yoon sohee, itu berarti baekhyun sudah larut  melupakan yoon sohee dirongga otaknya.

Baekhyun tidak lelah hanya saja ia harus berkelahi dengan rasa kantuknya. Sekuat-kuat matanya bertahan dalam terbuka, toh baekhyun bukanlah manusia yang menderita insomnia, ia normal dan bisa menutup matanya kapan saja saat rasa kantuknya mendera. Dan benar saja, baekhyun kalah dalam perangnya, ia tertidur tepat dikursi kayu depan rumahnya dengan kaki disilangkan dan tangan yang ia lipat sendiri didadanya.

Kringgg….

Suara telepon berdering nyaring dan membuat baekhyun menegang karena terkejut, ia tertidur? Kenapa bisa? Dengan sangat cepat ia sudah mengumpulkan nyawanya kembali dan bingung kenapa bisa ia tertidur disaat ia sedang dalam keadaan menunggu adiknya, sungguh dia berpikir sudah menjadi kakak yang buruk saat ini..

Baekhyun berlari cepat untuk segera mengangkat telepon yang sukses membangunkannya..

“yeobseo?”

“apa ini keluarga byun?”

“ne..”

“ini dari kantor pusat kepolisian diseoul. byun sehun, terlibat sebuah perkelahian ditaman kota siang tadi ia memukuli 4 temannya, dan saya harap anda segera datang kemari secepatnya….

Baekhyun terdiam, mulut dan matanya terbuka bersamaan. Ia menghiraukan suara diseberang sana dan memilih untuk membiarkan telepon itu lepas digenggamannya setelah ia mendengar sehun terlibat perkelahian.. lututnya sangatlah sulit untuk bisa menopang dirinya sendiri, begitu lemah kah dirinya? Baekhyun akui ia tidak bisa menjadi pria terkuat dimuka bumi ini, ini sangatlah menyakitkan dan menyulitkan dirinya untuk menemukan sebuah kata bahagia untuk dirinya. Sehun bocah ingusan berumur 10 tahun terlibat perkelahian? Bocah periang,lugu, dan polos memukuli teman-temannya? Bagaimana mungkin?… baekhyun baru saja menerapkan kata untuk tidak menjadi lemah, tapi apa daya dia memang masih terbilang muda jika diakui menjadi pria kuat.

 

*police office, seoul.

“apa yang sebenarnya terjadi?”. Ucap baekhyun dengan bibir bergetar dihadapan sang polisi yang sedang menatapnya heran.

“kau siapa? Dimana orang tuanya?”. tanya polisi itu tegas dengan mata yang melirik kesana-kemari, kata ‘orang tua’ seperti petir dari atas sana menyambar kepermukaan dalam hatinya, sangat mengenaskan..

Baekhyun tertunduk semula, tapi pada akhirnya ia mencoba mantap menatap kepala polisi yang tampak menyeramkan itu. Ia benci dengan kantor polisi sekarang.

“aku kakaknya, mereka sedang diluar seoul. Kuharap ahjussi tidak akan menghubungi mereka, kupikir itu akan membuat keadaan menjadi sangat sulit.” Baekhyun mencoba untuk tetap tenang, dan ketegangan sekarang sedang berperang dengannya lagi.

“saat kembalinya mereka keseoul aku akan menghubungi mereka, masalah ini sangatlah serius, tentunya kau masih terlalu muda untuk mengurusi adikmu yang terkena masalah kenakalan remaja sekarang, anak remaja sepertimu tidak bisa bertanggung jawab akan hal ini, tapi ini dalam masalah orang tua.” Tegas kepala polisi sekali lagi, matanya yang mengintimidasi membuat tangan yang berada didalam saku mantelnya bergetar. Baekhyun kembali takut akan kata ‘orang tua’ yang berulang kali diucapkan sang polisi.

“bba..bbaiklahh, tapi dimana adikku sekarang? Dan ahjussi masih belum mengatakan penjelasan tentang kejadiannya,” kata baekhyun dengan nada yang diucapkannya terbata-bata, seakan bibirnya tidak menuntut ia untuk mengiyakkan apa yang baru saja ia katakan diawal kalimat.

“byun sehun, menurut korban pemukulannya sehun memukuli mereka tanpa alasan yang jelas, keempat temannya kini tengah menjalani perawatan dirumah sakit, meskipun luka mereka tidak terlalu mengkhawatirkan, tapi anak ini memang harus ditangani dengan serius, bagaimana jika dia mengulangi perbuatannya kembali? Dan satu hal apakah adikmu itu tidak normal?”

Degg… tunggu, sehun tidak normal? Baekhyun menggeleng kepalanya cepat, dengan kepiluan dihatinya. Mungkin penuturan kepala polisi menjurus penghinaan adiknya, dia benci itu.

.

.

.

“kau sungguh berat.” Keluh taeyeon disaat ia tengah menggendong luhan dipundaknya, ia tak ingin seseorang mati didepan rumahnya dengan darah segar mengalir disekujur tubuhnya, itu mengerikan sekali. Jadi taeyeon memutuskan untuk membawa luhan kehalaman rumahnya, tentu saja alasan kuat kenapa ia tidak membawa luhan kekamarnya adalah karena sang ibu, ibunya sangat tidak menyukai orang asing dan mungkin saja luhan bisa ditendang jauh-jauh oleh ibunya. Fiuhh, lagi-lagi taeyeon hanya bisa menghela nafasnya dan keringat sudah muncul dipelipisnya. Untung saja jarak kehalaman rumahnya tidaklah sejauh kedalam kamarnya.

Taeyeon menidurkan terlebih dahulu luhan dikursi kayu tamannya, ia tidak tau apa yang akan ia lakukan sekarang, sebelumnya taeyeon sudah mengetuk rumah luhan berkali-kali, namun hasilnya nihil, tidak ada jawaban maupun sahutan dari si pemilik rumah, taeyeon benar-benar frustasi dengan hal ini, lucu sekali jika ia membangun sebuah tenda dihalaman rumahnya sekarang.

“ahh, membuat tenda tidaklah bodoh.”

Dan benar saja, taeyeon membangun sebuah tenda disana, ukurannya cukuplah luas untuk ukuran dirinya dan luhan, ia bisa dengan leluasa mengobati luka luhan. Taeyeon memang manis, ia menggendong luhan dan membuat tenda dengan alasan tak ingin seorang luhan mati kedinginan, ia juga dengan telaten mengobati luka luhan dengan obat merah lalu diperban, luhan masih belum membuka matanya. Tidak tau apa yang akan terjadi jika luhan tau, bahwa seorang taeyeonlah yang menolong dirinya. Sungguh tak disangka mungkin. Taeyeon lega, luka luhan sudah berhasil ia obati, meskipun ia tak yakin apakah luka itu akan berbekas atau tidak. Taeyeon terlalu kantuk dan lelah dan tanpa ia mau, ia tertidur disana bersama luhan disebuah tenda dihalaman rumahnya.

.

.

.

“adikku masih normal, dia masih bisa berhitung dan menulis. Dia juga dapat melakukan apa yang justru anak-anak lain tidak bisa, dia bisa bermain piano dan bernyanyi, dia slalu dapat melakukannya sendiri. Tidak ada yang mengajarinya, dia bisa karena ia memang special dimata Tuhan, jadi kumohon perkataan anda sangatlah tidak sesuai dengan keadaannya yang nyata.” Matanya memanas bersamaan dengan nafasnya yang memburu. Kepala polisi tampak bodoh sekarang, ia hanya menatap baekhyun dengan tatapan sulit diartikan.

Kepala polisi itu menggaruk tengkuknya, merasa bersalah mungkin.

“ehemm,

Ia berdehem, berpikir untuk mengganti topic lain..

“ia sedang dikedai makanan, dia bilang ia lapar jadi kami mengantarnya untuk makan disana…

“alasan apa yang membuat bapak mengira jika adikku tidaklah normal?”. Potong baekhyun sembari menatap intens manik mata sang polisi, ia masih penasaran.

“karena dia tidak bisa menjawab semua pertanyaanku, ucapannya slalu ia alihkan dengan makanan, dan yang ia jawab hanyalah ramyeon dan lapar. Jadi kukira dia tidaklah normal.”

Ramyeon? Setaunya sehun tidak suka dengan ramyeon, lalu kenapa tingkahnya menjadi berubah seperti ini? Otaknya sekarang sangatlah lambat, ia sedang menerka-nerka kenapa sehun menjadi seperti ini, lalu tentang ramyeon itu, kenapa tiba-tiba sehun menyukainya?.. sehun berubah menjadi aneh, sehun tidaklah tipe yang senang diam, bila orang bertanya ia akan cerianya menjawab. Beberapa kali baekhyun mengerutkan keningnya, apa yang sebenarnya telah terjadi pada anak itu?

“a..apakah adikku bisa pulang kerumah?”

“tidak, sebelum adikmu bisa menjawab semua pertanyaanku dan juga sebelum orang tuamu kemari, tenang saja adikmu tidak akan kami tahan, karena usianya tidak memadai, lebih tepatnya ia masih dibawah umur, kami akan membawanya keruangan khusus. Ia akan baik-baik saja disini.”

.

.

.

Baekhyun mengeratkan mantelnya, mulutnya beruap. Ia berjalan tanpa tujuan. Ia hanya menatap orang yang berlalu lalang. Tatapannya sungguh kosong tak ada tanda-tanda kebahagiaan disana. Semua insan didepannya menyebrang tatkala tanda hijau menyala, namun ia enggan sekali untuk maju, tak ada niat untuk membelah jalan didepannya. Kesepiaan melanda dirinya, ia menutup matanya, jangan lupakan ia dalam keadaan berdiri tegap. Ia berhalusinasi jika didunia ini hanyalah dia sendiri, yang ia inginkan sekarang adalah sebuah ketenangan.

.

.

.

Angin berhembus begitu dinginnya, membuat luhan menyadari akan hembusan itu, disampingnya terdapat celah yang cukup besar, membuat banyak kumpulan angin masuk. Mulanya ia masih terjaga, namun semakin kencang angin  yang berhembus membuat tidurnya terusik, mimpi indah sirna begitu saja dilahap angin. Matanya terbuka, tapi kenapa lukanya tidak seperih tadi? Lalu kenapa bukan atap langit yang ditatapnya sekarang, ia mencoba menolehkan kepalanya kesamping, dan membuat ia membulatkan matanya sempurna, tatapan itu begitu sangat polos, detik kemudian ia tersenyum menatap taeyeon yang tengah terlelap pulas disampingnya. Pasti ini mimpi, ia terus bersikeras bahwa pemandangan indah didepannya itu adalah sebuah mimpi indah. Badannya ia arahkan kesamping, sengaja agar ia bisa berhadapan dengan taeyeon, jarak keduanya terpaut beberapa cm saja. Tak henti-hentinya ia menatap wajah cantik taeyeon, kapan lagi ia akan bermimpi indah seperti ini lagi??

.

.

.

Sehun tidak ingin bertemu denganku, ini aneh…

Sinar terik diatas sana membuat mata baekhyun berkunang-kunang, ia membuka matanya. Ini sudah pagi? Berapa lama ia berdiri disana dengan kedua mata yang tertutup. Baekhyun tidak mempermasalahkan hal itu, ia menatap arlojinya -07 KST-, itu tandanya ia terlambat sekolah. Dengan langkah cepat ia berlari untuk sampai kerumahnya.

Dia sudah mendapatkan knop pintunya, ia terhenti sebelum ia membukanya. Ia kembali teringat dengan sehun, sedang apa dia disana? Apakah tidurnya menyenangkan? Apakah sehun merindukan piano dan sekolah? Makanan apa yang akan ia makan disana? Dan yang membuat hatinya pilu. Kenapa sehun tidak ingin bertemu dengannya?.. clakkk.. air mata itu akhirnya jatuh setelah sekian kali ia tahan. Lutut baekhyun menyentuh lantai yang dingin, ia masih belum membuka pintu itu. Bayangan sehun membuatnya melupakan sesuatu, bahkan pintu itu sekalipun..

 

Ia menangis dalam diam, ini kedua kalinya ia seperti ini..

Ia sudah bukan baekhyun yang bahagia beberapa tahun lalu, kini perasaannya tidak dapat ia bagi pada siapapun, hanya dirinya sendirilah yang merasakan penderitaannya..

.

Ia rindu ibunya..

Ia rindu ayahnya..

Ia rindu adiknya..

Terakhir, ia rindu pada sosok yoon sohee yang biasanya slalu menjadi teman curahannya..

.

.

“kemarin kakakmu datang kemari.” Ucap kepala polisi dengan tag name ‘park jungsu’. Pria kecil itu melirik sekilas kearah jungsu, namun ia kembali menundukkan kepalanya, menatap lantai diarea ruangan yang asing untuknya.

“jawablah kali ini pertanyaanku, kenapa kau tidak ingin bicara? Lalu tentang kakakmu, kenapa kau tidak ingin bertemu dengannya saat itu?” Tanya jungsu dengan sedikit meninggikan nada volemanya, resah atas sikap sehun.

“di..dia.. bukan kakakku..

.

.

.

.

Sebelumnya aku belum memperkanalkan diri, hhe kelupaan XD.. Okk.. aku anisa, 99line.. kalau bisa kalian panggil aku chingu aja yahh, biar gak terlalu formal.. *bow…ada yang dari tasikmalaya? *numpangtanya*.. dan kalau kalian ingin tanya-tanya tentang ini ff  kalian bisa add aku difacabook ‘delia soneexotic kpopers’.. 😀

Chapter selanjutnya mungkin special flashback nya sehun, jadi dichap selanjutnya kita bisa tau kenapa sehun berubah seperti itu?

Harap komennya yahh ^^ dan saran dibutuhkan 😄

Advertisements

15 thoughts on “[Freelance] Touch Love (Chapter 3)

  1. Lucu chingu ceritanya, makin seru. Ah aku gatau itu sehun kenapa bisa gitu. Cepet lanjutin dong ㅋㅋ. Kita line-nya sama loh! C;

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s