[Freelance] Under The Moonlight (Chapter 1)

UNDER THE MOONLIGHT POSTEREDITED, Maaf ada kesalahan admin, fanfic ini dalam B. Indonesia

UNDER THE MOONLIGHT

 

Author

Shin Hyun Gi

Main Cast

Kim Taeyeon || Oh Sehun

Other Cast

Do Kyungsoo || Jung Ilwoo || Kim Jongin || etc

Genre

Romance || Fantasy || Mystery || etc

Rating

T/PG-15

Length

Twoshot

Disclaimer

Inspired by Remus Lupin’s life in “Harry Potter and The Prisoner of Azkaban” that written by my favorite author ever, J.K.Rowling. All the casts here belong to their parents and God, because I owned the storyline only. If there are some similarities with the other fanfictions, that can be an incident.

Author’s Note

This is my first fantasy fanfiction, Guys! So that’s why, I’m not really sure this story could entertain you well—or not. But I really hope that you can enjoy it and give me your opinion, okay 🙂

 

Summary

Sebuah kisah yang bermula dari kutukan dan kepercayaan masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adatnya—bahkan jikalaupun adat tersebut akan membahayakan jiwa seseorang yang tidak bersalah.

——————–

Love is exist for the one who believes on it. It doesn’t matter that you’re a pure human—or not.

——————–

“Awalnya aku tak percaya dengan segala hal yang berbau takhayul—omong kosong idiot itu, yang membicarakan tentang keberadaan manusia serigala yang jelas tidak nyata, kau tahu. Bagaimana denganmu?” 

——————–

“Di dalam mitologi Yunani kuno, disebutkan bahwa Raja Arcandia yang bernama Lycaon telah berubah menjadi manusia serigala akibat dikutuk oleh Zeus, dewa tertinggi di dalam kepercayaan kami. Dikarenakan ia, Lycaon, dengan tololnya mengorbankan puteranya sendiri untuk dipersembahkan kepada Zeus kemudian menyajikannya dalam bentuk daging yang benar-benar mentah.”

——————–

Sunyi. Malam itu benar-benar sunyi jika kita dapat mengatakannya seperti itu; angin berderik pelan seakan kehilangan kandungan oksigen di dalamnya, dan cahaya yang menerangi, hanya ada satu-satunya harapan yang dapat sedikit membuat suasana malam itu menjadi lebih cerah, yaitu dengan hadirnya sebuah benda bulat raksasa yang menyembul di kaki langit dengan cahaya pucatnya yang keemasan, sesuatu yang kita sebut pula dengan ‘bulan’.

Awan-awan gelap berarak di atas sana, membuka sedikit demi sedikit jaraknya kepada bulan purnama yang sejak lewat tengah malam tadi sempat tertutupi oleh kandungan uap air tersebut.

Perlahan, setelah beberapa menit berlalu—dan angin seolah masih enggan berembus dengan cara lebih baik dan lebih estetis, bulan pun telah mencapai tingkat kebulatannya yang paling sempurna. Malam itu, di hari kelima belas dari bulan September yang dingin, benda langit yang paling agung tersebut telah menunjukkan dan memancarkan kekuatannya.

Bulan purnama telah muncul; dan hal itu bukanlah sebuah pertanda baik bagi siapa pun.

Sebuah kekuatan besar telah bangkit.

Seluruh kutukan kembali menjadi menyata, menyerang setiap makhluk keturunan para dewa bawahan yang terhina.

Dan tepat di saat itu pulalah, sebuah suara dengkingan menguar dari balik pepohonan yang tumbuh dengan beringas di sudut terdalam dari Korea Selatan—yang pada saat ini, justru telah dianggap sebagai salah satu negara paling berkuasa di Asia dengan seluruh kecanggihan yang dimilikinya.

Tetapi, berhati-hatilah dengan apa yang selama ini tidak kaulihat dan ketahui. Karena bisa jadi, segala sesuatu yang kauanggap tidak nyata justru sedang bersiap menerkam punggungmu dari belakang. Segala hal yang semu bisa jadi nyata—dan segala yang nyata, bisa jadi akan segera menjelma menjadi sesuatu yang semu.

Ketika sinar bulan purnama kembali menerobos sudut bumi yang kering, maka di sanalah kau harus segera bersiap menghadapi kemungkinan terburuknya.

Makhluk itu telah kembali.

——————–

Seorang gadis mendadak terbangun dari tidur pulasnya. Kedua bola matanya melebar dan bergerak mengerjap, menatap waspada seluruh sudut dinding kamarnya ke sana ke mari. Kesepuluh jemarinya menggenggam erat selimut tebalnya yang panjang, buku-buku jarinya sudah memutih ketakutan; firasatnya mengatakan ada sesuatu yang aneh di sini. Dan seketika, kilatan bayangan-bayangan mimpi mengerikan itu pun kembali merasuki kepalanya.

Angin yang berderik pelan seolah kehilangan kesejukannya, kayu-kayu yang berderak patah seolah diinjak kasar, suasana malam yang mencekam, hutan dengan pepohonan luar biasa tinggi, hal-hal aneh seperti itu terus berkelebat di dalam pikirannya—yang bahkan secara langsung atau tidak langsung pun tak dapat dicerna oleh akal sehatnya sendiri. Namun, lebih daripada hal itu, ada satu hal yang rasa-rasanya jauh mengerikan dibandingkan gambaran mimpi buruk aneh yang menghampirinya tersebut; ia dapat mencium bau anyir sesuatu yang ia rasa seperti darah dari dalam sana, dari dalam mimpinya.

Gadis itu mulai merasakan ada sesuatu yang dingin menjalari nadinya. Sekejap, jantungnya terasa seolah mulai berhenti bekerja, darahnya tak lagi berdesir normal—namun selanjutnya, hal lain tersebut kembali melemparkannya ke dalam sensasi aneh yang membuatnya menjadi merasa terkesan seperti seseorang yang kelaparan; ia merasa seakan haus darah dan ingin menghabiskan potongan demi potongan daging mentah sebanyak-banyaknya.

Tetapi tidak mungkin—gadis itu menggelengkan kepalanya cepat-cepat. Di saat yang bersamaan, surai rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai tak beraturan bergoyang pelan ditiup angin, tubuhnya langsung menggigil ketakutan. Bibir gadis itu bergetar hebat, kendati ia terus berusaha untuk menggigitnya kuat-kuat hingga nyaris berdarah. Ini benar-benar aneh, pikirnya.

Ia merasa sedang dihubungkan oleh sesuatu yang mencekam namun tidak tampak.

Tetapi apa itu? Gadis itu menggeleng lagi. Ia tidak tahu sama sekali.

Otaknya membungkam untuk membuka jalur pikirannya. Seluruh syaraf-syarafnya terasa berhenti bergerak menyampaikan seluruh rangsangan-rangsangan pemikiran dan argumennya yang dari tadi terus berpusar hebat di dalam hatinya.

Ia memutar bola matanya kebingungan dan menatap pasrah dinding kamarnya kembali.

Namun, belum sempat gadis itu menguasai diri dengan kesadarannya yang sepenuhnya, potongan kayu tua penutup jendela kamar rumah sewanya mendadak terbuka cepat dengan seberkas embusan angin yang langsung menerobos masuk dari luar ke dalam ruangan. Gadis itu bergidik ngeri, tetapi ia jauh lebih tidak berani lagi untuk menutup rapat-rapat kedua kelopak matanya—segala kemungkinan buruk bisa saja terjadi.

Kedua manik matanya yang cokelat terang lalu bergerak pelan berpendar menatap seluruh bagian luar dari rumahnya yang dapat dijangkaunya, keadaan di luar benar-benar sepi, hingga tiba-tiba saja—tanpa pernah ia duga sebelumnya—sesosok siluet besar seseorang, jika masih dapat disebut sebagai ‘seseorang’, melintas cepat mengitari jalanan pedesaan.

Ia berbulu lebat dengan kedua mata yang merah terang; seperti warna buah apel matang yang disirami oleh cahaya matahari namun dengan kilauan yang mencekam. Sosok itu mengeluarkan dengkingannya lagi dari luar sana, membunyikan suara-suara aneh yang terdengar lebih seperti anjing dibandingkan dengkingan manusia biasa.

Spontan, kedua bola mata milik gadis itu mendadak mengerjap lalu terbelalak lebar lagi, namun kali ini dengan kilatan penuh rasa tak percaya. Sistem alam sadarnya baru saja menyadarkannya akan sesuatu yang tak pernah dipercayainya selama ini; bahwa sosok itu, sudah pasti merupakan makhluk pembunuh yang selama ini diceritakan oleh para warga sekitar kepadanya.

Ia—sang manusia serigala.

Hal itu ternyata bukan takhayul sama sekali. Segala hal yang dikiranya tak nyata kini telah menampakkan diri secara sesungguhnya. Dan sekarang, di tengah rasa ketakutan mencekam yang menusuk dadanya, gadis itu—Kim Taeyeon—meringkuk lemah di balik ranjangnya sembari menarik selimutnya rapat-rapat. Ada yang aneh dengan dirinya belakangan ini. Dan sekarang, lebih anehnya lagi, ia bahkan sudah melihat makhluk mengerikan yang sempat dikiranya sebagai rekaan para penduduk sekitar itu secara langsung.

Ia tinggi besar, berbulu lebat, dan memiliki moncong besar yang dihiasi taring pembunuh tajam.

Mungkinkah—bayangan-bayangan itu, bau anyir darah, serta hal-hal penuh misteri lainnya yang kerap menghampiri tidurnya satu minggu belakangan ada hubungannya dengan semua ini? Mungkinkah ia terhubung dengan sebuah proyeksi aneh bersama manusia serigala tersebut? Dan mengapa ia seperti turut merasakan apa yang selama ini dirasakan oleh manusia serigala pada umumnya?

——————–

Keesokan harinya, setelah melewati satu malam panjang penuh ketakutan, Taeyeon pun memutuskan untuk keluar dari rumah sewa kecilnya sembari merapikan jas putih dokternya yang baru saja digosok dengan setrika batu bara tadi subuh—di sini tak ada bahan pemanas dari listrik, karena kebanyakan para penduduk desa masih sangat membenci sesuatu yang disebut dengan modernisasi.

Ia merapikan rambut panjangnya yang diikat rapi dengan sebuah pita berwarna hitam kelam. Yang ia tahu, setelah melewati pertengahan bulan, selalu saja ada beberapa warga yang diketahuinya menderita demam berat akibat mendapati binatang-binatang ternak mereka mati terbunuh karena makhluk itu, ataupun sempat bertemu secara tidak langsung dengan sang manusia serigala tersebut—maksudnya bertemu secara tidak langsung, yaitu hanya sekedar bertatapan mata dengannya sesaat dari balik jendela rumah kayu mereka yang terlihat ringkih dimakan usia.

Hal ini memang terasa sangat melampaui akal pikiran, setidaknya bagi Taeyeon—sebelum dirinya secara langsung benar-benar melihat makhluk itu dengan mata kepalanya semalam. Tak ada penyakit yang diderita seseorang hanya karena menatap mata merah seekor—jika ia boleh menyebutkannya seperti itu—manusia serigala yang sedang berlarian di bawah cahaya penerangan rembulan. Setidaknya, hingga saat ini belum ada penelitian yang dapat membuktikannya.

Tetapi, kenyataan tetaplah kenyataan. Taeyeon juga tidak dapat memungkiri penyakit yang kerap kali diderita masyarakat desa di setiap pertengahan bulan seperti ini; sekalipun memang, ia seorang dokter muda yang dididik di Kota Seoul dengan penuh penelitian ilmiah dan pemikiran yang rasional.

Baginya, desa kecil ini adalah sebuah pengecualian. Walaupun otaknya terus menolak hasil pemikiran anehnya, namun hatinya justru terus meyakinkannya untuk percaya bahwa kutukan manusia serigala itu benar adanya. Pandangan mata merah itu, bulu lebatnya, serta tubuh besarnya yang melampaui pria dewasa pada umumnya memang telah ia temui, meski dari jarak jauh sekalipun.

Lamat-lamat, di tengah seluruh pusaran khayalannya yang terus bergerak membabi-buta, Taeyeon mendadak tersadar dan langsung kembali berpijak ke dalam dunianya yang sesungguhnya. Gadis itu memutar kedua bola matanya cepat seraya mengernyitkan dahinya selama beberapa waktu, ia mendapatkan sebuah pemikiran yang seharusnya sudah diketahuinya semenjak tadi malam—jika saja ia tak terlalu ketakutan.

Manusia serigala ini kerap kali menyebabkan warga lain menderita kesakitan hebat selama berhari-hari setelah bertatapan dengan mata makhluk itu secara langsung, walaupun dari jarak kejauhan. Lantas, mengapa ia tak menderita penyakit apa pun hari ini? Mengapa ia baik-baik saja?

Sesuatu yang ilmiah sudah pasti tidak dapat menjelaskan hal ini, jika pola pemikirannya yang satu ini lebih mengarah kepada suatu kutukan yang kerap kali disebutnya sebagai takhayul pada masa-masa awalnya bekerja di desa terpencil ini dulu. Kemudian pada kelanjutannya, Taeyeon juga sudah mulai agak sedikit yakin seluruh hipotesisnya sekarang. Ia pasti sangat berhubungan erat dengan sang manusia serigala—karena semalam, ia jelas-jelas memimpikan sesuatu yang sepertinya berhubungan amat dekat dengan penglihatan makhluk beringas tersebut. Ia merasa seolah menjadi diri sosok itu di dalam mimpinya; mereka memiliki proyeksi antara satu sama lain.

Entah siapa pun diri makhluk itu yang sebenarnya; Taeyeon menginginkan segala hal menjadi terang benderang lagi. Ia ingin menyelesaikan seluruh masalah mengenai makhluk peneror masyarakat terpencil ini dengan caranya sendiri.

“Tap…tap…tap…”

Gadis itu kembali melangkahkan kakinya cepat, suara sepatunya yang menghentak lantai terkadang bergema di sekitar dinding rumah kecilnya yang hanya berbahan dasarkan kayu ek tebal. Taeyeon merapatkan pegangannya pada tas dokternya, ia lalu menarik sebatang kunci besinya dari balik saku jasnya yang agak besar. Perlahan, jemarinya memutar benda itu hati-hati, setelah berhasil memastikan bahwa kunci tersebut berhasil memasuki lubang pintu dengan baik.

Ia membuka pintunya, dan tanpa pernah disangka-sangka, sesuatu yang aneh langsung menghampirinya lagi—seperti yang biasanya ia lewati kala pagi pertengahan bulan datang, namun kali ini jauh lebih mengerikan.

Do Kyungsoo berdiri di depannya dengan muka pucat pasi seakan kehilangan seluruh aliran darah di dalam tubuhnya. Dan jauh bertentangan dengan hal tersebut, seluruh pakaiannya yang masih terhitung sangat tradisional pun—hanbok untuk pria Korea—ternyata sudah penuh dibasahi oleh cairan kemerah-merahan berbau anyir yang bersimbah hampir di seluruh bagian permukaan tangan, lengan, bahkan wajahnya.

Pemuda itu berujar lemah di antara seluruh rasa ketakutan yang mencekik organ pernapasannya. “K—Kim Jongin…” ia menarik napasnya cepat-cepat lalu mengembuskannya dalam gerakan ceroboh sehingga wajahnya terlihat semakin memucat, “K—Kim Jongin ditemukan mati di kandang kuda milik keluarganya dengan kondisi robek berat di hampir seluruh bagian tubuhnya…”

——————–

Taeyeon menahan napasnya yang tercekat tepat di saat ia tiba di lokasi kejadian. Dirinya yang sudah kelelahan akibat berlari tergopoh-gopoh bersama Kyungsoo bahkan sudah tak dapat menahan rasa berdukanya pagi ini. Ia membelalakkan kedua bola matanya tak percaya, pupilnya membesar menjadi satu setengah kali lebih lebar dibandingkan yang biasanya; jauh di dalam hatinya, ia masih belum dapat mempercayai langsung hal apa yang sedang muncul di hadapannya saat ini. Ia benar-benar Kim Jongin. Salah seorang pemuda paling supel yang pernah dikenalnya di desa ini.

Kondisi tubuh Jongin ternyata terlihat jauh lebih parah dibandingkan penjabaran yang diberikan oleh Kyungsoo kepadanya beberapa waktu yang lalu. Pemuda berkulit agak gelap itu sudah terkapar di bawah sana, di atas lantai dingin kandang kuda berisi penuh jeraminya yang sudah bercipratan bercak-bercak darah—entah darah milik Jongin ataupun dua kudanya yang sudah turut mati bersamanya.

Setelah berhasil menerobos puluhan orang yang sedang berkumpul mengitari tubuh Jongin, gadis itu pun segera melangkahkan kakinya mendekati tubuh pemuda tersebut. Jemari milik Taeyeon bergerak pelan meraih jari-jari Jongin yang sudah berbentuk tak seperti yang seharusnya, kuku-kukunya sudah terlepas dari bagian teratas dari buku-buku jarinya yang berukuran sedang. Ini pasti berasal dari bekas gigitan—tidak mungkin pembunuhan yang biasa saja.

Perlahan, Taeyeon mengembuskan napasnya yang selama ini terus terasa tertahan di dalam rongga paru-parunya. Ia berujar lirih sekaligus amat pelan dalam satu waktu, “I—ini bekas gigitan…”

“Bukan gigitan biasa, tetapi seperti gigitan hewan bertaring tajam. Lukanya—berasal dari sesuatu yang menyerupai gigitan serigala…”

“Kalian dengar itu?!” seorang pria dewasa tiba-tiba memekik di antara gerombolan masyarakat yang menatap tubuh Jongin penasaran. “Makhluk itu sudah kembali menyerang pedesaan kita! Dia membunuh salah seorang dari warga kita lagi! Kim Jongin terbunuh olehnya!”

“MAKHLUK BANGSAT ITU SUDAH DATANG!!!”

Lelaki muda itu berteriak keras sekali sehingga beberapa wanita tua yang berada di sekitarnya mulai jatuh bergelimpangan di atas tanah mendengarnya. Tubuh seluruh warga bergetar hebat, seluruh isi otak mereka dipaksa kembali untuk mengingat teror-teror masa lalu yang pernah menghampiri desa mereka berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Pembunuhan terhadap manusia seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya—setidaknya setelah beberapa generasi sebelum mereka, ayah dan kakek buyut mereka, berhasil menumpas nyaris keseluruhan kaum manusia serigala yang tinggal mengelilingi desa kediaman mereka.

“Jung Ilwoo! Jaga ucapanmu!” seorang pria yang lainnya menginterupsi sang pria pertama yang berteriak di antara rombongan para warga desa.

“Apa?!” kedua mata Jung Ilwoo—sang pria yang pertama kali berteriak—mendadak mendelik tajam menatap seorang pria lain yang berada di hadapannya. “Apa maumu, Do Kyungsoo? Bukankah sudah jelas bahwa makhluk itu sudah tiba di sini?!”

“Bahkan…” Jung Ilwoo mendenguskan napasnya dengan sekali hentakan yang terasa agak seperti mencibir atau menyindir, entah apalah itu artinya. “Saudara sepupumu, Kim Jongin-lah yang menjadi korbannya malam ini!”

Taeyeon memperhatikan kedua pria muda tersebut kaget, bahkan di saat-saat berduka dan mencekam di sini mereka masih bisa berdebat mengenai hal seperti ini? Benar-benar tolol—tidak bisa berpikir sama sekali.

“Sekali lagi kauucapkan hal itu maka akan kubunuh tubuh tak bergunamu itu, Jung Ilwoo!”

“Coba saja!”

“JUNG ILWOO! TUTUP MULUT SAMPAHMU ITU!!!”

Kyungsoo langsung berteriak tak sabar tepat di saat Jung Ilwoo hampir saja mendaratkan kepalan tangannya yang besar ke rahang kanan miliknya. Lelaki muda yang berlumuran darah saudaranya itu, Do Kyungsoo, kini menatap Ilwoo dengan wajah memerah menahan emosi. Ia menggerutukkan giginya penuh amarah, tak pernah ia semurka ini kepada seseorang yang baru saja ditemuinya—Jung Ilwoo benar-benar keterlaluan.

“Hentikan!” Taeyeon menarik napasnya dalam-dalam, wajahnya sudah memucat di kala ia mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk menatap wajah Jongin yang sudah dipenuhi bekas gigitan dan bercak darah kental berbau anyir. Ia mengangkat tas peralatan kedokterannya cekatan lalu menggenggamnya erat-erat dan segera bangkit dari posisinya yang berlutut menghadap Jongin.

“Apa kalian berdua ini idiot, hah?!” gadis itu menggeram murka, jemarinya yang sedari tadi memeluk erat tasnya kini sudah bergetar hebat. Lalu seketika, tanpa diduga-duga, gadis yang berprofesi sebagai seorang dokter muda tersebut pun membanting tasnya cepat, menyebabkan bunyi nyaring yang terdengar seperti pecahan berbotol-botol kaca obat-obatan yang berasal dari dalam benda kain berwarna hitam tersebut.

“Jika ada sesuatu yang pantas dipermasalahkan dalam hal ini, maka hal utama yang harus kalian berdua perhatikan bukan hanya tentang bagaimana manusia serigala itu kembali atau bagaimana cara Jongin terbunuh olehnya! Kalian tahu…” jantung Taeyeon mulai berdegup tak beraturan kala kedua manik mata Kyungsoo memandangnya tajam, seakan ia seorang gadis keji yang baru saja disergapi turut ikut campur dalam usaha pembunuhan Jongin.

Berusaha menahan nyalinya yang mulai menciut, Taeyeon kembali menegakkan kepalanya cepat-cepat. Lamat-lamat, kedua telinganya menangkap sesuatu yang terdengar seperti bisikan aneh para warga yang sedang membicarakannya sebagai seorang ‘gadis yang sinting’.

“Yang perlu kita pedulikan dan utamakan saat ini ialah bagaimana cara kita memakamkan Jongin hari ini juga. Kita tidak mungkin membiarkannya membusuk di sini tanpa sebuah penanganan yang tepat,” ia berujar pelan penuh keyakinan, “namun, jika ada beberapa di antara kalian yang ingin mundur lalu masuk dan mengunci rumah-rumah kalian untuk berlindung dari manusia serigala tersebut—maka tidak masalah sama sekali bagiku.”

“Silahkan mundur jika kalian mau.”

Puluhan orang mendadak mulai melangkahkan kaki-kaki mereka ke belakang. Satu demi satu para pemuda yang biasanya Taeyeon kenal sebagai sekumpulan pemuda yang berani itu tiba-tiba saja membiarkan diri mereka ikut teredam di dalam ketakutan akan manusia serigala misterius yang kembali muncul di pedesaan mereka. Hingga hanya tersisa dirinya sendiri, Kyungsoo, dan seorang pemuda asing berwajah pucat yang masih berdiri tegap di tengah ruangan sembari menatap kedua iris cokelat terang milik Taeyeon dengan pandangan penuh pertanyaan.

“Lalu apa yang akan kaulakukan setelah ini, Ahgassi?” sosok pemuda asing tersebut melangkah pelan mendekatinya seraya menatap Taeyeon tepat pada kedua bola matanya yang melebar sedikit ketakutan.

“Kita…” Taeyeon merasa ada sesuatu yang aneh yang sedang membuncah di dalam dirinya, jantungnya terasa seolah kembali berhenti berdetak layaknya yang dirasakannya semalam kala ia menemui pandangan tajam pemuda itu. “Kita akan menguburkan Jongin tentu saja. Kaupikir kita akan melakukan apa lagi? Berenang?” gadis itu mengeluarkan tawa hambar yang ia rasa tak perlu ia keluarkan dalam kondisi sepelik ini.

Dua sudut bibir milik pemuda asing tersebut tiba-tiba tertarik, ia mengeluarkan seulas senyum dinginnya dari sana. “Tadi kau yang menyatakan bahwa kita semua harus serius menghadapi kondisi buruk seperti ini. Lalu…” ia menangkupkan kesepuluh jemarinya yang putih pucat menjadi satu, “kau juga yang tertawa di dalam kondisi seburuk ini; sebuah kondisi mengerikan di mana sang manusia serigala bangsat tersebut telah kembali dari persembunyiannya.”

“Bu—bukan begitu maksudku,” alih-alih menundukkan wajahnya yang memerah karena menahan malu, Taeyeon justru semakin mendekatkan tatapannya kepada pemuda tersebut. Dua pasang manik mata mereka bertemu, miliknya yang cokelat terang kini menyapa milik lelaki itu yang berwarna cokelat agak sedikit gelap. Bayangan-bayangan di mimpinya semalam tiba-tiba menghampiri otaknya tanpa peringatan, derik angin, patahan kayu, bau anyir darah, segalanya telah berbaur menjadi satu di dalam pemikirannya.

Ada rasa nyeri tak tertahankan yang kini menusuk-nusuk kepalanya. Dunia seolah berputar tak beraturan di sana…

Sampai-sampai mendadak, persis di waktu yang bersamaan ketika gadis itu nyaris tumbang dari posisi tubuhnya yang mulai melemah , kedua lengan besar milik pemuda tersebut tiba-tiba segera meraih pinggangnya dan menahan tubuhnya selama beberapa saat. Aura dingin penuh rasa takut semakin menyeruak di antara para warga yang masih memperhatikan mereka berdua dengan rasa ingin tahu, ada yang memekik tak percaya, ada yang menahan napasnya lama, lalu ada pula yang hanya menatap Taeyeon dan pemuda itu dengan menerawang kosong.

“Hati-hati dengan keseimbangan tubuhmu, Ahgassi.” Pemuda itu berujar sopan seraya melepaskan Taeyeon dari pelukannya pelan. Jemarinya yang berukuran panjang terasa dingin sekali ketika menyentuh permukaan kulit Taeyeon yang memanas. Pemuda ini terasa sangat lain baginya, ia berbeda—dan walaupun hal ini mungkin terasa agak mengada-ada, tetapi sosok lelaki yang kini berada di hadapannya sama sekali tak terasa seperti manusia biasa. Sepertinya lelaki muda ini, istimewa.

“Jadi…” Taeyeon masih dapat merasakan embusan napas pemuda tersebut memasuki pori-pori kulit lehernya yang terbuka, “kita tunggu apa lagi?”

“Ini sudah waktunya untuk menguburkan Kim Jongin, bukan?”

Taeyeon hanya menganggukkan kepalanya pasrah sembari melirik Kyungsoo yang sudah memberikannya tatapan penuh harap. Kali ini, Taeyeon kembali disadarkan untuk tetap mengingat bahwa Jongin sudah mati dan membutuhkan perawatan yang sedikit lebih baik dalam menunjang keberangkatannya menuju tempat peristirahatannya yang terakhir. Jongin akan dimakamkan di bagian terujung dari desa, di mana setiap warga yang meninggal dunia selalu dimakamkan—walaupun mungkin, proses penguburan Jongin hari ini akan terasa agak sedikit berbeda.

Hanya ada tiga orang yang bersedia untuk memakamkannya; semenjak rumor mengenai manusia serigala itu memang benar adanya. Sekalipun tentu, Taeyeon masih terus berusaha menutup rapat-rapat peristiwa yang semalam diketahuinya. Suatu waktu di mana ia berhasil melihat secara langsung sosok besar makhluk luar biasa buas tersebut, sebelum mungkin, ia dengan taring-taringnya yang tajam berhasil mencabik-cabik tubuh Jongin dalam satu waktu lalu menghabiskan hampir seluruh bagian tubuh kudanya, yang juga ikut terbunuh dengan sangat mengenaskan.

Hanya mereka bertiga yang akan hadir—benar, hanya bertiga.

Kim Taeyeon, sang dokter perempuan muda yang dulunya selalu mendeklarasikan pendapat anti-takhayulnya.

Do Kyungsoo, sang pemuda yang menyabet status sebagai seorang sepupu jauh Jongin.

Lalu, seorang pemuda misterius aneh, yang entah apa motifnya juga turut berusaha membantu proses pemakaman tersebut, tanpa sedikit pun merasa takut terhadap ancaman pembunuhan oleh manusia serigala yang mulai merajalela.

——————–

“Aku turut berduka untukmu, Kyungsoo.”

Taeyeon merapatkan jemarinya sesaat lalu segera membukanya cepat, ia mengelus pundak Kyungsoo penuh penyesalan seraya memperhatikan pemuda tersebut terus merunduk menggenggam erat setumpuk kecil tanah cokelat-merah basah yang berada di balik kelima jari tangan kirinya.

Di balik tundukan kepalanya yang semakin dalam tersebut, Kyungsoo berbisik lirih sembari mengumpati dirinya sendiri. “Jika aku tak mengizinkan Jongin untuk keluar tadi malam, ia pasti masih hidup saat ini, ia tidak mungkin mati sekarang…” ia bergumam lemah lalu mengacak-acak rambutnya sendiri, “siapa manusia serigala bodoh yang sudah membunuh saudaraku satu-satunya ini?!”

“Jika saja aku tahu siapa orangnya…” Kyungsoo menggeram dari balik rambut hitamnya yang sudah agak panjang, “akan kubunuh ia—persis sebagaimana ia membunuh Jongin, saudara sekaligus sahabatku.”

“Kyungsoo!” Taeyeon memekik nyaring di saat Kyungsoo hampir saja melempar asal sekop besinya ke arah kepala makam milik Jongin.

“Bagaimana bisa kau melakukan hal sebodoh ini setelah kehilangan Jongin; saudaramu sekaligus sahabat terdekatmu?” sorot wajah gadis itu yang mengeras menampilkan aura mencekam yang tak pernah ditemui Kyungsoo selama ini. “Asal kau tahu saja, semalam aku juga melihat makhluk itu…”

“Apa?!”

Dengan tubuh bergetar hebat dan bahu yang naik turun, diiringi dengan seluruh sisa keberanian yang mampu dipegangnya, gadis itu pun memutuskan untuk terus menjelaskan segalanya kepada Kyungsoo—tanpa sedikit pun menyadari ada satu orang lainnya lagi yang mendengarkan pembicaraan mereka dengan seluruh otot wajah mulai kaku.

“Aku melihatnya semalam—dari balik jendela kamarku yang tiba-tiba terbuka lebar. Ia—ia, manusia serigala itu, dirinya berlarian secara tak pasti di jalanan depan pekarangan rumahku sembari terus mengeluarkan bunyi lengkingan-lengkingan kesakitan yang entah apa artinya itu. Dan aku bersumpah atas nama Tuhan, aku benar-benar tak menyangka bahwa kasus terbunuhnya Jongin akan sangat berhubungan dengan makhluk itu…”

“Kupikir,” Taeyeon yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan diri Kyungsoo kala kedua bola mata bulat sempurna milik lelaki itu mulai mendelik kepadanya tajam. Namun, karena tak ingin memberhentikan ceritanya dan menyampaikan informasinya setengah-setengah, Taeyeon pun terus berusaha untuk berujar dan menahan diri untuk tidak menatap wajah Kyungsoo lebih lama.

“Kupikir makhluk itu tidak akan membunuh siapa pun, kendati ada seseorang yang keluar dari rumahnya untuk menikmati sedikit sinar bulan purnama yang indah.”

“APA KAUBILANG?!”

Suara milik Kyungsoo langsung meninggi seperti bukan yang biasanya, menangkis seluruh keberanian yang beberapa saat yang lalu terus Taeyeon pupuk untuk tetap bertahan di dalam hati dan pikirannya. Jemari besar milik pemuda itu sudah mengepal rapat dan bersiap untuk memukul dan mematahkan seluruh tulang rusuk milik Taeyeon dengan semua kekuatannya yang beringas, lelaki itu sudah kalap bukan main sekarang.

“Seandainya kau mengatakan hal yang sebenarnya kepada kami tadi secara seutuhnya seperti ini, kau pasti sudah mati sekarang!” ia mendaratkan tamparannya yang pertama pada pipi milik Taeyeon yang memucat seputih kapas, “warga desa ini mengutuk siapa saja yang menyembunyikan pengetahuannya mengenai manusia serigala tersebut! Lalu kau menyembunyikannya seperti itu? Iya?!”

Taeyeon hanya menggelengkan kepalanya lemah. Ikatan rambutnya sudah terlepas dari bagian teratas rambutnya, surai panjang hitam lebatnya lagi-lagi berkibar cepat bersama angin dingin musim gugur berembus di antara mereka, mengisi celah-celah amarah Kyungsoo yang memanas dengan tekanannya yang setajam es kristal. Pipi kanan gadis itu sudah membiru, sementara ia masih belum memberikan perlawanan apa pun terhadap Kyungsoo yang sedang dikuasai oleh emosinya tersebut.

Rasa takut kembali menggelayuti dadanya yang mulai terasa sesak. Perih yang terus menjalari seluruh kulit pipinya yang terkena tamparan keras Kyungsoo bahkan sudah tidak dapat mengalahkan rasa pedih yang menusuki hatinya kali ini. Taeyeon memejamkan kedua matanya rapat-rapat, tak memilih untuk mengeluarkan kata-kata apa pun terhadap Kyungsoo, ataupun hanya sekedar untuk menangis terisak menahan sakit. Jeritannya sudah teredam di langit-langit mulutnya yang terasa kaku, bahkan lidahnya pun terasa kelu untuk bergerak kembali.

“Aku minta maaf, Kyungsoo…” kata-kata itu akhirnya menyeruak dari sudut bibirnya.

“Apa kaupikir minta maaf akan membuat Jongin bangkit kembali dari kematiannya, hah?!” Kyungsoo spontan meneriakinya jijik. “Jika warga desa mengetahui hal ini, kau akan dibakar, Kim Taeyeon!”

Kedua bola mata gadis itu mengerjap tak percaya, “Kau…” ia menahan nafasnya panjang, “kau tidak bercanda ‘kan, Kyungsoo?”

“Kau tidak bercanda, ‘kan?” ia mengulangi pertanyaannya kembali, dengan suara berbisik yang hampir tak terdengar.

Lelaki itu lagi-lagi menarik kerah pakaiannya cepat. Wajah Kyungsoo yang biasanya memancarkan aura menghangatkan itu mendadak berubah menjadi penuh keliaran kala kedua manik mata milik Taeyeon kembali menemui miliknya.

Dua buah mata bundar jernih yang memerah Kyungsoo tersebut berputar cepat—Kyungsoo sudah seperti orang gila sekarang. Alis hitam pemuda tersebut bergerak kacau, “Aku ingin kau merasakan apa yang Jongin rasakan semalam! Meskipun bukan bukan kau yang membunuh Jongin secara langsung!”

“Namun kau harus tetap mengingat peraturan kami, gadis asing! Kau harus mengingatnya di dalam otak sintingmu itu!” gigi-gigi Kyungsoo bergeretak kasar dari dalam sana. “Kau telah melanggar peraturan desa yang telah kakek buyut kami ciptakan selama turun-temurun! Bahwa jika bulan purnama datang dan manusia serigala tersebut sudah kembali menampakkan dirinya, maka tak ada seorang pun yang boleh menyimpannya sebagai rahasianya sendiri—walau dalam kurun waktu satu malam pun!”

“KAU HARUS MERASAKANNYA, KIM TAEYEON! KAU HARUS MENERIMA BALASANNYA! KAU HARUS DIBAKAR!!!” racau Kyungsoo cepat.

Suara berat Kyungsoo kembali menggelegar mencapai ranting-ranting pohon yang kini berderak lemah bersama angin musim gugur. Lelaki itu membuang dengusan napasnya kasar. Ia sudah bersiap untuk mencekik leher Taeyeon jika saja lengan milik pemuda asing tersebut tidak menahan lengannya terlebih dahulu dan mencengkramnya erat-erat.

“Apa maumu, bodoh?!” bentak Kyungsoo kehabisan kesabaran.

“Mauku adalah melepaskannya.” Pemuda asing tersebut berujar pelan seraya menatap Taeyeon yang terkapar di atas tanah dengan pandangan aneh cenderung teduhnya.

“Kau tidak bisa melanggar hukum adat kita!”

“Aku tak percaya dengan hukum tolol itu. Siapa yang berhak membakar seseorang hanya karena ia ingin tak seorang pun panik karena kabarnya tersebut?” lelaki yang—entah siapa namanya tersebut—berujar sinis lalu melepaskan lengan Kyungsoo yang mulai melemah di dalam pegangannya.

Ia membanting tubuh Kyungsoo seketika, membuat lelaki tersebut sempat mengaduh kesakitan selama beberapa saat.

Namun akhirnya, setelah berlarut-larut mereka bertikai dan Kyungsoo terus mempertahankan pendapatnya, pemuda asing tersebut mengakhiri perdebatan mereka dengan sebuah kalimat bijak, “Perbaiki dirimu dan ubah pola pikirmu sebelum kau memutuskan untuk membunuh seorang gadis yang sama sekali tidak bersalah.” Seluruh kata-katanya terucap runtun seakan tak bercela, membuat Kyungsoo semakin lama semakin bungkam untuk berkata-kata.

Mendadak, lelaki misterius berwajah pucat tersebut meraih jemari Taeyeon yang kini sedang tertunduk lemah di atas tanah seraya menatap Kyungsoo dan diri pemuda itu tak percaya. Ini pertama kali baginya menemui seseorang yang berani untuk mendukungnya di saat-saat genting seperti ini.

Perlahan, sosoknya itu berujar pelan sembari mengangkat tubuh Taeyeon dan menaruh tubuh mungil gadis itu di atas punggungnya.

“Kita harus pergi, Ahgassi. Sebelum orang-orang tolol sepertinya,” pemuda itu menunjuk Kyungsoo dengan gerakan tak pantas, “sebelum ia dan para warga lainnya berdatangan lalu memvonismu secara masal untuk dibunuh di dalam bara api unggun buatan mereka.”

To Be Continued

 Admin’s note : maaf sebelumnya, ada kesalahan sedikit. Fanfic ini dalam B. Indonesia tapi saat di copy dari hotmail tiba-tiba jadi B. Inggris, mungkin translate dari google chrome on, padahal sebelumnya sudah off. Maaf sekali lagi

Advertisements

34 thoughts on “[Freelance] Under The Moonlight (Chapter 1)

  1. Ohh may gat thorr ini ff kereeeennnn bangeeettt! <<333 siapa sih yang jadi wolf nya?? Hah?! Penasaran deh… Buruan ya thor jangan lama-lama! Next chap cepat-cepat-cepat! 🙂

  2. Annyeong! Perkenalkan aku readers bru..
    Dlu si smpet jdi silent readers *jgn dtiru ya anak2 #plak
    sehun kah pria asing itu ? Dtnggu chap selanjutnya FIGHTAENG!

  3. wahh kerennnn next bgus bgt nih 😀 pria asing ny itu sehun alias wolf ya._. jgn” taeng udh terikat sm mahluk itu alias sehun._. ah pnasaran next cepetan yak hehe

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s