[Freelance] Seize The Time

seize-the-time-poster

EDITED, MAAF ADA KESALAHAN ADMIN FF INI DALAM B. INDONESIA

Seize The Time

SEIZE THE TIME

By

HWANG SEORA

CAST: SNSD’s Jessica & EXO’s Kris | | GENRE: Romance;Sad | | RATING: T | | LENGTH: Chaptered | | DESCLAIMER: Pure of my mind. Dedicated for YOU (: | | WARNING: Typo(s)

Posted in HwangSeora with different pair

Copyrighted ©hwangseora 2013 All Right Reserved.

.

.

.

“One day, you’ll ask me; ‘What’s more important to you, me or your life?’ I’ll say ‘My life’ and you’ll go and leave me without knowing that you’re my life..”

► Seize The Time ◄

Dia, Jessica Jung.

Seorang gadis Korea dengan darah California mengalir dalam tubuhnya. Gadis dengan rambut coklat bergelombang yang tampak tebal. Tubuh rampingnya bak seorang model. Iris hazelnya terlihat sangat cocok dengan hidung mancungnya. Apa kalian berpikir ada yang kurang dari fisiknya?

Kurasa tidak. 

Melihatnya terlelap di sisiku, dipelukanku, dengan wajah malaikatnya yang tampak tenang tanpa harus melihat air matanya yang akhir-akhir ini selalu membasahi pipinya, rasanya lebih dari cukup untukku.

Kuusap pipinya dengan perlahan, takut-takut jika tangan hina-ku dapat melukainya barang setitikpun. Jemariku menelusuri wajahnya. Menyentuh matanya, turun ke hidungnya, kemudian menuju bibirnya.

Jemariku terhenti disana. Bibirnya… oh, baiklah. Ini masih pagi. Lagipula seperti kataku tadi, aku tak berani menyentuhnya. Meskipun kami sering sekali tidur bersama, tapi percayalah, hal terjauh yang pernah aku lakukan hanyalah menciumnya, sungguh. Itupun jika ia yang meminta.

“Nghh..”

Tahu-tahu Jessica  mengerang. Ia menggeliat dalam pelukanku dan dengan perlahan membuka matanya. Kurenggangkan lenganku yang melingkar di pinggangnya agar ia dapat bergerak bebas. Kutatap matanya yang tampak setengah sadar.

“Morning lil’ angel,”

Mendengar sapaanku, Jessica yang masih mengantuk tetap tersenyum. Ia menaruh tangannya di dadaku, kemudian menarik kaus yang kukenakan mendekat kearahnya. Iris hazelnya menatapku lekat.

Ya, aku mengerti maksudnya.

Kueratkan kembali pelukanku. Wajahnya kini tepat berada di hadapanku.

“Morning too, Wufan”

Kutarik tengkuk gadis itu, kemudian mendaratkan bibirku pada bibir peachnya. Sempat kudengar Jessica membisikkan kata cinta dengan suara lirihnya.

Ya, dia milikku.

“Kau tak ikut sarapan?”

“Tidak, sayang.”

“Hmm.. Berapa hari lagi yang masih tersisa?” tanya Jessica tetap tanpa menatapku. Gadis itu sibuk menghabiskan sereal gandum kesukaanya. Sedangkan aku? aku benci sereal. Di apartment Jessica tak ada makanan lain selain sereal. Jadi kuputuskan untuk makan diluar nanti.

“Empat belas hari.”

Jawabanku sangat singkat. Terus terang aku membenci gadis itu disaat-saat seperti ini. Ayolah, seharusnya kita bersenang-senang berdua, tapi kau selalu membuatku khawatir dengan pertanyaan itu, nona Jung!

“Jadi kau ingin kita pergi ke mana hari ini?”

Kali ini Jessica mendongakkan kepalanya. Mulutnya masih penuh dengan sereal, tapi hebatnya ia tetap bisa berbicara dengan jelas.

“Terserah padamu saja.”

Terlalu kesal, akhirnya jawaban seperti itulah yang Jessica dapat dariku. Kulihat Jessica mengangguk-anggukan kepalanya kecil yang kemudian meraih segelas susu dan meneguknya. Kurasa sereal dalam mangkuk besarnya sudah habis. Cepat sekali.

“Hei, Wufan.”

Jessica bangkit dari kursi yang tadi ditempatinya, berjalan memutari meja dan mendekat kearahku. Tanpa bisa kuduga, tiba-tiba saja ia duduk.diatas pahaku. Dan lagi lengannya merangkul leherku. Membuat wajahku mendekat kearah… argh, sial. gadis ini benar-benar membuatku—

“Sedang memikirkan apa?”

Suaranya yang mengucapkan sebuah pertanyaan seketika membuat khayalanku buyar. Jangan salahkan aku jika aku berkhayal, bagaimanapun aku ini pria normal. Salahkan Jessica yang menggulung rambutnya keatas sampai ia mengekspos leher putihnya.

“Bukan apa apa,”

Bodoh. Mendengar kalimat seperti itu dengan suaraku yang sedikit gemetar jelas saja semakin memperjelas bahwa aku memang memikirkan apa-apa. Dan jelas saja jika Jessica sekarang tampak menunjukkan smirknya padaku.

Oh, persetan dengan menjaganya. Ia yang mengundangku bukan?. Kutarik paksa tengkuk Jessica yang baru saja ingin mundur dari dekapanku. Ia menolak, jelas terlihat dari tangannya yang mendorong kedua bahuku. Namun aku tak peduli, kukecup bibirnya dengan agak kasar, sedikit menggigit dan melumat bibir manisnya. Baru saja aku akan memasukkan lidahku, Jessica melepas ciumannya dengan wajah memerah karena kehabisan nafas.

“Bodoh,”

Ha, aku memang pantas mendapat umpatan semacam itu dari Jessica. Bukankah aku pernah menyebut jika aku ini hina? Julukan itu memang pantas untukku. Jika ada julukan yang lebih buruk lagi, kurasa itu akan semakin pantas untukku.

“Maaf,”

“Habiskan serealmu jika kau ingin mendapatkan jatahmu,”

“Apa?”

“Makan serealmu. Aku tak pernah mengizinkanku makan diluar. Belum tentu makanannya sehat.” Jessica menyentil dahiku “Jika serealmu habis, kau akan mendapatkannya,” ucapnya sambil menyeringai.

Oh, benarkah maksudnya sama seperti apa yang kupikirkan?

Kulingkarkan lengan kiriku pada pinggangnya yang masih duduk di atas pahaku. Dengan cepat, kusendok sereal dalam mangkuk besar itu.

“Kau menang, nona Jung.”

“Tidak, aku tidak mau masuk.”

Selama ini aku bersikeras untuk tak mengunjunginnya. Ini sungguh menyebalkan. Bagaimana bisa seorang Jessica Jung, dalam satu waktu membuatku terbang ke langit dan menjatuhkanku ke dasar samudr— baiklah, itu berlebihan. Namun sungguh, ia tadi membuatku berdebar bahagia, dan kini membuatku kesal tak terkira.

“Jangan seperti anak kecil, Wufan. Tadi saat melakukannya kau sudah berjanji akan mengikutiku kemanapun aku mengajakmu,”

Biar kujelaskan sedikit kalimat ambigunya itu. Melakukannya. Hei, kami tidak benar-benar melakukannya! Kami hanya berciuman dengan gaya yang agak liar. Dan yah.. aku memang menyentuhnyasedikit. Tapi itu tak masalah bukan? Aku sudah cukup dewasa untuk menentukan batas. Lagipula aku ingat Jessica pernah berkata bahwa ia hanya akan melakukannya setelah menikah. Karena itulah aku menjaganya baik-baik selama ini.

“Ayo,”

Lagi-lagi aku terpaksa mengalah. Harusnya saat aku kesal padanya tadi pagi, aku tak mengatakan ‘terserah’ padanya. Wufan bodoh. Dan kini aku hanya melangkah pasrah saat Jessica menarikku masuk.

Jessica membuka pintunya, dan— ugh, bau obat-obatan ini benar-benar membuatku ingin memuntahkan sereal pemberian Jessica.

“Annyeong,”

Jessica menyapa seorang nenek yang duduk disamping ranjang pasien. Sang nenek tampak bingung melihat keberadaanku bersama Jessica dalam ruangan ini.

“Ini aku Jessica Jung, eomma.”

Kulihat mata nenek itu membulat mendengar nama lengkap Jessica disebut. Sang nenek yang dipanggil eomma oleh Jessica itu lekas berdiri dan memeluk Jessica, cukup erat kurasa. Sekilas kulihat mata nenek itu berkaca-kaca.

“Oh, Jessica! Kau sudah sangat besar sekarang. Apa kabarmu?”

Baiklah, waktunya bernostalgia untuk mereka berdua. Aku mengerti bagaimana Jessica pun begitu merindukan sang eomma. Tidak, nenek itu bukanlah ibu dari Jessica. Ia hanya seorang ibu kepala panti yang selama ini senantiasa mengasuh Jessica kecil. Benar, gadisku hanyalah seorang anak buangan yang kehadirannya tidak diinginkan oleh kedua orangtuanya. Dan itu kuketahui saat Jessica bercerita padaku dengan wajah penuh air mata.

Baru saja hendak melangkah keluar, Jessica memanggilku, sepertinya ia mengetahui niatku untuk pergi.

“Wufan, kemarilah.” Kali ini Jessica terdengar seperti sedang memanggil anaknya, bukan kekasihnya. Menggelikan sekali, tapi tetap saja aku datang menggampirinya. Aku tak ingin ia marah padaku, jika kalian tau Jessica itu gadis yang susah diajak berdamai ketika sudah marah. “Eomma, dia Wu Yi Fan.” ujarnya seraya menunjukku. “Pasti eomma sudah tau pasti siapa dia,”

Nenek tampak menangguk-angguk dan menatapku dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Tak sadarkah kelakuan nenek itu membuatku jengah? menyebalkan. “Ya, aku tahu.” Woah, sebegitu populernya kah diriku? Ha.

“Lalu bagaimana keadaan Taeyeon?”

Kalimat itu sudah kudengar ribuan kali dari bibir Jessica selama tiga pekan terakhir. Kulihat Jessica mendekat kearah ranjang dan mulai mengusap rambut seseorang yang terbaring lemah disana. Oh tidak, jangan sampai ia menangis lagi.

“Semakin memburuk. Bahkan dokter sudah memvonis gagal jantungnya itu,” Ucapan nenek itu sungguh tenang, seakan ia sudah merelakan kepastian sang pasien itu akan pergi selamanya. Lain halnya dengan Jessica yang malah terisak. Melihat Jessica yang menggenggam tangan sang pasien erat, sang nenek tersenyum. “Jadi, kapan pernikahannya dilangsungkan?”

Jessica tahu pasti bahwa aku tak akan pernah menjawab pertanyaan macam itu. Karenanya ia segera menghapus air matanya dan ikut tersenyum ketika menatap si nenek.

“Dua minggu lagi. Upacara pemberkatannya diadakan hari minggu. Kuharap eomma bisa datang,”

“Jessica,”

“Hmm?”

Hanya disahut oleh gumaman. Sudah pasti ia dalam mood yang tidak baik sekarang. Biasanya, ketika sedang berjalan di tengah keramaian myungdong ini, ia akan menggandeng tanganku dengan sangat erat. Bukan karena takut akan terpisah, kami bukan lagi anak kecil. Tapi lebih untuk memamerkan, bangga satu sama lain. Aku bangga berjalan bersama gadis yang tampak seperti malaikat. Begitupun sebaliknya, Jessica bilang ia juga sama. Bagaimanapun, banyak.orang yang mengatakan bahwa aku—ehm, tampan.

Meski begitu, perlu diingat jika aku mencintainya bukan semata mata karena kecantikan. Bagiku fisik hanya sekedar bonus. Lantas, apa alasan aku mencintainya? Entahlah, rasanya tak ada alasan khusus. Aku mencintainya.. dengan tanpa alasan. Jika kupikir-pikir, sangat sulit mencintai orang dengan 1001 macam alasan. Mengapa?

Pernahkah kalian berpikir, jika alasan itu hilang, rasa itu akan tetap ada? Jika aku mencintai Jessica karena kecantikannya, akankah aku tetap mencintainya ketika ia sudah tua nanti? jika aku mencintainya karena kesederhanaan dan kebaikannya, akankah aku akan tetap mencintainya ketika ia tak lagi seperti itu? Sifat manusia mudah berubah.

“Wufan,” tiba-tiba saja Jessica menyikut rusukku. Untungnya tidak keras. Kalian tahu kan itu sakit? “Apa yang ingin kau ucapkan tadi?”

Oh, ya. Aku hampir melupakannya.

Kugenggam tangannya erat dan merangkulnya kedalam dekapanku. Kulihat ia hanya menatapku bingung. Aku tahu sekarang sudah jam 11 malam dan waktunya kembali ke apartement. Tapi sekali sekali pulang larut tak masalah bukan? Karena itu aku menariknya agar segera duduk di depan salah satu toko yang masih buka. Tumben sekali Jessica hanya menurut. Biasanya jika sudah malam seperti ini dan kami masih berada di luar, ia akan terus berkoar, memaksa agar segera pulang.

“Apa ada masalah?”

“Tidak.”

“Hei, kau bisa menceritakannya padaku, nona Jung,”

Jessica mendelik ke arahku. Oh, baiklah. Maafkan aku. Aku juga melupakan bahwa kenyataannya Jessica sangat tertutup padaku, tak seperti sikapnya kepada orang lain yang tampak sangat terbuka. Ini sungguh mengesalkan, kau tahu? Jangan lupakan bahwa aku ini adalah kekasihmu, nona!

“Sebaiknya kita pulang, Wufan.”

Aku terbangun di pagi hari dan mendapati sesuatu yang berbeda dari apa yang selama ini sudah menjadi rutinitasku. Pagi ini aku kehilanganmorning kissku. Alasannya? Jessica sudah hilang dari pelukanku saat aku bangun. Sial, aku sudah terbiasa dengan ciumannya untuk mengawali hariku. Kemana perginya gadis itu?

Segera saja aku turun dari kasur dan berjalan keluar kamar. Sengaja aku berjalan tanpa suara, sekedar ingin mengejutkannya ketika aku menemukannya nanti.

Tak sulit untuk menemukan keberadaan gadis itu di apartement mungil ini. Pilihannya hanya dua; dapur atau kamar mandi. Kakiku melangkah pada dua tempat tadi. Namun aku juga tak menemukannya disana.

Tiba-tiba saja kakiku berhenti melangkah. Aku melupakan opsi lain; ruang tamu. Ya, aku menghentikan langkahku ketika aku menemukannya tengan duduk bersimpuh, dengan bahu bergetar dan sambil memunggungiku. Aku menemukannya, di ruang tamu.

“Morning… Jessica,”

Ia tampak tersentak kaget. Hal itu terlihat jelas dari bahunya yang seketika menegang, tak lagi bergetar. Masih sambil membelakangiku, tangan Jessica terangkat menuju wajahnya, kulihat ia mengelus pipinya pelan. Hei, jangan kira kau bisa menyembunyikan air matamu! Kau hutang penjelasan padaku.

“Apa yang sedang kau lakukan disana, lil’ angel?”

Sengaja aku menghampirinya. Ia tampak gelagapan menutupi sesuatu. Selalu saja ada rahasia diantara aku dengannya. Aku tak bisa memahaminya, dan ia akan menolak ketika aku ingin mengetahui masalahnya. Selalu seperti itu.

“Bukan hal yang penting. Pergilah,”

Aku duduk didekat punggungnya dan segera memeluk pinggangnya dari belakang. Biasanya ia akan luluh dengan cara seperti ini. Ya, aku mengetahui kelemahannya.

“Aku belum mendapat morning kissmu”

Kudengar ia berdecak kesal. Namun tetap saja memutar kepalanya untuk menarik tengkukku dan mengecup bibirku. Kudekap semakin erat tubuhnya. Menikmati sentuhan lembut bibirnya. Kurasa ia juga merasakan apa yang kurasakan. Justru ia yang memulai untuk melukai bibirku dengan cara menggigitnya.

Sayangnya, ia terlena.

Ia bahkan tak sadar bahwa tanganku sedang berusaha menggapai kertas yang tadi ia genggan erat-erat di tangan kirinya. Semakin dekat.. dekat.. dan— dapat!

“Wufan!”

Oh, aku harus rela menghentikan kegiatanku dengannya demi selembar kertas ini. Aku berdiri, dan Jessica pun mengikutinya. Ia tampak sediki— sangat panik. Dan ia berusaha untuk mendapatkan kertasnya kembali sekalipun caranya adalah menyakitiku. Jessica berusaha memukulku, mencakar, dan.. yah, apapun usahanya, ia tak akan berhasil merebut kembali kertas ini sebelum aku mengetahui apa isinya.

“Wu Yi Fan! Kembalikan!”

Aku menghiraukan segala umpatan yang ia teriakkan untukku. Tak sulit untuk membuat tubuhnya diam, satu tanganku bisa mencengkram kedua pergelangan tangannya. Namun dengan cara seperti itu, suaranya semakin nyaring terdengar.

Persetan, aku hanya akan berusaha fokus membaca isi kertas itu.

Mataku menelusuri setiap ukiran tinta yang membentuk kalimat kalimat tersebut. Anehnya, ketika mataku semakin turun untuk membaca paragraf bawah, semakin lirih pula teriakan Jessica. Pada kalimat terakhir yang kubaca, Jessica benar-benar tak bersuara sama sekali. Kepalanya tertunduk dalam. Dapat kurasakan ia menggenggam jemariku dengan lemah.

Apa? Apa ini?

“Wufan, maafkan aku..”

Kutepis tangannya kasar. Tanpa sadar kertas itu tak lagi rapi karena aku meremasnya. Kenapa? Kenapa harus dia orangnya!?

“Wufan..”

Lagi, kutepis tangannya yang berusaha menyentuhku.

“Kenapa..”

Gumaman lirih itu tanpa sadar terlontar dari mulutku. Perih. Mataku terasa panas. Oh, Tuhan. Tolong yakinkan bahwa ini hanyalah mimpi..

“Wufan.. dia gagal jan—”

“Tapi kau tak harus mendonorkan jantungmu demi kesembuhan Taeyeon, Jessica!”

“Wufan!” kali ini Jessica memekik. Air mata mulai mengalir lagi di pipi putihnya. Tidak.. kumohon jangan air mata lagi, itu hanya akan membuatku semakin sakit, Sica.. “Tolong mengertilah, Taeyeon membutuhkannya demi kelangsungan hidupnya,”

“Lalu mau kau apakan hidupmu sendiri, huh!?”

Masih sambil menangis, Jessica tersenyum. Ia menangkup kedua pipiku dengan tangannya yang hangat. Mengelusnya lembut dengan ibu jarinya.

“Dengar,” ia menatapku sendu “Taeyeon lebih membutuhkannya. Dua minggu lagi adalah hari pernikahannya. Bagaimana bisa dilangsungkan jika ia masih terbaring dan tak tahu pasti kapan akan sadar?”

“Batalkan saja pernikahannya. Batalkan perjodoha—”

“Dan membiarkannya mati begitu saja!?”

Kedua tangan Jessica turun menuju bahuku, kemudian meremasnya kuat disana. Namun rasa sakitnya bukan di bahu, melainkan di dadaku. Tepat di jantung, rasanya seperti ada yang merobeknya. Sesak, sakit..

“Wu Yi Fan. Aku hidup selama duapuluh empat tahun, tapi apa pernah aku merasa bahagia selain karenamu? Aku hanya ingin berguna untuk yang lain, terlebih pada Taeyeon yang sudah kuanggap keluargaku. Aku tak mau menyia-nyakan nyawaku seperti orangtua ku yang menyia-nyiakan aku,” kalimatnya itu membuatku terdiam. Tidak, kau salah. Kau berguna untuk jiwa dan ragaku, Jessica.

“Tolong, untuk kali ini saja izinkan aku untuk menunjukkan keberadaanku yang selama ini tak di anggap di dunia,”

Kenapa berkata seperti itu? Apa kau tak tahu bahwa segala kelakuanmu membuat orang mudah menyayangimu? mudah jatuh cinta pada sifat tulusmu. Pada kesederhanaanmu, pada kejujuranmu. Kau tak perlu melalukan ini, sungguh! Tak perlu kau merelakan nyawamu hanya untuknya.

Namun, seluruh kalimat yang sangat ingin aku ucapkan padanya tertahan di ujung lidahku. Rasanya tak mampu lagi aku berbicara dengan tenggorokan perih menahan tangis. Aku hanya mampu menatapnya dalam. Dan berharap bahwa ia mengerti maksudku. Aku hanya meminta satu hal padanya; berbahagialah, dan tetap berada di sisiku sekalipun nantinya kita tak akan bisa bersatu. Hanya itu, tak lebih..

“Ini juga demi kau. Demi keluarga masa depanmu nanti, Wu Yi Fan.”

Jessica tersenyum sambil berkata lirih seperti itu. Kalimatnya seakan menusuk dan mengiris perlahan hatiku. Bodoh, seharusnya kau merasakan berada di posisiku agar kau tau betapa menyakitkannya kalimatmu tadi.

“Demi berlangsungnya pernikahan kalian,” sambil mengucapkan itu, ia memeluk leherku dan mengecup bibirku lembut.

Dia, Jessica Jung. Seorang gadis yang akan mendonorkan jantungnya untuk sahabat semasa pantinya. Mendonorkan jantungnya demi kebahagiaan orang lain.

Mendonorkan jantungnya… untuk calon istriku.

Degup jantungku berdetak jauh lebih cepat. Tidak, aku belum rela melepasmu. Aku tidak akan pernah rela melepasmu, Jessica. Tak bisa kah kau menarik kembali keputusanmu? Kau sebelumnya bahkan sama sekali tak memberitahuku tentang rencana donor jantungmu sama sekali!

“Hei,”

Suara lembut itu masuk begitu saja kedalam indra pendengaranku. Kutengokkan kepalaku kearah sumber suara. Lagi, untuk kesekian kalinya hari ini, aku harus menahan nafas ketika melihatnya.

Jessica yang mengenakan baju pasien.

“Kau tahu, ini terasa nyaman,”

Berhenti berpura-pura, bodoh. Aku tahu kau hanya sedang berusaha untuk menenangkan dirimu sendiri yang sebenarnya juga takut. Dan menenangkan diriku yang terlihat begitu menyedihkan dengan mata bengkak dan rambut berantakan.

“Kau terlihat buruk dengan baju itu,”

“…Wufan,”

Kali ini Jessica duduk di sampingku dan meraih tangan kananku. Gadis itu menggenggamnya erat, seolah hendak memberikan seluruh kekuatan miliknya untukku. Ha, itu percuma. Hidup tanpa dirimu terasa sangat sulit untukku. Membayangkannya saja terasa menyakitkan, apa rasanya jika itu semua akan menjadi nyata? Entahlah. Yang pasti aku tak ingin itu terjadi.

“Kau tahu,” sambil meremas jemariku, Jessica tersenyum perlahan. “Bertemu denganmu di dunia seluas ini merupakan sebuah keajaiban untukku.” kini Jessica menyandarkan kepalanya pada bahuku. “Jika saat itu aku tak bertemu denganmu, mungkin saat itu aku sudah mati konyol,”

“Maksudmu?”

Bahu Jessica berguncang. Gadis iti tertawa lirih “Kau tak ingat bagaimana pertemuan pertama kita?” Aku hanya memilih untuk membungkam mulut. Disaat-saat seperti ini, aku ingin lebih banyak mendengar suaranya ketimbang mengobrol dengannya. Ya, suara beratku mengganggu suara merdunya.

“Saat itu aku hendak bunuh diri,” ia terkekeh pelan “melompat dari atas jembatan karena kupikir hidup dari seorang anak buangan sangatlah tak berguna. Keberadaanku hanya akan menjadi sampah masyarakat. Terlebih saat itu Taeyeon meninggalkanku karena ia telah menemukan orangtua kandungnya” gadis itu memembasahi bibirnya “yang ternyata adalah sahabat orangtuamu.”

Kalimat terakhirmu dapat kudengar dengan jelas meskipun suaramu hanya selirih angin, bodoh.

“Namun kau tiba-tiba datang.” Jessica kembali melanjutkan ceritanya “Menarik dan menamparku keras. Kau ingat, saat kau berteriak marah padaku? Aku tak menyangka tamparanmu tak hanya membuka mataku, tapi juga hatiku.” Jessica menghembuskan nafasnya berat “Padahal saat itu kita tidak saling mengenal,”

Siapa yang bilang kita tak saling mengenal? Kau ini tidak peka atau memang kelewat bodoh? Aku ini tetangga apartement lamamu! Dan aku… tak pernah berhenti untuk selalu menperhatikanmu.

“Sejak ada kau, aku merasa bahwa aku dibutuhkan. Kau yang tinggal sendiri, jauh dari orangtua, selalu membutuhkanku saat kau tak bisa memasak.. saat kau sakit.. saat kau kesulitan mengerjakan tugas sekolah. Dan.. masih banyak lagi,”

Semua itu kulakukan karena aku menyadari satu hal. Tak sekedar menginginkanmu, tapi aku membutuhkanmu. Hidupku bergantung padamu. Dan, tanpa kusadari duniaku telah berotasi padamu.

“Karena itu,” Jessica mengangkat kepalanya yang semula berada di bahuku. Ia menengokkan kepalanya ke samping untuk menatapku “Aku juga ingin berguna untuk oranglain selain dirimu. Aku ingin orangtuaku bangga dengan pengorbananku,”

Senyuman lembut yang terukir di bibirnya itu berhasil mengoyak, menghujam, kemudian merobek segala bentuk pertahanan hatiku. Tak bisa, terlalu sulit untuk menahan sakitnya..

“Anggap saja…” kelopak matanya menutup dan membuka dengan perlahan, seolah mencoba menikmati akhir hidupnya. “Bahwa pertemuan kita ini hanyalah mimpi. Segala hubungan dan kenangan kita selama ini hanyalah angan-angan dan impian manis yang berharap kita dapatkan,”

Sekeras mungkin aku berusaha untuk menelan kembali saliva dan air mata yang nyaris tumpah.

“Dan anggaplah bahwa perjodohanmu dengan Taeyeon adalah wujud nyata dari segala yang kau inginkan,”

Gadis itu meraih dan menangkup kedua pipiku, memaksaku agar menatap matanya yang mulai tertutupi oleh lapisan bening. Iris hazelitu tampak begitu nyaman untuk dipandang.

“Aku hanya hidup dalam imajinasimu,”

Cukup.

Kutarik ia kedalam dekapanku. Kulingkarkan lenganku erat-erat mengelilingi tubuh mungilnya. Punggungnya tampak begitu tegap dan kuat, namun itu hanyalah kamuflase semata. Ia hanyalah gadis biasa, dengan tubuh yang teramat rapuh. Bahkan kau dalat menghancurkannya dalam sekali tepukan. Hiduplah yang selama ini memaksanya untuk kuat.

“Jangan memaksakan dirimu, Jessica. Masih banyak hal berguna yang bisa kau lakukan selain hal ini. Percayalah, masih ada waktu untuk menarik kembali keputusan itu..”

Kurasakan kepalanya menggeleng dalam pelukanku. Seketika lututku terasa lemas.

“Keputusanku sudah bulat, karena itu aku ingin kau mendukungnya,”

Jessica mendongakkan kepalanya dan menatapku dengan matanya yang basah. Ia kembali menangkup pipiku dan mendekatkan wajahnya pada wajahku. Dalam jarak sedekat ini, aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat.

“Terimakasih untuk cintamu selama ini, Wufan.”

Sambil membisikkan kalimat itu, ia mengecupku lama. Kurasakan juga pipiku basah karena terkena tetesan air matanya.

Tolong… jangan meninggalkanku dengan kenangan semanis ini.

“Nona Jung?”

Suster pengganggu itu datang. Dengan canggung, kami harus rela melepas ciuman kami.

“Ya?”

“Semuanya telah siap,”

Jessica menarik nafasnua sedalam mungkin dan menghembuskannya perlahan. Gadisku itu tersenyum kearahku. Sejurus kemudian, bulan sabit itu muncul menghiasi wajah cantiknya. Tak hanya bibir, matanya juga ikut tersenyum menghadirkan kebahagiaan. Bukan untukku, melainkan kebahagiaan untuknya. Bagiku ini penderitaan.

Jessica naik ke atas ranjang yang akan membawanya menuju ruang operasi. Ia tertawa kecil.

“Jika kita memang ditakdirkan untuk bersama, percayalah bahwa kita akan bertemu lagi di kehidupan selanjutnya. Semuanya akan baik-baik saja,”

Dan suster itu membawanya pergi. Pergi menuju ruangan putih yang berisi segala macam peralatan yang terlihat begitu rumit. Ia pergi, dan tak mungkin kembali…

“Mimpi?”

Kucengram kemeja yang kukenakan dibagian dada. Tepat di jantung. Seperti ada sesuatu yang hilang disana. Rasanya kosong… hampa.

“Jika ini hanya mimpi, kenapa terasa begitu sakit?”

Kurasakan suaraku sendiri bergetar. Semakin lama tenggorokanku terasa semakin tercekat. Kau bilang ini hanya mimpi? Ini menyakitkan sekali, Tiffany! Bodoh, seharusnya manusia hina seperti akulah yang mengorbankan nyawa untuk orang lain.

Hina…

Aku telah berjanji kepada seorang Jessica Jung bahwa aku, Wu Yi Fan, akan menjadi pendamping sehidup sematinya. Namun, aku mengingkarinya. Pada akhirnya takdir memaksaku untuk merasakan keputus asaan. Merasa kecewa dan bersalah dengan mengakhiri sisa hidupku dengan seorang Kim Taeyeon.

“Aku… jauh lebih mencintaimu,”

Kutinju dinding yang berada di sampingku berkali-kali, hingga tanganku terluka dan berdarah. Semua itu kulakukan untuk melampiaskan perasaan yang terasa campur aduk. Marah, kecewa, sedih…

Seiring dengan melemahnya pukalanku, semakin mengalir deras air mataku. Tuhan, ini sungguh menyakitkan.. mengapa hal seperti ini harus terjadi?.

Raungan tangisku menggema di lorong rumah sakit ini. Hanya satu hal yang mulai sekarang akan kutanam dan kuyakinkan.

Semuanya… akan baik-baik saja.

“If I die tonight, I’d go with no regrets. If I in your arms, I know that I was blessed. And if your eyes are the last thing that I see, then I know the beautiful heaven hold on me..”

Kutunggu di depan ruangan itu dengan harap cemas. Sesekali kuhentakkan kakiku dengan keras ke lantai. Ha, penantian yang sungguh menyiksa.

Krek..

Setelah kurang lebih 4 jam menunggu, akhirnya pintu itu terbuka juga. Suster itu keluar membawa nyawa baru yang dibungkus dengan kain yang tampaknya terasa sangat hangat. Akhirnya… Kim Taeyeon, istriku, telah berhasil.

“Selamat, anak perempuan yang cantik,”

Ucapan suster itu seketik membuatku bernafas lega. Ia menyerahkannya padaku. Bayi yang nampak masih merah dengan matanya yang terpejam. Namun, meskipun terpejam, aku tak akan pernah melupakan mata itu. Ya, mata itu…

Selamat datang kembali ke dunia, Jessica.

—End

RCL?😀

Admin’s note: Maaf banget, ada kesalahan admin😦 . Kemarin waktu schedule pake komputer, biasanya pake laptop. Mungkin trasnlate di google chrome on, maaf banget. Biasanya suka di copy langsung dari hotmail, sekali lagi maaf🙂

28 thoughts on “[Freelance] Seize The Time

  1. Huaaa ini tulisannya karyanya nyentuh bgt. Hiskk!!! Jadi ikutan nangis. Huuuaaa jessica saking baiknya jadi begitu ya. Huuuu feelnya dapet banget2an huaaa aku suka aku suka!!!

  2. Gilaaaa pengen nangis banget bacanya. Jessica, padahal hidupnya udh berguna buat kris, eh malah lebih milih taeyeon huuu. Awalnya aku gx terlalau ngerti, tapi ternyata…… gitu ceritanya. Sedih banget… pokok ny ini best banget eon. Nulis krissica lagi yah, tapi happy ending. Fighting eonnieeee

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s