Beautiful Husband [Part 9B]

beautiful-husband2_priskila_melurmutia

Beautiful Husband [Part 9B : We Found That Love]

Writing by Priskila (@priskilaaaa)

Byun Baekhyun [EXO K] – Kim Taeyeon [SNSD]

Series | Teen | Romance – Family – Marriage Life

Disclaimer:

I don’t own the cast. But the storyline and the plot is mine. Everything here belongs to God and their family, their agency too. I just used their physical representation.

“Astaga… Chanyeol? Ini benar – benar kamu?”

Chanyeol hanya tersenyum kecil. Tiffany tampak begitu senang melihat dirinya saat ini, ah… sebenarnya dia juga. Siapa coba yang tidak senang bertemu dengan orang yang dicintainya? Chanyeol menghela nafasnya pelan, melirik pada lelaki tampan yang duduk di sebelah Tiffany.

“Sudah lama sekali aku tidak pernah melihatmu. Bagaimana kabarmu, Chan?” Bahkan Tiffany masih memanggilnya dengan panggilan sayang itu.

Chanyeol tersenyum – setidaknya ia tau fakta Tiffany mengingatnya dengan sangat baik. Tangannya mengusap tengkuk lehernya – tanda dia sedang gugup. “Aku baik. Bagaimana denganmu?” Chanyeol berusaha terlihat biasa – biasa saja, walaupun sebenarnya hatinya seperti sedang teriris melihat bagaimana lelaki di sebelah Tiffany itu mengenggam tangan Tiffany dengan mengusapnya lembut.

“Aku sudah menikah, Chan. Ini suamiku, namanya Kim Joonmyun”

Oh. Chanyeol mengangguk paham. Bahagia pasti si Tiffany itu, menikah dengan anak dari salah satu pengusaha terkaya di Korea Selatan. Apalagi melihat bagaimana Joonmyun mengelus kasih tangan Tiffany, pasti mereka adalah keluarga yang bahagia.

“Haha, begitu. Kapan menikahnya?” Chanyeol menarik pelan kursi kosong di sebelahnya dan meletakkannya di hadapan Tiffany, lalu duduk disitu – sebelumnya dia sudah memesan makanan untuk Tiffany dan suaminya itu.

“Satu tahun yang lalu. Baru kok, hehe. Terus kau sendiri? Sudah menikah? Pasti istrimu adalah wanita yang beruntung karena disayang oleh orang sepertimu,..”

Jleb

Chanyeol merasa tertohok. Ucapan Tiffany semakin melukai perasaannya. Bagaimana mungkin Chanyeol menikah dengan wanita lain jika saja dia masih menempatkan Tiffany sebagai pemilik dan pemegang kunci hatinya.

Tiffany, Tiffany… Chanyeol masih berharap dirinya dapat kembali denganmu. Tapi sayang, takdir berkata lain.

“Ah, tidak. Aku belum menikah” kata Chanyeol dengan pelan lalu terkekeh kaku.

Tiffany mengernyit, “Kenapa belum? Umurmu tahun ini 25,’kan? Harusnya sudah, Chan”

Berhenti berkata seperti itu, Tiff – Chanyeol seperti mau berteriak. Dia masih sayang pada gadis itu sejak mereka dibangku pendidikan dulu. Dia menggigit bibir bawahnya. Teringat akan kenangan dimana mereka masih menjalin kasih sejak masih di tingkat menengah hingga masuk ke tingkat SMA. Mereka sangat harmonis dan semua orang iri pada mereka. Bagaimana Tiffany mencium pipinya, bagaimana Tiffany menyuapkannya bekal buatan ibunya, dan lainnya – membuat Chanyeol saat itu bak pangeran paling bahagia sejagat raya. Namun sayang sekali, Tiffany harus pindah sekolah ke Amerika saat naik ke semester dua, membuat hubungan mereka renggang dan akhirnya lost contact.

Bolehkah dia berkata pada Tiffany kalau gadis itu masih mengisi hatinya dari 9 tahun yang lalu? Gadis itu peninggal tetap di sana.

Chanyeol tersenyum garing kemudian terkekeh, “Mungkin karena aku tidak menarik ya…”

“Eyy, mana mungkin—“ Omongan Tiffany terhenti ketika Sooyoung membawakan makanan pesanan Chanyeol untuk keluarga kecil di hadapannya itu. Bibirnya mengucapkan terima kasih dengan manis kepada Sooyoung ketika gadis itu menyingkir pergi dari mereka. Kemudian tangannya bergerak mengambil sumpit dan melahap sushi, “—emm, makanannya enak sekali. Kau masih tau saja kalau makanan kesukaanku sushi, Chan. Hehe, gomawo ne~”

Chanyeol mengangguk dan menyeruput orange juicenya dengan pelan – sembari menatap Tiffany yang asyik makan Lelaki itu menghela nafasnya ketika Tiffany menyuapkan beberapa potongan sushi kepada Joonmyun dan tertawa dengan suaminya itu. Dadanya bergemuruh – sakit sekali rasanya.

Kesunyian terjadi di antara keduanya ketika Joonmyun pamit pergi duluan dari acara makan siang itu. Kini hanya ada Tiffany yang sibuk membalas pesan di ponselnya, dan Chanyeol yang tidak tau harus melakukan apa. Tiffany melarangnya untuk melanjutkan pekerjaannya dulu – kita berbincang dulu, katanya. Tapi yang ada, malah Tiffany tampak sibuk dengan ponselnya – membalas pesan yang sedari tadi terus dikirim ke ponselnya.

“Aishh…” Gadis berambut hitam legam itu pada akhirnya melempar pelan ponselnya ke atas meja dan mengusap wajahnya frustasi. Tentu saja hal ini mengundang lirikan mata penasaran Park Chanyeol. “Wae? Ada masalah?”

Tiffany mengangguk lemas seraya tangannya mengaduk malas strawberry smoothiesnya, “Ada. Masalah sahabatku sih, tapi aish… aku ikut campur terlalu banyak hingga akhirnya aku pusing sendiri” ujar gadis itu dan mengerucutkan bibirnya.

Chanyeol lagi – lagi hanya tersenyum. Tiffany benar – benar tidak berubah sejak dulu. Masih saja gadis itu adalah gadis yang penasaran dan senang membantu orang lain, bahasa sehari – harinya kepo dengan masalah orang lain. “Oh, masalah apa memangnya – kalau aku boleh tau?”

Tiffany mendesah kasar lalu memandang Chanyeol dengan pandangan kesal, “Sahabatku itu sedang punya masalah dengan suaminya. Kau tau? Mereka sudah berpisah nyaris enam bulan dan sampai sekarang kerjaannya itu hanya menangis dan menangis saja. Bosan rasanya kalau dia sudah mengirim pesan dengan isi, ‘aku merindukan Baekhyun, Tiff’ dengan icon menangis—“

A—apa?

Buru – buru Chanyeol memotong, “—Tunggu… kau bilang apa tadi?”

Tiffany terdiam dan tampak tak mengerti. “Yang mana?”

“Sahabatmu itu, dia kirim pesan dengan isi apa?” Chanyeol menelan ludahnya. Terasa seperti deja vu. Dia berharap telinganya salah mendengar semuanya. Tidak mungkin sahabatnya Tiffany adalah Taeyeon yang sedang berpisah dengan Baekhyun. Dunia ini memang terlalu sempit jika hal itu benar terjadi.

“Ah, itu… Dia kirim pesan—“

Chanyeol menajamkan pendengaranya pada Tiffany. Dia harus mendengarkan dengan baik agar dirinya mengetahui hal itu dengan pasti.

“—Aku merindukan Baekhyun, Tiff”

Dan telinganya mendengar hal yang sama dengan yang tadi. Chanyeol menghembuskan nafasnya frustasi, sambil menggigit bibir bawahnya Chanyeol beranya,“Temanmu itu namanya Taeyeon?”

Tiffany tampak terkejut dengan perkataan Chanyeol. Dirinya yang sedang menyeruput minuman kesukaannya itu tersedak secara tiba – tiba. “Uhuk uhukk—“

“—Mwoya? Kau—tau?”

Chanyeol mengangguk dengan wajah masam. “Suami Taeyeon itu Baekhyun, ‘kan? Mereka sedang berpisah, ‘kan? Baekhyun kini ada di rumahku, Tiff”

“Mwoya?” Tiffany tertegun mendengar ucapan Chanyeol. Tidak mungkin…

“Byun Baekhyun dan Kim Taeyeon menikah enam bulan lalu,’kan?”

Tiffany menggeleng tak percaya. Sungguh, ini semua terasa tak mungkin. Bagaimana mungkin Chanyeol adalah sahabat Baekhyun? “Chan, dunia ini sempit sekali…”

“Baekhyun juga depresi karena berpisah dengan sahabatmu itu, Tiff. Dia sudah berubah. Benar – benar berubah…” Dan Chanyeol mulai menceritakan pada gadis dihadapan bagaimana Baekhyun yang datang ke rumahnya setengah tahun lalu hingga sekarang ini, bagaimana lelaki itu berubah menjadi lelaki keras yang berbeda jauh dari pribadinya yang dulu.

Terlihat sekali kalau Tiffany benar – benar terkejut. Terlebih saat Chanyeol mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto Baekhyun – yang diambil sekitar dua bulan lalu – yang sangat berbeda dari dirinya yang dulu. Bukan Baekhyun yang menggunakan kuteks pink polkadot dan pakaian berwarna pastel lagi, yang ada malah Baekhyun bermata tajam dengan aura manly. “I—itu… Baekhyun?” Tiffany menutup mulutnya dengan kedua tangannya – terlalu terkejut dengan perubahan Baekhyun.

Chanyeol mengangguk. Seusai dia kembali menyampirkan ponsel ke dalam kantong, Chanyeol membuka suara, “Aku ingin mereka bersama lagi, Tiff. Kasihan lihat Baekhyun begitu terus. Memang bagus dia berubah lebih jantan, hanya melihat apa dasar dia begitu, benar – benar miris”

Tiffany mengangguk setuju, namun gadis itu menghela nafasnya – seakan pasrah, “Tidak tau. Kalaupun bisa, bagaimana caranya, Chan? Mereka benar – benar sudah terlalu jauh”

Dan Chanyeol tau Tiffany benar. “Hahh..” Chanyeol menghembuskan nafasnya. Bebannya terasa begitu berat.

“Aish, jinjja…”

Taeyeon menendang salju yang menggunung di hadapannya. Wajah gadis itu terlihat begitu kesal. Sial sekali hari ini baginya. Sudah tidak membawa mobil, payung pun lupa dibawanya. Tiffany juga – tadi menjemputnya makan malam bersama – hingga akhirnya dia tidak membawa mobilnya, lalu kabur duluan dengan alasan kurang enak badan. Menyebalkan.

Taeyeon memeluk tubuhnya yang menggigil. Udara malam ini dingin dan kesialan ketiga… dia tidak menggunakan mantel tebal! OH HELL!

Jderr jdeer

Gadis itu mendongak. Menatap langit yang tampak mendung dan kosong – tanpa bintang ataupun bulan. “Sepertinya akan hujan…” gumamnya dan benar saja, beberapa saat kemudian, Seoul yang masih berserakan dengan salju di permukaannya, diguyur hujan yang sangat deras disertai gemuruh kilat yang saling bersusul – susulan.

“AISH!” Kakinya segera berlarian menuju halte terdekat. Taeyeon mendesis sebal, sial sial sial. Mantel tipisnya basah sudah oleh hujan sialan ini. “Tiffany… awas kau nanti”

Gadis itu memeluk tubuhnya kembali. Mengusap – usapnya berulang kali –berharap dingin yang menusuk tulangnya berkurang sedikit saja. Berkali – kali dalam hatinya dia merutuk sahabat terdekatnya itu, kalau bukan saja Tiffany adalah sahabatnya, sudah ada di tempat sampah kepala gadis berambut hitam legam itu!

“Hhhh.. Shh…”

Tubuhnya membeku seketika. Bukan, bukan karena suhu udara yang tiba – tiba naik menjadi -52 derajat celcius, tapi karena suara mendesis – yang dipastikan bukan dari dirinya sendiri – yang terdengar tak jauh darinya.

Perlahan kepalanya menengok ke sumber suara itu. Tampak di matanya seseorang sedang meringkuk di atas kursi halte. Wajahnya tak terlihat karena tertutup dengan lipatan tangan yang tertumpu di kedua lutut terlipat. Beberapa kali terdengar desahan ketakutan dari mulut orang itu.

Taeyeon mengernyit sedikit. Untuk sejenak, dia merasa kasihan dengan sosok orang yang tidak dikenalnya itu. Tapi ah, tunggu… seharusnya Taeyeon menjaga jarak dari orang itu. Bahaya sekali kalau misalnya orang itu ternyata adalah penjahat – penjahat yang mengecoh dengan bersikap menyedihkan.

“Jebal… Jebal… Jebalyo”

Kim Taeyeon membatu dalam sekejap. Suara orang itu terdengar tak asing di telinganya. Sangat tidak asing…

JDERRRR

Petir menyahut lagi. Bahkan Taeyeon harus menutup matanya berkali – kali karena kilat yang menyilaukan matanya.

“Jebal…”

Matanya terbuka perlahan. Suara lelaki itu terdengar sangat ketakutan.

“Baekhyun sangat takut pada petir, Taeyeon.”

“Oh jinjja?”

“Dia bahkan bisa menangis semalaman karena ketakutan. Ketakutannya itu hanya akan reda kalau dia dipeluk – mungkin karena dia merasa aman”

“Ba—baek?”

Mulutnya bergumam tanpa sadar. Dadanya bergemuruh – bahkan saat dia hanya menyebutkan nama orang itu. Dunianya seakan melambat ketika lelaki itu mengangkat kepalanya menatap Taeyeon. Lelaki itu menatapnya dengan tatapan miris – matanya sembab karena menangis.

Taeyeon terpaku. “Baek…” Tidak ada lagi saling menghindar, yang ada lelaki berambut hitam pekat itu tetap diam pada posisinya ketika Taeyeon perlahan menghampirinya – beringsut di sampingnya.

“Baekhyun-ah…” Dua detik kemudian, mereka saling membagi kehangatan dalam dekapan penuh rindu. Pelukan itu terlepas dengan enggan. Mata keduanya sudah basah oleh air mata. Tatapan rindu menguar hebat dari keduanya.

“Aku takut, Taeyeon-ah. Aku takut pada petir…” Baekhyun bergumam tak jelas lalu menarik Taeyeon kembali dalam pelukannya. Basah pipinya karena aliran air mata yang tak kunjung berhenti. Mulutnya terus menerus berbisik, “Aku takut. Sangat takut”

Taeyeon mengangguk dalam pelukan Baekhyun. Sesekali dia harus menarik nafas karena hebat tangisnya. Kepalanya tertunduk dalam dada Baekhyun, dan tangannya mengeratkan pelukan mereka. “Aku disini, Baekhyun… “

“Aku takut. Aku juga takut kehilanganmu lagi, Tae. Jangan pergi, aku tak mau kehilanganmu lagi. Aku tak bisa hidup tanpamu. Aku ketakutan dan sepi”

Karena aku sangat mencintaimu

Malam itu, Baekhyun kembali ke rumahnya yang sesungguhnya. Taeyeon mengajaknya pulang ke rumah, dan ia mengiyakannya. Bahkan Baekhyun tak dapat mengerti mengapa secara tiba – tiba dia menjadi sangat ingin dekat dengan Taeyeon – tak lagi menjauhi gadis itu seperti enam bulan belakangan ini.

Baekhyun sedang duduk di sofa ruang tamu apartemen mereka – ketika Taeyeon datang sambil membawa dua cangkir cokelat panas. “Minumlah,” katanya sambil memberikan satu cangkir cokelat panas pada Baekhyun. Baekhyun tersenyum kecil menerimanya kemudian meminumnya secara perlahan. Cuaca dingin di luar membuat hasratnya meminum minuman panas ini meningkat, hingga dalam waktu sebentar saja, gelas keramik itu sudah kosong tanpa isi.

“Huah, gomawo cokelatnya” Baekhyun tersenyum lebar kemudian menoleh pada Taeyeon – setelah menaruh gelasnya ke atas meja. Sesaat alisnya berkerut menjadi satu – menyadari Taeyeon tidak meminum cokelatnya sama sekali, gadis itu hanya mememgang gelas itu sembari memandanginya dengan senyum kecil.

“Waeyo…?” Baekhyun bertanya dengan hati – hati.

Taeyeon menggeleng pelan, “Tidak apa – apa, aku hanya…”

“…senang akhirnya kau kembali padaku”

Baekhyun tertegun mendengar hal tersebut. Namun sepersekian detik kemudian, sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman manis. “Sebenarnya aku tidak mau kembali padamu, aku menolak…” Tangan nakalnya bergerak meraih anak rambut Taeyeon yang jatuh dan menyampirkannya ke belakang cuping telinga gadis itu.

Taeyeon melongo dengan wajah imutnya, “M—mwoya?”. Dan hal itu tentu mengundang tawa kecil dari Baekhyun. Lelaki itu mendekatkan sedikit tubuhnya pada Taeyeon, tangannya mengambil gelas berisi cokelat panas yang masih penuh itu dan menaruhnya di atas meja. “Ka—kau mau apa?” Taeyeon bertanya gugup. Bagaimana tidak? Lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu menatapnya dengan sangat intens – membuat jantungnya harus rela bekerja tiga kali lebih cepat.

“…Aku memang menolak bertemu dengamu, tapi …” Tangannya meraih tangan kanan Taeyeon dan meletakkannya di atas dadanya, “… hatiku tidak dapat jauh – jauh darimu. Aku sepertinya benar – benar jatuh padamu, Byun Taeyeon…”

Blush

Pipi gadis berambut cokelat gelap itu spontan memerah. Astaga, sejak kapan Baekhyun berubah romantis seperti ini? batinnya berteriak terpesona oleh Baekhyun. Bahkan lelaki itu masih saja menatapnya dengan senyum yang sangat manis – membuatnya mau meleleh saat itu juga. Terlupakan semuanya saat – saat dimana dia harus menangis meraung – raung juga karena lelaki di hadapannya.

“Ba—baek—“

“Saranghaeyo nae yeobo…”

Sudah! Taeyeon tidak kuat lagi. Buru – buru dia menarik tangannya dari dada Baekhyun dan mengambil gelas kosong Baekhyun dan gelasnya, lalu segera berlalu ke dapur sana. Bahkan saat dia berjalan membelakangi Baekhyun, Taeyeon masih dapat merasakan tatapan intens Baekhyun yang membuntutinya.

Gadis itu menghela nafasnya ketika tangannya menaruh gelas – gelas itu di tempat cuci piring. Kepalanya menoleh sedikit ke arah ruang tamu dan nafasnya setidaknya dapat sedikit lebih lega.

Matanya menatap tangannya yang tadi digenggam oleh Baekhyun, dan pada saat itu juga pipinya memerah malu.

“Baekhyun sial—“

Grepp

“—Sial apa, huh? Sialan?”
Matanya seakan memaksa mau keluar ketika Baekhyun secara mendadak memeluknya dari belakang. Tidak Baekhyun, cukup! Taeyeon memberontak kecil dalam pelukan mendadak Baekhyun itu, lelaki itu memeluknya terlalu erat. “Y—yaa!”

Bukannya melepaskan, Baekhyun malah semakin mengeratkan pelukannya. Malahan tiga detik kemudian, dia membalik tubuh mungil Taeyeon –hingga mereka berhadapan dan memeluknya lagi.

“Baekhyunnie, lepas… Kau memelukku terlalu erat!”

Baekhyun menggeleng dalam pelukannya, “Aku takkan melepaskanmu lagi, Taeyeon. Kesalahan terbodohku karena pernah melepasmu dan meninggalkanmu…”

TBC

Note:

Sorry buat yang udah nunggu sampai 2 minggu >< Maaf banget buat pendeknya, dan semoga kalian suka sama part ini 😉

See you in ending part~

Advertisements

209 thoughts on “Beautiful Husband [Part 9B]

  1. fighting min buatnya aku tunggu sekarang ! karena ceritanya daebak daebak daebak! aku belain baca sampe jam sepuluh malem karena aku ingin membacanya tanpa ada 1 kata yang terlewatkan alhasil aku gk bisa tidur sampai dini hari

      • iya sama sama 😀 hehe aku baru ngeh ada ff ini ._. soalnya kan jarang buka wp dan ini tadi iseng iseng nyari ffbaekyeon dan akhirnya satu yang menarik perhatian ff ini #curcol wkwkwk.
        iya deh, terserah kamu aja kalo gitu. yang penting ya baekyeon tetep satu pas ending. update soon ya ^^

          • haha iya sih. tapi suka labil ._. kadang bisa tiba tiba semangat ada sesuatu tentang mereka. tapi kadang bisa mendadak bosen dan sejenak pindah ke krissica, seohun, yoonkai atau sufanny ._. wkwkwk, dan kebetulan di sini ada 3 pairing kesukaan aku XD

            hha berarti aku saudaramu (?)

        • haha iya sih. tapi suka labil ._. kadang bisa tiba tiba semangat ada sesuatu tentang mereka. tapi kadang bisa mendadak bosen dan sejenak pindah ke krissica, seohun, yoonkai atau sufanny ._. wkwkwk, dan kebetulan di sini ada 3 pairing kesukaan aku XD

          hha berarti aku saudaramu (?)

          • wkwkwk
            aku juga gitu. kadang sih tapinya. kadang suka sama krissica, kadang suka seohun, tapi juga naksir banget sama seohan.
            btw, disini juga semua otp aku lho~

            hahaha,, my lost sisteeer~ (?)

  2. Ahh akhirnya mereka baikan, seneng bangett 🙂
    Tapi kpan kak dilanjutin?? Udah lama banget nggak di update ;-( pengen tau kelanjutan cerita mereka.
    Cepet di update ya kak!!

  3. Uwahh akhirnya ak bisa baca ff ini lagii!! Sampe lumutan pingin baca ff ini lagi…
    Kpn dilanjutin?? Udah lama banget nggak ada tanda” ff ini bakal dilanjutin

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s