[Freelance] Teens Married Life (Chapter 1)

?????????????????????????????????

Judul : Teens Married Life [Chapter 1]

Genre : romance, life, family, life-marriage

Main cast : Seo Joo Hyun / Seohyun (SNSD), Xi Lu Han (EXO M)

Support cast : Wu Yi Fan / Kris (EXO M), Oh Se Hun (EXO K), Kwon Yu Ri (SNSD), Choi Jin Ri / Sulli (F(x)), Im Yoon Ah / Yoona (SNSD), Lee Sun Kyu / Sunny (SNSD)

Length : chapter

Rating : PG-13

Author : vii

My wordpress : http://vivivanviction.wordpress.com

Thanks for poster : http://thaniagallery.wordpress.com

Halo readers! FF ini request dari Thania *untuk lebih jelas lihat di wordpressku* tapi semua ceritanya murni ideku, Thania hanya memberi gambaran awal saja. Jadi ff ini murni karyaku. Dilarang jadi siders, copycat, plagiator, dan jangan lupa komentar ya! Jangan lupa kunjungi wordpressku!

.

.

Seohyun melangkah keluar dari kamarnya. Hari itu dia tidak pergi ke luar seperti yang biasanya dilakukan, tapi dia hanya berdiam di rumah saja. Dengan baju tipis dan celana pendeknya, dengan santai dia menuruni tangga rumahnya. Samar-samar, dia mendengar suara percakapan beberapa orang.

“Hm..? Itu sepertinya suara Appa, Eomma, lalu ada siapa lagi, ya?” Seohyun berjalan mendekati ruang tamu yang jaraknya masih sangat jauh. Itu karena ukuran rumahnya yang sangat besar.

“Seohyun…! Kamu sudah bangun?” tiba-tbia Eommanya Seohyun muncul dari ruang tamu.

Eomma, di luar itu siapa?” tanya Seohyun pada Eommanya.

“Ya ampun, Seohyun! Mengapa kau bisa lupa? Dan apa yang kau pakai ini? Baju lusuh dan … celana super pendek? Cepat ganti dengan pakaian yang bagus dan sopan! Kau harus menemui beberapa orang di luar sana.”

“Aah, Eomma. Eomma saja tidak pernah memberitahu aku, mana mungkin aku bisa tahu? Ah, ya sudah. Aku ganti dulu ya..”

Seohyun pun menaiki tangga dan kembali menuju kamarnya. Di dalam hatinya dia berpikir, siapa yang akan ditemuinya. Orang tuanya tidak pernah membicarakan masalah apapun padanya.

Seohyun membuka lemarinya yang penuh dengan baju, celana dan berbagai macam pakaian itu, lalu mengganti bajunya dengan baju yang sedikit bermodel dan memakai celana panjang berbahan jeans. Setelah mematut-matut dirinya di cermin, Seohyun pun turun dari kamarnya menuju ruang tamu.

“Seohyun… mengapa kau lama sekali?!” teriak Eommanya dari ruang tamu.

“Sabar Eommaaaa. Berjalan itu butuh waktuuuu..” balas Seohyun.

Tidak lama kemudian, Seohyun pun sampai di ruang tamu. Tapi, tidak ada satu orang pun dari tamu itu yang dikenalnya.

“Mereka siapa, Eomma?” tanya Seohyun, duduk di samping Eomma.

“Kenalkan, ini calon anaemu.”

MWO??!!! AKU TIDAK MAUUUU!!!” Seohyun langsung berdiri.

“Memangnya aku mau?” celetuk namja yang pastinya dijodohkan dengan Seohyun.

“Duduk, Seohyun. Bersikap sopanlah, Seo.” Perintah Appanya. Seohyun pun duduk kembali dengan wajah shock.

“Jadi, mereka ini dari Xi Corporation. Bila kalian menikah nanti, pasti Seo Corporation Dan Xi Corporation akan semakin maju. Kalian mengerti, bukan? Jadi, kalian akan menikah tiga bulan lagi. Kami sudah mengurus semuanya. Mulai dari gedung, undangan, katering, souvenir, dan yang lainnya. Kalian setuju, bukan?”

“Aku tidak mau! Pokoknya aku tidak mau!” Seohyun langsung berdiri dari sofa empuk di rumahnya itu dan keluar dari rumah.

“Bo-bolehkah aku mengejar Seohyun?” tanya namja itu takut-takut.

“Tentu. Cepat, sebelum dia jauh. Asal kau tahu, Seohyun punya kecepatan tinggi dalam berlari.” Eommanya Seohyun mengangguk.

“Sebaiknya aku berjalan kaki atau—”

“Cepat kau pakai mobil Appa. Kalau kau hanya berjalan kaki kami pastikan kau kehilangan jejaknya.”

Namja itu pun berlalu dari mereka, mengendarai mobilnya.

Di mana Seohyun berada? Mengapa aku tidak melihatnya? Pikir namja itu.

Tiba-tiba, dia melihat seorang yeoja yang terduduk di pinggir jalan sambil menangis. Dan itu adalah Seohyun. Namja itu pun turun dari mobil dan mendekati Seohyun yang sedang menangis.

“Seohyun, ayo kita pulang,” ajak namja itu sambil memegang pundak Seohyun.

“Tidak mau! Hiks.. hiks.. dan bahkan aku tidak tahu kau siapa..” Seohyun tetap saja menangis.

“Aku anak dari pemilik Xi Corporation, Luhan. Xi Lu Han.”

“Apa? Siluman?” tanya Seohyun balik.

“Kau meledekku ya?” Luhan menatap mata Seohyun ang masih saja menitikkan air mata.

“Tidak.. hiks.. memang kedengarannya begitu, Luhan-ssi…” Seohyun menunduk.

“Sudahlah, lihat, orang-orang melihatmu menangis di tepi jalan. Pasti mereka menuduh aku yang menjadi pelakunya karena kau telah menangis.”

“Aku tidak peduli! Lagipula jalan juga masih sepi. Dan aku tidak mau pulang!” rengek Seohyun.

“Ya sudah, aku membawamu jalan-jalan. Otte?”

Seohyun menggeleng.

“Shopping?”

Seohyun menggeleng lagi.

“Bagaimana jika kita pergi bermain?” Luhan tersenyum.

“Kau kira aku anak kecil?”

“Tapi tingkah lakumu seperti anak kecil, Seohyun.”

Luhan kembali tersenyum. Dan, Luhan mendapat ide.

“SEOHYUN!!! DI KEPALAMU ADA SERANGGA!!”

“BENARKAH? AAAA..!!!” Seohyun langsung berdiri dan menjauh dari tempat di mana dia duduk tadi.

Luhan berlari ke arah Seohyun.

“Kau membohongiku ya?” ucap Seohyun sambil mengerucutkan bibirnya.

“Ya, untuk membuatmu berdiri dari tempat itu. Habisnya kau seperti anak kecil. Ayo masuk ke mobilku. Aku akan menjadi sopir pribadimu.”

“Sopir pribadi?” Seohyun membulatkan kedua matanya. Kedengarannya jauh lebih menyenangkan daripada ajakan Luhan yang sebelumnya.

“Baiklah.” Seohyun langsung memasuki mobil Luhan.

“Bawa aku ke toko boneka, ya!” pinta Seohyun.

“Baiklah.”

Dalam perjalanan, Seohyun hanya diam, begitu juga Luhan.

“Luhan-ssi, sebenarnya apa tujuan orangtua kita menjodohkan kita?”

Luhan menggeleng tidak tahu. “Aku tidak tahu. Ehm, apa kau sudah mempunyai namjachingu?” tanya Luhan pada Seohyun.

“Sebenarnya… aku dan dia saling menyukai… Tapi orangtuaku selalu menganggap aku gila bila aku ingin menjalin hubungan dengannya… Asal kau tahu, dia ada di toko boneka itu.” Seohyun mengerucutkan bibirnya lagi.

“Oh… pasti namja itu orang yang sabar, ya. Kalau tidak, mana bisa dia menyukaimu?! Hanya orang gila yang menyukaimu.”

“Ish! Aku benci padamu!” Seohyun menggerutu.

“Ya terserah saja. Aku juga tidak menyukaimu. Ayo, kita sudah sampai.”

Luhan dan Seohyun pun berhenti di toko boneka yang dimaksud Seohyun. Mereka memasuki toko itu bersama-sama. Luhan berdiri menatap Seohyun yang menjauh darinya. Entah apa yang dicari Seohyun. Oh ya, kata Seohyun orang yang disukainya ada di toko boneka itu.

“Seohyun, mana orang yang kau suka itu?” bisik Luhan di telinga kiri Seohyun.

“Luhan-ssi! Kau mengejutkanku!” Seohyun menoleh ke arah kiri. Kini wajah Luhan dan Seohyun sangat dekat.

“Luhan-ssi! Bisa-bisa namjachinguku marah melihat wajah kita terlalu dekat,” bisik Seohyun pelan.

“Memangnya mana namjachingumu?” tantang Luhan.

“Ini..!” Seohyun menunjuk ke deretan boneka Keroro.

“Kau gila?!” Luhan sangat terkejut.

“Aku benci padamu! Aku kira kau tidak seperti orangtuaku, tetapi kau sama saja! Aku benci padamu, Luhan-ssi!” Seohyun memukul-mukul dada bidang Luhan yang dilapisi kemeja tipis.

“Sst..! Jangan begitu, Seohyun, kau sedang di toko! Ambillah boneka apa yang kau inginkan, nanti aku yang membayarnya.”

“Benarkah Luhan-ssi?” mata Seoyun berbinar-binar.

“Ya.. padahal menyesal juga aku mengatakan kalimat itu.” Luhan mendegus.

“Apa katamu, Luhan-ssi?” Seohyun menatap tajam ke arah Luhan.

“Tidak.”

***

Sudah beberapa hari Luhan terus-terusan datang ke rumah Seohyun. Sebenarnya itu juga dipaksa oleh orangtuanya. Luhan dan Seohyun tidak habis pikir, mengapa mereka begitu dipaksa oleh orangtua masing-masing. Padahal umur mereka masih muda. Seohyun masih berumur 18 tahun, sedangkan Luhan 19 tahun.

“Seohyun, kapan kalian mencoba baju pengantin kalian?” tanya Eommanya di dapur. Ya, saat ini Seohyun dan Luhan sedang berada di dapur karena mereka disuruh minum oleh Eomma Seohyun.

Seohyun yang sedang menyeruput teh panas langsung menyemburkan teh panas itu keluar dari mulutnya saking kagetnya. Dan Luhan yang duduk di hadapan Seohyun hanya menggelengkan kepalanya. Dia juga hampir tersedak oleh minumannya.

Eomma bilang apa?! Menikah? Tapi aku tidak mau… Aku tidak mau!” Seohyun kembali menitikkan air mata.

“Tapi ini demi kebaikan kalian dan perusahaan kita juga, Seohyun.”

“Aku tidak mau!” Seohyun langsung berlari masuk ke kamarnya.

“Seohyun! Eommonim, apa aku boleh mengejarnya?” tanya Luhan.

“Mengapa hanya itu yang kau tanyakan sih ketika Seohyun pergi? Ini kunci duplikat kamarnya.” Eommanya Seohyun mengambil kunci duplikat kamar Seohyun dari balik saku celananya.

Gamsahamnida, Eommonim.

Luhan berlari mengikuti Seohyun. Tidak, Luhan hanya mengikuti nalurinya saja, karena dia tidak tahu kamar Seohyun di lantai berapa. Dia juga tahu bahwa ternyata Seohyun berlari dengan sangat cepat. Dan dia lupa bertanya pada Eomma Seohyun yang telah dipanggilnya dengan sebutan Eommonim itu.

“Aku benci.. hiks..” Luhan mendengar suara tangisan Seohyun samar-samar.

Dengan ragu, dia melangkah mendekat ke salah satu pintu ruangan yang ditebaknya adalah kamar Seohyun. Dan, benar saja. Suara tangisan Seohyun semakin jelas. Tanpa ragu, Luhan langsung membuka pintu kamar Seohyun yang ternyata memang telah dikunci.

Luhan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kamar itu beruansa pink, seperti kamar yeoja kebanyakan. Kamar itu sangat rapi. Tapi mengapa tidak ada Seohyun? Seohyun tidak berbaring di kasur king-size miliknya, tidak duduk di meja belajar di kamarnya, dan juga tidak berbaring atau duduk di lantai. Tapi suaranya sangat jelas.

Luhan berjalan ke sumber suara itu. Ternyata, di kamar Seohyun ada sebuah kamar mandi. Pantas saja Luhan tidak melihat Seohyun. Tapi, bagaimana cara membuat Seohyun keluar?

“Seohyun?” Luhan mengetuk pintu kamar mandi Seohyun.

“Mengapa kau bisa masuk ke kamarku, Luhan-ssi?” ucap Seohyun sambil menangis.

“Aku punya beberapa trik sulap. Ehm, keluarlah, Seohyun. Eommamu mengkhawatirkanmu.”

“Untuk apa dia mengkhawatirkan aku? Dia tidak peduli padaku. Dia hanya peduli dengan perusahaan.”

Luhan menghela napas mendengar jawaban Seohyun. Sebenarnya dia juga dipaksa oleh orangtuanya, tapi dia hanya pasrah, tidak seperti Seohyun yang selalu melawan. Tapi yang dilakukan Seohyun memang benar.

Luhan berjalan ke arah rak boneka milik Seohyun yang penuh dengan boneka Keroro dengan berbagai macam pose. Luhan mengambil salah satu boneka Keroro itu, lalu berjalan mendekat ke arah pintu kamar mandi Seohyun.

“Seohyun? Namjachingumu menyuruhmu keluar. Keluarlah dari kamar mandimu,” pinta Seohyun.

Namjachingu? Aku tidak pernah punya namjachingu. Yang ada malah aku langsung dinikahkan paksa dengan namja jelek yang belum terlalu aku kenal.”

“Kau menyebutku namja jelek? Sepertinya kau salah, Seohyun. Hampir semua orang yang melihatku mengatakan wajahku sangat tampan seperti malaikat.” Luhan membanggakan dirinya sendiri. Tapi dia terkejut mendengar suara tertawa di dalam kamar mandi.

“Sebenarnya kau sedang apa di kamar mandi?” tanya Luhan.

“Tidak tahukah kau bahwa aku sedang mandi? Dan sekarang aku sudah selesai. Bisakah kau keluar dari kamarku?” pinta Seohyun.

“Tidak. Kau pasti berbohong.” Luhan yakin dengan jawabannya.

“Aku tidak berbohong, Luhan-ssi. Aku harus berpakaian. Apa kau ingin menungguku terus sampai aku keriput di dalam kamar mandi?” tanya Seohyun.

“Ya, baiklah.”

Mendengar tidak ada suara Luhan di kamar, Seohyun keluar dari kamar mandi dengan mata sembap. Dan dia tidak mandi. Ternyata dia membohongi Luhan.

“Kau terlalu mudah dibohongi, Luhan-ssi. Untuk apa jam enam pagi aku mandi dan jam delapan pagi aku mandi lagi?” Seohyun berbicara dengan dirinya sendiri sambil mematut-matut dirinya di cermin.

“Siapa yang mudah dibohongi? Justru kau terjebak dengan permainanmu sendiri, Seohyun. Aku tidak mendengar suara air sedikit pun saat berada di depan pintu kamar mandimu.” Ucap Luhan sambil keluar dari balik pintu kamar Seohyun.

“Luhan-ssi! Kau tidak sopan! Kau memasuki kamar yeoja tanpa izin!” teriak Seohyun.

“Ya, aku akan keluar. Tapi tangkap namjachingumu.” Luhan melempar boneka Keroro yang tadi diambilnya.

***

Luhan dan Seohyun berjalan sambil mencoba pakaian yang akan digunakan di pernikahan mereka. Seohyun memang tidak dapat mengelak lagi tentang pernikahan itu. Kata orangtuanya, perusahaan mereka dapat goyah bila tidak dibantu Xi Corp, begitu juga dengan orangtua Luhan yang berkata seperti yang orangtua Seohyun katakan juga.

“Kau terlihat cantik memakai gaun itu, nona.” Seorang pelayan memandangi Seohyun yang memakai gaun pengantin.

Seohyun melihat pantulan dirinya di cermin. Gaun tanpa lengan itu melekat dengan pas di tubuhnya. Gaun itu pilihan Eommanya. Gaun itu sangat indah, dipenuhi dengan hiasan yang membuat pemakainya terlihat glamour.

“Kau terlihat cantik memakai gaun itu, nona.” Suara seorang namja mengagetkannya.

“Luhan-ssi?” Seohyun menatap ke arah Luhan.

“Luhan-ssi, kau juga sangat ….”

“Tampan?” tanya Luhan penasaran.

“Kau sangat cantik, Luhan-ssi. Apakah kau pernah menjadi yeoja dan melakukan transgender?” tanya Seohyun dengan polos.

“Aku ini namja asli, tahu!” Luhan mendegus kesal. Tapi, dia tak henti-hentinya memandang ke arah Seohyun yang terlihat sangat cantik.

Luhan mendekatkan wajahnya ke wajah Seohyun. Seohyun terlihat sangat gugup dan bingung apa yang harus dilakukannya. Seohyun memejamkan matanya karena takut. Mengapa Luhan terlihat sangat aneh?

Satu centimeter lagi bibir mereka bertemu, Luhan menjauhkan bibirnya dari bibir Seohyun. Seohyun terkejut, namun juga senang karena Luhan tidak jadi menciumnya. Artinya, first kissnya masih utuh.

“Aku belum menjadi anaemu, jadi aku tidak boleh menciummu. Tapi kalau hanya mencium sedikit, boleh kan?” Luhan langsung mencium pipi Seohyun.

“Seohyun, apa kau kira aku serius dengan perkataan dan perbuatan tadi? Termasuk mencium pipimu?” bisik Luhan di telinga kanan Seohyun.

Seohyun tidak menjawab.

“Itu hanya lelucon, Seohyun. Kita sekarang satu-kosong!” ucap Luhan.

“Kau menyebalkan, Luhan. Tapi tidak apa, aku juga tidak ingin kau menciumku.” Seohyun mengusap-usap pipi kanannya yang dicium Luhan. Lalu, Seohyun menempelkan tangannya di pipi Luhan dengan agak keras.

“Ciumanmu kembali, Luhan. Simpan ciuman itu di pipimu!” ucap Seohyun lalu pergi meninggalkan Luhan ke ruang ganti.

“Itu termasuk ciuman yang dikembalikan atau tamparan pembalasan?” Luhan bingung.

“Tuan, silakan anda coba baju ke dua anda.” Luhan hanya menangguk melihat pakaian yang harus dipakainya di prosesi pernikahan.

 

TBC

.

.

Bagaimana ya chapter selanjutnya? Tunggu, ya!

Judul : Teens Married Life [Chapter 1]

Genre : romance, life, family, life-marriage

Main cast : Seo Joo Hyun / Seohyun (SNSD), Xi Lu Han (EXO M)

Support cast : Wu Yi Fan / Kris (EXO M), Oh Se Hun (EXO K), Kwon Yu Ri (SNSD), Choi Jin Ri / Sulli (F(x)), Im Yoon Ah / Yoona (SNSD), Lee Sun Kyu / Sunny (SNSD)

Length : chapter

Rating : PG-13

Author : vii

My wordpress : http://vivivanviction.wordpress.com

Thanks for poster : http://thaniagallery.wordpress.com

Halo readers! FF ini request dari Thania *untuk lebih jelas lihat di wordpressku* tapi semua ceritanya murni ideku, Thania hanya memberi gambaran awal saja. Jadi ff ini murni karyaku. Dilarang jadi siders, copycat, plagiator, dan jangan lupa komentar ya! Jangan lupa kunjungi wordpressku!

.

.

Seohyun melangkah keluar dari kamarnya. Hari itu dia tidak pergi ke luar seperti yang biasanya dilakukan, tapi dia hanya berdiam di rumah saja. Dengan baju tipis dan celana pendeknya, dengan santai dia menuruni tangga rumahnya. Samar-samar, dia mendengar suara percakapan beberapa orang.

“Hm..? Itu sepertinya suara Appa, Eomma, lalu ada siapa lagi, ya?” Seohyun berjalan mendekati ruang tamu yang jaraknya masih sangat jauh. Itu karena ukuran rumahnya yang sangat besar.

“Seohyun…! Kamu sudah bangun?” tiba-tbia Eommanya Seohyun muncul dari ruang tamu.

Eomma, di luar itu siapa?” tanya Seohyun pada Eommanya.

“Ya ampun, Seohyun! Mengapa kau bisa lupa? Dan apa yang kau pakai ini? Baju lusuh dan … celana super pendek? Cepat ganti dengan pakaian yang bagus dan sopan! Kau harus menemui beberapa orang di luar sana.”

“Aah, Eomma. Eomma saja tidak pernah memberitahu aku, mana mungkin aku bisa tahu? Ah, ya sudah. Aku ganti dulu ya..”

Seohyun pun menaiki tangga dan kembali menuju kamarnya. Di dalam hatinya dia berpikir, siapa yang akan ditemuinya. Orang tuanya tidak pernah membicarakan masalah apapun padanya.

Seohyun membuka lemarinya yang penuh dengan baju, celana dan berbagai macam pakaian itu, lalu mengganti bajunya dengan baju yang sedikit bermodel dan memakai celana panjang berbahan jeans. Setelah mematut-matut dirinya di cermin, Seohyun pun turun dari kamarnya menuju ruang tamu.

“Seohyun… mengapa kau lama sekali?!” teriak Eommanya dari ruang tamu.

“Sabar Eommaaaa. Berjalan itu butuh waktuuuu..” balas Seohyun.

Tidak lama kemudian, Seohyun pun sampai di ruang tamu. Tapi, tidak ada satu orang pun dari tamu itu yang dikenalnya.

“Mereka siapa, Eomma?” tanya Seohyun, duduk di samping Eomma.

“Kenalkan, ini calon anaemu.”

MWO??!!! AKU TIDAK MAUUUU!!!” Seohyun langsung berdiri.

“Memangnya aku mau?” celetuk namja yang pastinya dijodohkan dengan Seohyun.

“Duduk, Seohyun. Bersikap sopanlah, Seo.” Perintah Appanya. Seohyun pun duduk kembali dengan wajah shock.

“Jadi, mereka ini dari Xi Corporation. Bila kalian menikah nanti, pasti Seo Corporation Dan Xi Corporation akan semakin maju. Kalian mengerti, bukan? Jadi, kalian akan menikah tiga bulan lagi. Kami sudah mengurus semuanya. Mulai dari gedung, undangan, katering, souvenir, dan yang lainnya. Kalian setuju, bukan?”

“Aku tidak mau! Pokoknya aku tidak mau!” Seohyun langsung berdiri dari sofa empuk di rumahnya itu dan keluar dari rumah.

“Bo-bolehkah aku mengejar Seohyun?” tanya namja itu takut-takut.

“Tentu. Cepat, sebelum dia jauh. Asal kau tahu, Seohyun punya kecepatan tinggi dalam berlari.” Eommanya Seohyun mengangguk.

“Sebaiknya aku berjalan kaki atau—”

“Cepat kau pakai mobil Appa. Kalau kau hanya berjalan kaki kami pastikan kau kehilangan jejaknya.”

Namja itu pun berlalu dari mereka, mengendarai mobilnya.

Di mana Seohyun berada? Mengapa aku tidak melihatnya? Pikir namja itu.

Tiba-tiba, dia melihat seorang yeoja yang terduduk di pinggir jalan sambil menangis. Dan itu adalah Seohyun. Namja itu pun turun dari mobil dan mendekati Seohyun yang sedang menangis.

“Seohyun, ayo kita pulang,” ajak namja itu sambil memegang pundak Seohyun.

“Tidak mau! Hiks.. hiks.. dan bahkan aku tidak tahu kau siapa..” Seohyun tetap saja menangis.

“Aku anak dari pemilik Xi Corporation, Luhan. Xi Lu Han.”

“Apa? Siluman?” tanya Seohyun balik.

“Kau meledekku ya?” Luhan menatap mata Seohyun ang masih saja menitikkan air mata.

“Tidak.. hiks.. memang kedengarannya begitu, Luhan-ssi…” Seohyun menunduk.

“Sudahlah, lihat, orang-orang melihatmu menangis di tepi jalan. Pasti mereka menuduh aku yang menjadi pelakunya karena kau telah menangis.”

“Aku tidak peduli! Lagipula jalan juga masih sepi. Dan aku tidak mau pulang!” rengek Seohyun.

“Ya sudah, aku membawamu jalan-jalan. Otte?”

Seohyun menggeleng.

“Shopping?”

Seohyun menggeleng lagi.

“Bagaimana jika kita pergi bermain?” Luhan tersenyum.

“Kau kira aku anak kecil?”

“Tapi tingkah lakumu seperti anak kecil, Seohyun.”

Luhan kembali tersenyum. Dan, Luhan mendapat ide.

“SEOHYUN!!! DI KEPALAMU ADA SERANGGA!!”

“BENARKAH? AAAA..!!!” Seohyun langsung berdiri dan menjauh dari tempat di mana dia duduk tadi.

Luhan berlari ke arah Seohyun.

“Kau membohongiku ya?” ucap Seohyun sambil mengerucutkan bibirnya.

“Ya, untuk membuatmu berdiri dari tempat itu. Habisnya kau seperti anak kecil. Ayo masuk ke mobilku. Aku akan menjadi sopir pribadimu.”

“Sopir pribadi?” Seohyun membulatkan kedua matanya. Kedengarannya jauh lebih menyenangkan daripada ajakan Luhan yang sebelumnya.

“Baiklah.” Seohyun langsung memasuki mobil Luhan.

“Bawa aku ke toko boneka, ya!” pinta Seohyun.

“Baiklah.”

Dalam perjalanan, Seohyun hanya diam, begitu juga Luhan.

“Luhan-ssi, sebenarnya apa tujuan orangtua kita menjodohkan kita?”

Luhan menggeleng tidak tahu. “Aku tidak tahu. Ehm, apa kau sudah mempunyai namjachingu?” tanya Luhan pada Seohyun.

“Sebenarnya… aku dan dia saling menyukai… Tapi orangtuaku selalu menganggap aku gila bila aku ingin menjalin hubungan dengannya… Asal kau tahu, dia ada di toko boneka itu.” Seohyun mengerucutkan bibirnya lagi.

“Oh… pasti namja itu orang yang sabar, ya. Kalau tidak, mana bisa dia menyukaimu?! Hanya orang gila yang menyukaimu.”

“Ish! Aku benci padamu!” Seohyun menggerutu.

“Ya terserah saja. Aku juga tidak menyukaimu. Ayo, kita sudah sampai.”

Luhan dan Seohyun pun berhenti di toko boneka yang dimaksud Seohyun. Mereka memasuki toko itu bersama-sama. Luhan berdiri menatap Seohyun yang menjauh darinya. Entah apa yang dicari Seohyun. Oh ya, kata Seohyun orang yang disukainya ada di toko boneka itu.

“Seohyun, mana orang yang kau suka itu?” bisik Luhan di telinga kiri Seohyun.

“Luhan-ssi! Kau mengejutkanku!” Seohyun menoleh ke arah kiri. Kini wajah Luhan dan Seohyun sangat dekat.

“Luhan-ssi! Bisa-bisa namjachinguku marah melihat wajah kita terlalu dekat,” bisik Seohyun pelan.

“Memangnya mana namjachingumu?” tantang Luhan.

“Ini..!” Seohyun menunjuk ke deretan boneka Keroro.

“Kau gila?!” Luhan sangat terkejut.

“Aku benci padamu! Aku kira kau tidak seperti orangtuaku, tetapi kau sama saja! Aku benci padamu, Luhan-ssi!” Seohyun memukul-mukul dada bidang Luhan yang dilapisi kemeja tipis.

“Sst..! Jangan begitu, Seohyun, kau sedang di toko! Ambillah boneka apa yang kau inginkan, nanti aku yang membayarnya.”

“Benarkah Luhan-ssi?” mata Seoyun berbinar-binar.

“Ya.. padahal menyesal juga aku mengatakan kalimat itu.” Luhan mendegus.

“Apa katamu, Luhan-ssi?” Seohyun menatap tajam ke arah Luhan.

“Tidak.”

***

Sudah beberapa hari Luhan terus-terusan datang ke rumah Seohyun. Sebenarnya itu juga dipaksa oleh orangtuanya. Luhan dan Seohyun tidak habis pikir, mengapa mereka begitu dipaksa oleh orangtua masing-masing. Padahal umur mereka masih muda. Seohyun masih berumur 18 tahun, sedangkan Luhan 19 tahun.

“Seohyun, kapan kalian mencoba baju pengantin kalian?” tanya Eommanya di dapur. Ya, saat ini Seohyun dan Luhan sedang berada di dapur karena mereka disuruh minum oleh Eomma Seohyun.

Seohyun yang sedang menyeruput teh panas langsung menyemburkan teh panas itu keluar dari mulutnya saking kagetnya. Dan Luhan yang duduk di hadapan Seohyun hanya menggelengkan kepalanya. Dia juga hampir tersedak oleh minumannya.

Eomma bilang apa?! Menikah? Tapi aku tidak mau… Aku tidak mau!” Seohyun kembali menitikkan air mata.

“Tapi ini demi kebaikan kalian dan perusahaan kita juga, Seohyun.”

“Aku tidak mau!” Seohyun langsung berlari masuk ke kamarnya.

“Seohyun! Eommonim, apa aku boleh mengejarnya?” tanya Luhan.

“Mengapa hanya itu yang kau tanyakan sih ketika Seohyun pergi? Ini kunci duplikat kamarnya.” Eommanya Seohyun mengambil kunci duplikat kamar Seohyun dari balik saku celananya.

Gamsahamnida, Eommonim.

Luhan berlari mengikuti Seohyun. Tidak, Luhan hanya mengikuti nalurinya saja, karena dia tidak tahu kamar Seohyun di lantai berapa. Dia juga tahu bahwa ternyata Seohyun berlari dengan sangat cepat. Dan dia lupa bertanya pada Eomma Seohyun yang telah dipanggilnya dengan sebutan Eommonim itu.

“Aku benci.. hiks..” Luhan mendengar suara tangisan Seohyun samar-samar.

Dengan ragu, dia melangkah mendekat ke salah satu pintu ruangan yang ditebaknya adalah kamar Seohyun. Dan, benar saja. Suara tangisan Seohyun semakin jelas. Tanpa ragu, Luhan langsung membuka pintu kamar Seohyun yang ternyata memang telah dikunci.

Luhan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kamar itu beruansa pink, seperti kamar yeoja kebanyakan. Kamar itu sangat rapi. Tapi mengapa tidak ada Seohyun? Seohyun tidak berbaring di kasur king-size miliknya, tidak duduk di meja belajar di kamarnya, dan juga tidak berbaring atau duduk di lantai. Tapi suaranya sangat jelas.

Luhan berjalan ke sumber suara itu. Ternyata, di kamar Seohyun ada sebuah kamar mandi. Pantas saja Luhan tidak melihat Seohyun. Tapi, bagaimana cara membuat Seohyun keluar?

“Seohyun?” Luhan mengetuk pintu kamar mandi Seohyun.

“Mengapa kau bisa masuk ke kamarku, Luhan-ssi?” ucap Seohyun sambil menangis.

“Aku punya beberapa trik sulap. Ehm, keluarlah, Seohyun. Eommamu mengkhawatirkanmu.”

“Untuk apa dia mengkhawatirkan aku? Dia tidak peduli padaku. Dia hanya peduli dengan perusahaan.”

Luhan menghela napas mendengar jawaban Seohyun. Sebenarnya dia juga dipaksa oleh orangtuanya, tapi dia hanya pasrah, tidak seperti Seohyun yang selalu melawan. Tapi yang dilakukan Seohyun memang benar.

Luhan berjalan ke arah rak boneka milik Seohyun yang penuh dengan boneka Keroro dengan berbagai macam pose. Luhan mengambil salah satu boneka Keroro itu, lalu berjalan mendekat ke arah pintu kamar mandi Seohyun.

“Seohyun? Namjachingumu menyuruhmu keluar. Keluarlah dari kamar mandimu,” pinta Seohyun.

Namjachingu? Aku tidak pernah punya namjachingu. Yang ada malah aku langsung dinikahkan paksa dengan namja jelek yang belum terlalu aku kenal.”

“Kau menyebutku namja jelek? Sepertinya kau salah, Seohyun. Hampir semua orang yang melihatku mengatakan wajahku sangat tampan seperti malaikat.” Luhan membanggakan dirinya sendiri. Tapi dia terkejut mendengar suara tertawa di dalam kamar mandi.

“Sebenarnya kau sedang apa di kamar mandi?” tanya Luhan.

“Tidak tahukah kau bahwa aku sedang mandi? Dan sekarang aku sudah selesai. Bisakah kau keluar dari kamarku?” pinta Seohyun.

“Tidak. Kau pasti berbohong.” Luhan yakin dengan jawabannya.

“Aku tidak berbohong, Luhan-ssi. Aku harus berpakaian. Apa kau ingin menungguku terus sampai aku keriput di dalam kamar mandi?” tanya Seohyun.

“Ya, baiklah.”

Mendengar tidak ada suara Luhan di kamar, Seohyun keluar dari kamar mandi dengan mata sembap. Dan dia tidak mandi. Ternyata dia membohongi Luhan.

“Kau terlalu mudah dibohongi, Luhan-ssi. Untuk apa jam enam pagi aku mandi dan jam delapan pagi aku mandi lagi?” Seohyun berbicara dengan dirinya sendiri sambil mematut-matut dirinya di cermin.

“Siapa yang mudah dibohongi? Justru kau terjebak dengan permainanmu sendiri, Seohyun. Aku tidak mendengar suara air sedikit pun saat berada di depan pintu kamar mandimu.” Ucap Luhan sambil keluar dari balik pintu kamar Seohyun.

“Luhan-ssi! Kau tidak sopan! Kau memasuki kamar yeoja tanpa izin!” teriak Seohyun.

“Ya, aku akan keluar. Tapi tangkap namjachingumu.” Luhan melempar boneka Keroro yang tadi diambilnya.

***

Luhan dan Seohyun berjalan sambil mencoba pakaian yang akan digunakan di pernikahan mereka. Seohyun memang tidak dapat mengelak lagi tentang pernikahan itu. Kata orangtuanya, perusahaan mereka dapat goyah bila tidak dibantu Xi Corp, begitu juga dengan orangtua Luhan yang berkata seperti yang orangtua Seohyun katakan juga.

“Kau terlihat cantik memakai gaun itu, nona.” Seorang pelayan memandangi Seohyun yang memakai gaun pengantin.

Seohyun melihat pantulan dirinya di cermin. Gaun tanpa lengan itu melekat dengan pas di tubuhnya. Gaun itu pilihan Eommanya. Gaun itu sangat indah, dipenuhi dengan hiasan yang membuat pemakainya terlihat glamour.

“Kau terlihat cantik memakai gaun itu, nona.” Suara seorang namja mengagetkannya.

“Luhan-ssi?” Seohyun menatap ke arah Luhan.

“Luhan-ssi, kau juga sangat ….”

“Tampan?” tanya Luhan penasaran.

“Kau sangat cantik, Luhan-ssi. Apakah kau pernah menjadi yeoja dan melakukan transgender?” tanya Seohyun dengan polos.

“Aku ini namja asli, tahu!” Luhan mendegus kesal. Tapi, dia tak henti-hentinya memandang ke arah Seohyun yang terlihat sangat cantik.

Luhan mendekatkan wajahnya ke wajah Seohyun. Seohyun terlihat sangat gugup dan bingung apa yang harus dilakukannya. Seohyun memejamkan matanya karena takut. Mengapa Luhan terlihat sangat aneh?

Satu centimeter lagi bibir mereka bertemu, Luhan menjauhkan bibirnya dari bibir Seohyun. Seohyun terkejut, namun juga senang karena Luhan tidak jadi menciumnya. Artinya, first kissnya masih utuh.

“Aku belum menjadi anaemu, jadi aku tidak boleh menciummu. Tapi kalau hanya mencium sedikit, boleh kan?” Luhan langsung mencium pipi Seohyun.

“Seohyun, apa kau kira aku serius dengan perkataan dan perbuatan tadi? Termasuk mencium pipimu?” bisik Luhan di telinga kanan Seohyun.

Seohyun tidak menjawab.

“Itu hanya lelucon, Seohyun. Kita sekarang satu-kosong!” ucap Luhan.

“Kau menyebalkan, Luhan. Tapi tidak apa, aku juga tidak ingin kau menciumku.” Seohyun mengusap-usap pipi kanannya yang dicium Luhan. Lalu, Seohyun menempelkan tangannya di pipi Luhan dengan agak keras.

“Ciumanmu kembali, Luhan. Simpan ciuman itu di pipimu!” ucap Seohyun lalu pergi meninggalkan Luhan ke ruang ganti.

“Itu termasuk ciuman yang dikembalikan atau tamparan pembalasan?” Luhan bingung.

“Tuan, silakan anda coba baju ke dua anda.” Luhan hanya menangguk melihat pakaian yang harus dipakainya di prosesi pernikahan.

 

TBC

.

.

Bagaimana ya chapter selanjutnya? Tunggu, ya!

11 thoughts on “[Freelance] Teens Married Life (Chapter 1)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s