[Freelance] Music Box – Beginning

bawlyolo

Title                 : Music Box-The Beginning

Author             : Quorralicious

Length             : Twoshot

Rating             : PG 13+

Genre              : Happy Romance

Main Cast        : Tiffany dan Secret Male Main cast

Pairing             : Tiffany dan ????

Disclaimer       : Cerita murni khayalanku dan cast hanya milik Tuhan dan Keluarganya

Credit Poster   : Wuu @wyfnexokingdom.wordpress.com

A.N                 : SIDERS menjauh, TRUE READERS merapat, NE? ^^

 

Tanganku sibuk menekan tuts-tuts piao yang ada dihadapanku berusaha tidak memperlihatkan satu kesalahan pun dalam penampilanku di konser orkestra ini kucoba untuk mengikuti setiap alunan musik yang dihasilkan oleh teman-temanku yang memegang violin, cello, harpa, flute dan clarinet sehingga harmoni indah pun mengalun mengikuti arahan conductor yang berdiri ditengah, tangannya melambai naik turun memimpin alunan yang ada. Tepuk tangan para penonton bergemuruh dari seluruh sudut gedung, aku menangis sebagai tanda rasa syukurku atas semua cinta yang Tuhan luapkan padaku, akupun secara otomatis membungkukkan badanku saat aku masih terduduk di kursi yang menyatu dengan piano yang kumainkan barusan. Penampilanku hari ini sangat elegan dengna dress panjangan berwarna merah marun yang mencoba merepresentasikan auraku sebagai seorang wanita  yang penuh dengan aura elegan bagaimana tidak saat ini rambutku yang panjang dan berwarna cokelat ini dibiarkan bergelombang dan tergerai dengan indah, juga dengan high heels yang benar-benar tinggi karena tingginya sekitar 17 cm itu dipilih dengan baik oleh stylistku Hyoyeon unnie, make up kali ini sengaja aku sendiri yang melukiskannya agar lebih maksimal dan hasilnya sesuai dengan keinginanku.

.

.

.

 

Aku adalah seorang pianis, menjadi seorang pianis bukanlah cita-citaku sejak kecil aku masih bisa mengingat dengan jelas kejadian 10 tahun silam saat itu aku masih seorang bocah ingusan yang duduk di bangku kelas 5 SD jika bukan karena dia, aku mungkin tidak akan bisa menghirup dengan santai udara di pagi hari ini. “Tiff! Ayo bersiap-siap kau malah melamun seperti itu padahal masih banyak yang harus kamu lakukan, kamu belum mandi, belum sarapan,,,” omel ibuku, Seohyun. Meski ibuku itu seseorang yang sering ngomel dan cerewet justru itulah yang membuatku bahagia mendapatkan kasih sayangnya secara sempurna utuh tanpa cela. Wanita separuh baya yang kupanggil eomma itupun akhirnya turun dari lantai atas saat dia sudah merasa yakin membangunkanku.”Tiffany! kamu jangan berani-berani untuk memejamkan matamu lagi!” ancam eomma dari bawah tangannya yang mungil, tangan yang sudah membesarkanku itu sedang sibuk dengan pisau dan bahan makanan untuk eomma sulap sebagai the best home food.”Iya eomma, jangan khawatir!” teriakku performance kemarin sungguh membuatku lelah dengan malas kakiku kulangkahkan otomatis menuju kamar mandi.

Penampilanku seratus persen berubah tidak ada lagi kesan glamour ataupun elegan yang tersisa pada diriku pagi hari ini. Bagaimana tidak, hanya dengan menggunakan celana pendek dan kaos oblong serta rambutku yang aku kuncir ke atas membentuk Namsan Tower yang tak pernah dilihat oleh semua orang dalam dunia kerjaku, mereka menganggap aku adalah wanita yang sempurna karena itulah aku tidak ingin merusak fantasy juga imageku sendiri dengan memperlihatkan diriku yang sebenarnya. Diriku yang saat ini adalah diriku yang nyata dan tidak penuh dengan kepura-puraan seperti saat aku di interview ataupu saat berada dilayar TV aku sangat memperhatikan penampilanku, aku bisa bertaruh bahwa tidak akan ada yang mengenaliku sebagai Tiffany Hwang si Pianis jenius saat aku berpenampilan santai ke toserba terdekat di lingkungan rumahku. “Ya! Nuna ya! Kau mengagetkanku lagi! Aku sedang buang air besar kenapa malah kau buka pintunya!” teriak Sehun saat dia melihat kunciranku yang menyembul dari balik pintu dia tutup pintu kamar mandi sembari bersungut-sungut,”Dasar! Makanya kunci dong pintunya,” keluhku yang membuat kesadaranku benar-benar kembali ditengah rasa kantukku yang mendera.

 

Akupun kembali ke kamarku menunggu namdongsaeng ku Sehun menyelesaikan urusan dengan perutnya yang berkotak-kotak itu. Saat aku membuka pintu kamarku, sedetik kemudian aku melihat music box yang sengaja aku taruh di atas meja riasku music box yang berwarna putih dimana ada seorang balerina yang menari indah jika kubuka kotaknya music box yang dibawahnya ada inisial orang tersebut ZYX, tanganku membuka kotak itu dengan segera saat tubuhku kutarik mendekati meja itu suara yang mengalunkan lagu Elyse masih terdengar bagus padahal sudah 10 tahun sejak music box ini berada ditanganku. Aku mendengarkan dengan baik dan menatap music box yang saat ini seorang balerina sedang berputar, sedetik, dua detik, tiga detik,…… sepuluh detik,,,,, dua puluh detik,,,,”Ya! Tiffany Hwang! Kenapa kau mencoba untuk tidur lagi?!” seru Seohyun eomma yang teriakannya sukses membuat telingaku berdengung dibuatnya,”Ada Sehun di kamar mandi,” sahutku malas membuka kedua kelopak mataku,”Memangnya kamar mandi rumah kita cuma satu? Ayo mandi di kamar mandi kamar eomma saja!” seru Seohyun eomma sambil menarik-narik tanganku yang bersedekap indah dimeja sementara alunan musik dari music box itu belum berhenti.

.

.

.

Hari ini adalah hari rehearsal untuk konser orkestraku di sore hari nanti, konser ini benar-benar membuatku lumayan kelelahan dengan jadwalnya yang terlalu padat. Untunglah untuk lusa dan hari berikutnya aku liburan. Aku sangat mengharapkan hari libur itu, saat aku sedang menata rambutku persiapan menuju rehearsal pintu kamarku terdengar ada yang mengetuknya, tok…tok..tok..”Ya masuk saja,” aku menjawab ketukan pintu itu sambil tetap fokus dengan tanganku yang masih berkutat dengan poniku yang susah diatur,”Tiff,,” ouh ternyata itu eomma, “Ne, eomma..” jawabku masih dengan tangan diatas poni. “Ada tawaran musical untukmu apa kau tertarik? Selain dari menjadi pianis aku yakin dengan suaramu yang merdu itu juga kau bisa menjadi penyanyi.” Ujar Seohyun eomma sekaligus managerku itu.”Baiklah eomma, kalau menurut eomma aku bisa melakukan musical itu aku akan melakukannya. Kapan?” jawabku santai setelah tanganku menang melawan poni yang berontak itu tanganku disibukkan dengan cup cappucino yang mengepul,”Latihannya mulai minggu depan, tetapi musikalnya mulainya bulan depan” sahut eomma. Akupun meneguk cappucino itu dengan perlahan, ouh bulan depan ya musicalnya ujarku dalam hati memikirkan jawaban eomma barusan. Pikiranku menerawang mengingat masa lalu, peristiwa yang ada didalam hidupku selama ini, mulai dari bagaimana aku  bisa melawan penyakit kankerku saat itu, saat aku bertemu dengannya, juga saat teman SD membully ku karena secara tak sengaja aku muntah di kelas membuat semua orang dikelas itu membenciku, muntah itu bukan keinginanku itu hanya efek samping dari obat yang aku konsumsi selama masa penyembuhanku karena muntahan itu aku dicap sebagai murid terjorok juga murid gemuk dan babi gemuk karena tubuhku yang menjadi gemuk karena efek sakit yang berkepanjangan sehingga saat aku sembuh nafsu makanku berlebih, ya hanya karena satu peristiwa dan satu kekuranganmu kau mungkin akan dicap seperti itu seumur hidupmu Hingga saat SMP kehidupanku berubah 180 derajat, aku berhasil mengurangi berat badanku secara gila-gilaan dan membangun image ku kembali dan mulai mempelajari piano klasik hingga saat ini aku menjadi seorang pianis terkenal. Sebenarnya aku sangat mengingat satu peristiwa yang aku pikir cukup penting dan membuatku bisa bertahan hidup. Saat itu….

 

FLASHBACK ON

“Huhuhuhu, saaakiiitt,, sakittt…!! aku tidak mau disuntik! Sangat sakit, tolonglah aku eomma, aku tidak ingin disuntik, hua hua…!” teriakanku semakin membahana menyelimuti seluruh ruangan yang menjadi ramai karena raunganku, saat itu dokter membutuhkan test tulang sum-sum belakangku, dengan suntikannya yang besar itu dia menancapkannya pada tulang sum-sum belakangku yang tentunya sakit kulihat Seohyun eomma ikut menangis memandangku yang sedang kesakitan “Eomma..” lirihku saat tangisanku mulai berhenti.”Maafkan eomma sayang, ini juga untuk kebaikanmu dan pengobatan kankermu itu.” Ujar eomma setelah dokter dan suster itu meninggalkan ruanganku Seohyun eomma dengan lembut mengelus-elus pipiku yang basah karena air mata,”Eomma harus mengurusi administrasi, kau baik-baik disini.” Ujarnya lagi sambil berdiri dihadapanku dengan raut muka yang sulit ditebak.”Ne,” lirihku.

“Pasti sangat sakit?” seorang bocah namja menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamarku, lalu diapun masuk dan tersenyum padaku,”Jangan menangis lagi,” katanya sambil tersenyum dna menyodorkan sebuah music box padaku.”Dengarkan itu saat kau kesakitan, maka semua sakitmu akan hilang. Aku yakin kita berdua bisa melewati penyakit ini bersama, karena akupun sama sepertimu mempunyai penyakit yang ganas.” Katanya sambil mendekati ranjang dimana aku masih berbaring disana. Aku melihat music box putih itu, dia membantuku membuka kotaknya dan mengalunlah alunan musik itu yang membuatku sangat rileks dan berhasil membuatku tertidur pulas. Kubuka mataku yang masih didera kantuk yang sangat berat yang aku lihat hanya Seohyun eomma tangannya sibuk mengupas buah apel, mungkin untukku.

Eomma, tadi kau melihat bocah laki-laki tidak disini?” tanyaku, kulihat eomma menggelengkan kepalanya sambil melanjutkan untuk fokus mengupas buah apel didepannya itu. Siapa dia? Aku bahkan belum mengetahui namanya.

“Hallo, namaku Zhang Yixing. Kemarin aku belum sempat memberitahukan namaku kau sudah tertidur pulas membuatku tak tega untuk membangunkanmu my sleeping princess.ujarnya sambil tersenyum memamerkan giginya yang ompong ditengah, membuatku tersenyum melihatnya seperti itu. Beberapa hari setelah itu menjadi temannya, dia temanku satu-satunya di rumah sakit yang mneyesakkan ini, setiap dia menjengukku pasti kita berdua keluar bersama-sama bermain bersama. Satu hal yang paling aku ingat,”Cita-citaku adalah menjadi penyanyi klasik sekaligus pianis. Karena itu kau akan menemukanku kan saat kita besar nanti?” raut wajahnya berubah sedih saat dia mengucapkan kata-kata ini, tidak bisa aku lihat bahwa kata-katanya ini adalah kata-kata terakhir dia berada dirumah sakit ini, kudengar dari suster-suster bahwa penyakit dia sulit disembuhkan sehingga dia harus dipindahkan ke rumah sakit di luar negeri untuk kesembuhannya. Betapa sedihnya diriku saat itu kita tidak sempat untuk saling mengucapkan kata perpisahan ataupun janji untuk saling bertemu kembali di masa depan. Dialah yang memberikanku keberanian untuk melawan dan menghadapi penyakitku ini.

 

FLASHBACK OFF

Tiffany POV

Liburan itu memang selalu terasa cepat berlalu, apalagi jika hari liburan yang ada hanya dua hari. Dua hari kebelakang aku hanya mengistirahatkan tubuhku benar-benar istirahat dengan rambut acak-acakan dan kaos oblong yang nyaman membuat setiap hari Sehun berteriak padaku,”Nuna! Kau membuatku takut dengan penampilanmu seperti ini. Untungnya hanya keluarga saja yang tahu kelakuanmu disini!” teriak Sehun setiap kali melihatku dengan penampilan liburanku yang benar-benar ‘sesuatu’. Tiba saatnya hari kerjaku kembali, sesuai dengan apa yang aku sepakati dengan eomma hari ini adalah hari pertama reading skenario untuk musikalku yang pertama, ruangan reading sudah dipenuhi oleh musisi handal negeri Ginseng yang bersiap mempertunjukkan yang terbaik, aku melihat banyak senior musikal yang turut mengisi peran seperti Lee Sungmin sunbaenim, Cho Kyuhyun sunbaenim, dan masih banyak lagi mereka sangat serius dan kudengar aku mendapatkan peran gadis yang sedang jatuh cinta pada peran utama laki-lakinya, seorang penyanyi musikal yang sudah sangat profesional tetapi aku tidak tahu siapa karena dia berasal dari luar yang kutahu pasti namanya adalah Lay.. “Jalbutak deurimnida..” kataku sambil membungkuk saat sutradara  musikal Park memperkenalkanku pada orang tersebut, wah seorang gentlemen saat dia tersenyum benar-benar membuatku terpesona,”Ne,” jawabnya singkat sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya saat dia melihatku sudah kembali berdiri tegak.Ah ya, aku pun langsung menyambut tangannya, tangan yang hangat dan lembut.

 

Proses reading skenario berlangsung lancar dan cukup cepat hanya beberapa kali aku mencoba menyamakan suasana dengan skenario itu bersama dengan Lay sunbaenim tetapi overall semuanya berjalan dengan cukup baik. Hari itu aku masih merasa ingin liburan, setibanya dirumah aku langsung mengubah penampilanku dengan sisi dari diriku yang berbeda lalu akupun melenggang keluar rumah menuju toserba tersedekat tanpa menghiraukan panggilan Seohyun Eomma yang ingin menitip belikan soju untuk Appa. Di toserba aku bebas aku memilih semua camilan favoritku termasuk beberapa minuman untuk memudahkanku tidur. Saat aku mau mengambil kwaci (biji bunga matahari) favoritku tangan lainnya juga meraih bungkus yang sama membuat tangan kami berdua saling menyentuh, “Ah mianhae.” Kataku cepat-cepat kutarik kembali tanganku, dia melihat kearahku dan…., “Tiffany-ssi?”,”Mwo?!” seruku setengah teriak, tentu saja aku kaget karena dia itu, namja itu adalah Lay wah dia melihatku berpenampilan seperti ini bisa gawat aku menghancurkan image ku sendiri malam ini, tangisku dalam hati. Sekarang kau sudah menghancurkannya mau bagaimana lagi Tiffany-ah! Rutukku dalam hati.”Eh, benarkan? Tiffany ssi,” katanya lagi yang super tidak sensitif melihat kecanggunganku menahan malu karena dia melihatku yang sedang begini.”Bukan! aku bukan Tiffany, siapa Tiffany itu?!” elakku melepaskan tangannya yang sedari tadi memegangi pergelangan tanganku dan menahanku kabur dari situasi semacam ini.”Ah jangan mengelak, aku sangat yakin kau Tiffany ssi,” ujarnya tangannya sibuk menutupi mulutnya yang dalam sepersekian detik akan meledakkan tawanya karena melihatku yang seperti ini, aku pikir didunia ini tidak akan ada yang bisa mengenaliku saat aku seperti in. Huhu..”Hahahahahhaa!!! hahahahhaha!” tawanya tak tertahan lagi, berhasil meledak dengan sempurna. “Ya, aku memang Tiffany Hwang pianis yang jenius itu, memangnya kenapa hah?!” kataku sambil berkacak pinggang menghadapnya karena aku sudah tidak bisa lagi mengelak,”Hahaha akhirnya kau mengaku juga.” Ujarnya sambil memegangi perutnya yang sakit saking terlalu banyaknya dia tertawa. “Lay-ssi, tolong jangan beritahu siapapun masalah penampilanku yang lain ini,” kata Tiffany memasang wajah memelasnya pada Lay yang baru bisa menghentikan tertawanya, sekejap saja Lay langsung menatap Tiffany yang sedang memperlihatkan puppy eyes nya, dia kemudian terdiam. “Baiklah kalau begitu aku tidak akan memberitahu siapapun asal kau mau menjadi budakku hingga saat kita selesai pertunjukkan musikal nanti,” ujar Lay dengan tegas sambil menyodorkan handphonenya pada Tiffany.”Kau mau apa?” Tiffany bingung dengan maksud Lay yang memberikan handphonenya.”Save nomormu di handphoneku masa seorang majikan tidak mempunyai nomor budaknya.” Sahut Lay enteng, Tiffany yang sedang dipojokkan oleh Lay dan tidak ingin rahasia terbesarnya ini ketahuan pun langsung menyetujui persyaratan yang Lay berikan.

 

Tiffany POV

Aku masih kesal dengan kejadian kemarin malam di toserba, tak habis pikir bagaimana isi kepala dari seseorang yang bernama Lay itu padahal dia baru saja kenal dengan namja itu saat reading naskah kemarin siang. Apa yang harus kulakukan? Aku takut dia akan serius dengan pembicaraan di toserba itu, ujar Tiffany dalam hatinya dengan tangannya yang sudah siap sedia memeluk guling favoritnya yang berwarna pink itu. Ah, tidak usah kupikirkan mungkin saja dia hanya bercanda, lebih baik aku tidur saja, ujarnya lagi sambil memejamkan matanya yang berwarna cokelat itu, baru saja dia memejamkan matanya itu lalu terlihat layar handphone nya menyala, ada sms rupanya. Tiff, aku sedang ingin makan Sundae dan Tteokbokki, bawa semuanya kerumahku. Seoul, Gwangjin-gu, Jayang 3 (sam)dong, The Sharp City apartment building A, room 1608. Apa-apaan ini maksudnya? Dia seenaknya menyuruhku, memangnya aku pembantunya apa?huh! dengusku yang langsung menggunakan masker matanya mengacuhkan sms dari Lay lalu muncul lagi sms, Kalau kau tidak datang, maka jangan harap rahasiamu akan aman. Bahkan aku akan menyuruh seseorang untuk mengabadikan penampilanmu itu suatu saat nanti, kata-kata yang lebih mirip sebuah ancaman bagiku. Saat itu sms kedua darinya membuatku benar-benar gusar dibuatnya, image yang selama ini aku bangun selama bertahun-tahun runtuh begitu saja oleh seseorang yang baru aku kenal seperti dia.

Lay POV

Lama sekali dia kemari? Jangan-jangan dia sudah tidur? Tapi saat aku lihat aku sangat yakin sms dariku itu sudah dia baca. Kruyuukk…kruyukkk… huh,, akibat bertemu dengan dia aku jadi lupa untuk membeli makanan dan sedari tadi ditoserba aku akhirnya hanya membeli kabel putar dan colokan untuk laptopku seharusnya aku juga membeli makanan, setidaknya bahan makanan yang bisa kumakan sekarang, sesalku sambil memegangi perut yang tengah bersiap untuk konser keroncongan. Tok,tok,tok Yeah! Akhirnya dia datang. Saat kubuka pintu yang sedang diketoknya, aku langsung berteriak kepadanya, “Ya! Kenapa lama sekali?!” seruku saat memang benar Tiffany yang datang malam itu juga. “Sudah syukur aku bawakan kau makanan agar kau tidak mati malam ini juga!” dengusnya tak kalah keras dari teriakanku barusan, membuatku terkaget-kaget melihat reaksinya yang berlebihan menurutku.”Ya sudahlah, ayo masuklah!” kataku kemudian sesaat aku merasakan kecanggungan diantara kami berdua.”Hah? masuk? Kau mau menyuruh budakmu ini untuk melakukan apa lagi?” sindir Tiffany dengan wajah angkuh dan tangannya yang melipat didada.”Tidak mau? Ya sudah!” kataku yang menolak untuk menawarkannya masuk untuk kedua kalinya, saat aku bersiap menutup pintu.”Kopi hangat sepertinya pas disaat seperti ini,” ujarnya lagi sambil tersenyum, manis sekali.

Saat aku menyiapkannya kopi kesukaanku itu, kulihat dia mengelilingi apartmentku.”Kau juara I dalam bermain Piano klasik di Vienna?” tanyanya agak keras karena dia tahu saat ini aku agak jauh darinya,”Ya! Aku lulusan Juiliard School saat itu ada kompetisi Piano Klasik.” Jawabku dengan sombong, ingin sekali membanggakan diriku ini didepannya.”Eoh..” ujar Tiffany dimana dia bermaksud memelankan suaranya namun terdengar cukup jelas,”Hanya eoh saja tanggapanmu, kau memang ya, seorang yeoja yang tidak suka dengan keberuntungan seseorang. Aku cukup jenius, cita-citaku adalah menjadi penyanyi klasik sekaligus pianis dan saat ini aku sedang menggapainya,” jelasku saat melihat kerutan didahinya terlihat pertanda dia tidak mengerti ataukah beberapa detik ini dia tidak memfokuskan dirinya untuk mendengarkan orang lain.

 

Tiffany POV

Cita-citaku adalah menjadi penyanyi klasik sekaligus pianis kata-kata yang sama persis seperti yang Zhang Yixing selalu katakan padaku.”Tiffany-ah apa kau mendengarkanku bicara?” tanya Lay saat aku terlihat benar-benar diluar zona kendali karena melamun yang berlebihan. “ouh iya,” saat kesadaranku kembali buru-buru aku menjawab Lay yang sejak tadi sepertinya memanggilku. “maaf, tadi aku sedang melamunkan sesuatu.” Kataku bohong sambil mencoba duduk diseberang kursi dimana Lay sudah sedari tadi duduk disana.”Bolehkah aku meminjam toiletmu?” tanyaku saat tak kuasa mataku ingin kupejamkan, pokoknya aku harus bisa melawan rasa kantukku ini, aku  berniat untuk mencipratkan dan membasuh wajahku agar kembali fresh. Design interior apartment ini sangat indah meski dia tidak punya lahan untuk membangun taman tapi setidaknya dia sudah mencoba untuk menata balkonnya dengan bunga-bunga yang indah dirumahnya bertepatan dengan mataku yang berkeliaran menuju semua sudut apartmentnya tanpa sengaja mataku tertuju pada sebuah music box berwarna hitam yang terpampang disudut lemari hiasnya bentuk music box itu hampir sama denganku, karena kantukku sudah sangat menyerang aku tidak menghiraukannya dan mencari toilet untuk membasuh wajahku.

“Kau sudah selesai makannya? Kalau begitu aku pulang ya?” kataku sambil beranjak dari dudukku saat melihat Lay namja itu memasukkan suapan terakhir kemulutnya.”Yaaah, masa kau sudah mau pulang sih? Kau kan budak, harusnya bisa standby 24 jam untukku,” sergahnya cepat saat aku sudah berdiri diambang pintu. Jitakanku mendarat mulus dikepalanya membuatnya sedikit meringis dan  kemudian,” Hahahahahaa, budak yang pemberontak, kalau begitu ya sudahlah, kau boleh pulang. Tunggu sebentar!” ujarnya sambil masuk kembali kedalam apartmentnya tepatnya ke arah kamar tidurnya, Lay kembali dengan dua jaket satu berwarna putih dia sodorkan padaku dan satunya lagi berwarna cokelat yang terlihat sangat besar dia memakainya,”Ini pakai ini biar kau tidak sakit dan kedinginan, karena sudah malam sebaiknya aku antar kau pulang,” ujarnya yang membuatku hanya mengikuti perkataannya dan hanya bisa  menyetujuinya karena takut sekali dia akan mengancamku mengenai penampilanku, kukenakan jaket berwarna putih yang kentara sekali sisi maskulin dari jaket ini, jaket ini sangat hangat.

Setibanya dirumah aku langsung tidur karena sudah sangat lelah dan sejak di apartmentnya tadi aku beberapa kali menahan kantukku yang membuat kantukku terakumulasi sudah saat ini. Besok adalah latihan pertama untuk musikalku karena itu aku harus mempersiapkan diriku. “Nuna! Bangun!” teriak Sehun tepat ditelingaku yang membuatku langsung terbangun,”Eomma sedang pergi ke pasar bersama appa dia memintaku untuk membangunkanmu dan aku lupa sekarang sudah pukul 9 pagi.” Kata Sehun merasa bersalah karena sifat pelupanya yang membuat aku menjadi kesiangan.”Eoh? serius kau? Ini bagaimana aku belum mandi mana make up ku selalu menghabiskan waktu yang lama!” ucapku panik dan langsung ke kamar mandi. 30 menit adalah recordku dalma mempersiapkan diri, biasanya paling minimal aku mempersiapkan diri adalah sejam setengah dan sekarang aku hanya menggunakan setengah jam untuk berdandan, takut-taku aku memasuki ruangan latihan aku langsung menemui sutradara musikal Park.”Maaf aku terlambat Park-nim.” Ucapku yang diirngi dengan bungkukan 90 derajatku, benar-benar merasa bersalah karena keterlambatanku.”Ah, tidak apa-apa disini juga ada seseorang yang telat sepertimu,” ujarnya yang diirngi kekehan dan tertawaan renyah dari pemain musikal lainnya, telunjuknya diarahkan pada Lay yang sekarang sudah berganti baju, senyumku tak bisa aku hilangkan saat melihatnya. Selama latihan Lay banyak menyuruhku, mulai dengan menyuruh mengambilkan handuknya, mengambilkan handphone nya yang berada di mobilnya, membelikannya americano dan masih banyak lagi. Salah satu scene dalam musikal yang melibatkanku adalah saat Lay memangku diriku yang diceritakan sudah meninggal karena bunuh diri dan salahpaham kepadanya, kuyakin dia tidak akan mengalami hal yang berat untuk scene ini karena memang akhir-akhir ini beratku berkurang dengan sendirinya dengan mantap aku hanya menyerahkan scene ini seluruhnya pada Lay, baru juga berjalan 5 menit Lay terlihat sudah lelah dengan wajahnya yang dibuat-buat padahal aku sangat yakin beratku saat ini memang sudah berkurang wajahnya yang terlihat lelah itu tentu membuatku malu, bahkan staff mulai berpihak padanya dan memberikan Lay waktu istirahat terlebih dahulu.”Benarkah beratku seberat itu?” dengusku pada Lay yang sedang mengusap keringatnya dengan handuk putih, pertanyaanku hanya disambut dengan kekehan ringannya.”Bagus bukan aktingku? Membuatmu terlihat begitu berat, hahahahahahaa”. Dia tertawa, benar sekali dia sedang tertawa sat ini diatas ke complex an diriku terhadap penampilanku terlebih bagi perempuan itu isu mengenai berat badan sangat penting. Aku hanya pergi meninggalkannya sambil menahan tangisku, sudah lama aku menyembunyikan diriku yang lain yang sangat sembrono dan tidak mementingkan penampilan tapi bukan berarti karena itu aku harus memaafkan pria yang sudah membuatku mengingat lagi kejadiaan saat aku gemuk dan hinaan dari teman-teman SD ku yang membuatku merasa down. Jika dia hanya menyuruhku ini dan itu masih bisa kuterima, tapi jika sampai dia becanda seperti ini ya meskipun bagi sebagian orang adalah hal yang kecil tetapi bagiku ini adalah sesuatu yang serius karena aku hampir mati dibuatnya saat aku mengurangi berat badanku.

 

Lay POV

Kenapa yeoja itu? Aku kan hanya bercanda dengannya dia sangat berlebihan sekali,menjadi sangat marah karena hal kecil seperti itu, tetapi aku tak bisa melupakan matanya yang berkaca-kaca menatapku seperti sekuat tenaga menahan tangisnya. Saat aku latihan scene selanjutnya kulihat Hyoyeon menghampiriku.”Kau seharusnya tidak seperti itu terhadapnya Lay-ssi, aku adalah sahabatnya sejak kecil dan aku sangat yakin hari ini kau telah membuat kesalahan besar kau benar-benar menyakiti hatinya. Dia mempunyai kompleksitas terhadap berat badan dan penampilannya, saat aku melihat dia kesan kemari membawakan barang-barangmu aku sangat yakin kau pasti mengetahui seseuatu mengenai penampilannya bukan?” tanya Hyoyeon menatap curiga.”Tahu jika kau ini sahabatnya, aku yakin kau adalah salah satu orang yang tahu penampilannya saat dirumah.” Jawabku,”Maka dari itu jangan buat dia seperti itu! Kau membuat dia seperti seorang yeoja-yeoja yang benar-benar berat dihadapan semua orang!” teriak Hyoyeon, membuatku tertegun beberapa lama,”Lalu aku harus bagaimana?” tanyaku,”Jauhi dia!” ucap Hyoyeon pelang, dia tidak ingin teriakannya membuat staff lain melihat hal ini,”Aku tidak bisa,” jawabku,”Lepaskan dia,” pinta Hyoyeon lagi yang hampir membuatku menyerah. yup,menyerahkan yeoja yang sebenarnya sudah aku sukai sejak kita bertemu di toserba saat malam itu.”aku tidak bisa,,”lirihku sambil pergi jauh dan meminta ijin sakit pada sutradara musikal Park. Aku mencintainya sejak pandangan pertama, lalu karena itu pula aku menjadikannya budakku sebagai persyaratan aku menjaga rahasianya yang sebenarnya aku sama sekali tidak ingin membeberkannya pada siapapun, aku akan tetap menjaga rahasianya meski dia tidak memintanya, hanya karena saat itu dia mengeluarkan puppy eyes nya itu dan memintaku untuk merahasiakannya membuatku ingin selalu dekat dengannya, entah mengapa jika dia berada didekatku aku merasa bahagia.

Aku mengirimkan sms padanya, ingin tahu dia dimana sedari tadi aku merasa gelisah sepertinya aku benar-benar keterlaluan padanya,

Kau dimana?

.

.

.

Kau sekarang dimana? Aku akan ketempatmu.

.

.

.

.

Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, balas smsku atau angkat teleponku.

 

Tiffany POV

Kuhanya bisa melihat handphone ku sejak tadi bergetar, tangisku semakin menjadi jika aku melihat nama namja itu aku menjadi mengingat kejadian saat latihan tadi. Aku hanya bisa mengayun-ayunkan pelan diriku yang sedang duduk diayunan berwarna biru ini, aku sedang tidak ingin bertemu siapapun termasuk eomma, Sehun dan Hyoyeon yang ikut mencari keberadaanku.Disaat depresiku mulai kambuh seperti ini aku hanya bisa mengingat bocah laki-laki itu yang berhasil menyelip didasar hatiku, aku menunggunya mengabariku yang dengan setia menjaga pemberiannya music box itu.

Lay POV

Dia masih juga tidak membalas atau menerima teleponku, ada satu sms masuk kedalam handphone ku saat aku melihat layarnya itu sms dari Hyoyeon,Kau dimana? Bantu aku mencari Tiffany. Aku terdiam seribu bahasa, kekhawatiranku memuncak dan mulai mengggas mobilku yang kulajukan sangat cepat menuju arah alamat yang diberikan oleh Hyoyeon, sesampainya disana aku bisa melihat Hyoyeon dengan wajah khawatirnya. “Kenapa bisa sampai seperti ini?”, tanyaku bingung,”Kau memang belum mengenalnya jadi aku sangat memaklumimu saat ini jika kau tidak tahu apa-apa saat ini yang penting ayo kita cari Tiffany. Dia benar-benar selalu tertekan jika orang lain membahas berat badan atau mengejeknya mengenai berat badan, saat SMA juga pernah seperti ini saat itu dia memakan ramen saat malam dan paginya wajahnya membengkak karena ramen itu, seluruh kelas saat itu menertawakan wajahnya yang bulat karena bengkak membuat dia mengurung diri di kamar selama seminggu dan saat dia keluar dia menghilang seperti biasa hanya aku dan keluarganya saja yang khawatir karena memang hanya kami yang tahu.” Jelasnya sambil duduk dimobilku saat dia memasukinya.

Oh begitu rupanya, kalau begitu aku benar-benar sudah sangat melukainya ujarku. Aku dan Hyoyeon melaju menuju taman terdekat kota Seoul, saat tiba… kulihat sosoknya sedang duduk diayunan. ‘Syukurlah kau tidak apa-apa’, ujarku lagi dalam hati, Hyoyeon langsung mendekatinya dan memeluknya membuat tangisnya pecah sekali lagi. Sementara aku yang membuatnya seperti ini hanya bisa diam, hingga aku sudah mengantar Hyoyeon dan hanya ada kita berdua baru aku bisa mencoba berbicara padanya,”Maaf.. aku tidak tahu.” Hanya itu yang bisa aku katakan. Tiffany tidak menganggap perkataanku dia hanya terus menunduk sedih dan sama sekali tidka menjawab perkataanku barusan.”Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu aku tadinya hanya ingin bercanda padamu aku tidak tahu kau memiliki kekompleksitasan seperti ini.” Kataku lagi sesampainya dia dirumahnya dan mulai keluar dari mobilku menuju rumahnya.

 

Tiffany POV

Aku belum bisa memaafkannya aku masih tertekan dan tertelan oleh semua kejadian ini dan sepertinya aku belum bisa melakukan musikalku. Eomma sangat khawatir dnegan keadaanku yang seperti ini, tanpa aku memintanya dia sudah membatalkan kontrak kerjaku dengan pihak musikal dan hari ini aku resmi mengundurkan diri dari kerjasama pembuatan musikalku yang pertama itu. Aku teringat kalau aku belum mencuci jaket yang sebelumnya dia pinjamkan padaku, besok saat sudah kering dan kusetrika aku akan mengirimnya melalui paket, niatku dalam hati. Saat kau mencuci jaket kau juga harus mencuci bagian dalamnya agar tetap lembut saat itu aku mencoba membalik jaketnya dan kulihat jelas sebuah inisial dari balik jaket itu inisial yang dibordir dibagian lengan jaket itu, ZYX. “Zhang Yixing?” gumamku masih bertanya-tanya.”Mungkinkah dia Zhang Yixing?” memoriku saling berkelebat, aku masih ingat saat Lay mengatakan cita-citanya adalah sebagai penyanyi profesional dan pianis, oh? Juga music box hitamnya itu. Setelah aku memikirkannya lebih lama lagi, aku sangat yakin dia adalah Zhang Yixing, cinta pertamaku. Aku ingi memastikannya karena itu aku menelpon sutradara Park mengenai hal ini, dan sutradara Park mengucapkan dia hanya tahu bahwa Lay itu keturunan Korea-Cina yang mana dia itu bermarga Cina Zhang. Aliran darahku memompa jantungku snagat cepat melebih kecepatan rata-rata, tidak begitu lama aku mencoba menelpon Lay. “Siapa kau? Zhang Yixing kah?” tanyaku padanya di telpon.

Lay POV

Siapa kau? Zhang Yixing kah?” tanya suara yeoja diseberang. Aku kaget saat dia menyebut nama marga Cina itu.

Airmataku mengalir jika ada yang menyebutkan nama itu, aku mengingat seseorang dengan jelas melalui nama itu. Nama itu adalah….

 

 

To Be Continue

p.s: rame gak? Aku sudah meminimalisir typo sebisa mungkin hehehe,, SIDERS menjauh tolong ya, TRUE READERS merapat hayoo, mari kita diskusikan bagaimana bagusnya kelanjutan dari fanficku ini. Hehehe

 

4 thoughts on “[Freelance] Music Box – Beginning

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s