[Freelance] Confessions (Chapter 5)

jbrQRBZ97VvXc1

Judul: Confessions (chapter 5)

Author: Jung Eun Gi

Rating: PG-15

Length: chaptered

Genre: romance,angst,family

Main cast: Jessica Jung, Kris Wu

Support cast: Krystal Jung, Suho, Im Yoona, others find in the stories

Author’s note: cerita ini murni dari hasil pemikiran otakku, so don’t bash don’t judge and please appreciate it. Gomawo readers~ sorry for typos, imperfection is human! Happy reading!

 

Previous

Jessica POV

 

“Cepat naik. Akan kugendong kau sampai ke kamarmu. Kakimu sedang luka kan?” Kris menengokkan kepalanya ke arahku.

 

Aku ragu sejenak dan akhirnya menerima tawaran dari Kris. Aku mengalungkan kedua lenganku pada lehernya dan menyandarkan sebelah pipiku dengan nyaman pada pundaknya.

 

 

***

 

 

Kris POV

 

Saat sedang mengobrol dengan Krystal, Suho, Yoona dan orang tua Jessica, aku dikagetkan dengan suara keras dari dapur. Karena hanya Jessica yang tidak ikut mengobrol bersama kami, aku menghampirinya ke dapur dan kaget setengah mati mendapatinya dalam keadaan seperti itu.

 

Setelah selesai mengobati lukanya dan keadaan Jessica mulai membaik, aku menawarkan diriku untuk menggendongnya sampai ke kamarnya di lantai 2. Aku tidak yakin ia dapat menaiki semua anak tangga itu dengan telapak kaki yang terluka seperti itu.

 

Jessica terlihat ragu sejenak sebelum akhirnya menerima tawaranku dan mengalungkan kedua lengannya pada leherku. Ia menempelkan sebelah pipinya pada pundakku dan aku dapat merasakan hembusan napasnya yang menggelitik tengkukku.

 

“Kris?”

 

“Mmm?”

 

“Bisakah kita menghindari semua orang dan langsung naik ke lantai 2?”

 

“Wae?”

 

“Aku hanya malas meladeni pertanyaan-pertanyaan dari mereka. I’m so tired”

 

“Baiklah jika itu maumu”

 

Begitu keluar dari dapur, aku langsung setengah berlari menuju tangga dan untungnya, pintu yang membatasi tempatku berdiri sekarang dengan ruang tengah tertutup sehingga keinginan Jessica untuk menghindari berbagai pertanyaan pun terkabul.Begitu sampai di kamar gadis itu yang bernuansa elegan dengan bercat putih, aku menurunkannya ke tempat tidur dengan hati-hati.

 

“Kau sudah mau tidur?”, aku menatapnya yang entah kenapa aku selalu merasa Jessica menghindari tatapan dariku.

 

Ia hanya mengangguk lemah dan tersenyum tipis. Secara insting, aku mengambil selimut yang terlipat rapi di bagian ujung kaki tempat tidurnya dan menyelimuti gadis mungil itu. Begitu aku menatapnya lagi, ia sudah memejamkan kedua matanya. Aku membalikkan badanku, bermaksud meninggalkan kamar itu ketika suara Jessica menahanku.

 

“Kris?”

 

“Waeyo?” aku membalikkan setengah badanku.

 

“Kenapa kau bersikap baik padaku?” Pertanyaan gadis itu membuatku tertegun sehingga aku memutar badanku sepenuhnya menghadap Jessica.

 

“Entahlah, aku juga tidak tahu. Bukankah hal itu wajar bagi manusia untuk menolong orang lain?” Aku mengusap tengkukku, bingung harus menjawab apa terhadap pertanyaannya yang ambigu itu.

 

Jessica hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata singkat,”Gomawo”

 

“You’re welcome” aku tersenyum ke arahnya lalu berjalan menuju pintu.

 

Saaat aku memegang gagang pintu, lagi-lagi Jessica menyebut namaku.

 

“Kris?”

 

“Waeyo?”

 

“Bisa tolong matikan lampunya?” permintaannya membuatku terkekeh pelan.

 

“Arasseo, goodnight Jessie” aku meraba tembok yang dilapisi wallpaper dekat pintu dan menekan saklar di situ.

 

 

***

 

 

Author POV

 

Sesuai kesepakatan, Suho, Kris dan Yoona berkumpul di rumah Jessica untuk mulai mengerjakan pr-pr yang menumpuk. Mereka berlima, termasuk Krystal sedang berkumpul di dalam kamar Jessica dan berkutat dengan pelajaran.

 

Meski Jessica keberatan dengan keberadaan Krystal di dalam kamarnya yang ia anggap sacral, tapi mau bagaimana lagi? ia tidak punya pilihan lain. Melihat Krystal dan Kris yang asyik berdua mengurusi olimpiade yang sesekali diselingin obrolan dan tawa, entah kenapa membuat Jessica panas.

 

Hari ini, Suho, Yoona dan Kris akan menginap di rumah Jessica yang membuat Jessica senang bukan main. Selama di Korea, hanya Suho saja yang pernah menginap di rumahnya. Tinggal di rumah besar seorang diri membuat Jessica bosan.

 

Ketika hari sudah malam, mereka memutuskan untuk menonton film horror di home theatre room yang terletak di lantai 2 rumah Jessica. Jessica sempat uring-uringan karenanya, ia benci film horror!

 

“Ya Jessica! Kenapa kau malah menutupi wajahmu? Filmnya sudah dimulai” protes Suho. Jessica hanya bergeming saja sambil sesekali mengintip dari sela-sela jari yang menutupi wajahnya.

 

 

***

 

 

Jessica POV

 

“Akhirnyaaa selesai juga!” Aku merasa lega bukan main film horror itu telah usai dan meregangkan tubuhku saat berdiri.

 

“Ssst, Krystal is sleeping Jess. Pelankan sedikit suaramu” Kris menegurku yang aku balas dengan memutar kedua bola mataku sambil melipat tangan di depan dada.

 

Tanpa diduga, Kris mengangkat tubuh Krystal dan menggendongnya di depan seperti ala bridal yang sering kutonton di Tv itu.

 

“Ya Jessica, Tunjukkan aku dimana letak kamar Krystal. Kajja!”

 

Aku terlalu terkejut untuk berkata-kata maupun bertindak sehingga aku hanya berdiri diam di tempat sebelum Kris menegurku lagi dari ambang pintu.

 

“Ya Jessica! Balli”

 

Aku melangkahkan kakiku sambil mengepalkan kedua tanganku erat-erat dengan pikiran yang entah sudah kemana.

 

 

***

 

 

Aku berdiri dan bersandar pada pintu kamar Krystal yang terbuka, memperhatikan gerak-gerik Kris, gerak-gerik yang ia pernah terapkan padaku beberapa hari yang lalu saat ia menggendongku sampai ke kamar dan menyelimutiku. Mataku menerawang memperhatikan kedua orang itu dengan senyum pahit yang terukir pada wajahku. Tanpa disadari, aku mendengus cukup keras dan langsung membuang muka.

 

Aku tidak tahu apakah Kris mendengar dengusanku barusan, tapi ia langsung menengokkan kepalanya ke arahku dan tentu saja aku menghindari tatapannya. Ia berjalan melewatiku, mematikan lampu kamar itu dan menungguku untuk berjalan keluar dari kamar itu. Aku pun langsung menutup pintu kamar Krystal dan melangkah melewati Kris dalam diam.

 

Aku mempercepat langkahku menuju kamarku yang letaknya tidak jauh dari kamar Krystal.  Saat memegang gagang pintu dan hendak membukanya, aku menengok ke arah Kris yang jaraknya hanya beberapa langkah dariku, aku memberi dengusan yang disertai senyum pahit atau sinis, aku tidak tahu pasti raut wajahku sekarang dan langsung masuk ke dalam kamarku, tempat Yoona sudah berbaring daritadi, meninggalkan Kris yang menatapku bingung dalam diam.

 

Aku berbaring di samping Yoona yang sudah terlelap. Meski lampu kamar sudah dimatikan dan hanya tersisa sinar redup dari lampu tidurku yang berbentuk kupu-kupu dari berbagai ukuran yang ditempel pada tembok dekat kepala tempat tidurku, aku tetap tidak bisa tidur.

 

Aku menghela napas panjang dan berkutat dengan pikiranku sendiri. Why can’t I get rid of you from my head, Kris? You’re making me crazy.

 

 

***

 

 

Aku terbangun dari tidurku dan mendapati Yoona masih terlelap di sampingku. Aku menengok jam dinding kamarku dan mendapati masih pukul 8 pagi. Aku memutuskan untuk bangun, bercermin sebentar dan turun ke bawah dengan rambut yang masih dikepang fishtail dan helai-helai rambut yang berjatuhan dekat tengkuk. Aku masih mengenakan tank top hitam yang dilapisi kemja oversized tipis berwarna putih yang panjangnya hanya sebatas paha.

 

Aku terpaku di tempat saat menuruni anak tangga, menyisakan 3 anak tangga di bawah. Aku berdiri diam di sana cukup lama. Pemandangan di hadapanku ini benar-benar membuatku panas. Aku tidak tahu kenapa hatiku sakit sekali. Lebih sakit daripada luka saat tergores pecahan piring waktu itu.

 

Kris dan Krystal sedang memainkan piano berdua sambil mengobrol dan sesekali diselingi tawa. Aku baru tahu kalau Kris bisa main piano. Pantas saja tekstur jari laki-laki itu jenjang yang sangat kusukai ketika ia mendekap pipiku untuk mengobatinya waktu itu. Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di situ dan mengamati mereka dalam diam, menahan air mata agar tidak keluar sekuat tenaga.

 

“Eonni? Kau sudah bangun?” kata-kata Krystal menyadarkanku dari lamunanku.

 

Aku hanya mendongakkan kepalaku menatap Kris tepat di mata, menuruni anak tangga yang tersisa dan minggat dari tempat itu tanpa suara.

 

 

***

 

 

Aku keluar dari dapur setelah puas menumpahkan air mataku di sana dengan Kim ahjumma yang dengan sabar menemaniku tanpa banyak bertanya sampai aku terlalu lelah untuk menangis lagi. Kau keterlaluan Kris! I wish I could hate you but I just can’t!

 

Aku mendapati semua orang sudah berkumpul di meja makan. Mulai dari orang tuaku sampai teman-temanku dan juga Krystal. Aku membantu Kim ahjumma membawakan menu sarapan ke meja makan dalam diam. Karena hari ini hari Sabtu, sehingga tidak ada pelayan yang masuk, jadi aku membantu Kim ahjumma. Hitung-hitung untuk mengalihkan perhatianku agar aku tidak sedih terus-terusan.

 

Aku duduk di sebelah Yoona dan sialnya, aku berhadapan dengan Kris. Entah mendapat keberanian darimana, aku menatap kedua mata indah Kris tanpa ekspresi. Aku bertatap-tatapan dengannya entah berapa lama ketika suara mom mengalihkan perhatianku dari namja di hadapanku ini.

 

“Hari Senin nanti kalian semua akan berangkat ke Jeju!!” Mom mengacung-acungkan 5 buah tiket pesawat dalam genggaman tangan kanannya dengan antusias.

 

Kami semua tercengang mendengar perkataannya dan aku mendapati diriku yang pertama kali bersuara.

 

“Mwo?!”

 

“Yes honey. You’re going to Jeju with your friends!” sahut mom.

 

“But mom, you promised me that I could go back to LA during holidays”

 

“Ayahmu tidak mengijinkannya, Jes” Mom melirik Dad dengan hati-hati.

 

“Krystal baru tiba di Korea. Tidak ada salahnya, kan mengajaknya ke Jeju? Bukankah Kris juga dari Canada? Temanilah mereka. Mereka belum pernah ke sana” Dad angkat bicara.

 

 Aku hanya pasrah, bersandar pada kursi, menghela napas dan menggenggam pisau serta garpu di kedua tanganku erat-erat. Seolah jika aku melepaskan mereka, aku akan menumpahkan air mataku di hadapan semua orang di situ dan aku tidak mau hal itu terjadi.

 

 

***

 

 

Author POV

 

Kris sampai di rumah Jessica lebih dulu sehingga mau tidak mau, ia hanya berdua dengan Jessica di dalam kamar gadis itu. Hari ini hari terakhir mereka mengerjakan tugas karena besok, mereka akan berangkat ke Jeju.

 

Kris mendapati Jessica sedang bersandar pada tumpukan-tumpukan bantal di tempat tidurnya dan muluruskan kaki mulus jenjangnya sambil menonton Tv.

 

“Wasseo?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari Tv.

 

“Eo” jawab Kris singkat.

 

“Kemana yang lain?” kali ini Jessica menengokkan kepalanya sejenak ke arah Kris dan memusatkan perhatiannya lagi pada Tv.

 

“Belum datang”

 

“Arasseo, masuklah”

 

Kris melangkah masuk ke dalam kamar dengan canggung. Ia menatap Jessica dan gadis itu menaikkan kedua alisnya lalu melirik ruang sisa pada tempat tidurnya, menyuruh Kris duduk di sebelahnya tanpa suara.

 

“Gossip Girl? Seriously?” Tanya Kris setelah duduk di samping Jessica dan mengamati film yang daritadi menyita perhatian gadis itu.

 

“Eo, wae?”

 

“Do you like it? why? Menurutku film itu membosankan karena tidak tamat-tamat”

 

“Why not? It’s quite entertaining, though. And it’s inspiring, somehow” Jessica menjawab masih dengan pandangan lurus ke depan.

 

Menunggu Kris yang tidak kunjung menjawab, Jessica menengok ke samping dan mendapati Kris yang memandang Jessica ingin tahu dengan kedua alis yang dinaikkan. Jessica mengerti arti pandangan itu. Kris ingin Jessica menjelaskan kata-katanya barusan lebih lanjut. Namun Jessica sedang malas bercerita panjang lebar terlebih hal itu akan membuatnya tidak konsen dengan apa yang ditontonnya.

 

“If you watch it and know me, then you’ll understand what I was talking about”

 

Mendengar itu, Kris hanya diam dan ikut menonton sebelum akhirnya membuka percakapan lagi.

 

“You seemed so pissed off”

 

“Mm?” Jessica mengalihkan perhatiannya dari Tv dan menatap Kris.

 

“Kau terlihat sangat marah saat mengetahui tidak jadi ke LA kemarin” jelas Kris.

 

“Eo jinjja? Seperti apa ekspresiku saat itu?”

 

“Entahlah, antara ingin menangis dan marah”

 

Jessica tersenyum pahit dan mengalihkan pandangannya ke Tv lagi.

 

“Do you miss LA so badly?”

 

“Well, how about you, Kris? Do you miss Canada?” Jessica balas bertanya.

 

Keduanya tidak ada yang menjawab karena mereka mengetahui sendiri jawabannya.

 

“Kenapa kau sangat ingin kembali ke LA? Jangan-jangan bukannya merindukan LA, kau malah merindukan sesorang?” Kris bertanya lebih lanjut. Ia benar-benar penasaran dengan gadis di sampingnya ini. Biasanya Kris akan bersikap cuek dan tidak mau tahu urusan orang, tapi tidak terhadap Jessica. Ada sesuatu yang membuatnya ingin tahu segalanya tentang Jessica.

 

“I miss them both” Jessica mengulum senyum ke arah Kris.

 

“Ya daebak.” Kris mendengus pelan.

 

Jadi Jessica merindukan sesorang di LA sana? Siapa itu? bukankah aku orang pertama yang ia sukai? Kris berkutat dengan pikirannya sendiri.

 

“Wae?” Jessica mengerjapkan matanya bingung mendengar dengusan dari Kris.

 

“Ani, memangnya, siapa orang yang kau rindukan itu? pacarmu?” Tanya Kris sblak-blakkan. Ia sudah tidak peduli lagi akan tanggapan yang akan diberikan Jessica. Ia benar-benar penasaran dan ingin memastikan bahwa Jessica tidak sedang menyukai orang lain di luar sana. Apakah ia egois? Entahlah.

 

“Mwo? Aniya, aku tidak punya pacar. Aku merindukan sahabatku” Jessica terkekeh dan Kris terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, puas sekaligus lega mendengar jawaban yang keluar dari bibir gadis itu.

 

“Ya Jessica, kenapa kau benci sekali dengan Krystal?” tiba-tiba pertanyaan dari Kris membuat Jessica tertegun sejenak.

 

“Bukan urusanmu” Jessica terlihat mengontrol ekspresinya, masih memandang Tv, enggan bertatapan dengan Kris.

 

“ Aku tahu kalau dia bukan adik kandungmu, meski di mataku kalian terlihat mirip hanya saja dengan sikap yang berbeda. Tidakkah kau kasihan dengannya? Ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi untuk dipercaya kecuali orangtuamu” Jessica menelan ludah mendengar kata-kata Kris.

 

“Kau tahu dari mana?” bukannya menjawab, Jessica malah balas bertanya.

 

“Bukan urusanmu” Kris meniru kata-kata yang sering diucapkan gadis itu.

 

“Heol jinjja” Jessica mencibir ke arah Kris.

 

“Bersikaplah baik padanya, Jess. Just think about it” ucap Kris.

 

 

***

 

Almost, almost is never enough
So close to being in love
If I would have known that you wanted me
The way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

 

Jessica melantunkan sebuah lagu dengan pelan namun masih tertangkap oleh telinga Kris yang duduk dihadapannya. Entah kenapa, lagu itu seakan-akan mencerminkan kisah antara Jessica dan Kris. Mereka sedang mengerjakan pr di atas meja kecil berwarna putih yang tidak terlalu tinggi dan duduk di lantai yang dilapisi karpet halus sembari menunggu kedatangan Suho dan Yoona.

 

Merasa diperhatikan, Jessica mendongakkan kepalanya dan mendapati Kris yang sedang terseyum-senyum ke arahnya.

 

“Wae?”

 

“Suaramu bagus”

 

Jessica hanya memonyongkan bibirnya salah tingkah dan juga karena malu.

 

“Jinjjaro. Kenapa kau tidak menjadi penyanyi saja?” Kris meyakinkan Jessica.

 

“Bukan urusanmu” sahut Jessica yang langsung disertai ringisan pelan dan pekikan kecil yang keluar dari mulutnya ketika Kris mencondongkan tubuhnya ke arah Jessica dan menyentil kening gadis itu.

 

“Ya! apa yang kau lakukan Kris Wu? Aish appo…” protes Jessica sambil mengusap-usap keningnya yang mulai memerah.

 

“Lagipula siapa suruh kau menjawab seperti itu? Tidak sopan.”

 

“Ah wae? Menurutku itu sopan-sopan saja” bela Jessica.

 

Tiba-tiba Kris tertawa lepas, tawa renyah yang disukai Jessica, yang sudah lama tidak ia dengar.

 

“Ya! kenapa kau tertawa? Tidak ada yang lucu” Jessica memukul lengan Kris pelan.

 

“Kau harus liat ini” kata Kris di sela-sela tawanya.

 

Tiba-tiba, Kris bangun dari duduknya dan berlutut di samping Jessica, mendekap kedua bahu gadis itu lalu memutarnya supaya mengahadapnya. Ia mengeluarkan iphone dari saku celananya lalu memotret wajah Jessica yang kebingungan dan menunjukkan hasil fotonya pada Jessica.

 

“Ah ige mwoya?? Kenapa keningku jadi merah sekali?” Jessica merengek saat melihat hasil foto itu sambil memukul-mukul tubuh Kris yang terguncang-guncang karena tertawa.

 

Kris menangkap kedua tangan Jessica yang daritadi memukuli dirinya dan berusaha untuk menahan tawanya.

 

“Mianhae, aku tidak tahu kalau aku menyentil keningmu terlalu keras” Kris masih terkekeh pelan dan menatap Jessica tepat di mata yang membuat Jessica menahan napasnya.

 

“Aigoo jinjja mianhae, Jessica Jung” pandangan Kris tiba-tiba menjadi lembut lalu mengusap-usap kening gadis itu dengan sebelah tangannya. Seperti terhipnotis, Jessica hanya bisa diam di tempat dan mengamati wajah Kris dari jarak sedekat itu. Hatinya berdebar-debar dan napasnya tertahan setiap kali berada di dekat namja itu.

 

“Yeoreobeun anyeong!!” Suara keras Suho mengisi kamar luas milik Jessica yang disertai dengan terbukanya pintu kamar.

 

“Ya ya ya! apa yang sedang kalian lakukan berdua di dalam kamar? Aish jinjja remaja jaman sekarang” Suho kembali berceloteh saat menangkap basah Jessica dan Kris yang dalam posisi seperti itu.

 

“Anyeong! Omo! Apa yang sedang kalian lakukan? Apakah Suho dan aku perlu meninggalkan kalian sebentar?” Yoona muncul dari balik punggung Suho dan langsung mendekap mulutnya dengan kedua tangan. Wajahnya mulai memerah.

 

Jessica dan Kris hanya melongo menatap Suho dan Yoona secara bergantian. Seakan tersadar, Kris melepas tangannya dari kening dan tangan Jessica sedangkan Jessica menarik tubuhnya menjauhi Kris.

 

“Ani. Ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Memangnya kalian pikir kami sedang apa? Dasar byeontae!” bela Jessica.

 

“Kalian tunggu apa lagi? Ayo cepat masuk, kalian sudah terlambat. Eo? Camkanman, kalian datang bersama? Seriously, are you guys dating or what?” Jessica menginterogasi Suho dan Yoona dengan mata yang disipitkan untuk mengalihkan perhatian mereka.

 

Bukannya menyangkal, kedua orang yang datang terlambat itu hanya melirik satu sama lain dan tersipu malu.

 

“Ya Jessica Jung, kau terlalu banyak menonton Gossip Girl. Dasar nenek sihir tukang gossip. Sebelum menggosipkan orang lain, urusi dulu gossip tentang dirimu itu” balas Suho.

 

“Mworago? Gossip tentangku? Tentang apa memangnya? Aku sudah terbiasa digosipi orang. Hahhh… maybe I was born to be the center of attention” Jessica membalas tidak mau kalah sambil memainkan kuku-kuku lentik jari tangannya.

 

“Tentu saja skandal tentang dirimu dan Kris. Bahkan gossip semakin memanas dengan kehadiran Krystal yang jauh lebih cantik dari penyihir sepertimu. Berhati-hatilah Jessica. Sebentar lagi ketenaranmu itu akan berpindah pada Krystal” Suho semakin gencar memanas-manasi Jessica. Ia tahu Krystal adalah topic sensitive bagi gadis itu terutama jika sudah menyangkut Kris. Ha! Skakmat!

 

“YA !!!”

 

 

TBC

 

 

Hai! sesuai janji, kl comment d chapt sblmny bnyk, ak bakal kirim lanjutanny secepatny kn? hehe mian y kl kependekkan n emg konflik d chapter ini blm hot kkk smoga kalian ga bosen y sm ff ku ini >< stay tune n big thanks for the nice readers~ mau cepet d lanjut ga? Kl mau, comment juseyong~ oh iy, mungkin ak br bs kirim chapt selanjutnya 2 minggu lagi soalny minggu ini ak mau live in ke jawa tengah selama seminggu yeayy! Kkk harap d tunggu~ tp kalau comment ny bnyk, ak usahakan chapt selanjutny kukirim sebelum ak berangkat live in hehe saranghanda ❤

63 thoughts on “[Freelance] Confessions (Chapter 5)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s