[Freelance] What, Marriage? (Chapter 3)

wpid-whatmarriage1.png

Title : What, Marriage? (Chapter 3)

Author : IraWorlds

Genre : Drama, Marriage Life, Romance

Cast : Kwon Yuri, Xi Luhan

Other Cast : Jessica Jung, (dan masih banyak lagi)

Leght : Chapter

Rating : PG-15

Poster by : Springeous at http://www.posterdesigner.wordpress.com

Disclaimer : all characters belong to one supreme god,

A/N : ma’af jika ada penulisan yang salah atau dempet dan nggak mau pisah. Terimakasih atas komentar nya kalian di chapter sebelum nya. Don’t Bash. No Sider. Pliss banget tinggal kan komentar atau like saja.

Happy Enjoy!

Tiba-tiba langit menjadi terang oleh cahaya kilat yang di sertai gemuruh petir. Water House yang tampak tenang pun seketika terlihat seperti terkena pancaran api. Rumah mewah bergaya hunian bangsawan abad pertengahan tersebut masih di selimuti kabut tebal, sehingga suasana pagi itu pun tampak seperti malam hari.Image

Sambil mengancingkan lengan jas nya yang berwarna biru tua. Luhan turun dari lantai dua Water House.

Tadi, Luhan mendapatkan pesan singkat dari Kakek nya. “Ingat! Nanti malam kosongkan semua jadwal mu!” Seperti itulah kira-kira.

Di dalam ke-tidak sukaan tersebut Luhan kembali di kaget kan oleh suara gemuruh petir yang membuat nya bertanya-tanya.

“Hah? Suara apa itu?”

Luhan beranjak mengemudikan Open car menuju ke arah luar rumah mewah nya.

Luhan mengemudikan cukup laju mobil nya di suasana lengang Seoul.

Laki-laki yang selalu berpakaian rapi dan berkelas itu tersenyum menikmati angin yang menerpa wajah nya.

“Apakah aku harus melakukan misi pelarian, agar aku tidak di jodohkan?” 

Luhan semakin melajukan open car milik nya.

“Mungkin itu ide yang harus di coba.”

-O-

Jessica fokus pada panci, air panas, dan kopi. Di pantry rumahnya.

Lima belas menit kemudian kopi buatan Jessica siap. Jessica menuangkan nya ke mok untuk nya dan Yuri.

“Aku tidak tahu pasti, apa motif mu untuk mengunjungi rumah ku,” Jessica menyesap kopi nya. “Tapi aku senang kau akhirnya berkunjung juga ke sini.”

Yuri menyesap kopi buatan Jessica, menikmati pahit dan manis yang bercampur dengan komposisi sempurna.

“Delicious right? this is my favorite coffee.” Jessica menyunggingkan senyum termanis yang ia miliki.

“Rasa kopi nya luar biasa! Manis dan pahit nya sempurna. Belum lagi aromanya yang kuat. Ini kopi terbaik yang pernah aku minum. Kau baik sekali mau membaginya dengan ku.” Yuri kembali menyesap kopinya.

“Ini tidak seenak seperti kopi langganan di cafè favorite mu. Tapi untuk pujian nya. Terimakasih.”

Yuri ingin tertawa melihat perubahan wajah Jessica yang merah, mungkin dia tersipu malu. “Oh ya, aku sungguh tak tahu, dari tadi aku sangat curiga dengan kedatangan mu.”

Yuri melihat punggung Jessica yang semakin menjauh, berjalan ke kulkas untuk mengambil buah-buahan.

“Sebenarnya aku ingin minta bantuan mu,”

Jessica menutup kulkas ia berjalan kembali mendekati Yuri. Dan memberikan satu buah apel. Yuri pun mengambil apel merah yang segar.

“Sudah kuduga. So, bantuan macam apa?”

Yuri mengigit apel yang di pegang nya “Ini tidak sulit. Tapi konsekuensi nya… aku tak menjamin akan baik-baik saja.”

Yuri melanjutkan memakan apel nya dengan wajah polos dan tak berdosanya. “Kau tahu kan maksud ku?” SedangkanJessica cemas dengan permintaan bantuan Yuri itu.

“Apa?”

Yuri melihat Jessica tak percaya.

“Gantikan aku malam ini.”

Jessica tak mengerti, apa maksud Yuri. “Apa maksudmu?” Di lihat Jessica, Yuri menghembuskan nafas nya dengan kasar.

“Orang tua ku akan datang ke Korea, ada acara pertemuan dan mungkin masalah bisnis orang tua ku, kemarin malam Bibi Jang memberi ku sebuah dress. Dan aku tak bisa menggunakan nya. Jadi, aku memintamu untuk mengganti posisi ku malam ini.” Ucap Yuri dengan satu tarikan nafas.

Jessica tertawa mendengar ucapan Yuri. Sesaat ia berfikir Yuri benar-benar sudah gila. Masalah pakaian rupanya. Dan hanya karena dress saja.

“Dan kau tahu kan aku tidak bisa menggunakan dress itu?”

Tawa Jessica semakin pecah ia bahkan menepuk-nepuk meja di depan nya.

“Ini tidak lucu, dan aku serius,” tambah Yuri.

“Tidak bisa Yul, kau mau aku di telan habis-habisan oleh orang tua mu?” Jessica mulai meredakan tawa nya yang sempat meledak. “Mereka pasti mengetahui mana anak nya dan mana orang asing,”

“Aku tahu!” Yuri kembali memakan buah apel nya tidak dengan perasaan.

“Sudah ku bilang bukan ini tidak sulit, tapi ada konsekuensi nya.”

“Tapi itu sama saja. Pasti akhirnya akan menjadi masalah,” ucap Jessica.

“Aku mengerti, tapi kau belum mencobanya, ayolah.”

Melihat ekspresi Yuri yang memelas membuat hati nurani Jessica tergerak. “Aku tidak tahu arah pikiran mu saat ini, hanya karena masalah ‘dress’ saja kau besar-besarkan seperti ini,” Ucap Jessica penuh dengan penekanan.

“Tapi, aku tetap tidak bisa membantumu Jika ini pertemuan penting bagaimana?” Lanjut Jessica.

“Aku tahu, ku mohon Jessica. Kau hanya duduk disekitar mereka saja dan untuk masalah identitas kau bisa memakai masker. Jika mereka bertanya kau beralasan ada gangguan mulut. Jika orang tua ku mulai curiga, kita akan bertukar posisi.”

Gadis berambut coklat itu masih ragu. Tapi ia akan merasa jahat jika tidak membantu Yuri. Yuri adalah sahabat pertama yang sangat baik terhadapnya. Tapi jika ia melakukan nya sama saja ia sudah membohongi orang tua Yuri nantinya.

“Mereka akan mengetahui jik-”

“-ku mohon,”

Yuri yang di kenal tomboy hanya bisa memohon ke Jessica, tak ada satu pikiran pun yang terlintas di pikiran Yuri. Jika ini bisa menurunkan derajat nya sebagai Yeoja kuat. Justru, jika ia memakai baju super minim itu yang akan menurun kan image tomboy nya.

Ya, meskipun sekarang ia di kenal sebagai Yeoja seperti biasanya karena penampilan nya yang lumayan feminim, tapi siapa tahu bahwa itu juga paksaan dari orang tua nya.

“Baiklah.”

Satu kepasrahan yang bisa di tunjukan Jessica, pengorbanan yang di lakukan nya untuk sahabat baru nya.

-O-

Luhan dan Kakek nya memasuki Cafè mewah yang sudah di pesan, untuk pertemuan penting mereka.

Luhan sudah tahu bahwa dirinya akan bertemu dengan calon Istri nya itu.

Kakek Luhan tersenyum lebar ketika dari ujung sana seseorang melambaikan tangan nya.

“Aku permisi ketoilet dulu,” tanpa persetujuan dari Kakek nya, Luhan berhasil meleset pergi. Itu justru membuat Kakek nya sedikit marah.

Di satu tempat. Jessica menceramahi Yuri habis-habisan. Tepat nya dia cemas, bagaimana kalau orang tua Yuri mengetahui nya?

“Tenang kau tidak perlu banyak bicara dihadapan mereka. Aku akan mengawasi mu nanti dengan menjadi pengunjung cafè. Jadi kau tenang saja.” Yuri menata wig yang di pakai Jessica.

Yuri menepuk pundak Jessica setelah dirasanya wig itu sudah cocok. “Kau enak bicara saja!” Gerutu Jessica.

Yuri memutar bola matanya. “Ayo, cepat kita masuk!”

Pakaian dress merah selutut di tambah tidak ada lengan. Sangat pas di pakai Jessica. Yuri tak menyangka, dress yang ia benci ini sangat bagus juga.

“Nah itu mereka,” Yuri menujuk, disana ada Ayah dan Ibu nya. Dan satu lagi orang yang tidak di kenal Yuri.

“Jangan lupa ini masker nya.” Yuri menyerah kan masker pada Jessica.

Sedikit tidak yakin apakah rencana ini berhasil atau bahkan di luar dugaan.

Jessica mulai berjalan di mana di sana ada orang tua Yuri. Sedangkan Yuri memesan satu meja yang jarak nya tak jauh dari tempat target nya.

Di sini Yuri siap-siap menguping. Semoga rencana konyolnya ini berhasil.

“Hallo-“  Jessica menyapa tapi kata-kata nya ia putus begitu saja. Selain merubah suara untuk lebih mirip dengan suara Yuri. Jessica di buat bingung sekaligus dia deg-degkan. Jessica belum sempat bertanya pada Yuri. Apa panggilan yang sering ia -Yuri- gunakan untuk orang tuanya.

Eomma, Appa?

Ayah, Ibu?

Bunda, Papa?

Papi, Mami?

Mommy, Daddy?

Oh ya ampun Jessica benar-benar bingung.

“Hallo, Eomma, Appa.”

Terlihat jelas orang tua Yuri menaikkan alis mereka bingung sekaligus heran. Tapi ya sudah lah. Mungkin terlalu lama di Korea, bahasa panggilan Yuri juga ikut berubah.

“Sayang, tampilan mu sangat berubah dan kenapa anak Ibu, memakai masker?”

“Oh, eumm.. gusi ku sedikit luka.” Jessica menjawab asal. Masa bodo!

“Ayo duduk!”

Yeah, dugaan Yuri salah duduk di sini sama sekali tidak bisa mendengar perbincangan orang tua nya.

Tapi Yuri senang. Jessica berhasil duduk di sana. Yang arti nya Jessica berhasil menjalankan tugas nya.

Mata Yuri terarah kepada salah satu pelayan di cafè ini. Terlihat dari nomor yang ada di nampan itu adalah nomor di mana meja orang tua dan Kakek Luhan yang sekarang mereka tempati.

Dengan cepat Yuri memasang kacamata hitam dengan topi dan jangan di lupakan rambut yang di ikat kuncir kuda. Yuri mengambil alih sajian minuman yang berisikan coklat dan coffee yang di pengang si pelayan.

Yuri pun berjalan menghampiri mereka dan Yuri tahu mereka pasti tak akan mengenalinya. Karena mereka terlalu fokus satu sama lain.

Tampilan Yuri sangat aneh dengan penampilan pelayan-pelayan yang lain nya. Tentunya tanpa kostum yang sama dengan pelayan di Cafè mewah ini.

Jessica terkejut hebat mengetahui Yuri ada di hadapan nya sekarang. Orang tua Yuri tidak menyadari bahwa ada Yuri yang sebenarnya di sini.

Yuri menurunkan kacamatanya dan berkedip membuat suatu isyarat bahwa apa yang di lakukan Jessica saat ini benar.

Saat bersamaan ketika Yuri meletakkan lima gelas di meja. Ibu Yuri berkata. “Mr. Perjodohan ini resmi di laksanakan bukan?”

Yuri yang terkejut hampir saja menumpahkan minuman yang berisi hot coffee. Untung saja tidak menimbulkan pandangan yang menyorot dirinya.

Sama hal nya dengan Yuri, kerongkongan Jessica terasa tercekat.

-O-

Luhan duduk di bangku panjang di sebelah Cafè internasional ini. Luhan tidak siap jika harus bertemu dengan calon Istri nya.

Beberapa kali Luhan mendapat pesan dari Kakek nya agar ia cepat kembali dari toilet.

“Ma’af kek, aku tidak bisa.” Gumam Luhan. Hanya kata-kata itu yang selaku ia ucapkan. Luhan tidak mau mengecewakan Kakeknya. Ia hanya belum siap saja.

Luhan tahu ini untuk kebaikkan nya. Dia bukan anak kecil lagi yang tak mengerti apa-apa, tapi dirinya benar-benar belum siap.

“Ini tidak lucu!!!”

Luhan melihat Yuri lewat di hadapan nya, dengan sumpah serapah, komat komit yang ia ucapkan. Rambut berantakan dan wajah yang di tekuk.

Naas

Luhan mendapat lemparan kacamata yang di lemparkan asal dengan Yuri. Gadis itu terus berjalan tanpa dosa.

Luhan geram.

Ia bangkit dari duduk nya dan mengejar Yuri. Luhan menarik baju bagian belakang Yuri.

“Ya!”

Yuri membalikkan badan nya. “Kau?!”

“Ya! Kau menaruh mata mu dimana?!” Luhan mengomel, membuat darah Yuri semakin naik.

“Diam!”

Teriakan Yuri mampu membuat Luhan mengantup kan bibirnya.

“Kau tahu?! Aku saat ini benar-benar merasa sedih! Dan ‘kau’ membuat ku menjadi semakin sedih,”

“Aku..?”

Tentu saja Presdir tampan itu tidak terima. Seharus nya dia yang marah-marah. Dan sekarang kenapa gadis itu yang memarahinya?

“Yeah, kau!”

Luhan tersenyum kecut. Menatap manik mata Yuri dengan kebencian nya. “Kau tahu eoh? Kacamata sialan mu ini membuat kepala ku menjadi sakit! Dasar Yeoja tidak tahu diri!” Bentak Luhan di hadapan Yuri.

Yuri terdiam.

Air mata gadis itu menetes didalam tatapan kosong nya yang mengarah ke Luhan. “Semua orang jahat!” Yuri terisak. Hidung nya memerah mata nya merah dan di penuhi air mata.

Yuri menyeka air mata yang menetes untuk pertama kali nya di Seoul.

Luhan terdiam, tak menyangka gadis yang dianggap nya kuat ini ternyata rapuh seperti abu rokok.

Luhan bersalah. Ia membuat seorang gadis menangis, dihadapan nya pula. Di saksikan oleh orang-orang yang melintas.

Apa bentakkan nya tadi terlalu menyakitkan? Untuk seorang Kwon Yuri?

“Yuri, ak-”

Luhan mengantung ucapan nya sendiri. Ingin sekali Luhan merengkuh Yuri dalam pelukan nya, menenangkan Yuri, dan meminta ma’af kepadanya. Tapi dirinya tak berhak melakukan itu. Mungkin itu bahkan bisa membuat Yuri semakin menangis atas perlakuan nya.

“Sudahlah lupakan!” Ucap Yuri dengan nada yang lemah. Berbalik membelakangi Luhan. Berjalan tanpa tahu arah. Menyenggol bahkan menabrak orang yang berlawanan arah dengan nya. Jalan nya gontai seakan tidak ada tenaga lagi.

Dari jauh Luhan menyaksikan Yuri yang begitu rapuh itu. Ada gejolak yang membuat Luhan ingin menemaninya. Tapi untuk apa Luhan membantu nya.

Luhan menelpon seseorang.

“Hallo Tuan?” Tanya seseorang di seberang sana.

“Cari gadis itu! Awasi dia! Pastikan dia pulang dengan selamat.”

“Baik Tuan.”

Luhan mematikan sambungan telpon dengan orang suruhan nya.

Luhan kembali memandang ke depan. Yuri sudah menghilang dari pandangannya.

“Ma’af Yuri.”

TBC

***

Hahaha~ sorry ya kalo pendek ‘Lagi’ dan tidak menarik. Awalnya sudah lama bangeet chapter ini dan 4 aku post. Tapi diblog aku sih. (iraworlds29.wp.com) berasa sudah basi karena nyampah di laptop mulu. Tapi cahp 4 akan nyusul lebih panjang dan enggak lama.

18 thoughts on “[Freelance] What, Marriage? (Chapter 3)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s