[Freelance] Good Bye and Welcome

GOOD BYE

Tittle

Good bye and welcome

Author

DeliaAnisa

Genre

Romance and sad

Length

Oneshot

Rating

PG 15+

Main cast

Byun Baekhyun and Kim Taeyeon

Other Cast

Kim Jong In

Disclaimer

Ini FF hasil dan murni dari imjinasi saya, maaf jika ada kesamaan dan tentunya itu tidak disengaja, and don’t plagiat.

Author Note

Ini ff kedua oneshot ku yang menurutku cukup panjang, maaf yahh kalau membosankan, typo bertebaran, alurnya kecepatan, atau hal-hal buruk lainnya. Tapi harap komennya yahhh.. so.. enjoy ^_^

 

 

Baekhyun tersenyum cerah saat hasil bidikannya keluar dengan hasil yang tak mengecewakkan. Dia meminum bubble tea chocolate biscuitnya sebentar lalu kembali membidik sekelilingnya. Dia duduk dikursi kayu tua dengan pohon sakura yang membentang tinggi dibelakangnya.

“akhh sungguh mengasyikan”

Ia menidurkan tubuhnya diatas kursi kayu tua itu dengan helaan nafas, memandang langit dengan gumpalan-gumpalan awan indah berjejer diatas sana. Ia tersenyum kilat, senyuman yang mematikan bagi siapapun yang melihatnya. Sangat menawan. Entah kenapa awan yang bergerak diatas sana yang ia tatap membuat ia harus masuk kealam mimpinya. Ia tertidur begitu nyaman.  

Siapapun bebas melakukan hal yang mustahil menjadi nyata dialam mimpi, termasuk baekhyun. Ia tidak bisa bermain ice skatting dalam kehidupan nyata, tapi bukankah mimpi itu gratis dan indah? Ia bisa melakukannya tanpa harus takut akan terjatuh. Ia memainkan kedua kakinya riang diatas sana. Layaknya pemain ice skatting yang terlatih. Tapi kenapa dialam mimpipun ia harus terjatuh? Kakinya terasa ngilu sekali, siapa yang berani mengganggu mimpinya?

Matanya terbuka dengan bibir mengerucut sebal. Kapan lagi ia menjadi pemain ice skatting yang handal tanpa pengawasan, itu sungguh menyesalkan. Ia memutar bola matanya, dan ia tersenyum kecut. Akkhh.. jadi pria berkulit tan itu yang sudah berani membangunkannya. Lantas ia berdiri, dan sedikit membuat tatapan tajam pada lelaki itu.

“kim jongin kenapa kau sangat suka menendang kakiku saat aku tertidur dan bermimpi, kau memang sangat senang membuat sahabatmu itu murka, aku bersumpah jika saat ini kau berada diposisiku, mungkin kau akan mengahajar orang yang sudah berani mengganggu ketenanganmu. Akhhh, aku sudah sangat bosan  mengatakan hal ini padamu berkali-kali.” Baekhyun mendengus kesal pada ‘kim jongin’ sahabat yang sudah berani membangunkannya. Jongin hanya terkekeh tanpa ada rasa bersalahnya sama sekali.

“heii.. ayolah kawan aku juga bosan melihatmu hanya bermain-main  disini dengan kameramu, setiap hari kau memanjakkan kameramu dan berpacaran disini, kau tidak berniat mencari gadis dan tidak mungkinkan kau akan menikahi kameramu ini..” kai memandang jijik kamera yang sudah melekat ditangan baekhyun, baekhyun memutar bola matanya malas.

“jika memang boleh, aku akan menikahi kameraku sekarang juga.” Baekhyun berucap santai –setengah bercanda dan serius-  lalu melangkahkan kakinya menjauhi jongin yang masih terlambat untuk mencerna ucapan baekhyun, setelah baekhyun jauh dari pandangannya, ia bergidik ngeri -baru menyadari ucapan konyol sahabatnya-.

“apa dia sudah gila?” kai mendesis pelan, lalu berlari mensejajarkan langkahnya dengan baekhyun, lalu merangkulnya.

“ahhh byun baekhyun, sahabat tersayangku sekarang sudah tidak normal yahh..” baekhyun menatap jongin sekilat, lalu tak berniat menjawabnya. Sungguh malas ia sekarang dengan jongin.

.

.

.

 “kita akan kemana sekarang, jongin?” Tanya baekhyun masih memandang jongin kesal, namun jongin tak tau tatapan itu, matanya terfokus pada berbagai kendaraan dihadapannya –lebih tepatnya dijalan raya-

“kau tau, aku merasa tak seberuntung dirimu. Aku pikir, aku terlalu rendah berteman denganmu. Kita sungguh berbeda..

“jongin, kau sedang bicara apa?…

“kau hidup dalam dunia yang terlampau indah, tak ada goresan ataupun luka padamu, karena semuanya ajaib dengan uang.

“jongin..

“cintapun bisa terpisah dengan uang.

Jongin memberi jeda panjang, lalu menghela nafas dan menatap baekhyun dengan tawa dibibirnya.

“ kau terpukau dengan naskah dramaku? Hahahh..” bagi jongin itu sebuah candaan tapi baekhyun memang menanggapi itu semua serius. Faktanya dirinya dan jongin memang berbeda. Sangat.. jongin si berkulit tan yang bekerja diclub malam sebagai bartender. Sementara dirinya, ia seorang pewaris tunggal ayahnya yang notabane nya keluarga dari kalangan atas, seorang anak konglomerat dengan kekayaan berlimpah, sungguh hal tadi membuat baekhyun tercekat. Tapi dahinya berkerut saat mendengar jongin mengatakan ‘cintapun bisa terpisah dengan uang’.. apa itu benar-benar sebuah candaan ? lalu jika memang bukan, apa itu maksudnya?

“ahh taxi, ayo masukk.. kita akan kesauna.” Jongin menghentikan taxi, baekhyun terkesiap saat jongin menarik tangannya membuat ia harus kembali tersadar setelah dalam beberapa menit ia menganalisis perkataan jongin. Mereka terdiam disana tak ada yang berniat membuka percakapan. Jongin menatap kaca mobil disampingnya, tatapan sendu. Berbeda saat dirinya berhadapan dengan baekhyun, raut wajah yang bisa dikatakan riang. Baekhyun bermain dengan smartphone nya dan bermain games disana, sesekali ia melirik jongin –yang tampak berbeda- murung dan pendiam. Ada apa?

“kenapa kita harus kesauna, jongin? Dan tumben sekali kau mengajakku kesana.. apa sedang ada sesuatu yang terjadi padamu?” Mata baekhyun sungguh tak ingin menatap jongin, tapi hatinya terus menunggu jawaban dari jongin, ia sangat ingin sahabatnya itu menceritakan apa yang sebenarnya membuatnya  murung.

“tidak ada, aku hanya ingin bersantai saja disana.” Jongin memutar kepalanya kesamping, menatap baekhyun dengan mengukir senyum dikedua sudut bibirnya. Dia sedang menutupi perasaannya, sungguh baekhyun tau itu.

Mereka tiba dipemandian air panas –sauna- yang sering kita lihat didrama korea. Setelah mereka membayar, keduanya langsung mengganti pakaian mereka dengan kaos oblong berwarna senada-sudah tersedia disana-. Baekhyun dan jongin merebahkan tubuh mereka didepan kolam, lengan mereka dijadikan bantal bagi mereka, sungguh nyaman sekali. Pikir keduanya.

“apa ini pertama kalinya kita kemari bersama?” Tanya baekhyun dengan senyuman cerahnya, mungkin ia terlalu senang untuk berada disini. Bersantai dengan tempat penuh ketenangan, mungkin tempat itu lah yang ia suka. Jongin mengangguk.

“hmm..

“apa kau pernah kesini bersama taeyeon?” Tanya baekhyun lagi dengan nada yang sama. Tapi kata ‘taeyeon’ membuat jongin merasakan dadanya sungguh sesak, tak ada oksigen yang masuk. Sungguh itu menyesakkan dirinya. Tapi seperkian detik kemudian jongin tersenyum –senyum yang terkesan dipaksakan-

“ahh,, ne. aku dan taeyeon sering kemari. Kami sangat bahagia.” Kata terakhir yang diucapkan jongin terdengar ada penekanan disana. Hingga deru nafasnya tak teratur. Jongin terlihat aneh –menurut baekhyun- . tapi dia bersikap layaknya tak terjadi apa-apa pada jongin.

“aku harap tak ada keretakan diantara kalian. Kumohon, jangan sampai kau memutuskan hubungan. Kau dan taeyeon adalah best couple, kau taukkan aku sangat mengidolakan kau dan taeyeon. Jadi jangan kecewakan penggemarmu.” Kata baekhyun terselip tawa disana.

.

.

.

Baekhyun melangkah ringan masuk kedalam rumahnya, para pelayan disana dengan segan memberi hormat –bungkukkan- pada baekhyun. Tuan muda mereka. Baekhyun hanya membalas mereka dengan eye smile nya. Sungguh cute dan tampan.

Tatapan nya terlempar pada satu objek, ayahnya. Tapi ia kembali menangkap orang lain dimatanya, ia menyipitkan matanya sesosok wanita yang amat ia kenal. Memang sudah tidak asing lagi.. itu taeyeon?

“Taeyeon-aa.” baekhyun berjalan mendekati taeyeon yang tengah berdiri disamping ayahnya dengan lambaian tangan. Tapi taeyeon hanya tertunduk, enggan menatap baekhyun.

“aku tak menyangka, ternyata kau dan ayahku saling mengenal.” Ucap baekhyun polos dengan disertai senyuman –khasnya-. Tapi air mukanya berubah saat mendelik taeyeon yang hanya terdiam. Ada apa ini? Tatapannya ia lempar pada ayahnya seperti meminta penjelasan. Ayahnya memegang kedua pundak baekhyun dan tersenyum penuh arti.

“aku membawa calon istrimu,  appa senang ternyata kau mengenalnya. Sebelumnya appa minta maaf karena tak sempat memberitahukan ini padamu. appa ingin kau segera menikah dengan gadis pilihan appa. Gadis yang latar belakangnya sama sepertimu, gadis cantik dan ramah. Inilah menantu impian appa.. dan tentunya kau baekhyun.” Baekhyun membuka matanya selebar mungkin, wajahnya memucat kala itu juga, tubuhnya mendadak menggigil.

“apa ini appa? Apa ini termasuk naskah drama yang akan appa tampilkan?” ucap baekhyun dengan lidah kelu. Ia menghempaskan tangan ayahnya kasar yang mulanya bertengger dipundaknya.

“hha.. puteraku memang lucu. Tak ada naskah dan tak ada drama. Ini nyata anakku.” Sekali lagi, memang tak ada tanda-tanda candaan disana. Ini serius, dan membuat baekhyun sulit mempercayai segala hal yang terjadi padanya hari ini. Pertama, jongin bersikap aneh tadi. Dan sungguh ini takdir yang buruk. Kenapa bisa taeyeon dan dirinya dijodohkan? Dia bukan tidak menyukai taeyeon. Hanya saja taeyeon adalah kekasih dari jongin, dan ia sudah beberapa kali mengatakan pada mereka –kai dan taeyeon- bahwa dirinya sangat menyukai pasangan ini. Sampai-sampai ia sudah menjadi paparazzi, yang sangat suka mencuri gambar keduanya. Ia penggemar berat, Sungguh. Mereka –kai dan taeyeon- adalah pasangan yang lucu dan serasi menurut baekhyun. Tapi takdirnya sangat buruk, bagaimana mungkin ia harus menghancurkan pasangan favoritnya. Ini lucu. Hal terpenting adalah ia sudah tanpa sadar  mengkhianati jongin –sahabat terbaiknya-..

Tubuhnya memburuk saat appanya meninggalkan dirinya dan taeyeon berdua, setelah appanya menerima telepon dan berpesan pada baekhyun agar mengajak taeyeon berjalan bersama, entah itu ke namsan tower, jeju, atau nami island. Itu sungguh membuat baekhyun gila.

“hmm, mau melihat-lihat isi rumahku.” Baekhyun menggigit bibir bawahnya sendiri. Ini buruk, dia canggung dan akhirnya melontarkan hal bodoh seperti ini. Dia tak tau apa yang harus ia katakan pada taeyeon yang hanya tertunduk dan terdiam.

“aku tau ini konyol.. tapi… bukankah perjodohan ini bisa dibatalkan? Jadi tenang saja, jangan terlalu cemas.” lanjut baekhyun berusaha untuk bersikap biasa, tapi tetap saja ia harus mengusap tengkuknya. Perasaan canggung masih menguasai dirinya.

“itu tak akan terjadi, satu-satunya impianku sejak kecil adalah melanjutkan perjuangan ayah. Dan kau tau apa artinya itu? Itu berarti aku harus seperti ayah, hidup tanpa serba kekurangan. Tapi keuangan perusahaan ayahku memburuk, lalu ayahmu membantu menyelesaikannya. Dan kau tau, appaku berhutang pada appamu. Tapi konyolnya appamu hanya memintaku sebagai tebusan itu. Jadi itu termasuk perjanjian yang tidak bisa dibatalkan.” Ucap taeyeon akhirnya, tapi masih belum mengangkat wajahnya setidaknya menatap baekhyun yang sekarang hanya menganga menatap taeyeon tak percaya.

“tapi bagaimana dengan jongin? Jongin yang menemanimu selama 5 tahun? Jongin yang selalu mencintaimu? Jongin yang slalu kau cintai? Bagaimana dengannya sekarang.” Baekhyun tak kuat sungguh, perasaannya tercabik-cabik, membayangkan seorang jongin dalam keadaan buruk.

“jongin akan baik-baik saja selama aku masih mencintainya, aku percaya dia akan percaya itu.” Kata taeyeon parau, nafasnya tercekat.

Baekhyun menahan napas, lalu membuangnya kasar.

“ini sebuah drama komedi yang menyedihkan.” Ia tertawa getir.

.

.

.

Sudah terhitung, Ini adalah pernikahan mereka –taeyeon dan baekhyun- yang menginjak satu minggu. Dirumah mewah yang terkesan berlebihan ini –hanya ditinggali pasangan suami istri-. Mereka bersikap seperti halnya teman biasa, belum termakan perasaan suka sama lain. Dan baekhyun tidak ingin itu terjadi. Dia sengaja tidur dikamar lain dengan alasan tak ingin tidur satu ranjang bersama taeyeon. Tentu saja, ia dan taeyeon sudah berjanji jika mereka hanya akan bertegur sapa, lalu masuk kekamar masing-masing.

Tapi entah kenapa, pagi ini baekhyun tiba-tiba saja ingin membuatkan sarapan untuknya dan taeyeon. Sungguh tak biasa memang. Ia menyuruh taeyeon untuk segera keluar dari kamarnya dengan teriakan halusnya. Dan pada akhirnya taeyeon keluar dengan pakaian yang masih bertema pakaian tidur itu. Ia menuruni anak tangga dengan malas, ia masih kantuk. Tapi matanya seketika melebar saat melihat baekhyun tengah berusaha membalikkan omelet dari penggorengan, taeyeon sungguh berharap agar omelet itu bisa kembali dengan sasaran tepat. Tapi do’anya tak terkabul, omelet itu malah jatuh kelantai dan membuat baekhyun yang sadar ditatap taeyeon hanya bisa menggaruk kepalanya, malu.

“kau sangat payah.” Taeyeon tertawa mengejek lalu menuruni kembali tangga yang sempat terhenti karena memperhatikan aksi baekhyun yang gagal, tapi ia tak serius jika tentang itu. Mungkin ia berniat membantu baekhyun agar bisa membalikkan omelet dengan gaya seorang chef yang handal seperti yang diinginkan baekhyun. Taeyeon melangkah ringan menuju dapur mereka, tempat dimana baekhyun menegang karena malu. Ia sempat melirik baekhyun dengan senyumnya, lalu mengajari cara membalikkan omelet itu dengan benar. Lucu sekali, baekhyun terlihat seperti anak TK yang diberi nasihat oleh gurunya, yang hanya mengangguk-angguk polos. Sungguh menggelikan untuk taeyeon.

Rambut taeyeon yang terurai sedikit menutupi wajah cantiknya. Tak tau siapa yang menyuruhnya, baekhyun merapikan rambut taeyeon dan menyelipkannya kedaun telinga milik taeyeon. Dan menampakkan wajah penuh milik taeyeon. Dan disitu perasaan aneh muncul. Kenapa tiba-tiba saja wajah taeyeon memanas? Matanya memang terpokus akan satu hal, yaitu pada omelet. Tapi beda dengan hatinya yang merasa mengingatkan sebuah perasaan yang sama terhadap jongin, pria yang masih ia cintai hingga saat ini dan tentu baekhyun tau itu. Ia merasakan hangatnya sentuhan baekhyun, sama halnya dengan jongin. Ia juga tak berbohong bahwa jantungnya berdegup sangat cepat hingga nafasnya sedikit tersenggal saat baekhyun menyentuh rambutnya. Itu memang sama seperti saat jongin mengusap rambutnya. Apa ini? Kenapa dengan hatinya sekarang.

“kau sangat hebat taeyeon, kau.. istri.. eung maksudku kau teman yang luar biasa.” Baekhyun tersenyum kikuk, tak sengaja terselip kata ‘istri’ disana. Untung saja taeyeon tak terlalu mengamatinya, jadi beruntunglah baekhyun.

Taeyeon kembali terdiam saat mereka sekarang sedang bersarapan bersama untuk kali pertamanya, entah kenapa sentuhan baekhyun masih terbayang jelas diotaknya, justru hal tadi membuatnya semakin merindukan seorang pria yang tidak ia temui selama satu minggu ini. Kim jongin.

“kau merindukan jongin?” Tanya baekhyun tiba-tiba. Seperti seorang pembaca pikirannya, sama percis apa yang sedang ia lamunkan membuat dirinya terkesiap lalu menghela nafas dan mengangguk sebagai jawabannya.

“hari ini juga kita keseoul, menemui jongin.” Papar baekhyun dengan senyum setianya. Sungguh hati taeyeon menggebu-gebu sekarang. Ia sungguh tak sabar ingin melihat sosok jongin yang teramat ia rindukan itu.

“gomawo.” Ucap taeyeon pelan, mungkin ragu apakah layak jika ia mengatakan ini?

.

.

Siang itu keduanya langsung berkemas menuju seoul, setelah mereka menetap dijeju beberapa hari ini. Tak henti-hentinya taeyeon menghumbar senyum yang tak dapat ia sembunyikan. Baekhyun yang tengah menyetir pun ikut senang melihat taeyeon bisa tersenyum secerah ini. Mungkin kebahagiaan taeyeon hanyalah satu. Yaitu jongin.

“sejak kita menikah, kenapa kau tidak pernah bermain lagi dengan kameramu?” Tanya taeyeon membuka percakapan, baekhyun mengulum senyumnya sambil terus terfokus pada arus jalan dihadapannya.

“karena aku mengkhianatinya, aku menikahimu dan aku tak tega melihat kameraku bersedih karenamu. Karena saat itu aku pernah mengatakan bahwa aku akan menikah dengan kameraku, tanyakan saja pada jongin, ia adalah saksi dari ucapanku.” Jawab baekhyun dengan kekehan pelan, dan sungguh lucu juga menurut taeyeon. Baekhyun memang pandai berhumor dan sedikit membuat taeyeon terhibur.

“ahh.. katakan pada kameramu, maafkan aku.”   Taeyeon Memasang wajah dramatis tapi seperkian detik kemudian ia menertawai ucapannya sendiri. Baekhyun benar-benar tertawa lepas saat itu juga.

“tapi kameraku sangat marah padamu, kenapa kau sangat cantik? Kenapa saat tersenyum kau terlihat seperti dewi? Kenapa tubuhmu sangat menggemaskan? Sedangkan dirinya hanya bisa terdiam menungguku untuk memainkannya.” Ucap baekhyun sekali lagi dengan kekehan khasnya, tapi raut wajah taeyeon berubah. Ada kata yang membuat pipinya merona disana, kata yang berderet itu membuat ia harus kembali merasakan perasaan aneh ini. Taeyeon mengurungkan niatnya untuk kembali membalas ucapan baekhyun, karena kata itu yang membuatnya terdiam. Ia lebih memilih memandangi kaca jendela mobil. Sedangkan baekhyun, tentu ia semangat menunggu balasan dari taeyeon, tapi ia harus rela, taeyeon tak hendak membuka kembali mulutnya.

Keheningan melanda, dan tak terasa mereka sudah berada didepan rumah kecil milik jongin. Baekhyun dengan senang hati membukakan pintu untuk taeyeon, dan kembali membuat nafas taeyeon tak teratur. Tapi stop!! Jangan resah akan perasaannya yang mulai dilanda bimbang ini, kini dihadapannya ada rumah pria yang ia sangat cintai dan ia rindukan. Tak ada pria yang ia cintai, selain jongin. Meskipun ia tau, ia harus bertentangan dengan perasaannya sendiri.

Taeyeon dan baekhyun kompak mengetuk pintu.

“jonginnie, ini kami. Sahabat terkerenmu baekhyun dan gadis pendekmu, taeyeon.” Taeyeon melirik baekhyun kesal karena disana dengan jelas ia mengatakan kata pendek yang ditujukkan pada dirinya. Tapi dengan berat hati, ia meredam amarahnya demi bertemu dengan jongin –masih kekasihnya-. 5 menit tak ada sahutan dibalik pintu sana, mereka berdua sudah menggigil dengan mengeratkan masing-masing mantel mereka. Bola mata taeyeon memutar kearah baekhyun yang terdiam –tidak biasa-, betapa terkejut dirinya saat melihat hidung baekhyun berdarah dan berusaha mungkin baekhyun mengumpat tak ingin ketahuan taeyeon, tapi tetap saja darah amis itu menetes hingga jatuh kelantai milik jongin, membuat taeyeon tau asal darah itu berasal dari hidung baekhyun. Dengan sigap taeyeon mengambil sesuatu disaku mantelnya –sebuah sapu tangan yang bertuliskan disana ‘jongin love taeyeon’- dan dengan lembut taeyeon membersihkan darah yang mengalir deras dihidung mungilnya. Disana tergambar jelas jika taeyeon benar-benar mengkhawatirkan baekhyun, membuat baekhyun merasa bersalah dan hanya menunduk –seperti anak TK yang dimarahi gurunya-

“aku tidak apa-apa, sungguh.” Terang baekhyun yang langsung diberi tatapan mematikan dari taeyeon.

“apanya yang tidak apa-apa, hidungmu berdarah begitu banyak, bibirmu sangat pucat. Apa ini yang dinamakan baik-baik saja eohh?” benar saja taeyeon marah karena baekhyun terlalu keras kepala.

“maaf  karena membuat kau menjadi khawatir.” Ucap baekhyun merasa bersalah dengan kepala tertunduk. Sungguh hal itu membuat taeyeon luluh kata itu diberi nada seakan-akan –anak TK yang merasa bersalah karena sudah menjatuhkan temannya-. Taeyeon hanya membuang nafasnya berat, lalu kembali menghadap lurus menatap pintu berwarna putih. Disela-sela ia menunggu pintu itu terbuka, ekor matanya tak henti-hentinya melirik kearah baekhyun, memastikan apakah baekhyun baik-baik saja. Wajah baekhyun tersenyum menandakkan jika ia memang baik-baik saja, tapi sungguh badannya tak terlihat menunjukkan itu. Baekhyun tidak pandai bermain drama, ia benar-benar sakit.

“sebaiknya kita pulang, kita bisa menemui jongin lain kali saja. Kajja.” Taeyeon sudah mendapatkan tangan baekhyun, mengajaknya agar cepat kembali kemobil, setelah melihat kondisi baekhyun yang memang tak baik. Tapi kepala baekhyun menggeleng cepat.

“tidak, kau merindukan jongin. Jongin juga merindukanmu, mana boleh kita pergi begitu saja. Aku sebagai penggemar kalian kecewa berat.” Baekhyun mengerucutkan bibirnya kesal.

“taeyeon-aa.” Itu suara jongin, sekarang jongin sudah menjadi pusat keduanya. Taeyeon tersenyum bahagia dan dalam hitungan detik ia langsung menghambur kepelukan jongin dengan langkah –slow motion-, pelukan yang menghangatkan dirinya. Ia ingin merasakan kembali detak jantung jongin. Ia rindu ini. Sungguh. Jongin menutup kedua matanya mempererat pelukan itu. Mempersatukan kembali detak jantung yang serasa ribuan tahun tak bertemu.

“aku merindukanmu, jongin.” Ucap taeyeon lirih. Suara taeyeon membuat darah jongin berdesir. Suaranya merasuki permukaan pori-pori kulitnya. Ia terlalu gembira mendengar kembali suara taeyeon.

“aku lebih merindukanmu, taeyeon.” Balas jongin tak kalah lirih.

Angin berhembus membuat mata baekhyun perih. Apakah benar angin yang membuat matanya berair? Entah kenapa ia tak sanggup melihat taeyeon –istrinya- berpelukan dengan pria lain –jelas itu sahabat terbaiknya-. Matanya berkabut, ia seperti kehilangan penglihatannya. Hatinya kenapa sesak? Itu aneh. Ia harusnya bahagia melihat pasangan favoritnya itu kembali bersatu. Tapi hatinya sangat sakit, perasaannya terkoyak-koyak. Itu benar.

“ehemm.. kalian berdua masuklah. Nikmati kerinduan kalian, aku akan mencari makanan karena aku tau dirumahmu pasti tak akan ada makanan.. aku akan segera kembali. Tunggu aku 15 menit lagi.” Ucap baekhyun sedikit berteriak dan langsung jongin melepaskan tautan mereka, dan bodohnya jongin baru menyadari ternyata ada baekhyun disana. Sungguh bodoh dirinya, sahabatnya sendiri sudah ia acuhkan.

Baekhyun terlampau sudah masuk kedalam mobilnya dan tak terdengar apa yang tengah jongin teriakan pada dirinya saat ini. Ia menancap gas, seperti seorang pembalap yang siap berlomba-lomba untuk mencapai finish, dan hal itu sungguh membuat mereka –kai dan taeyeon- terkejut bukan main. Ini aneh. Baekhyun mendadak beramarah, ia tak tau kenapa dan ada apa dihatinya sekarang, tidak mungkin ia cemburu melihat pemandangan didepannya tadi.

.

.

.

“baekhyun-aa eodiga ?” taeyeon mencari baekhyun dirumah mereka, tak ada baekhyun disana. Kemanakah baekhyun saat ini? Taeyeon setengah mati khawatir. Ini sudah larut malam, dan dia tidak menemukan batang hidung baekhyun sedikitpun. Ia ingat sebelum baekhyun pergi entah itu benar membeli makanan atau tidak, ia sempat mengingat baekhyun akan kembali 15 menit lagi, tapi baekhyun tidak kembali, karenanya ia merasa resah dan hanya menjadi pendengar jongin saat jongin menuturkan perasaannya dalam satu minggu ini, ia setengah menyimak dan setengah tidak. Ia tentu mencemaskan –suaminya- yang memang sedang dalam keadaan tidak sehat. Bagaimana jika baekhyun kecelakaan? Dan bagaimana jika baekhyun mati dimobil karena terlalu sakit? Pikirannya sungguh tak berarah. Ia terlalu takut suaminya –terjadi apa-apa-. Dan rasa resah itu berganti saat jongin mengatakan “apakah kau mengkhawatirkan baekhyun hingga tidak ingin berbicara denganku?”. Setelah kata itu terdengar tajam ditelinga taeyeon, taeyeon merasa dia bersalah pada jongin. Tak seharusnya ia mengacuhkan jongin, dan seharusnya ia memfokuskan perhatiannya pada jongin. Tapi pada akhirnya jongin mengerti dan mengantar taeyeon pulang kejeju. Tanpa berpamitan ia sudah menancap gasnya dan menghilang secepat kilat. Taeyeon lagi-lagi hanya menghela nafasnya dan memijat keningnya karena terlalu pening.

.

.

.

“hai taeyeon, kau menungguku eohh..”

Ingat ini leukemia, kau menderita penyakit kanker darah yang mematikan. Jangan sampai terlalu lelah dan isilah hidupmu dari mulai sekarang bersama dengan orang yang kau cintai, sampai waktu akhirmu tiba.. mungkin sebentar lagi. Buatlah banyak kenangan indah selama sisa-sisa hidupmu. Jangan menyia-nyiakkan hidupmu yang singkat.

Tak ada sahutan disana, taeyeon tidur disofa dengan nyenyak, baekhyun memang tak berniat membangunkan istrinya. Hanya saja ia ingin berbicara disaat ia masih bisa menghirup udara dibumi.

Baekhyun menyelimuti istrinya dengan tulus. Ia berjongkok dan menatap lekat kelopak mata indah istrinya. Ada segurat senyuman terukir dibibirnya.

“ada satu hal yang ingin aku dengar darimu. Katakanlah aku adalah suamimu, marilah kita membuat seorang anak, marilah kita saling mencintai dengan ketulusan hati kita masing-masing. Jika kau bersedia, katakanlah itu padaku sekarang juga.

Hening.

“aku ingin kau slalu ada digenggamanku, sama halnya saat aku menggenggam sebuah kamera. Kau lebih berarti dibanding dengan kameraku, jadi aku akan menggenggamu lebih kuat lagi, meskipun tanganku akan terasa ngilu. Tapi bila itu denganmu aku akan baik-baik saja, selama aku bisa membuka mata aku masih baik-baik saja.

Hening.

“aku ingin anak kita nanti, kita beri nama taebaek. Itu lucu kan? Terselip nama kita disana dengan bagus..kekkkkek.. hmm taeyeon-aa, saat kita punya anak. Aku ingin kita tidur bertiga, sebelum tidur kita bernyanyi bersama, berbagi cerita dan saling tersenyum satu sama lain. Mungkin setelah itu kita akan bermimpi indah. Aku ingin bermimpi bermain ice skatting denganmu dan taebaek-anak kita.. hmm pasti menyenangkan sekali.”

Baekhyun tersenyum puas sembari terus membayangkan hal bahagia itu. Tapi ada sesak didada saat ia mengingat jongin.

“saat aku sudah pergi keatas sana, aku yakin setelah itu kau dan jongin akan bahagia bersama taebaek, anak kita. Itu pasti.” Baekhyun mencoba tersenyum tulus. Ia menyayangi istrinya dan sahabatnya.

.

.

Baekhyun memegang kedua pipi taeyeon lembut. Ini pertama kalinya ia bisa menyentuh pipi taeyeon. Jantungnya kembali berdetak cepat seakan aliran listrik jatuh ketubuhnya.

“ayo kita membuat seorang anak, byun baekhyun.” Baekhyun langsung melepaskan tangannya dari pipi taeyeon. Hatinya menggebu-gebu saat taeyeon dengan tiba-tiba terbangun dan mengatakan hal yang sebelumnya dikatakan baekhyun. Mungkinkah taeyeon berpura-pura tertidur dan mendengarkan curahan isi hatinya. Itu mungkin saja.

.

.

.

2 bulan kemudian.

Baekhyun masih terlihat baik-baik saja. Ini keajaiban dari Tuhan karena umurnya masih berjalan panjang, meskipun ia tau sebentar lagi –entah itu kapan- dirinya akan dipanggil sang pencipta. Meninggalkan taeyeon juga anak yang tengah dikandung didalam perut taeyeon sekarang.

Taeyeon dengan segenap hatinya sudah menyayangi dan mencintai baekhyun dengan tulus. Setelah ia tau suaminya itu mengidap leukemia dan tentunya dengan seiring berjalannya waktu.

“yee berhasil.” Tangan baekhyun terkepal diatas, ia semangat dan tentu senang karena pada akhirnya ia bisa membalikkan omelet dengan handal. Taeyeon dimeja makan tak jauh dari tempat baekhyun didapur hanya menggeleng kepala dan tersenyum memperhatikan gerak-gerik sang suami yang tampak berbahagia atas keberhasilannya itu.

“Lihatlah nak, appamu memang sangat lucu.” Ucap taeyeon pelan sembari mengelus perutnya lembut –seakan calon buah hatinya itu mendengar ocehannya-.

Setelah selesai bersarapan, baekhyun mengajak taeyeon jalan-jalan. Sudah lama sekali ia ingin mengunjungi nami island, tempat impiannya sedari dulu. Selama diperjalanan taeyeon tak henti-hentinya membidik baekhyun dengan kamera tua –milik baekhyun-

“kenapa kau memotretku terus. Aku sedang dalam keadaan buruk taeyeon.” Ucap baekhyun sekilat memandang taeyeon dengan senyum sengaja dibuat kesal. Taeyeon langsung merapatkan tubuhnya memeluk lengan suaminya.

“aku tak peduli, meskipun wajahmu terlihat mengerikan tapi kau tetap tampan, sungguh aku tidak berbohong.” Ujar taeyeon jujur, dan langsung membuat wajah baekhyun merona. Sekarang ia sudah melupakan penyakitnya, ia tak terlihat seperti keadaan sakit. Ia sukses menyembunyikan rasa sakitnya dengan tawa dan senyum yang slalu ia ciptakan.

“ternyata istriku ini pandai menggodaku yahh.” baekhyun memeluk taeyeon dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang stir mobil. Taeyeon sungguh nyaman dalam dekapan itu. Ia semakin tak ingin suaminya itu menghilang.

Hanya butuh beberapa jam untuk bisa sampai ke nami island. Taeyeon dan baekhyun menganga kagum saat keluar dari mobil. Pohon-pohon yang berjejer indah disana, dan betapa beruntungnya mereka bisa menyaksikan salju pertama turun disana, sungguh pemandangan yang langka. Baekhyun segera menggenggam tangan taeyeon dan menuntunnya untuk berjalan bersama. Tak henti-hentinya mereka terus membuat lukisan indah dibibir keduanya.

“baekhyun ayo kita berfoto bersama.” Taeyeon tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menarik baekhyun untuk berdekatan dengannya, lalu membuat pose selucu mungkin dan membidiknya berkali-kali.

.

.

.

Andai kau tau, senyum yang menghiasi wajahku ini hanya menutupi lukaku yang menyakitkan, tawaku pada dasarnya hanya menyembunyikan semua rasa sakitku.. aku tak bisa mengharapkan kau mencemaskan keadaanku setiap saat. Itu tak harus, yang harus kau pahami bahwa kau yang menguatkan aku selama ini.. saranghae kim taeyeon..

“baekhyun-aa, bangunlah kumohon..”

.

.

Dinami island, tepatnya saat musim pertama salju turun. Baekhyun menghembuskan nafas terakhirnya dipundak taeyeon. Saat hari itu mulai gelap, saat itu juga baekhyun harus memejamkan matanya dan tak pernah kembali terbangun.

 

Marilah kita memulai hubungan baru.

Di dunia berbeda.

Awal pertemuan memang pada kenyataannya

Berakhir pada perpisahan, tapi kuharap diawal perpisahan kita bisa merajut perasaan lebih indah.. disana.. disurga sana aku menunggumu

 

END

Maaf kalau ff ini kurang memuaskan atau apa, soalnya saya bikinnya disela-sela menghadapi try out dan buatnya pun terkesan buru-buru. . tadinya aku pengen bikin beberapa scene lagi, tapi waktu luangnya sempit *numpangcurhatdikit.. tapi tetep komen dan jangan jadi siders okeyy *winkk

Advertisements

33 thoughts on “[Freelance] Good Bye and Welcome

  1. aishhhhh bikin sedih ini ff nya emang paling serasih baekhyun sama taeyeon gak ada 2nya
    dan feel dari setiap alur ceritanya dapet banget meskipun berawal hanya sahabat tp bisa menerima satu sama lain pada akhirnya dan bener2 bikin nangis
    cinta tulus nya baekhyun buat taeyeon great banget
    lalu buat authornya nya 10 jempol yaa eonni ^_^ 😀

    • setuju baekyeon emg couple paling serasi sejagat raya 😀 #AngkatBanner
      ahhhh, gomawo 😀 Aku kira ini ff gk ada feelnya, tp syukur dehh kalau kmu bisa ngerasain ff aku yg labil ini xD.
      .
      Thanks jempolnya 😀

  2. Yahh ampun, nemu sad ending lagix_x plis deh thor, hati readersmu ini tersakiti banget karena endingmu itu *abaikan* Lain kali jangan sad ending lagi ya, ini saja sudah menyakitkan-.- Keep writing!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s