[Freelance] I Wanted You To Feel The Same

 Yes2

Title: I Wanted You To Feel The Same

Author: cupcakes95

Cast: Seo Joohyun, Oh Sehun

Genre: Romance (Maap ya seperti biasa keju)

Length: Oneshot

Rating: PG 13

 

Note: Aku ga tau ada typo apa enggak, karena biar udah aku cek aku tuh orangnya selebor, jadi kalo ada typo dimaklum aja ya. Oh iya, mudah-mudahan kalian ga bosen ya baca cerita keju bikinan author macem gini terus hahahaha. Selamat membaca!

 

 

“Ladies and gentlemen this is your captain speaking, we like to welcome you onboard this Korean Air flight to Tokyo. Flight duration is around two hours and we are expecting a fairly smooth flight today. Once again we thank you for choosing to fly with us today and we hope you enjoy your flight…”

 

Sehun menghembuskan napasnya berat ketika mendengar pengumumam yang diberikan oleh kapten pesawat, pertanda bahwa sebentar lagi pesawat yang ditumpanginya akan lepas landas. Perasaannya masih terasa berat ketika memikirkan bahwa dirinya mungkin akan sangat merindukan kampung halamannya, Seoul. Pergi ke Jepang memang merupakan keputusan Sehun (setelah berunding dengan kedua orangtuanya), tetapi masih ada satu hal yang masih belum pria itu selesaikan.

Oh Sehun hanyalah pelajar biasa yang ingin mengejar impiannya ke negeri orang. Kehidupan sebagai seorang pelajar tingkat akhir di sekolah menengah atas berjalan seperti kehidupan pelajar lainnya. Pria itu masih malas-malasan, walau menurut teman-temannya Sehun tidak perlu belajar keras untuk mendapatkan nilai bagus, karena pria itu memiliki kecerdasan yang sudah dimilikinya sejak lahir. Sehun juga pernah mencoba untuk merokok karena ajakan teman-temannya, walau akhirnya pria itu tertangkap basah oleh guru di sekolah, tetapi menurutnya hal-hal seperti itu adalah salah satu kenangan masa sekolah yang tidak terlupakan.

Kenangan lain yang pria itu tidak akan pernah bisa lupakan adalah Seo Joo Hyun. Gadis yang selalu terlihat kalem juga memiliki otak encer. Sehun selalu diam-diam memerhatikan gadis itu karena gadis itu pernah meminjaminya payung. Awalnya Sehun tidak pernah mengetahui nama gadis itu, tapi ketika teman-teman sekelasnya ribut tentang gadis dari kelas sebelah yang menempati peringkat pertama di ujian semester, Sehun akhirnya mengetahui nama gadis itu.

Sehun tidak pernah bercerita tentang hal ini kepada teman-temannya, bukan karena malu, tapi Sehun tidak mau teman-temannya membantunya. Sehun ingin mengenal gadis itu dengan usahanya sendiri.

 

Sampai akhirnya Sehun berhasil berbicara dengan gadis itu berkat guru bahasa Inggrisnya yang waktu itu meminta bantuan dari Sehun untuk memberikan catatan kepada Joohyun. Dari situ Sehun tahu, bahwa gadis itu memiliki suara yang lebih lembut ketika dia mendengarnya dari dekat.

Semua kenangan singkat yang Joohyun berikan kepada Sehun menyisakan rasa yang manis juga pahit, karena Sehun tidak pernah sempat mengutarakan perasaannya.

 

“Permisi, kursi sebelah mu kosong kan? Karena itu adalah kursi ku..”

Sehun terperanjat ketika mendengar suara seorang wanita. Pria itu yakin bahwa dirinya pernah mendengar suara gadis itu. Sehun menolehkan kepalanya dan tepat pada saat itu juga Sehun setuju bahwa semesta sudah bersekongkol untuk mempermainkan dirinya.

 

Seo Joo Hyun tepat berdiri di hadapannya.

 

“Oh Sehun?”

 

Shoot, gadis itu ingat namanya dan hal itu pula yang membuat Sehun sadar dari lamunannya.

“Hai… kursi itu memang kosong,” Sehun menganggukkan kepalanya canggung.

“Terimakasih,” Joohyun memberikan senyum kecil kepada Sehun. Pria itu tahu bahwa Joohyun memang cantik, setidaknya itulah yang Jongin katakana. Tapi Sehun tidak pernah sejauh itu memerhatikan penampilan gadis di sebelahnya, karena yang menarik perhatian Sehun adalah sifat gadis itu yang selalu mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri. Dan Sehun mengagumi sifat itu, karena Sehun sendri tidak dapat menampik bahwa pria itu memiliki sifat yang sedikit egois. Sifat alami laki-laki, menurutnya.

Pada detik ini, Sehun baru sadar, gadis di sampingnya memang cantik, dan bagian yang Sehun paling suka adalah matanya yang berwarna hitam kelam.

 

Sepertinya penerbangan ini akan terasa sangat panjang, setidaknya itulah yang Oh Sehun pikirkan.

 

 

Tiga puluh menit berlalu semenjak pesawat lepas landas dan Sehun tidak dapat menahan senyumnya ketika mendengar cerita Joohyun.

 

“Kau tahu, waktu kecil aku percaya dengan kisah Santa Claus yang Ibu ku ceritakan dan itu berhasil membuat ku berusaha menjadi anak yang baik ketika natal sudah dekat. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena ketika berumur 12 tahun aku sadar bahwa yang menyimpan hadiah di kasur adalah kedua orangtua ku!”

 

Mulut Joohyun mengeluarkan suara tawa kecil yang menurut Sehun manis. Pria itu hampir lupa bahwa Joohyun tentu saja memiliki sifat alami yang dimiliki gadis-gadis lainnya, yaitu cerewet. Tapi Sehun tidak membenci itu, karena Sehun setidaknya dapat mengetahui sisi lain dari Joohyun.

 

Sehun selalu merasa bahwa ketika pria itu jatuh cinta kepada Joohyun, semua terasa tampak tidak nyata. Joohyun membuat Sehun merasa dirinya ditarik oleh gravitasi yang tidak seharusnya dan Joohyun juga membuat Sehun merasa bahwa suara gadis itu diciptakan hanya untuk memanggil namanya.

Ada satu hal yang Sehun sembunyikan, bahkan dari dirinya sendiri, bahwa pria itu mengharapkan Seo Joohyun memiliki perasaan yang sama dengannya.

 

“Joohyun, apakah kau memiliki kenangan selama sekolah kemarin? Maksud ku, kenangan yang akan bertahan lama dalam memori mu?”

Sehun bertanya dengan tatapan lurus menatap mata Joohyun, dan hal itu membuat pipi Joohyun memerah tiba-tiba. Joohyun memalingkan wajahnya, merasa salah tingkah ketika mata yang berwarna coklat tua itu menatapnya seakan membawa gadis itu masuk ke dalam tempat yang tidak seharusnya.

 

Joohyun selalu tahu bahwa Oh Sehun menyukainya. Entahlah, gadis itu dapat merasakan semuanya dari tatapan pria di sebelahnya. Joohyun selalu merasa bahwa tatapan yang Sehun berikan memiliki sebuah makna. Tatapan itu memendam rasa rindu yang tidak pernah Joohyun dapatkan dari lelaki mana pun, tatapan yang memberikan rasa mendamba untuk pulang. Tatapan yang seolah-olah memberikan sebuah petunjuk, bahwa Joohyun adalah tempat dimana Sehun pulang. Tubuh Joohyun selalu terasa panas ketika gadis itu membayangkan tatapan yang Sehun berikan.

Dan ada satu hal yang Joohyun tidak pernah sadari, bahwa Seo Joohyun, memiliki perasaan yang sama dengan Oh Sehun.

 

Joohyun menghembuskan napasnya sebelum menjawab pertanyaan yang diberikan Sehun.

“Tentu saja ada. Kau pasti tidak tahu bahwa aku pernah mendapatkan nilai jelek di mata pelajaran sejarah,” Joohyun tertawa di sela-sela pembicaraannya, “dan nilai jelek itu membuat uang jajan ku dipotong selama sebulan. Tapi ada satu hal yang menyisakan perasaan menyesal setelah aku lulus.” Raut wajah Joohyun berubah serius.

“Ada satu lelaki, yang aku sadar ternyata selalu memerhatikan ku di sekolah. Pria itu memang tidak pernah secara langsung memperlihatkan gerak-gerik bahwa dia menyukai ku, tapi aku tahu lewat tatapannya. Karena hal itu, tanpa sadar aku juga jadi memiliki ketertarikan tehadap pria itu,”

Mata Sehun kembali memandang Joohyun lurus, tanpa sadar pria itu menahan napasnya.

“Aku jadi tahu bagaimana cara pria itu tertawa, aku juga tahu bahwa dia adalah seorang pekerja keras. Aku menyukai juga mengagumi sifat yang dimilikinya.”

Sehun kali ini benar-benar yakin, bukan hanya semesta yang berencana untuk mempermainkannya, tapi juga kenyataan yang sedang pria itu dengar, semua terasa seperti mempermainkan dirinya.

 

“Joohyun ak—“

“Permisi, apakah kalian ingin memesan makanan?” Ucapan Sehun terhenti seketika ketika salah seorang pramugari menghampiri kursi yang diduduki oleh dirinya dan Joohyun.

“Tidak.” Jawab Sehun tegas. Dan Sehun berani bersumpah bahwa dia mendengar Joohyun menghembuskan napas lega ketika pramugari itu menghampiri kursi mereka.

“Aku juga tidak, terimakasih.” Joohyun mengulas senyum tipis sebelum pramugari itu beranjak dan membalas senyuman Joohyun dengan ucapan, “Terimakasih, maaf mengganggu. Selamat menikmati perjalanan Anda.”

 

“Sehun, aku akan tidur sebentar. Jika ada apa-apa bangunkan aku ya.”

Joohyun mengatur posisi kursinya sehingga gadis itu berada dalam posisi yang nyaman lalu menutup matanya.

Sehun tidak pernah menghujat atau mengeluarkan kata-kata kasar sebelumnya, tapi sekarang, rasanya tidak salah jika pria itu menghujat dalam hati.

 

 

Sudah 1 jam 20 menit berlalu dari waktu awal pesawat menuju Tokyo ini mengudara, dan selama 40 menit Sehun tidak bisa duduk tenang di kursinya. Begitu banyaknya kata-kata yang tertahan di tenggorokan Sehun, membuat pria itu merasa sesak.

Sehun hanya bisa menatap kepala Joohyun yang tengah bersandar di bahunya dari 30 menit yang lalu. Pria itu terus memandangi wajah Joohyun yang sedang tertidur, dan kini pria itu juga baru sadar bahwa Joohyun memiliki bulu mata yang panjang. Sehun ingin tahu apa yang selama ini gadis itu lihat lewat mata hitam kelamnya. Apakah kesedihan? Atau kebahagiaan?

Tubuh Joohyun bergerak diikuti dengan matanya yang perlahan terbuka, gadis itu membuka matanya ketika sadar bahwa yang ada di hadapannya adalah sepasang mata berwarna coklat tua. Baik Sehun maupun Joohyun sama-sama bergeming di tempatnya. Keduanya merasakan tempat dimana mereka seharusnya berada.

Tatapan itu tidak mengisyaratkan nafsu, tidak juga mengisyaratkan keragu-raguan. Tetapi tatapan itu mengisyaratkan tempat untuk keduanya pulang.

 

Masih dengan matanya yang menatap Joohyun, Sehun bertanya, “Mau main game?”

“Anggap kita tidak mengenal satu sama lain, bahwa kita hanyalah dua orang asing yang saling bercerita lewat telepon umum.”

Joohyun menaikan sebelah alisnya, rasanya gadis itu baru mendengar game yang Sehun katakan.

“Dimulai dari ku. Kau lihat saja bagaimana game ini sebenarnya.”

Sehun melipat jari telunjut, jari tengah, dan jari manisnya sehingga sekarang jari-jarinya terlihat seperti telepon.

“Kring! Kring!” Sehun mengeluarkan suara yang Joohyun definisikan suara telepon bordering. Pria itu menunjuk Joohyun dengan dagunya, awalnya gadis itu bingung sampai akhirnya dia mengerti maksud Sehun.

“Ya, hallo?” Joohyun merasa konyol ketika sadar bahwa dirinya mengikuti Sehun.

 

“Benarkah ini nomor telepon Kim Jongin?”

Joohyun tertawa ketika mendengar nama Jongin disebut.

“Maaf Anda salah sambung, ini adalah nomor telepon umum. Bersyukurlah karena aku lewat jadi aku bisa mengangkat telepon mu?”

“Ah, benarkah? Mati kau Kim Jongin sudah menipu ku,” Sehun memberikan mimik jengkel yang membuat Joohyun tertawa.

“Kalau begitu, saat ini aku sedang berbicara dengan siapa?”

“Masa kau tidak tahu suara ku? Aku Kim Taeyeon SNSD!”

Sehun tertawa ketika mendengar jawaban Joohyun, satu hal lagi yang pria itu tahu, bahwa Joohyun memiliki sifat kekanakan.

“Kenapa tertawa kau orang asing?! Tidak percaya? Haruskah aku bernyanyi lewat telepon ini?”

“Maaf, baiklah aku percaya. Karena kau Kim Taeyeon dan ini adalah hal yang sangat langka terjadi maka biarkan aku bercerita tentang sesuatu kepadamu ya. Jadi aku bisa sombong kepada teman-teman ku bahwa aku baru saja mengobrol dengan Kim Taeyeon.”

Joohyun mengulum senyumnya ketika mendengar jawaban Sehun.

“Jadi begini, ada seorang gadis yang meminjamkan payungnya satu tahun yang lalu, karena kejadian itu aku jadi selalu memperhatikan gadis itu. Dia pintar, juga selalu mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri. Aku juga menyukai cara dia tertawa, karena saat tertawa wajahnya akan selalu memerah. Gadis itu sangat suka membaca buku biografi, yang aku tidak tahu dimana letak menariknya buku itu. Tapi satu hal yang pasti, aku benar-benar menyukai gadis itu.”

Sehun mengambil napasnya dalam-dalam, dan Joohyun hanya bisa terdiam mendengar tiap tutur kata yang keluar dari mulut Sehun.

“Tapi saat ini perasaan itu hanya dapat memberi rasa sesak, karena aku belum sempat menyampaikan perasaan itu. Terdengar bodoh, tapi aku selalu mengharapkan bahwa gadis itu memiliki perasaan yang sama dengan ku. Menurut mu, apa yang harus aku lakukan?”

 

Sesaat tercipta rasa sunyi di antara keduanya. Kedua mata Sehun kembali menatap lurus mata Joohyun yang saa ini tidak berkedip sama sekali. Joohyun tidak bisa menahan senyumnya, bibir yang berwarna kemerahan itu perlahan bergerak membuat lengkungan yang sangat lembut. Joohyun hampir merasa bahwa semuanya tidak nyata.

 

“Kau seharusnya jangan menyerah. Apa kau tahu mungkin saja gadis itu juga merasakan hal yang sama? Mungkin kau tidak tahu jika gadis itu sangat menyukai mata mu atau cara mu tertawa? Mungkin saja selama ini gadis itu tahu bahwa kau menyukainya, sehingga gadis itu juga tanpa sadar tertarik oleh gravitasi yang ada di sekitar mu. Atau mungkin saja gadis itu juga sangat menyukai bagaimana cara mu menatapnya.”

 

Joohyun menurunkan jari-jarinya dari telinganya. Perlahan kedua tangan Joohyun bergerak, menyentuh lembut kedua sisi wajah Sehun. Dan perlahan tapi pasti, Sehun benar-benar masuk ke dalam dunia Seo Joohyun. Sehun merasakan jari-jari Joohyun yang terus mengusap lembut wajahnya dan Sehun menyukai bagaimana sekujur tubuhnya menjadi panas.

Sehun memegang lembut jari-jari Joohyun dengan kedua tangannya. Sehun benar-benar merasa bahwa gadis di hadapannya adalah tempat dimana dia harus pulang. Dan Sehun juga menyukai perasaan bahwa jari-jari Joohyun terasa begitu sempurna dengan tangannya.

 

“Itu kau Oh Sehun. Pria dengan mata coklat tuanya yang berhasil menarik ku.”

Sehun memberikan senyum, senyum yang menggambarkan bagaimana leganya perasaan pria itu sekarang. Sehun tidak lagi merasa tenggelam dengan perasaannya sendiri. Gadis di hadapannya sudah menarik Sehun keluar. Akhirnya Sehun dapat merasakan bahwa gadis itu benar-benar dekat dan nyata.

 

Sehun mendekatkan wajahnya, menghujani Joohyun dengan kecupan kecupan kecil. Dari mulai dahi, turun sampai pada detik pria itu mengecup lembut bibir Joohyun. Hanya kecupan ringan, tapi semuanya terasa manis dan abadi.

Sehun menarik napas disela-sela ciuman kecil mereka, lalu berbisik, “Aku bersyukur, bahwa itu kau, Seo Joo Hyun.”

 

Oh Sehun dan Seo joo Hyun bersumpah, bahwa penerbangan ini terasa begitu cepat.

 

 

“Kau harus menghubungiku ketika kau sudah sampai”

Sehun berkata sambil menyerahkan Joohyun secarik kertas. Joohyun mengangguk lembut, “Kau juga.”

 

“Joohyun!”

Sehun dan Joohyun menoleh ke arah sumber suara, seorang gadis sedang melambaikan tangannya sambil membawa papan. Sehun mengira-ngira bahwa gadis itu yang menjemput Joohyun.

 

“Aku tidak tahu akan diam di Tokyo berapa lama, tapi pastikan hubungi aku.” Joohyun memberikan Sehun tatapan sendu, memang kadang semesta benar-benar butuh waktu untuk bermain. Sehun tersenyum pahit lalu mengangguk.

Keduanya baru saja menemukan tempat untuk pulang, tempat merasakan bahwa keduanya berada di tempat yang tepat.

Wajah Sehun kembali mendekat, bibirnya kembali mengecup bibir Joohyun, tetapi kali ini sedikit lebih lama. Tangan Sehun mendekap tubuh Joohyun dengan cara lembut tetapi posesif. Dan tangan Joohyun menyentuh dada Sehun, merasakan detak jantungnya.

Keduanya saling menjauh dan tersenyum.

 

Perpisahan ini tidak menyisakan rasa pahit atau sesak sedikit pun, karena perpisahan ini merupakan awal dari sebuah cerita.

 

 

END

YEEEE horeee mudah mudahan kalian ga bosen kalo aku bikin cerita kayak gini terus T_T Maaf ya kl feel belum dapet atau bahasanya masih aca acakan, namanya jg masih belajar :’) Btw ini ff terinspirasi dari lagu The Radio Dept. – I wanted you to feel the same hehehehe. Makasih buat yg udah mau baca, kritikan/saran kalian bakal aku terima lapang dada selapang dadanya chanyeol .

9 thoughts on “[Freelance] I Wanted You To Feel The Same

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s