[Freelance] About Law and Love (3rd Case)

Poster - About Law and Love (2nd Case) 2

Title
About Law and Love

Author
Voldamin-chan

Length
Chaptered

Rating
PG-17

Genre
Romance, Politic and Little Bit Comedy

Main Cast
Kim Taeyeon

Xi Luhan

 

Other Cast
EXO and Girls’ Generation

SM Town Family

Disclaimer
This story inspired by American TV Show but the storyline might changed due to author wild imagination. Just check it out^^

Backsound
Olly Murs feat. Flo Rida – Troublemaker

 

Author Note

Don’t forget to RCL, don’t bash and enjoy the story.

 

 

-About Law and Love-

 

“Hei~ tidak masalah kan kalau kita jadwalkan ulang?”

 

Yeoja yang mengenakan rok hitam di atas lutut dan kemeja biru laut berlengan panjang, sedang sibuk dengan handphone yang tidak lepas sedikitpun dari telinga kanannya. Sesekali yeoja ini membenarkan tas tangan berwarna coklat elegan yang tersampir cantik di bahu kirinya. Kim Taeyeon sedang berdiri di depan lift, menunggu pintu itu terbuka dan membiarkannya bersama segelintir orang yang ada disekelilingnya untuk segera masuk ke dalam dan melanjutkan pekerjaan mereka.

 

Tapi noona, harus sampai berapa kali kita bertiga bisa bertemu untuk bias mendengarkan surat wasiat hyung. Tolong jangan menghindar lagi noona.” ujar lawan bicara dari balik handphone-nya.

Mendengar jawaban dari lawan bicaranya, Taeyeon sedikit menaikkan sebelah alisnya dan mendengus kecil. Tetapi senyuman tidak pernah lepas dari wajah Taeyeon ketika menyapa beberapa orang yang ia kenal, yang juga punya tujuan sama dengannya untuk segera menggunakan fasilitas lift ini.

 

“Maaf? Aku? Menghindar?”

”Dengar, aku ini sibuk. Mediasi dari Kepolisian Pusat harus aku selesaikan hari itu juga. Aku tidak mau membuat orang tak bersalah menunggu terlalu lama, Jongdae-ah.”

 

Ting~

Segerombolan orang muncul dan berhamburan keluar dari pintu lift yang sudah terbuka lebar di lantai 1. Well, lift dengan ukuran volume yang cukup besar itu memang bisa menampung banyak orang di dalam sana. Meskipun gedung ini hanya berlantai 3, tetapi sepertinya tangga darurat yang sangat mewah ini kurang diminati orang-orang yang berlalu-lalang di dalam kantor ini. Mungkin mereka terlalu malas untuk sekedar membakar kalori dan mungkin juga prinsip otomatis lebih dipilih bagi tipe orang super sibuk seperti mereka.

“Ah, maaf permisi… permisi…” Taeyeon agak kesulitan menerobos orang-orang yang berhamburan keluar lift. Dengan susah payah tubuh mungil Taeyeon menerobos masuk ke dalam sana. Ia harus segera sampai di ruangannya, kalau tidak Tiffany bisa mengguruinya lagi karena ia datang terlambat. Yah, ini juga bukan kemauan Taeyeon datang terlambat, hanya takdir saja yang membuatnya terlambat hari ini. Lagipula Taeyeon sudah kebal dan mati rasa kalau pimpinan tertingginya itu sudah mulai membisikkan suaranya di telinga Taeyeon.

Aigoo~ sudahlah berdebat dengan noona memang tidak akan ada habisnya. Besok noona harus meluangkan jadwal kerjamu untuk menyelesaikan tugasku ini. Tidak ada penolakan lagi. Oke?” Di seberang sana, Kim Jongdae akhirnya menyerah namun sedikit memaksa kakak perempuannya ini untuk menyanggupi permintaannya.

 

Yah begitulah. Singkat cerita, Kim Jongdae memang diberi tanggung jawab sebagai penyampai wasiat mendiang Kim Jaejoong. Taeyeon dan Tiffany memang sudah paham kalau Jongdae yang bertugas mengeksekusi surat wasiat itu, karena bisa di bilang Jongdae ada di pihak netral dan masih bisa menggunakan akal dan logika daripada emosi yang lebih sering didahulukan oleh 2 orang wanita itu.

 

”Yah~ baiklah. Aku tidak mau mendengarkan omelanmu lagi. Besok malam di kantor kita, bagaimana? Dan jangan menyuruhku untuk menghubungi Tiffany soal ini.” Dengan tegas Taeyeon menekankan dan menggarisbawahi kalimat terakhirnya itu. Lebih baik orang lain yang memberi tahu kakak iparnya itu. Mau bagaimana lagi ini semua juga demi ’kesehatan batin’ Taeyeon.

 

Oke, oke, oke, aku yang akan memberitahu Tiffany noona soal besok malam. Tepati janjimu noona. Sampai ketemu besok malam.”

 

”Oke~”

 

Ting~

 

Tepat ketika pembicaraan via telepon antar dua saudara itu terputus, pintu lift yang berakhir di lantai 3 ini terbuka dengan lapang. Semua orang segera keluar satu per satu dari sana, berjalan ke tempat tujuan masing-masing. Beberapa meter dari depan pintu lift, Taeyeon bisa melihat pintu kaca eksklusif yang menjadi pembatas dengan ruangan lain. Pintu kaca ruang direksi dengan hiasan eksklusif ini memang berbeda dari ruangan lain. Ayahnya memang punya selera mewah untuk ruangan yang menjadi tempat berkumpulnya para jajaran petinggi East Law Firm.

 

Taeyeon tersenyum ketika melihat seseorang yang sudah setia menunggunya di balik pintu kaca itu. Bocah yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu memang menjadi kesayangan Taeyeon. Taeyeon melihat ada yang berbeda dengan penampilan Jongin kali ini. Tepatnya jarang-jarang asistennya itu terlihat memakai kemeja dengan celana kain berwarna biru gelap seperti ini, bisa dibilang Jong In sedikit lebih terlihat dewasa dan lebih tampan. Biasanya bocah ini lebih sering memakai pakaian casual, hanya dengan kaos dan celana jeans. Mungkin Seohyun juga sudah menyadari ketampanan Jongin dengan penampilannya yang rapi begini.

 

Setidaknya, Jongin tidak bertepuk sebelah tangan kalau soal cinta. Memang sih, Seohyun tidak mengatakan apapun soal Jongin padanya. Well, Taeyeon yakin dengan apa yang ia lihat dan firasatnya tidak pernah meleset kalau sudah berhubungan dengan hal semacam ini. Bisa dibilang Taeyeon peka soal hal-hal berbau romantis ataupun cinta. Tapi kadang kepekaannya ini tidak terlalu berhasil dengan dirinya sendiri.

 

Jongin berdiri dengan segelas cappucino kesayangan Taeyeon yang ia lambai-lambaikan dari balik pintu itu seolah memancing bos-nya ini untuk segera masuk ke dalam sana.

”Pagi, bos! Cappucino-mu sudah menunggu dari tadi, tumben terlambat?” Jongin segera menyodorkan segelas Cappucino ke arah Taeyeon sambil menyapa bos-nya yang tumben-tumbenan datang terlambat. Selama Jongin bekerja dengan Taeyeon, bosnya itu tidak pernah datang terlambat sampai lebih dari 3 jam begini.

 

”Hah~ ini semua gara-gara Luhan. Si jaksa itu tiba-tiba memaksaku berangkat bersamanya, mengajakku berkeliling ke hampir semua toko yang ia lihat, menanyaiku soal hal-hal aneh dan akhirnya terjebak macet. Yah, kau tahulah akhirnya aku marah-marah dan kita berdua bertengkar di pinggir jalan. Aku tidak tahu apa sih yang ada dipikirannya. Apa dia pikir aku ini tidak sibuk? HAH~ Dasar pria abstrak!” Jongin mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mendengarkan curhatan pagi bosnya ini. Seperti biasa Jongin memang teman curhat andalan Taeyeon dan dia memang pendengar yang baik.

 

”Tenanglah noona, minum dulu Cappucino-mu. Jangan terlalu dipikirkan karena masih ada setumpuk berkas yang bisa noona baca. Siang ini ada jadwal dengan klien baru, dokumennya sudah aku siapkan di mejamu, bos.” Jelas Jongin sambil mengarahkan tangannya ke arah ruangan Taeyeon.

 

“Kau benar, sekarang bukan saatnya memikirkan pria abstrak itu. Aku masih punya setumpuk pekerjaan yang menungguku. Oh iya, Jongin tolong kosongkan jadwalku besok sore karena ada urusan keluarga penting yang harus segera aku selesaikan.” ujar Taeyeon setelah ia meneguk sedikit Americano favoritnya.

 

”Beres, bos.” jawab Jongin dengan menunjukkan pose acungan jempol andalannya. Dengan segera Jongin masuk ke dalam ruangan Taeyeon untuk meletakkan beberapa berkas baru yang ia pegang beberapa detik tadi.

 

”Kim Taeyeon!”

 

Suara nyaring itu terdengar dari belakang Taeyeon. Tanpa menoleh pun, yeoja ini sudah tahu siapa pemilik suara ini. Taeyeon langsung mengernyitkan alisnya ketika mendengar suara yang sangat ingin ia hindari setiap saat itu. Siapa lagi kalau bukan Tiffany Hwang, direktur sekaligus kakak iparnya itu.

 

Taeyeon dengan malas membalikkan tubuhnya untuk sekedar melihat wanita itu datang menghampirinya. Oke, mungkin sedikit senyuman kecil bisa membantu batin Taeyeon untuk tidak menaikkan lagi tekanan darahnya setelah apa yang terjadi tadi pagi.

 

”Wah, wah, wah… hebat sekarang seorang Kim Taeyeon sudah membuat rekor baru, hmm?” selangkah demi selangkan Tiffany mendekat ke arah Taeyeon yang tepat berdiri di depannya. Sebuah map dokumen berwarna biru tua melekat di tangan kanannya beserta handphone kesayangan Tiffany disana.

 

Kringgg~

Kringgg~

Kringgg~

 

”Ah, kau tahu sepertinya aku harus segera menerima telepon itu.”

Kadang Tuhan juga kerap kali membantunya di saat-saat genting, termasuk sekarang ini. Deringan telepon di meja Jongin berhasil membantunya menghindar dari celotehan Tiffany, setidaknya beberapa menit Taeyeon bisa mengatur emosinya.

 

”Ya! Kim Taeyeon!” panggil Tiffany sekali lagi, ia sadar Taeyeon sama sekali tidak menggubris sapaan paginya tadi.

 

”Shhttt~, sebentar. Jangan bergerak dari situ.” pinta Taeyeon pada direkturnya yang sudah berdiri 1 meter di depan meja Jongin. Tiffany hanya bisa tersenyum kecut sambil menghela napas, menuruti permintaan Taeyeon.

 

”Selamat pagi, disini kantor East Law Firm, ada yang bisa dibantu?” sapa Taeyeon pada lawan bicaranya di telepon. Tiffany dengan santai duduk di kursi depan meja asisten Taeyeon itu dan meletakkan barang bawaannya di atas meja Jongin, Tak lupa sedikit senyuman tipis ia lempar kearah Taeyeon yang juga dibalas dengan hal serupa oleh Taeyeon.

 

“Oh? Luhan?! Ada apa la..”

“Hah? Jongin? Ah, oke tunggu sebentar aku panggilkan Jongin untukmu.” Taeyeon sedikit mengernyitkan alisnya setelah ia tahu siapa yang menjadi lawan bicaranya disana.

 

“Aneh~ Kau tahu, ini telepon dari Luhan dan dia sedang mencari Jongin? Aneh sekali kan, Tiffany?” Tiffany hanya mengangkat kedua bahunya, menanggapi pertanyaan Taeyeon yang menurutnya aneh. Lagipula Tiffany tak peduli siapa yang sedang menelpon Jongin dan itu bukan urusannya.

 

“Hmm… lalu kenapa kau sangat terlambat hari ini? Dan kenapa kemarin kau tidak datang?” Tiffany kembali ke topik yang sudah daritadi ingin ia tanyakan ke adik iparnya ini.

 

”Jongin!!!” suara yang lantang yang keluar dari mulut Taeyeon ini sedikit memekakkan telinga Tiffany yang sedang ada di depannya.

 

”Yah, kemarin jadwalku padat dan ada beberapa kasus dari kepolisian yang harus aku tangani hari itu juga.” Tiffany sedikit tidak puas dengan jawaban singkat dari Taeyeon.

 

”Semua beres, noona. Jadwalmu untuk besok sore sudah aku kosongkan dan beberapa pertemuan sudah aku jadwalkan ulang.” Jongin datang sambil memamerkan isi buku pintarnya kepada Taeyeon dan tak lupa juga melempar sedikit senyum pada Tiffany di sampingnya.

 

”Bagus. Oh iya, ini telepon dari Luhan untukmu?” Taeyeon menyodorkan gagang telepon ke arah Jongin.

 

”Hah? Aku?” Jongin mengambil alih telepon itu dengan ragu.

 

 

-About Law and Love-

 

 

”Hmm… Aku pesan Korean Beef Medium Steak. Lalu…”  ucap Jongin.

 

Jongin membolak-balik buku ukuran A4 yang penuh dengan daftar makanan yang disajikan di restoran Korean-Western ini. Sesekali, namja ini mengetuk-ngetukkan jari telunjukkan di atas meja sambil memikirkan menu apa yang ingin ia makan sekarang. Terlalu banyak menu yang ingin Jongin coba sekarang.

 

”Ah! Hampir lupa, aku tambah ddeokboekki spesial dan ice cream buble tea flavour untuk dessert-nya. Itu saja untukku, lalu hyung mau makan apa?” Jongin menyodorkan kembali buku menu kepada pelayan restoran yang sedang sibuk mencatat pesannanya.

 

”Hah? Ah, aku americano dan pancake saja. Terima kasih.” Luhan yang duduk berlawanan dengan Jongin, sejenak heran dengan pesanan Jongin yang begitu banyak tadi.

 

Setelah mencatat pesanan terakhir dari Luhan, pelayan restoran itu langsung meninggalkan meja kedua namja itu. Tidak lupa untuk sekedar menyampaikan beberapa salam kepada tamu-tamu lain yang mulai banyak berdatangan.

 

”Ya, Jongin. Memang perutmu muat dengan makanan-makanan yang kau pesan tadi? Apa kau tidak diberi makan oleh bosmu?” tanya Luhan dengan ekspresi heran ke arah Jongin.

 

”Haha, tenang saja hyung perutku masih muat. Hanya memanfaatkan kesempatan saja, kapan lagi Luhan hyung mau mentraktirku makan di restoran mewah begini.” ujar Jongin sambil memperhatikan sekeliling restoran yang sudah mulai dipenuhi oleh pelanggannya.

 

Mata Jongin terbuka lebar dan menulusuri sekeliling restoran ini. Namja ini terperangah kagum dengan penampilan restoran yang mewah ini. Dia mengenali beberapa tamu disana, ada aktor terkenal, tokoh politik, dan juga pengusaha terkenal di Seoul. Diantaranya mereka juga ada yang pernah menjadi salah satu klien bosnya.

 

”Yah terserahlah., tapi mungkin kau heran kenapa aku tiba-tiba mengajakmu kesini, kan?” ujar Luhan sambil meneguk sedikit air mineral yang baru saja dituangkan oleh salah seorang pelayan.

 

”Ah, tidak juga.” Jongin membalasnya dengan santai yang juga ikut meneguk air minumnya.

 

”Tidak penasaran sedikit pun?” tanya Luhan sekali lagi.

 

”Hyung ingin minta tolong sesuatu padaku kan?” Jongin memicingkan matanya dan menatap tajam Luhan yang ada didepannya.

 

”Hmm… itu…” Luhan sedikit was-was dengan pertanyaan atau lebih tepatnya penegasan kalimat tanya dari Jongin. Melihat gelagat Luhan, ujung bibir Jongin membentuk senyuman nakal.

 

”Pasti ada hubungannya dengan Taeyeon-noona, benar kan? Dan biar kutebak, ulang tahun noona sudah dekat jadi ….”

 

”AH~ Oke, oke, stop sampai disitu Jongin. Oke, biar aku jelaskan. Karena kau bisa dengan mudah menebak semuanya, diriku jadi terlihat bodoh seperti ini.” Akhirnya Luhan pun menyerah. Ia merasa dirinya terlihat bodoh sekarang karena menggunakan cara kuno untuk membujuk seorang Jongin.

 

”Luhan hyung pasti tidak punya ide sama sekali soal hadiah yang cocok untuk Taeyeon-noona. Oho? Ternyata aku memang jenius.”

 

”Ya, ya, ya, Jongin kau memang jenius. Tidak salah Taeyeon memilihmu jadi asistennya. Oke, sekarang giliranku menjelaskan padamu, Jongin. Jadi, dulu waktu kita menikah, aku dan Taeyeon punya peraturan ketat untuk tidak memberikan hadiah apapun, hanya cukup dengan merayakan berdua secara sederhana saja. Yah, seperti jalan-jalan atau sekedar makan berdua di restoran. Apapun itu, yang penting kita bisa menghabiskan waktu hanya berdua saja. That was great.” Luhan mulai menjelaskan pokok persoalan yang ingin ia sampaikan pada Jongin malam ini, berharap bisa mendapatkan secercah harapan dari asisten pribadi Taeyeon ini.

 

”Sekarang, kita berdua sudah tidak berstatus suami-istri lagi.”

 

”Ya, aku tahu itu.” Komentar Jongin singkat.

 

”Bulan lalu, saat ulang tahunku, Taeyeon mengirim jas yang kupakai sekarang ini sebagai hadiah.”

 

”Jas itu memang terlihat keren, hyung.”

 

”Dan, sekarang aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuknya.”

 

”Hmm, mungkin hyung bisa mengembalikan jas itu?” ujar Jongin dengan nada santainya.

 

”Jangan bercanda Jongin. Tidak, tidak, itu bukan pilihan yang tepat Jongin. Aku hanya ingin memberikan sesuatu yang spesial untuknya. Aku sangat yakin dibandingkan dengan orang lain, Taeyeon lebih banyak menghabiskan waktunya bersamamu karena kau adalah asisten pribadinya. Jadi, bisakah kau membantuku soal ini?” pinta Luhan.

 

”Lalu… apa pengaruhnya buatku, hyung?”

 

Well, aku punya satu tiket spesial untuk pameran game internasional terbesar di Seoul. Yah, bisa kuberikan ke orang lain yang lebih tertarik mungkin?” sambil menyeruput sedikit americano-nya, Luhan mulai mengerahkan segala bujuk rayunya pada Jongin.

 

”Wow, wow, wow. Hyung, kau tahu kan aku datang kesini pasti untuk membantumu. Tenang saja, serahkan soal Taeyeon-noona padaku.”

 

”Bagus, aku suka itu. Tidak salah aku mengajakmu kesini.” Ujar Luhan dengan puas. Dengan begini Luhan bisa dengan tenang mengandalkan Jongin untuk mendapatkan informasi soal Taeyeon. Kedua namja itu saling mendentingkan gelas masing-masing sebagai tanda kesepakatan yang mereka buat malam ini.

 

-About Law and Love-

 

“Menurutku, kali ini kau mendapatkan kasus mediasi yang mudah. Dua tawaran sekaligus dan Kim Young-Woon bisa segera bebas dan melanjutkan hidup barunya, iya kan?”

Masih mengenakan pakaian kerjanya, Luhan berjalan berdampingan dengan Taeyeon menuju sebuah cafe tengah kota Seoul, tempat berkumpulnya orang-orang sibuk untuk mendapatkan makan siang mereka.

 

”Sepertinya aku tidak bisa menyelesaikan kasusku kali ini. Hah~” Taeyeon terdengar lesu, mengingat kasusnya yang begitu rumit kali ini.

 

”Lalu, kau akan menyerahkan semua pada Pengadilan?” Tanya Luhan, kini mereka berdua sudah bediri di antara barisan depan antrian cafe.

 

”Yah, mungkin begitu.”

 

”Apa ini masalah uang? Kim Young-woon tinggal memilih, lagipula opsi yang diberikan semua terlihat menguntungkan dia. So, biarkan dia memilih dan semua akan selesai.”

 

”Bukan, ini bukan soal uang tapi ini soal seorang pria kosong. Seseorang yang berjalan tanpa sebuah nyawa. Dia tidak mengungkapkan sedikitpun apa yang dia mau. Bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa setelah 20 tahun dia mendekam di penjara untuk sebuah kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.”

 

Mereka berdua sudah berada di depan kasir dan Luhan yang bertugas memilih menu yang akan menjadi makan siang mereka berdua. Tidak sampai 5 menit, 2 gelas americano dan 2 cheese sandwich sudah berada di tangan Taeyeon.

 

Luhan segera menggandeng lengan Taeyeon menuju salah satu meja di cafe itu. Setidaknya lebih nyaman untuk mengobrol sambil menikmati makan siang mereka. ”Well, itu semua urusan Kim Young-woon.”

 

“Dan itu juga urusanku, Luhan.” balas Taeyeon dengan tegas.

 

Setelah meneguk sedikit americano miliknya, Luhan kembali melanjutkan topik yang membuat Taeyeon terlihat tidak nafsu makan di depannya ini. ”Dengarkan aku, Taeyeon. Kalau kasus ini masuk ke Pengadilan, akan lebih dari setahun untuk bisa menyelesaikannya dan tentunya akan lebih susah untuk mendapatkan jaminan besar seperti sekarang ini. Lalu, apa itu semua akan menolong seorang Kim Young-woon?”

 

”Entahlah, aku tidak tahu. Aku tidak tahu, Luhan. Mungkin saja itu bisa terjadi. Ah, sudahlah jangan membuat masalahku jadi tambah rumit lagi.” Taeyeon hanya meneguk sedikit americano dan dengan tidak selera ia menatap lesu pada sandwich yang sudah cantik berbaring di atas piring kecilnya.

 

”Hei~ siapa yang ingin menambah rumit masalahmu? Coba kau pikir, ada sekarung besar uang yang sudah siap untuk seorang Kim Young-woon yang bisa menjadi modal hidup barunya. Karung itu tersedia hanya untuknya, Taeyeon. Siapapun akan iri dengan tawaran yang diberikan untuknya.” sekali lagi Luhan mencoba meyakinkan sebuah jalan keluar untuk Taeyeon.

 

”Tapi, kalau aku tidak bisa tahu apa yang ia inginkan sebenarnya, dia akan meledak, Lu. Dia akan benar-benar membuat tindakan kriminalnya sendiri secara nyata dan itu akan membuat kantormu semakin banyak pekerjaan baru lagi.” tukas Taeyeon dengan agak meninggikan nadanya. Taeyeon merasa Luhan tidak bisa memberikan jalan keluar sesuai yang ia inginkan.

 

That’s fine. Itu memang pekerjaanku.”

 

“Dan pekerjaanku adalah mencegah bagaimana caranya semua itu tidak akan pernah terjadi.” Ucap Taeyeon tidak mau kalah dari Luhan.

 

“Kau selalu seperti ini, membuat semua kasusmu seolah menjadi masalah pribadimu.” sekarang giliran Luhan yang meninggikan suaranya ke arah.

 

”Kau juga selalu bersembunyi di balik sistem kaku itu, Luhan.”

 

“Kita sedang membicarakan kasusmu, Taeyeon.”

 

”Apa yang baik untukmu tidak selalu baik untuk seorang Kim Young-woon. Aku butuh waktu sedikit lagi, Lu.” Taeyeon menatap tajam pria yang duduk berlawanan arah dengannya.

 

”Oke, Maaf.”

 

Luhan akhirnya mengalah untuk berdebat lebih panjang lagi dengan Taeyeon. Ia sudah tahu bagaimana watak seorang Kim Taeyeon dan semua pendapatnya tidak akan ada satupun yang masuk ke telinga wanita ini.

 

”Hah~” sepersekian detik Taeyeon melempar tatapan kesal ke arah Luhan, heran kenapa pria di depannya ini begitu berpikiran sempit.

 

”Kau selalu benci dan menghindar ketika orang lain mengatakan sesuatu yang logis dan benar.”

 

Mendengar ucapan Luhan, niatan Taeyeon terhenti ketika akan beranjak meninggalkan meja makan siangnya saat itu.

 

”Aku….akan menemui Jongdae dan Tiffany untuk mendengarkan wasiat Jajoong-oppa. Aku sudah pernah membatalkan pertemuan ini saat pertama kalinya kau menelponku soal kasus mediasi Kim Young-woon. Sekarang, aku tidak akan melewatkan hal penting ini lagi. Terima kasih atas makan siangnya.”

 

Hanya americano dan cheese sandwich tersisa di atas meja. Tak ada alasan lain yang bisa Luhan lakukan untuk menahan Taeyeon sekarang. Sambil meneguk sisa americano-nya, Luhan hanya bisa melihat wanita itu perlahan menjauh dari pandangannya.

 

~Dua hari yang lalu~

 

”Seseorang sedang mencuri staples pribadiku. Semua menghilang dari meja kantorku.”

 

Tiba-tiba saja seorang Tiffany muncul di depan pintu ruang kerja Taeyeon. Tiffany menatap tajam adik iparnya yang sedang sibuk membaca dokumen di mejanya tanpa sedikitpun menoleh untuk sekedar melihat siapa yang ada disana.

 

”Kau pikir aku yang mengambilnya?” Taeyeon lebih tertarik pada dokumen yang ia baca sekarang daripada seorang direktur yang tiba-tiba datang mengganggunya dengan topik yang aneh.

 

”Mungkin kau punya satu yang bisa kupinjam sekarang.”

 

Taeyeon segera mengambil salah satu staples besar yang ada di mejanya dan menaruhnya tepat di ujung meja kerjanya dimana Tiffany sudah dari tadi menempelkan kedua tangannya dan tidak sedetikpun pandangannya terlepas dari Taeyeon.

 

”Ada apa lagi?” meskipun Taeyeon tidak melihat langsung, ia masih merasa Tiffany belum meninggalkan tempatnya. Dan bisa dia merasakan pandangan mata yang sedari tadi menusuk ke kepalanya, masih juga belum menghilang.

 

Tiffany semakin geram karena tak ada respon apapun dari Taeyeon. Semakin kesal karena Taeyeon tidak bisa menyadari apa kesalahannya sendiri. ”Stop being such a child, Taeyeon! Jangan melarikan diri lagi dan kau harus datang untuk mendengarkan surat wasiat Jaejoong-oppa.”

 

”Dan… tolong jangan monopoli staples kantor.”

Tiffany mencoba menahan amarahnya sebisa mungkin karena sikap Taeyeon yang kekanak-kanakan seperti ini. Dengan kasar, Tiffany mengambil staples dari atas meja kerja Taeyeon dan meninggalkan ruang kerja Taeyeon secepat mungkin, sebelum amarahnya bisa menjadi kenyataan dan bisa membuatnya gila disini.

 

”Huh~” Taeyeon menyadarkan punggungnya ke kursi kerjanya yang empuk ini sembari memijit kedua keningnya. Lega rasanya sang direktur wanita itu sudah tidak lagi diruangannya.

 

Taeyeon memang malas menanggapi Tiffany yang selalu bereaksi berlebihan terutama soal keluarganya. Well, dia sudah biasa menghadapi direktur East Law Firm yang seperti ini. Sudah menjadi makanan sehari-harinya disini.

 

Tok~ Tok~ Tok~

 

Jongin muncul dari balik pintu, ”Bos, Jongdae-hyung datang menemuimu.”

 

”Suruh masuk saja.” perintah Taeyeon.

 

”Ah, bos. Quick question! Godzilla, Mothra, King Kong… Jika noona harus memilih satu, first instict, no wrong answer!”

 

”Mothra.” jawab Taeyeon singkat. ”Jongin~a, apa sesuatu terjadi pada direktur kita?”

 

”Hmm? Sepertinya baik-baik saja hari ini.” Jongin mengerutkan dahinya, mengingat-ingat apa yang mungkin terjadi pada direkturnya hari ini. ”Oh iya, Jimmy Choo, Blahnik, Louboutin…?”

 

”Blahnik!”

 

”Ah, Jongdae-hyung silahkan masuk.” Jongdae sudah sampai di depan pintu dan berniat masuk ketika Jongin mempersilahkan dongsaeng bos-nya ini untuk masuk ke dalam ruang kerja Taeyeon.

 

”Halo, noona. Bagaimana kabarmu hari ini?” Jongdae segera melepas jaket dan menaruhnya bersama dengan tas jinjingnya di atas sofa panjang.

 

Sekilas Taeyeon memeluk dongsaengnya untuk menyapanya, sebelum ia kembali duduk di posisi semulanya tadi, ”Hmm.. seperti yang kau lihat aku baik-baik saja. Yeonhee bagaimana?”

 

”Yeonhee baik-baik saja dan baru pulang kemarin setelah puas piknik dengan Jinri.”

 

”Jongin?!” seru Taeyeon dari dalam ruangannya.

 

”Ya, Bos?!”

 

”Tolong bawakan aku dokumen pendukung kasus Kim Young-woon yang baru saja datang hari ini.” Taeyeon membolak balik lagi lembar demi lembar tumpukan dokumen di atas mejanya ini.

 

”Sudah malam begini, masih sibuk juga ternyata.” Jongdae mendekat ke arah meja Taeyeon, melihat beberapa berkas mediasi yang sedang ditangani oleh kakaknya ini.

 

”Begitulah, kali ini mediasiku berjalan rumit.”

 

Jongin datang dengan membawa 2 map besar, berisi dokumen yang Taeyeon inginkan tadi, ”Permisi, ini bos dokumennya. Kalau begitu, aku pamit pulang dulu.”

 

”Tumben? Biasanya kau masih main game sampai malam disini.”

 

”Hehe, aku ada janji dengan Seohyun-noona.” Jongin menutup mukanya dengan kedua tangannya, seperti anak kecil yang malu-malu mengakui sesuatu.

 

”Ck, Dasar~”

 

”Bos, 1 pertanyaan terakhir. Pemanas ruangan, selimut elektrik atau  ?”

 

”Selimut elektrik mungkin? Sudah cepat pergi sana, Seohyun tidak suka terlambat.”

 

”Oke bos, sampai ketemu besok. Jongdae-hyung, aku duluan.” Jongdae dan Taeyeon melambaikan tangannya bersamaan ke arah Jongin sambil tersenyum kecil melihat tingkah asisten terbaik Taeyeon itu.

 

”Memang noona sedang main kosa kata dengan Jongin?” tanya Jongdae penasaran.

 

”Entahlah, aku juga mau menanyakannya tadi tapi sudah lupa. Ah, sudahlah. Ngomong-ngomong ada apa kau kemari?”

 

Taeyeon memutuskan untuk menutup dokumen yang sedang ia baca. Mungkin Jongdae punya urusan penting dengannya sampai dia harus datang ke kantor malam-malam begini. Taeyeon melangkah untuk pindah ke sofa panjangnya supaya mereka bedua bisa dengan santai mengobrol sesuatu malam ini, mungkin.

 

”Ini soal pertemuan keluarga kita yang sempat batal kemarin, noona.” dengan sedikit melonggarkan dasinya, Jongdae dengan mantap mulai menyampaikan niatnya menemui Taeyeon malam ini.

 

”Ah~ oke aku minta maaf karena aku yang membatalkannya tiba-tiba.” ujar Taeyeon santai.

 

Jongdae menatap dua bola mata kakaknya dengan serius, ”Kau pasti akan melakukan apapun untuk tidak duduk sejajar dengan Tiffany-noona soal wasiat ini, kan?”

 

”Kau salah, Jongdae.”

 

”Noona khawatir kalau Tiffany bisa mendapatkan lebih darimu.”

 

Taeyeon beranjak dari sofa untuk mengambil segelas kopi hangat dari dapur kecil yang tidak jauh dari ruangannya, ”Oh please, Jongdae. I don’t care about money. Sejak kapan aku peduli soal uang?”

 

”Noona, yang kubicarakan bukan soal uang.”

 

”Aku tidak paham maksudmu?”

 

Taeyeon kembali dari dapur kecil itu dengan membawa 2 gelas minuman favoritnya. Jongdae dengan sigap mengambil salah satu gelas berisi kopi hangat yang disodorkan Taeyeon.

 

”Maksudku, mungkin noona khawatir tentang bagaimana hyung membagi wasiatnya yang nantinya akan terlihat hyung lebih peduli pada Tiffany daripada noona sendiri.”

 

Kini ia berdiri beranjak dari sofa, mensejajarkan posisinya dengan Jongdae dan meletakkan kopi kesayangannya di atas meja kerjanya, ”Oh, jadi maksudmu saat kita membuka wasiat oppa, dan aku akan bilang ternyata Oppa lebih menyayangi Tiffany daripada aku, begitu?”

 

”Ya.” jawab Jongdae dengan sangat yakin.

 

”Astaga, Jongdae. Kau adalah dongsaeng-ku sendiri dan kau tidak bisa memahamiku lebih dari itu?” ujar Taeyeon

 

Jongdae mendekat ke arah noona satu-satunya ini sambil memegang kedua bahunya. Dengan senyumannya yang penuh sayang, Jongdae menatap Taeyeon seakan menyelidiki setiap titik apa yang sebenarnya tersembunyi didalamnya. ”Noona, aku tau kau menghindar dari wasiat Jaejoong-hyung.”

 

”Aku ada janji saat itu dan penting.” kini mata yang berkaca-kaca milik Taeyeon itu balik menatap Jongdae.

 

”Kau juga sedang menghindarinya, noona”

 

Well, aku bukan menghindar darimu. Tapi aku tidak mau membaca wasiat itu, Jongdae. Aku hanya tidak mau melihat wasiat itu, Jongdae.” dengan nada putus asa, Taeyeon sekali lagi menegaskan keputusannya.

 

”Maaf, apa aku mengganggu kalian?” dengan ragu Luhan menunjukkan sosoknya dari balik pintu.

 

”Ah, tidak Luhan-hyung. Kebetulan aku juga mau pulang, masuk saja.” Jongdae segera mengambil jas dan tasnya dan bermaksud segera bergegas pulang.

 

”Fiuh~ Baiklah, noona. Tenangkan dirimu dulu…” Jongdae memeluk Taeyeon sebentar sebelum ia meninggalkannya berdua dengan mantan kakak iparnya, Luhan, ”…dan aku akan menelponmu lagi besok, Oke?”

 

Setelah Jongdae menghilang dari  padangan, Luhan mendekat ke arah Taeyeon yang sedari tadi medundukkan kepalanya setelah percakapan serius antara dia dan dongsaeng-nya berakhir. Meskipun Luhan tidak mendengarnya dengan jelas, ia yakin dengan apa yang sekilas ia dengan adalah soal mendiang Jaejoong-hyung.

 

”Taeyeon, kau baik-baik saja?” Luhan menyentuh pipi Taeyeon dengan kedua tangannya dan ia bisa melihat kedua mata yang berkaca-kaca itu mulai luntur satu persatu membasahi wajah cantik wanita ini.

 

”Aku memang menghindar dari wasiat itu, Lu.” ujar Taeyeon dengan suara serak akibat air mata yang sudah mulai membulir banyak di pipinya.

 

”Hmm? Apa karena seorang Tiffany?” hanya gelengan kepala kecil Taeyeon yang menjadi jawaban pertanyaan Luhan. Pria cina ini hanya bisa memberikan pelukan untuk menenangkan perasaan Taeyeon sekarang sambil membelai kepala Taeyeon dengan lembut.

 

”Karena itu artinya, Jaejoong-oppa benar-benar sudah meninggalkanku. Setelah appa kini Jaejoong-oppa juga meninggalkanku, Lu.” Taeyeon membalas pelukan Luhan dengan erat dan menumpahkan seluruh keluh kesahnya saat itu.

 

-About Law and Love-

-to be continued-

Annyeong, chingu-deul T-T gomenasai yang amat sangat buat reader yang masih nungguin kelanjutan FF ini. Maaf udah ‘hiatus’ dengan tidak disengaja akibat beberapa unexpected happening muncul tiba-tiba. Kerjaan akhir tahun yang membengkak sampe ga sempet update blog satupun. Huks…. Semoga dengan kelanjutan ini para reader masih bias nyambung ama ceritanya. Mianhaeyo~ =_=

 

 

29 thoughts on “[Freelance] About Law and Love (3rd Case)

  1. Bgs
    Cuma agak ga nyambung aj
    Makanya baca dr part sebelumnya dlu
    Dan agak bingung sama romance scene nya
    Haha
    Ditunggu next chap nya deh
    Jgn sampe setengah thn lg yah ^^

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s