[Freelance] The Legend’s and The Goddess (Chapter 9)

tltg2

The Legend’s and The Goddess part 9

 

Title : Alien idiot & troublemaker

Author : RYN

Length : multichapter

Rate : PG 17+

Cast :

Taeyeon & EXO

Other cast : silahkan temukan sendiri

Genre : Fantasy, Romance, Action, Friendship

 

Menulis sangatlah menyenangkan. Apa yang tidak bisa kita lakukan di dunia nyata, bisa kita tuangkan lewat tulisan. Kita juga jadi bebas menciptakan dunia kita sendiri di dalam sebuah cerita. Jadi, readersku, jangan mencari kebenaran di isi cerita. Karena terkadang, isi cerita akan membuatmu bingung namun di sisi lain juga akan mendatangkan kebahagiaan dan kepuasan tersendiri begitu membacanya.

Silahkan memasuki dunia khayalan yang aku ciptakan dan kuharap kalian menikmatinya^^

Don’t plagiat, don’t copy paste without my permission!!

Aku tidak pernah memberikan izin pada siapapun untuk membuat cerita berdasarkan fanfic ini!!!

Warning ! typo bertebaran…

 

– – –

Mata membelalak lebar.

Mulut membuka membentuk O besar.

Taeyeon berhenti di anak tangga terakhir. Nafasnya tertahan.

“apa yang kalian lakukan pada rumahku..” suaranya berbisik hampir tak terdengar. Kerongkongannya tiba-tiba mengering, kalimat yang seharusnya menjadi pertanyaan, menggantung begitu saja seiring rasa shocknya dengan pemandangan di sekelilingnya.

Beberapa perabot rumahnya telah hancur berantakan di lantai, meja dan kursi berhamburan di segala penjuru sudut ruangan. Taeyeon menggeleng hampir tak percaya, tubuhnya masih berdiri kaku di tempat. Bibirnya mengatup rapat, kedua kepalan tangannya mengepal kuat di bawah sana, berusaha menahan segala perasaan yang berkecamuk di dalam sana. Sebagian dinding ruangan itu retak memanjang dengan beberapa bagian yang hampir berlubang. Air yang entah datang darimana, tergenang begitu saja dihampir seluruh lantai. anehnya, di dinding dan tirai jendelanya terdapat bekas terbakar. Taeyeon langsung berpaling ke arah Chanyeol yang tidak berani membalas tatapannya. Dia sudah menduganya. bukankah pria itu memiliki kekuatan yang bisa membakarnya hidup-hidup? Taeyeon tidak akan lupa fakta itu. entah mungkin karena pikirannya yang sudah negatif pada pria itu,  bulu kuduknya sontak meremang.

Taeyeon akhirnya menghela nafas dalam-dalam, mencoba mengatur nafasnya yang memburu seraya memejamkan matanya. ia berusaha meredam emosinya yang ingin bergejolak keluar karena kelakuan 12 alien di rumahnya. semuanya menjadi jelas sekarang, mengapa tiba-tiba ia merasakan ruangan kamar mandinya tadi bergetar.

Baru beberapa menit yang lalu ia berdebat dengan para alien itu, sekarang mereka sudah membuat ulah lagi? bukan padanya, tapi pada rumahnya?! Taeyeon menggertakkan giginya, merutuk dalam hati, betapa ia sangat ingin berteriak pada ke 12 alien yang sekarang menundukkan kepala, berdiri tak jauh di depannya.

12 guardian, ketika mendengar suara teriakan Taeyeon beberapa saat yang lalu, kepala mereka serempak terangkat menoleh ke arah tangga. Sejenak, guardian’s itu terpaku di tempat mereka. mereka tahu kalau mereka dalam masalah besar sekarang, tapi saat itu tidak ada satupun yang terpikirkan oleh mereka selain betapa manisnya gadis itu mengenakan pakaian seragam dengan rambut yang di ikat ponytail. Kening mereka berkerut beberapa detik, pakaian gadis manusia apakah harus sependek itu? mata mereka lalu bergerak ke bawah dimana berhenti disana, tanpa berkedip.

Taeyeon berdehem membuat guardian’s tersentak. sepertinya gadis itu menyadari kemana arah mata mereka beberapa menit yang lalu.

*ups*

Para guardian cepat-cepat mengalihkan tatapan mereka ke segala arah begitu Taeyeon melotot pada mereka. mereka lagi-lagi mempermalukan diri di depan gadis manusia itu.

“apa yang terjadi disini?” suara Taeyeon pelan namun terdengar menahan geram. Ia melipat kedua lengan di dadanya sambil menghadap lurus ke arah guardian’s dengan pandangan datar.

Guardian’s saling berpandangan lalu kembali menunduk. Tak ada yang berani mengeluarkan suara. Kai dan Luhan sempat saling melirik lalu melengos. Taeyeon mengetuk-ngetukkan sebelah kakinya ke bawah, menunggu dengan tak sabar jawaban mereka.

Kalau boleh jujur, jauh dalam hati kecilnya, melihat mereka merasa bersalah seperti ini membuatnya merasa geli. bayangkan saja, dia seperti seorang ibu yang sudah bersiap memarahi putra-putranya padahal tubuhnya yang kecil itu sangat bertentangan dengan para guardian yang memiliki tubuh lebih besar.

Para guardian itu pun kurang lebih memikirkan hal yang sama dengannya. mereka tak menyangka, seorang gadis manusia yang begitu lemah dan bertubuh pendek mampu membuat mereka merasakan perasaan takut di marahi. Di planet Exo, mereka sudah sering di marahi oleh para master mereka, tapi itu tidak sampai membuat mereka takut. tapi Taeyeon berbeda, betapa hebatnya gadis itu hingga satu dari mereka pun tak ada yang berani melawannya.

Taeyeon mendesah kesal. “ketua guardian selatan dan ketua guardian utara.” Panggilnya tiba-tiba.

Kris dan Suho sontak mengangkat kepala mereka mendapati Taeyeon yang bertolak pinggang di depan mereka. kedua saling bertukar pandang lalu dengan canggung mengangkat sebelah tangan mereka. tentu saja, Kris tetap dengan ekspresi datarnya sementara Suho, ia memiliki senyum kaku di wajahnya. Taeyeon memutar bola matanya ke atas, berpikir apakah dua orang pria itu benar-benar ketua guardian? Jika iya, mengapa mereka bodoh mengangkat tangan tanpa disuruh?

Guardian lain melongo, mereka tak pernah berharap ketua mereka akan menjawab dengan gerakan idiot seperti itu. sangat tidak mencerminkan kelas seorang ketua.

“bisakah kalian jelaskan apa yang terjadi disini ketua?” tanya Taeyeon sedikit kesan sinis.

Suho mendadak merasa sedikit gugup. tatapan Taeyeon membuatnya diam seribu bahasa. sama halnya dengan Kris, dia sama sekali tidak tahu bagaimana cara menjelaskan kelakuan para guardian itu.

Taeyeon menggelengkan kepalanya melihat keduanya. Dia ingin memarahi mereka semua karena apa yang mereka lakukan tapi mengingat saat ini dia juga harus ke sekolah, mungkin dia harus menahan kesabarannya dulu sementara.

“princess, maafkan kami. Kami tidak sengaja membuat masalah di rumahmu.” Suho akhirnya mengeluarkan permintaan maaf yang mewakili semuanya.

Taeyeon melotot ke arahnya. Suho sedikit tersentak dan akhirnya terdiam. Taeyeon sedang tidak ingin mendengarkan permintaan maafnya. Kris menatap dingin ke arah guardian itu satu persatu. Mereka tentu saja menghindari tatapannya. Di bandingkan Suho, Kris lebih menyeramkan jika sedang marah. Hanya dengan melihat tatapannya yang tajam saja sudah membuat tubuh mereka merinding.

“apa yang kalian lakukan dirumahku sebenarnya? Mengapa rumahku jadi berantakan seperti ini? dan mengapa ada bekas terbakar disana?” Taeyeon menunjuk tirai jendelanya yang setengahnya telah terbakar dengan suara tegang, “dan kenapa banyak air tergenang di lantai?” tanyanya panjang lebar setelah berhasil mengontrol dirinya.

Do mendecak, “untuk seorang gadis, kau terlalu banyak bertanya princess.”

Taeyeon melotot padanya, “jawab aku sekarang sebelum aku berubah pikiran untuk mengusir paksa kalian keluar dari rumahku.” Ancamnya.

Guardian’s tercengang. Mata mereka membulat lebar.

“apa kau mengancam kami?” alis Do terangkat. Dia tidak suka dengan kalimat itu. tapi Taeyeon balas menatapnya dengan sinis.

“apa aku kurang jelas, tuan sarkastik?”

Raut wajah Do berubah serius. “kau tidak perlu memanggilku dengan panggilan seperti itu princess.” Nada suaranya terkesan memperingatkan. Taeyeon hanya memutar bola matanya. “kau tahu sendiri princess, kau tidak bisa memaksa kami pergi dari sini.” Do tersenyum licik.

Taeyeon akhirnya mendesah kesal. itu memang benar. Do tersenyum lebar, mengetahui Taeyeon tak bisa membalasnya lagi.

Taeyeon memalingkan mukanya ke arah guardian lain, “siapapun dari kalian, jawab aku sekarang.” tuntutnya. ia berusaha mengabaikan suara tawa Do yang menertawakannya. Syukurlah seseorang berhasil menghentikannya.

Do mendengus kesal karena Baekhyun menyuruhnya diam.

“ini semua salah mereka berdua.”

Taeyeon menoleh pada Sehun dengan kening mengeryit.

Sehun menunjukkan kebosanannya ketika melihat ke arah Kai lalu berganti ke Luhan.

“mereka saling menyerang princess.” Tambahnya.

“mwo?”

Disaat yang lain hanya diam sambil menantikan dengan cemas reaksi Taeyeon selanjutnya, Xiumin dan Tao mengangguk membenarkan. tubuh mereka yang sempat melemah kini telah pulih kembali berkat Lay.

“lain kali, aku tidak ingin berurusan lagi dengannya.” Xiumin mengomel, wajahnya cemberut melirik Luhan yang masing memasang wajah tanpa ekspresinya sejak awal.

“aku harus setuju dengan itu.” Tao mengangguk dan melihat Luhan dengan perasaan jengkel. “badanku hampir mati rasa.” Ucapnya seraya memutar sebelah bahunya.

“kalian pantas mendapatkannya.” Luhan tersenyum dingin-tak perduli.

Xiumin dan Tao serempak menatapnya tajam. Taeyeon hampir tak percaya dengan apa yang di dengarnya.

“t-tunggu…!” Taeyeon memutar tubuhnya menghadap Kai, “kau dan dia,” tunjuknya pada Luhan, “berkelahi di rumahku?” tanyanya serius.

“jangan melihatku seperti aku yang bersalah.” Kai menatapnya, “Luhan yang memulai duluan, bukan aku.” Ujarnya membela diri.

Luhan menatapnya dingin, Kai pun membalasnya. Taeyeon memutar tubuhnya lagi, kini menghadap ke arah Kris dan Suho.

“dan kalian berdua membiarkan ini terjadi?!” serunya keras. matanya berkilat penuh jengkel.

Suho tersenyum meminta maaf. “ini hanya salah paham prin-“

“salah paham katamu?!” Taeyeon berteriak sekuat-kuatnya.

“aish, telingaku bisa tuli kalau setiap hari terus begini.” Do menggerutu.

“maka jangan tinggal di rumahku!” Taeyeon langsung membentaknya.

“ck, aku hanya bercanda.” Do mengibaskan tangannya cuek. Senyum lebarnya seketika menghilang begitu bertemu pandang dengan tatapan Kris.

*god, help me! Kill me now!* Taeyeon membatin. Ia menggertakkan giginya sambil memejamkan matanya. kalau bisa, ia ingin pingsan saja sekarang. semua ini terlalu banyak untuk di tanggungnya. Bagaimana ia bisa hidup dan tinggal bersama mereka jika mereka terus bertingkah laku seperti ini? khususnya dengan kekuatan mengerikan mereka?

Baekhyun dan Chanyeol memandangnya dengan teduh. mereka ikut merasakan betapa beratnya beban Taeyeon berhadapan dengan mereka semua. Luhan dan Kai merasa semakin bersalah. mungkin mereka memang terlalu berlebihan kali ini. Gadis itu sudah menyetujui mereka untuk tinggal di rumahnya tapi lihatlah balasan mereka, mereka malah membuat rumahnya menjadi hancur berantakan. Lay dan Chen saling bertukar pandang dengan Suho. Mereka menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.

Sehun memandang Taeyeon dengan cemas. wajah cerah gadis itu beberapa menit yang lalu, kini telah hilang terganti dengan wajah muram karena ulah mereka.

“kau baik-baik saja princess?” tanyanya hati-hati.

“bagaimana aku bisa baik-baik saja sementara kalian hampir menghancurkan rumahku?!” balas Taeyeon sengit. Ia mundur beberapa langkah ketika Sehun berusaha mendekatinya.

“oh god, aku tak percaya kalian berkelahi di dalam rumahku dan..dan…kalian juga hampir membakarnya!” nafas Taeyeon memburu seiring dengan kemarahannya yang muncul mendadak dan tak terduga. Ia menatap tajam Sehun, “Jadi sekarang katakan padaku, bagaimana aku bisa tenang dan baik-baik saja jika kalian seperti ini?!”

Sehun membungkam. Ia menundukkan pandangannya. Apa yang terjadi dalam ruangan itu memang bukan salahnya tapi ia merasa itu termasuk kesalahannya karena tidak mencegah hal itu terjadi.

Taeyeon menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan. ia berusaha mengatur kembali emosinya lalu menatap guardian itu satu persatu.

“kalian sudah berjanji tidak akan membuat masalah di rumahku. Tapi kenapa kalian membuat rumahku seperti ini?” tanpa sadar suaranya meninggi. Ia terlalu jengkel pada mereka.

Suho membuka mulutnya untuk berbicara, tapi Kai sudah lebih dulu menyelanya.

“perlu kau ketahui princess, aku sudah menepati janjiku tapi si baby face disana menyerangku.”

“dan kau membalasnya.” Taeyeon dengan tegas menatapnya.

Kai mengangkat bahunya, acuh,  “ini bentuk pembelaan diri.”

“oh yeah?” alis Taeyeon terangkat, “tidak terlihat seperti itu. ini terlihat seperti kalian menikmati pertarungan kalian.” tambahnya sinis sambil menyilangkan lengan di dadanya.

Wajah Luhan berubah gelap, para guardian mulai gelisah. Mereka tidak ingin satu kata dari Kai akan kembali membuat Taeyeon marah dan menyesal telah membiarkan mereka tinggal.

“oh ayolah princess, kami hanya…bersenang-senang?” sudut bibir Kai seperti di tarik paksa melengkung ke atas usai mengucapkan kalimat terakhir.  Sepertinya dia sudah merasa diri salah begitu menyadari apa yang ia ucapkan.

Taeyeon mengeryit, “bersenang-senang katamu?” tawa sinisnya memecah, “kau, kalian semua telah merusak rumahku dan kau menganggap ini bersenang-senang?”

Air muka Kai berubah. ia langsung menyesali apa yang di ucapkannya. Tapi di saat seperti itu, dia masih mempertahankan sikap arogannya dan tidak ingin mengakui kesalahannya.

Kai meremas rambutnya frustasi. “tidak bisakah kau melupakannya saja? ini bukan sesuatu hal yang serius. lagi-“

“kau bilang ini bukan sesuatu yang serius?!” Taeyeon membeliak, memandang Kai dengan geram.

Kai mengangguk mantap. “bukan sesuatu yang serius.” ujarnya tenang. “lihatlah..” matanya beralih memandang ke sekelilingnya lalu kembali menatap Taeyeon yang wajahnya kini kelam di penuhi kemarahan, “setidaknya rumahmu tidak hancur. Biasanya kalau kami bertarung se-“

“KAI!!!”

Beberapa seruan keras akhirnya menghentikannya sebelum ia menambah ketakutan Taeyeon dengan kata-katanya. Dan Kai, dalam hatinya sangat berterima kasih karena itu.

Taeyeon mengepal kuat kedua kepalan tinjunya di bawah sana. Pembicaraan ini harus di hentikan sebelum ia menjadi gila.

“princess, kami…” Suho tidak melanjutkan kalimatnya karena Taeyeon langsung mengangkat tangannya, menghentikannya.

“aku harus pergi sekarang.” ucapnya datar seraya berjalan ke tempat rak sepatu yang berada di samping pintu, tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.

Perasaan bersalah menyelimuti para guardian. Mereka sungguh menyesal. Ini kedua kalinya Taeyeon memperlakukan mereka sedingin itu.

“apa yang sudah kita lakukan? Kita membuat marah princess lagi.” Sehun bergumam lirih.

Kris dan Suho diam-diam menghela nafas panjang. Guardian lain tidak ada yang bersuara tapi dalam hati mereka menyetujui ucapan Sehun. Kai mengatup rapat bibirnya, ini semua salahnya. Di lihat dari beberapa pasang mata yang kini melayangkan lirikan tajam ke arahnya, ia bisa merasakannya. Luhan tak sekalipun memalingkan pandangannya dari Taeyeon. sejak awal, ia terus memperhatikan gadis itu. hatinya mendorongnya untuk meminta maaf tapi, dia tak tahu bagaimana memulainya apalagi jika situasi semakin kacau seperti ini. bukannya memaafkannya, gadis itu mungkin saja akan semakin membencinya.

Baekhyun melirik Luhan sekilas, ia bisa merasakan ketidaknyamanan dari tatapan guardian itu. ia lalu menoleh pada Kai di sampingnya dan berujar, “kalian berdua seharusnya meminta maaf padanya.”

Kai membungkam. Dalam hati membenarkan apa yang dikatakan Baekhyun. kepalanya terangkat dan mendapati Luhan juga melihat ke arahnya. mereka sama-sama mendesah pelan lalu saling memalingkan muka. Ini akan sulit. dia atau Luhan, tidak pernah meminta maaf pada siapapun. Jadi bagaimana mereka meminta maaf pada Taeyeon nanti?

Taeyeon selesai memakai sepatunya ketika merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. ia melirik bahunya. “aku akan berangkat ke sekolah.” ucapnya dengan nada datar.

“apa kami boleh ikut?”

Taeyeon memutar bola matanya sebelum kemudian mendengus pelan. ia sangat tahu siapa pemilik suara setengah memohon itu.

“tidak.” jawabnya tegas sambil memutar tubuhnya menghadap guardian’s. Sehun yang bertanya padanya tadi, tersentak kaget dengan jawabannya.

Taeyeon memandang guardian’s dengan tatapan penuh peringatan. “jangan berani mengikutiku. Kalian mengerti?”

Guardian’s tidak menjawab. Sudah menjadi tugas mereka sebagai pelindung, mengikuti kemanapun Taeyeon pergi. dan sekarang, gadis itu menyuruh mereka jangan mengikutinya?

“tugas kami adalah me-“

“aku tahu.”

Suho mengernyit heran. Taeyeon memotong ucapannya. Gadis itu memijit kedua keningnya lalu kembali menatapnya. “setelah apa yang terjadi, apa kalian pikir aku bisa membiarkan kalian berkeliaran di dekatku?”

Guardian menundukkan kepala mereka. rasa bersalah itu masih ada disana.

“aku ingin ketenangan dan satu-satunya tempat yang membuatku tenang adalah sekolah.” dalam hati Taeyeon meringis. sejujurnya, sekolah masih jauh lebih buruk dibandingkan dengan suasana rumahnya sekarang. tapi dia tak mungkin mengatakan semua itu pada guadian’s bukan?

Ia melihat sekelilingnya dan tersenyum pahit. Bahkan rumahnya sekarang tidak lagi bisa memberikannya ketenangan.

“kapan kau kembali?”

Taeyeon berbalik, kali ini alien yang mirip panda, bertanya padanya.

“setelah semua pelajaran selesai.” Jawabnya acuh lalu melangkah pergi. tapi baru beberapa langkah, ia merasakan seseorang mengikutinya dari belakang.

Taeyeon segera berbalik lagi dan melotot pada Kai yang berada di depannya. “apa ucapanku belum jelas? jangan mengikutiku.”

Kai mengangkat bahunya cuek, “aku tidak mengikutimu. Aku hanya ingin membukakan pintu untukmu.”

Taeyeon memutar bola matanya. “kau selalu penuh dengan alasan.” Ujarnya sinis.

“mungkin kau harus terbiasa dengan itu.”

Taeyeon mendengus kasar. Kai membukakan pintu untuknya. Sebelum ia melangkah keluar, ia berbalik memandang seluruh guardian termasuk Kai.

“ingat. Jangan mengikutiku. Kalian mengerti?”

“aku tidak berani janji.”

“kau…” Taeyeon ingin sekali berteriak pada Kai, tapi ia sadar, akan sia-sia jika alien yang di ajaknya berdebat adalah dia. Ia pun menoleh pada Suho dengan tatapan memohon.

Suho mengerjapkan matanya, wajahnya sempat memerah karena tatapan Taeyeon yang begitu cute, sulit untuk di lawan. Tanpa pikir panjang ia mengangguk cepat membuat guardian lain mengeluarkan suara-suara tak setuju.

“Kami berjanji princess. Kami tidak akan mengikutimu.” Suho menjawabnya dengan mantap.

“ya!” Do berseru keras membuat Suho melotot tajam ke arahnya.

“jangan berteriak padaku.”

Tapi Do seakan tidak perduli dengan apa yang di ucapkannya. “kau tidak bisa menyetujuinya begitu saja! sudah menjadi tugas kita untuk melindunginya termasuk mengikutinya kemanapun ia pergi!”

Taeyeon bergidik ngeri mendengar kalimat Do. ‘Mengikutinya kemanapun ia pergi’ kalimat itu terdengar mengerikan, membayangkannya saja sudah membuat perutnya mulas.

“apakah itu harus? Mengikutiku kemanapun? Kalian mengerikan!” serunya tak terima.

“bukankah dari awal kami sudah mengatakannya?” Do tersenyum mengejeknya.

“Do.” Baekhyun langsung menegurnya. Dia tidak ingin mood Taeyeon semakin menurun karena informasi yang di terimanya. Ia lalu menatap Taeyeon dan tersenyum. “kau boleh pergi sekarang princess. Kami tidak akan mengikutimu…”

Wajah Taeyeon berubah cerah, tapi begitu mendengar kalimat Baekhyun selanjutnya, wajahnya kembali berubah muram.

“tapi besok dan seterusnya, izinkan kami melaksanakan tanggung jawab kami.”

“kalian benar-benar akan mengikutiku kemanapun?” tiba-tiba saja semangatnya langsung jatuh.

Baekhyun mengangguk tenang. “kami tidak punya pilihan. Kau pun tidak bisa melarang kami karena ini adalah tugas penting.”

Do yang mendengarnya langsung tersenyum puas. Taeyeon ingin sekali melarikan diri dari tempat itu sebelum ia benar-benar jadi gila. Bagaimana jika benar besok mereka akan mengikutinya? dia menggelengkan kepalanya dengan cepat, tak sanggup membayangkannya. Ini mimpi buruk!

“terserahlah.” Taeyeon tak ingin mendengar apapun lagi dari guardian’s itu. “bersihkan kekacauan yang kalian buat. Aku tidak ingin datang ke rumah dan melihat semua ini masih berantakan.” Perintahnya.

Do mencibir, “memangnya kami apa? pembantumu?”

Taeyeon tidak menjawabnya, dia hanya melotot padanya sebelum akhirnya berbalik dan melangkah cepat keluar rumah. Baru saja ia menutup pagar rumahnya, ia di kejutkan oleh kehadiran seseorang di belakangnya.

“omo! apa yang kau lakukan disini?!” serunya kaget sambil masih memegang dadanya. “bukankah sudah kubilang jangan mengikutiku?!”

Taeyeon benar-benar di buat kesal oleh alien satu itu. “apa lagi sekarang? apa kau juga akan mengatakan ingin membukakan pagar untukku?” tanyanya sinis.

Kai tersenyum menyeringai. “kau mengharapkan aku melakukannya?”

“bukan itu maksudku!”

Kai terkekeh pelan. “aku hanya ingin melihatmu pergi. itu saja.”

Wajah Taeyeon sontak memanas. Ia memalingkan mukanya, tidak ingin terlihat memalukan karena bersemu merah di depan alien itu. Tapi ia teringat akan sesuatu yang membuatnya menoleh pada Kai lagi. “k-kau…bagaimana kau bisa sampai secepat ini?” tanyanya heran.

“pikirkan sendiri.” usai mengucapkan kalimat itu, Kai seketika menghilang.

Mulut Taeyeon langsung menganga lebar. matanya membulat sempurna. *d-dia..b-baru saja…m-menghilang?!* pekiknya tak percaya. Taeyeon sontak mengalihkan pandangannya ke sekelilingnya, setelah mengetahui tak ada siapapun di sekitarnya, ia pun menghela nafas lega.

*alien idiot! Apa dia tidak tahu, jika seseorang melihatnya, kita pasti akan dapat masalah!* gerutunya sambil berlalu pergi.

*dia bilang akan melihatku pergi, tapi dia malah meninggalkanku begitu saja. dasar bodoh!*

Taeyeon menghentikan langkahnya. Kenapa dia jadi perduli dengan Kai pergi atau tidak? *Taeyeon, kau pasti sudah gila* batinnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, menepis semua pikiran yang baru saja merasuk di kepalanya.

Kai memperhatikan setiap tingkah Taeyeon dengan senyum di bibirnya. ia sejujurnya tidak pernah pergi, hanya pindah tempat saja. dan Taeyeon tidak akan tahu hal itu. ia hampir dekat dengan meminta maaf padanya, tapi entah mengapa, kalimat yang telah disusunnya, menghilang begitu saja ketika sudah berhadapan dengan gadis itu.

Sementara itu, di dalam rumah…

Kai baru saja muncul ketika mendengar suara berisik yang di timbulkan oleh dua orang guardian dalam ruangan itu.

“kau darimana saja?”

Ia menoleh sekilas pada Baekhyun yang bertanya padanya lalu kembali melihat ke arah dua orang guardian itu. “ada apa dengan mereka?” tanyanya heran.

“yaa! Kau seharusnya meletakkannya di samping meja itu bukan di tempat yang salah!”

“jangan membentakku! Aku sudah meletakkannya disana!”

“oh yeah. Lalu kenapa tidak ada apapun di atas meja itu?!”

“itu bukan salahku!”

Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kedua tingkah guardian, teman mereka.

“kau sudah melihatnya sendiri. mereka memperdebatkan sesuatu yang tidak penting.” Ia menjawab Kai.

“kebiasaan memang sulit untuk di hilangkan.” Komentarnya terdengar.

Baekhyun tersenyum, “benarkah? Kau tidak merasa, kau pun seperti itu.”

“apa yang terjadi hari ini bukan salahku. Kau pasti bisa melihatnya.” Kai mendengus kesal, Baekhyun mengungkit masalah ini lagi.

“tidak bisakah kau berhenti?” Kai mengalihkan tatapannya. Baekhyun tersenyum tipis. “jika kita tidak bisa membuat princess merasa nyaman tinggal dirumahnya, bagaimana kita bisa melakukan pekerjaan kita? Posisi kita sudah cukup sulit sekarang.” ujarnya.

Apa yang dikatakan Baekhyun memang benar, tapi dalam hati, Kai sedikit merasa jengkel. Ia seperti menjadi satu-satunya orang yang di salahkan.

“bukan aku yang memulai. Luhan menyerangku, bukankah kau juga melihatnya?” melihat tak ada satupun ekspresi setuju yang di tampakkan Baekhyun, Kai menghela nafas panjang. “lupakan. Aku tahu kau akan membelanya.”

Baekhyun menggeleng pelan. “kau hampir melukai Xiumin dan Tao, itulah intinya Kai.”

Kai terdiam.

“aku tidak akan membela siapapun.” Tambahnya.

Kai melenggang pergi. Ia bukannya tidak ingin mendengar ucapan Baekhyun karena kesal padanya, tapi ia mencoba melindungi dirinya sendiri yang terus menerus merasa bersalah karena kejadian tadi.

“yaa! Sudah kubilang aku sudah meletakkannya disana! aku bersumpah!”

“lalu siapa yang mengambilnya?! Tidak mungkin potret itu jalan sendiri!”

Xiumin dan Chen masih memperdebatkan masalah potret yang tidak ada di atas meja. Xiumin sudah mengikuti intruksi Chen untuk meletakkan bingkai foto itu disana, tapi beberapa menit setelahnya, Chen memeriksanya dan benda itu sudah tidak ada di tempatnya.

“oi kalian berdua!”

Dua orang guardian yang berdebat itu sontak terdiam lalu menoleh ke arah Do yang memanggil mereka.

“Luhan mengambilnya!”

Luhan yang duduk di kursi dengan bingkai foto di atas telapak tangannya, mengangkat kepalanya. “aku hanya ingin melihatnya sebentar.” Sahutnya acuh.

Do mendecak, “setidaknya kau memberitahu mereka dan tidak membuat benda itu melayang-layang begitu saja di tanganmu. Itu terlihat mengerikan.”

Luhan memilih mengacuhkannya. Do memutar bola matanya karena tidak ada tanggapan.

“tidak bergerak di tempat dan hanya menatap foto itu tidak akan membuat pekerjaan kita selesai dengan cepat. kau membuang-buang waktu.” Sindirnya.

Xiumin dan Chen sudah kembali pada pekerjaan mereka. dengan seringnya mereka membuat masalah, mereka tidak ingin menambahnya lagi dengan memancing perdebatan dengan Luhan.

Chanyeol membuka tasnya dan mengeluarkan alat-alat yang sempat di bawanya dari planet Exo.

“kau mau kemana?” Tao melihat Chanyeol berjalan menaiki tangga.

“seseorang harus memperbaiki pintunya.”  Jawab Chanyeol tanpa berbalik.

“aku akan ikut denganmu.” Kai seketika menghilang dari tempatnya.

Tao mengangguk mengerti. dia pun kembali melakukan pekerjaannya, merapikan beberapa dinding yang retak dengan di bantu Sehun. Tao menggunakan kekuatan waktu untuk memperbaiki keretakannya. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di permukaan dinding yang retak lalu menyalurkan kekuatannya ke dalamnya. kilauan cahaya yang keluar dari telapak tangannya perlahan-lahan mengembalikan dinding yang retak seperti semula. seperti mesin waktu, Tao menggiring dinding yang retak tadi kembali ke masa dimana dinding itu masih dalam kondisi baik dan menghentikannya. Hal itu ia lakukan pula terhadap tirai yang terbakar.

“hei, bukankah kekuatanmu bisa membuat semuanya kembali seperti semula?” Sehun tiba-tiba bertanya padanya. “kau bisa saja memperbaiki semuanya dalam sedetik jadi kita tidak perlu membuang-buang waktu.” Gumamnya setengah menggerutu.

“itu karena aku tidak ingin membersihkan sesuatu yang bukan perbuatanku.” Tao menjawabnya dengan santai.

Sehun menggeleng tak setuju. “itu karena kau terlalu pelit dengan kekuatanmu.”

“aku tidak pelit!”

“katakan itu pada seseorang yang beberapa detik lalu bilang tidak ingin membersihkan sesuatu yang bukan perbuatannya.” Sehun menyindirnya.

“ck, setidaknya pekerjaanku masih lebih banyak dari mereka.” Tao membela diri.

“itu benar. tapi tetap saja, kau pelit.”

“yaa!”

“Sehun, Tao, kalian tidak akan berdebat seperti Xiumin dan Chen bukan?” Lay melihat mereka dengan pandangan curiga.

Sehun dan Tao menggeleng cepat kemudian kembali mengerjakan pekerjaan mereka. namun meski demikian, keduanya masih saling mengganggu. Tentunya sambil berbisik-bisik.

Lay dan Baekhyun yang melihat mereka, hanya menggelengkan kepala. Sehun dan Tao tidak ada bedanya dengan Xiumin dan Chen.

“aku sepertinya, mengerti apa yang dirasakan princess sekarang.” Lay bergumam pelan.

Baekhyun hanya tersenyum membenarkan. mereka berdua pun mengalihkan perhatian mereka pada ketua mereka. Kris membantu Suho membersihkan genangan air di lantai. Mula-mula, Suho mengarahkan telapak tangannya ke air yang tergenang hingga seluruh air berkumpul menjadi satu. Kemudian, dia menggerakkan tangannya mengangkat kumpulan air itu dan mengarahkannya keluar jendela.

Luhan beranjak dari tempatnya, berjalan menuju meja di mana ia meletakkan bingkai foto itu. ia kemudian berbalik, seluruh guardian telah menyelesaikan pekerjaan mereka dan kini adalah gilirannya. Luhan dengan ekspresi datarnya, mulai menggerakkan kedua tangannya. jari-jarinya di arahkan ke arah yang di inginkannya. Guardian’s diam di tempat mereka sambil menyaksikan beberapa kursi yang melayang-layang dalam ruangan. kursi-kursi itu, atas perintah tangan Luhan, akhirnya kembali ke tempatnya semula. Meja tersusun rapi, lemari-lemari kecil yang sempat bergeser, kini telah tersusun rapi seperti sedia kala. Luhan melakukannya dengan cepat dan halus. Tidak ada satupun barang yang tidak di jangkaunya.

“seharusnya kau melakukannya dari tadi.” Do menunjukkan kebosanannya. Tubuhnya di hempaskan begitu saja di sofa.

Mengabaikan ucapannya, Luhan ikut duduk di sofa tidak jauh darinya. di sampingnya duduk Baekhyun dan Lay. Kris dan Tao lebih memilih berdiri, bersandar pada dinding di dekat jendela. Setelah melakukan tugas mereka, para guardian itu pun beristrahat. Sebagian duduk di kursi dan sebagian lagi duduk di lantai. Selang beberapa detik, Chanyeol terlihat turun dari tangga.

“kau sudah memperbaikinya?” Baekhyun yang pertama bertanya padanya.

Chanyeol hanya mengangguk singkat lalu duduk di dekatnya. bersamaan dengan itu, Kai tiba-tiba muncul di samping Sehun membuatnya guardian itu terkejut.

“sudah kubilang berapa kali jangan lakukan itu! kau sungguh-sungguh membuat orang kaget!”

Semuanya melihat ke arah mereka berdua. Kai dengan wajah acuh tak acuhnya, langsung menjatuhkan dirinya di sampingnya.

“kau sekarang terdengar seperti princess.” Gumamnya dengan seringaian.

Sehun memutar bola matanya.

Suasana hening kini menyelimuti ruangan itu.

“menurutmu, apa princess akan memaafkan kita?” pertanyaan Tao yang tiba-tiba menyentakkan mereka. nada suara guardian itu terdengar tak yakin.

Guardian’s tidak langsung menjawabnya. mereka memikirkan pertanyaan Tao itu dalam pikiran mereka masing-masing. Kai dan Luhan diam-diam tersenyum miris ketika mengingat masalah yang mereka timbulkan tadi. Apakah Taeyeon akan memaafkan mereka? entahlah.

“apa ini berarti kita tidak mendapat makanan?” Xiumin mendadak bersuara yang kemudian di iringi tatapan tajam dari guardian lain setelahnya. Ia nyengir. “aku hanya bercanda.”

“kau dan perutmu.” Do mengejeknya.

“hei, bukan aku saja yang kelaparan disini.” Xiumin mencoba membela diri.

Do mendengus acuh tak acuh. “seharusnya kau mulai belajar diet dari sekarang.” ujarnya kemudian. Wajah Xiumin berubah kelam. “aku yakin si princess itu tidak akan memberi kita makan sampai malam, atau mungkin sampai besok.” Do menambahkan dengan wajah serius.

Guardian’s memberinya pandangan aneh. Do menatap mereka bergantian, “maksudku, princess tidak mungkin bodoh memberikan kita makanan setelah apa yang terjadi bukan?”

Xiumin dan lainnya mau tidak mau setuju dengan pendapat sinisnya. Xiumin meringis dalam hati, membayangkan tidak ada makanan untuknya, itu seperti neraka baginya. Begitupun dengan para guardian, meski mereka berusaha menutupinya, rasa lapar sedikit demi sedikit menggerogoti mereka. Guardian seperti mereka, terlahir dengan tubuh yang kuat. Rasa lapar tidak akan membuat mereka lemah tapi bukan berarti mereka tidak membutuhkan makanan.

“jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Xiumin dengan nada tak bersemangat.

Semua mata kini beralih pada Suho. Meminta jawaban ketua mereka.

Suho berdehem lalu menegakkan bahunya. “kita akan menunggu princess sampai pulang.” Jawabnya mantap.

Sebagian guardian mengeluarkan suara keluhan.

“oh ayolah Suho, kita bukan anak-anak yang sedang menunggu orang tuanya pulang.” Do memperotes.

“benarkah?” alis Suho terangkat, “karena terakhir kali aku melihat, beberapa guardian dewasa bertingkah seperti anak-anak pembuat masalah.” Sindirnya.

Wajah Do langsung memerah. “itu pasti bukan aku!” bantahnya cepat.

Tentu saja Suho tidak akan begitu saja menerimanya. Sementara guardian’s lain berusaha menahan senyum mereka karena ekspresi yang di tampakkan Do.

“aku membenci kalian.” Do memberenggut kesal dengan wajah cemberut.

“bagaimana kalau kita diam-diam mengikuti princess?”

Seluruh guardian melihat Sehun dengan terkejut. Sehun dengan wajah penuh semangat dan mata berbinar-binar, mengungkapkan idenya. “daripada diam disini dan tidak melakukan apapun, lebih baik kita mengikuti princess ke tempatnya.”

“dan kau tahu dimana tepatnya tempatnya?” Chen setengah menyindirnya.

Gelengan Sehun membuat guardian itu langsung menertawainya. Wajah Sehun berubah muram. Namun sedetik kemudian, ia kembali cerah. “aha! Kai bisa mencarinya untuk kita.”

“tidak, terima kasih.” Kai menolaknya saat itu juga.

“kenapa?”

“aku tidak ingin princess semakin membenciku.” Jawabnya jujur.

“sekarang kau baru menyadarinya.” Sehun memberinya tatapan mengejek.

Kai merotasikan bola matanya. “seakan kau tidak ada bedanya denganku.”

Sehun menjulurkan lidahnya.

 “lalu apa yang akan kita lakukan? Aku lapar.” Xiumin merengek.

“aku juga.” Do akhirnya setuju dengannya.

“bukan hanya kau, aku juga kelaparan.” Chen ikut-ikutan. “tidak adakah yang bisa kita lakukan?”

Suho melirik Kris, “bagaimana menurutmu? Kita tidak punya makanan yang tersisa. Satu-satunya harapan kita adalah princess, tapi aku tidak yakin dia akan memberikan kita makanan.”

“aku sudah memeriksa semua lemarinya, tapi tidak ada makanan satupun di dalamnya.” Sehun memberitahu mereka.

Xiumin tersenyum miris, “manusia apa yang tidak memiliki satupun makanan di dalam rumahnya. menyedihkan sekali.” desahnya kecewa.

“kau harusnya mengingatkan dirimu, princess berbeda jauh denganmu.” Do masih sempat meledeknya.

Sebelum Xiumin sempat membalasnya, Kris berdehem mengalihkan perhatian semuanya.

“kita akan menunggu princess pulang.” Dia memberikan keputusannya.

Guardian’s tidak membantahnya. Lagipula, tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menyetujui keputusan itu.

– – –

*alien idiot. Mereka benar-benar keterlaluan* Taeyeon membuka lokernya sambil merutuk kesal. kepalanya hampir pecah hanya karena memikirkan tingkah laku 12 alien yang kini tinggal di rumahnya. dia terus menggerutu hingga tak mendengar kalau seseorang sedang memanggilnya.

“Taeyeon noona!”

Taeyeon tersentak dari lamunannya. Ia segera menoleh dan mendapati Gongchan tengah berlari ke arahnya. Pria itu tidak pernah tidak tersenyum setiap ia melihatnya. dia seperti memiliki aura yang baik untuk orang-orang di sekitarnya hingga Taeyeon mau tak mau ikut tersenyum bersamanya.

“Gochan? Apa yang kau lakukan? pagi-pagi sudah berlari seperti itu.” ujarnya sembari menutup lokernya.

Gongchan mengusap punggung lehernya sembari tersipu malu. “ahehehe, aku hanya senang melihatmu pagi ini noona. Kau terlihat cantik *dan murni.*” ucapnya malu-malu.

Tawa ringan Taeyeon terdengar. Mereka berdua melangkah berjalan melewati koridor sekolah.

“sejak kapan kau berubah menjadi genit Gochan?”

Gongchan gelagapan. Ekspresinya yang cute membuat Taeyeon tertawa geli.

“aku hanya bercanda. Kau tidak perlu bereaksi seperti itu.” ujarnya di sela-sela tawanya.

Gongchan tersipu malu. wajahnya bersemu merah dan sepanjang jalan, ia diam-diam mencuri pandang ke arah Taeyeon. dan rupanya, Taeyeon menyadari hal itu.

“kenapa? apa ada sesuatu di wajahku?”

Gongchan menggeleng cepat. “t-tidak ada noona!” serunya keras.

Taeyeon mengerjapkan matanya mendengarnya, sedetik kemudian ia pun kembali tertawa. “aigooo…kau lucu sekali.”

“noona, kau sengaja mengerjaiku kan?” Gongchan memasang wajah cemberutnya.

Tiba-tiba Taeyeon berjingjit hanya untuk mengacak-acak rambutnya. Gongchan membeku di tempatnya. Taeyeon yang tersenyum padanya membuatnya berdebar-debar.

“cute.” komentar gadis itu padanya.

Wajah Gongchan merah padam. melihat ekspresi malu-malunya, membuat Taeyeon makin ingin menggodanya.

Sepanjang koridor, tidak jarang para siswa melihat ke arah mereka berdua. baik Taeyeon maupun Gongchan, mereka selalu tidak perduli dengan pandangan sinis mereka. tapi ada kalanya, mereka terpaksa harus meladeni mereka karena ada beberapa siswa yang menginginkannya seperti itu. contohnya Ji ae dan Ki joon. Seperti sekarang ini, Ji ae dan gangnya sudah berdiri di depan kelas, menghalangi jalannya.

“apa lagi sekarang Ji ae? Aku tidak punya waktu untuk meladenimu.” Taeyeon memandang gadis di depannya dengan pandangan bosan.

Gongchan di sampingnya mulai cemas apalagi setelah melihat wajah Ji ae yang berubah kelam setelah Taeyeon mengatakan kalimat itu padanya. dia tidak ingin Taeyeon mendapat masalah lagi karena gadis itu. dan memanggil para guru sebelum semuanya terlambat, adalah pilihan yang sia-sia karena guru-guru tidak akan mendengarkan apapun yang mereka ucapkan. Tidak jika siswi itu adalah Taeyeon. karena Ji ae lah yang membuat image Taeyeon buruk di mata para guru.

Gongchan terkesiap, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Taeyeon.

“apa yang kau lakukan?!” bentaknya di depan Ji ae.

Ji ae menaikkan sebelah alisnya, matanya menyiratkan kepuasan juga ketidak sukaan terhadap Gongchan yang menghalanginya.

“kau ingin melawan seniormu?”

Gongchan mengepal kedua tangannya. dia tidak suka melihat gadis itu berlaku seenaknya termasuk memanfaatkan statusnya sebagai seniornya. Dia ingin sekali menghabisi gadis itu tapi dia mengurungkan niatnya begitu saja ketika merasakan sebuah tangan menyentuh lengannya. Gongchan melihat ke bawah dimana Taeyeon menggeleng padanya.

“tapi noona…” kalimatnya menggantung begitu saja begitu melihat Taeyeon yang tersenyum tulus padanya.

“aku baik-baik saja. terima kasih telah membelaku.”

Gongchan meneliti wajah Taeyeon dan pandangannya berubah teduh ketika mendapati bekas tamparan di wajah putih gadis itu. menyadari Gongchan memperhatikan bekas tamparannya, Taeyeon segera menutupinya dengan telapak tangannya.

“aku baik-baik saja. kau tidak perlu khawatir.”

Gongchan tentu saja tidak percaya. wajah memohon yang di tampakkan Taeyeon membuatnya harus setuju dengannya meskipun dalam hatinya tidak.

“aww manis sekali.”

Taeyeon dan Gongchan menggeser penglihatan mereka ke arah Ji ae yang tengah tersenyum sinis ke arah mereka. Taeyeon mengeryit.

“kalian benar-benar pasangan serasi. Si pria mempunyai tampang yang bodoh dan si wanita terlihat sama bodohnya.”

Seluruh siswa yang berada di sekitar mereka tergelak mendengar kalimat ejekan Ji ae. Taeyeon hanya memutar bola matanya. kalau saja Ji ae tahu, di balik kacamata tebal Gongchan dan rambutnya yang sangat ketinggalan zaman itu adalah pria yang tampan, mungkin Ji ae tidak akan mengejek mereka seperti ini. Gongchan tidak mengatakan apapun dan hanya menatap Ji ae dengan tatapan yang dingin. Ji ae, entah mengapa merasa terintimidasi dengan itu. mungkin ini hanya perasaan saja atau memang pria yang berada di depannya itu sedikit berbeda. tidak ingin menjatuhkan harga dirinya di depan mereka berdua, Ji ae menepis semua perasaan itu.

“jika kau ingin menghabiskan waktumu mengejek kami, kau bisa melakukannya setelah jam pelajaran.” Dengan itu, Taeyeon memasuki kelas. ia berjalan melewati Ji ae begitu saja. tapi, nasib baik selalu meninggalkannya setiap kali Ji ae berada bersamanya.

Ji ae menarik lengannya dengan kasar dan menghempaskannya ke lantai.

“noona!” Gongchan membeliak.

Taeyeon meringis, Gongchan segera menghampirinya dan membantunya berdiri.

“kau baik-baik saja noona?” tanya pria itu cemas.

Taeyeon memaksakan senyumnya. “aku baik-baik saja Gochan.”

“tidak.” Gongchan menggeleng tegas. “kau tidak baik-baik saja. lihatlah lututmu sekarang berdarah.”

Taeyeon melirik ke bawah. Benar saja, darah segar kini mengalir di lututnya. Ji ae mendorongnya sangat keras, tentu saja dia akan terluka.

“aku belum selesai bicara tapi kau ingin pergi begitu saja. kau sungguh tidak sopan orphan.” Ji ae memandangnya dengan pandangan meremehkan. Sementara para siswa di kelasnya, tak ada satupun yang berniat menolongnya. Mereka malah menertawainya.

*hidupmu menyedihkan sekali Taeyeon. sangat menyedihkan* batinnya terluka.

Taeyeon melotot tajam ke arahnya. “kau pikir ini lelucon bagimu? Mendorong orang begitu saja dan membuatnya terluka?”

Ji ae mengangkat bahunya, “entahlah. Mungkin karena kau pengecualian.”

“kau benar-benar kejam noona.” Gongchan memandangnya dengan geram.

“aish. Kau terlalu sering membelanya. Jika kau tidak ingin bernasib sama sepertinya, lebih baik tinggalkan dia.” Ji ae memberinya kedipan yang di balas oleh Gongchan dengan tatapan jijik.

“noona, aku akan mengantarmu ke klinik.”

Taeyeon mengangguk. “terima kasih.”

Gongchan pun memapah Taeyeon keluar kelas.

“seharusnya kau menjadikan dia kekasihmu orphan.”

Gongchan dan Taeyeon menghentikan langkah mereka dan berbalik.

Ji ae masih setia dengan senyum sinisnya. “daripada kau mengambil kekasih orang lain, lebih baik dia yang kau jadikan kekasih bukan?”

Taeyeon menggertakkan giginya. Dia ingin sekali saja memberi pelajaran pada gadis itu.

“noona kau mau kema-“ Gongchan tidak melanjutkan kalimatnya. dia terlalu terkejut melihat Taeyeon mendaratkan tinjunya tepat di wajah Ji ae, yang membuat gadis itu ambruk di lantai.

Semua orang yang berada di sekitar mereka menahan nafas. Taeyeon berani memukul Ji ae, itu sungguh pemandangan yang langka.

“apa yang kau lakukan?!” Ji ae berteriak histeris. Darah segar keluar dari hidungnya.

Taeyeon tersentak kaget. dia baru menyadari apa yang baru saja di lakukannya.

“Gochan..b-bagaimana ini? a-aku meninjunya..” Taeyeon meremas tangannya yang di pakai meninju Ji ae dengan perasaan gugup.

“noona..” Gongchan merasa iba melihatnya. meski dalam hatinya tersenyum geli melihat Taeyeon yang sangat cute dengan wajah memelas seperti itu, dia tak mungkin menampakkannya di depan gadis itu.

Dia segera menarik Taeyeon keluar dari kerumunan siswa yang ingin melihat Ji ae. “tidak usah khawatir noona, kau tidak bersalah.”

“tapi aku sudah membuatnya berdarah.” Mata Taeyeon berkaca-kaca. Dia ingin menangis tapi tak ingin menangis di depan Gongchan.

“semua akan baik-baik saja noona. Semua akan baik-baik saja.”

Taeyeon tahu, Gongchan hanya ingin menenangkannya. Karena semuanya tidak akan sama seperti apa yang di ucapkan pria itu. tidak setelah apa yang terjadi dengan Ji ae. Tepat setelah ia kembali dari klinik, wali kelas mencarinya. Dan akhirnya, sekali lagi ia mendapat hukuman setelah pulang sekolah.

 

To be continued…

Akhirnya chapter 9 selesai juga. Untuk readers yang menunggu momen guardian satu persatu, sabar ya… semua guardian pasti ada momennya kok, hanya saja tidak sekaligus.

Ribet tahu kalau semuanya musti ada momennya. *hahahabecanda

Ada momen kebersamaan mereka, ada pula momen mereka hanya berdua bersama si princess Taeyeon. hehehe. Tinggal nunggu giliran aja.^^

Yang sabar di sayang author. ~kekeke

Oh ya sekedar mengingatkan, rata2 ff multichapterku tidak berakhir di chapter 10 ke bawah. Dulu, sekitar dua tahun lalu, aku selalu membuat ff oneshoot atau smpai chapter 3 saja. Tapi, setelah mencoba menulis dengan multichapter yang di awali dengan ff all my love is for you, aku jadi ga pengen semuanya berakhir cepat alias ketagihan. —> author lagi curhat nih-_-

Untuk ff CHERRY BLOSSOM, aku akan mengirimnya setelah Be Mine end. Sorry mengecawakan tapi, aku harus mengatur ulang jadwal semua ffku biar ga terlalu bikin pusing updatenya. (kalian lihat sendiri kan, sekali update aku menulis 4 ff sekaligus dan rata2 semuanya berjumlah 15 halaman atau lebih…Ckckckc. Otakku bisa pecah kalau ga istrahat. #hahahaha)

—> RYN

94 thoughts on “[Freelance] The Legend’s and The Goddess (Chapter 9)

  1. Wah ternyata blognya udh d buka😀 berhubung kangen berat sm ff ini jd baca ulang dn ter-oh-oh ria karena lupa … hehehe
    Well, gmn blog pribadinya kak ?

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s