Right Beside Me — 6th Part : Confession Time

rightbesideme

RIGHT BESIDE ME

Written by Vi || Starring SNSD Tiffany | EXO-K Chanyeol || Rated for Teen || Romance , Friendship, Life || Disclaimer : I just borrow the cast || Note : inspired by other ff, manga , anime, japanese drama, my imagination. Sorry for bad fanfic and story. Poster by g.lin at cafeposterart.wordpress.com.

Prolog | 1st Part 2nd Part | 3rd part 4th Part | 5th Part |

*****

Keesokan harinya, Tiffany berjalan menuju taman yang sudah diberitahu oleh Sunny kemarin. Ia tak tahu apa yang Sunny inginkan darinya saat di taman nanti dan ia juga menduga-duga apa Sunny akan membawa Chanyeol atau tidak. Namun setelah memikirkan mengenai Chanyeol , ia buru-buru menggelengkan kepalanya karena saat tadi memikirkan Chanyeol ia menjadi ragu untuk ke taman.

“Bagaimanapun aku harus ke taman. Kemarin aku memang tidak mengatakan bahwa aku berjanji akan berada disana tapi tetap saja , Sunny bisa saja sudah menunggu disana,” pikir Tiffany sambil mengangguk dan terus melangkah maju ke taman. Sejenak, ia mendongak kearah langit, awan mendung mulai bermunculan, Tiffany yang ingat bahwa di taman tak ada tempat berteduh hanya bisa berharap bahwa nantinya Sunny segera datang kesana.

*****

Sunny rupanya masih berada di rumahnya. Ia mondar-mandir di ruang tamunya dengan ekspresi kacau. Gara-gara pertengkarannya dan Chanyeol kemarin , lelaki itu tak mengangkat telponnya sedikitpun.

“Aissh, kekanakan sekali sih dia ! Sudah bagus aku masih mau membantunya, sekarang ia tak mengangkat telpon ! Aku sudah bosan ikut campur dengan kisah cinta dua orang yang terlalu pemalu ini !” seru Sunny frustasi. Ibu Sunny yang kebetulan baru bangun dari tidurnya dan mendengar suara Sunny di ruang tamu berkata, “kecilkan suaramu.” Sunny menunduk meminta maaf pada ibunya lalu kembali mengomeli Chanyeol dalam hatinya. Ia kembali mencoba menghubungi nomor lelaki itu tetapi tak diangkat sedikitpun.

“Aku yakin Tiffany sudah ada disana,” gumam Sunny kesal sambil mengacak rambut pendeknya.

Dia yang tiba-tiba bunyi petir diluarpun berlari kearah jendelanya yang cukup besar. Ia bisa melihat awan mendung di langit dan ia yakin hujan akan turun sebentar lagi.

“Sepertinya akan turun hujan yang deras,” kata ibunya sambil duduk di kursi meja makan. Sunny yang mendengar pernyataan ibunya pun mulai khawatir akan Tiffany. Ia bergegas keluar dan berseru, “aku keluar sebentar !”

Sunny berlari kencang menuju rumah Chanyeol. Beruntung rumah Chanyeol tak begitu jauh darinya maka ia bisa cepat sampai disana.

“Chanyeol !” teriak Sunny setibanya di depan rumah Chanyeol.

Chanyeol yang kebetulan sedang membaca buku di dalam rumahnya bisa mendengar teriakan Sunny. Namun, ia tak peduli, entah mengapa ia masih agak kesal dengan sikap Sunny yang baginya –kurang bisa diandalkan.

“Park Chanyeol !” Sunny berteriak untuk kedua kalinya. Ia berusaha mengatur nafasnya yang kacau setelah berlari tadi lalu berteriak lagi namun suaranya melemah, “Chanyeol ! Keluarlah ! Kalau tidak aku akan terus meneriakkan namamu sampai kau keluar !” Chanyeol memang kesal dengan Sunny, namun lelaki itu masih memiliki perasaan. “Huff, mendung begini ia masih mau menungguku ?”Iapun bergegas menuruni tiap anak tangga yang membawanya menujulantai 1 dan membuka pintu rumahnya.

“Apa lagi ?” seru Chanyeol.

“Cepatlah ke taman !” kata Sunny terburu-buru. Sesaat setelah Sunny mengatakannya, tiba-tiba ia bisa merasakan tetesan air membasahinya. Sunny mendongak dan dapat melihat hujan mulai turun.

“Hujan, masuklah,” kata Chanyeol sambil menarik Sunny masuk ke dalam rumahnya, Sunny menurut dan setelah masuk ia berkata, “datanglah ke taman !”

“Kenapa ?”

“Tiffany ada disana !” kata Sunny. “Aku merencanakan ini agar kau bisa mengungkapkan perasaanmu padanya di taman nanti tetapi , kau tak bisa kuhubungi kemarin dan tak kusangka hari ini akan hujan pada jam segini,” lanjut Sunny.

Chanyeol yang mengingat di taman tak ada tempat berteduh dan hujan semakin lebat buru-buru meninggalkan Sunny dan berlari keluar sambil membawa sebuah payung. Hujan semakin deras saat Chanyeol berlari menuju taman, Chanyeol berharap Tiffany sudah pulang dulu sebab meski ia ingin mengungkapkan perasaannya pada Tiffany, tetapi ia tak mau kalau Tiffany sakit karena hal itu dan karena dirinya yang keras kepala tak mau mengangkat telpon dari Sunny.

“Semoga ia sudah pulang !” gumam Chanyeol sambil terus berlari. Meski lelah tetapi untuk Tiffany, ia akan datang. Yang penting gadis itu baik-baik saja, itulah yang selalu ia ingatkan di dalam pikirannya.

Chanyeol pun akhirnya tiba di taman. Ia berusaha mengatur nafasnya dan melihat sekeliling taman itu, berusaha mencari sosok yang kemungkinan menunggunya disitu.

Chanyeol merasa lega karena ia tak menemukan sosok itu, iapun berbalik dan tiba-tiba melihat sosok yang dicarinya sedari tadi. Chanyeol menghembuskan nafas lega saat melihat Tiffany membawa sebuah payung. Iapun berkata, “untunglah kau membawa payung.”

“Eh, sebenarnya tidak , aku .. Kembali ke rumah saat di tengah perjalanan karena ada suara petir tadinya lalu mengambil payung dan kemari lagi,” jelas Tiffany sambil menunduk malu. Tiffany tak menyangka sosok yang ada disini malah Chanyeol yang ia cintai. Bukan Sunny.

Chanyeol tersenyum memandang Tiffany dan mengulurkan tangannya untuk mengusap rambut Tiffany pelan. “Aku sangat khawatir, kau tahu,” kata Chanyeol. Dalam hati, Chanyeol begitu senang dihadapkan dengan suasana seperti ini, ia merasa suasana tiba-tiba saja menjadi romantis dan ia berjanji akan berterima kasih pada Sunny sudah membantunya. Kali ini , ia yakin sendiri bahwa ia akan berhasil mengungkapkan perasaannya pada Tiffany.

“Eh ? B-bagaimana kau tahu aku ada disini ?” tanya Tiffany gugup. Chanyeol tersenyum ketika Tiffany mendongak untuk memandanginya. Iapun berkata, “Sunny menyuruhku kemari.”

“Lalu , mana Sunny ? Ia menyuruhku untuk datang kemari,” kata Tiffany sambil celingak-celinguk mencari Sunny. Chanyeol pun menyentuh wajah Tiffany dengan salah satu tangannya dan menghadapkan wajah Tiffany untuk memandanginya.

“Jangan pikirkan dia, aku yang ada disini sekarang, jadi pandanglah aku saja,” kata Chanyeol tegas namun tatapannya tatapan lembut. Tiffany bisa merasakan wajahnya memerah panas sekarang.

“Ada yang ingin kukatakan padamu,” kata Chanyeol lirih sambil memandang wajah Tiffany terus-menerus. “Aku .. Ingin mengatakan ini dari dulu , namun tiap kali ada kesempatan aku selalu menyia-nyiakannya dan ketika ada kesempatan sekali lagi , aku tak bisa mengatakannya karena malu dan takut ditolak,” kata Chanyeol pelan. Tiffany tahu kemana arah pembicaraan ini mengarah. Ia hanya bisa diam dan terus berkonsentrasi akan perkataan Chanyeol.

“Aku tak sanggup mendekatimu pada saat di sekolah dulu karena terlalu malu, aku .. Selalu berpikir bahwa suatu hari nanti pasti aku akan melupakanmu  beserta seluruh perasaanku suatu hari nanti.. Namun aku salah. Aku salah besar karena berpikir begitu karena akhirnyapun aku malah mempertahankan perasaan ini dan berharap akan berjumpa denganmu suatu hari nanti. Aku bahagia karena akhirnya aku bertemu denganmu lagi sekarang dan juga aku mendapat kesempatan untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu,” ungkap Chanyeol. Suasana menjadi hening diantara mereka, hanya ada suara hujan meliputi mereka. Tiffanypun menunduk, ia membekap mulutnya dan air mata menitik dari kedua matanya. Chanyeol pun berkata,”a-ada apa ?”

“Terima kasih, aku juga.. Berharap aku bisa bertemu denganmu lagi, aku sangat bahagia karena bisa mendengar kata-kata itu darimu.. Aku juga mencintaimu,” kata Tiffany tanpa memandangi amta Chanyeol. Chanyeol tersenyum dan berkata, “jadi apa kita bisa menjadi pasangan sekarang ?” Tiffany mengangguk cepat. Chanyeol pun bergumam, “baguslah , ia menerimaku.”

Tiffany tersenyum melihat Chanyeol. Keduanyapun berjalan pergi dari taman itu menuju rumah Chanyeol.

*****

Sunny tersenyum saat melihat keduanya berjalan memasuki rumah Chanyeol. Ia yakin sesuatu yang indah terjadi diantara mereka karena kini mereka berpegangan tangan.

“Bagaimana ? Kalian menjadi pasangan kan ?” tanya Sunny sambil menunjuk mereka berdua dengan tatapan penuh arti.

Tiffany dan Chanyeol mengangguk lalu Sunnypun berkata, “Chanyeol pinjam payung dong, aku mau pergi menemui pacarku. Lagipula, sudah lama aku tak menghabiskan waktu dengannya, ini semua gara-gara dirimu.”

“Kau memiliki kekasih ?” tanya Tiffany. Sunny mengangguk dan berkata, “iya , apakah aku belum pernah bercerita padamu ?”

“Haisshh .. Andai aku tahu itu lebih awal,” gumam Tiffany. Sunny menaikkan alisnya dan bertanya, “apa kau bilang ?” Tiffany menggeleng dan berkata, “bukan apa-apa.”

“Baik , aku pergi ya !”

BLAM

Pintu rumah Chanyeol tertutup. Tiffany dan Chanyeol hanya berduaan di ruang tamu itu, Chanyeol pun memperbolehkan Tiffany untuk duduk sementara ia mempersiapkan minuman untuk gadis itu dan dirinya.

Sesaat kemudian, Chanyeol kembali sambil membawa 2 gelas teh hangat untuk mereka. Tiffany tiba-tiba saja bertanya padanya, “adakah bolpoin dan kertas kosong ?” Chanyeol mengangguk dan buru-buru mengambilkan keduanya untuk Tiffany. Tiffany berterima kasih kemudian meliriki Chanyeol. Chanyeol menaikkan alisnya dan bertanya, “ada apa melirikiku begitu ?”

“Itu .. Bisakah kau mengulangi pengungkapan perasaanmu ?” tanya Tiffany malu-malu.

“Eh ?”

“K-kalau kau tidak mau ya tidak apa-apa kok,” kata Tiffany sambil berusaha menghindari tatapa kebingungan Chanyeol. Namun, Chanyeol tersenyum kecil dan merangkul Tiffany lalu berbisik, “aku .. Ingin mengatakan ini dari dulu , namun tiap kali ada kesempatan aku selalu menyia-nyiakannya dan ketika ada kesempatan sekali lagi , aku tak bisa mengatakannya karena malu dan takut ditolak. Aku tak sanggup mendekatimu pada saat di sekolah dulu karena terlalu malu, aku .. Selalu berpikir bahwa suatu hari nanti pasti aku akan melupakanmu  beserta seluruh perasaanku suatu hari nanti.. Namun aku salah. Aku salah besar karena berpikir begitu karena akhirnyapun aku malah mempertahankan perasaan ini dan berharap akan berjumpa denganmu suatu hari nanti. Aku bahagia karena akhirnya aku bertemu denganmu lagi sekarang dan juga aku mendapat kesempatan untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu.”

Tiffany mencatatnya di sebuah kertas yang diberikan Chanyeol tadi dan menahan rasa gugupnya mendengar ucapan Chanyeol barusan. Chanyeol yang melihat tulisan Tiffany bertanya, “untuk apa kau mencatatnya ? Mau kau pajangkah ?”

“Tentu saja tidak, lihat saja nanti saat ulang tahunmu,” jawab Tiffany pelan. Chanyeol nampak kebingungan namun sebelum ia bisa bertanya lebih jauh, Tiffany sudah pulang terlebih dahulu sambil membawa payungnya karena masih hujan. “Apa maksudnya ? Tapi kalau ia bilang begitu, akan kutunggu saja,” pikir Chanyeol kebingungan.

Tiffany tersenyum kecil melihat catatannya, mengingat ulang tahun Chanyeol tinggal beberapa minggu lagi , ia ingin ngebut dengan tugas novelnya.

“Lihat saja, Chanyeol,” pikirnya malu-malu. Kira-kira apa yang ingin diberikan Tiffany ya ?

To be continued

Mian gaje, 1 chap lagi endingnya ya🙂 , pls komen ya !

15 thoughts on “Right Beside Me — 6th Part : Confession Time

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s