[Freelance] In Your Eyes (Chapter 7 – Perfect Have I Loved)

in your eyes 2

Title : In Your Eyes

Author : PinkyPark (@putrii_tasha) & Potterviskey (@yrkim19)

Main Cast : GG’s Im Yoona & EXO’s Park Chanyeol

Supporting Cast : GG’s Jung Sooyeon, EXO’s Kim Jongin, (OC’s) Park Minhwa, (OC’s) Kim Youngran

Genre : Romance, Fluff, Family, Hurt

Rating : G

Length : Chaptered

Disclaimer : We own this fic’s plot and idea only. Cast belongs to God. So please respect with your comment. Don’t copy-paste or plagiarism! Thanks! and enjoy reading guys🙂

Posted in :

exoshidaefanfic.wordpress.com
readfanfiction.wordpress.com
mickeymo125.wordpress.com
pinkypark88.wordpress.com

.

.

= Chapter 7 – Perfect Have I Loved =

Jadi dengar. Jika suatu hari nanti aku melepas tanganmu. Tolong berikan aku waktu untuk kembali dan menggenggam tanganmu lagi. Karena selamanya aku, akan terus mencintaimu.

 

***

 “Im Yoona, ayo pulang.”

Yoona dan kedua sahabatnya serta gadis-gadis berseragam berbeda itu kini menoleh dengan serempak—menatap sesosok pria yang kini berdiri tenang dengan senyuman manisnya.

Yoona merenggut, menatap pria itu dengan bingung. “Jongin?”

Jongin melangkah untuk mendekat, rambut pria itu memang berantakan—namun entah karena apa, pria itu terlihat seribu kali lipat lebih tampan dari biasanya. “Ayo kita ke toko eomma hari ini—” Jongin menyunggingkan sebuah senyuman kecil di bibirnya, dan gadis-gadis lain hanya menatapnya terpesona.

Yoona menganggukan kepalanya, menatap Jongin mengerti. Pria itu membalasnya dengan sebuah cengegesan ringan, detik selanjutnya menggenggam tangan gadis itu dengan mantap. “Aku duluan—” Yoona bergumam rendah pada kedua temannya seraya melangkah pergi, meninggalkan gadis-gadis itu dalam sunyi.

Sooyoung mengangkat dagunya, menatap gadis-gadis genit di hadapannya dengan angkuh. “Yuri—ayo kita pulang, kiranya aku tidak ingin membuang-buang waktuku disini.”

Yuri menganggukan kepalanya, kemudian mendelik pada Sooyeon sebelum akhirnya melangkah pergi. Sooyeon dan teman-temannya hanya menatap tak percaya, kemudian mengoceh cepat yang tak bisa dimengerti maksudnya.

Sooyeon menyunggingkan sebuah senyuman aneh, gadis itu menatap lurus kedepan. “Baiklah, Im Yoona—nampaknya kau ingin bermain-main denganku.”

***

Park Chanyeol melesakkan kedua tangannya kedalam saku blue jeans yang kini dikenakannya. Tiga puluh menit yang lalu Kim Jongin entah karena apa meminta bertemu di tempat ini. Sebuah taman dekat pusat kota dengan beberapa stan pojang makcha di beberapa titik.

Park Chanyeol sebenarnya tidak mengerti bagaimana dirinya bisa mengenal seorang Kim Jongin—karena yang diketahuinya, dirinya dan pria itu belum pernah secara resmi berkenalan. Tahu-tahu saat ini mereka sudah saling mengetahui nama satu sama lain dan meminta untuk bertemu.

Chanyeol menolehkan kepalanya saat dua pasang sepatu sneakers coklat berhenti di samping sepatunya. Kim Jongin disana—dengan jaket biru tua dan celana jeans yang senada,melihat pria itu Chanyeol sedikit tahu—Jongin sangat memperhatikan penampilannya.

Chanyeol menyipitkan matanya, sedikit bergerak untuk berhadapan dengan Kim Jongin. Sayangnya, Jongin hanya menatap pria itu dingin—seperti biasanya.

“Ada apa?” Chanyeol bersuara untuk pertama kalinya, pria itu meringgis saat Jongin hanya menjawabnya dengan tatapan tajam. “Aku masih banyak urusan—jadi katakan ada apa.”

Kim Jongin menarik ujung bibirnya—menyulapnya menjadi sebuah smirk yang mengintimidasi. Pria itu mengedipkan matanya sekali—kemudian dalam sekali gerakan melayangkan tinjunya pada pipi Chanyeol. Chanyeol tidak terjatuh—hanya sedikit terdorong kebelakang dengan ujung bibir yang berdarah.

Pria itu terkejut—lebih terkejut lagi saat didapatinya Jongin kini tertawa meremehkan. Tidak ingin kalah—pria itu meninju wajah Jongin satu kali, beruntung tinjunya tepat seperti apa tinju Jongin—jadi dirinya tidak perlu menahan malu, bagaimanapun Chanyeol bukanlah tipikal pria yang menyukai kekerasan.

“Ya! Kau brengsek.” Jongin berteriak setelah mengusap ujung bibirnya yang juga berdarah, pria itu melayangkan lagi tinjunya pada Chanyeol—kali ini lebih keras, membuat Chanyeol tersungkur ke belakang. “Aku sudah memperingatimu tapi apa yang—”

Chanyeol balas memukul, kali ini lebih keras dari pukulan sebelumnya, Jongin semakin naik darah—pria itu mulai tidak terkendali dan kembali melayangkan tinjunya. Kali ini tidak hanya wajah, perut dan bagian lain bahkan mulai mereka serang satu sama lain. Bahkan sesekali tendangan terjadi di sana-sini.

Beberapa orang berteriak—tapi itu sangat samar bagi keduanya, jadi Park Chanyeol dan Kim Jongin sama sekali tidak terganggu dan tetap berkelahi.

Sesuatu yang lain berteriak lagi—terdengar seperti sebuah lengkingan yang saling bersautan, Jongin dan Chanyeol mengerti betul suara siapa itu. Jadi mereka menghentikkan aksi mereka sebentar dan kemudian secara bersamaan meringgis saat Park Minhwa dan Kim Youngran menerjang mereka secara terpisah.

Park Minhwa memeluk perut Jongin dan mendorongnya mundur. Lain sisi Youngran memeluk lengan Chanyeol dan menariknya menjauh. Kedua gadis itu mungkin terlalu panik, sampai-sampai mereka tidak ingat yang mana kakak mereka.

Jongin merenggut bingung—menatap gadis dengan rambut sedikit ikal itu penuh tanya. “Lepaskan aku.” Gumam Jongin jengah, berusaha melepaskan pelukan Minhwa tapi gadis itu lebih kuat dari kelihatanya. “Lepaskan aku!” Kali ini Jongin berteriak, membuat Minhwa menatapnya takut dan menggeleng pelan.

“Jika aku melepasmu—kau akan memukul kakakku lagi.” Ucap Minhwa pelan, Jongin membuang nafas berat—perlahan melepaskan pelukan Minhwa dengan lebih hati-hati. “Jangan berkelahi lagi.” Minhwa merentangkan tangannya lebar saat Jongin berhasil melepaskan pelukannya, pria itu menatap Chanyeol yang tengah bersama adiknya dengan singkat.

“Kau tidak apa-apa?” Youngran melepaskan tangan Chanyeol, menatap pria itu melalui kedua mata yang kini tertutup beberapa helai rambut.

Park Chanyeol tersenyum kecil, wajahnya sama memarnya dengan Jongin dan pria itu hanya menganggukan kepalanya singkat. “Tenangkan kakakmu.” Titah Chanyeol pelan, “Minhwa mana mungkin bisa menghadapi sikap kerasnya.”

Youngran mengangguk, melangkah untuk mendekat pada Minhwa dan Jongin yang kini masih sibuk saling menatap. “Kau pergi ke kakakmu sana.” Ucap Youngran saat tubuhnya sudah berada tepat di hadapan Jongin.

Minhwa menurunkan rentangan kanannya, mendelik singkat pada Jongin dan berlari pada kakaknya.

Jongin hanya meringgis saat Youngran berpangku tangan, pria itu mendesah saat rasa nyeri mulai menjalari wajahnya yang babak belur.

“Kau memang tolol!” Youngran berdecak menatap wajah kakaknya.

Jongin mendesis kesal. “Aku ini kakakmu! Setidaknya kau bela aku!”

Youngran melepaskan pangkuan tangannya, masih menatap kakaknya dnegan kesal. “Aku tidak sudi membela orang yang salah!” Sang kakak membuka mulutnya, hendak berbicara lagi namun suara Youngran lebih cepat. “Kau ini bodoh atau apa! Bagaimana bisa kau berkelahi padahal besok kau akan tampil!” Kali ini Youngran berteriak pada sang kakak, membuat Minhwa dan Chanyeol menoleh untuk menyaksikan perkelahian yang lain.

“Tutup mulutmu!” Jongin bergumam pelan dan Youngran memukul lengannya.

“Kim Jongin kau ini menyebalkan! Apa yang harus aku lakukan saat wajahmu memar seperti ini!” Youngran berteriak lagi—kali ini disertai dengan tubuhnya yang bergerak-gerak kesal. “Aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana sekarang! Mengapa kau ini bodoh sekali! Mengapa kau membuat dirimu sangat menyedihkan Jongin!” Youngran terus menyuarakan kekesalannya, saking kesalnya Youngran mulai menangis—untuk pertama kalinya merengek seperti hal nya seorang Park Minhwa.

“Ya! Kau ini kenapa?,” Jongin menautkan kedua alisnya, menatap sang adik dengan bingung. “Aku yang berkelahi kenapa kau yang menangis?”

Youngran tidak berhenti, gadis itu menatap kakaknya dengan air mata. “Itu karena aku kesal padamu! Aku—”

“Ayo pulang!” Jongin meraih tangan adiknya, menariknya pergi meninggalkan kericuhan di sekitar.

Di lain sisi, Chanyeol dan Minhwa hanya termangu—menatap kepergian dua saudara itu dengan geli. Chanyeol menatap adiknya, “Kau tidak akan merengek seperti Youngran tadi kan?”

Minhwa tampak berpikir singkat—kemudian gadis itu tersenyum. “Kali ini kami bertukar posisi—aku tidak akan merengek seperti biasanya.” Chanyeol tersenyum, mengelus kepala adiknya dengan sayang. “Oh Oppa~ tapi wajahmu tidak baik sekarang—” Minhwa meringgis seolah merasakan sakit yang dirasakan Chanyeol.

Sang kakak hanya menjawabnya dengan anggukan. “Ayo pulang dan bantu aku mengurus ini.”

***

Jongin terus menggerutu saat Yoona mengompres wajahnya dengan es. Pria itu berusaha untuk tidak terlihat lemah—tapi perihnya sangat mengganggu.

“Bagaimana bisa kau berkelahi seperti ini—siapa orang itu?” Yoona bertanya dengan khawatir, Jongin melirik adiknya yang kini hanya duduk diam di sampingnya.

“Hanya seorang berandalan yang tidak tahu siapa namanya.” Gumam Jongin pelan, Youngran berdesis saat mendapati kesenangan Jongin megumpamakan Chanyeol sebagai seorang berandalan.

“Mengapa kalian berkelahi?”

“Jongin selalu ingin terlihat keren—jadi dia meninju orang lain saat dirinya merasa kekerenannya itu tidak diakui.” Jawab Youngran sebelum Jongin sempat berpikir.

Sang kakak menatap sebal adiknya, kemudian meringgis lagi saat Yoona menyentuh lukanya. “Aku hanya memberikan peringatan.”

“Kau tidak memberikan peringatan—kau hanya tidak mengerti yang sebenarnya dan bertindak sesukamu!” Youngran berbicara cepat—bangkit dari kursi dan berjalan kesal ke dalam kamarnya.

Yoona hanya bengong—menatap pintu kamar Youngran yang tertutup dan wajah Jongin yang babak belur secara bergantian. “Kalian ini berbicara apa—seolah ada sesuatu di baliknya.”

Jongin menutup matanya—mengalihkan pertanyaan Yoona dengan ringgisan yang terkesan di buat-buat.

Yoona merenggut di tempatnya. “Kau ini cengeng juga ya.”

***

Minhwa mengunci pintu kamar kakaknya dengan cepat, gadis itu menarik nafas panjang dan menatap kakaknya dengan lega. Minhwa membawa beberapa es batu dan handuk basah pada wadah kaca. Dengan cepat berjalan kearah kakaknya.

“Kau kenapa buru-buru seperti itu?” Chanyeol bertanya setelah menyaksikan aksi Minhwa berlari menuju kamarnya dan mengunci pintu dari dalam.

“Kau tahu—gadis itu datang lagi malam ini, kali ini bersama ibu dan ayahnya.” Jelas Minhwa bersemangat, gadis itu mendesah. “Aku tidak mengerti—apa yang dipikirkan para orang tua itu saat sebenarnya anak mereka masih kelas tiga SMA.”

Chanyeol tidak bisa menyembunyikkan keterkejutannya, pria itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang dan mulai menggerutu saat Minhwa mengompres wajahnya dengan handuk.

“Tapi aku masih bingung kenapa kalian berkelahi—mungkinkah karena Yoona eonnie?,”

Chanyeol berpikir sebentar, “Kurasa ya—”

“Ah lagi pula dia itu gila—bagaimana bisa dia menyukai—” Minhwa berhenti berbicara, menyadari mulutnya yang berucap terlalu banyak.

“Apa maksudmu?”

Minhwa menggeleng cepat, dan Chanyeol mengerti betul adiknya tengah berbohong saat ini.

“Katakan padaku—siapa yang menyukai siapa?”

Minhwa menggeleng lagi—menyimpan handuk dan berdiri dari posisinya. “Aku akan kebawah—mengatakan pada mereka kau sudah tidur, jadi kau urus wajahmu sendiri.”

Chanyeol menahan tangan adiknya—meringgis saat lagi-lagi Minhwa menggeleng kuat.

“Aku tidak akan mengatakan apapun, aku sudah berjanji pada—” gadis itu berhenti lagi saat lagi-lagi ucapannya meleset kearah yang lebih rumit.

Chanyeol menarik tangan adiknya. “Park Minhwa katakan padaku!”

Minhwa berjengit, mengerti betul dirinya tidak akan bisa melarikan diri saat ini.

“Kau tahu ini rahasia—sebenarnya Jongin Oppa juga menyukai Yoona Unnie.”

***

“Park Minhwa!”

Minhwa setengah berlari saat namanya dipanggil, tentu saja gadis itu sudah menenangkan Chanyeol dan membuatnya diam di bawah selimut sebelumnya.

Gadis itu berdiri di samping sofa yang diduduki ibunya. Menatap lima orang disekitarnya dengan datar. “Ada apa ” Gadis dengan gaun tidur pendek selutut itu bertanya malas,sebisa mungkin menghindari tatapan ayahnya yang memang selalu mengerikan.

“Panggil kakakmu.” Ibunya berseru dengan sebuah senyuman hangat di bibirnya.

Minhwa menarik nafas panjang, menatap ibunya masih dengan tatapan yang sama, “Oppa sedang tidur—dia tidak bisa diganggu.”

“Park Minhwa tapi dia harus—”

“Apa ibu tidak lihat bagaimana Oppa datang tadi? Dengan helm yang masih terpakai dan caranya menyapa kalian—seharusnya kalian tahu Oppa sangat lelah. Dia bilang—”

“Park Minhwa panggil kakakmu!” Ayah berseru dingin, membuat Minhwa bungkam seketika. Gadis itu menggigit bibirnya—menyadari ekspresi puas di wajah Sooyeon saat ini.

“Oppa tidak bisa diganggu, dia bilang dia sangat lelah—dia bahkan tidak mengganti bajunya,” Jelas Minhwa tidak mau kalah, gadis itu mulai melepaskan topeng ramahnya—menggantinya menjadi Minhwa seperti biasa. “Lagi pula mengapa kakakku harus bangun dari istirahatnya di malam seperti ini—hal apa yang sangat penting sampai-sampai—”

“Park Minhwa!”

Ayah tidak berteriak—namun suaranya luar biasa menggeretak. Membuat lagi-lagi Minhwa menggigit bibirnya karena gugup. Gadis itu mengepalkan tangannya, menatap sang ibu penuh harap.

“Ibu—aku sangat mengerti kakak, selama ini dia selalu bersamaku. Tentu saja itu disaat ayah dan ibu lebih mementingkan pekerjaan kalian. Jadi—” Minhwa menarik nafas panjang. “Jangan ganggu kakakku, dia sangat lelah dan aku tidak akan membiarkan kalian mengganggunya. Lagi pula kalian tidak tahu apa-apa tentang kakak. ”

“Park Minhwa cukup!” Ibu berdesis pelan untuk menghentikkan ocehan Minhwa, Minhwa hanya menjawabnya dengan tangannya yang mengibaskan rambut secara sengaja.

“Kalian sangat sibuk—sampai-sampai tidak paham bagaimana sikap anak kalian yang sebenarnya. Chanyeol Oppa—dia akan mengamuk dan mengatakan hal-hal buruk jika dibangunkan dari tidurnya. Apa kalian tahu? Oh ya, tentu saja tidak—karena yang kalian tahu hanya—”

“Baiklah Minhwa—sepertinya sudah cukup, kau bisa kembali ke kamarmu.” Potong sang ibu seraya memperhatikkan ekspresi dari kedua orang tua Sooyeon.

“Baiklah—lagi pula masih banyak yang harus aku kerjakan.” Minhwa hendak berlalu—namun menahan langkahnya seraya berbalik untuk menatap Sooyeon. “Unni—akhir minggu ini bisakah kita pergi bersama? Aku ingin membeli beberapa barang, bukankah dengan begitu kita menjadi lebih dekat?” Tanya Minhwa dengan ekspresi malas, gadis itu menyunggingkan sebuah senyuman manis yang terkesan dibuat-buat.

Sooyeon membuka mulutnya—menatap Minhwa setengah kesal. Gadis itu menyunggingkan sebuah senyum palsu yang sama. “Baiklah—kita akan bersenang-senang.”

***

Im Yoona sibuk dengan rambut panjangnya. Sedari tadi gadis cantik itu tidak hentinya menatap cermin dan menatapnya lagi. Kim Youngran yang memperhatikan pun hanya bisa mendesah pelan dan berkacak pinggang menyaksikan Unni-nya yang tidak seperti biasa.

Youngran mendudukkan tubuhnya pada tepi ranjang, menatap Yoona dengan ngeri. “Unni—aku tahu ini karena kau sekarang sudah memiliki pacar, tapi bukankah itu konyol jika kau yang sejatinya tidak pernah memperhatikan cermin kini menghabiskan waktu lima puluh dua menit untuk menatap cermin?”

Yoona menolehkan kepalanya—menatap cermin satu kali lagi dan ikut duduk di samping Youngran. “Sebenarnya aku—aku hanya—”

Ponsel Yoona menjerit, membuat kedua gadis itu mengalihkan pembicaraan satu sama lain. Youngran beranjak dan mengambil tas tangannya—tidak lupa memasukkan beberapa barang kedalamnya.

Yoona tersenyum lebar—ada nama Chanyeol di layar ponselnya, jadi apa ini—bukankah itu artinya Yoona sudah benar-benar tergila-gila pada pria itu ?

“Halo?”

“Hei, aku sudah ada di depan rumahmu. Kau sudah siap?” Suara di ujung telepon terdengar begitu bersemangat, membuat Yoona melebarkan senyumannya lagi.

“Aku sudah siap—baiklah aku keluar sekarang.”

Yoona menutup pembicaraan, memasukkan ponselnya ke dalam tas. Youngran menatap Unni-nya dengan alis bertaut. “Chanyeol oppa sudah ada di depan?”

Yoona menjawabnya dengan anggukan, gadis itu tersenyum malu. “Aku pergi—”

“Tunggu Unni..” Youngran berucap cepat, membuat Yoona kembali membalikkan tubuhnya. “Apapun yang dilakukan Chanyeol Oppa—percayalah, dia melakukan semuanya untukmu—untuk kebaikanmu.”

Yoona berjengit, merubah air mukanya menjadi bingung. Gadis semampai itu tersenyum kecil kemudian. “Apa yang dibicarakan gadis kecil ini?”

Yoona melangkah pergi setelah mengacak rambut Youngran pelan, Youngran membuang nafas berat—menundukkan kepalanya dan menutup mata singkat. “Maksudku, Chanyeol Oppa bukan membohongimu—dia hanya ingin tetap bersamamu.”

***

Yoona berdiri malu di samping motor yang diduduki Chanyeol. Gadis itu tertunduk malu saat Chanyeol memiringkan kepalanya untuk bisa menatap wajah gadis itu.

“K—kenapa kau menatapku seperti itu?” Tanya Yoona malu, Chanyeol hanya terkekeh di tempatnya.

“Wah—kau sempurna sekali hari ini.” Chanyeol berdecak kagum, dan Yoona semakin menundukkan kepalanya karena kini bahkan pipinya mulai memerah. “Hei, aku tahu pipimu merah—jadi angkat kepalamu.”

Yoona mengangkat kepalanya, kemudian menaruh kedua tangannya di kedua belah pipi—menutupinya malu. “Kau ini apa-apaan.”

Chanyeol mengangkat kedua tangannya untuk menurunkan kedua tangan Yoona dari pipi, dan Yoona membelalakan matanya terkejut. “Seperti ini lebih baik—kau cantik sekali, apapun yang terjadi kau memang yang paling cantik.” Chanyeol tersenyum, membuat Yoona semakin salah tingkah. “Tidak usah malu lagi—kau kan kekasihku, lakukan apapun yang kau mau didepanku, tidak perlu menutupi apapun dan harus saling terbuka, mengerti?”

Yoona menatap Chanyeol dalam, gadis itu menganggukan kepalanya singkat. “Tidak ada yang ditutupi, harus saling terbuka.”

Entah karena apa, Chanyeol tertegun ditempatnya—ucapan Yoona yang tidak lain adalah ucapan dirinya beberapa detik lalu kini mengganggu pikirannya.

Tidak ada yang ditutupi dan harus saling terbuka.

Pria itu menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena belum mengatakan apapun mengenai perjodohannya.

“Ada apa?” Yoona bertanya, Chanyeol mengangkat kepalanya lalu tersenyum kecil.

“Tidak apa-apa, ayo pergi.”

***

Minhwa dan Sooyeon baru saja turun dari mobil Chevrolet silver milik Ibu Minhwa. Kedua gadis dengan perbedaan umur empat tahun itu kini berdiri percaya diri di depan sebuah pusat perbelanjaan Seoul. Jika Minhwa menggunakan dress mini seperti biasanya—Sooyeon lebih senang menunjukkan dirinya adalah putri orang kaya dengan menggunakan Pullover putih dan Breeches jeans yang elegan.

Minhwa menyampirkan rambut panjangnya kebelakang telinga, menatap Sooyeon melalui bulu matanya. Yang ditatap hanya mengangkat alisnya—balas menatap Minhwa dengan datar.

“Ada apa Park Minhwa? Jadi apa kita akan berdiri disini seharian?”

Minhwa menggeleng pelan, mengedarkan pandangannya kesekeliling. “Aku sedang menunggu seseorang—oh Youngran—a!”

Kim Youngran setengah berlari kearah Minhwa, gadis itu tampak manis dengan rambut pendek dan T-shirt simple seperti biasanya. “Maaf membuatmu menunggu.”

Sooyeon menatap Youngran tidak percaya. “Hey—ada apa ini?”

Minhwa berdecak, kemudian menggandeng Youngran bersahabat. “Kita bertiga akan bersenang-senang hari ini.”

Sooyeon memutar bola matanya, membuka mulutnya tidak percaya. “Kau—”

“Ayo masuk.”

Kedua gadis itu berjalan di depan—mendahului Sooyeon yang masih sibuk dengan keterkejutannya.

“Mereka benar-benar!” Sooyeon menggerutu seraya melangkahkan kakinya kesal. “Hey tunggu aku!”

***

Yoona menatap kagum kesekeliling, mendapati banyak sekali lukisan yang kini memenuhi penglihatannya. Chanyeol lebih bertindak mengalah—berjalan pelan di belakang Yoona dan membiarkan gadis itu sibuk sendiri. Jika boleh jujur—Chanyeol lebih tertarik menatap wajah Yoona dibandingkan menatap lukisan-lukisan di pameran ini.

“Chanyeol, lihatlah—yang ini sangat bagus.” Yoona berujar senang sembari menunjuk sebuah lukisan di dekatnya. Chanyeol berjalan pelan menghampiri, kendati seperti itu tidak bisa menyembunyikan kebingungannya.

“Yang ini? Tapi—ini hanya lukisan yang aneh, lihatlah—ini tidak berbentuk.”

Yoona tertawa pelan, menatap Chanyeol geli. “Kau ini memang tidak memiliki jiwa seni ya?”

Pria itu hanya menggaruk tengkuknya pelan, “Aku tahu—aku tahu, maka dari itu jangan bawa aku ke tempat seperti ini lagi, karena aku tidak bisa mengerti apapun disini.”

“Tapi aku sangat suka tempat seperti ini.”

Melihat ekspresi Yoona yang sedih Chanyeol memaksakan senyumnya, “Tapi jika kau mau aku bisa saja mengantarmu—kapanpun itu katakan saja padaku.”

Yoona tersenyum lagi, kali ini dengan beraninya menggandeng tangan Chanyeol dan menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu. “Benarkah? Terimakasih—”

Chanyeol tergagap—merasakan degup jantungnya yang semakin bertalu, pria itu tersenyum senang. “Tentu saja. Apapun untukmu S—sayang.”

Mendengar ucapan sayang dari kekasihnya membuat Yoona bersemu merah, gadis itu menarik sandarannya dan menatap Chanyeol malu. “Oh—tapi kenapa ujung bibirmu?”

Chanyeol menyentuh ujung bibirnya pelan—kemudian tersenyum kecil. “Seseorang memukulku—seseorang yang menyebalkan.”

Yoona melepaskan gandengannya, kali ini lebih tertarik untuk fokus pada wajah Chanyeol yang sedikit memar di bagian sana-sini. Lukanya memang tidak begitu terihat, tapi Yoona tahu itu adalah beberapa bekas dari pukulan. “Kau berkelahi? Ada beberapa bekas luka kecil di wajahmu.”

“Ah—benarkah? Ini seharusnya sudah hilang, apa masih terlihat?” gadis itu menjawabnya dengan anggukan singkat.

“Tapi kenapa kau berkelahi?”

“Pria itu yang duluan memukulku, dia memang sangat menyebalkan.”

Yoona berpangku tangan, menatap Chanyeol menyelidik. “Apa kau membalasnya?”

Chanyeol tampak berpikir keras, kemudian membuka mulut setelah menetapkan pemikirannya. “Tentu saja tidak—aku tidak suka berkelahi.”

Yoona menurunkan kedua tangannya, menatap Chanyeol geli. “Aku tahu kau sedang berbohong.” Gadis itu berbalik dan mulai berjalan lagi, menatap lukisan-lukisan dengan serius.

Chanyeol mensejajarkan langkahnya, “Aku benar—aku tidak memukulnya.”

Yoona menghentikkan langkahnya, kemudian mencondongkan tubuhnya pada Chanyeol. “Jangan berkelahi—jangan menggunakan tinjumu.” Gadis itu terdiam sesaat, menatap tangan Chanyeol yang menggantung, “Jangan lakukan itu, karena jika kau melakukan itu—aku akan ingat pada ayah. Ayah selalu menggunakan tinjunya, dan aku tidak ingin kau juga menggunakannya. Mengerti?”

Gadis itu berbalik lagi, berjalan pelan dengan kepala yang bergerak-gerak untuk menatap lukisan di sekitarnya. Chanyeol terdiam, menatap punggung Yoona yang mulai menjauh. Pria itu tertunduk, menatap kedua tangannya dengan nanar.

“Aku akan melakukannya—bukankah aku sudah bilang apapun akan aku lakukan untukmu?”

***

Sooyeon nyaris mati karena bosan. Gadis itu kini hanya memutar bola matanya berkali-kali saat kedua gadis yang bersamanya kini seolah memiliki dunia mereka masing-masing. Jika Minhwa dan Youngran sibuk memilih barang-barang yang berkaitan dengan idolanya, Sooyeon hanya berdiri diam dibelakang mereka dengan bosan dan decakan kesal.

Kedua gadis kelas tiga Junior High School itu saling tertawa saat memilih barang-barang kebahagiaan mereka, sesekali menjerit tertahan saat barang yang mereka inginkan telah ditemukan.

Sooyeon mendengus kesal—menghentakkan high heelsnya berkali-kali. “Kalian ini sebenarnya sedang apa? Cangkir, sepatu, T-shirt, gantungan, backpack, untuk apa kalian membeli hal-hal seperti itu dengan wajah-wajah mereka di atasnya? Apa ini yang selalu kalian lakukan? Kalian tahu ini sangat kekanakan dan aku bosan—mengerti? Aku bosan!” Sooyeon menggerutu dengan tempo yang cepat, membuat Youngran dan Minhwa menoleh bersamaan.

“Apa katanya?” Youngran bertanya malas pada Minhwa, yang ditanya hanya mengendikkan bahunya tak kalah malas.

“Aku tidak tahu. Unni—bisakah kau ulang satu kali lagi? Tentu saja dengan sedikit lebih pelan, kau tahu—kami murid kelas tiga Junior High School, dan kami tidak mengerti pada cara bicara anak-anak kelas tiga Senior High School sepertimu.”

Sooyeon memutar bola matanya—lagi. Gadis itu menarik nafas berat. “Apa yang tidak kalian mengerti? Memangnya seperti apa cara bicara yang kalian lakukan? Bagaimana bisa itu berbeda?”

Youngran mendelik lalu kembali fokus apda barang-barang yang terpajang dihadapannya, “Dia bicara apa lagi sih?”

Minhwa ikut membalikkan badannya, menggeleng malas dan kembali sibuk seperti sebelumnya. “Tidak tahu.”

***

“Ini—” Yoona menyerahkan segelas Lemon Tea pada Chanyeol. Pria itu menerimanya dengan sebuah senyuman bahagia. “Kau lelah?”

Chanyeol menggelengkan kepalanya, meminum Lemon Teanya dengan cepat. Pria itu menatap sekeliling dengan asal, kemudian tertahan pada sebuah toko dengan pernak-pernik yang berkilauan.  “Ayo ikut aku.” Pria itu menarik tangan Yoona pada toko itu, gadis itu menrenggut bingung melihat Chanyeol yang kini menatap pajangan kalung dalam etalase.

“Apa ini?”

Chanyeol memutar kepalanya, menatap Yoona bersemangat. “Kau mau yang mana?”

“Apa?”

“Kalung ini, kau mau yang mana?”

Yoona mengalihkan pandangannya dari wajah Chanyeol, menggantinya pada kalung-kalung dalam etalase. “Tidak perlu—”

“Ayolah..” Chanyeol memasang wajah memelas dan Yoona membuka mulutnya tidak percaya. “Baiklah biar aku yang pilih.”

Yoona hanya diam menatap Chanyeol yang berbincang-bincang dengan pegawai—menanyakan ini dan itu mengenai beberapa kalung. Chanyeol tersenyum senang—menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi.

“Cha.. ini untukmu.” Pria itu sedikit bersenandung seraya menggantungkan sebuah kalung dengan permata putih yang berkilau. Yoona menatap kalung itu dengan kagum—bagaimanapun itu sangat indah. “Biar aku yang pasangkan.”

“Tapi—”

“Diamlah—dan serahkan semuanya pada Oppa ya?”

Yoona tertawa kecil. “Huh? Oppa katamu?”

Chanyeol tertawa renyah dan memutar tubuh Yoona, memasang kalung itu dengan hati-hati. “Selesai, kemari biar aku lihat.”

Yoona berbalik lagi, kali ini tersenyum menatap kalung yang sudah menggantung di lehernya. “Ini cantik, tapi kau tidak perlu—”

“Apa? Apa yang tidak perlu? Kau hanya perlu menerimanya dan menjaganya—jika kau tidak memakai kalung itu –artinya kau sudah tidak menyukaiku lagi.”

Yoona mendelik pada kekasihnya. “Bagaimana bisa seperti itu?”

Chanyeol tersenyum bahagia, kemudian membawa Yoona kedalam pelukannya. Pria itu membuang nafas lega. “Ah, aku senang sekali hari ini.”

Yoona bergerak bingung—bagiamanapun ini adalah tempat umum, tentu saja semua mata menuju pada mereka saat ini. “Ya, apa yang kau lakukan?”

“Sebentar saja, seperti ini—sebentar saja.” Pria itu semakin mengeratkan pelukannya, membuat beberapa suara mulai menggema karena kagum.

“Iya tapi—”

“Im Yoona, aku mencintaimu.”

***

“Tunggu sebentar.” Minhwa menahan tangan Youngran, menariknya kebelakang dan melirik singkat pada Sooyeon yang kini berjalan lebih lambat dibelakang.

“Ada apa?”

“Ini gawat! Mereka ada disini!” Bisik Minhwa seraya menyembulkan kepalanya dari balik papan promosi.

“Siapa?” Youngran mengikuti Minhwa untuk melihat, tapi gadis itu menariknya.

“Yoona Unni dan kakakku. Mereka disini!”

Youngran membuka mulutnya dengan mata membelalak, gadis itu menggigiti kuku tangannya karena gugup. “Lalu bagaimana? Gadis itu juga disini?” Youngran menoleh untuk menatap Sooyeon yang mulai mendekat.

“Kau urus gadis itu, aku harus mengatakan sesuatu pada kakakku.”

“Apa? Bagaimana bisa aku—”

“Kau harus melakukannya—alihkan perhatian gadis itu mengerti?” Minhwa mendorong Youngran kearah Sooyeon lalu berlari setelah menarik nafas panjang, menghampiri Chanyeol dan Yoona yang tengah sibuk memilih beberapa baju.

“Oppa!”

Yoona dan Chanyeol menolehkan kepalanya serentak, menatap Minhwa yang kini berdiri kaku dua meter jauhnya. Minhwa berlari lg—tak lupa menyunggingkan sebuah senyuman aneh yang mencurigakan.

“Halo Unnie, apa kabar? Aku ingin bicara sebentar dengan kakaku—apa boleh?” Minhwa berucap cepat, dengan nafas yang terengah-engah.

“Tentu saja—” Jawab Yoona ramah, Minhwa tersenyum lagi seraya menarik tangan kakaknya cepat.

Mereka berdiri di hadapan sebuah toko pakaian yang cukup jauh dari Yoona, Minhwa menarik nafas panjang lagi—dan Chanyeol hanya menautkan alisnya bingung. “Ada apa?”

“Oppa—kau akan tetap seperti ini? Kau akan membiarkan semuanya semakin rumit seperti ini? Bagaimanapun Yoona unni harus mengetahui semuanya—tidak mungkin dia akan tetap tidak mengetahui apa-apa seperti sekarang. Kau tahu—”

“Beri aku waktu Minhwa—aku butuh waktu.” Chanyeol menundukkan kepalanya, pria itu tidak bisa menutupi kesedihannya saat ini.

“Oppa—kau tahu, semakin kau menutupinya, kau akan semakin menyakitinya.”

Pria itu mengangkat kepalanya, air mukanya mengeras dan pria itu menatap adiknya dengan nanar. “Aku tahu—tapi aku tidak ingin kehilangan gadis itu.”

“Jika kau tidak ingin kehilangannya, kau harus mengatakan semuanya dengan cepat, itu akan lebih baik jika kau yang mengatakannya secara langsung—jika tidak—”

“Jika tidak aku yang akan mengatakannya langsung pada gadis itu.”

Chanyeol dan Minhwa menolehkan kepalanya cepat, mendapati seorang gadis cantik tengah berjalan pelan kearah mereka. Kendati seperti itu Chanyeol dan Minhwa tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka—jadi keduanya mulai bergerak gelisah dan Minhwa mulai mengumpat tidak jelas.

“Kau tahu—aku yang akan mengatakannya secara langsung.” Sooyeon tersenyum manis yang terlihat menjijikan bagi seorang Chanyeol, pria itu mengepalkan tangannya dan menggigit bibirnya karena kesal.

“Dengar—kau bukan siapa-siapa dan aku bukanlah siapa-siapamu!”

“Aku tunanganmu dan kau tunanganku—setidaknya sebentar lagi kita akan menjadi seperti itu.” Sooyeon menggerakkan bahunya asal, menikmati ekspresi kesal diwajah Chanyeol.

“Siapa yang tunangan siapa?”

Suara lain kembali terdengar, mereka menolehkan kepalanya saat Yoona ada disana. Mengerutkan dahinya dan berjalan gugup. Chanyeol ingin mati saja—mengerti jelas akan tatapan rapuh Yoona yang kini berjalan mendekat. Seolah dunianya runtuh begitu saja.

Chanyeol merasakan pening di kepalanya saat gadis itu berdiri tepat di sampingnya, menatap Sooyeon dengan bingung.

“Unni, kau disini juga? Aku baru saja akan mencarimu. Ibu menyuruh kita ke toko.” Youngran berbicara dengan tergesa, gadis itu berusaha menarik tangan Yoona dan membawa nya pergi. Namun, Yoona tidak mendengarkannya. Ia berjalan pelan, mendekati Chanyeol.

“Chanyeol? Apa yang baru saja kalian bicarakan?”

.

.

To be continued…

15 thoughts on “[Freelance] In Your Eyes (Chapter 7 – Perfect Have I Loved)

  1. Kyaaaa, lama banget nunggu ff ini. Mianhae krna bru ngoment
    Ff kamu bnran beda sama yg pernh aku baca, cerita nya manis, romantis nya bkin greget, polos* gimana gtu. Please update nya jgn lama* dong,,🙂 pensrn nih, jinja.
    Keep writing yaa, your ff sooo DAEBAK. Fighting ^.^

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s