[Freelance] Angels Wing

angels-wing-poster

Title                 : Angel’s Wings

Author             : Quorralicious

Length             : Oneshoot

Rating             : –

Genre              : Sad, romance, angst

Main Cast        :

  • Tiffany SNSD
  • Suho EXO K
  • Lay EXO M

Other Cast       : Liat diceritanya aja ya ^^

Pairing             : LayFany

Disclaimer       : Cerita murni khayalanku dan cast hanya milik Tuhan dan Keluarganya

A.N                 : ini FF keduaku, semoga kalian menangis membacanya, hahaha >,< *just kidding*don’t be a silent reader! Please comment and cheers! hahaha

Angels Wings

And every night
I lie awake
Thinking maybe you love me
Like I’ve always loved you
But how can you love me
Like I loved you when
You can’t even look me straight in my eyes

 

Song:Kiss the Rain

 

Malam hari ini hujan terus mengguyur tanpa hentinya di Seoul, gadis berambut panjang dan berwarna blonde itu hanya memandangi rintik-rintik hujan yang turun menggenangi jalanan yang basah oleh hujan. Bait lirik lagu itulah yang selalu dia Suho, paling pas dengan suasana hatinya, mahasiswa jurusan IR (International Relations) ini sedang mengalami kegalauan hatinya. Pasalnya, dia mencintai seseorang yang tidak pantas untuknya, dia mencintai lelaki yang masih bisa dia panggil Om, meski jarak umurnya tak jauh berbeda. Gadis muda ini sudah mencintainya selama tiga tahun, tepat disaat tahun pertama dia menjadi mahasiswa di Seoul National University. Tiffany, gadis bermata cokelat itu bernama Tiffany, dia pertama kali bertemu dengan Suho saat acara keluarga besar diadakan dirumahnya. Melihat paras Suho yang tampan dengan rambut hitamnya serta tatapan matanya yang mempesona, kontan wajah Tiffany memerah, saat itulah dia mengalami Love at the First Sight dengan Omnya sendiri.

“Annyeong.. Nuguseyo?” sapa Tiffany ceria, “Naneun Suho imnida, keluarga jauhmu.. kakekmu dan nenekku adalah saudara tiri, jadi bisa dibilang kamu adalah keponakanku.” Jelasnya. “Oh.”jawab Tiffany kebingungan dan sedikit melamun, lalu dia melanjutkan,”bagaimana bisa selama ini aku gak pernah liat kamu di acara keluarga besar yang selalu diadakan setiap tahunnya?” lanjut Tiffany.”Eo, itu karena aku sudah lama tinggal di Jerman, belajar disana karena ayahku blaster Korea dan Jerman maka dari itu selama ini aku berpisah dengan ibuku dan jarang sekali ke Korea, tahun ini aku bisa ke Korea bertepatan dengan libur kerjaku sebagai konsultan bisnis di Jerman maka dari itu aku mengantar ibuku ke pertemuan keluarga ini.” Jelas Suho panjang lebar,”dahaengiya, aku kira aku yang kuper dalam keluarga ini karena gak pernah kenal kamu, ternyata kamunya yang tidak pernah ada di Korea.” Ujar Tiffany sambil mengangguk-anggukkan kepalanya sendiri.”Bangapseumnida, keponakanku.” Jawabnya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.”Ne.” balas Tiffany dijabatnya tangan Suho dengan cepat.

Tiffany POV

Aku tak mengerti, bagaimana bisa dia itu adalah Om-ku bukannya aku seorang yang bodoh tetapi rasanya hati ini tidak mau menerima kenyataan ini, bagaimana hati ini begitu berdebar-debar hanya dengan melihatnya saja.”Eomma, benarkah Suho adalah Om-ku?” tanya Tiffany polos,”Ne,Tiffany-ah kau tak pernah bertemu dengan Suho sebelumnya karena dia dilahirkan disana, sekarang ini dia sungguh keren ya, pekerjaannya tetap, tampan pula.” Cerocos Eommanya, Victoria.”Bolehkah aku meminta no. Handphonenya Eomma? Siapa tahu aku juga bisa melanjutkan S2 ku di Jerman.” Tanya Tiffany,”Ide bagus, ini no SUHO <010-1608-910101>.” Sahut ibunya langsung mengeja no handphone SUHO di HP samsung barunya itu. “Gomawoyo, eomma.” Kata Tiffany.

Tut…tut..tut… Tiffany mencoba memanggil Suho, “argh.. kenapa dia tidak mengangkat telponku.” Pekik Tiffany kesal. “Sudahlah, aku akan langsung bersiap untuk kuliah hari ini.” Tiffany langsung pergi ke kamarnya.

SUHO POV

Dilihat layar handphonenya yang sedari tadi bergetar, “hah.. no siapa ini?” tanya Suho sambil mengerutkan dahinya, pertanda dia bingung, sementara ibunya yang duduk disamping tempat duduk pengemudi hanya bingung melihat tingkah anaknya.”wae?” tanya ibunya.”Anieyo eomma.” Jawabnya singkat. Sesampainya di rumah sakit Suho dengan sigap mendaftarkan ibunya dan mengantarkan ibunya keruangan untuk segera diperiksa.

“Siapa ya ini?” pikirannya melayang memerhatikan no baru dilayar hp nya, dia penasaran… dia membaringkan dirinya dikasur empuknya itu setibanya dia sampai kerumah dari mengantar ibunya ke RS. Suho pun mencoba menelpon kembali nomor tersebut.

Author POV

Sementara di kampus tempat Tiffany berkuliah, dia merasakan getar dari handphonenya, begitu dia melihat itu adalah no Suho dia kaget bercampur senang dan gelisah, apa yang harus dia ucapkan bagaimana kalau Suho menanyakan alasan dia menelpon?. “Yeobosseyo?” jawabnya, “Yeoboseyyo, annyeonghaseyo, nuguseyo?” jawab Suho di telpon,”hmm.. Tiffany imnida.” Jawab Tiffany singkat dan sedikit malu-malu.”Ouh, aku kira ini siapa, tadi kamu menelponku ya? Ada apa ya?” jawab Suho tenang,”Anieyo, geunyang…~, jawab Tiffany,”Geunyang, mwo?” tanya Suho penasaran, “geunyang..,bogoshipeoyo..” jawab Tiffany, “ne?jinjja?hehehe.” Suho menjawabnya terkaget-kaget, semburat senyuman mengembang di wajahnya, bibirnnya menyimpulkan senyuman yang semakin dilihat semakin indah.Ada aura canggung diantara mereka, lalu suara Suho terdengar memecah keheningan,”Nado..”jawabnya pelan. “Ayo kita bertemu,” ajak Tiffany memberanikan diri.”Baiklah..” jawab Suho,”mau bertemu dimana?” tanya Suho, pertanyaan ini membuat Tiffany senang bukan kepalang.”Bagaimana kalau kita nonton? Kebetulan hari ini ada film bagus.” Jawabnya.”baiklah, kalau begitu sms aku dimana bioskopnya, kita bertemu didepan bioskop itu saja. Keurae? Aku harus mengerjakan pekerjaanku dulu kalau begitu. Keutneo!” tutup Suho.

Sejak saat itu Tiffany dan Suho sering jalan bareng, mereka mempunyai hobi yang sama yakni menonton film di bioskop dan mereka selalu menghabiskan waktu bersama dengan menonton film bersama di bioskop. Lambat laun perasaan keduanya berkembang tetapi tetap hanya Tiffany saja yang mengakui perasaannya, dia tidak ingin membohongi perasaannya sendiri. Beberapa bulan kemudian, Suho hilang tanpa kabar sekalinya Suho datang mengabari dia langsung meminta untuk bertemu Tiffany. “Ada apa oppa?” tanya Tiffany dengan dahinya yang berkerut.”Selama ini oppa kemana saja? Apakah ada sesuatu masalah yang tidak bisa diceritakan?” cerocos Tiffany penasaran, sementara orang yang ditanyanya tetap diam tak bergeming, membuat Tiffany semakin bingung dan heran dengan tingkah lakunya yang tidak biasa.”Tiffany…” setelah menunggu 45 menit akhirnya terdengar suara Suho yang lirih. “Maafkan aku, seharusnya kita tidak boleh bersama lagi seperti dulu itu adalah sikapku yang paling egois.” Kata Suho sambil memberikan selembar foto yang berisi foto dirinya bersama dengan wanita lain. “Oppa?maksudnya apa ini?” Tiffany kaget melihat foto tersebut,”Ini foto pra wedding ku, sebenarnya saat aku bertemu denganmu di pertemuan keluarga itu aku sudah bertunangan, tetapi saat itu hubunganku dengan Tiffany sedang buruk. Tiffany adalah tunanganku yang sekarang sedang merintis karirnya di Amerika, namun tahun ini dia akan ke Korea dan menikah denganku.”, “maaf Tiffany-ya,, saat itu aku sedang kesal padanya dan terlalu menikmati kebersamaan denganmu”, ujar Suho. Tak terasa pipi Tiffany saat itu sudah basah oleh airmatanya, airmatanya yang sudah dia tahan dipelupuk matanya saat Suho oppa mulai menjelaskan apa yang terjadi. “lagipula, kita ini saudara aku sudah menganggapmu sebagai dongsaengku.” Lanjut Suho tanpa bisa menatap Tiffany yang sedang terisak menangis sedih.

“Yeppo..” kata eomma,”jinjja eomma?” Kata Tiffany, Tiffany dan ibunya sedang memilih pakaian pengantin. Tetapi hatinya tidak bahagia, dia seakan terpaksa memilih baju pengantin apalagi calon pengantin laki-lakinya malah begitu sibuk rapat dikantornya. “Lay oppa, coba kau pilih salah satu baju pengantinku yang paling kamu sukai, nanti aku kirimkan fotonya ya.” Kata Tiffany ditelpon. Rupanya sejak Suho mengungkapkan dia akan menikah tahun depan dengan Tiffany, Tiffany begitu terpuruk dia terlalu sedih untuk menerima kenyataan bahwa cinta pertamanya itu akan menikah dengan orang lain, karena itulah sejak dia berkenalan dengan Lay dan Lay menyatakan cinta padanya dia menerimanya begitu saja, dia hanya bisa berharap kehadiran Lay bisa menjadi penyembuh lukanya itu, hal inilah yang membuatnya selalu merasa bersalah jika Lay sedang menatapnya penuh sayang.

Suho POV

Ada tukang pos yang menghampiri kotak pos dirumahnya, Suhopun membuka kotak tersebut dna menemukan sebuah undangan.”Undangan pernikahan Tiffany dan Lay.” Lirihnya saat membaca isi dari undangan tersbeut, “aku tak menyangka Tiffany akan memutuskan untuk menikah secepat itu, bahkan mendahuluiku menikah.”ujar Suho sedih. Sebenarnya aku juga sangat mencintai senyum manis yang selalu Tiffany berikan saat bersamaku, jika saja eomma dan keluarga besarku tak melarangku untuk menemuinya aku mungkin takkan menerima keputusan keluargaku untuk melamar Tiffany, juga dengan penyakit kanker paru-paruku ini aku tak bisa menentukan berapa lama lagi aku bisa bernafas dengan tubuh berpenyakit ini, sulit untukku bersikap egois dan membiarkan Tiffany semakin jatuh cinta padaku, pikir Suho. Hatinya sangat sakit, dia tak mengira bahwa Tiffany akan melupakannya secepat itu. Dia mencoba untuk merebahkan badannya di kasur kamarnya itu dan berusaha memejamkan matanya, namun hasilnya nihil. Dia buka handphonenya dan mencari aplikasi pemutar musik, dia teringat akan lagu yang sering dia dengarkan bersama Tiffany di taman, lagu Kiss the Rain

~ I often close my eyes
And I can see you smile
You reach out for my hand
And I’m woken from my dream
Although your heart is mine
Its hollow inside
I never had your love
And I never will
,,~

Saat lagu mulai diputar, akhirnya dia bisa memejamkan matanya dan terbawa kedalam alam mimpi, meski takkan bisa senyenyak kemarin, sebelum undangan dari Tiffany itu tiba dirumahnya.

Tiffany POV

Aku pikir aku bisa menikah denganmu Suho oppa, batin Tiffany. Airmatapun terjatuh tak terbendung lagi saat Tiffany sedang menyendiri di kamarnya, dia belum bisa melupakan Suho. “Tiffany,,, kau dimana?” teriak Lay, “ne oppa, yeogiyo..” jawabku, kuhapus cepat airmata yang mengalir dipipiku tadi.”Kupikir kau sedang apa, sini deh aku mau memberikan sesuatu.” Kata Lay,”ne oppa, aku kesana sekarang, kau diruang makan kan?”,”ne” jawab Lay. Meski aku belum bisa melupakan dia, tapi aku sudah berjanji untuk mencintai Lay oppa dengan segenap hatiku, aku tak boleh goyah hatiku tak boleh goyah, inilah yang terbaik bagi kita berdua juga bagi keluarga besar kita, kata Tiffany pada dirinya sendiri, lalu dia berjalan ke ruang meja yang berada di lantai bawah.

Lay POV

“Ini untukmu”. Kataku pada Tiffany, tak lama setelah aku melihat wajah Tiffany menyembul dibalik tangga. Kalung berliontinkan sepasang sayap malaikat ini pasti akan sangat cocok jika sudah dipakai Tiffany. Batinku. “Gomawo oppa, ini apa?” tanya Tiffany kepadaku, “Ini hadiahku untukmu, sekaligus permintaan maafku yang membebankanmu seluruh persiapan pernikahan kita, kupikir kau akan sangat kelelahan, smoga ini tidak terlalu mewah untukmu, hehe kataku sambil bercanda, mencoba mencairkan suasana. Kulihat Tiffany membuka kado dariku itu, “Ini kan bukan hari natal,oppa,” keluh Tiffany sambil terlihat susah membuka kadonya itu, tetapi setelah dia melihat isi dari kadoku itu kumelihat semburat wajahnya memerah, dia tersenyum dan terlihat senang. Lalu dia memintaku untuk memasangkan kalung itu untuknya,”oppa, kalung ini sangat cantik aku ingin langsung memakainya bantu aku memakainya,” kata Tiffany begitu gembiranya tanpa aku pinta dia langsung mengibaskan rambut yang menghalangi leher untukku pasangkan kalung tersebut. Romantis sekali, pikirku akupun ikut bahagia melihat wanita yang kucintai bahagia. “Oppa masih harus segera menyelesaikan pekerjaan dikantor, aku kesini hanya karena ingin segera melihatmu memakainya sayangku” kataku sok romantis, hehe.”ne oppa, hati-hati dijalannya mau sekalian kukemas makananmu untuk dikantor gak?” kata Tiffany, “Gak usah repot-repot sayang, diseberang kantorku kan ada resto cepat saji, aku cukup makan disana aja lagian kasihan teman-teman staffku yang menunggu dikantor takut aku kelamaan kalau nunggu makananmu,” sahutku, lalu akupun lekas pergi menggunakan taksi karena mobilku kuparkirkan di kantor. Aku tidak langsung kekantor, karena aku ingin membeli beberapa makanan sekalian untuk bawahanku yang sedang lembur juga, seketika makanan pun siap setelah kubayar aku langsung bersiap membukakan payungku karena saat itu hari itu hujan tiada henti. Saat aku menyebrang tiba-tiba aku melihat ada mobil dengan kecepatan tinggi sedang melaju ke arah, cekiiiit…. mobil mencoba untuk mengerem dan menghindari tabrakan yang dalam beberaa detik sudah terjadi, kepalaku terasa sakit karena terantuk trotoar saat tubuhku terpental jauh karena mengenai kaca depan mobil, kira-kira satu meter diriku terpental saat itu kulangsung tak ingat apa-apa lagi, gelap…

Tiffany POV..

Kring,,kring, suara telepon rumah kudengar berbunyi, malam ini eomma, appa dan Sehun sedang menginap dirumah eomoni, mempersiapkan pernikahan kami yang segera dilaksanakan dalam 4 bulan ini. Dari siapa ya tengah malam begini, pikirku mulai khawatir. “ Selamat malam,” dari ujung telpon terdengar suara perempuan, “ne, selamat malam, ada apa?” sahutku cepat,” kami dari pihak rumah sakit bahwa saudara Xi Lay telah mengalami kecelakaan, saat ini kondisinya sedang kritits dan kami harapkan anda bisa langsung ke Rumah Sakit Seoul untuk menandatangai surat persetujuan operasi,,, halo nona?” seketika tubuhku limbung untuk sesaat mendengar kabar itu, tetapi akupun langsung sadarkan diri aku mencoba menahan kesedihan di diriku ini,”Ne, saya akan bergegeas kesana, terima kasih.”jawabku dengan suara terbata-bata dan agak parau menahan tangis ini. karena Oppa membutuhkanku.. akupun bersiap dan bergegas untuk memberhentikan taksi didepan apartemenku. Tangis pun tak terbendung, di dalam taksi aku berdoa agar tak terjadi apa-apa pada oppaku, karena aku mulai mencintainya dan ingin membalas cintanya yang begitu besar padaku selama ini.

Suho POV

Baru saja aku keluar dari toserba dekat kantorku, aku mendengar adanya kecelakaan. Saat aku melihat kedalam kerumunan, aku melihat bahwa korban kecelakaan itu adalah Lay meski belum diperkenalkan Tiffany secara resmi tetapi sebenarnya aku dan Lay pernah bertemu sekali, saat itu Lay memohon restu untuk menikahi Tiffany dan memintaku jangan mendekati Tiffany lagi. Akupun langsung menelpon 119 menelpon rumah sakit untuk membawa ambulans, setibanya dirumah sakit aku langsung menanyakan keadaannya, rupanya pihak rumah sakit tidak bisa menghubungi pihak keluarganya, akupun langsung memberikan kontak rumah Tiffany agar secepatnya Tiffany kesini. Kudengar jantung Lay bermasalah akibat kecelakaan dan benturan yang dia alami, dia membutuhkan trasnplantasi jantung dengan segera, meski aku bukan saudara nya aku ingin mencoba yang terbaik lagipula hidupku sudah tidak akan lama lagi dengan penyakit kanker pada paru-paruku ini, juga tidak berguna lagi tanpa adanya Tiffany dalam hidupku, kuputuskan untuk mencoba tes kecocokan jantung antara Lay dan aku, ada harapan, 48% jantungku dalam kondisi baik untuk segera kudonorkan. Dengan sadar, kutandatangani surat persetujuan untuk melakukan operasi transplantasi jantungku untuk kuberikan kepada Lay dengan segera, dengan syarat aku meminta untuk suster dan pihak rumah sakit tidak memberitahukan ini kepada pihak keluarga. Saat sedang menunggu di lobby rumah sakit, tiba-tiba Ckrek…suara blitz dari camera sedang menangkap foto terakhir dari Suho, ini akan menjadi kado paling indah untuknya, kataku sambil tersenyum membayangkannya.

Author POV

“Tuan Xi Lay masih belum sadarkan diri, saat ini jantungnya robek dan harus segera melakukan trasnplantasi jantung”, pihak rumah sakit mencoba menjelaskan keadaan Lay pada Tiffany,Tiffany mendengarkannya dengan serius dan masih dalam tangisannya dia bertanya, “Lalu, bagaimana prosedur operasinya aku ingin operasi bisa sesegera mungkin dilakukan, mana surat persetujuan yang harus kutandatangani”,”Sebenarnya akan sulit untuk mencari pendonor jantung jika mendadak seperti ini, tetapi sepertinya Tuan Xi sangatlah beruntung, dia mungkin menyelamatkan dunia di masa lalunya, saat dia tiba dirumah sakit ini kami langsung mendapat kabar bahwa ada pendonor yang bersedia mendonorkan jantungnya, kebetulan hidupnya takkan bertahan lama lagi karena penyakitnya yang serius, sehingga dia memutuskan untuk mendonorkannya.”,”Syukurlah, lalu kapan operasi bisa dilaksanakan pastinya?” tanya Tiffany, “Kami akan memantau keadaan Tuan Lay saat ini, jika besok keadaannya sudah agak stabil untuk kami lakukan operasi, tentu saja kami akan sesegera mungkin membawanya ke meja operasi, ini surat persetujuan yang harus anda tandatangani Nyonya Xi.” Kata suster itu. Mendengar bagaimana suster itu memanggilnya Nyonya Xi, membuat Tiffany semakin bersedih, hatinya begitu pilu dan dia mencoba menguatkan dirinya dengan memegang kalung pemberian Lay sebagai jimat kebruntungannya dan doanya agar Lay segera sadar.

Waktu berlalu tak terasa pagi hari sudah menyambut Tiffany yang tertidur di koridor rumah sakit, keluarganya dan keluarga Lay sudah berbondong-bondong mendatangi rumah sakit sejak tadi malam, tetapi mereka kembali kerumah masing-masing karena masih banyak urusan yang harus dikerjakan dan memercayakan semuanya pada Tiffany yang selalu setia menunggui Lay untuk sadar. Lalu susterpun menghampirinya, “Nyonya, kondisi Tuan Xi sudah mulai stabil untuk dioperasi, sejam lagi kami akan segera mengoperasinya.” Kata suster tersbeut, “ne,” jawab Tiffany yang langsung mempersiapkan segala keperluan Lay untuk segera masuk ruang operasi.Sementara diruangan pendonor Suho sedang mencurhakan isi hatinya kedalam diarynya, dia ceritakan kembali kejadian saat dia mulai bersiap untuk mendonorkan jantungnya, setelah suster memanggilnya Suho sudah bersiap, dia sudah menyiapkan segala sesuatunya, dia meninggalkan surat wasiat serta penjelasan kenapa dia mendonorkan jantungnya tanpa sepengetahuan keluarganya, surat dia tinggalkan untuk eomma, appanya juga untuk Tiffany, calon istrinya yang tidak akan pernah menjadi istrinya. Terakhir dia meninggalkan record doll dan selembar foto terakhirnya yang sedang tersenyum yang dia simpan dalam sebuah kotak kado, dan dia menuliskan surat untuk adiknya agar kado ini dia kirimkan saat perayaan pernikahan Tiffany. “ya, inilah yang terbaik bagi kita, meski aku tak bisa mendampingimu sebagai suamimu kelak, setidaknya jantungku ada pada lelaki yang akan menikahimu nanti Tiffany-ya,” kata Suho. Lalu susterpun menggiringnya ke ruang operasi dimana ada Lay, jadi ruangan itu hanya terpisah oleh sekat.

“Selamat jalan Tiffany, semoga kau bahagia dengan jantungku.” Ucap Suho untuk yang terakhir kalinya.

-Operasi masih berlangsung-

Tiffany POV

Mengapa disaat aku mulai mencintai seseorang Kau selalu berencana untuk mengambilnya dariku Tuhan, cukup dengan skenario cintaku dan Suho oppa mungkin sudah jalan takdir kami, tetap,.., tetapi, kenapa engkau mengujiku lagi dengan musibah yang menimpa lelaki ini Tuhan? Aku mulai mencintainya…. batin Tiffany.

“Tuhan, tolong selamatkan orang yang sangat kucintai ini..”

Kulihat ruangan operasi sudah terbuka dan aku langsung menghampiri dokter ahli bedah, dia mengabarkan bahwa operasi berhasil hal ini dikarenakan tingkat kecocokannya lumayan tinggi.

Lay POV

“Tiffany..” kata pertama yang bisa aku ucapkan saat pertama kali aku membukakan mataku kembali,”euh, ugh,,uh,,” dadaku sangat sakit, “oppa?” sahut Tiffany sambil membukakan matanya perlahan tadinya dia masih tertidur disampingku sambil memegang tanganku,”Oppa sudah sadar, sebentar aku panggilkan suster.” Kata Tiffany sambil memanggil suster,”syukurlah oppa sudah sadar.” Lirih Tiffany pelan saat dia meninggalkan ruangan.

Apa yang terjadi, ? aku dirumah sakit, aku tidak ingat kapan aku dibawa kesini, sejak aku membentur mobil itu, eoh.. oh iya.. terakhir kali aku mengingatnya adalah saat kecelakaan itu terjadi, lalu selanjutnya apa yang terjadi, batinku… seluruh tubuhku masih terasa sakit dan terasa ngilu dimana-mana.

Dokterpun datang, dia memeriksa mataku, dan seluruh kondisi badanku. “Semuanya berjalan baik, dan kembali normal. Dalam seminggu ini tuan Xi bisa pulang dan menjalani rawat jalan serta bisa beristirahat dirumah.” Ujar dokter. “Oh, baik dok, terima kasih banyak.” Jawab Tiffany.

“Tiffany, aku dirumah sakit? Berapa lama aku tak sadarkan diri?terakhir kali yang aku ingat adalah ketika malam itu tiba-tiba mobil melaju kencang kearahku yang sedang menyebrangi jalan.” tanyaku,”hmm, kira-kira sudah semingguan oppa, kau membuatku sungguh khawatir.” Jawab Tiffany sambil meneteskan air matanya,”uljima..”kataku,”ini airmata bahagia oppa, akhirnya oppa bisa membukakan mata lagi, asal oppa tau, jantung oppa sampai rusak dan harus ditransplantasi jantung.” Kata Tiffany,”hah?” jawabku kaget, “setelah operasi selama 20 jam, akhirnya oppa masih belum sadarkan diri dan baru sadar hari ini, semua keluarga besar sangat mengkhawatirkanmu, kami berjaga bergantian selama seminggu ini, ah.. aku harus segera mengabarkan kepada eomoni bahwa oppa sudah sadar, sebentar ya.” Kata Tiffany. Siapa yang mendonorkan jantungnya ini padaku, aku tahu takkan smeudah itu bisa menemukan pendonor jantung apalagi bisa langsung mencocokkan jantungnya dengan jantungku, pikiranku melayang menebak-nebak peristiwa apa ynag sebenarnya sedang terjadi.

Author POV

Seminggu kemudian, Lay sudah bisa keluar dari rumah sakit dan hanya harus menjalani rawat jalan, Tiffany ingin membereskan masalah administrasinya ke resepsionis, sekaligus dia ingin mengetahui identitas pendonor yang dermawan itu, tetapi sesuai dengan syarat yang diajukan Suho, pihak rumah sakit enggan untuk memberitahunya, Tiffany pun menyerah untuk mengetahui siapa pendonor itu, yang penting Lay sudah mulai pulih batinnya.

Saat itu keluarga Suho mulai resah, selama dua minggu ini belum ada kabar dari putranya, karena sesuai wasiat dari Suho pihak rumah sakit baru boleh mengirimkan surat-surat dan barang peninggalannya termasuk diarynya setelah dua minggu berlalu juga tanpa harus tahu identitas orang yang dia donorkan jantungnya.

Beras sudah menjadi bubur, begitulah menurut keluarga Suho yang mengetahui hal yang terjadi pada anaknya dua minggu kemudian, kesedihan menyelimuti keluarga tersebut. Meski perbuatan mendonor untuk orang yang membutuhkan merupakan hal yang mulia yang bisa dilakukan sebelum nyawanya terenggut, tetap saja keluarganya sangat menyayangkan hal itu.

Tibalah waktunya perayaan pernikahan Tiffany dan Lay yang sudah pulih meski belum sempurna, setelah mereka mengucapkan ikrar setia pernikahan, resepsi pernikahan pun dilangsungkan secara sederhana, saat itulah adik Suho mengirimkan kado hyungnya itu, “Noona, ini kado dari Suho Hyung.” Kata D.O singkat, menahan airmatanya mengingat almarhum hyungnya yang sudah tiada itu.”ne, gomawo”, jawab Tiffany agak bingung, dia merasa sudah mengirimkan undangan pernikahannya, tapi kenapa Suho tidak hadir, mungkin dia mengejar Tiffany ke Amerika, pikirnya. Saat Tiffany membuka kadonya, dia melihat tiga barang, yang pertama foto Suho saat tersenyum, kartu ucapan, dan boneka yang merekam suara. Dalam kartu ucapan terlihat tulisan tangan Suho, ~semoga bahagia selalu~

Lalu perhatian Tiffany pun beralih pada boneka kelinci itu, Suho tau bahwa dirinya sangat menyukai kelinci, tetapi karena perasaannya untuk Suho mulai hilang dia tidak merasa ingin untuk mendengarkan isi dari rekaman suara yang dibuat oleh Suho. Boneka itupun dia simpan, tanpa dia sentuh tombol playnya.

Tiffany dan Lay meski disibukkan oleh pekerjaan masing-masing rupanya masih sempat untuk berbulan madu ke Paris, kota romantis ini adalah impian dari Lay yang ingin mengajak kekasih sejatinya dan memadu cinta dengannya disana dengan pemandangan Paris yang indah. Enam bulan berlalu, kehidupan bahagia Tiffany pun berlangsung tiada henti, ada saatnya pertemuan keluarga besarnya moment saat dia pertama kali bertemu dengan Suho oppa. Sesuatu yang berbeda saat ini adalah dia datang ke pertemuan itu dengan membawa nampyeonnya Lay, sudah lama dia tidak bertemu dengan keluarga Suho yang merupakan keluarga jauhnya itu, akhirnya dia bertemu dengan eommanya Suho oppa. Saat dia akan menyapanya, tiba-tiba eommanya itu sudah mendahuluinya menghampiri Tiffany,”Omona, Tiffany kau sudah menikah kau terlihat bahagia, mungkin jika anakku masih hidup dia juga akan berbahagia dnegan Tiffany,” ujarnya setengah terisak, dan kemudian dia menangis pilu. Apa maksudnya, tanya Tiffany dalam hati. Lalu, dia mencari sosok D.O, “D.O-ya, mana Suho oppa?” tanyanya, “huh? Noona ini sedang bercanda ya,” jawab D.O, “Aniya, dimana dia?” tanya Tiffany lagi, “Noona beneran belum tahu, bukannya saat pernikahan noona aku sudah memberikan kado Suho hyung,” jawab D.O tidak jelas.”Ya, lalu kenapa?” jawab Tiffany, “Hah, aneh.. aku kira hyung juga memberikan surat perpisahan untukmu. Dia sudah meninggal Noona.” Kata D.O, ‘huh? Jangan bercanda kamu,” kata Tiffany tak percaya,”ne, noona, Suho sudah meninggal.” Kata D.O lagi mencoba membenarkan lagi. Tiffany pun berlalri ke balkon apartmennya.

Tiffany POV

Kenapa dia tidak memberitahuku, kenapa dia meninggal. Setidak pantaskah aku untuk mengetahuinya, setidak berharga itukah diriku dan cintaku yang dulu kepadanya? Tiffany terdiam dalam tangisnya dia tidak mau Lay melihatnya seperti ini.

Karena pertemuan diadakan di rumah Suho, Tiffany ingin sedikit mengenang Suho, dia pun ke kamar Cinta pertamanya itu dan saat dia mencoba mengambil album foto yang tersusun rapi dilemarinya, dia melihat sebuah diary, diary Suho yang menjelaskan mengapa cinta mereka dulu tidak bisa bersatu sama sekali, dan juga alasan dia meninggal. Akupun teringat akan kado pernikahan darinya, sebuah boneka rekam yang berbentuk kelinci. Aku menjadi sangat merindukanmu Suho oppa, lirih Tiffany dalam tangisnya.

~“Akan kujaga baik jantungmu ini oppa”~

~Sedu sedan ini. Terasa sadis sebab yang kau tinggalkan. Melelapkan getarku dan tanggalkan harapan hilang arah tujuan~

-THE END-

7 thoughts on “[Freelance] Angels Wing

  1. feel romance sad nya dapet bangettt thorr.. Yampunn ini keren banget. kasihan di suhonya yg harus meninggal demi kebahagiaan tiffany,…

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s