Flawless Step by Step – Step 04

calm-happy

Title                                                       : Flawless Step By Step – Step 04

Author                                                  : tantriprtstht

Length                                                  : chapter (Chapter 01-03 dulu!)

Genre                                                   : Romance & Friendship

Rating                                                   : T (Teen)

Main cast                                             : Taeyeon (SNSD) | SuHo (EXO) | Kai (EXO) | Kyuhyun (SuJu)

Desclaimer                                          : FF ini asli dan murni seratus persen dari otak author. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik saya melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka.

Lampu tiba-tiba padam dan Kyuhyun menciumku singkat. Aku tidak beraksi apa-apa melainkan hanya tersenyum. Lampu dinyalakan kembali dan sudah ada MC yang berdiri di dekat kami.

“Inilah bintang utama hari ini, Nona Kim Taeyeon!” ucap MC lalu para tamu langsung bertepuk tangan riuh. “Serta hari ini juga hari pertunangan calon pewaris Vello Entertaiment, Cho Kyuhyun dengan Kim Taeyeon!!”

Seluruh tamu langsung kaget. Ada yang memotret kami, ada yang berbisik-bisik juga. Ada yang masih bertepuk tangan sambil tersenyum padaku. Tanpa sadar, Kyuhyun langsung berlutut di hadapanku dengan sebuah kotak kecil yang isinya apalagi kalau bukan sebuah cincin.

“Terimalah cincin ini di jarimu yang indah itu… Agar dunia tau kalau kamu adalah milikku” ucap Kyuhyun sambil tersenyum.

Tiba-tiba aku merasa ditarik oleh seseorang yang sangat kuat dan aku langsung berpikir kalau dia seorang namja. Kuperhatikan 2 orang namja yang sekarang berada di depanku dengan sebuah tongkat panjang.

“Suho! Kai!”

Suho berdiri tepat di depanku seperti ingin melindungiku. Dia memegang sebuah tongkat yang sebenarnya akan cukup sakit kalau dipakai untuk memukul orang.

Di sisi lain, Kai berdiri di sampingku, menggenggam tangan kananku sangat erat. Dan entah kenapa Suho juga ikut-ikutan menggenggam tanganku yang sebelah Kiri.

Kai menunjukkan tongkatnya pada Kyuhyun. “Taeyeon…. Tidak akan kami serahkan!”

“Apa maksud kalian, Suho?! Kai?!” seru Appa Kyuhyun dari kejauhan.

“Taeyeon baru saja debut, tapi sudah diberi status bertunangan! Artinya, dia tidak akan bebas untuk menjalani pekerjaan dan itu tidak akan membuat dia terkenal dan makin professional!” teriak Kai. “Terlebih pasangannya adalah calon pewaris Vello Entertaiment, Cho Kyuhyun!!”

“Kau tidak punya hak untuk menentang, Kai! Suho!” seru Appa Kyuhyun lagi dengan kesal.

“Kenapa kalian melakukan hal seperti ini?!” tanyaku.

Suho mendekat padaku dan memengang rambutku lembut. Dia memasangkan jepit yang ternyata jepit kupu-kupu yang dia rebut dariku kemarin begitu aku menyentuhnya sebentar. Dia mendekatkan mulutnya ke telingaku lalu berbisik, “Ayo, kita kabur dari sini”

Suho dan Kai langsung menarikku dan mengajakku pergi ke luar hall. Sudah siap sebuah taxi. Kai buru-buru menyuruhku masuk.

“Ke mana saja deh, yang penting aman!” seru Kai.

“Tuan, jangan membuat saya bingung! Cepat bilang mau ke mana!” ucap supir taxi yang kesal.

“Ke rumahku” ucap Suho. “Distrik mokpo… Cepat!”

Taxi melaju dengan cukup kencang. Kai menyentuh bajuku yang sangat dekat dengan dadaku.

“Ya! Mau apa kau!” bentakku.

“Ah kamu berisik banget!” Kai seperti melepaskan sebuah kancing. Dia membuka jendela dan langsung membuang benda itu. “Itu alat pelacak, agar posisi kita tidak ketahuan”

“Mian, kamu mengejutkan sekali!” seruku dan tiba-tiba Kai langsung bersender di bahuku. “Mwo?!”

“Aku ngantuk sekali, biarkan aku bersandar sampai tiba di rumah Suho…” dengan santainya, dia tidur di bahuku.

DEG.DEG. Nafasku tercekat. Baru kali ini ada cowok yang meletakkan kepalanya di bahuku. Terlebih, kenapa orang itu harus Kai?

“Zzzzz….”

“Ah, tidurnya cepat sekali” gumamku lalu menoleh pada Suho. “Kenapa… Kalian berdua mengajakku kabur?”

Suho menunjuk pada Kai seperti ingin mengatakan kalau alasannya sama dengan alasan yang diucapkan Kai saat pesta. Aku mengangguk mengerti.

“Sebenarnya… Sudah lama aku ingin bilang minta maaf….” Aku langsung melepas jepit kupu-kupu yang dipasangkan Suho. “Setelah kupikir-pikir, ini pasti benda yang berharga. Karena itu, kukembalikan”

Suho mengambil jepit itu dari tanganku dan memasangnya lagi di rambutku. Dia berbisik sedikit.

“Untukmu”

DEG. Suaranya kembali. Bukan bentakan lagi namun suara dia yang sangat lembut. Sangat beda dengan suara orang yang kukenal selama ini. Indah dan memikat, dan mungkin itulah yang membuatku suka padanya.

“Kita sudah sampai” ucap supir taxi.

Suho meninggalkanku dan Kai di mobil. Dia pasti ingin mengambil uang untuk membayar taxi…

“Kai, bangun…. Kita sudah sampai” ucapku menggoyangkan kepala Kai.

“Malas, ah… Bangunkan aku 5 menit lagi….” Keluh Kai membuatku makin keras menggoyangkan kepalanya.

“Aish, bangunlah… Jangan tidur di ta—“

Dengan secepat kilat, Kai langsung mencium bibirku. Dari bibirnya, aku langsung tau kalau dia sedang demam. Dia terus mendorongku maju padahal aku ingin segera mengakhiri ciuman kami. Aku tidak percaya ini… Lengkap sudah. Aku sudah dicium tiga cowok yang kukenal dalam waktu yang berdekatan.

Kai melepas ciuman kami lalu memandangku tajam.

“Syukurlah… Kamu baik-baik saja” Ucap Kai terbata-bata lalu kembali tidur.

Suho membuka pintu taxi membuatku merasa tertolong.

“Bantu aku menggotong Kai ke dalam…. Sepertinya dia demam…!”

Suho mengangguk dan segera memberikan supir taxi ongkos antar. Suho membantuku mengangkat Kai dan membaringkan Kai ke sofa.

“Gomawo…” aku langsung meletakkan tanganku di dahi Kai. “Demamnya sangat tinggi…. Apa kau punya obat?”

Suho menggeleng pelan namun Suho segera mengambil dompetnya dan mengambil helm motornya. Kelihatannya, dia ingin membeli obat.

Kini tinggal aku dan Kai di rumah Suho. Kuperhatikan Kai yang nafasnya tidak teratur, wajahnya merah dan badannya berkeringat. Aku harus melakukan sesuatu agar Kai tidak makin menderita. Aku ke dapur dan mencari baskom.

“Agak lancang sih, tapi apa boleh buat!” gumamku lalu mengisi baskom yang kutemukan dengan air hangat. “Handuk….”

Aku segera memasuki kamar Suho. Aku membuka lemarinya dan menemukan sebuah handuk kecil.

DAK!

“Aw!” keluhku.

Aku menyenggol meja dan membuat foto-foto di meja Suho berserakan. Kuperhatikan foto itu satu per satu. Foto seorang gadis yang sangat cantik.

“Siapa… Gadis ini….?” Gumamku.

“Ng….”

DEG. Itu suara Kai. Aku segera meletakkan foto itu di tempat semula dan menuju ke sofa tempat Kai berbaring.

“Ada Apa, Kai?! Gwechanna?!” tanyaku lalu Kai mengangguk. Dia masih tertidur, tapi masih mengangguk. Dia pasti sangat menderita. “Tenang saja…!”

Aku segera mencelupkan handuk itu ke dalam air hangat, memerasnya kemudian melipatnya dan meletakkannya di dahi Kai.

“Sudah…. Kamu tenang lah” ucapku pada Kai lalu Kai mengangguk.

“Apa kamu… Baik-baik saja?” tanya Kai pelan.

“Ne… Aku baik-baik saja…” jawabku. “Tadi di taxi… Kenapa kamu—“

“Aku akan cemas… Kalau kamu tidak baik-baik saja… Saat pesta aku dan Suho langsung tau… perasaanmu. Pasti sekecil apapun dalam hatimu, masih ada perasaan tidak ingin bertunangan” jelas Kai.

“Kenapa?!” seruku. “Kenapa kau selalu peduli padaku?!”

“Zzzzz” Kai tertidur lagi.

Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dipikirkan Kai. Padahal aku ini hanya perempuan yang sama sekali bukan tipenya dan selalu berkata dengan nada kesal padanya…. Tapi kenapa dia tetap peduli padaku? Aku tidak mengerti… Sama sekali tidak mengerti….

KRIET….

Suho datang dengan membawa obat untuk Kai. Dia lalu mengajakku ke sebuah kamar. Seperti dia ingin berkata kalau aku boleh tidur di situ malam ini tapi aku menggeleng.

“Malam ini… Aku ingin menjaga Kai” ucapku lalu Suho mengangguk dan memasuki kamarnya.

Aku kembali ke sofa tempat Kai tertidur dengan pulas. Kuganti lagi handuk yang ada di dahinya dengan yang lebih hangat. Tak terasa air mataku menetes. Pentingkah sosokku baginya? Kai selalu mendukungku tapi aku tak melakukan apa-apa untuknya.

“Kenapa… Aku harus bingung saat menghadapimu?” gumamku sambil mengusap air mataku.

Kuganti sekali lagi handuknya. Kudekatkan wajahku ke hadapannya. Tampan. Meski wajahnya merah dan berkeringat karena harus menahan penderitaan yang dia alami. Kulihat obat yang dibeli Suho. Ini kapsul dan aku harus meminumkan padanya.

“Kai…” aku menggoyangkan tubuhnya. “Kamu harus minum obat…”

Kai tidak bereaksi apa-apa, membuatku semakin bingung harus melakukan apa. “Kai… Bangunlah sebentar, kamu harus minum obat…”

Aku segera mengambil gelas dan air dari dapur. Kubaca dosis yang diatur di belakang kemasan obat itu. Ternyata aku harus mengukur seberapa tinggi suhu tubuh Kai terlebih dahulu.

Aku mengambil thermometer yang terletak di laci TV Suho. Rasanya lancang sekali, tapi aku tidak punya pilihan.

“Mianhae, Kai…” aku melepas jas yang dipakainya. Kenapa aku tidak sadar sebelumnya kalau jas pesta sangatlah tebal? Aku memang bodoh. “Mwo?! 39,8 derajat?!”

Aku membaca sekali lagi dosis yang diatur. 1 kapsul untuk 38 derajat ke atas.

“Kai, bangunlah….” Meski aku menggoyangkan tubuhnya lagi, tapi Kai sama sekali tidak menjawabku.

Aku mengambil gelas yang berisi air dan meminum kapsul itu. Kudekatkan wajahku ke wajahnya dan menciumnya. Hanya ini satu-satunya cara untuk meminumkan obat padanya.

“Uhuk….!”

Aku segera mengelus dadanya yang bidang agar nafasnya teratur. Aku tak percaya aku melakukan ini. Wajahku bersemu merah, aku tak berani melihat Kai.

KRING~

“Ne, Annyeong?” jawabku pada orang yang meneleponku.

“Taeyeon-ssi, ini aku Kyuhyun. Kamu sekarang di mana?” tanya Kyuhyun membuatku kaget.

“Sekarang….. Aku—“

“Cepatlah kembali ke rumah. Kita harus bicara” ucap Kyuhyun dengan nada serius.

“Ne,aku akan segera ke sana” jawabku lalu mematikan HPku.

Aku menatap Kai yang sedang tertidur pulas. Nafasnya sudah kembali teratur. Kurasa dia lebih baik dari sebelumnya.

Aku mengambil sebuah kertas yang ada di meja ruang tamu Suho dan menulis pesan untuk Kai. Dan sebelum pergi, aku mengganti sekali lagi handuk di dahinya.

‘Obat sudah kuminumkan, istirahatlah yang cukup. –Taeyeon-‘

CKLEK!

Aku menutup pintu rumah Suho dengan pelan-pelan. Untunglah Suho memakai kunci otomatis, jadi aku tak perlu membangunkan Suho hanya untuk mengunci pintunya.

*

Taxi berhenti di depan tempat tinggalku. Aku membayarnya dengan uang yang aku punya, untunglah karena dia kaget aku berhenti di rumah keluarga Cho, dia bilang aku boleh membayar seadanya. Rasanya aku jadi merasa bersalah karena aku telah kabur dari pesta besar yang diselenggarakan orang terhormat.

“Annyeong….” Aku membuka pintu dan ternyata Kyuhyun sudah duduk di kursi. “Kyuhyun-ssi….”

“Sudah kutunggu. Duduklah” aku segera duduk di depan Kyuhyun. Aku berkeringat padahal suhu ruangan ini bisa dibilang cukup dingin. Tiba-tiba Kyuhyun maju ke hadapanku membuatku sangat takut tapi dia malah memelukku sangat erat. “Mian… Kalau sudah membuatmu sangat bingung….”

“Gwechanna, Kyuhyun-ssi….” Jawabku sambil balas memeluknya.

“Soal pesta tadi, aku bilang kalau tadi hanya akting untuk memperkenalkan kemampuan aktingmu pada semua orang dan untunglah Appa percaya” lanjut Kyuhyun. “Pertunangan kita akan ditunda”

DEG. Bukan ‘ditunda’ yang ingin kudengar, melainkan ‘dibatalkan’. Ternyata Kyuhyun masih baik padaku meski aku sudah berbuat jahat padanya.

“Besok aku akan pergi menemani Appa untuk urusan pekerjaan” jelas Kyuhyun setelah pelukan kami terlepas. “Kamu baik-baik saja kan sekolah dan sendirian di rumah?”

“Ne…. Jangan cemaskan aku, urusan pekerjaan lebih penting” ucapku lalu Kyuhyun tersenyum dan menciumku singkat.

“Aku tidur duluan, ya…. Taeyeon” balas Kyuhyun. “Oh iya, Kai di mana?”

“Ah, Kai…. Dia… Tidur di rumah Suho. Mungkin besok aku akan bertemu dengannya di sekolah” jawabku jujur.

“Arasseo, kalau begitu selamat tidur ya” ucap Kyuhyun lalu memasuki kamarnya.

Tidak ada nama orang yang terbayang di pikiranku selain Kyuhyun, Suho, dan Kai. Entah kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkan mereka bertiga. Aku memasuki kamar, membaringkan tubuhku ke pulau kapuk yang sebelumnya bergambar buzz light year tapi karena Kai sudah pindah ke kamar Kyuhyun, jadinya gambar Cinnamon Roll.

“What should I do?”

*

“Annyeong, Taeyeon!” sapa Sunny begitu aku memasuki kelas.

“Annyeong….” Jawabku yang masih lemas karena semalam aku kurang tidur.

“Kemarin aku menghadiri pesta debutmu…. Sandiwara yang sangat bagus!” puji Sunny membuat wajahku bersemu merah. “Waeyo, Taeyeon-ssi?”

“Ani, tidak ada apa-apa….” Ucapku sambil tersenyum.

Aku meletakkan tasku di kursiku. Kupandangi bangku sebelah. Kai tidak ada. Aku pikir dia akan berangkat dari rumah Suho dan sudah tiba sekarang…. Tapi nyatanya tidak.

“Annyeong” sapa seseorang sambil mengusap kepalaku. Kai.

“Annyeong…..” sapaku balik dan dia duduk di sebelahku. “Sudah baikan?”

“Ne, gomawo….” Ucap Kai sambil tersenyum seolah dia tidak tau apa yang terjadi kemarin. “Nanti mau pulang bareng?”

“Ne!” jawabku semangat lalu mencari Suho. Ternyata dia juga sudah datang.

DEG. Aku ketahuan mencuri pandang ke dia. Aish, aku malu sekali…. Aku berusaha tidak melihat ke Suho, tapi rasanya sulit sekali. Tapi saat kusadari ada yang aneh dengan Suho. Karena dia tiba-tiba tersenyum padaku membuatku sangat… Gugup….

Aku melihat layar HPku. Ternyata banyak sekali pesan dari Yoona. Tapi pesan terbarunya kuterima barusan.

Yoona                   : Taeyeon-ssi, sandiwara kemarin membuatku sangat berdebar!!

Taeyeon               : Gomawo, Yoona… Sudah kau beritahu pada Eomma?

Yoona                   : Tentu saja sudah!

Taeyeon               : Apa Eomma sudah kembali dari Paris?

Yoona                   : Belum, katanya ingin keliling Eropa, jadi sekarang Eommamu lagi di Roma~

Taeyeon               : Jinjja? Kalau begitu aku titip salam pada Eomma….

Yoona                   : Sip… Oh iya apa Taeyeon tidak sekolah? Kenapa SMS-an saat sekolah begini?

Taeyeon               : Oh iya, aku lupa… Kalau begitu aku pelajaran dulu… Annyeong!

Yoona                   : Ne, Fighting!

Itulah akhir pembicaraanku dengan Yoona. Yoona pasti kesepian sekali….. Sekali-kali aku harus mengunjungi Yoona….

*

Aku dan Kai menelusuri jalan pulang bersama-sama. Ternyata Kai mempunyai hobi jalan kaki karena itu sengaja kami tidak pulang pakai taxi.

“Kai tau rumah keluarga Cho yang ketiga?” tanyaku lalu Kai berpikir sejenak.

“Ne, aku tau. Waeyo?” tanya Kai lalu aku menunjukkan sebuah bingkisan.

“Ini… Hadiah untuk Eomma. Meski Eomma tidak di Seoul, kupikir kalau kutinggalkan di kotak pos, masih tidak apa-apa….” Jelasku malu-malu.

“Aku mengerti. Aku akan menemanimu ke sana” jawab Kai sambil tersenyum.

Kai mengantarku ke rumah ketiga keluarga Cho. Ternyata tidak kalah besar dengan rumah kedua keluarga Cho. Meski sudah diberi rumah sebesar ini, kenapa Eomma malah jalan-jalan, sih?

“Sip!” ucapku senang setelah memasukkan bingkisanku ke kotak pos.

“Taeyeon-ssi….” Ucap Kai ragu-ragu.

“Ne, ada apa?” tanyaku lalu Kai menggeleng.

“Tidak jadi, deh!” jawab Kai membuatku makin penasaran.

“Sudah, bilang saja!” perintahku lalu Kai menunjuk ke depan rumah ketiga keluarga Cho.

“Itu sandalnya siapa? Bukannya kalau Eommamu pergi tidak ada sandal di luar?” tanya Kai lalu aku memperhatikan sandal merah yang tergeletak di depan. Itu milik Eomma!

Aku segera mengambil HPku dari dalam tas. “Mau apa, Taeyeon-ssi?”

“Menelpon Eomma” ucapku.

KRING~

Terdengar suara dari dalam rumah ketiga keluarga Cho. Aku dan Kai saling melotot. Kenapa ada HP berbunyi? Apalagi aku menelpon ke Eomma dan terdengar suara dari dalam berarti Eomma tidak ada di Roma! Eomma masih di rumah!

TES….. TES…

“Hujan!” seru Kai lalu melepas jaketnya dan memakaikannya padaku. “Ayo, kita pergi dari sini!”

“Shireo!” tolakku. “Eomma ada di dalam, aku ingin menemuinya!”

“Sudah kubilang, ayo kita…. Uhuk! Uhuk!”

“Kai!” seruku. Ternyata demamnya belum sembuh betul. Aku sangat kasihan pada Kai. Aku memutuskan untuk pulang ke rumah.

Aku segera mengambilkan handuk dan memberikannya pada Kai. “Mian, aku seharusnya mendengarkan kata-katamu”

“Aku janji suatu hari nanti kita akan menemui Eommamu…. Aku juga minta maaf karena aku lemah karena penyakit sialan ini….” Jawab Kai dan aku memeluknya erat.

“Jangan anggap penyakit sebagai sebuah kesialan… Tapi anggaplah sebagai nasihat dari Tuhan…. Karena Tuhan ingin Kai beristirahat” ucapku.

“Istirahat dari apa?” tanya Kai lalu aku mengangguk kecil.

Tentu saja istirahat dari membantuku. Aku mengatakannya dalam hati dan tentu saja Kai tidak mendengarnya. Nanti Kai malah bilang kalau dia tidak ada niat untuk membantuku..

KRING~

“Ah, tunggu sebentar ya!” ucapku lalu Kai mengangguk. Aku memperhatikan layar HPku. Nomor tidak dikenal. “Ne, Annyeong?”

“Ini benar Kim Taeyeon dari Vello Entertaiment? Bisa menemui saya sekarang?”

*

Aku memasuki ruang pertemuan di Vello Entertaiment bersama Kai. Awalnya aku sudah melarang Kai dan menyuruhnya beristirahat tapi Kai ngotot ingin pergi bersamaku. Di sana sudah ada Suho dan orang yang menelponku.

“Senang bertemu dengan kau lagi, Taeyeon!”

“Nona Kwon Boa….” Ucapku lalu membungkuk 90 derajat.

“Aih, tak usah sungkan begitu…. Duduklah!” Boa menyuruhku dan Kai duduk di sofa. Aku duduk di antara Suho dan Kai dengan perasaan harap-harap cemas. “Kamu pasti Kai, pengisi suara Suho…!”

“Da, darimana anda tahu?!” tanya Kai kaget lalu Boa tersenyum.

“Aku diberitahu oleh Tuan Cho. Tidak apa-apa, aku bisa menjaga rahasia dengan baik karena aku sudah berteman lama dengan Tuan Cho, mana mungkin aku memberitahu rahasia Suho si model yang sedang naik daun?” ucap Boa panjang lebar. “Langsung saja… To the point!”

Boa mengeluarkan 3 lembar kertas dan memberikan masing-masing pada aku, Suho, dan Kai.

“Itu adalah sinopsis suatu drama yang akan aku produseri” ucap Boa. “Kalian baca dulu, baru nanti aku jelaskan detailnya”

——-Lee MinHyuk, seorang mahasiswa laki-laki yang pintar, tegar dan bijaksana. Dia dipandang dingin oleh orang-orang sekitar karena dia adalah anak dari pemilik perusahaan besar di Korea. Hanya ada satu orang di dunia ini yang tahu sikap lembut MinHyuk, yaitu pacarnya sendiri, Yoon Hae Rin. Minhyuk sangat menyukai Haerin begitu juga sebaliknya. Suatu hari, Haerin menderita penyakit yang sangat parah. Demi menyembuhkan orang yang dicintainya, Minhyuk bercita-cita menjadi dokter dan tentu saja akan menyembuhkan Haerin. Tapi keinginan itu ditentang oleh Ayahnya yang menginginkan dia menjadi pewaris perusahaan. Maka hubungan antara Minhyuk dan Ayahnya menjadi retak. Tiada hari tanpa pertengkaran dengan sang Ayah, Minhyuk maupun sang Ayah tidak ada yang mau mengalah. Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat. Kondisi Haerin yang semakin parah membuat Minhyuk buru-buru menyelesaikan kuliahnya sambil kabur dari rumah. Setelah lulus kuliah, sesuai janji Minhyuk mulai menjadi dokter khusus untuk Haerin dibantu dokter-dokter lain. Haerin yang merasa kasihan akan beban yang dibawa oleh Minhyuk, memutuskan untuk bunuh diri dengan loncat dari gedung rumah sakit. Haerin yang ditemukan dengan banyak darah di halaman parkir rumah sakit langsung dibawa oleh Minhyuk tapi nasib berkata lain. Haerin telah meninggal——-

Entah kenapa saat membaca sinopsis cerita, aku jadi teringat akan Kyuhyun yang dipaksa untuk menjadi pewaris Vello Entertaiment. Tapi Kyuhyun menjalaninya dengan senang hati. Aku merasa sangat lega Kyuhyun tidak menjalani hidup seperti cerita drama ini. Ternyata peranku sebagai pacar pura-pura Kyuhyun sangat membantu.

“Sudah selesai?” tanya Boa lalu kami bertiga mengangguk. “Bagaimana menurut kalian?”

“Eng… Ceritanya sangat menyedihkan!” jawabku cepat.

“Yah, si Haerin juga bodoh. Kenapa sih tidak menghargai usaha Minhyuk tapi dia malah bunuh diri?” tanya Kai dengan ketus. “Babo”

“Ya! Bukan begitu!” seruku pada Kai.

“Yah, Yeoja memang sulit dimengerti deh!” lanjut Kai. “Lalu… Apa yang harus kami lakukan setelah membaca sinopsis cerita drama anda?”

“Saya ingin kalian bertiga menulis soundtrack untuk drama ini” ucap Boa sambil tersenyum. “Lirik boleh kalian buat bersama dan tentu saja Kai dan Taeyeon yang akan menyanyi…. Tapi lagu ini tidak akan dirilis dengan nama penyanyi Kai dan Taeyeon, tapi Suho dan Taeyeon”

“Mwo?!” ucapku dan Kai bersamaan.

“Kenapa… Nama saya tidak ditulis?!” tanya Kai.

“Tentu saja kau kan hanya pengisi suara Suho. Para pemirsa pasti lebih senang kalau Suho yang diketahui menyanyikan lagu soundtrack…. Dengan begitu soundtrack ini akan laris dan rating drama juga akan naik!” jelas Bora.

“Saya tidak terima! Tetap saja nama saya harus ditulis!” ucap Kai marah.

“Bukannya sebagai pengisi suara kamu sudah tahu akan resiko ini?” tanya Boa dengan gaya soknya.

“Tapi tetap saja namanya saya tidak dihargai! Kalau ditulis sebagai background vocal masih tidak apa-apa, tapi kalau tidak ditulis sama sekali, saya tidak akan mau menerima pekerjaan bodoh seperti ini!” ucap Kai panjang lebar membuat tatapan Boa yang lembut menjadi tajam.

“Saya setuju dengan Kai. Setidaknya nama Kai harus diberitahukan pada pemirsa” lanjutku membela Kai.

“Begini saja…. Aku akan membagi kalian bertiga dalam 2 tim!” ucap Boa. “Tim pertama adalah Taeyeon dan Suho sedangkan tim kedua hanya satu orang, yaitu Kai. Masing-masing tim harus membuat lagu soundtrack duet antara laki-laki dan perempuan lalu akan kupilih yang terbaik. Dan yang terbaik akan aku pilih sebagai soundtrack drama”

“Kalau lagu Kai yang terpilih, maka nama Kai akan dicantumkan saat merilis lagu. Tapi kalau tim Taeyeon dan Suho yang menang, maka Kai harus rela menyanyikannya tapi yang dicantumkan saat merilis lagu adalah nama Suho” lanjut Boa.

“Tapi itu tidak adil, apalagi Kai sendi—“

“Gwechanna, Taeyeon” potong Kai lalu menatap tajam Boa. “Saya terima persyaratan anda meski saya seorang diri!”

“Oooh, kita lihat siapa pemenangnya nanti” ucap Boa lalu mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu. “Kalau begitu, aku permisi. Senang bertemu kalian semua”

“Cih, wanita itu!” ucap Kai begitu sosok Boa sudah menghilang dari ruangan. “Lihat saja, aku pasti menang!”

Aku memandang Kai yang sangat bersemangat akan tantangan ini. Sebenarnya aku sendiri juga ragu pada diriku sendiri. Apa aku dan Suho bisa menciptakan lagu yang lebih hebat dari Kai?

“Yosh! Yang pertama, aku harus menciptakan nadanya! Taeyeon, aku pulang duluan ya!” ucap Kai lalu berjalan menuju pintu.

“Mwo?! Lalu bagaimana nanti aku pulang?” tanyaku lalu Kai menunjuk Suho.

“Pulang saja sama Suho, sudah ya! Aku pulang duluan!” Kai langsung keluar dari ruangan meninggalkan aku dan Suho.

“Apa Suho sudah pernah membuat lagu?” tanyaku lalu Suho menggeleng. “Kamu tau caranya membuat lagu?”

Suho mengambil pulpen dari sakunya lalu menulis dibalik kertas yang tadinya diberikan oleh Boa.

‘Pertama, buat nadanya dulu’

“Arasseo… Lalu?” tanyaku lagi lalu Suho melakukan hal yang sama.

‘Buat liriknya.. Tentukan judulnya lalu karena ini duet, ada pembagian part’

“Omo… Ternyata sangat gampang, ya!” ucapku lalu Suho menggeleng.

‘Membuat nada sangat susah. Kalau diantara kita ada yang bisa main alat musik, akan gampang. Tapi sayangnya aku tak bisa main alat musik’

“Ne, aku juga….” Jawabku pada Suho.

‘Aku punya ide. Kita beli saja nada lagu dari seorang musisi… Ayo kita pergi mencari musisi’

Aku mengangguk. Suho berdiri dan berjalan mendahuluiku dan aku menyusulnya secepat mungkin. Aku dan Suho tidak menggunakan kendaraan, melainkan hanya jalan kaki. Kami berjalan menyelusuri sebuah pertokoan. Kami menemukan sebuah toko musik.

“Permisi….” Ucapku lalu manajer toko itu kaget.

“Kalian…. Suho dan Taeyeon?!” tanya manajer toko itu kaget lalu aku dan Suho mengangguk. “Boleh minta tanda tangan?”

Manajer toko itu dengan gugup memberikan pulpen dan kertas pada kami berdua. Suho membuat tanda tangan dengan lancar sedangkan aku masih berusaha mengingat-ingat tanda tangan yang dibuat Kai bersamaku. Akhirnya aku tanda tangan tapi hasilnya tidak mirip dengan yang dibuat Kai. Harusnya aku latihan tanda tangan….

“Jadi, ada perlu apa kalian kemari?” tanya manajer toko.

“Kami ingin membeli nada untuk lagu dari seorang musisi…..” ucapku. “Apa kalian menjual nada lagu?”

“Ne, kami menjualnya. Silahkan ikut saya” kami mengikuti manajer toko itu ke sebuah ruangan. Di sana ada banyak sekali alat perekam. Dan juga beberapa CD. “Semua CD ini hanya berisi nada dan kalian boleh membeli berapapun yang kalian mau!”

“Haha, gomawo tapi kami hanya akan membeli satu” ucapku lalu manajer toko itu mengangguk. “Kami akan mendengarkan satu per satu”

Manajer toko itu meninggalkan aku dan Suho berdua di ruangan itu.

“Banyak ya, CDnya… Ayo kita coba satu-satu” ucapku gugup lalu Suho mengangguk pelan.

Yang pertama bernada upbeat, membuat aku sedikit tertawa tapi Suho menggeleng. Yang kedua bernada rock membuat aku dan Suho menggeleng bersama-sama. Setelah mencoba satu per satu CD, telinga kami seperti terbius dengan CD bernada coutry modern dan akhirnya kami sepakat membeli yang itu.

“Wah, kalian pilih yang ini?” tanya manajer toko itu lalu tersenyum. “Pilihan yang bagus. Kalian tinggal membayar”

Suho mengeluarkan kartu kredit khusus Vello Entertaimentnya dan itu membuat manajer toko terkagum-kagum. Entah karena isi kartu itu masih banyak atau kagum karena Suho yang memberikannya. Hihi…

“Selesai!” ucapku pada Suho. “Setelah ini mau langsung membuat lirik atau makan dulu? Kebetulan aku lapar, kalau Suho?”

Suho mengangguk pelan. “Baiklah kita makan dulu. Ayo, ikut aku!”

Sebenarnya aku tidak terlalu tahu daerah ini, jadi aku mengajak Suho berputar-putar dulu. Sepertinya Suho tau kalau aku kebingungan, tapi entah kenapa dia tidak menolongku malah tertawa kecil. Akhirnya aku memilih sebuah restoran kecil yang mewah.

“Ayo masuk ke dalam!” ajakku lalu menarik tangan Suho.

Restoran ini berhiaskan seperti kerajaan Yunani lama, membuatku seperti dewi dari Yunani dan Suho dewanya. Aish, bisa saja aku berkhayal di saat seperti ini.

“Wah, Suho!” sapa pelayan restoran itu. “Sudah lama tidak melihatmu datang kemari… Pekerjaanmu lancar?”

“Annyeong, kenalan Suho ya?” tanyaku lalu Suho menggeleng dan menarik tanganku agar menjauh dari pelayan itu. “Waeyo Suho?”

Suho menggeleng. Aku memutuskan untuk tidak ikut campur masalah Suho, melainkan duduk di sebuah kursi. Setelah duduk, Suho memandangku dengan tatapan yang menyeramkan.

“Waeyo, Suho?” tanyaku lalu Suho menampar wajahku keras-keras.

“JANGAN PERNAH DUDUK DI KURSI ITU!” Suho meneriakiku dan memancing seluruh perhatian orang-orang yang makan di restoran ini kemudian pergi meninggalkanku.

Air mataku menetes. Tak kusangka Suho akan menamparku. Aku berusaha menyembunyikan bekas tamparan ini dari orang-orang di restoran ini. Sakit, perih.

“Kau baik-baik saja?” tanya pelayan yang tadi menanyai kami.

“Tentu saja tidak,dia menamparku sangat keras” jawabku pada yeoja itu sambil menghapus air mataku.

“Tak kusangka dia menjadi separah ini….” Ucap pelayan itu. “Seharusnya kau tidak membawa Suho ke restoran ini…”

“Waeyo?” tanyaku lalu pelayan yang menurutku yeoja yang masih muda itu menggeleng. “Arasseo, kau ingin membuatku menderita karena tidak menjelaskannya padaku”

“Bukan begitu tapi…. Baiklah, akan kujelaskan” ucap yeoja itu. “Namamu siapa?”

“Taeyeon, Kim Taeyeon. Kamu?” tanyaku lalu yeoja itu tersenyum.

“Seohyun…. Akan kujelaskan tapi kumohon jangan cerita ke siapa-siapa” ucap pelayan yang bernama Seohyun itu lalu aku mengangguk.

“Kejadiannya sudah lama, sekitar 3 tahun yang lalu…. Suho yang kau kenal bukanlah Suho yang sebenarnya. Suho yang dulu sangat baik, perhatian, juga ramah. Dia juga bukan model terkenal seperti sekarang ini. Suho dulu bekerja di restoran ini. Dia adalah salah satu dari pekerja sambilan di restoran ini yang masih SMA, selain Suho, ada aku dan satu lagi yeoja yaitu Choi SooYoung” jelas Seohyun panjang lebar.

“Kami bertiga sangat dekat, kami selalu mendukung satu sama lain jika mempunyai masalah. Itu adalah masa-masa yang sangat bahagia. Dan tentu saja ada hubungan khusus di antara kami. Meski SooYoung yang tertua diantara kami, Suho menganggap SooYoung sebagai adik, bukan hanya adik melainkan orang yang dia sukai. Hingga suatu hari Suho menyatakan cinta pada SooYoung dan akhirnya mereka jadian” lanjut Seohyun.

“Meski suatu hari SooYoung berhenti bekerja karena kesibukan belajar, SooYoung masih mengunjungi restoran ini dengan alasan karena Suho dan Aku berada di restoran ini. Kami bertiga selalu duduk di meja ini, dan tempat yang kau duduki adalah tempat duduk SooYoung” ucap Seohyun sambil menunjuk kursi yang kududuki sekarang, membuatku langsung berdiri karena merasa bersalah. “Gwechanna, kau boleh duduk di situ…”

“Baiklah, silahkan lanjutkan ceritamu….” Ucapku pelan.

“2 tahun kemudian, SooYoung mendapat beasiswa di New York untuk kuliah di NYADA, sebuah sekolah seni yang sangat terkenal akan kedisiplinan dan kerja keras para muridnya. Sooyoung menerima beasiswa itu untuk mewujudkan cita-citanya menjadi aktris Broadway. Itu juga alasan kenapa Suho langsung audisi di Vello Entertaiment untuk menjadi artis yang tak kalah hebat dari SooYoung…. Tapi saat hari keberangkatan, pesawat yang harusnya dinaiki SooYoung ditunda selama satu minggu. SooYoung yang sudah tidak sabar dan takut beasiswanya akan dicabut karena keterlambatannya, datang ke restoran dan menangis. Membuat aku dan Suho sangat kasihan padanya.” lanjut Seohyun.

“Suho memutuskan untuk menolong SooYoung dengan cara membawa Sooyoung ke pelabuhan dekat restoran ini dan mengusulkan agar SooYoung berangkat ke New York memakai kapal. Meski terkesan ceroboh, tapi SooYoung tetap melakukannya. Dan ternyata dalam perjalanan, kapal yang dinaiki SooYoung mengalami kerusakan dan tenggelam…. Saat evakuasi, SooYoung tidak ditemukan dan dianggap telah tewas” ucap Seohyun dengan mata berkaca-kaca, dan tak lama kemudian dia menangis.

“Suho sangat menyesal sudah menyuruh SooYoung berangkat ke New York memakai kapal, dia sampai tidak makan berhari-hari. Tapi itu tak berlansung lama. Setelah satu minggu, auranya sama sekali berbeda. Dia berhenti bekerja di restoran ini, lebih fokus ke pekerjaannya sebagai model. Dia juga tidak bicara sama sekali sejak kematian SooYoung, mungkin itu untuk menghormati SooYoung yang tewas dengan cara yang tragis, yaitu tenggelam….” Seohyun membersihkan wajahnya yang penuh air mata.

Air mataku ikut menetes. Pasti begitu banyak hal menyenangkan yang sudah tidak dilakukan Suho karena kematian SooYoung. Setiap tahun, setiap bulan, setiap hari bahkan setiap detik, Suho selalu ditemani kesedihan. Dia bukannya tidak mau menjalani kehidupan yang menyenangkan lagi, tapi dia rela menjalani kehidupan yang menyedihkan seperti sekarang demi SooYoung.

Seohyun menunjukkan foto mereka bertiga berupa Seohyun di tengah, Suho di sebelah kanan dan satu lagi yeoja yang di kiri yang kuyakini sebagai SooYoung. Rupanya yeoja yang kulihat di foto yang ada di kamar Suho adalah SooYoung….

“Mian, aku cerita hal menyedihkan seperti ini….” Ucap Seohyun. “Sampai sekarang Suho tidak pernah dekat dengan gadis lain. Datang ke restoran ini pun jarang karena pasti menurutnya aura SooYoung terasa di sini… Entah kenapa begitu melihatmu aku langsung tahu…”

“Tahu… Apa?” tanyaku pada Seohyun yang tangisannya sudah berhenti.

“Langsung tahu kalau kau bisa mengembalikan Suho seperti semula. Kau punya aura kuat yang seperti berlawanan denan aura SooYoung—“

“SooYoung adalah SooYoung, aku adalah aku. Aku tak akan bisa menjadi orang yang dicintai Suho” potongku. “Yang bisa mengembalikannya hanyalah membuat dia mensyukuri arti dari masa lalu”

“Kau benar” sahut Seohyun. “Aku percaya padamu, Kim Taeyeon… Jaga Suho baik-baik. Jangan sampai dia mengalami penderitaan lebih dari ini”

“Ne” jawabku sambil tersenyum. “Aku harus mencari Suho sekarang. Kami punya pekerjaan untuk diselesaikan. Terima kasih, Seohyun-ssi, kau sudah mau menceritakannya…”

“Ya. Berjuanglah!” ucap Seohyun lalu aku mengangguk. “Oh iya, simpan foto ini. Mungkin bisa menjadi penyemangatmu”

“Gomawo!” seruku sambil membungkuk.

Aku keluar dari restoran dan memutuskan untuk mencari Suho. Kurasa dia tidak akan pergi jauh-jauh dari sini, mungkin di sekitar sini masih ada tempat kenangannya bersama SooYoung. Tunggu dulu… Bukannya di sekitar sini ada pelabuhan?

“Apa mungkin Suho ke pelabuhan?” gumamku.

Pelabuhan… Tempat berangkanya SooYoung untuk meraih mimpinya… Dia pergi ke New York menggunakan kapal dan kapal itu tenggelam…. Tunggu dulu! Mana mungkin… Suho punya niat bunuh diri di pelabuhan?! Hal bodoh itu tidak mungkin dilakukan oleh Suho, kan?!

“Permisi!” tanyaku pada salah satu pejalan. “Apa benar di sekitar sini ada pelabuhan?”

“Ne”

“Di mana pelabuhan itu?” tanyaku lalu dia menunjuk ke sebuah nelayan.

“Kau lihat nelayan yang naik motor itu? Ikuti dia, dia pasti ke pelabuhan” ucap pejalan itu.

“Ka, Kamsahamnida!” aku langsung berlari menuju pelabuhan.

Syukurlah nelayan itu mengendarai motornya dengan kecepatan yang bisa dibilang lambat, sehingga aku bisa menyusulnya. Begitu tiba di pelabuhan, aku langsung mencari Suho.

“Suho, di mana kamu?!” gumamku.

Aku mendapati sebuah kapal hitam besar. Kapal ini pasti ke luar negri. Apa jangan-jangan Suho berniat menaiki kapal ini dan membuat kapal ini tenggelam sehingga dia…. Bisa menyusul SooYoung?

Aku berlari menembus kerumunan, menaiki kapal itu. Suho pasti ada di kapal ini, tidak salah lagi. Kudapati dia di ujung kapal dan sudah bersiap untuk loncat ke laut. Dia ingin bunuh diri?!

“Suho! Berhenti!” ucapku. Suho menoleh padaku dan dia sangat kaget. Dia memajukan kaki kanannya, bersiap untuk loncat. “Jangan!”

Aku menarik tangannya agar dia tidak jadi bunuh diri dan itu berhasil. Aku dan Suho duduk di lantai kapal.

“Kenapa kau menyelamatkanku?!” tanya Suho dengan nada marah. “Kau pasti sudah dengar kan dari Seohyun…. Alasan kenapa selama ini aku diam?!”

Suho berbicara dengan lancar. Dia memang bukan anak bayi yang baru belajar ngomong, tapi ini pasti pertama kalinya dia mengucapkan kalimat yang panjang setelah kematian SooYoung.

“Biarkan aku menyusul dia…. Aku sudah tidak tahan berada di dunia ini…” ucap Suho bergegas menuju ujung kapal namun aku menghentikannya dengan memegang lengannya.

“Bukan begitu cara mengejar SooYoung!” teriakku. “Ini belum berakhir! Tidak ada satu pun yang berakhir di dalam anak itu. Tidak kah kau berpikir dalam detik-detik kematiannya… Dia masih menyukaimu?!”

Suho melepaskan genggamanku di lengannya. Aku berpikir dia akan ke ujung kapal, melainkan dia menangis. Suho menangis, ini pertama kalinya aku melihat dia menangis.

“Kenapa?!” tanyanya lalu dia memelukku sangat erat membuatku tidak tau harus berkata apa. “Kenapa aku masih hidup?! Kenapa aku tidak mati saja dari dulu?! Aku harus bertemu orang merepotkan seperti kamu….! Aku nggak tahu lagi! Aku nggak tahu bagaimana selanjutnya aku harus melanjutkan hidupku! Lebih baik aku mati sekarang dan mengakhiri hidup ini! Aku nggak tahu lagi!”

Aku membalas pelukannya. Mataku berkaca-kaca tapi aku bertekad untuk tidak menangis. Aku harus menjadi yeoja yang kuat. “Kurasa suatu hal tidak bisa diselesaikan… Hanya dengan kalimat tidak tahu”

“Lalu apa yang harus kulakukan?” tanya Suho yang masih memelukku.

“Masa lalu adalah masa lalu, yang penting kita sekarang bersama” ucapku lalu melepas pelukannya.

“Maksudmu?” tanya Suho dengan tatapan kebingungan.

“Aku menyukaimu…. Suho-ssi”

TO BE CONTINUED…..

 

 

Annyeong! Obrolan end cerita ke empat! Ternyata step 04 ini sangat panjang ya…. -_- Sempat kehabisan ide sih bagaimana masa lalu Suho… Tapi untunglah Dewa menolongku dengan memberiku pencerahan… Hehehe….

Bagaimana menurut kalian “Flawless Step By Step – Step 04” ini?? Terus terang banget, ini pertama kalinya aku membuat FF berchapter yang ada hubungannya dengan dunia entertainment. Padahal aku sendiri belum pernah menjadi artis tapi aku membuatnya dengan sungguh-sungguh agar suasananya betul-betul seperti dunia entertainment hehehe.

Baiklah, kenapa di sini Kyuhyun jarang sekali muncul?? Yah, lihat saja posternya yang gambarnya Suho dan Kai… Dan kalian pasti langsung tahu kalau pairingnya antara Suho-Taeyeon atau Kai-Taeyeon. Author sendiri belum tahu pairingnya bakal jadi siapa *loh* tapi ketik dulu aja deh ini FF…. Pasti lama-lama akan ketemu ending yang pas dengan pairing yang pas, hehe.

Oh ya apa ada dari kalian yang sudah bisa menebak pairingnya?? Hehehe, oh iya semua member SNSD aku keluarkan di FF ini!! Berikut peran mereka di sini:

KIM TAEYEON sebagai tokoh utama

JUNG JESSICA sebagai stylist khusus Taeyeon

LEE SUNKYU sebagai teman sekolah Taeyeon di sekolah seni

TIFFANY HWANG sebagai teman sekolah Taeyeon di sekolah seni

KIM HYOYEON sebagai teman sekolah Taeyeon di sekolah seni

KWON YURI sebagai teman sekolah Taeyeon di sekolah seni

CHOI SOOYOUNG sebagai pacar Suho yang sudah meninggal

IM YOON AH sebagai teman Taeyeon di sekolah lamanya yang diminta tolong Taeyeon untuk menghubungi Eommanya

SEO JOO HYUN sebagai pekerja sambilan di restoran yang mengetahui masa lalu Suho

Nggak nyangka juga sih bakal keluar semua tuh member SNSD -_- Sebenarnya Author tau bayak artis di luar SM Entertaiment (seperti bias Author : Gayoon 4Minute, Raina After School, dll) tapi kok rasanya aneh gitu kalau ada mereka di FF Flawless…

Seperti biasa, no silent reader! Wajib comment ya, kalau mau like atau share boleh banget kok J Baiklah sampai jumpa di Step 05! Gomawo sudah read yaaa!!

 

8 thoughts on “Flawless Step by Step – Step 04

  1. WAAA SUHO BANYAK NGOMONG AKHIRNYA #heboh wah author idenya jalan banget ya, baca kapal tenggelam jadi inget titanic ‘-‘v masih penasaran juga sama eommanya taeyeon itu thor, sooyoungnya kasian ih 😦 okay ditunggu chap 5 nya x)

    • Hehehe akhirnya Suho ngomong!
      Kebetulan lagi ada ide hehe padahal author buat masa lalu Suho itu ngawur lho, tapi Author nyambung-nyambungin (?) aja ^^
      Tunggu ne, gomawo!

  2. How to spell it? A W E S O M E seru banget thor….. kenapa ‘tbc’ begitu menganggu?!kenapa?!:””( oke thor lanjut ya! Hwaiting!^^

  3. Kasian pedih banget yaa hidupnya suho, semoga taeyeon bisa merubah suho seperti dulu yg ceria ramah dan hangan..
    di tunggu next chapternya thor semoga taeyeon jdi nya sama suho aja paling setuju kalo taeyeon sama suho 😀

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s