[Freelance] Love It Is (Chapter 3)

Love It Is 3

Title : Love It Is

Author : Selvy

Length : Chapter

Rating : PG 13

Genre : Romance, Fantasy, Sad

Main Cast : Taeyeon, Baekhyun

Other Cast : Lihat sendiri yah J

Author Note : Sepertinya ini FF yang paling buat otakku berputar lebih cepat dari sebelumnya (?). Ternyata susah banget yah buat FF bergenre fantasi #curhat. Jadi makin ngefans deh sama author Ryn #eh???

Seperti Not Destined aku juga udah luamaaa banget pending FF ini, hehehehe. Sekarang sih aku gak mau banyak- banyak ngasih alasan soalnya emang gak ngelanjutin FF ini bukan karena kesibukan atau apa tapi karena faktor males #ditabok

Oke deh langsung aja, semoga pending yang lama tidak mengecewakan di akhirnya yah J

Happy reading . . . .

. . . . . . . . . . . . . . .

“Eomma appa pokoknya aku tak mau ke sekolah titik gak pake kome, titik dua, ataupun semua tanda- tanda yang ada” Teguh Taeyeon ketika eomma dan appanya telah berhasil membangunkannya dengan segala macam cara.

“Taeng sayang, bagaimanapun juga kau harus sekolah. Kau kan baru saja pindah, kalau tak ke sekolah nanti songsaenim men-cap kamu jadi anak nakal loh” Appa Taeyeon berusaha memberikan penjelasan, namun dapat dilihat dari susunan kata- katanya benar- benar seperti ia sedang berbicara pada anak kecil.

Eomma Taeyeon tidak ikutan membujuk karena memang sudah semenjak tadi ia berusaha tapi putrinya itu tetap saja bersiteguh tak mau pergi. Diam- diam ia menyiapkan segala keperluan Taeyeon. Bukan Nyonya Kim namanya jika tak mempunyai rencana untuk membujuk anaknya.

Taeyeon mendengus, “Appa, apakah appa tak sayang lagi padaku? Bagaimana kalau aku dimakan oleh orang itu? Bagaimana kalau aku dimutilasi? ihhh” Jelas Taeyeon seraya bergidik ngeri.

Tuan Kim hanya menggeleng- geleng pasrah karena putrinya yang sangat keras kepala. Tapi bagaimana pun juga ia tak akan pernah berbuat kasar pada Taeyeon. “Lalu bagaimana? Apakah kau ingin penjagaan ketat untuk menjagamu selama berada di . . . “

“No” Potong Taeyeon. “Appaku tersayang, lihat . . . sekarang aku sudah sebenar ini tapi harus terus didampingi oleh orang- orang menyebalkan itu? Apa kata dunia?” Dengan cepat Taeyeon tentu tidak menyetujui saran appanya yang walaupun belum selesai diucapkan namun otaknya sudah berhasil menebak.

“Ya! Eomma . . . “ Taeyeon meringis manja saat eommanya tiba- tiba menariknya dengan sedikit kasar namun tentu masih lembut untuk ukuran anak pada umumnya (?)

“Pokoknya kau harus ke sekolah, tidak ada alasan lagi” Kembali Nyonya Kim menarik paksa Taeyeon, yang tentunya akan ia tarik ke kamar mandi.

“Hei jangan terlalu kasar pada anak perempuan” Taeyeon mengangguk imut ketika appanya mengeluarkan pembelaan yang ditujukan untuknya. Namun belum saja appanya mengeluarkan pembelaan yang lebih banyak ia sudah mendapat tatapan tajan dari istrinya.

“Jangan ikut campur urusan perempuan lebih baik appa keluar” Perintah Nyonya Kim sedikit membentak. Yah walaupun ia sangat menyayangi Taeyeon tapi tetap saja kalau terus dimanja seperti sebelumnya anak itu bisa- bisa menghancurkan masa depannya sendiri.

Mengalah pada istirinya, akhirnya Tuan Kim beranjak keluar. Ia bukannya takut pada eomma Taeyeon tapi sebenarnya hatinya juga membenarkan apa yang dilakukan istirnya itu, tapi dia sama sekali tak sanggup melihat wajah memohon anak kesayangannya, karena memang dialah satu- satunya anaknya.

Sebelum benar- benar keluar Tuan Kim sempat menoleh ke arah Taeyeon. “Appa tolong” rengek Taeyeon lagi. Tapi appanya langsung saja keluar meskipun dengan kaki yang sangat berat bahkan melebihi beratnya gunung (?)

Tak berhasil membujuk appanya, Taeyeon berusaha sekeras mungkin menunjukkan ekspresi menyedihkan tingkat paling atas agar eommanya bisa luluh. “Eomma bbuing- bbuing” bahkan jurus terakhirnya ia keluarkan yaitu aegyo walaupun sedikit kaku.

Bukannya mengasihani Taeyeon, Nyonya Kim malah semakin menarik yeoja itu hingga ia harus berpegangan pada sprei kasur. “Tak ada hal apapun yang akan menghentikan eomma untuk memaksamu ke sekolah manis” Pasti Nyonya Kim dengan menyeringai yang membuat Taeyeon mengerucutkan bibirnya.

Setelah sekian lama bertahan pada posisinya akhirnya ide yang dari tadi ia nanti muncul juga. “Baiklah aku akan ke sekolah dengan senang hati”

“Jinjja??”

Taeyeon mengangguk pasti, “Ne aku akan pergi, tapi dengan syarat aku tak mau belajar di sekolah itu” Nyonya Kim yang tadinya bertanya senang merubah mimiknya menjadi jengkel.

“Tak ada syarat, kalau kau tak mau mandi di kamar mandi. Maka sekarang eomma akan memandikanmu di atas kasur”

“Ya! Apa salahnya sih menerima permintaan anak sendiri” sorot mata eomma Taeyeon berubah sangat menusuk saat appa Taeyeon tiba- tiba saja memunculkan kepalanya dari balik pintu.

“Jadi semenjak tadi kau menguping?” Geramnya, yah memang eomma Taeyeon adalah sosok yang hangat. Tapi kalau Taeyeon sudah seperti sekarang ini rasanya kepalanya sudah hampir pecah apalagi kalau ada orang lain yang membuatnya jengkel. Bisa- bisa orang itu yang akan menjadi korban.

Taeyeon yang kasihan pada appanya karena ia sudah tahu kejadian apa yang akan terjadi berikutnya akhirnya benar- benar mengeluarkan jurus terakhirnya.

“Hwaaaa . . . eomma memang tak pernah perduli padaku. Setiap pagi bahkan eomma selalu meyiramku dengan air. Apakah aku ini anak tiri hah? Hwaaa” Mewek. Itulah cara terakhir untuk meluluhkan eommanya.

Sekeras apapun hati Nyonya Kim tapi tetap hatinya akan mudah melembut jika melihat anaknya menangis. “Baby bukan begitu maksud eomma, tapi kau tahu kan bagaimana appa dan juga eomma berusaha memberimu yang terbaik walaupun terkadang itu diluar dari apa yang kamu inginkan” eomma Taeyeon kembali duduk dengan hati- hati agar Taeyeon bisa sedikit merasa hangat dan tenang.

“Jadi untuk kali ini kami tak bisa menuruti keinginanmu untuk pindah, namun kalau memang kau tak menyukai teman- teman sekelasmu eomma akan menemui kepala sekolahmu dan meminta agar kau dipindahkan ke kelas lain oke?”

Taeyeon meyipitkan matanya dengan bibir yang sedikit cemberut memastikan. “Eomma tak bohong kan?” selidiknya dan Nyonya Kim membenarkan membuat yeoja itu kesenangan dan langsung memeluk eommanya. “Gomawo eomma”

Eommanya tersenyum akan kebahagian anaknya, termasuk namja yang sedang menguping diluar pun juga ikut senang. Karena walaupun namja itu adalah kepala keluarga tapi istrinya lebih bisa mengerti cara untuk mengurus Taeyeon dibandingkan dirinya yang terlalu mudah tergoda jikalau putrinya sudah mengerucut.

. . . . . . . . . . . . . . .

“Mwo?? Kau pindah kelas?” Rasa kaget dan keingintahuan Chanyeol membuat namja itu langsung bertanya ketika Taeyeon bercerita tentang maksud kedatangan eommanya tadi ke sekolah.

Taeyeon mengangguk bahagia dan lepas, bebannya benar- benar terbayar lunaskan. “Ne, Chanyeol aku sangat bahagia karena ini” Jelas yeoja itu seraya meremas jemari Chanyeol yang baru saja ia raih.

Tak tanggung- tanggung, seluruh perhatian dan konsentrasi Chanyeol beralih pada hatinya yang berdetak tak tenang karena perlakuan itu. Tak dipungkiri memang dari awal namja itu sudah menaruh perhatian lebih pada gadis yang ditemuinya pertama kali di depan gerbang sekolah.

“Kau kanapa?” Taeyeon bertanya bingung melihat wajah namja yang di pegangnya memerah seperti menahan nafas.

Tak menjawab Chanyeol malah balas menggengam. Tatapan tidak suka jelas dilemparkan para fanboys Taeyeon kepadanya namun tentu tak diperdulikan olehnya sampai akhirnya entah dari mana muncul percikan api dari tangan Taeyeon tanpa mereka sempat melihatnya namun hanya bisa merasakan panas.

“Awww . . “ Ringis Chanyeol.

“Kau kenapa?” Taeyeon bertanya- tanya kerena ekspresi kesakitan yang ditunjukkan oleh namja dihadapannya. Apalagi tadi Taeyeon menggenggam tangan namja itu, dan secara tiba- tiba ia menariknya dari pegangan Taeyeon. Tentu bukan hal yang salah jika Taeyeon sedikit tersinggung.

Mata Chanyeol menyelidik lalu membolak balik tangan Taeyeon seperti mencari sesuatu namun tak dapat ia lihat. “Kau tak merasakan sesuatu yang panas tadi?” Tanyanya ingin tahu.

Wajah kebingunan Nampak jelas dari Taeyeon, tak ada sesuatu aneh yang ia rasakan semenjak tadi. “Kau ini terus saja mengada- ngada. Dari tadi tak ada sesuatu yang aneh satu pun disini, kecuali . . . . “

“Kecuali apa? Kecuali apa?” antusias Chanyeol.

“Kecuali . . . . “ Taeyeon menggantung. “Ekspresi wajahmulah yang paling aneh, hehehe” Taeyeon meledakkan tawanya keras. Chanyeol menggerutu ingin membalas Taeyeon dengan sedikit pukulan mungkin, namun yeoja itu malah berdiri hendak kabur.

Langkah Taeyeon terasa beku saat matanya bertemu pandang dengan namja yang sedang menatap mereka dari depan pintu kelas. Rasa takut lagi- lagi menderanya, “Ya! Dapat kau” Chanyeol yang memang tak mengerti langsung saja memegang pergelangan Taeyeon dan merasa bangga karena telah ‘mendapatkan’ yeoja itu. “Kau kenapa?” Chanyeol memegangi wajah Taeyeon karena ia merasakan keringat dingin dari tangan yeoja tersebut.

Tak menjawab Taeyeon malah memeluk namja tersebut yang membuat semua orang termasuk Chanyeol membulat. “Bawa aku keluar dari sini Chanyeol kumohon. Aku takut” rasanya Chanyeol merasakan matahari bersinar cerah dalam dirinya, menggetarkan hati, fikiran dan tentu tak alpa jantungnya.

Tak seperti namja itu, Taeyeon juga bergetar namun seluruh tubuhnya. Tak ada yang melihat bahwa matanya sudah berkaca- kaca karena takut. “Ba . . . baiklah kita pergi” Walaupun tercekat- cekat Chanyeol berhasil menetralkan keadaan.

“Hei minggir dari situ” Chanyeol mendengus ke arah namja yang menunduk seperti orang bodoh di depan pintu. Sementara Taeyeon? Sudah bisa ditebak tak mau mengangkat kepalanya.

. . . . . . . . . . . . . . .

Nafas Taeyeon sudah bisa ia kontrol setelah meneguk air putih yang baru saja diberikan oleh Chanyeol. “Apakah ‘orang neh’ itu pernah mengganggumu? Mengapa kau sangat takut melihatnya?” Tanya Chanyeol ke yeoja yang masih menarik ulur nafasnya setelah namja itu memposisikan dirinya tepat di samping.

Taeyeon tersenyum manis ke arah Chanyeol. Bahkan sangat manis. “Aku tak apa” Ucapan lembut dari Taeyeon tentu tak mudah dipercayai oleh Chanyeol. Melihat bagaimana yeoja itu menggigil ketakutan dalam dekapannya membuatnya sedikit mengerti tarap ketakutan yang dirasakan yeoja dalam pelukannya tadi.

“Tak apa jika kau masih tak ingin menceritakannya padaku. Tapi kalau kau sudah merasa siap, tenang saja aku selalu bersedia menjadi temanmu untuk bercerita” papar Chanyeol yakin.

Lagi- lagi yeoja itu tersenyum simpul. “Gomawo Chanyeol.”

“Ne”

Setelah itu mereka hanya diam tak banyak mengeluarkan suara. Taeyeon kembali meneguk airnya sedangkan Chanyeol memilih diam sedang menyusun rencana tanpa sepengetahuan yeoja di sampingnya.

Mereka sama- sama menyembunyikan sesuatu, karena pada kenyataannya Taeyeon juga sedang mengolah fikirannya. Yeoja itu tengah bertanya- tanya mengapa ia menutupi segala kejadian aneh yang dialaminya kepada Chanyeol. Sementara dalam lubuk hatinya sungguh mendorong untuk merahasiakan kejadian itu demi keselamatan Baekhyun. Tapi ia tak tahu mengapa ia bisa mengalami hal tersebut, padahal dengan sangat jelas ia sangat ketakutan.

. . . . . . . . . . . . . . .

“Annyeong haseyo Taeyeon immida, kuharap kita bisa berteman dengan baik” Taeyeon membungkuk setengah lingkarang setelah memperkenalkan diri di depan teman- teman baru di kelasnya yang juga baru.

Permohonan eommanya memang diterima oleh pihak kepala sekolah, dengan alasan Taeyeon kemarin juga sempat diganggu oleh Bakhyun yang membuat yeoja itu ketakutan luar biasa. Tak ingin psikis Taeyeon terganggu jadi pihak sekolah dengan berat hati membiarkan.

“Oke Kim Taeyeon silahkan duduk di disana” Taeyeon membungkuk sekali lagi sebelum akhirnya berjalan menuju kursi yang ditunjuk songsaenim.

Berbeda dengan kelas sebelumnya dimana ia banyak digoda oleh namja- namja ketika berjalan menuju kursi samping Baekhyun, dikelas ini ia malah disapa dengan senyuman saja. Lebih terkesan sopan memang. Tapi tak heran sih, karena katanya kelas ini adalah kelas yang ditempati oleh para siswa- siswa yang pandai.

Sebelumnya Taeyeon sempat bergidik ngeri karena itu, ia bukanlah siswi dengan otak taraf atas maka tak heran ia sedikit minder. Tapi lebih baik seperti ini sih menurutnya dibandingkan harus duduk berdampingan dengan orang aneh yang muncul dimana- mana.

“Annyeonghaseyo” Sapa Taeyeon kepada yeoja yang akan menjadi teman sebangkunya. Hatinya tertawa lebar melihat yeoja cantik yang juga menyapanya.

“Annyeong” Yeoja itu sedikit bergeser ke samping dinding yang berarti memberikan Taeyeon bangku yang tadi ia duduki.

Tanpa menunggu waktu yang lebih lama lagi yeoja itu kemudian duduk. ‘Setidaknya aku bisa hidup tenang sekarang’

 

. . . . . . . . . . . . . . .

“Mau ke kantin?” Ajak Jiyeon yeoja yang baru saja dikenal Taeyeon sekaligus yeoja yang duduk tepat disampingnya.

Taeyeon menggeleng pelan, “Gomawo, tapi aku sedang kenyang” Dengan lembut ia menolak.

“Oh tak apa, kau tak harus makan disana. Lagipula aku perlu memperkenalkanmu pada teman- temanku. Kau tahu kami ini populer disekolah” dengan bangga gadis imut itu memberitahu Taeyeon.

Dengan sedikit risih yang disembunyikan Taeyeon memaksa senyumnya. “Oke kalau begitu aku akan segera menyusul karena sekarang aku sedang ingin ke toilet oke?”

“Dengan senang hati, tapi kau tahu kan dimana letak kantinnya? Atau kalau perlu aku bisa mengantarmu ke toilet” Tawar Jiyeon dengan sangat ramah.

Taeyeon menggeleng. “Gomawo Jiyeon- sshi, tapi aku bisa sendiri. nanti aku akan menyusul ke kantin. Lagipula aku bisa bertanya kepada teman- teman yang lain dimana letak kantin nantinya. Yah hitung- hitung biar tambah kenalan lah” Jiyeon mengangguk mengerti dan Taeyeon pun mulai beranjak dari tempatnya. “Kalau begitu sampai jumpa di kantin”

“Oke aku akan menunggumu bersama yang lainnya, jadi jangan sampai kau telat yah?” Taeyeon hanya menangguk membenarkan perkataan Jiiyeon kemudian keluar dari pintu.

“Apakah anak itu melihat letak toilet?” Jiyeon bertanya pada dirinya sendiri. Setahunya yeoja yang duduk disampingnya adalah anak baru yang tentu tak banyak tahu tentang seluk beluk sekolah. “Tapi yah sudahlah katanya tadi ia akan bertanya pada orang- orang” Ia melerai fikirannya sendiri.

. . . . . . . . . . . . . . .

Taeyeon POV

Sesuai dengan yang kuharapkan aku diterima dengan sangat baik oleh teman- teman baruku di kelas. Sekarang aku bisa bernafas lega karena tak sebangku dengan namja bukan manusia itu. Ihh mengingatnya saja membuat bulu kudukku berdiri semua.

Tapi bagaimana yah dia sekarang? Apakah Chanyeol masih sering mengganggunya?

Ah ngapain juga aku memikirkan hal itu, toh itu bukan urusanku lagi sekarang. Yang menjadi masalah saat ini adalah aku harus mendapatkan teman sebanyak mungkin, yang pasti teman sejati yang tak memanfaatkanku hanya karena kekayaan seperti kebanyakan temanku sebelumnya.

Tapi ngomong- ngomong aku benar- benar tidak nyaman dengan toilet yang berada di ujung koridor sekolah ini. Dimana- dimana aku tak dapat melihat seseorang. Benar- benar menakutkan.

“Siapa itu?” gumamku sendiri melihat namja yang sedang bermain basket, oh tidak maksudnya memainkan bola basket dengan cara menghentak- hentakkan bola itu ke pohon lalu bola itu mantul dan kembali ke arahnya dan anehnya itu dia lakukan berulang- ulang.

Sepertinya ia ingin membantu angin musim gugur yang tenang ini untuk menjatuhkan de-daunan itu. Ia benar- benar tak punya pekerjaan lain.

Tanpa memperdulikan itu, aku langsung saja masuk ke toilet yang memang berada tepat dihadapanku. Tak seperti alasan yang tadi kuberikan, sebenarnya aku ke toilet bukan karena ingin melakukan sesuatu yang besar (?) hanya saja aku selalu tak sadar akan perbuatanku belakangan ini. Perasaan batin maupun fisikku yang bergerak benar- benar tak sesuai dengan apa yang aku inginkan sebenarnya. Seperti diriku mempunyai sesuatu aneh yang tak kumengerti.

Kupandangi wajahku yang putih salju, bukannya terlalu bangga tapi inilah kenyataannya. Diwajah ini memang tak ada cacat sedikitpun dan aku sangat berterima kasih kepada tuhan karena itu. Wajah yang selalu dipuji oleh orang- orang karena kesempurnaannya. Tapi sungguh aku tak ingin seperti itu, aku tak ingin disukai hanya karena harta ataupun wajah. Aku ingin mereka menyukaiku karena aku, diriku, bukan karena apa yang aku punya.

Kunyalakan keran air kemudian membasuh wajahku sesaat. “Kuharap aku bisa lebih bahagia di sekolah ini”Gumamku lagi lalu memilih untuk meninggalkan tempat ini.

Aku berjalan dengan lambat karena aku merasakan seluruh tubuhku merinding. Kepingan- kepingan keringat bahkan sudah membasahi sekucur tubuhku. Aku seperti mendapatkan sesuatu yang kurindukan, aku merasakan rasa tenang dan hangat mengalir dalam aliran darahku.

Cengkraman kuat di pergelangan tanganku membuat lenganku kaku tak dapat bergerak sedikitpun. Entah kenapa aku tahu kapan aku pernah merasakan perasaan ini. Saat orang itu memelukku, saat orang itu menyentuh atau mencumbu bibirku. Teringat jelas di otakku itu semua, aku terlalu takut untuk menatap wajahnya.

Ia menarik tanganku dan tentu aku meningkatkan pertahan tubuhku untuk tidak bergerak. Aku terlalu takut padanya hingga aku menangis dalam diam, ia pun tak mengeluarkan suara sama sekali.

Tanpa aku ingin maupun tebak ia menarikku, lagi- lagi ia memelukku sangat erat. Aku benci ini, aku tak dapat berkutik. Tuhan aku tak dapat bernafas, sesuatu seperti mencengkram seluruh tubuhku. Luar biasa rasa ini, aku melayang, sampai rasanya tak ingin mendarat lagi. “Mengapa kau menghindariku? Apa kau tak tahu kalau aku sangat merindukanmu?”

Aku menegang, tenggorokanku bahkan tak bisa menelan salivaku sendiri. “Tolong jangan menghindariku Kim Taeyeon, aku bisa kehilangan nyawaku jika kau seperti ini.” Tak ada yang bersuara, namun tak bisa mengelak jetak jantungku semakin berburu bersamaan dengan hembusan angin yang mulai memanas. Aku didera rasa takut yang luar biasa, aku tak pernah setakut ini sebelumnya.

Kurasakan lututku melunak, aku terlalu takut bahkan hanya untuk berbalik. Kemudian aku berjongkok sambil menutup mata walaupun Baekhyun masih memegang salah satu tangankku. “Tolong jangan bunuh aku. Aku tak akan menceritakan pada siapapun bahwa kau adalah hantu. Tapi jangan sakiti aku, kumohon” Dengan nada memelas aku berusaha memohon padanya dengan nada paling menyedihkan yang bisa aku buat.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya seseorang yang tak kukenal suaranya dan seketika itu juga genggaman tangan Baekhyun lenyap.

Aku mengangkat kepalaku dengan hati- hati menatap namja itu. “Hwaa . . . “ Tangisku pecah sehingga aku kembali menunduk, aku sangat takut.

 . . . . . . . . . . . . . . .

Aku meneguk air yang diberikan namja tadi, entah sudah berapa banyak hari ini aku meneguk air gara- gara manusia ‘setan’ itu. Untung saja ada namja yang baik hati ini, ia tak jauh berbeda dengan Chanyeol. Mereka sangat baik, andai saja tak ada Baekhyun mungkin aku bisa hidup tenang di sekolah ini.

“Kau tadi kenapa?” Tanya namja itu tersenyum sangat manis, bahkan mungkin itu senyuman termanis yang pernah aku lihat sebelumnya, aku sedikit salah tingkah karena itu.

“Tak apa, hanya saja tadi ada sesuatu yang menakutkanku” Aku menjawab dengan jujur sambil mengalihkan perhatianku darinya. Entah kenapa, seolah masih ada benteng yang menghalangiku untuk lebih terbuka padanya.

Ia menatik tanganku dan melihat telapak tanganku dengan penasaran dan mimic yang kaget, aku hanya tercengang melihatnya. “Ada apa?” Tanyaku bingung.

Ia mendongak menampakkan wajahnya yang dipenuhi tanda tanya. “Apakah ‘sesuatu yang menatkukan’ yang kau maksud adalah Baekhyun?”

Aku secara spontan menatik tanganku karena kaget, dari mana ia tahu? Intinya segudang pertanyaan mengantri memasuki alam sadarku berharap ada orang yang segera menjawab itu semua. “A . . pa . . apa maksudmu? Aku tak mengerti” Aku berusaha mengelak, dan kemudian menarik tanganku kasar agar ia melepasnya. Aku sangat ingin melindungi jati diri Baekhyun. Setidaknya itu yang kutahu saat ini meskipun aku masih mempertanyakan penyebabnya.

Ia mendengus lalu kembali menarik lenganku namun kali ini sama sekali tak lembut seperti yang ia lakukan tadi. “Kau tak pernah memperhatikan gambar yang berada pada telapak tanganmu ini?”

Aku memperhatikan telapak tanganku, sekilas mungkin tak terlihat tapi jika benar- benar diperhatikan di sana tergambar dengan samar seperti bentuk burung elang namun juga bukan, yang ini sedikit lebih indah. Karena bingung aku menatap namja itu. “Aku tak pernah menyadari ini”

“Karena memang itu baru muncul” Jawabnya tanpa ada jeda dengan pertanyaan yang baru saja aku berikan.

Bingung, sangat bingung. Aku tak tahu apakah disini aku yang terlalu bodoh untuk mengerti semuanya. Yang aku tahu semenjak kehadiran Baekhyun hidupku berubah, aku sering mengalami ataupun merasakan hal- hal yang aneh. Tapi sekali lagi tak mengerti apa itu semua.

“Jauhi dia” Suara itu kembali merasuk ke dalam rongga pendengaranku dengan tegas.

Aku mengalihkan mataku menatapnya terheran- heran. Namja ini tak jauh berbeda dengan Baekhyun, mereka berdua sama- sama aneh. “Jujur aku memang sedang menjauhinya. Awalnya aku tak mau bercerita tentang ini kepada siapapun, tapi karena sepertinya kau lebih banyak tahu daripada aku, jadi aku akan menceritakan sekaligus menanyakan banyak hal padaku” Aku menarik nafas sebelum kembali melanjutkan, kulihat ia menatapku tanpa sedikitpun memberikan celah padaku untuk bebas dari pandangan intensnya.

“Dia sangat aneh semenjak kita pertama kali bertemu. Aku juga bingung mengapa ia selalu bersikap seperti orang bodoh di hadapan orang lain? Sedangkan dihadapanku dia bersikap sangat manis. Tak ada yang tahu bahwa ia mempunyai sisi lain seperti itu di kelasku sebelumnya. mereka semua beranggapan bahwa Baekhyun adalah anak autism dan aku tak percaya itu. Bahkan ia sering menghilang secara tiba- tiba seperti tadi”

“Aku tahu” Aku hampir kehabisan nafas setelah namja itu menyela. Dialihkannya tatapan dari mata itu ke arahku. “Jauhi dia, aku tak bisa menjelaskan banyak hal padamu. Tapi jangan pernah dekat- dekat dengannya atau kau akan celaka”

Ia berdiri hendak beranjak dariku yang masih terheran- heran. Aku tahu bahwa Baekhyun sangat aneh dan menakutkan. Tapi aku tak pernah merasakan hawa panas yang mengatakan bahwa ia berbahaya. “Apa maksudmu celaka?” Tanyaku kemudian.

Ia berhenti lalu kembali menghadap ke arahku “Namaku Xi Luhan. Kapan saja kau ingin menanyakan sesuatu padaku datanglah ke alamat ini” Ia menyodorkan kertas kecil yang kuyakini adalah kartu namanya. “Tak ada yang bisa kita bicarakan disini, karena tumbuhan bahkan tembok dapat mendengar segalanya.”

Aku sangat takut akan perkataannya tadi. Apakah semua orang sekarang sangat hobby membuatku sakit perut karena takut? Oh kalian sangat berhasil karena itu.

Tanpa mengucapkan sesuatu lagi namja yang katanya bernama Xi Luhan itu pergi. Aku melihat telapak tanganku lagi. Setelah kuamati dengan sangat saksama gambar burung itu sangat indah, disekitar sayapnya seperti ada api- api yang menyala. Aku tersenyum, apa yang terjadi padaku? Aku seperti sangat mengenal dan menyukai gambar itu.

Tiba- tiba aku mengingat sesuatu. “Aduh pasti Jiyeon sedang menungguku sekarng” Aku segera beranjak ke kantin setelah itu, menghilangkan segala kebingungan yang kalau aku fikirkan mungkin akan membuat segala isi kepalaku keluar.

  . . . . . . . . . . . . . . .

Auhtor POV

“Akhirnya kamu datang juga, kemana aja sih? Kami udah nunggu lama nih?” Yeoja mungil yang masih melangkah menuju meja yang ditempati empat gadis itu hanya tersenyum ketika mendapat berbagai pertanyaan yang ia duga dari salah satu gadis yang duduk di meja tadi.

Gadis disamping Jiyeon langsung menjitak kepala Jiyeon karena itu. “Ya! Ia baru saja tiba dan kau langsung menyerangnya dengan beribu pertanyaan? Benar- benar . . .”Omelnya dan yeoja yang dijitak hanya mengelus kepalanya.

Taeyeon sedikit merasa bersalah, ia tak masalah diomeli seperti tadi, toh ini memang salahnya. Dan lebih parahnya lagi gara- gara dia Jiyeon yang menanggung semuanya. “Sudahlah jangan fikirkan Jiyeon, sini duduk disini” Yeoja di samping Jiyeon mempersilahkan.

Dengan gerakan lambat dan masih kaku Taeyeon akhirnya duduk tepat di sisi kanan yeoja tadi. “Aku Eun jung” Ia menyodorkan tangan ke arah Taeyeon yang lansung dijamah gandis itu.

“Taeyeon immida” Ia memperkenalkan diri.

“Yuri immida” Taeyeon tersenyum menatap gadis yang berada tepat dihadapannya setelah yeoja berkulit sawo matang itu memperkenalkan diri.

Gadis di damping Yuri juga tersenyum dan memperkenalkan diri kepada Taeyeon. “Sooyoung immida”

“Senang bertemu kalian” Taeyeon menundukkan kepalanya.

Diluar dugaan gadis- gadis itu malah terkekeh yang membuat Taeyeon yang tadinya menunduk kembali menegakkan kepalanya canggung. “Apa ada yang salah?” Tanyanya polos.

Eun jung memegang pundak Taeyeon. “Anggap saja kita sekarang adalah teman karena kita memang teman sih” mereka tertawa bersama lagi yang membuat satu- satunya yeoja waras (?) disitu hanya menautkan keningnya. “Maksudku kau tak perlu bersikap terlalu formal” Gagasnya.

Taeyeon mengangguk mengerti, tadi ia hanya bersikap formal karena baru berkenalan dengan mereka. Takutnya jika terlalu ramah nanti dirinya di bilang tidak sopan, tapi ternyata yeoja- yeoja teman Jiyeon malah sangat ramah tamah seperti Jiyeon. Dan itu membuat Taeyeon semakin betah bersama dengan mereka.

Menikmati mie instan mungkin biasa- biasa saja apalagi bagi orang sekaya dan hidupnya seperti Taeyeon. Tapi yang istimewah adalah ia makan bersama teman- teman baru yang sangat seru menurutnya. Awalnya ia tak mau makan, tapi karena teman barunya membujuk terpaksa ia harus setuju. “Taeyeon- ah kau harus membayar semua ini, anggap saja kau sedang dalam masa orientasi” yeoja tertinggi diantara mereka langsung mendapat tatapan tajam dari eun jung setelah mengeluarkan usul candaan itu.

Taeyeon terkekeh melihat Sooyoung yang diam seketika. “Ia nanti aku yang bayar semuanya. Kalian bisa menikmati semaunya” Tentu bukan hal yang sukar bagi Taeyeon kalau hanya untuk mentraktir empat orang.

Sooyoung tersenyum lebar. “Pantas saja kau sudah populer bahkan sebelum pindah. Ternyata kau selain cantik juga memiliki jiwa sosial yang tinggi” Pujinya.

Eun jung sangat merasa bersalah pada Taeyeon, dan yeoja itu tentu menyadarinya melihat bagaiamana tatapan Eun jung padanya. “Tak apa, sekali- kali mentraktir teman bukan hal yang salah kan?” Lerai Taeyeon.

Baru saja Eun jung tersenyum Jiyeon sudah mengeluarkan kalimat yang menghapus senyum di wajah yeoja itu. “Dia memang seperti itu Taeyeon, selalu mencari perhatian agar kita semua perduli padanya” Ledeknya.

“Ya! Apa yang kau katakan?” Dengus Eunjung.

“Eun jung Jiyeon sudahlah, sampai kapan kita akan mulai makan jika kalian terus bertengkar?” Yuri yang semenjak tadi diam akhirnya buka bicara. Sepertinya ia sudah terlalu lelah pada perilaku teman- temannya yang sangat usil dan mudah tersinggung.

Eun jung dan Jiyeon diam namun masih saling mengirim sinyal pertengkaran yang membuat Taeyeon terkekeh. Namun mata yeoja itu menangkap sosok di ujung kantin yang langsung menarik perhatiannya. “Eh mian, tapi itu Hyoyeon. Sepertinya kita harus mengajaknya bergabung” Taeyeon mengusulkan.

Ke empat temannya malah bergidik ngeri yang membuat Taeyeon semakin bingung. Semenjak tadi ia terus dibuat bingung pada segala hal. “Kenapa kalian berekspresi seperti itu?” Tanyanya penasaran.

Jiyeon sedikit pucat seperti tak mau melihat keberadaan Hyoyeon yang agak jauh dari mereka. “Jangan bergabung bersamanya, ia berbeda dengan kita” Jiyeon menjelaskan.

Taeyeon memandang temannya yang lain dan ternyata mereka bertingkah ketakutan sama dengan Jiyeon. Taeyeon menggeleng. “Jangan melihat orang hanya dari status sosial dan penampilan saja”

Sooyoung menatap Taeyeon kesal, “Kami tak seperti itu, hanya saja salah satu teman kami ada yang baru saja meninggal gara- gara mendekati Baekhyun.”

Taeyeon tersentak, Baekhyun? Apakah orang aneh itu juga membunuh manusia? Apakah ia vampire? Wolf? Atau apa? Banyak sekali tebakan di fikirannya. Namun dari pada bingung ia memilih bertanya sesuatu yang menurutnya janggal. “Lalu apa hubungannya dengan Baekhyun?”

Yuri menyuruh mereka mendekat ke tengah meja dan keempat yang lainnya mengikuti intruksi Yuri. “Jiyeon karena kau adalah teman sebangku dari Soyeon. Jadi jelaskan pada Taeyeon sebelum terlambat.

Taeyeon semakin mengerutkan dahinya. Dengan takut- takut Jiyeon menjelaskan. “Kami dulu tak ber- empat. Melainkan dalam geng ini adalah lima orang, dan salah satunya adalah Soyeon”

“Lalu mana Soyeon sekarang?” Taeyeon menengah membuat Jiyeon menatapnya kesal. Taeyeon yang merasa ditatap hanya tersenyum kikuk.

“Tapi teman kami itu telah meninggal” Lanjut Eun jung. Taeyeon hampir kehabisan oksigen setelah itu.

“Kenapa bisa begitu?” Lagi ia bertanya.

“Karena teman kami itu jatuh cinta pada Baekhyun. Kami juga heran kenapa yeoja secantik Soyeon bisa mencintai namja autis seperti Baekhyun.” Sooyoung menambahkan.

Eun jung mendengus, “Tak ada waktunya membahas tentang itu Sooyoung”

“Kau juga, tak ada waktu untuk bertengkar” Yuri balik menegur Eun jung membuat Sooyoung tertawa kecil.

“Yah itulah yang terjadi. Namun pada suatu hari Soyeon melihat gambar burung aneh di tangan Baekhyun maupun Hyoyeon yang membuatnya kaget” Taeyeon membulatkan matanya dan menatap beku ke arah Jiyeon yang baru saja menambah penjelasan.

Eun jung kemudian kembali menambahkan. “Sejak saat Soyeon menceritakan hal itu kepada kami beberapa hari kemudian ia meninggal” Terlihat ekspersi sedih dari mereka. Taeyeon juga menunduk bukan karena terharu tapi ia masih bingung pada gambar di telapak tangannya yang ia yakini sama dengan milik Baekhyun dan Hyoyeon.

“Dan kau tahu? Teman kami itu mati mengenaskan karena terbakar. Dan tempat terjadinya peristiwa itu adalah di gudang dekat toilet, dan ada seseorang yang melihat Hyoyeon ada disana. Tapi orang itu tak punya cukup bukti sehingga berita itu hanya sebatas rumor. Semua orang tahu Hyoyeon menyukai Baekhyun. Dan kejadian itulah yang menyebabkan mengapa di sekitar toilet selalu sepi” Jelas Jiyeon dengan sangat tranparan membuat Taeyeon semakin bergidik ngeri.

“Jadi sebaiknya kau menjauh dari mereka. Daripada kami harus kehingan teman lagi” Eun jung memegang pundak Taeyeon untun menenangkan gadis yang sudah kebanjiran keringat dingin itu.

Taeyeon ditatap teman- temannya yang khawatir karena sikap beku yeoja itu. setelah itu dengan sangat hati- hati Taeyeon mencuri pandang ke Hyoyeon. Yeoja itu memang selalu sediri, lalu apakah benar semua cerita yang dikatakan oleh teman- temannya?

Tapi seluruh bukti membenarkan. Apalagi dengan sikap Hyoyeon yang diam dan Baekhyun yang sudah jelas- jelas bukan manusia di matanya. Ditambah  lagi penjelasan dari Luhan yang membuatnya semakin takut. Dan sekarang yang masih menjadi teka- teki adalah gambar burung di tangannya yang walaupun terlihat remang- remang tapi tetap saja menjadi misteri.

. . . . . . . . . . . . . . .

Taeyeon berjalan dengan langkah lunglai menuju toilet. Yeoja itu juga heran mengapa seperti ada sesuatu yang menariknya kesana. Bahkan ia sempat merasakan panas pada tangannya dan sakit pada bagian jantungnya.

Ia tak tahu itu semua, ia sangat sesak dan panas hingga ingin mencari air. Cerita dari teman- temannya memang sangat menakutkan tapi ia terlalu tertarik pada perasaannya. Bahkan ia menolak Jiyeon yang dengan senang hati ingin mengantarnya. Tapi tak ada yang bisa melawan insting dari seseorang.

Suara ringisan kembali ia dengar. Ringisan dan tangisan namja, yah itu suara Baekhyun dan berasal dari gudang tempat Chanyeol pernah menghajar Baekhyun. Apakah namja tinggi itu menghajar Baekhyun lagi? Seketika ia sangat khawatir.

Taeyeon takut pada Baekhyun, namun ia tahu namja itu tak akan menunjukkan kekuatannya pada orang lain. Dan entah rasa dari mana? Namun ia tak ingin Baekhyun terluka.

Suara tangis itu semakin dekat saat Taeyeon menampakkan dirinya di depan gudang yang tidak terkunci.

Deg deg deg

Gadis itu terperangah, mulut dan matanya terbuka lebar. Ia merasa seluruh tulangnya patah dan fikirannya kosong. Namja yang membantunya saat pertama kali masuk sekolah kini tengah terkapar mengenaskan dengan tubuh yang hangus bersama teman- temannya di lantai sedangkan sorang namja bernama Baekhyun sedang memandang mereka dengan air mata yang menetes.

Taeyeon tak bisa melakukan apa- apa karena ia tak tahu harus berbuat apa. Cahaya matahari berubah remang- remang saat sedetik kemudian ia telah terjatuh ke lantai yang penuh akan debu seperti Chanyeol dan kelima temannya.

*To Be Continued . . .

45 thoughts on “[Freelance] Love It Is (Chapter 3)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s