[Freelance] Behind The Library (Chapter 1)

req-trafalkid2

Behind The Library | Chapter 1

Author            :      trafalkid

Length            :      Multi Chapter

Genre              :      Horor and Romance

Main Cast       :      Kwon Yuri and Park Chan Yeol

Other Cast      :      Jurina Matsui

Yuri melirik ke arah jam tangannya.

“Masih jam 5 sore. Baiklah, sebentar lagi saja”, Yuri kembali menyibukkan diri dengan buku tentang sejarah dunia.

Tidak ada suara lain yang terdengar kecuali suara halaman buku yang dibolak-balik.

Hening, suasana yang tepat untuk menenggelamkan diri pada sebuah buku.

Bruk bruk bruk, suara langkah kaki terdengar dari luar perpustakaan.

Brak, pintu terbuka. Seorang namja menutup pintu tersebut.

Ia mengedarkan pandangannya ke ruangan itu. Namja itu terlihat sedang mencari sesuatu.

Merasa tidak mendapatkan yang ia cari, ia segera menghampiri seorang yeoja.

“Mmm, annyeong”, sapa namja itu.

Yuri meliriknya sekilas. Ia menganggukkan kepala. Selanjutnya ia kembali hanyut dalam bacaannya.

Merasa dihiraukan namja itu menjentikkan jarinya tepat di depan wajah yeoja itu.

Itu berhasil membuat Yuri mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca.

“Ada apa?”, tanya Yuri tanpa basa-basi.

Namja itu tertawa kecil, “Apa sih menariknya buku itu dibandingkan denganku?”.

Yuri memutar bola matanya.

Ia tak ingin membuang waktu dengan berbicara bersama namja narsis di depannya.

“Hei hei, aku ingin bicara padamu”, rengek namja itu.

Yuri membalik halaman bukunya. “Kau sudah berbicara tadi”.

Namja itu menaikkan sebelah alisnya. Ia heran kenapa ada yeoja yang memperlakukannya seperti ini.

“Kau tidak mengenalku?”, rasa penasaran menghampiri namja itu.

Yuri menatapnya, “Tidak”.

Mulut namja itu menganga lebar. “Kau tidak mengenalku?”, ulangnya.

Kali ini Yuri hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan.

“Aku, Park Chan Yeol. Kapten tim voli sekolah ini. Namja yang digila-gilai banyak yeoja di sekolah ini, dan dielu-elukan sebagai pahlawan sekolah ini. Dan kau tidak mengenalku?”, namja berperawakan tinggi itu menempelkan kedua telapak tangannya di atas meja.

“Aku tahu”, kata-kata Yuri itu seakan menyebabkan kilat bergemuruh di sekitar Chan Yeol.

“Tadi kau bilang tak mengenalku!”, Chan Yeol mulai merasa dipermainkan.

“Aku memang tidak mengenalmu, tapi aku tahu tentang yang kau bicarakan tadi”, jawab Yuri dengan tetap tak mengindahkan keberadaan namja famous itu.

Sebelum Chan Yeol membalas perkataan yeoja itu, suara ribut dari luar perpustakaan menyadarkannya akan tujuannya masuk ke perpustakaan ini.

“Kyaaa! Oppa dimana kau?”, ujar seorang yeoja.

“Tadi aku melihatnya berlari di sekitar sini”, timpal yeoja lain.

“Apa kau yakin?”, tanya yeoja di sebelahnya.

“Eh? Mmm, sepertinya”, jawab yeoja yang ditanyai itu.

Tiba-tiba seorang gadis yang memakai ikat kepala bertuliskan Yeolie, you’re my super hero, tengah meneriakkan sesuatu pada kumpulan yeoja di sekitarnya.

“Kita berpencar. Kabari aku bila kalian menemukannya”.

“Ne”, jawab gerombolan itu serentak.

Tak perlu ba bi bu lagi, mereka semua segera berpencar.

Chan Yeol bersembunyi di bawah meja.

“Percuma saja, kau masih kelihatan”, ujar Yuri.

Chan Yeol keluar dari persembunyiannya. “Dan kau tak berusaha untuk membantuku?”.

Yuri mendongak, “Itukah caramu untuk meminta bantuanku?”.

Chan Yeol menggeram. Ia jengkel dengan yeoja yang diajaknya berbicara.

Grep, Chan Yeol menarik paksa tangan Yuri. “Bantu aku”.

Yuri mencoba melepaskan tangannya yang di genggam erat oleh Chan Yeol. Itu tidak berhasil, cengkraman namja itu terlalu kuat.

Chan Yeol begitu kalut. Ia harus menemukan sebuah tempat persembunyian. Ia jemu menyambut fans-fansnya yang tak henti-henti mencoba uutuk mencubitnya.

Ting, sesuatu berkelebat di pikiran namja tampan itu. Ia berbalik badan, “Kau pernah mendengar cerita bahwa di sebuah perpustakaan ada sebuah ruangan tersembunyi ‘kan? Aku pernah memainkan sebuah game dan ruangan rahasia itu ada!”, Chan Yeol terlihat bersemangat.

It’s a real world and it isn’t a game world”, jawab Yuri sinis.

Chan Yeol melepas genggaman tangannya. “Game tak selamanya hanya sebuah game. Kau tak ‘kan tahu fakta yang dapat ditemukan dari sebuah game”.

Yuri menahan tawanya, namja di depannya itu terlihat amat konyol. Ia dibutakan oleh game. Bocah malang.

Chan Yeol meraba-raba tembok perpustakaan. Biasanya ada tombol yang bisa membuat ruangan tersembunyi menjadi tersingkap.

Nihil.

Rasa frustasi hinggap di pikiran Chan Yeol karena ia tak kunjung menemukan tempat persembunyian yang tepat. Maka dari itu imajinasinya mulai mengambil alih otaknya.

“Kau melakukan hal yang sia-sia”, sindir Yuri.

Chan Yeol tak mempedulikan sindiran itu.

Ia mengitari tembok-tembok ruangan itu.

“Mungkin tombolnya berada di rak buku”, gumam Chan Yeol.

Ia sudah mencari-cari sebuah tombol tapi tetap tak dapat ditemukan.

Di rak buku terakhir juga tidak terdapat sebuah tombol. Rak itu penuh dengan debu. Buku-buku yang mengisi rak itu terlihat seperti buku-buku yang sangat tua dan kuno.

Chan Yeol melihat sesuatu. Ia membersihkan debu yang menutupinya.

Simbol matahari.

“Oh, damn! Kukira tombol”, gerutu Chan Yeol.

“Berpikirlah secara realistis. Jangan termakan oleh game yang berasal dari khayalan yang tak bisa terealisasikan”, Yuri menepuk pundak Chan Yeol.

Chan Yeol memandangi yeoja di belakangnya.

“Baiklah kurasa kau benar. Aku benar-benar maniak game sampai-sampai terlihat begitu bodoh”, sahutnya.

Chan Yeol menderapkan kakinya ke arah yeoja itu, “Memang aku harus menghadapi para fansku. Tak ada gunanya bersembunyi”.

Tanpa Yuri dan Chan Yeol sadari, simbol matahari yang berwarna hitam itu kini berganti warna menjadi carmine. Simbol itu menyala. Kemudian rak buku itu tergeser.

Chan Yeol mendengar suara benda digeser. Ia menghadap ke belakang.

Ia meraih lengan Yuri dan berlari menuju rak itu.

“Kau lihat! Aku benar! Ada ruangan tersembunyi di sini!”, pekik Chan Yeol riang.

Kegembiraan Chan Yeol terbuyarkan ketika mendengar teriakan beberapa yeoja yang berada tepat di luar perpustakaan.

Chan Yeol segera menarik Yuri agar masuk ke dalam ruangan itu. Kemudian ia segera menggeser rak itu agar tertutup.

Yuri melihat sekelilingnya dengan takjub, “B-bagaimana bisa?”.

“Tentu saja bisa. Because this world is a game world. You will never know what will happen”, seringai puas tergambar di bibir Chan Yeol.

Ruangan itu terasa begitu kuno. Debu dan sarang laba-laba menghiasi sudut-sudut ruangan itu.

Yuri merasa ruangan itu seperti washitsu – ruang tamu tradisional Jepang.

Sebuah bingkai foto tergeletak di atas sebuah khosatsu.

Chan Yeol mengangkat bingkai foto itu. “Sepertinya dulu ini adalah ruang keluarga”.

“Ha! Pantas saja aku merasa asing dengan tempat ini. Ini adalah kediaman orang Jepang, bukan Korea”.

Yuri tak sekalipun meninggalkan tempatnya berdiri sejak tadi.

Suasana sekitar mulai terasa aneh. Udara seakan menjadi sangat dingin. Bulu kuduknya berdiri.

Hanya ia yang dapat merasakan hal itu.

Dan hal yang sudah ia duga benar-benar terjadi.

Yuri melihat sosok seorang wanita mengenakan yukata. Chan Yeol tak bisa melihatnya, padahal ia berada persis di sampingnya.

Wanita itu menatap tajam ke arah Yuri.

Kaki Yuri bergerak mundur selangkah.

Ia memang terkadang bisa melihat hal-hal tidak lumrah seperti ‘itu’.

Dengan tekad bulat Yuri memberanikan diri, “Apa maumu?”.

Chan Yeol berbalik badan, “Tentu saja bersembunyi”.

Dalam waktu kurang dari 1 detik, wanita itu saat ini sudah berada di depan Yuri.

“Harusnya aku yang bertanya, apa maumu?”, tanya wanita itu dalam bahasa asing.

Yuri bisa mengerti dari ucapan wanita itu bahwa ia bukan warga Korea.

“Lelaki itu..”, wanita itu menunjuk ke arah Chan Yeol. “Tak lama lagi maut akan menjemputnya. Dan ia akan mengalami penderitaan yang cukup hebat sebelum kematiannya”.

Yuri membelalakkan matanya.

Chan Yeol heran dengan kelakuan Yuri. “Hei, kau tidak apa-apa?”, namja jangkung itu mendekati Yuri.

“Kau alergi debu?”.

Yuri sejenak memandang sosok di sampingnya, lalu ia beralih menatap Chan Yeol. “K-kurasa sepertinya juga begitu. Maaf, aku harus pergi”.

Grep, Chan Yeol menahan kepergian Yuri.

“Aku juga akan pergi. Aku tak mau sendirian di tempat ini”, selanjutnya Chan Yeol menggeser rak buku itu.

“Sekarang sudah bebas debu, hehe”, ujar Chan Yeol.

Yuri masih terbayang-bayang oleh sosok tadi. Ia sudah seringkali melihat hantu berbicara, tapi menggunakan Bahasa Jepang? Itu tidak lumrah. Apalagi menilik dari kondisi ruangan itu. Lantai kayunya sudah mulai lapuk. Ia pasti sudah lama meninggal dunia. Mungkin sosok itu meninggal saat invasi Jepang ke Korea.

Chan Yeol merengut. Lagi-lagi ia diacuhkan oleh Yuri.

“Jangan khawatir, kita sudah tidak lagi berada di ruangan itu”, hibur Chan Yeol sembari mengacak-acak poni Yuri.

Yuri tertegun. Ia menatap lurus ke arah mata Chan Yeol.

Tiba-tiba ia teringat dengan perkataan hantu tadi. Namja di depannya ini memiliki waktu hidup yang singkat dimulai dari sekarang.

Chan Yeol menempelkan punggung tangannya ke dahi Yuri, “Astaga, kau demam”.

“Tak apa. Bukan masalah besar”, Yuri memaksakan senyumnya di balik bibir tipisnya.

Chan Yeol merengut lagi.

“Oppa! Dimana kau!”, terdengar teriakan seorang yeoja.

Chan Yeol mengintip ke luar jendela.

“Aku duluan ya. Aku tak ingin memereka memergokimu denganku”, lalu Chan Yeol melangkahkan kakinya keluar pintu.

Kaki Yuri terasa membeku. Ia tak bisa menggerakkan kakinya.

Secepat kilat, ia menepis bayangan-bayangan tadi.

“Ia hanya menggertak”, kemudian ia keluar dari perpustakaan itu.

~~~

Kasak-kusuk para siswa mewarnai pagi di kelas Yuri.

Yuri yang baru datang meletakkan tasnya di atas meja.

Samar-samar pembicaraan itu terdengar, “Aku tidak tahu kronologisnya. Tapi ia menderita luka yang  cukup fatal. Tulung rusuknya hancur dan ia mengalami gegar otak”.

Yuri berniat mengindahkan apa yang terdengar olehnya.

Tapi…

“Kasihan sekali si Chan Yeol”.

Yuri menoleh ke arah yeoja di sebelahnya.

“Kalian sedang membicarakan siapa?”, tanyanya.

“Ya Tuhan, kau tidak mendengar beritanya? Park Chan Yeol kecelakaan dan ia mengalami gegar otak”, jawab yeoja yang ditanyainya.

Tubuh Yuri menegang.

“Tidak mungkin”, ujarnya.

“Kami juga merasa tidak mungkin, tapi itu benar-benar terjadi. Poor Yeolie”, imbuh yeoja di sampingnya.

Kriiing, bel masuk berdering.

Semua siswa duduk anteng di tempat duduk masing-masing.

Yuri mengepalkan tangan, “Aku harus menemuinya”.

~~~
Saat itu kelas dibubarkan lebih awal. Yuri memanfaatkan moment itu dengan baik.

Ia menoleh ke kanan dan kiri.

Aman.

Dengan kekuatannya ia menggeser sebuah rak buku di perpustakaan.

Dan dengan segera ia menutupnya.

“Kau datang lagi”, sambut sesosok wanita.

“Aku tak mau berlama-lama disini. Jadi langsung ke intinya saja, kau yang menyebabkan kecelakaan itu ‘kan?”, tanya Yuri.

Sosok itu berpendar, “Menarik sekali. Kau bisa melihat wujudku dan bisa berkomunikasi dengan bahasa Jepang. Selama ini orang-orang yang berada di sini mati tanpa mengetahui penyebabnya. Ya memang ada yang bisa melihat wujudku, tapi mereka tidak paham dengan Bahasa Jepang”.

“Tunggu”, potong Yuri. “Sebelumnya ada orang lain disini?”.

Hantu itu menunjukkan seringainya, “Tentu, banyak sekali”.

“Dan kehidupan mereka segera berakhir?”, tanya Yuri lagi.

“Nah, itu kau tahu”, jawab hantu itu sembari tertawa kecil.

Yuri memutar bola matanya, “Kenapa kau membunuhnya?”.

“Bukan aku yang membunuhnya”, hantu itu kini melayang-layang di samping Yuri.

“Kurasa kau butuh penjelasan”, hantu  itu berdeham pelan.

Yuri memasang mimik marah.

“Ah, maaf kurasa aku belum memperkenalkan diri. Salam kenal, aku Jurina Matsui”, hantu itu memberikan bow pada Yuri.

Yuri tak mempedulikan itu.

“Baiklah, kurasa kau memang tak betah berlama-lama disini”, ujar Matsui kesal.

“Nah, itu kau tahu”, sahut Yuri mengutip kata-kata Matsui.

Matsui terlihat makin kesal namun ia bisa mengontrolnya.

“Intinya penyebab kecelakaan lelaki itu adalah karena kutukan”.

“Kutukan? Kutukan apa?”, tanya Yuri penasaran.

“Kutukan dari keluargaku”, jawab Matsui. Kegetiran terdengar dalam nada bicaranya.

“Siapapun yang masuk ke dalam ruangan ini, orang itu akan mati”, lanjutnya.

Yuri menelan ludah,  “Berarti aku juga termasuk?”.

“Tidak. Jika ada lebih dari 1 orang yang masuk ke ruangan ini, hanya orang pertamalah yang akan mati”, papar Matsui.

“Aku juga orang pertama yang masuk ke ruangan ini hari ini”, Yuri mengecilkan volume suaranya.

Matsui jelas mendengarnya, “Kutukan itu tak berlaku padamu”.

“Kau sudah pernah kesini, dan saat itu kau bukanlah orang pertama yang masuk ke ruangan ini”, imbuhnya.

“Kutukan itu disebabkan oleh ….”, Yuri tiba-tiba menyela kalimat Matsui.

“Aku tidak peduli!”, Yuri berteriak kemudian ia berlari meninggalkan washitsu kuno itu.

Matsui mengejarnya tapi ia tertahan.

Ia tak bisa keluar dari ruangan itu. Matsui bak burung dalam sangkar.

~~~

Langkah Yuri terhenti.

Saat ini ia berada di ruang tunggu di sebuah rumah sakit.

Entah kenapa ia tadi mendadak ingin melihat kondisi Chan Yeol.

“Untuk apa aku berada di sini?”, rutuknya dalam hati.

Seorang yeoja menarik lengan temannya, “Aku tahu dimana ruang perawatan Yeolie oppa! Ikut aku!”.

Yuri diam-diam mengekor di belakangnya. Niatnya untuk pulang ke rumah sirna.

Yuri menyetop langkahnya. Ia membetulkan tali sepatunya yang lepas.

Ketika berdiri ia sadar bahwa orang yang sedang ia ikuti sudah tak berada di jangkauan mata.

Yuri menarik napas, “Memang seharusnya aku pulang”.

Ia masuk ke dalam sebuah lift.

Pintu lift hendak menutup, namun akhirnya membuka kembali.

Beberapa suster masuk ke dalam lift di temani oleh ranjang dorong.

Dari luar lift terdengar sedikit kegaduhan.

“Yeolie!”.

Yuri terkesiap mendengar teriakan dari luar lift.

Yuri melirik ke arah orang yang sedang berbaring di ranjang.

“Park Chan Yeol!”, teriaknya dalam hati.

~~~

45 thoughts on “[Freelance] Behind The Library (Chapter 1)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s