Concealed…

concealed [BaekFany] ver

Title || Concealed… || Author || Fadila Setsuji || Genre || Marriage life,Sad || Rating || PG 16-17 || Length ||Drabble || Cast || SNSD Baekhyun-SNSD Tiffany ||

Note

Semua menggunakan sudut pandang Baekhyun

=Happy Reading=

(Baekhyun POV)

Mengapa dia menangis?

.

.

.

  Dalam suatu saat secara tak sengaja kutemukan bekas basah diatas seprai putih yang menyelubungi kasur empuk dikamar kami. Tak begitu meluas namun tetap jemariku bisa merasakannya. Seperti sebuah jejak,yang pada—malam—waktu itu memaksaku terjaga,memanggil ragaku untuk sejenak melupakan istirahat.

Aku ingin mencarinya,karena aku tak menemukannya disampingku.

Langkahku menelusur,menuruni beberapa anak tangga. Mencoba mengamati bagian bawah rumah ini. Dan ketika kaki ini tepat memijak tepat pada anak tangga yang terakhir,aku menemukannya.

Bayangan yang memanjang itu,mengarah kedapur. Dan yang kulihat dia tengah berdiri,memunggungiku. Ada suara seperti seseorang yang tengah memotong motong. Mengapa? Sang mega pun belum terjaga… Tak seharusnya dan tak sewajarnya seseorang memenuhi dapur dengan aroma masakan yang mengundang selera tepat pukul dua dinihari…

“Miyoung-a?”

Suara antara talenan yang bersentuhan dengan pisau itu sejenak tak lagi terdengar. Pemilik raga itu,istriku,malah berdiam kaku disana. Tak berniat memalingkan wajahnya untuk menatapku

“E-eoh… Baekhyun-a..”

Dengan posisi yang masih memunggungiku,dia berucap. Masih saja… Tak mau menatapku

Aku tak mengerti,mengapa seperti itu. Tak ada pertanda apapun,dan aku tak cukup peka hingga dengan tanpa berpikir aku mendekatinya.

” Miyoung… Waegureyo?”

Gadis itu seperti tersentak—aku merasakannya—begitu tanganku melingkar ditubuhnya. Namun dia tak melepaskannya. Justru menahan lenganku,seperti memintaku mendekapnya lebih erat.

“Baekhyun…”

Suara lembut yang teramat lirih. Memanggil namaku sebelum kurasakan tubuhnya bergetar hebat dalam dekapanku.

“Kau… Menangis?”

“Baekhyun… Baekhyun… Baekhyun…”

Kulit tanganku merasakan sensasi dingin. Setetes demi setetes liquid membasuh lenganku, membuatku penasaran.

” Miyoung…”Dengan perlahan,aku meraih pundaknya. Memutar tubuhnya hingga aku bisa melihat dengan jelas wajahnya yang telah basah itu “kau…menangis…”

“Baekhyun-a…”

Tak ada jawaban yang dia lontarkan. Hanya menerjangku,melingkarkan lengannya dipinggangku. Menangis sekencangnya didalam dekapanku

.

.

.

Ada berbagai macam alasan. Dan diantara berbagai alasan itu,aku tak tahu yang mana yang dapat memberikanku jawaban. Jawaban untuk dapat membaca dirinya. Dirinya yang selalu menangis tepat setelah dia meyakini aku telah berada dalam dunia mimpi…

.

.

.

“Mungkin… Kau kurang ‘memuaskan’nya?”

Jawaban—yang aku yakin itu hanya sekedar gurauan menjelang waktu makan siang—itu terlontar dari mulut sang cassanova dikantor tempatku bekerja. Kim Jong In,dia yang mengatakannya. Oh ayolah,aku tak berharap si cassanova ini akan berkicau. Jawaban yang dia berikan juga takkan lari dari pemikirannya yang sampai membuatnya menyemat julukan itu (aku harap kalian mengerti maksudnya)

“Hei,kawan kita ini sedang tidak ingin bercanda”Suho yang tepat datang dengan dua cangkir kopi panas itu,memaksa Kai menoleh. Membuat pria itu mengerucutkan bibir tebalnya.

“Ish!”Desis Kai “siapa juga yang mencandai Baekhyun?!”

Suho tersenyum dan berjalan mendekatiku. Dia mendudukkan diri tepat disampingku,menawarkan cangkir kopi yang satunya padaku. Aku lantas menerimanya,menyesapnya kemudian. Berharap bisa sedikit menghilangkan aura negatif

“Apa kau sudah mencoba menanyainya?”Tanya Suho. Dan aku hanya bisa menggeleng

“Kenapa?”

Aku berdiam diri sejenak,sampai akhirnya aku memberikan Suho jawaban “aku memang begitu hyung”

“Yak! Kau ini bodoh atau apa Byun Baekhyun?!”

“Kai!”

“Biarkan aku bicara dulu hyung!”Kai balik memarahinya “aku tahu kau bukan tipe orang yang suka mencampuri masalah,tak pernah bertanya apapun pada siapapun walau keadaan sesulit apapun dan semembingungkan bagaimanapun! Tapi kau itu suaminya,jadi sepatutnya menanyai istrimu,tak hanya seperti robot yang selalu diam!”Kai mencercaku dengan kata kata yang sampai membuatku terdiam. Melihat wajahnya yang penuh keseriusan,membuatku berpikir bahwa sebenarnya pria cassanova yang bertingkah santai itu sebenarnya jauh lebih mengerti setiap hal yang ada di dalam kehidupan ini. Bahkan walau dia belum menikah—ini karena kebiasaannya mencampakkan wanita yang selalu merongrong ingin dipacari olehnya—dia seperti mengerti.

Suho,pria itu sejenak tertegun. Tak lama,dia meletakkan cangkirnya dan menepuk pundakku.

“Kau tahu… Benar apa yang Kai katakan itu,Baekhyun. Sebagai suami istri,jangan berpikir untuk memendam sesuatu. Bersikap terbuka,berani untuk tahu aku rasa pilihan yang bijak yang mungkin akan bisa mengatasi semua kekalutanmu itu”

“Yap”kai mengangguk dengan tangan yang melipat didada. Membenarkan ucapan Suho barusan

Inilah kegunaan sahabat? Hm… Aku merasakannya sekarang

“Eoh, Miyoung noona?”

Kai tiba tiba memekik,memanggil nama istriku. Sontak aku dan Suho berbalik,mendapati Miyoung dengan balutan busana putih gading,menutupi tubuhnya hingga melewati lutut. Miyoung lantas tersenyum dan mengangkat bungkusan.

Annyeong“sapanya

“Kau kenapa tidak menelponku? Memangnya itu apa?”

“Aku pikir… Aku malas makan siang sendiri. Jadi… Lebih baik memakannya secara beramai ramai bukan?”

“Tapi… Kau tidak perlu sampai merepotkan dirimu hanya untuk membawakan ini Miyoung-a”

Yak!” Miyoung mengerucutkan bibirnya kemudian “apa kau sedang memarahiku sekarang? Aku kan sehat sehat saja! Kau memperlakukanku seperti aku sedang mengidap penyakit serius atau semacamnya”

“Miyoung-a… Bukan begitu maksudku”

“Yasudah. Aku memaafkanmu yeobo

Aneh,ada apa? Inikah efek dia menangis tersedu sedu semalam?

Miyoung mendekati meja kerjaku,meletakan bungkusan itu dan mengajak serta Suho juga Kai untuk ikut makan bersama.

“Baekhyun-a… Sini”

“Baekhyun/Hei,ayo makan”

Ulasan senyum tipis tanpa sadar terbentuk. Membuatku mendekat kesana,dan mulai melahap makanan buatannya yang memang selalu memuaskan rasa laparku.

Tapi… Semua ini mulai terasa aneh

.

.

.

Aku masih tak menemukan jawabannya. Pikiranku serasa buntu setiap kali kurasakan kelu begitu aku ingin menanyainya. Berat

.

.

.

” Miyoung-a…”

Kucoba memanggilnya ketika dirinya tengah asyik bersenandung ria di mobil. Lagu yang mengalun,memenuhi hampir seluruh ruang di mobil itu menghilangkan konsentrasinya,sepertinya. Menyita seluruh konsentrasi,bahkan hanya untuk menyahuti panggilanku

” Miyoung-a…”

Dia tetap bersenandung riang,mengabaikanku. Entahlah…

Apa mungkin… Efek dari lagu ini? Lagu yang biasanya dia dengarkan… Lagu yang menurutku… Menyedihkan… Tapi baginya tidak?

Sekali lagi…

” Miyoung-a…”

Kali ini dia tak mengabaikannya. Dia mendengarnya,dia berhenti bersenandung. Lantas ditatapnya diriku,dengan tatapan bingungnya itu

Waeyo,Baekhyun-a?”Tanyanya

“Eum…”Mendadak kelu menyerangku. Mengatupkan bibirku,menghalangi gerakan bahkan udara yang sejenak bisa kuhirup. Berat menanyakannya,takut akan merusak wajah polos nan cantik itu

Oppa?”

“Ah,a…aniyo“ujarku. Pandanganku segera kualihkan pada jalanan yang kini tengah kami lalui. Dan kudapati dengan ujung mataku dia mengerucutkan bibirnya. Segera membuat tanganku yang satunya melepas kendali pada kemudi,menggunakan jemariku untuk menangkup kepala bermahkotakan surai legam yang aku sukai itu.

“Ya~~Bukan apa apa. Aku juga sudah lupa apa yang mau kukatakan itu,Miyoung…” Ujarku lembut “jangan merajuk”

“Hhh~~ arra

“Kekeke,kau lucu sekali Miyoung-a”

“Memang”

Suasana kembali terasa menghangat. Namun… Ada bisikan dari dalam diriku,yang entah dari mana dan bersumber dari siapa. Itu cukup menggaguiku,kupikir.

Segala tanyaku,segala penasaran yang menggerogoti pikiranku. Aku harap aku akan menemukan jawabannya… Dari mata legamnya itu

.

.

.

Pada akhirnya kubiarkan waktu demi waktu dengan diriku yang masih dihantui sejuta tanya. Tak pernah habis dan tak pernah bosan,bahkan ketika aku berniat melupakan segalanya itu. 

Pertanyaan memang selalu harus untuk terjawab… Jika tidak hanyalah dirimu dengan sebegitu banyaknya rasa penasaran yang bagai hantu. Menyusup direlung hati,menciptakan halusinasi yang mungkin nanti akan berbaur dengan pikiranmu. Menciptakan fana yang pada akhirnya akan menimbulkan prasangka prasangka yang berujung pada masalah

.

.

.

Dan waktu berlalu dengan segala keanehan keanehan yang semakin mengganguiku. Miyoung berubah menjadi wanita yang tak mengenal waktu. Dia selalu bangun sebelum pagi. Dia seperti tengah dikejar oleh sesuatu yang entah apa. Dia seperti tak berniat menyiakan waktu yang sebenarnya tak masalah untuk dia sia siakan. Tubuhnya yang berisi secara perlahan mengempis. Wajahnya kian hari berubah memucat,nafasnya tak beraturan.

Itu terus berlanjut… Hingga pada suatu ketika,aku mendapati tabung transparan yang tersembunyi diantara banyaknya tabung berisi bumbu dapur. Aku menemukannya tak sengaja ketika aku mencari bumbu tambahan untuk ramyum yang kumasak. Hari itu Miyoung tak memasak. Dia terlelap…

“Apa ini… Miliknya?”

Pada akhirnya pertanyaan yang selalu menggangu itu benar benar membangkitkan rasa penasaranku. Dengan penemuanku itu,pikiranku menuntunku… Menuju tempat yang aku pikir mungkin aku bisa menemukan sebuah jawaban. Secuilpun tak masalah,asal bisa mengatasi–walau hanya sedikit– dari rasa penasaran ini

.

.

.

 

Aku selalu benci mempertanyakan sesuatu dalam hidup ini. Biarlah orang mengatakan aku melarikan diri dari masalah,dari resiko… Dan dari rasa sakit yang mungkin aku rasakan ketika aku dihadapkan pada satu kenyataan yang tak mengenakkan.

Akan lebih baik untukku jika tidak mengetahuinya… Dan aku mengingkari prinsip yang telah kutanamkan dengan teguh dihatiku.

.

.

.

Ban mobil yang bergesekan dengan jalanan beraspal dikota Seoul,melenyapkan sejenak ketenangan yang terasa dimalam itu. Suara mesin mobil yang berderu dimalam itu semakin terdengar. Kupacu kecepatannya.

Apa ini?

Apa yang kulakukan?

Aku melaju dengan kecepatan yang tak wajar

Aku sedang berpacu,menginginkan detik demi detik yang akan kulalui dengan aku yang telah sampai disana…

.

.

.

hyung?”

Sehun,dongsaeng  kesayanganku itu tujuanku. Kudatangi kliniknya tepat ketika dia baru tiba disana. Dia–Sehun–selain menjalankan kegiatan di klinik,dia juga menjadi dokter disalah satu rumah sakit di Seoul. Dia tipe yang tak suka berdiam diri. Maka dari itu dia sering melakukan kegiatan yang jika dinilai seharusnya dikurangi,mengingat dirinya juga seorang yang seharusnya telah mencanangkan hidup bersama seorang wanita.

“Sehun-a… Aku ingin menanyaimu… Sesuatu”

Mwoya?”Tanya Sehun “tumben sekali hyung bertanya pada orang tentang sesuatu…”

“Untuk kali ini… Aku buntu”

“Ah,arra arra. Ayo masuk dulu”

.

.

.

 

Dan pada akhirnya… Aku mengetahui sesuatu dari segala kenyataan yang dunia tutupi dariku. Namun,ketika aku mengetahuinya… Aku menyesal. Aku seharusnya tak tahu,aku seharusnya membiarkan segala hal tetaplah menjadi misteri untukku. Seharunya bisa kutahan rasa penasaran yang teramat mengganggu itu. 

Dan aku menyesal…

.

.

.

“Apa yang ingin kau tanyakan,hyung?”Sehun,dia kini menatapku. Menunggui bibirku yang masih mengatup. Aku ragu untu menanyakan padanya,akan tetapi… Jika bukan dia,aku tak tahu harus mencari siapa lagi yang dapat memberiku jawaban.

Hyung…”Panggilnya. Dan segera aku tersadar dari lamunan dan lantas meraih saku celanaku,mengeluarkan tabung kecil yang kutemukan itu

“Ini dia”ujarku “yang ingin kutanyakan padamu”kuserahkan tabung kecil itu padanya. Tangannya dengan segera meraihnya. Diamatinya dengan seksama,beberapa kali. Dan didetik yang entah telah melewati berapa lamanya itu kulihat dahinya memunculkan kerutan. Alisnya berkerut,matanya seolah menggambarkan ketidakpercayaan terhadap hal yang hanya dia dan Tuhan yang tahu (karena Sehun belum memberitahuku)

Rasa penasaran yang telah melewati batas,mendesakku untuk segera menanyainya “Sehun-a…waeyo?”

Hyung…”

Mwo?”

Dia tampaknya ragu… Seperti mengisyaratkan padaku tentang sesuatu yang tak mengenakkan yang mungkin ada baiknya untuk aku tidak tahu. Tapi… Rasa penasaranku mengabaikan itu. Dia makin mendesak,membuatku sesak. Aku mengharapkan jawaban,sesingkat apapun itu…

Kleine-Levin Syndrome

Sehun memberiku sebuah jawaban… Yang aku sama sekali tak bisa mengartikannya. Aku ini pegawai yang bekerja dan digaji oleh negara. Aku ini berkutat dengan sejumlah urusan perusahaan. Aku bukan orang mengerti dengan istilah aneh dalam kedokteran seperti yang baru saja dikatakan Sehun padaku…

Tapi… Ada satu hal yang bisa kumengerti saat itu. Sehun tidak sedang memberiku kabar baik…

TBC or END?

28 thoughts on “Concealed…

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s