[Freelance] Touch Love (Chapter 2)

CHAP 2

Title

TOUCH LOVE

Author        

DeliaAnisa

Genre

Drama, family, romance, and little sad

Length

Multichapter

Rating

PG-15

Main Cast

Kim Taeyeon and Byun Baekhyun

Other Cast

Yoon SoHee, Oh Sehun, Kyung Soo, Xiu Luhan, etc

Disclaimer

Ini FF hasil dan murni dari imjinasi saya, maaf jika ada kesamaan dan tentunya itu tidak disengaja, and don’t plagiat.

Author Note

Maaf yahh kalau FFnya gak dapet feel bagi yang membacanya, karena ff ini saya reka ulang kembali, alurnya saya ubah sedikit jadi saya sedikit mikir lagi.. so . silahkan baca and enjoy ne ^^

 

Priview

 

Seorang pria kecil dan katakanlah ia berumur 9 tahun sedang meringkuk memeluk kedua lututnya didepan rumah yang bisa dikatakan besar dan mewah, matanya terus saja menatap kedepan melirik pagar rumah itu, berharap seseorang datang menemuinya. Ia meringis kesakitan memegang perutnya, dia lapar.

            “ouhh appo”. Racaunya terihat gelisah dengan rasa sakitnya yang tak tertahan.. sudah hampir 2 jam dia hanya meringkuk mengharapkan sebuah bantuan dari sang pemilik rumah besar itu, pada akhirnya ada suara pagar terdengar menggema ditelinganya, ia menghembuskan nafas leganya, dan terlihatlah seorang wanita yang diketahui berumur 14 tahun  itu keluar dari rumah harapan pria kecil itu. Dia tersenyum dilain sisi karena senang akhirnya akan ada orang yang memberinya sebuah makanan, dan disisi lain juga dia terkagum-kagum menatap wanita cantik dengan rambut berfoni serta kulit putih halusnya.. wanita itu mendekatinya dan pria kecil itu tersenyum lebar..

“kau siapa?”. Tanya wanita itu dengan nada datarnya, pria kecil itu lantas berdiri semangat menatap gadis yang menurutnya ini akan menolongnya.

“aku xiu luhan, aku tetangga barumu”. Dan diketahuilah pria kecil itu bernama xiu luhan, dari cina kah?. Pikir wanita itu. Luhan hanya terus tersenyum polos sementara gadis itu terus menyelidik menelusuri luhan dari atas sampai bawah.

“lalu apa yang kau lakukan disini? Ini bukan tempat sosial yang membantu banyak orang, kulihat kau duduk disini seperti mengharapkan sesuatu, kau ingin uang?”. tanya wanita itu arogan dan terkesan merendahkan, dari tingkahnya pun sudah jelas jika dia bukanlah wanita ramah nan lembut, dan dugaan luhan pun salah, ia kira wanita ini adalah sosok yang ramah dan lembut, namun faktanya berbanding terbalik dengan apa yang sedang ia pikirkan. Tapi meski begitu luhan tetap menyukainya, suara yang dikeluarkan gadis itu membuatnya senang mendengarnya meskipun kata-kata yang disampaikannya tidak sesuai.

“ibuku sedang bekerja, ayahku sudah lama meninggal, dan dirumahpun aku sendirian, aku kesepian dan aku lapar, hanya ini satu-satunya rumah yang dekat dengan rumahku, dan kukira kau punya banyak makanan, aku benar-benar sangat lapar sampai perutku berbunyi dan membuatku takut kalau cacing diperutku ini akan mati, bolehkan kau memberikan makanan pada cacingku? Nanti akan aku kasih hadiah untukmu”. Sahut luhan panjang lebar dengan memberi sedikit aegyo khas milik Xiu Luhan, sementara ekspresi wanita itu tetap sama dingin dan datar, apakah tidak ada ekspresi lain selain itu? Mungkin itulah karakter permanen yang dimiliki gadis itu.

“kau sanggup memberikanku sebuah hadiah? Makanan saja kau harus bersusah payah duduk disini dalam 2 jam, dan juga apakah kau rakus dan akhirnya ibumu menjadi bosan memberimu makan? Kalau kau seperti itu aku tidak akan mau memberimu sebuah makanan.”ucap gadis itu dengan entengnya seraya berkacak pinggang. Mungkin kata itu membuat luhan terlukai, tapi tidak dia dengan sabarnya berusaha tersenyum selebar mungkin, kata itu tidak sekalipun membuatnya merasa terendahkan.

“aku tidak begitu, aku tinggal berdua bersama dengan ibuku, ibu biasanya memberikanku roti berisi cokelat dan kadang-kadang vanilla, tapi aku menyukai keduanya, tapi ibu belum makan,  jadi roti itu kita bagi dua dan memakannya bersama, jadi aku bukan orang yang rakus, jangan memanggilku seperti itu kau tidak lihat badanku ini kurus?”. Pria itu begitu sangat lugu dan polos dan sedikit tergerak hati gadis dingin ini untuk sedikit mencairkan hati esnya.

“kau pintar sekali membuat orang-orang tersentuh dengan ucapanmu kan? Aku juga salah satu dari orang itu, ceritamu yang kuno membuatku kasihan padamu”. Ucap gadis itu masih dalam keadaan datar, ia memang tulus ingin membantu luhan, inilah sisi manisnya, ia juga seorang wanita lembut namun terkesan arogan, dia tidak ingin sikap tulusnya itu ia tunjukkan pada orang lain, gengsi mungkin?

“baiklah aku akan memberikanmu sebuah makanan, tapi ingat saat kau masuk kedalam rumahku kau harus menjaga sikap layaknya seorang tamu, pasti ibumu mengajari cara bertamu yang benar,kan?”. Lanjutnya dan langsung membuat luhan gembira dengan mata yang berbinar-binar.

“benarkah? Tapi sebelum itu kenapa kau tidak memperkenalkan dirimu? Aku luhan ayahku dari cina ibuku dari busan dan kami pindah keseoul beberapa jam yang lalu, dan umurku 10 tahun 2 minggu lagi aku berulang tahun meskipun aku tidak pernah merayakannya,  karena ibuku selalu memarahiku jika aku memintanya, hehe sekarang perkenalkan dirimu”. Selalu saja begitu, luhan termasuk orang yang senang berbicara dan sangat jengah bagi gadis itu ketika ia mendengarnya, tidak seharusnya kan seseorang berkenalan sepanjang itu? Itu membuat gadis ini merasa bosan.

“aku kim taeyeon, umurku 14 tahun kau lebih muda dariku jadi kau harus memanggilku noona, arraso?”. Luhan hanya mengangguk-angguk senang, dengan bibir tertarik keatas.

“sekarang ayo kita masuk”.

Luhan mengekor dibelakang taeyeon, dan sampailah ia kedalam rumah taeyeon yang mungkin sangat jauh berbeda dengan rumahnya, taeyeon melewati ruang tamunya dan hanya terlihat peralatan elektronik yang canggih tanpa ada penghuninya selain taeyeon.

“kemana orang tuamu?”. Tanya luhan penasaran, taeyeon tetap berjalan tanpa ingin menatap luhan dibelakangnya.

“apa harus aku menjawab pertanyaanmu? Kau adalah orang lain dan kau juga bukan temanku jadi tidak usah menanyakannya selain kau menanyakan makanan apa yang ingin kau makan sekarang!”. Kesal taeyeon dan tidak tau kenapa pertanyaan sepele itu membuat hatinya sakit dan beramarah, yang jelas kedua orang tuanya tidak pernah ada untuknya, dan lebih menyakitkan lagi ibunya berselingkuh dengan orang lain dan begitu juga dengan ayahnya. Apa dunia ini begitu gelap? Hingga orang tuanya melakukan hal buruk itu didepannya sendiri, dan tidak tau apa alasan mereka sampai melakukan perselingkuhan menjijikan seperti itu? Ayah dan ibu nya apakah mereka menikah tanpa terikat sebuah kasih sayang dan cinta? Itulah jawaban sementara menurut taeyeon.

“sungguh? Kau menawarkanku banyak makanan? Kalau begitu aku ingin daging, dan ramyeon, tapi bolehkah aku minta untuk ibuku? Pasti ibu bosan dengan roti, aku janji besok akan aku tunjukkan sebuah istana yang besar untukmu”. Seru luhan semangat jika menyangkut soal makanan dan dalam sekejap ia sudah tidak mempermasalahkan kenapa dirumah ini hanya ada taeyeon sendiri dan diakhir kalimat membuat kening taeyeon berkerut, istana? Apa itu? Dasar bocah pengkhayal. Taeyeon menggeleng-geleng kepalanya dan tanpa sadar ia… tersenyum? Sayangnya luhan tidak mengetahuinya mungkin ia akan sangat bahagia jika melihat seorang taeyeon yang dingin tersenyum.

“kau duduk dulu disini” taeyeon membawa luhan dihalaman rumahnya, sangat luas dan banyak sekali pohon serta bunga yang tampak bermekaran disini, luhan menganga kagum pada tempat ini, taeyeon kembali masuk kedalam rumahnya tepatnya didapur tak jauh dari halaman, halaman rumah taeyeon sangatlah minimalis namun terkesan mewah, ada air mancur dengan patung yang berlapiskan emas, luhan takjub melihatnya. Ia berjalan pelan menatap satu persatu bunga yang mengelilinginya, ada banyak bunga cantik disini, ia sangat menyukai sun flower dan rose flower karena warnanya membuat hatinya ikut cerah . Dalam beberapa menit kemudian taeyeon datang dengan membawa banyak makanan ditangannya yang terbungkus rapi dengan tas khusus untuk makanan, luhan belum menyadari kedatangan taeyeon, karena ia terlalu terpesona dengan tempat ini. Luhan berada didepannya dan memunggungi dirinya, merasa bosan menunggu luhan membalikkan badannya, akhirnya taeyeon lebih dulu bersuara.

“bukannya cacingmu sedang sekarat? Beberapa menit lagi cacingmu akan mati jika kau membiarkan mereka kelaparan seperti itu?”. Sontak saja luhan mengalihkan pandangannya dan berbalik menatap taeyeon, luhan segera berlari kecil dan kemudian tersenyum bahagia.

“woaaa makanannya sangat banyak sekali, noona sangat baik kukira kau tadi hanya akan memberiku nasi dan lauk saja tapi ternyata ini daging”. Ucap luhan ceria setelah menatap isi makannya yang sudah berada ditangannya.

“kau sungguh menyedihkan, berapa kali dalam seminggu kau menemukan daging?”. Tanya taeyeon dengan sikap yang sengaja dibuat arogan, luhan tidak tersinggung dengan pertanyaan itu ia malahan tersenyum begitu sangat lebar karena saking senangnya ia diberi daging sebanyak ini.

“tidak pernah, aku hanya pernah sekali, saat itu temanku yang memberikannya dan saat memakannya ternyata daging sangatlah enak dengan saus yang pedas, aku ingin memintanya lagi tapi kata temanku tidak boleh, dia menyuruhku untuk membelinya sendiri, tapi lagi-lagi ibu hanya marah saat aku memintanya”. Ucap luhan dengan raut wajah antara senang dan sedih namun taeyeon bisa menangkap perasaan luhan sekarang, pastinya itu menyedihkan sekali.

“ini untukmu dan ibumu, dan jangan menghabiskannya sendiri, ini adalah daging yang sangat mahal sekali jadi kau harus bisa menghematnya, kapan lagi kau bisa menemukan daging sebanyak ini?”. Luhan dengan cepat menganggukan kepalanya bermaksud menuruti perkataan taeyeon.

Takkk..takk.. Suara sepatu terdengar tiba-tiba, taeyeon segera mengalihkan pendengarannya mencermati asal suara itu, mungkinkah itu ibunya? Taeyeon hanya menunjukkan seringaiannya, dia menduga pasti ibunya membawa seorang pria lagi kerumahnya. Luhan tidak menyadari raut wajah taeyeon yang berubah, wajah yang terlihat bukan sesosok taeyeon, wajah yang asing dan menyedihkan. . Tapi detik kemudian taeyeon kembali mengalihkan perhatiannya kepada luhan dan dengan sekejap ia mampu mengembalikkan raut wajah datarnya.

 

“sekarang kau boleh pulang”. Suruh taeyeon pelan, meskipun luhan terkadang sangat memalukkan tapi ia juga punya perasaan rasa terimakasih dengan cara membungkukkan badannya 90 derajat.

“terimakasih noona, tapi aku akan menggantinya dengan sebuah istana, aku akan kemari lagi besok kesini dan menunjukkan istana itu pada noona, pasti noona akan senang sekali :D”. Seru luhan dengan percaya diri, taeyeon hanya bisa menatapnya aneh.

“dasar bocah pengkhayal”. Ucap taeyeon dengan nada rendah seolah ucapan luhan terlalu bodoh untuknya , detik kemudian taeyeon mengarahkan luhan jalan pulang melewati pintu belakang taman.

Saat kembalinya taeyeon kedalam rumahnya, ia sama sekali tidak menemukan sosok laki-laki yang biasanya slalu disamping ibunya, kening taeyeon seketika berkerut berusaha menyelidiki kenapa ibunya sendirian tapi raut wajahnya terlihat sangat bahagia. Taeyeon penasaran akan hal itu, taeyeon bukanlah tipe wanita yang sangat ingin menanyakan sesuatu dengan langsung, tapi dia slalu mencari taunya sendiri, meskipun ia berhak bertanya pada ibunya, tapi dia sangat enggan sekali menanyakan hal ini apalagi masalah yang amat memalukkan.

“taeyeon-aa”. Penyelidikan taeyeon terhenti saat tanpa ia sadari sekarang ibunya sudah berada dihadapannya dengan memanggil namanya. Taeyeon hanya menatap ibunya datar.

“ada hal yang ingin ibu bicarakan denganmu”. Tidak biasanya taeyeon menemukan sifat ibunya yang menampilkan senyum kebahagiaan seperti ini didepannya, apakah ini mimpi indah? Tentunya ini adalah senyuman terindah dari ibunya untuk pertama kalinya yang ia lihat dihadapannya sendiri, bukan untuk orang lain.. melainkan untuk dirinya sendiri.  Dalam detik kemudian tangan taeyeon sudah tertarik oleh tangan ibunya membawanya untuk duduk bersampingan dengan sang ibu, dalam hati taeyeon ia sungguh penasaran dengan apa yang akan ibunya katakan itu, tapi beda hal nya dengan ekspresi wajahnya yang sama sekali tak terlihat menunjukan rasa penasarannya, datar dan dingin seperti biasa. Ibu taeyeon terus memperhatikan puteri cantiknya dengan senyum yang masih belum terlepas, tangannya mulai tergerak untuk merapikan rambut taeyeon dengan mengusap kepala sang anak penuh kelembutan. Kali ini taeyeon tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, ia menatap ibunya penuh arti, jelas wajahnya menunjukkan sebuah keterkejutan yang hebat, matanya memanas seolah ia ingin menangis sekarang juga, ibunya sangat berbeda, ia merasakan sebuah kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya, apakah ini yang dinamakan cinta seorang ibu? Ia baru merasakannya. Kelembutan sang ibu, senyum ibu untuknya ia baru mencicipinya sekarang. Rasanya ia ingin tersenyum juga lalu memeluk erat tubuh sang ibu, tapi bukankah dia bukan tipikal seperti itu? Dengan sangat berat hati, ia mengalihkan pandangannya kearah lain yang sejak tadi mendelik ibunya penuh haru.

“kau akan segera mendapatkan seorang adik, apakau suka? Maaf ibu bukanlah seseorang yang dapat menghiburmu, ibu juga tidak sebaik yang kau harapkan, tapi kau hanya perlu satu hal, kau adalah puteriku dan ibu sangat menyayangimu, meskipun hampir setiap hari aku mengacuhkanmu, membentakmu, membiarkanmu sendiri, dan membuatmu menjadi seperti ini, maafkan ibu,” kata kim hyujin, ibu taeyeon dengan penuh rasa bersalahnya. Apalagi bulir-bulir bening menetes cepat disepanjang pipi bak porselin itu. Diluar dugaan sang ibu, taeyeon berdiri dengan menatap lurus kedepan, namun bisa terlihat jelas dari tatapannya yang kian menajam, taeyeon menunjukkan sisi gelapnya kembali.

“itu bukan adikku, dia bukan anak dari ayahku, aku tidak ingin memiliki seorang adik dari pria lain, jika begitu lebih baik ibu menikah lagi saja dan hidup dengan bahagia dengan pria lain, pada akhirnya ibu tidak akan merasa terbebani dengan kehadiranku, ibu mengacuhkanku karena ibu tidak mencintai ayah, ibu membentakku juga karena ibu tidak menyayangi ayah, dan aku hidup seperti ini juga karena kalian, karena ibu dan ayah tidak terlihat saling mencintai, aku hanya tidak ingin melihat ibu tidak bahagia dengan ayah, jadi lebih baik kalian berpisah saja…..

Plakkk… tangan sang ibu mengayun tiba-tiba dan mendarat dipipi taeyeon dan membuat pipinya menjadi sedikit memerah akibat tamparan keras dari ibunya sendiri, ibunya membawa tangannya kembali dengan bergetar, ia sungguh menyesali karena telah menampar puterinya sendiri. Air matanya jatuh dengan hantaman-hantaman keras didadanya, sesak yang begitu teramat memilukkan, betapa kejamnya ia sekarang..

“ibu seharusnya menamparku lagi, tampar aku sekali lagi!!”. Teriak taeyeon tak terkendali bersamaan dengan air mata yang tidak ia sadari sudah keluar begitu banyak, kenapa ini begitu menyesakkan dirinya? Ia tidak tau sebagai seorang anak apa yang harus ia perbuat bila menghadapi masalah keluarganya yang rumit, hanya amarah yang bisa ia lakukan.

“meskipun kau slalu melihatku dengan pria lain, tapi ibu tidak pernah melakukan hal yang memalukkan, bukankah ibu sudah menikah? Kau harus percaya ini adikmu dan kau benar-benar puteriku, ucapanmu sepenuhnya memang benar, ibu tidak mencintai ayah. Karena ayahmu membuatku terpisah dengan pria yang ibu cintai , jika kau ingin tau, kami menikah tanpa ikatan sebuah perasaan, yang ada itu hanya keterpaksaan. Terserah kau saja, kau ingin percaya padaku atau tidak ini tidak masalah, karena jika aku bisa menolak sebuah takdir, kau mugnkin tidak akan dilahirkan kedunia ini, ” ucap sang ibu dengan volume nada yang seakan-akan menguasai ruangan besar ini, ketenangan ibunya kembali terusik dengan amarah yang memasuki tubuhnya, seakan hal manis tadi adalah sebuah drama yang terlupakan. Dadanya kerap kali naik turun, urat nadinya seakan terputus begitu saja. Taeyeon kalah dalam argumennya kali ini, ia sudah sangat lelah dan tidak berdaya menghadapi semua kata-kata yang baru saja terlontar pahit dari bibir ibunya sendiri. Ia tidak tau kapankah pelangi memayungi hatinya? Ia menunggu kapan cahaya menghilangkan gelap ditengah malam pada hatinya yang tidak bahagia? Ia hanya bisa tersenyum pahit, jika berandai-andai dia ingin sekali keluarganya –normal- seperti layaknya keluarga kecil yang bahagia, ia ingin ayah dan ibunya saling mencintai dengan kesadaran mereka sendiri. Apa itu akan terwujud nantinya?

Taeyeon pasrah, tanpa membalas ucapan sang ibu, ia hanya tersenyum kecut lalu pergi meninggalkan sang ibu yang masih berdiam diri dengan air mata yang memenuhi pipi halusnya. Taeyeon melewati tangga dengan cepat sembari menghentakkan dengan keras, langkahan kakinya sudah membuat ia masuk kedalam kamarnya dengan sengaja ia membanting keras pintu itu, membuat suara pintu itu mengejutkan sang ibu. Taeyeon merebahkan tubuhnya diatas ranjang king size miliknya, ia menghembuskan nafas beratnya dengan menatap langit atap diatasnya. Ia menutup mata bulatnya dan… clakk.. satu tetesan bening jatuh bersamaan dengan air hujan yang turun. Ia menangis dalam diam. Tidur taeyeon begitu gelisah, sikap dan ucapan sang ibu membuatnya tak terlelap tenang, dia terbangun dan memandang kearah jendelanya. Matanya membulat sempurna menangkap seseorang, anak itu terkapar diluar rumahnya, kenapa dia tertidur disana?

 

TBC

 

Gimana readers ? aku yakin chapter kali ini makin aneh yahh? Maaf yahh soalnya alurnya sedikit aku ubah.. dan chapter berikutnya juga mungkin masih taeyeon dan baekhyun yang berumur belasan taun,

Oh dan sekali lagi kenapa dichap 1 aku pake cast sohee sebagai masa lalunya baekhyun? Itu karena nanti dichap selanjutnya bkalan ada SESUATU didalam diri sohee.

So… komen plus sarannya Okai         ^^ ^^

29 thoughts on “[Freelance] Touch Love (Chapter 2)

    • WAHH masa ?? #shock.. kirain ini ceritanya aneh -_-
      mian yahh udh bkin karakter taeng yang manis jd kek gini.. soalnya aku pengen taeng beda aja meskipun agak berat memang xD..
      okkey mkasih udh baca yahh 😀

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s