[Freelance] Coincidence Love (Chapter 3)

Title

Coincidence Love

Author

Nadia NN

Genre

Romance, Comedy

Length

Twoshots

Rating

T-13

Main casts

Xi Luhan, Im Yoona

Other casts

Find by yourself

Disclaimer

All casts are their parents’ and God’s. I’m just their fans.

Note

I hope you like this fanfiction and warning for typo(s). Give me comments and don’t be a siders or plagiators! Have a nice day and happy reading !! ^-^)

Author pov

“Tiffany Hwang telah pacaran dengan Oh Sehun?! Good news …!” Yoona langsung berteriak kegirangan saat dia, Jessica, dan Tiffany makan bekal di atap sekolah bertiga.

“Yoong-ah! Jaga rahasia ini!” pinta Tiffany. Yoona berhenti sebentar, kemudian menjawab, “Kalau aku benar-benar menjaganya, apa yang akan kau berikan padaku?”

“Namjachingu,” jawab Tiffany asal-asalan. “Di antara kita bertiga, kaulah yang sama sekali belum pernah berpacaran dan belum mempunyai first kiss. Sampai kapan kau mau terus jomblo begini?” tanya Jessica.

“Aku tidak pernah menyukai namja dari kecil, tidak ada yang cocok untukku, kecuali .. Chanyeol,” jawab Yoona.

“Chanyeol itu tidak pas untukmu. Dia idola sekolah dan kau akan dihabisi oleh penggemarnya. Kau memilihnya karena dia teman masa kecilmu, kan?” tanya Tiffany sambil melahap gimbap-nya.

“Ne,” Yoona menjawab pendek kemudian melanjutkan makan bekalnya. “Bagaimana kalau kau berpacaran dengan Luhan-ssi?” tanya Jessica. Pertanyaan itu hampir membuat Yoona memuntahkan makanan yang ada di dalam mulutnya. “Hoekk .. aku tidak mau, dia artis papan kayu(?) yang aneh dan cukup menyebalkan. Dan dia juga suka dengan Lee Yeonhee, artis se-management-nya itu, yang cantik dan imut. Gosip dan fakta tentang mereka sangat banyak dan tersebar luas dan ada satu hal yang membuatku percaya bahwa Luhan-ssi menyukai Yeonhee-ssi. Kemarin, terjadi sesuatu yang .. kurasa tidak perlu dibahas,” ujar Yoona.

“Kejadian? Sesuatu? Apa itu?” tanya Jessica penasaran.

“Aku tidak mau. Luhan-ssi bisa membunuhku dan menambah hukuman yang banyak untukku. Aku tidak mau,” tolak Yoona.

“Ayolah, Yoongie-ya .. kau, kan, sahabat kami. Itu pasti rahasia, kan? Dan aku yakin kalau kau melihatnya langsung,” ujar Tiffany.

“Tentu saja aku melihatnya langsung. Aku tinggal bersamanya,” ujar Yoona. Dia tidak tega melihat dua sahabatnya berwajah sangat berharap hanya untuk berita yang benar-benar harus dijaga. “Tidak, aku tetap akan menolak,” tolak Yoona tegas.

“Kenapa kau seperti itu? Biasa kaulah yang paling ahli dalam masalah bergosip,” sindir Jessica.

“Aku tidak mau membocorkannya karena, pertama, aku asisten pribadinya. Kedua, Luhan-ssi akan membunuhku. Ketiga, fans-nya akan meminta banyak permintaan padaku. Dan yang keempat, aku tinggal satu apartemen berpisah kamar dengannya,” jawab Yoona dengan alasan nyatanya.

“Memang benar, tapi setidaknya kami tahu apa itu,” kata Jessica yang masih sedikit berharap.

“Mungkin lebih baik aku mengumumkan gosip baru!” Yoona membelokkan pembicaraan. Tiffany langsung merengut dan membuat Yoona ingin mencubitnya—gemas.

“Baiklah, aku akan benar-benar menjaganya karena kau sahabatku. Bukan karena aku ingin punya pacar seperti kalian,” ujar Yoona sembari tersenyum manis.

Luhan pov

Cut!” Sutradaranya berteriak “cut” lagi. “Apa kau sedang bermasalah, Luhan-ssi? Dari tadi kau terus membuatku kesalahan besar pada setiap adegannya,” ujar Kim Jongdae-ssi.

“Mianhaeyo,” ujarku sambil membungkuk sedikit.

“Hehh .. geuraeyo, kita break dulu! Sepuluh menit!” serunya. Aku tertunduk lemas. Kenapa aku begitu gelisah dengan kejadian semalam?

~FLASHBACK~

Aku bangun karena tahu Yeonhee tertidur pulas di sebelahku. “Yeonhee-ah! Bangun!” ujarku. Dia terbangun lemas. “Aku masih ingin tidur, Luhan. Bersamamu tentunya,” ujarnya sambil memelukku seperti orang mabuk.

“Hei, apa kau mabuk?” tanyaku memastikan.

“Aniyo, aku ingin menikah denganmu. Bolehkah?” tanyaku.

“Yeonhee-ya, aku harus berangkat syuting,” ujarku.

“Aku ikut denganmu,” balasnya. Aku melirik ke arah meja makan, ada secarik kertas. Aku mengambil kemudian membacanya.

For Luhan-ssi

            Luhan-ssi, aku berangkat ke sekolah menggunakan subway. Jangan lupa makan sarapannya dan mianhaeyo, aku tidak bisa membuatkan bekal LAGI untukmu. Sarapannya ada untuk Yeonhee-ssi juga, selamat menikmati.

Im Yoona (/^-^/)

            Ternyata pesan singkat dari Yoona. Mwo?! Dia berangkat lebih dulu dariku?! Berarti … “Dia melihat kita tidur berdua, Yeonhee-ah,” ujarku pelan.

“Nugu?” tanya Yeonhee.

“Im Yoona. Dia melihat kita tidur berdua,” jawabku. Yeonhee terlihat sangat panik karena dia tidak ingin skandalnya denganku terus berlanjut. Aku berusaha menenangkannya. Setelah bersiap, kami pergi ke sekolah Yoona dan aku meninggalkan Yeonhee sendirian di mobil karena kurasa akan menghebohkan kalau aku menggandeng tangannya ke sekolah anak SMA yang pastinya ada murid perempuannya.

~FLASHBACK END~

“Luhan-ssi,” panggil Lee Boyoung-ssi. Aku yang sedang duduk langsung bangkit, “Ne, waeyo?” tanyaku.

“Yeonhee berbicara semuanya,” ujarnya. Aku langsung terkejut. Bagaimana bisa dia menceritakan semuanya pada Lee Boyoung-ssi? Ini buruk! Hanya Yoona yang bisa kuandalkan di saat-saat seperti ini! hanya Im Yoona seorang!

=SKIP=

=SKIP=

=SKIP=

=SKIP=

Author pov

Sudah tiga bulan Yoona menjadi asisten pribadi Luhan dan sampai saat ini, dia harus rela tenaganya dikorbankan demi menutupi berita tak sedap itu. “Luhan-ssi, sampai kapan kalian harus pura-pura pacaran?” tanyanya yang juga kepada Yeonhee. Luhan sudah pindah ke rumahnya dan Yoona juga ikut serta.

“Nado nan molla,” jawab Luhan.

“Yeonhee-ssi, kau menyukainya, bukan? Sudahlah, kalian rekan kerja harus ..,” ucapan sok dewasa Yoona dipotong oleh balasan judes Luhan, “Jika kau tidak tahu asal-usul masalahnya, lebih baik masuk ke kamarmu,” perintah Luhan.

“Kau benar-benar jahat,” gumama Yoona sambil berjalan ke lantai atas.

“Luhan, apa ini baik untuk kita?” tanya Yeonhee. “Bagaimana kalau publik tahu kalau kita hanya pura-pura?” tanyanya lagi. Luhan hanya diam, kemudian menjawab, “Aku memang menyukaimu, Yeonhee,” jawabnya.

Yeonhee langsung melotot tak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Luhan. “Bisa ulangi?” pinta Yeonhee sambil menatap mata Luhan dalam-dalam. Luhan membalas tatapan innocent Yeonhee kemudian mencium bibirnya lembut dan tanpa sadar, kejadian itu disaksikan oleh Yoona dari atas. “Ahh …,” Yoona langsung menutup matanya, kemudian membukanya kembali.

Tuk! Rasa sakit itu muncul kembali. Tiga bulan menjadi asisten, Yoona bahkan tidak bisa menyadari kalau sebenarnya ia mulai mempunyai perasaaan terhadap Luhan-ssi dan dia sebenarnya tidak rela kalau Luhan menjadi milik Yeonhee. “Hei, pasangan baru! Jangan lupa, traktir aku setiap ulang tahun hari jadi kalian!” seru Yoona dari atas untuk menutupi rasa cemburunya yang sangat mendalam.

Luhan dengan spontan melihat ke atas, kemudian, “Kenapa kau ada si sana?!” seru Luhan agak marah. Dia langsung menyusul Yoona sedangkan Yoona berlari ke balkon lantai tiga. Rumah Luhan cukup luas dan sangat besar, karena itu, semua tempat bisa menjadi tempat persembunyian si badan mungil Yoona. Luhan segera menyusulnya ke lantai tiga dan menangkapnya dalam pelukan spontan. “Hei!” teriak Yoona dan langsung melepaskan pelukan Yoona.

“Aku hanya bercanda saat menciumnya itu,” ujar Luhan saat sudah melepaskan pelukannya.

“Kau memang bodoh. Memainkan hati wanita seperti itu,” komentar Yoona yang terdengar sangat dewasa.

“Kau telah berubah. Bahkan perkataanmu terbilang lebih dewasa dari tiga bulan yang lalu, terutama saat menumpahkan milkshake itu,” balas Luhan.

“Aku berubah karena kau menganggapku anak kecil! Aku tidak mau! Usiaku sebentar lagi 17 tahun! Jangan anggap aku bayi baru lahir!” seru Yoona.

“Memang kau bayi, kan? Bayi instant,” Luhan tertawa kecil.

“Kurasa ancaman “pembocoran YeonHan tidur berdua” masih berlaku,” ujar Yoona sedikit mengancam.

“Apa itu YeonHan?” tanya Luhan polos.

“Kau sangat kurang dalam hal teknologi dan kurasa kau tidak update—bahkan dengan gosip dan beritamu sendiri,” balas Yoona setengah mengejek.

“Aku menyukai yeoja lain, bukan Yeonhee. Memang aku menyukainya, tapi itu dulu. Dan sekarang, yeoja baru itu mengganti posisi Yeonhee di hatiku,” ujar Luhan.

“Kau meninggalkan Yeonhee-ssi sendirian di bawah, apa kau setega itu?” tanya Yoona.

“Aku ingin kita bicara lebih lama. Dan panggil aku Luhan mulai sekarang,” ujar Luhan.

“Bukankah selama ini aku memanggilmu begitu? Kau sangat lugu, Luhan!” seru Yoona. Luhan membalas senyuman Yoona dari bawah. Yoona hanya menatap langit malam yang sedang asyik-asyiknya bersama banyak bintang yang bertaburan menemani bulan di sana.

Yoona pov

Dia benar-benar namja aneh yang sebenarnya tidak perlu kusukai. Berani-beraninya dia memainkan perasaan seorang wanita. Aku sudah sadar kalau aku suka padanya dan aku harus menghilangkan perasaan itu secepat mungkin sebisa yang aku bisa(?). Mungkin masalah ini bisa ku-“konsultasikan” dengan Jessica—si blonde satu itu. Dia sudah pacaran 3 kali dan mungkin Kris-lah yang akan bertahan paling lama dengannya. Semua namja yang dulu (Donghae, Chanyeol, Suho) memutuskannya dengan alasan aneh. “Kau terlalu populer dan banyak namja menyukaimu. Aku harus berpisah denganmu.” Hiks hiks .. (?)

Sebenarnya, Sica tidak senang kalau dia harus berpacaran dengan Kris karena Kris suka berbuat yang menghebohkan tapi sebenarnya juga, dia suka Kris. Aku turun ke kamarku dan meraih ponselku, kemudian mencari kontak bernama “Blonde Sica”. Semua nama orang yang ada di kontakku kuganti dengan julukan kesukaanku. Bahkan nama Luha di kontakku kuganti dengan “Stupid Deer”. Julukan yang hebat, bukan? Aku menyukai julukan itu.

Yeoboseyo?

“Ah .. Sica-ssi .. kau di mana sekarang?”

“Aku sedang kencan dengan Kris. Besok hari Minggu dan dia tidak bisa kencan besok karena ada pertandingan basket. Kau mau ikut nonton bersamaku dan Fany besok?

“Ne, boleh.”

Sudah, ya, Yoong. Kris akan marah padaku jika tau ada yang mengganggu kencannya. Dah ..

“Bye ..”

Benar-benar menyedihkan. Ah, Tiffany! Tapi kurasa Fany juga sedang kencan dengan pacar barunya—Sehun. Jadi, aku tidak punya siapa-siapa untuk dijadikan teman konsultasi atau curhat. Mungkin aku bisa bercerita dengan mereka berdua besok, itupun kalau BISA.

Esoknya ..

Luhan pov

Aku kembali tertidur dengan Yeonhee. Aku tahu kalau Yoona pasti kembali melihat “ini”. aku malu. Bahkan sangat. Karena .. dialah yeoja yang kusukai saat ini. Sebenarnya aneh kalau aku menyukai yeoja bodoh sepertinya, dan tidak pantas karena dia itu “asisten pribadi”-ku. tapi, kurasa aku tidak bisa mengelak perasaan sukaku terhadapnya. Ini bukan suka lagi, melainkan CINTA.

“Luhan-ah,” panggil Yeonhee saat dia bangun dari tidurnya.

“Ne, waeyo?” tanyaku.

“Aku mau kita membuka semua kebohongan ini, aku benar-benar ingin kita menjalin hubungan secara terbuka, dan .. aku ingin kita cepat menikah,” ungkap Yeonhee.

“Aku akan memikirkannya lagi, Yeonhee-ah,” balasku kemudian mengecup keningnya. Aku harus memikirkannya terlebih dahulu karena sebenarnya bukan dia yeoja yang kusukai sekarang. Melainkan Im Yoona—asisten peribadiku yang sebelumnya sama sekali tidak membuatku nyaman.

From Yoona

            Luhan, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu dan Yeonhee-ssi sekaligus bekalmu. Sudah kuletakkan dalam satu kantong kertas berwarna coklat. Jangan lupa dimakan, ya (/^-^/) tolong sampaikan pada Yeonhee-ssi bahwa pakaian gantinya ada di lemari kamarku rak ke-2. Aku sudah siapkan yang paling bagus untuknya. Fighting (^^)

For Luhan

 

            Itulah pesan singkat yang isinya hampir selalu sama yang setiap Senin sampai Sabtu aku temui di atas meja makan. Aku paling tidak tega kalau Yeonhee ada di sini, karena Yoona harus membuatkan sarapan ganda dan membuang tenaganya lebih banyak. Dan aku juga bukan “atasan” yang baik karena .. jelaslah! Aku tidak pernah mengantarkannya ke sekolah karena dia selalu bangun lebih pagi dan pergi tanpa berpamitan denganku! Apa aku tidak kesal?! Mungkin dia tidak mau menganggu tidurku, tapi kenapa dia sama sekali tidak pernah berpamitan padaku?!

Tapi .. tunggu dulu! Hari ini hari Minggu! Ke mana anak itu pergi?!

Yoona pov

“Apa kau tidak ribet memiliki yeojachingu seperti Sica-ssi, Kris-ssi?” Aku langsung menyerbu Kris dengan banyak pertanyaan menyangkut Sica.

“Yah .. aku sudah terlanjur suka padanya, mau diapakan lagi?” Kris menjawab seperti orang yang akan ditembak mati dengan nada pasrah.

“Kau dengan Sica?” Aku langsung menoleh ke arah Sica yang sedang merengut—seperti yang dia lakukan saat aku meledeknya.

“Diam kau! Ayo, ikut aku!” Sica langsung menarik tanganku keluar dari ruang blablabla (?) ke tribun penonton.

“Waeyo?!” tanyaku kemuian melepaskan pegangan tangannya.

“Kau terlalu berisik!” komentar Sica.

“Mana Tiffany? Apa dia tidak jadi ke sini?” tanyaku.

“Kau tidak tahu, dia sedang kencan bersama Sehun. Kau tidak tahu? Dasar kurang update,” ejek Sica.

“Kau yang kurang update. Kau tidak tahu kalau aku suka Lu ..,” Aku langsung menutup mulutku sebelum perkataanku tuntas.

“Lu? Lu itu siapa? Luhan?” tanya Sica.

“Jangan berkata bodoh, Sica-ssi! Bagaimana bisa Kris menyukai yeoja populer yang bodoh sepertimu? Akan jadi mimpi buruk jika kau benar-benar bodoh,” sindirku.

“Lu itu apa?” tanya Sica sedikit memaksa.

“Manusia,” jawabku. Sica langsung menampakkan wajah anehnya di depanku. “Kau bertanya dia itu apa, kan? Dia manusia tentunya. Tidak mungkin aku menyukai alien atau apapun itu dari luar bumi,” tambahku.

“Luhan? itu dia, kan?” Sica tersenyum penuh kemenangan.

“Aku salah bicara tadi. Aku sudah mulai nge-fans dengannya,” ujarku berusaha menutupi kenyataan yang telah terjadi (?)

“Jangan berbohong padaku, Im Yoona!” Sica langsung mendudukkanku di tribun sebelahnya. Dia memandangku dengan wajah berharap sedikit memaksa.

“Mwo?” tanyaku pura-pura tidak tahu. Dia seperti meyakinkanku untuk bercerita tentang Lu. “Sebentar lagi pertandingannya dimulai, sebaiknya kau fokus, karena namja-mu itu akan muncul sebentar lagi,” aku berusaha mengacaukan pikirannya.

Pertandingan sudah dimulai. Dan .. aku tidak begitu menikmatinya karena aku kepikiran tentang Luhan di sana. Memang tidak penting, tapi tidak bisa kuhilangkan. “Hei, Yoongie-ya! Lihat namja berambut hitam itu! Dia dari kelas 10-3! Tampan, bukan? Kurasa cocok untukmu,” ujar Sica setengah berteriak karena tribun sangat ramai dengan sorakan. Aku melihat namja yang ditunjuk Sica tadi. Tampan? Iya, sih .. tapi kurasa lebih tampan Luhan.

“Kau mau menemuinya di ruang blablabla (?) nanti setelah pertandingan selesai? Aku juga mau bertemu dengan Kris,” ujar Sica sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya dan mengangguk. “Bagus! Kita bisa kencan sekaligus bersama pasangan masing-masing bertiga! Bersama HunFany!” seru Sica. Baru kali ini aku melihatnya senang dengan masalah perempuan. Dia terkesan dingin, sama dengan namjachingu-nya. Tapi senyuman mereka benar-benar hangat. Karena hampir satu sekolah bahkan para sunbaenim kami tahu kalau mereka berpacaran, berkat aku, kami menjuluki mereka “Cold-face Warm-hearted Couple.” Aku hanya asal-asalan membuatnya bersama Tiffany juga. Jelas, bahasa Inggrisnya diterjemahkan oleh Fany.

Pertandingannya berjalan cukup seru dan aku tertarik untuk menontonnya karena skor grup sekolah kami sudah 30. Kurasa itu berkat Kris dan namja tinggu menjulang seperti menara Eiffel itu.

Author pov

Treet ….! Tanda pertandingan sudah selesai! Yoona dan Jessica langsung berlari ke arah gerombolan orang banyak untuk merayakan kemenangan COOLBOYS. Hanya Jessica yang tampak sangat bahagia, sedangkan Yoona tampak kebingungan karena dia sudah ditinggal Jessica dan tidak menemukan jejaknya karena memang sangat ramai.

“Apa yang kau cari?” tanya seorang namja yang tadi ditunjuk Jessica.

Yoona menatap namja itu dalam-dalam. Dia memang benar-benar tampan dan tampaknya dia sangat baik, batin Yoona. “Kau cari siapa?” tanyaku.

“Aku .. mencari kekasih Kris, Jessica, dia temanku,” jawab Yoona.

“Dia sedang bersama Kris. Ayo kita ke ruang blablabla (dikasih nama “ruang blablabla” karena author gak tahu pasti nama ruang buat anggota klub basket), aku mau ganti baju juga, lengket,” ujar namja itu sambil menggandeng tangan Yoona—membawanya ke ruang blablabla (?).

“Ah, Huang Zitao ibnida. Aku murid pindahan dari Cina. Namamu siapa?” tanya namja itu. Yoona terdiam sebentar, kemudian berkata, “Im Yoona ibnida, kau bisa memanggilku Yoona atau Yoongie. Aku harus memanggilmu apa?” tanya Yoona.

“Kau bisa memanggilku Tao—karena kebanyakna murid perempuan memanggilku begitu,” jelas Tao.

“Oh .. geuraeyo,” jawab Yoona setengah gugup. Namja ini sakit, ya? Masa ganti baju di depan yeoja yang baru dikenal! Michyeo-yo! Yoona berpikir sambil berkomat-kamit.

“Mianhaeyo, aku tidak sopan,” ujar Tao kemudian memakai kaos tanpa lengan.

“Ne, gwaenchanha,” jawab Yoona. Seketika ruangan menjadi hening selama 3 menit sampai Kris dan Jessica masuk bersamaan. “Hei, bro! Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Kris sedikit curiga.

“Menemaninya ganti baju dan melakukan perkenalan diri, sedikit saja,” jawab Yoona datar.

“Yoona-ya, ayo keluar!” Sica langsung menarik tangan Yoona keluar.

“Waeyo?” tanya Yoona yang mulai agak risih.

“Kau bisa rasakan dekat dengan namja itu?” tanya Jessica.

“Michyeosseoyo?! Aku baru kenal dengannya 10 menit yang lalu!” seru Yoona.

“Ayo, ke tempat Tiff. Kita bicarakan masalah Tao dan Lu,” ujar Sica. Dia membawa Yoona ke parkiran dan langsung membawa Yoona ke rumah Tiffany dengan mobilnya.

Yoona pov

Kami sudah sampai di rumah Tiffany yang berwarna pink seluruhnya. Memangnya dia sudah pulang kencan? Mulai besok, sekolah libur musim panas dan aku harus bekerja keras untuk Luhan—kembali menjadi asistennya.

“Memangnya Fany sudah pulang?” tanyaku memastikan.

“Sudah,” jawab Sica. Anak aneh, sejak kapan dia jadi suka bergosip sepertiku dan Fany?

“Fany-ya!” Sica berteriak darin luar rumah.

Tiffany datang keluar tanpa Sehun dan aku tahu Sehun ada di rumahnya karena ada sepatu namja di sana dan Sehun pun langsung pulang begitu tahu kami datang. “Ayo ke kamarku!” ajak Fany tanpa menyuguhkan apapun yang bisa masuk ke perut.

“Kau tidak menyuguhkan kami makanan atau apapun itu?” tanyaku dan Sica bersamaan. Aku dan Sica langsung tertawa bersamaan begitu kami selesai bicara kompak.

“Kalian tahu, aku tidak bisa memasak? Jadi, kalian bisa buat sendiri,” ujar Fany.

“Sudah, aku akan buatkan kalian sirup sebentar. Kau—tuan rumah—dan Sica, pergilah ke atas duluan,” ujarku.

“Gomaptta, Yoongie-ya!” seru mereka bersamaan.

Aku mengangguk kemudian berjalan ke dapur rumah Fany. Aku sudah banyak kali mengunjungi rumah pink ini dan catnya sangat tahan lama, belum pudar sama sekali. Aku mengambil sebotol sirup dari kulkas Fany yang juga sengaja ia lapisi dengan sesuatu yang berwarna pink cerah. Ukh .. rasanya ingin muntah! Tapi mungkin tidak akan jadi masalah bagiku karena aku tidak selamanya menetap di rumahnya.

Kring .. traala … trilili .. kring … (?)

Ponselku berbunyi dan itu ringtone khusus yang kugunakan untuk membedakan panggilan eomma, appa, eonni, Tiffany, Jessica, dan satu orang baru, Luhan. “Yeoboseyo?”

Kau di mana sekarang?!” omel Luhan di seberang.

“Di rumah Tiffany,” jawabku.

Cepat kembali ke rumah, ada yang ingin kukatakan padamu,” ujarnya.

“Tidak mau,” tolakku.

Cepat!

“Aku sedang have fun!”

“Aku akan memberimu cuti satu minggu jika kau cepat datang ke sini!” Dia berusaha menyogokku.

“Aniyo!”

Ayolah! Ini penting!

“Kau kehabisan pisang? Akan kubelikan setelah aku pulang dari rumah Tiff.”

Kau sudah berani menganggapku monyet, hah?! Michyesseoyo?!

“Kau yang gila!”

Kau!

“Apa maumu?! Cepat katakan!”

Dasar yeoja bodoh! Cepat pulang!

Tit ..! Aku langsung meng-nonaktifkan paggilannya karena dia membuat telingaku menjadi merah seketika. Namja ini memang tidak bisa melihatku bahagia. Sudahlah, daripada aku kehabisan tenaga berdebat dengannya lagi karena dia kembali menelponku, akan lebih baik keadaannya jika aku mematikan ponselku dan memasukkannya dalam tasku.

Setelah selesai mengaduk sirup yang kumasukkan cabai bubuk dengan rata, aku membawanya ke atas. Mereka pasti akan lari turun ke bawah sambil berteriak-teriak seperti orang gila. Hahaha ..! Aku tidak bisa membayangkan wajah mereka yang pastinya akan sangat lucu dan cocok dimasukkan dalam diary-ku!

“Yoongie-ya! mana bagianku?!” teriak Fany saat aku masuk ke kamarnya.

“Kau tidak pernah menikmati sirup sendirian?” tanyaku sedikit bingung.

“Aniyo, aku malas membuatnya,” jawabnya sambil menyeruput sirupnya sedikit. Pantas saja efeknya belum muncul.

“Wajar jika bobot tubuhmu bertambah,” sindirku karena dialah yang paling gampang naik bobot tubuhnya.

“Memangnya ada hubungannya dengan .. huaa … PEDASS …!!! Sirup apa ini?!!” Fany langsung berteriak ketika hampir menghabiskan setengah sirupnya. Aku berusaha menahan tawaku dan menampakkan wajah akting keheranan. Dia langsung tuun ke bawah  dengan berlarian dan wajahnya benar-benar aneh. Aku tidak sempat memotret wajah anehnya itu karena pertama, ponselku di bawah dan aku masih membawa sirup bagianku dan Sica. Hihihi …

“Kenapa anak itu?” tanya Sica. Aku hanya mengangkat bahuku dan pura-pura tidak tahu.

“Kau masukkan apa sirupnya?!” Tiffany kembali dengan marah-marah.

“Aku masukkan air tentunya,” jawabku.

“Kenapa rasanya pedas?” tanya Fany lagi.

“Aku tidak tahu,” aku kembali menahan tawaku.

“Sudahlah, aku mau ke bawah sebentar, nikmatilah,” ujarku. Aku turun ke bawah dengan iringan tawa kecil. Apa hal yang sama akan terjadi dengan Jessica Jung?

-TBC-

27 thoughts on “[Freelance] Coincidence Love (Chapter 3)

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s