[ ExoShiDae Drabble Collection ] A Week

Poster_AWeek

Tittle
A Week

Author
JungJessie

Genre
Romance

Cast
Kim Taeyeon
Im Yoon ah
Jessica Jung
Choi Sooyoung
Lee Sun Kyu ( Sunny )
Kwon Yuri
Tiffany Hwang
EXO ( Only 7 members )

Rating
PG13

Length
Drabble Collection

Author’s note
Annyeong haseyo
Ini ExoShiDae drabble collection pertamaku

Judul FF ini terinspirasi dari salah satu lagu Sistar di album kedua mereka yaitu, A Week.
Tadinya kepikiran buat bikin 9 member, cuman gak tau kenapa malah kebikin 7 member

Mianhae buat yang mengharapkan ada Seo dan Hyo disini, soalnya kalo ada mereka berdua aku bisa bingung soal couplenya ..
Ini aja udah bingung mau pilihin siapa buat couple mereka

Tapi hope you like it aja deh

=====

Monday
Tiffany – Sehun

Tiffany mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia baru saja bangun dari tidur lelapnya. Dia bersyukur kalau ternyata dia sudah bangun dari tidurnya, sehingga ia tidak perlu berkutat lagi dengan bunga tidurnya yang menurutnya sangat buruk.

Dia membalikkan tubuhnya, seketika itu senyumnya mengembang.

” Sehun-ah, ireona ..” Ujar Tiffany sambil menggoyang-goyangkan tubuh Sehun yang masih tertidur di sampingnya. Sehun tak bergeming, justru dia malah membalikkan badannya dan menghadap ke arah Tiffany.

Pipi Tiffany mengeluarkan semburat berwarna merah. Sehun mengetahuinya, karena dia tidak menutup matanya penuh. Tiffany tersenyum kecil, dia senang bisa bersama Sehun dan melewati hari barunya bersama Sehun.

” Sehun-ah, ireonaa ~” Rengek Tiffany.Sehun membuka matanya perlahan, mata mereka bertemu. Lagi-lagi pipi Tiffany memerah, Sehun terkekeh pelan.

” Kenapa pipimu selalu memerah ketika aku menatapmu ?” Tanya Sehun penasaran. Dia meyingkirkan rambut Tiffany yang menghalangi wajah cantik Tiffany. Tiffany tersenyum malu.

” Ah, entahlah.” Ujar Tiffany asal.  Tiffany membalikkan badannya lalu bangkit dari ranjang king sizenya. ” Sehun-ah, ireonaaa ~ Kau kalau tidur terus aku tidak akan tinggal diam.” Ujar Tiffany mengancam Sehun.

Sehun mengerutkan keningnya, ” Aku tak yakin.” Jawabnya.

Tiffany mengerucutkan bibirnya kesal, ” Ayolah ~ Kau mau aku minta cerai denganmu ?” Ancam Tiffany dengan death glarenya.

Sehun terkekeh pelan, ” Cerai ? Bahkan kau terlalu mencintaiku, aku yakin kau tidak akan menceraikanku.” Ujar Sehun sewot. Tiffany mengambil bantal gulingnya, lalu melemparnya tepat pada Sehun.

” Tidak sakit.” Ujar Sehun lagi. Sehun berhasil membuat Tiffany geram, Tiffany berjalan dan menghampiri Luhan. Tiffany menatap Sehun seakan-akan ingin membunuhnya. Sehun membalas tatapan Tiffany dengan tatapan – sok – polosnya.

” Awww !” Ringis Sehun. Tiffany tertawa penuh kemenangan, dia melipat tangannya di dada seakan-akan dia adalah bosnya sekarang.

” Apakah itu tidak sakit ?” Tanya Tiffany. Sehun memegang pipinya yang baru saja dicubit oleh Tiffany. Pipi Sehun memerah, bukan karena malu seperti Tiffany tapi karena cubitan yang lumayan kencang oleh Tiffany.

” aku sakit ~” Rengek Sehun. Tiffany mengerutkan keningnya. Ada apa dengan Sehun ? Apakah dia kekurangan obat, atau mungkin overdosis karena melihatku yang terlalu cantik ? Pikir Tiffany, ia tersenyum geli ketika memikirkannya.

Tiffany duduk dipinggiran ranjangnya, lalu menatap Sehun. Sehun bangkit dari tidurnya lalu duduk didepan Tiffany. ” Chagiyaa, aku sakit ~” Ujar Sehun manja.

Tiffany terkekeh pelan, ” Lalu aku harus memberi obat apa untukmu ?”

” Obat ? Ini aku ingin ini ..” Ujar Sehun sambil menunjuk bibirnya. Tiffany membelalakan matanya, bagaimana bisa orang sakit meminta obat seperti itu. Pikir Tiffany.

” Hm ? Bagiamana ya ?” Tanya Tiffany sambil menimbang-nimbang, padahal jawabannya sudah jelas pasti Tiffany akan memberikannya. Sedetik kemudian Tiffany mencium bibir Sehun sekilas lalu tersenyum malu.

” Ah, kurasa aku sudah sehat. Tapi kenapa hanya sebentar ? Tidak bisakah durasinya ditambah ?” tanya Sehun penuh harap. Tiffany menggeleng, ” No no-“

Belum selesai Tiffany melanjutkannya, Sehun sudah mencium bibir Tiffany duluan.

=====

Tuesday
Yuri – Tao

” Tao-ah ..” panggil Yuri. Tao tak bergeming. Tao sibuk memainkan ipadnya. Yuri mulai geram, dia merasa seperti diduakan oleh Tao bahkan Tao lebih memilih benda mati itu daripada dirinya yang tentu saja lebih baik, ralat sangat lebih baik daripada ipad itu.

” Tao-ah ..” panggil Yuri lagi, dia berharap Tao akan menjawabnya tapi salah. Tao justru tetap fokus pada ipadnya. Yuri membendung air matanya, dia tidak tahan dengan sikap Tao yang seperti itu. Tao yang menyuruhnya untuk datang ke apartementnya dan sekarang Tao mala mengacuhkannya.

” Tao-ah, kau jahat sekali !” Ujar Yuri lalu berjalan menuju sofa lainnya. Dia berniat untuk menonton TV daripada harus menonton Tao yang sama sekali tidak peduli padanya.

Yuri memencet tombol di remote TV, tidak ada tayangan yang bisa membuat moodnya lebih baik. Dan lebih parahnya lagi pikirannya selalu saja melayang kepada Tao. Yuri mematikan TV lalu melempar remotenya sembarangan. Tao terkekeh pelan, melihat tingkah aneh Yuri selama dia mengacuhkannya. Tao mengacuhkan Yuri karena memiliki sebab tertentu.

” Tao-ah, kau sedang apa sampai-sampai kau mengacuhkanku, huh ?” Tanya Yuri kesal. Tao menatapnya sekilas lalu kembali pada ipadnya. Yuri menatap tajam Tao, dia hampir saja menampar Tao tapi kalau bukan karena Tao kekasihnya mungkin dia sudah menamparnya berkali-kali.

” Tao-ah, kau jahat sekali .. Kau yang menyuruhku datang ke apartementmu tapi kau malah mengacuhkanku. Kau membuatku geram. Pacarisaja IPADmu itu.” Ujar Yuri kesal.

Tao menatap Yuri, ” Lalu ? “

Yuri semakin geram. Dia menahan emosinya, “MEMANGNYA SEBERAPA PENTINGNYA IPAD HUH ? SAMPAI-SAMPAI KAU MENGABAIKANKU ?”

Tao terkekeh pelan, ” Dia sangat penting bagiku sekarang.”

Yuri mengerucutkan bibirnya, sedetik kemudian dia mengambil iPad itu. Matanya membelalak seketika, ” T-Tao, k-kau ingin me-makai i-itu ?” Tanya Yuri gugup, Yuri kaget setengah mati ketika melihatnya.

” Paboya, tidak akan pernah aku memakai gaun pengantin bodoh. Itu untukmu, aku sedang memilih yang bagus.” Ujar Tao lalu merebut iPadnya lagi.

Mata Yuri berkaca-kaca, dia terharu dengan Tao. Tapi bagaimanapun juga dia kesal karena Tao mengacuhkannya. Yuri tersenyum senang lalu duduk disamping Tao.

” Ya!  yang ini saja.” Ujar Yuri sambil menunjuk salah satu gambarnya. Tao menggeleng, ” Yang ini lebih bagus.” Yuri menggeleng cepat, ” Ini bagus, kesannya elegan.” ujar Yuri membela dirinya.

Tao menghela nafas kesal, ” Okay, terserah dirimu. Besok kita ke Cina, kita akan bertemu dengan keluarga besarku.” Ujar Tao datar, tangannya masih sibuk melihat-lihat foto gaun pengantin yang menurutnya bagus. Yuri tersenyum sangat senang. Dia merasa bangga mempunyai kekasih yang unik seperti Tao.

=====

Wednesday
Sunny – Suho

Sunny merebahkan dirinya di atas kasur empuk yang sudah ia claim kalau itu miliknya semenjak sepupunya memutuskan untuk pergi ke Los Angeles. Ia mengembangkan senyum manisnya sambil memejamkan matanya. Seolah-olah ketika ia memejamkan mata akan ada sesuatu hal baik yang terjadi.

Drt Drt.

Mata bulat Sunny langsung membuka. Ia mengambil handphonenya dan melihat pesan masuk. Betapa terkejutnya dia ketika melihat pesan masuk itu, apalagi ketika mengetahui siapa pengirimnya.

Kim Joonmyun.

Orang yang selama ini ia sukai, tidak tidak ia cintai. Mimpi apa semalam sampai sampai Suho bisa mengirimkan pesan kepadanya. Jujur saja, Sunny benar benar merasa sangat senang sekarang. Seperti ada ribuan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.

Sunny-ya, bisakah kita bertemu di halaman belakang kampus sekarang? Ada hal yang ingin kubicarakan.

Singkat, jelas dan padat. Walaupun hanya sesingkat itu tapi jujur saja Sunny merasa sangat amat bahagia. Ia melompat-lompat kegirangan diatas kasurnya dan sesekali bersenandung ria. Tiba-tiba keningnya mengkerut, ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.

” Tunggu, bagaimana bisa dia tau nomorku dan tau jika nomor ini milikku?” Tanya Sunny pada dirinya sendiri. Tapi sedetik kemudian dia langsung melupakan kejanggalan tersebut.

Ia mengganti pakaiannya dengan pakaian casual, kali ini ia memakai celana jeans pendek berwarna hitam, kaos putih polos dan cardigan berwarna biru tua. Lalu bersiap-siap dan berangkat menuju kampusnya.

Sesampainya di kampus ia langsung berlari-lari kecil menuju taman belakang kampus itu. Taman belakang kampus itu memang terkenal akan keindahannya. Tapi jarang orang yang datang ke taman itu, mungkin karena terlalu sepi.

Sunny mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ia mencari sosok namja itu berada. Perhatiannya terhenti ketika melihat seorang namja – yang ia yakini itu Suho – duduk di bangku taman dekat pohon yang umurnya sudah cukup tua. Sunny berjalan perlahan menghampiri namja itu. Lalu menepuk pundak namja itu.

” Sunny-ya. Silahkan duduk.” Ujar Suho sopan. Sunny menyunggingkan senyum andalannya lalu duduk di bangku yang sama dengan Suho, kali ini ia membuat jarak sekitar 40 cm dari Suho.

” Aku ingin memberitahukan sesuatu. Tapi kuharap kau jangan membeciku.” Suho menatap mata Sunny intens. Yang ditatap justru salah tingkah, pipinya merona karena tatapan Suho yang begitu mendalam.

” N-ne.” Ujar Sunny. Suho menghela nafasnya untuk kesekian kalinya lalu menatap Sunny lagi.

” Saranghaeyo.”

Sunny mengerjapkan matanya berkali-kali. Mulutnya mengaga tidak percaya dengan apa yang dikatakan Suho barusan. Suho mencintainya? Tapi bagaimana bisa? Sedangkan Sunny saja tidak pernah memiliki keberanian untuk berdekatan dengan Suho.

” J-jinjja?” Tanya Sunny meyakinkan. Sunny menatap mata Suho seakan-akan mencari kebohongan dari matanya, tetapi ia tidak menemukannya. Bukannya menemukan kebohongan itu, justru pipi Sunny memerah ketika Suho menatapnya balik.

” Ah, ne. Selama ini aku sangat sering memperhatikanmu. Tapi aku tidak berani menghampirimu, karena kau sudah mempunyai namja chingu.” Ujar Suho pasrah. Wajahnya terlihat sangat sedih sekarang, bahkan ia terus menghembuskan nafasnya kasar.

Sunny mengernyitkan dahinya,” Aku? Aku memiliki namja chingu? Siapa yang kau maksud namjachingu itu?”

“Do Kyungsoo.”

Mata Sunny membulat seketika. Ia sedang berusaha menahan tawanya, bagaimana bisa Suho berpikiran seperti itu. Dan tentu saja mustahil untuknya dan Kyungsoo menjadi sepasang kekasih, lagipula Kyungsoo juga sudah mempunyai kekasih.

“Aigoo, Kyungsoo adalah saudaraku. Jangan salah sangka seperti itu, lagipula Kyungsoo sudah mempunyai yeojachingu.” Ujar Sunny tersenyum geli. Suho menatap Sunny berbinar, seakan-akan ia mendapatkan pencerahan untuk hidupnya.

===

Thursday
Sooyoung – Chanyeol

Sooyoung menghela nafas untuk kesekian kalinya. Hari ini tepat tanggal 4 September adalah hari jadi hubungannya dengan Chanyeol yang kedua tahun.

Biasanya jika sepasang kekasih mengadakan acara anniversary hubungannya, mereka akan berjalan-jalan ke tempat bermain,makan bersama, atau mungkin memotong kue.

Tapi tidak untuk Sooyoung. Untuk bertemu dengan Chanyeol saja mustahil baginya. Kenapa? Ya, Chanyeol sedang berada di luar negri untuk melanjutkan studynya dan tentu saja ia ingin bekerja disana.

Sooyoung memiliki firasat kalau Chanyeol mungkin lupa dengan hari ini, lupa dengan dirinya bahkan mungkin ia lupa kalau masih memiliki status dengan dirinya. Tapi ia segera menipis pikiran negatif seperti itu, ia tidak mau hal-hal negatif yang ia pikirkan terjadi pada hubungannya dengan Chanyeol.

Sooyoung menatap kue buatannya – 90% buatan eommanya dan 10% buatannya-, ia membuat kue itu hanya untuk merayakan anniversarynya. Walaupun tidak ada Chanyeol, setidaknya dia masih bisa merayakannya bersama kue itu. Beberapa detik kemudian air matanya menetes.

Ia benar-benar merindukan sosok Chanyeol yang sering mengganggunya, menunjukkan senyum idiotnya, berperilaku seperti orang idiot dihadapannya, dan kegiatan-kegiatan idiot yang Chanyeol tunjukkan hanya untuknya. Ia terdiam begitu lama sambil menatap kosong kue dengan tulisan ‘Happy Anniversary 2years babe’ sampai sampai suatu suara membuat lamunannya buyar.

Hey ada panggilan masuk. Cepat angkat. Cepat angkat! 

Ah, itu adalah nada ringtone handphone Sooyoung. Ia dan Chanyeol yang membuat nada ringtone itu, suara bass Chanyeol dan suara nyaring Sooyoung membuat ringtone itu terlihat sangat buruk tetapi berkesan.

Sooyoung langsung mengambil handphonenya, betapa bahagianya dia ketika mengetahui siapa yang menelfonnya. Dengan bersemangat ia mengangkat telefon itu tanpa memperdulikan keadaan sekitar.

“Chanyeol-ah~ Bogoshipo neomu neomu bogoshipo.” Ujar Sooyoung pada Chanyeol lewat sambungan telefon itu.

“Nado noona. Bagaimana keadaanmu sekarang?”

“Tentu saja baik.”

“Kau menangis?”

“Tidak”

“Jangan berbohong. Aku tau kau menangis.”

“Kau tau darimana?”

“Tentu saja aku tau.”

‘Tunggu, kenapa suaranya terdengar sangat jelas? Kenapa terdengar sangat keras suaranya?Apakah aku sedang sakit sehinga seperti ini?’ Tanya Sooyoung dalam hati.

“Hm. Ya aku menangis.” Ujar Sooyoung jujur, tangannya tetap setia menempelkan benda berwarna putih itu ketelinganya.

“Wae?”

“Kau tidak perlu tau.”

“Kau pelit sekali. Apa kau ingin aku cubit,huh?”

“Bagaimana bisa kau mencubitku sedangkan kau jauh dariku saat ini.”

“Tentu saja bisa.”

“KYA!!” Pekik Sooyoung. Tangannya terasa sakit kali ini. Sooyoung melirik ke sebelah kirinya. Seketika ia benar benar terkejut, bagaimana bisa seorang Park Chanyeol bisa dihadapannya sedangkan baru saja ia sedang telfonan/? dengan Chanyeol yang berada di luar negeri.

” K-kau si-siapa?” Tanya Sooyoung ketakutan. Ia takut yang berada disampingnya ternyata bukan Chanyeol.

“Tentu saja aku Chanyeol,pabo.”

“Tapi bagaimana bisa?Aku baru saja telfonan dengan Chanyeol dan kenapa tiba-tiba Chanyeol ada disini padahal tadi ia berada di luar negri.”

“Pabo, dari tadi aku menelfonmu disini. Aku masuk diam-diam melalu pintu belakang dan duduk disampingmu sambil telfonan denganmu. Apa kau tidak menyadarinya?”

Sooyoung menggeleng. Chanyeol mengacak-acak rambut Sooyoung sampai berantakan. Sedangkan Sooyoung masih terheran-heran dengan kejadian ini.

“Ahya, happy anniversary Sooyoungie.”Ujar Chanyeol lalu memeluk Sooyoung. Sooyoung diam-diam tersenyum dalam pelukan Chanyeol.

===

Friday
Jessica-Kris

” Lauren! Jangan lari-lari nanti kau jatuh!” Pekik Jessica sambil berlari menghampiri Lauren dan menangkap tubuh kecil yeoja itu. Lauren mengerucutkan bibirnya kesal, padahal ia sedang asik bermain bersama oppanya tapi eommanya menghancurkan suasana itu.

” Mommy, aku ingin bermain bersama Danny oppa. Boleh ne?Please mom.” Ujar Lauren dengan puppy eyesnya. Jessica menghela nafas berat lalu mengetuk jarinya di kepalanya.

“Hmm, okay. But, jangan berlari-lari! Kalau kau jatuh mommy tidak mau tanggung jawab.” Ujar Jessica kesal. Lauren melompat-lomat karena senang, Lauren segera menghampiri Daniel dan untungnya ia ingat pesan eommanya ‘Jangan lari-lari’.

“Annyeong. Daddy pulang~” Ujar Kris sambil menaruh tas kerjanya di kursi.

“Daddy!” Ujar Lauren dan Daniel kompak. Mereka berdua langsung berlari-lari kecil menghampiri appa mereka, sedangkan Jessica menatap mereka berdua tajam.

Sifat Jessica memang dingin dan cuek, tetapi dia akan sangat perhatian kepada orang-orang yang ia sayangi. Walaupun kadang, ia mengungkapkan rasa sayang itu dengan sikap yang cuek. Tetapi tetap saja Lauren,Daniel dan tentu Kris tetap menyanyangi Jessica.

“Kris, bisakah kau ajari anak-anak ini agar tidak lari-lari?” Ujar Jessica kesal. Kris tertawa geli melihat wajah Jessica yang masam, Kris berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan kedua anaknya itu lalu menatap mereka lembut.

“Honey, kalian jangan lari-lari ya? Mommymu tidak ingin kalian jatuh dan sakit. Jangan buat mommy dan daddy kecewa, okay?” Ujar Kris. Yang ditatap Kris hanya diam, mereka berdua sibuk berpikir tetapi entah apa yang dipikirkan keduanya.

“Kenapa kalian diam? Kalau begitu, kalau kalian berjanji tidak lari-lari lagi hari Sabtu nanti kita akan jalan-jalan ke Lotte World. Bagaimana?”

Sedetik kemudian mata Daniel dan Lauren langsung berbinar. Mereka membuka mulutnya saking senangnya, lalu berlompat-lompat ria. Lalu mereka berdua langsung memeluk appanya.

Jessica diam-diam memperhatikan mereka dan tersenyum, dia sangat senang kalau melihat keluarga mereka terlihat harmonis seperti ini.

===

Saturday
Yoona – Kai

Yoona duduk di bangku taman sambil sesekali menengok ke kanan dan ke kiri. Sepertinya dia sedang mencari orang. Ia terus mengedarkan pandangannya, tiba-tiba matanya tertuju pada seseorang. Ia tersenyum sangat manis ketika mengetahui orang yang ia cari sudah ia temukan. Dan ia terus memperhatikan lelaki itu, setiap gerak-geriknya dan wajahnya.

Lelaki itu, Kim Jongin. Dia adalah mahasiswa populer di kampusnya. Wajah tampan, tubuh atlit, pandai menari, pintar sudah membuatnya sempurna seperti sekarang ini. Bahkan di kampusnya, ada fansclub khusus untuk Kim Jongin atau yang akrab dipanggil Kai. Tentu saja Kai mengetahuinya, tetapi ia tidak terlalu peduli dengan itu.

Kai lelaki itu menatap ke arah Yoona, sontak Yoona langsung mengalihkan pandangannya dan menyibukkan dirinya. Ia terus memainkan handphonenya, ia tidak mau Kai tau kalau ia sedang memperhatikannya.

Kai, lelaki itu tersenyum kecil melihat Yoona yang mengalihkan pandangan darinya. Kai terus memperhatikan gerak-gerik Yoona yang terlihat sedikit aneh. Tentu saja Kai tau penyebabnya, dan itu adalah dirinya.

Kai mengalihkan pandangannya pada tasnya, ia membuka resletingnya dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah pena berwarna hijau muda dan buku kecil berwarna kuning. Dengan penuh keberanian, Kai melangkahkan kakinya mendekati Yoona.

Yoona sadar, ia tau seseorang sedang berjalan kearahnya. Yoona terus menatap sepatunya, ia tidak mau orang lain melihat wajahnya yang memerah.

“Annyeong sunbae, ah noona.”Sapa Kai. Yoona terus memperhatikan sepatunya, ia tidak mau melihat wajah tampan Kai. Jantungnya sudah uckup berdegup kencang dan ia tidak mau jantungnya copot hanya karena melihat wajah tampan Kai dari dekat.

“Noona, bukankah ini milikmu?” Tanya Kai sambil menyodorkan buku dan pulpen. Yoona mengalihkan pandangannya pada buku itu, sontak ia membulatkan matanya dan mengambil buku serta pulpen itu dengan cepat. Ia segera memasukkannya ke dalam tas sambil menatap Kai was-was.

“A-apa k-kau membaca isi-nya?” Tanya Yoona gugup. Ia sangat takut Kai melihat buku diarynya, karena ia menulis seluruh curhatannya di buku itu dan tentu saja diantara curhatan itu sangat banyak yang menceritakan tentang seorang Kim jongin.

Kai menyunggingkan senyumnya lalu mengangguk,” Ya aku membacanya. Apakah itu salah?” Tanyanya sok polos.

Yoona membulatkan matanya, pipinya memanas. Kai sudah membaca buku hariannya, berarti dia sudah membaca segala curhatannya tentang dirinya. Oh tidak!

“Y-YAA! KIM JONGIN AWAS KAU!” Ujar Yoona sambil berlari mengejar Kai yang sudah berlari lebih dulu. Diam-diam ia tersenyum.

===

Sunday
Taeyeon-Luhan

Taeyeon terus berjalan sambil menundukkan kepalanya, sejak tadi ia merasa pipinya memanas dan jantungnya berdetak sangat cepat. Bagaimana tidak? Sekarang ia sedang berkencan dengan orang yang ia cintai, apalagi orang itu menggenggam tangannya sambil berjalan di sampingnya.

“Taeyeon-ah.” Panggil Luhan. Taeyeon menoleh pada Luhan, pipinya semakin memanas ketika melihat Luhan tersenyum begitu manis padanya.

“Aigoo, tidak salah aku dijodohkan denganmu.” Ujar Luhan sambil mengacak-acak rambut Taeyeon. Pipi Taeyeon merona, ia mengerucutkan bibirnya lalu merapikan rambutnya yang berantakan akibat ulah Luhan.

Luhan terus memperhatikan Taeyeon yang sedang berjalan di sampingnya. Mereka sedang berjalan-jalan di sekitar kota Seoul, hari Minggu malam adalah waktu yang tepat untuk berkencan bukan?

Taeyeon yang sedaritadi diperhatikan Luhan mulai sadar kalau seseorang memperhatikannya, ia menundukkan kepalanya agar pipinya yang merona tersebut tidak terlihat oleh Luhan. Sedangkan Luhan terkekeh kecil, tentu saja ia mengerti gerak-gerik Taeyeon.

“Ahh, hari ini dingin sekali.” Ujar Luhan. Tangan Luhan menggenggam tangan Taeyeon, sontak Taeyeon langsung menoleh pada Luhan yang sedang berjalan sambil menutup matanya. Taeyeon tersenyum kecil lalu mengeratkan genggaman tangan itu.

“Luhan-ah.”Panggil Taeyeon pelan. Mereka masih tetap berjalan mengitari jalanan kota Seoul. Luhan menoleh pada Taeyeon yang sedang menatapnya serius, Luhan mengernyitkan dahinya seakan-akan mengatakan ada apa?

“Bagaimana kalau, pernikahan kita dipercepat?”Tanya Taeyeon sedikit gugup. Ia merasakan pipinya yang mulai memanas kembali. Luhan terkekeh pelan lalu merangkul pundak Taeyeon.

“Apakah kau tidak sabar memiliki pangeran tampan sepertiku?”Tanya Luhan balik. Taeyeon menatap Luhan tajam, pertanyaan Luhan itu seakan-akan meledek Taeyeon.

“Ah, kalau kau tidak mau tidak apa-apa. Aku bisa mencari lelaki lain yang bisa kunikahi hm.”Ujar Taeyeon pelan. Ia melepas rangkulan Luhan lalu berjalan lebih cepat dari Luhan, Luhan yang rangkulannya dilepas langsung mengejar Taeyeon.

Luhan yang sekarang sudah tepat berada di samping Taeyeon menatap Taeyeon sekilas,”Taeyeon-ah.”

CHU.

Taeyeon membulatkan matanya, secara tiba-tiba Luhan menciumnya tepat di bibirnya. Apalagi Luhan menciumnya pada tempat umum seperti ini. Ia merasa semakin malu, pipinya merona dan memanas. Detak jantungnya tidak karuan karena Luhan.

“Oke. Kita percepat pernikahan kita.” Ujar Luhan lalu mengacak-acak rambut Taeyeon.

Taeyeon tersenyum penuh arti.

END

===

Hai, diriku kembali ya. Ini drabble compilation pertamaku, aku ngetik ini dengan penuh kemalasan. Alhasil jadinya baru sekarang, dan maaf banget buat readers ff too late ffnya kudelete karena banayk tanggapan negative.

Tapi aku lagi ngerjain ff baru dengan cast lutae, tapi entah kapan jadinya karena aku lagi bener bener males ngetik. Thks ya buat yang udah baca!

Advertisements

34 thoughts on “[ ExoShiDae Drabble Collection ] A Week

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s