Beautiful Husband [Part 9A]

beautiful-husband1_priskila_melurmutia1

Beautiful Husband [Part 9A: Other Side]

 

Writing by Priskila (@priskilaaaa)

Byun Baekhyun [EXO K] – Kim Taeyeon [SNSD]

 

Series | Teen | Romance – Family – Marriage Life

 

Disclaimer:

I don’t own the cast. But the storyline and the plot is mine. Everything here belongs to God and their family, their agency too. I just used their physical representation.

 

Prev. chapter

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9A

Reccomended song as backsound:

Baekhyun EXO & Chen EXO – I Really Don’t Know [Immortal Songs 2]

 

Credit poster:

Melurmutia@Cafe Poster

 

 

Three months later

 

Seoul yang memutih suci. Lihat saja, tampak sekali bahwa seluruh permukaan tanah di kota itu sudah tak luput dari benda halus berwarna putih yang turun dengan deras malam tadi. Hari ini pun begitu, salju masih turun namun tak sederas kemarin. Kim Taeyeon menjulurkan tangannya pada udara. Merasakan dinginnya salju yang mengenai telapak tangannya.

 

Gadis itu menutup matanya sembari butiran – butiran putih halus itu terkumpul penuh di atas telapak tangannya. “Sudah tiga bulan ya…” bisiknya entah pada siapa. Mungkin dia berbisik bagi dirinya sendiri. Atau pada orang yang entah sekarang dimana itu, Byun Baekhyun.

 

“Sudah tiga bulan kita tak pernah bertemu lagi, Baekhyunnie” Tangan yang semulanya terbuka lebar itu perlahan mengepal. Taeyeon menarik tangannya dan mengamatinya dengan pandangan kosong. Entah apa maksud dari hal yang dilakukannya ini. Tapi bukankah memang akhir – akhir ini dia selalu melakukan hal yang tak bertujuan penting?

 

Payung yang semula melindunginya dari guyuran salju itu dilepaskan hingga akhirnya jatuh menyentuh tanah. Segera direntangkan tangannya lebar – lebar  dan berputar seperti anak kecil. Wajahnya mencoba untuk tersenyum riang namun malah terlihat menyedihkan. Tanpa sadar, air matanya merembes keluar.

 

“Baekhyun-ah…” Nama itu lagi. Bibirnya bahkan bergetar ketika mengucapkannya.

 

Tiga bulan berlalu sudah. Setelah pertemuan terakhir mereka – yang selalu dapat membuat Taeyeon menangis jika mengingatnya kembali – dua insan itu tak pernah bertemu lagi. Ah, bukannya tak pernah. Taeyeon masih ingat dengan baik saat dia melihat Baekhyun di Namsan Tower beberapa waktu lalu. Gadis itu mulanya hanya berniat jalan – jalan bersama Jessica saja – maksud dasar Jessica mengajaknya tentu saja untuk menghiburnya, lagi – tapi dia malah melihat suaminya yang berdiri dekat dengan pohon, sedang berbicara entah pada siapa yang tertutup batang pohon pada waktu itu.

 

Sempat Taeyeon berniat untuk mengejar Baekhyun lagi dan berusaha agar lelaki itu kembali padanya, tapi saat dia berjalan lebih mendekat pada lelaki itu – dia dapat melihat lawan bicara Baekhyun yang rupanya adalah seorang gadis berparas manis dengan senyum menawan. Hatinya perih, tapi otaknya lebih memaklumi. Baekhyun pasti sudah punya yang lain. Yang lebih baik dari pada dirinya.

 

Dan saat itu juga dirinya mengerti satu hal.

 

Ini akhir dari segalanya karena lelaki itu memang sudah meninggalkannya. Seluruhnya.

 

Kim Taeyeon memejamkan matanya ketika dia dapat merasakan getaran ponselnya pada saku mantelnya. Cepat – cepat dia membersihkan air matanya yang sempat membasahi dan mengambil ponselnya. Ada panggilan untuknya… dari Jongin.

 

Taeyeon menutup matanya sesaat – berusaha agar suaranya terdengar tenang tanpa disertai fakta bahwa dia baru saja mencucurkan air matanya. Gadis itu menghela nafasnya pelan kemudian menjawab panggilan itu, “Yeobseyo?”

 

“Kau dimana?” Suara berat Jongin menyambutnya dari seberang sana.

 

“Aku hanya sedang jalan – jalan saja. Kenapa?” Taeyeon menggigit bibir bawahnya. Entah mengapa hingga sekarang – sejak kejadian tiga bulan lalu itu – Taeyeon merasa canggung dengan Jongin. Dirinya selalu merasa kaku ketika bertemu maupun berbicara dengan lelaki itu – yang juga merupakan penyebab pisahnya dengan Baekhyun.

 

Jongin terdengar menghela nafasnya dari sana, “Uljima Taeyeon-ah… Jangan menangis lagi”

 

Taeyeon mengangkat alisnya terkejut. Ke—kenapa bisa lelaki itu tau dia baru saja habis menangis? “Haha, apa maksudmu, Jongin-ah? Aku tidak menangis kok…” elaknya sambil terkekeh – walaupun hatinya masih saja terasa perih. Semenyedihkankah dirinya hingga tanpa melihatnya pun Jongin dapat tau bahwa dia menangis?

 

“Jangan menangis lagi karena lelaki itu. Dia sudah pergi dan dia tak peduli lagi denganmu”

 

Taeyeon melipat bibirnya – menahan isakannya. Telinganya terasa berdenging ketika Jongin mengucapkan kata – kata itu. Tidak, tidak… Baekhyun masih peduli dengannya. Lelaki itu… hanya butuh waktu.

 

Jongin mendesah kecewa karena Taeyeon tak menjawab. Dia dapat mendengar dengan jelas isakan kecil tertahan dari Taeyeon. Tak ingin sebenarnya dia mengucapkan ini, hanya saja dia ingin mengatakan kebenarannya… “Baekhyun sudah tak mencintaimu lagi. Lupakan dia. Dia hanya secuil dari masa lalumu yang tak penting” sambungnya.

 

Kim Taeyeon menggeleng – walaupun dia tau Jongin takkan melihatnya. “Ani… Dia mencintai—“

 

“—Aku bertemu dengannya. Dan ketika aku mengejarnya, dia berkata padaku untuk memberitahumu, bahwa dia sudah menemukan gadis yang lain. Dia sudah tak mencintaimu lagi”

 

Jongin menghela nafasnya sembari menyandarkan punggungnya di tembok lorong yang tersembunyi itu. Kepalanya menoleh kecil pada seorang gadis yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. Sesal menguasai hatinya, dia berbohong pada gadis itu. Kim Taeyeon. Yang sekarang sedang menutup mulutnya dengan tangannya dan terisak, karena perkataannya.

 

“Tidak, Jongin. Baekhyun tak seperti itu. D—dia mencintaiku, seperti aku mencintainya…”

 

“Dia sudah meninggalkanmu…”

 

Maafkan aku berkata bohong padamu, Taeyeon. Aku hanya tak ingin kau tersiksa karenanya’

 

Ani…Aniyaaa… Itu tidak mungkin… hiks hikss”

 

Mianhae Taeyeon-ah

 

 

Park Chanyeol mendesah kasar ketika melihat Baekhyun tidur di ruang tamu apartemennya dengan kondisi berantakan. Lelaki itu benar – benar sudah gila. Kelakuannya semakin tidak teratur. Baekhyun sudah sering mabuk – mabukkan dan pulang larut. Pernah beberapa kali juga dia mendapati Baekhyun berkencan dengan gadis – gadis.

 

Padahal dia masih tau betul kalau Baekhyun belum bercerai secara resmi dengan Taeyeon itu.

 

Dia benar – benar bukan Byun Baekhyun yang kukenal lagi.

 

Lelaki itu menggeleng sembari mengambil tiga botol wine yang tergeletak acak di atas meja. Dirinya berdecak melihat Baekhyun yang tidur tanpa melepas sepatu dan jaketnya sama sekali. Tidak menggunakan selimut pula. Apa lelaki itu lupa kalau salju sedang turun dengan lebatnya di luar sana?

 

Setelah membereskan ruang tamunya yang minta ampun berantakannya tadi, Chanyeol mengambil jaketnya yang tergeletak di kursi meja makan dan segera melangkahkan kaki keluar dari apartemennya. Dia harus pergi kerja.

 

Darimana dia akan mendapat uang jika dia hanya menghabiskan waktu untuk mengurus si depresi Baekhyun?

 

Chanyeol sedang mengelap bersih meja di cafe ketika telinganya mendengar bunyi bel – yang sengaja digantung di pintu masuk itu – berbunyi dengan nyaring, tanda kalau ada pelanggan datang. Lelaki itu segera membersihkan tangannya dan mengambil daftar menu juga catatan kecil di dekat kasir, guna mendata pesanan sang pelanggan.

 

Annyeonghaseyo… Ada yang bisa saya bantu?” Chanyeol menyodorkan daftar menu pada sang pelanggan – seorang gadis berambut cokelat legam dan bergelombang manis. Gadis itu tertunduk sambil memainkan ponselnya tanpa tujuan – dengan tidak menyentuh daftar menu sama sekali.

 

“Aku pesan yang biasanya saja …” Alis Chanyeol terangkat satu ketika mendengar gumaman pelan gadis itu—sangat pelan, untung saja dia memiliki telinga yang sempurna. Ah, apa gadis ini pelanggan tetap cafe ya? Chanyeol mengangguk – angguk. Maklum saja, dia baru menjadi karyawan di cafe ini kurang lebih dua minggu yang lalu, jadi dia belum terlalu tahu menahu tentang pelanggan tetap di cafe ini.

 

“Ooh, begitu. Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu”

 

Lelaki itu beringsut pergi kemudian menghampiri seorang yeoja yang berdiri di belakang kasir, “Ey, SooYoung-ah, tau tidak pesanan biasa gadis itu?” tanyanya sambil menunjuk ke arah gadis tadi.

 

Gadis berperawakan tinggi dan langsing itu mengernyitkan dahinya. Matanya menyipit melihat sosok gadis yang dimaksudkan Chanyeol itu. Sesaat kemudian dia ber-oh ria, “Itu pasti si gadis galau”

 

“Pfft.. kau bilang apa? Gadis galau?”

 

SooYoung mendengus melihat Chanyeol yang malah seperti mau tertawa. Buru – buru dia menggetok kepala lelaki itu dengan keras, “Sialan! Jangan bilang dia begitu. Kisah hidupnya itu menyedihkan sekali tau!”

 

Chanyeol meringis – sembari mengusap kepalanya yang baru saja menjadi korban tangan kejam SooYoung – namun sesaat dia malah bertanya penasaran, “Menyedihkan bagaimana?”

 

Raut wajah SooYoung mendadak berubah dramatis.  “Dia baru menikah tiga bulan yang lalu karena dijodohkan, tapi entah karena apa, tiba – tiba suaminya menuntut cerai dirinya tiga minggu setelah mereka menikah. Aku kasihan sekali sama dia. Orangnya cantik dan menyenangkan, sexy juga. Makanya aku tidak habis pikir dengan alasan suaminya itu menceraikan dirinya. Kata ahjumma sih, itu karena suaminya mendapatkan dia berciuman dengan mantan kekasihnya. Kerjaannya kalau datang ke cafe ini pasti hanya melamun dan menangis saja. Menyedihkan sekali, padahal dia seperti benar – benar mencintai suaminya”

 

Chanyeol termenung mendengarkan. Dua detik kemudian, lelaki itu mengernyit bingung. Kisah yang diceritakan SooYoung nyaris sama dengan kisah rumah tangga Baekhyun. Cepat – cepat dia menoleh ke arah gadis yang menjadi bahan pembicaraan mereka itu. Matanya menatap gadis itu dengan tatapan menyelidik – berusaha melihat dan mengenali wajah gadis yang mungkin saja Taeyeon, atau – dia berharap – bukan Taeyeon.

 

Tapi sayangnya, dia tidak dapat melihat wajah gadis berambut cokelat yang sedang menunduk itu, karena rambutnya yang terjuntai jatuh menyamping menutupi wajahnya. Chanyeol mendesis, lelaki itu berbalik ke arah SooYoung yang baru saja memesan pesanan rutin gadis itu, “Siapa namanya?”

 

SooYoung mengernyit sebentar – mengingat ingat. “Hm, kalau tidak salah namanya itu….”

 

Chanyeol dapat merasakan jantungnya yang sudah bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya.

 

“….Kim Taeyeon”

 

DEG

 

 

Chanyeol tidak pernah berharap kalau dia akan bertemu dengan gadis yang membuat sahabat feminimnya itu berubah drastis. Lelaki itu tidak pernah memiliki sedikitpun pikiran untuk mengamat – amati Taeyeon dari kejauhan – seperti saat ini.

 

Matanya tak berkedip memandangi setiap kegiatan yang dilakukan Taeyeon. Saat gadis itu melamun, makan, dan kemudian melamun lagi. Lelaki bermarga Park ini melirik cepat pada jam yang terpasang dengan baik di dinding cafe. Pukul 22.50 malam, dan itu berarti gadis itu sudah berkutat di cafe ini hampir selama 6 jam. Chanyeol tanpa sadar menggeleng tak percaya.

 

Dirinya bahkan penasaran dengan apa yang sebenarnya menjadi bahan lamunan Taeyeon sampai memakan waktu selama ini. Lagipula, kalau dia ingin melamun juga, bisa di rumahnya juga kan?

 

Chanyeol berjalan mendekat. Berpura – pura, lelaki itu mengambil kain lapnya dan mengelap salah satu meja yang jaraknya yang hanya berbeda dari 2 meja dari Taeyeon. Dan sekarang dia dapat melihat dengan jelas wajah cantik Taeyeon. Wajah yang sama, namun memiliki aura berbeda dari terakhir dia melihat Taeyeon.

 

Dia dapat melihat dengan jelas Taeyeon yang sedang menopang dagunya sambil menatap jalanan luar Seoul yang terhiasi oleh salju.

 

Sesaat kemudian, gadis itu menghela nafasnya. Mengambil ponsel miliknya dan memainkannya sejenak, namun Chanyeol dapat melihat bahwa Taeyeon terfokus pada satu hal di ponselnya itu. Chanyeol mencondongkan tubuhnya sedikit – berusaha melihat apa yang menjadi objek Taeyeon di ponsel bercasing putih gading itu.

 

Sedetik, Chanyeol bungkam.

 

Dan, Kim Taeyeon sudah meneteskan air matanya disana, lalu terisak pelan.

 

Hati Chanyeol merasa miris seketika. Taeyeon memang ternyata benar –benar mencintainya.

 

 

Kim Taeyeon menghela nafasnya keras, kemudian membersihkan sisa air mata yang baru saja membasahi wajahnya. Cepat – cepat gadis itu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas selempangnya dan beranjak berdiri. Dirinya tersenyum pada sang gadis penjaga kasir ketika menyodorkan bayaran pesanannya hari ini.

 

Setelah selesai mengambil bill, gadis itu langsung berbalik hendak meninggalkan cafe yang sudah mau tutup itu. Langkahnya terlihat lemah dan tak bertenaga. Gadis itu menyampirkan kembali selempangan tasnya yang terlipat, dan kemudian tangannya terjulur membuka pintu cafe.

 

“Ehm, Kim Taeyeon?”

 

“A—ah?”

 

Gadis itu tercengang ketika seorang pria jangkung berdiri secara tiba – tiba di hadapannya. Tinggi badan mereka yang terlampau cukup jauh membuatnya harus mendongak. Pria itu menyebutkan namanya dan memandangannya dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.

 

Tu—tunggu… Mengapa Taeyeon merasa tidak asing dengan wajah lelaki ini?

 

“Saya pelayan di cafe ini…” ucap lelaki itu tiba – tiba. Membuat Taeyeon harus dibuat bingung oleh ucapannya. Pelayan di cafe? Lalu hubungannya dengan Taeyeon?

 

Taeyeon dapat melihat bahwa lelaki itu mengusap tengkuk belakangnya – seakan dia hendak mengucapkan sesuatu tapi ragu. “E—ehm begini… aku…”

 

Taeyeon mengernyitkan dahinya. Kenapa dengan lelaki ini?

 

“Ada apa?”  

 

“Boleh?”

 

“Hah?”

 

“A—anu… boleh aku minta nomor ponselmu? Hm, jujur,… aku tertarik denganmu saat melihatmu di cafe..”

 

Dan Taeyeon bersumpah dapat melihat gelagat gugup dari lelaki itu. Ragu – ragu lelaki itu mengambil ponselnya di saku celananya dan menyodorkannya pada Taeyeon. “Namaku Park Chanyeol. Kamu Taeyeon kan? Hehe, tadi aku bertanya pada salah satu pegawai disini”

 

Gadis itu menarik sudut bibirnya sedikit. Geli dengan tingkah lelaki ini yang sepertinya sangat terpesona dengannya. Haha, dia jadi teringat dengan masa – masa dimana setiap lelaki dulu selalu mengejarnya dan menguntitnya kemanapun. Hm, sampai sekarang juga sepertinya.

 

“Untuk apa?”

 

Park Chanyeol – namanya benar? Taeyeon kurang fokus tadi – terlihat menggigit bibir bawahnya dengan menggemaskan. Bahkan remang – remangnya lampu jalanan masih tidak dapat menutupi fakta bahwa lelaki itu kini sedang berkeringat dingin.

 

“A—anu… tadi aku sudah bilang…”

 

“—uh?”

 

“…aku sepertinya tertarik denganmu. Kau cantik dan terlihat sempurna di mataku”

 

Gombal murahan. Taeyeon meledek dalam hatinya dan tertawa – astaga, dia tertawa? Padahal akhir – akhir ini dia jarang sekali tertawa.. ah tidak, tidak pernah tertawa sejak kepergian Baekhyun. Taeyeon pada akhirnya tersenyum manis sekali pada Chanyeol dan mengambil ponsel yang sedari tadi masih disuguhkan padanya itu.

 

Jarinya menekan layar ponsel dengan lincah lalu kembali menyerahkannya pada Chanyeol, “Itu nomorku. Jangan sering – sering telepon ya” ledeknya lalu segera membuka payungnya dan pergi.

 

Chanyeol tertawa kaku selagi Taeyeon masih berada tidak jauh darinya. Tangannya bergerak melambai pada Taeyeon yang berbalik padanya sekali sambil tersenyum. Senyum riang terpatri di wajahnya, hingga ah…. tidak begitu lama punggung gadis itu menghilang, senyuman riang itu memudar berganti dengan senyuman lirih.

 

Matanya menatap nomor ponsel Taeyeon yang baru saja diberikan gadis itu padanya. Kemudian tangannya bergerak memberi nama kontak pada nomor itu,

 

Baekhyun’s Wife

 

 

Park Chanyeol baru saja membuka pintu apartemennya, ketika dia menyadari ada bunyi berisik di dapur sana. Pasti Baekhyun sedang mengacak – acak kulkasnya untuk mencari sesuatu untuk dimakan. Chanyeol melepas kedua sepatunya dan menggantinya dengan sendal rumah, lalu berteriak “Annyeonghaseyo!”

 

Annyeong!” Baekhyun membalas dari dalam.

 

Chanyeol tersenyum kecil. Matanya melirik pada meja ruang tamu. Tsk, keadaannya tidak jauh beda dari tadi pagi – walaupun tidak separah pagi tadi. Ada satu botol wine kosong dengan gelas kecil, televisi dibiarkan menyala, dan bungkus permen yang berserakan.

 

Lelaki itu melangkahkan kakinya masuk ke dapur, dan mendapati Baekhyun sedang memasak air panas dengan mie ramen instan di genggamannya. “Belum makan, huh? Bukannya akhir – akhir ini kau makan di luar…”

 

“Tadi si Haera ada urusan mendadak. Jadi kami batal makan malam” sahut Baekhyun santai. Lelaki itu memasukkan ramen instan ke dalam air panas yang sudah mendidih dan mengaduknya sesekali.

 

Chanyeol mengernyitkan dahinya bingung, siapa lagi si Haera itu? Gadis ‘baru’nya Baekhyun? Hembusan nafas pelan keluar dari mulutnya membentuk kepulan asap kecil – mengingat cuaca sedang dingin – dinginnya. “Aku juga dong. Aku belum makan” seru Chanyeol seraya mengambil sebungkus lagi mie ramen instan di kulkas, lalu melemparnya pada Baekhyun.

 

Selagi menunggu Baekhyun memasak ramen itu, Chanyeol mengambil ponselnya dan memainkannya sejenak. Jarinya dengan lincah menari di atas layar sentuh ponsel, hingga akhirnya jarinya berhenti mendadak. Dia baru ingat satu hal. Bukannya tadi dia meminta nomor ponsel Taeyeon? Bagaimana kalau dia memberi nomor itu pada Baekhyun – karena dia tau betul, Baekhyun sudah menghapus nomor ponsel Taeyeon dari kontaknya – ?

 

Tapi—ah! Jangan. Pasti Baekhyun akan menolak mentah – mentah dan dia akan kembali depresi seperti orang gila. Chanyeol menggeleng.

 

Tapi melihat bagaimana tadi Taeyeon terisak dengan melihat foto Baekhyun di ponselnya, membuat hatinya kembali merasa miris. Benar – benar kasihan dan sangat menyedihkan. Pantas saja SooYoung mengatakan kehidupan Taeyeon itu sangat menyedihkan. Gadis itu melamun dan melamun, menangis dan terisak, hanya untuk Baekhyun yang kini sedang berusaha menyingkirkannya dari kehidupannya.

 

Chanyeol menggigit bibirnya. Sudah tiga bulan lebih sahabatnya itu menetap di apartemennya, dan sudah tiga bulan lebih juga dia dapat mendengar Baekhyun yang selalu mengucapkan nama Taeyeon dalam tidurnya. Baekhyun masih mencintai gadis itu – hanya, dia sedang berusaha agar bisa lepas dari cinta itu.

 

“Oh, Baekhyun!”

 

Mwo?”

 

“Pinjam ponselmu dong”

 

Baekhyun berbalik dan mengernyit pada Chanyeol. Namun setelah melihat wajah sahabatnya itu yang memasang ekspresi ‘kumohon…’, ragu – ragu dia mengeluarkan ponsel berwarna hitamnya (Oh? Baekhyun sudah mengganti ponselnya?) dan menyerahkannya pada Chanyeol. “Jangan lihat – lihat inboxku ya”

 

Chanyeol mengangkat jempolnya pada Baekhyun. Cepat – cepat dia membuka kontak Baekhyun dan menekan ‘Add New Contact’. Tangannya juga bergerak mengambil ponselnya dan membuka nomor yang tadi diberikan Taeyeon padanya.

 

“Memangnya kau mau buat apa dengan ponselku?” Suara Baekhyun menginterupsi – sedangkan orangnya sedang menuangkan kuah ramen ke mangkok.

 

“Cuma mau melihat – lihat aplikasi gamemu saja”

 

Baekhyun memutar bola matanya. Aih, Chanyeol memang maniak game. Lelaki bersweater hijau tua itu pun segera meletakkan dua mangkuk di meja makan – dan salah satunya didorong pelan ke hadapan Chanyeol. Diambilnya sumpit dan segera dilahapnya ramen panas miliknya – sambil sesekali melirik pada Chanyeol yang tampak serius sekali dengan ponselnya.

 

Sedangkan Chanyeol… Ah, lelaki itu memang terlihat begitu serius dan jari – jarinya bergerak di atas layar ponsel Baekhyun, tapi sesungguhnya, pikirannya sedang berseteru. Di satu sisi, dia ingin memasukkan nomor Taeyeon pada ponsel Baekhyun, tapi… dia takut temannya itu akan marah atau mungkin frustasi karena Taeyeon. Chanyeol menghela nafasnya kasar – yang mengundang lirikan bingung dari Baekhyun. “Kenapa, huh?”

 

Chanyeol menggeleng pelan, “Tidak apa – apa”

 

Lelaki itu kembali berpikir lebih dalam. Hingga akhirnya jarinya bergerak dengan lincah di atas layar ponsel itu. Namun sialnya…

 

Drrt drrt drrt

geurae wolf naega wolf… Auuu~

ah saranghaeyo

nan nekudego neon minyeo

Drrt drrt

 

Chanyeol tersentak ketika ponsel yang sedang digenggam tangan kanannya bergetar – ada panggilan masuk. Dan dirinya terkejut begitu tangan Baekhyun merebut ponselnya dan pergi menjauh. “Oh! Jungie-ah!”

 

Jantung Chanyeol serasa mau copot dibuatnya. Panggilan sialan, pikirnya. Beruntung sekali dia sudah menyimpan nomor Taeyeon dua detik sebelum ponsel itu berdering dengan heboh. Diliriknya Baekhyun yang sudah menyingkir ke ruang tamu dan menjawab panggilan yang pasti berasal dari para gadis genit yang menjadi ‘mainannya’ sekarang.

 

Chayeol menghela nafasnya pelan. Tangannya perlahan mengambil sumpitnya dan mulai melahap ramen miliknya yang sudah mulai dingin.

 

Beruntung sekali…. Beruntung…

 

Kim Jongin baru saja melangkahkan kakinya keluar dari apartemen miliknya, ketika secara tiba – tiba dia melihat sosok wanita mungil berambut cokelat bergelombang berdiri membelakangi pintu apartemennya. Dia kenal betul siapa wanita itu.

 

“Taeyeon?”

 

Wanita itu berbalik. Dan Jongin dapat melihat wajah lesu wanita itu – walaupun Taeyeon tersenyum lebar padanya. “Jonginnie

 

Dahi Jongin berkerut. Ey, ada apa ini? Tumben sekali Taeyeon memanggilnya dengan sebutan ‘Jonginnie’ sejak tiga bulan lalu. Taeyeon melangkahkan kakinya mendekat pada Jongin yang masih saja berputar dengan pikirannya, “Kau sibuk?”

 

Oke, Jongin sekarang benar – benar dibuat bingung dengan Taeyeon.

 

Perlahan dia menggeleng. Baru saja dia mau keluar untuk mengisi perutnya yang meronta – ronta minta diisi – dia sangat malas untuk menyalakan kompor dan memasak, itu bukan gayanya. Tapi sepertinya niat itu buyar ketika matanya melihat bawaan Taeyeon, satu kantong besar penuh bahan makanan.

 

“Kita makan siang sama – sama yuk” kata Taeyeon sembari mengangkat sedikit kantong belanjaan besar itu.

 

Jongin mengangguk. Dirinya menyingkir sedikit untuk memberi Taeyeon jalan masuk ke dalam apartemennya. Telinganya dapat mendengar gumaman pelan Taeyeon yang sudah berada dalam apartemennya, “Wah, desain apartemenmu sama sekali tidak berubah ya sejak tiga tahun lalu”

 

Jongin menghela nafasnya pelan. Astaga, Taeyeon sedang meledek dirinya ya? Mentang – mentang saat Jongin baru memasuki apartemennya ini tiga tahun yang lalu, Taeyeonlah yang menjadi otak dari dekorasi di apartemennya. Masih diingatnya saat Taeyeon menariknya ke sana kemari hanya untuk mencari karpet berwarna hitam dengan corak kulit zebra. Bibirnya tertarik sedikit mengingat masa lalunya dengan Taeyeon saat itu. Ah, begitu indah.

 

Lelaki itu melepaskan sepatunya sebelum matanya melihat Taeyeon yang sudah sibuk di dapurnya. Dia dapat melihat dengan jelas gadis itu mengeluarkan berbagai macam barang – barang miliknya dan meletakkannya di atas pantry. Jongin tersenyum. Gadis itu sedang berusaha ceria ternyata.

 

“Jonginnie! Ppali! Bantu aku disini!” Taeyeon berteriak dari dapur sana. Matanya menatap Jongin kesal dan mengibaskan tangannya – menyuruh lelaki itu ke dapur. Dan saat lelaki itu sudah berada disana, Taeyeon malah merasa semakin jengah. Jongin tidak tau melakukan apapun.

 

“Bagaimana caranya potong ini?” Jongin persis seperti orang tolol yang sedang memegang pisau ketika Taeyeon menyuruhnya memotong – motong jamur.

 

Taeyeon mendengus kesal, apalagi saat dia menyuruh Jongin menggoreng telur. Telurnya gosong!

 

“Ya! Apa yang kau lakukan?! Telurnya kok Afrika begitu?!!” pekik Taeyeon stress. Dia sudah mengajar lelaki itu bagaimana caranya membuat telur goreng – dan Jongin begitu yakin kalau dia pasti bisa – namun hasilnya… oh! Gosong! Hitam! Afrika!

 

“Jongiiiiiinn!!!” Taeyeon ingat betul kalau dia membeli telur sebanyak dua belas butir, tapi kenapa malah yang tersaji dengan cukup baik – tanpa gosong yang berlebihan – hanya lima telur.

 

Jongin terkekeh tanpa rasa bersalah. Rasanya rindu sekali melihat Taeyeon yang emosi seperti itu. Lelaki itu pada akhirnya hanya duduk di meja makan sambil menopang dagunya – menunggu Taeyeon yang pada akhirnya melanjutkan acara masaknya.

 

“Kau cantik sekali kalau sedang memasak, Tae. Seperti tante – tante yang sexy”

 

Taeyeon mendelik. Apa yang Jongin katakan barusan?

 

Sedangkan lelaki itu sudah tertawa dengan heboh. Melihat ekspresi Taeyeon yang melirik dengan kesal kepadanya membuat perutnya geli. Aih, ekspresi wajah Taeyeon memang paling perfect deh. Cocok untuk segala kondisi.

 

“Ya! Neo—“ Taeyeon mengangkat pisaunya pada Jongin. Menyebalkan sekali melihat bagaimana Jongin meledeknya. Apa itu? Tante – tante sexy? Jongin mesum!

 

“Haha, kau harus ambil kaca sekarang! Mukamu lucu sekali!”

 

Taeyeon menggertakan gigi – giginya emosi, namun semenit kemudian dia tersenyum geli. Jongin memang selalu deh, berusaha membuatnya tertawa walaupun kadang caranya itu menyebalkan. “Jangan menggodaku terus! Aku sudah bersuami tau, ingat fakta itu!” seru Taeyeon tanpa sadar – sembari kembali memotong – motong daun bawang.

 

Argh! Sial! Jongin terdiam ketika Taeyeon mengucapkan kata itu. Sudah hampir setengah tahun mereka berpisah, tapi kenapa masih saja Taeyeon teringat akan lelaki sialan itu? Jongin menggerutu dalam hatinya – sedangkan tangan kanannya sudah terkepal di bawah meja. Dan tampaknya Taeyeon tidak sadar kalau dia baru saja mengucapkan kata – kata itu.

 

“Oh, aku tau! Bagaimana kalau kita jalan – jalan sekarang?” seru Jongin asal. Dia tidak mau Taeyeon kembali murung seperti dahulu. Gadis itu terlalu sensitif dengan kata – kata ‘suami’, ‘Byun’, ‘feminim’, dan segalanya yang berurusan dengan nama Byun Baekhyun. Bahkan nama panggilannya saat SMA dulu, ‘ByunTae’ menjadi sangat haram diucapkan sekarang.

 

Taeyeon berbalik dan menatap Jongin bingung. “Aku belum selesai masak, anak bodoh”

 

Jongin mengerucutkan bibirnya – berpura – pura tersinggung dengan ucapan Taeyeon barusan. “Uhh, kenapa kau bilang aku bodoh? Lebih bodoh kau, tau” ucapnya sembari beringsut menghampiri gadis itu dan memeluknya dari belakang secara tiba – tiba.

 

Sekali lagi, memeluknya dari belakang.

 

Taeyeon melotot mendadak. Terkejut dengan perbuatan gila Jongin. Buru – buru dia langsung memberontak – melepaskan pelukan Jongin dan menatap lelaki di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan, “Jangan memelukku seperti itu!”. Dan entah kenapa, gadis itu menoleh ke sekitarnya – seakan takut akan ada yang melihat, atau mungkin… dia takut Baekhyun melihatnya.

 

Jongin terdiam lesu. Padahal dia baru saja hendak mengerjai Taeyeon, tapi kenapa yang ada malah kenyataan yang didapatnya? Gadis itu masih trauma. Trauma dan takut kalau Baekhyun akan datang dan melihat semuanya itu.

 

“Kau memang bodoh!” seru Taeyeon lagi dan matanya mulai berkaca – kaca. “Bagaimana kalau Baekhyun melihat? Bagaimana kalau pada akhirnya dia benar – benar meninggalkan aku karena kau? Aku tidak akan memaafkanmu kalau itu terjadi, Kim Jongin!” pekik gadis itu dan berjalan pergi meninggalkan Jongin yang terdiam di tempatnya.

 

Gadis itu kembali mengalirkan air matanya. Taeyeon mengangkat tangannya dan berusaha menghapus jejak air matanya. Astaga, baru saja dia hampir melupakan masalahnya dengan Baekhyun – dan mengira kalau Baekhyun hanya sedang pergi urusan, dia malah ditampar dengan kenyataan kalau memang Baekhyun pergi, dan itu karenanya.

 

Ulu hatinya kembali terasa begitu perih.

 

“Dia memang sudah meninggalkanmu,” Suara Jongin menginterupsinya – membuat langkahnya secara spontan terhenti. Taeyeon terpaku di tempatnya tanpa berbalik sedikitpun. “DIA SUDAH MENINGGALKANMU, KIM TAEYEON! DIMANA OTAKMU?! BYUN BAEKHYUN SUDAH MENINGGALKANMU DAN TIDAK AKAN PERNAH KEMBALI LAGI PADAMU!!!”

 

Nafas Jongin terengah – engah setelahnya. Lelaki itu berteriak, meluapkan segala amarah yang selama ini terpendam. Dia sudah tidak peduli dengan isakan Taeyeon yang pecah terdengar begitu miris. Bahkan gadis itu sampai merosot jatuh ke lantai yang dingin itu.

 

“—Dia… dia sudah tidak mencintaimu lagi…” Jongin mengatur nafasnya, kemudian kembali melanjutkan “Byun Baekhyun… sudah tidak mencintaimu lagi. Jadi buat apa kau menunggunya? Buat apa kau menangis hanya untuk dia? Buat apa, Taeyeon-ah? Kau sudah tidak berarti lagi baginya…”

 

Bohong, bohong, bohong. Taeyeon menggeleng – geleng dalam tangisnya. Kedua tangannya bergerak menutupi kedua telinganya dan dia memejamkan matanya erat. Dia tidak mau mendengar kata – kata omong kosong dari Jongin lagi. Lelaki itu bodoh, dia tidak tua apa – apa. Baekhyun masih tetap mencintainya sampai sekarang.Dia tau itu.

 

“Taeyeon-ah…” Jongin melangkah mendekatinya dan berusaha mengangkatnya berdiri. Namun Taeyeon terlebih dahulu memberontak. Setiap saat Jongin berusaha menyentuhnya, Taeyeon mengamuk. Dia tidak mau lelaki itu menyentuhnya.

 

Jongin mengerang frustasi. Taeyeon sudah benar – benar tidak terkendali sekarang ini.

 

“Taeyeon, dengar dan lihat aku” Pada akhirnya, Jongin berjongkok – mensejajarkan dirinya dengan Taeyeon yang masih saja menangis. Tangannya meremas kedua pundak Taeyeon dengan cukup keras. “Taeyeon!” Lelaki itu memaksa Taeyeon menatapnya, namun tetap saja. Taeyeon hanya menggeleng – geleng seperti kesetanan.

 

“Oh kumohon! Kim Taeyeon, jangan seperti ini!” teriak Jongin. Cengkramannya pada pundak Taeyeon melemah seiring mata Taeyeon yang bergerak menatapnya. “Kumohon… jangan seperti ini hanya karena Baekhyun sialan itu…”

 

Taeyeon menggeleng lagi. “Dia tidak—“

 

“Terima fakta ini, Taeyeon! Dia memang sudah pergi!”

 

“Tidak… Tidak… Baekhyun, tidak…”

 

Taeyeon meraung – raung kembali. Untuk saat ini, dia ingin Baekhyun ada disisinya dan memeluknya. Bukan Jongin yang kini memeluk dan mengelus – elus punggungnya.

 

Tiffany Hwang melangkahkan kakinya memasuki cafe itu. Cafe yang kini menjadi langganannya dengan sahabat – sahabat terdekatnya. Dan sekarang, dia kesini untuk makan siang beserta suami tercintanya, Kim Joonmyun.

 

“Kau dimana? Aku sudah masuk di cafe…” Tiffany berbicara dengan Joonmyun melalui sambungan telepon. Mereka baru saja janjian untuk makan siang, dan kebetulan Tiffany tidak bisa datang sama – sama dengan suaminya itu. Ada urusan yang harus diurusnya terlebih dahulu dan baru dia menyusul ke cafe.

 

“Oh?” Mata Tiffany menyapu seluruh sudut cafe, hingga akhirnya wajahnya terlihat sumringah melihat Joonmyun yang melambai penuh senyum padanya. “Oh! Honey!” teriak Tiffany semangat. Gadis itu melangkahkan kakinya yang berbalut high heels berwarna merah muda itu ke arah suaminya, dan segera memeluknya erat. “Sorry making you wait too long~”

 

Joonmyun tertawa pelan sembari Tiffany memeluknya. Tangannya bergerak menepuk pelan punggung istrinya itu hangat, “Gwenchana honey. Menunggu sampai seribu tahun pun, asal itu untukmu, aku mau”

 

Tiffany dapat merasakan wajahnya memanas saat itu juga. Buru – buru dia melepaskan pelukannya dan memukul lengan lelaki di sebelahnya itu dengan cukup keras – hingga Joonmyun merintih kesakitan. “Gombal!” serunya dan mengerucutkan bibirnya dengan menggemaskan.

 

CUP

 

Matanya membelalak ketika secara tiba – tiba Suho mencium bibirnya kilat. Tiffany dapat melihat bagaimana Suho mengerlingkan mata padanya dan berujar, “Jangan sering – sering mengerucutkan bibir seperti itu. Nanti aku susah untuk berpaling dari bibirmu”

 

Wajah Tiffany memerah. Dirinya melirik sesekali ke sekitarnya – takut jika pengunjung di cafe ini melihat aksi ‘mesum’ si Joonmyun yang kini malah sedang tertawa – taka. Tiffany menghela nafasnya, sekilas Joonmyun mesumnya terlihat sama seperti Jongin. Aish, anak itu… Tiffany jadi terpikir, akhir – akhir ini dia terlihat lebih tertutup dari dulu. Sejak retaknya rumah tangga Taeyeon hampir enam bulan lalu itu, sikap Jongin juga ikutan berubah.

 

Aish, mereka memang membingungkan.

 

“Permisi… Ada yang bisa saya bantu?”

 

Tiffany dan Joonmyun bersamaan menoleh ke arah pelayan yang dipastikan bergender laki – laki itu.

 

“Huh, kau… Chanyeol?”

 

Lelaki berseragam maid hitam itu mengernyitkan wajahnya sekaligus mendongak. Menatap orang yang baru saja menyebutkan namanya. Dan spontan saja matanya membulat, gadis itu…

 

“Tiff?”

 

… cinta pertamanya saat sekolah dulu.

 

TBC

 

Note:

OKEEE!!!!!!! >< AKU GAK TAU MAU BILANG APA!!!!

AKU TELAT, AKU BUATNYA TAMBAH ANEH, KONFLIKNYA NAMBAH…. AAAAAAAAA!!! GAK TAUUUU 

 

/ngacir/

137 thoughts on “Beautiful Husband [Part 9A]

  1. Kak, kpan kakak mau update ff ini???😦
    aku udah penasaran banget sama lanjutannya..kasihan banget Taeyeon ;-(
    sedih banget bacanya..
    Cepet di update ya kak..

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s