[Freelance] WILD (Chapter 2)

seohyun

Title : WILD [Chapter 2]

Author : Jung Hyun Ra & Park Hyun Ah (Collaboration)

Cast(s) : ▪ Do Kyungsoo (D.O), Seo Joohyun (Seohyun), Choi Sooyoung, Tiffany Hwang

▪ Xi Luhan, Im Yoona, Huang Zi Tao, Park Chanyeol

▪ [One mysterious cast]

Genre : Adventure, Action, Romance, Supernatural, (little bit) Mistery, Shounen – Ai (one couple)

Length : Chapters/ Series/ Episodes

Disclaimer : FF ini original MILIK 2 author setengah otak ikan, seperempat otak yadong, dan sisanya otak somplak author JUNG HYUN RA & PARK HYUN AH. No Plagiarism! No Silent Readers! No Flame! Tinggalkan jejak kalian! Kesamaan nama, latar, kejadian, ini murni ketidaksengajaan kami. Sekali lagi, FF ini original MILIK Jung Hyun Ra & Park Hyun Ah

 

Backsound :Epik High ft. LeeHi – It’s Cold

 

No Plagiarism!

.

.

No Silent Readers!

.

.

.

.

WILD [Chapter 2]

.

.

Hyun Ra – Hyun Ah

.

.

“Kau tidak apa – apa?” suara dengan pengucapan yang dalam terdengar pada ruangan besar itu. Perapian dengan api yang berkobar dan hiasan pohon natal usang di atasnya memberi kesan hangat bagi ruangan itu. Walau suhu tubuh makhluk di dalamnya tidak akan pernah dan tidak akan bisa menjadi hangat.

“Tidak. Aku tidak sedang baik – baik saja. Aku sudah tidak kuat lagi.” Suara yang lain menyahut. Terdengar merdu.

“Sabar, gege. Jangan gegabah, atau semuanya akan sia – sia.” Suara kekanakkan terdengar berkicau mengisi ruangan.

Makhluk perempuan yang berdiri di pinggir pintu hanya diam. Tidak mau menjawab walau hanya anggukan dan gerak tubuh lainnya.

“Hehe~ Baobei, kau bijaksana sekali, eum?” Suara berat dan dalam kembali terdengar.

“Diam kau, hyung. Atau aku akan meminta noona untuk mengikatmu pada kaktus piaraannya.” Ancam yang bersuara kekanakkan.

Suasana pun kembali hening, “ Sudahlah. Pokoknya, nanti rencana kita harus berjalan,” suara perempuan pun terdengar.

Semua yang ada di ruangan itu mengangguk dan mulai menghilang satu persatu dari ruangan besar nan luas itu.

***

Kunang – kunang mengelilingi tenda keempat orang itu. Seohyun sudah terlelap di tenda pertama. Sooyoung dan Tiffany? Kyungsoo rasa, dua orang itu masih berkutat dengan snack dan gadget masing – masing di tenda kedua, mungkin. Hanya Kyungsoo saja yang masih betah berdiam di luar tendanya.

Pikirannya masih melayang ketika Kim Taeyeon, boss atau pemilik café tempatnya bekerja memarahinya habis – habisan.

“Kalau kau tidak bisa membuat sajian baru, lebih baik kau keluar! PAYAH!”

Kalimat itu terus terngiang di otak Kyungsoo. Selama ini tidak ada yang membentak sekasar itu dan menolak masakan Kyungsoo. Apapun itu. Hanya Kim Taeyeon saja. Benar, Kim Taeyeon.

Kim Taeyeon.

Kim Taeyeon.

Kyungsoo meremas rambutnya frustasi. Ia sudah berusaha melupakan boss yang selama ini ia cintai. Tapi nihil. Tidak bisa. Seberapapun kerasnya Kyungsoo mncoba. Nihil.

Kyungsoo meraih panci dan merebus makanan kaleng. Semoga saja ia bisa cepat tidur kalau perutnya kenyang. Tangan nya dengan cekatan memotong berbagai bahan masakan dan memasukkannya pada panci. Sesekali alisnya mengkerut jika rasanya tidak pas atau kurang. Bibirnya juga ikut bekerja. Menyenandungkan beberapa lagu. Namun semua gerakan tubuhnya berhenti begitu ia mendengar suara kaki yang mendekat. Bulu kuduknya berdiri. Matanya bergerak liar mencari asal suara itu, bahkan sesekali matanya menerawang masuk ke dalam hutan.

Sejurus kemudian, penglihatan Kyungsoo menangkap sosok pria ber iris biru dan kulitnya gelap, tan. Surai nya berwarna cokelat kayu gelap dihiasi sinar bulan tertutup dengan topi hitam.

Kyungsoo meraih spatulanya dan bersiap menghajar pria itu jika si pria melakukan tindak kriminal. Namun kemudian, namja itu berhenti mendekat. Hening. Kyungsoo kurang yakin bagaimana rupa pria di depannya ini. Yang terlihat hanya kilau biru dari matanya dan kulit tan yang terlihat kontras.

Lamunan Kyungsoo buyar dan tubuhnya menggigil ketakutan ketika namja bertubuh jangkung di depannya kembali melangkahkan kaki panjangnya. Sebenarnya bukan itu yang Kyungsoo takutkan. Hanya saja, pria itu menyeringai, bung.

Pria itu berhenti lagi beberapa langkah dari tempat Kyungsoo berdiri. Pria itu mengeluarkan tangan kanannya dari saku celana jeans. Kemudian tangannya terulur ke depan dan ia mengacungkan jari telunjuknya tepat pada mata Kyungsoo.

“Kau, tuan bermata bulat!” suara sang pria terdengar. Dalam dan basah. “Boleh.. Aku minta makananmu?”

Pria itu menjulurkan tangannya lebih dekat pada sisi kiri leher Kyungsoo dan menyentuhnya perlahan. Panas. Sangat panas hingga rasanya kulit Kyungsoo melepuh (walaupun sebenarnya tidak). Hanya itu yang Kyungsoo rasakan, karena setelahnya Kyungsoo sudah tidak sadarkan diri.

***

Kyungsoo terbangun dengan bulir – bulir keringat membasahi pelipisnya. Lebih tepatnya, bangun dari pingsannya. Ia ingat betul pria semalam. T-shirt hitam dan celana jenas biru tua dengan sobekan pada bagian lutut. Hanya itu. Tidak ada penutup telinga. Syal. Jaket dua lapis. Apalagi sarung tangan rajut.  Tapi, bagaimana bisa? Maksud Kyungsoo, suhu tubuhnya. Hangat, ah tidak, panas maksudnya.

Kyungsoo sadar dan cepat – cepat menggeleng. Baru saja ia ingin keluar dari tendanya, Sooyoung sudah menerobos masuk duluan.

“Whoa! Sudah bangun? Kau nyenyak sekali semalam.” Ujar Sooyoung.

“Ah, ya. Siapa yang membawaku ke tenda semalam?” Kyungsoo melipat selimutnya dan mengenakan jaket merah hitamnya.

Sooyoung diam sejenak, “Kau bercanda? Memang kau tidur di mana semalam? Semalam Tiffany keluar tenda menuju tendamu. Ia bilang kau tidur nyenyak sekali. Kau bahkan membenamkan wajahmu.” Jawab Sooyoung dengan wajah keheranan.

“Apa yang Tiffany-noona lakukan di tendaku?”

“Meminjam guntingmu.” Sooyoung mengacungkan gunting berwarna silver tinggi – tinggi.

Kyungsoo tertegun sekali lagi. Air mukanya berubah. Nampak bingung dan bimbang. Ingin rasanya Kyungsoo menceritakan kejadian semalam. Tapi Kyungsoo ragu. Bagaimana jika ternyata Sooyoung meledeknya karena cerita bualan Kyungsoo? Hell, no!

Kyungsoo menggeleng dan memilih untuk bungkam saja.

“Sudahlah, Kyungsoo. Mungkin kau bermimpi.” Sooyoung mengusak rambut Kyungsoo dan menjitak pelan jidat Kyungsoo. Selanjutnya, Sooyoung meraih cup mie instant dan mengibaskannya tepat di depan mata Kyungsoo.

“Bisa tidak, kau buatkan ini untuk noona?” Tanya Sooyoung. Kyungsoo melirik Sooyoung sebentar dan akhirnya mengangguk.

***

Entah mengapa pagi ini terlihat gelap dan suram. Udara juga semakin dingin. Salju yang kemarin nampak tipis kini juga terlihat jauh lebih tebal dan menumpuk.Tiffany mengeratkan jaketnya dan kembali berkutat dengan cup mie nya. Sepanas ini, tap kenapa tetap terasa dingin? Itu yang terus diucapkan Seohyun sambil mengamati cup mie nya.

“Itu adalah pertanda bahwa kau butuh kehangatan cinta.” Ujar Sooyoung dengan nada –sok- puitis.

“Cih, menjijikan.” Balas Tiffany jengah. Tangannya kembali bergerak menyendok mie. Namun sedetik kemudian terhenti karena ucapan Sooyoung yang—

“Bilang saja kalau kau iri karena belum pernah berpacaran. Iya, kan?”

Hening.

Sejurus kemudian, Seohyun dan Kyungsoo sibuk mngurung Tiffany di tendanya dan membantu Sooyoung membersihkan jaketnya yang menjadi korban mie instant panas. Tiffany benar – benar sangat mengerikan. Sekedar informasi saja, Tiffany bisa seperti babi hutan jika dibuat marah. Itu yang dikatakan ayah Tiffany sebelum meninggalakan Tiffany kembali ke California pada saat penerimaan siswa baru.

Sooyoung masih memaki – maki Tiifany dari luar tenda. Kemudian ia berjalan menuju Hammer milik Tiffany dan duduk di dekat rodanya. Ia memejamkan matanya sebentar namun kembali terbuka saat kulit telapak tangan dan wajahnya tersapu angin. Dingin. Dan ini seratus kali lebih dingin dari kemarin.

Tiba – tiba dari arah dalam hutan, angin bertiup dengan kencang. Menerbangkan dahan besar pepohonan. Bebatuan besar ikut meluncur tertarik angin. Salju yang turun ke tanah juga makin deras dan tebal.

Badai salju kah? Jika iya, berarti..

BAHAYA.

Sooyoung berlari sekuat tenaga melawan arah angin datang. Ia mencari Seohyun dan Kyungsoo yang meringkuk mencari kehangatan di balik tenda bersama dengan Tiffany.

“Keluar! Ada badai salju! Kita harus cari tempat berlindung!” seru Sooyoung.

Ketiga orang lainnya segera melompat kaget keluar tenda dan terkejut oleh keadaan sekitar. Sooyoung menarik tangan Tiffany yang diikuti dengan langkah gemetar Kyungsoo dan Seohyun. Keempatnya berlari tunggang langgang menjauhi arah datangnya badai.

Walaupun mereka sudah mencoba menyelamatkan diri, rasanya tetap sia – sia. Seakan angin terus menarik mereka agar kembali dan terjebak dalam badai. Ketika mereka hampir mendekati salah satu pohon besar di sana, pohon lainnya tumbang dan menghimpit tubuh Tiffany.

“KYAA!” Tiffany menjerit kaget. Sooyoung dang yang lainnya histeris. Mereka masih berusaha mencerna apa yang terjadi barusan, hingga rintihan Tiffany terdengar dan menyadarkan Kyungsoo agar mendekat dan menarik pohon yang menghimpit tubuh Tiffany. Darah mengucur perlahan dari kedua kaki Tiffany.

“Maaf, aku ceoboh. Tapi—Argh,” Tiffany merintih. Ia berdiri dan mencoba berjalan, tapi rasa terbakar pada luka di kakinya membuat langkahnya terhenti. Dengan langkah cepat, Kyungsoo berjongkok dan meminta Tiffany agar naik ke punggungnya. Mereka berempat kembal menerobos badai. Sooyoung memalingkan wajah dari tempat mereka berkemah. Ia sungguh tidak menyangka, jika akan seburuk ini jadinya.

Langkah – langkah kaki mereka berempat makin lama makin gontai. Melemas dan harapan mereka menipis. Mereka berhenti di belakang onggokan batu. Berharap keajaiban datang.

Benar, dan keajaiban benar – benar datang.

Seohyun merasakan pundaknya dingin. Ia menoleh dan tersentak kaget. Di sana ada tiga orang laki – laki berdiri dengan senyum menenangkan.

“Luhan?” Yang dipanggil hanya tersenyum lembut.

Seohyun balas tersenyum, “Terima kasih, Luhan. Terimakasih.”

.

.

.

.

.

“Terima kasih, Luhan. Terimakasih.”

Sedetik kemudian, Seohyun melemas dan tubuhnya terhempas pada tumpukan salju. Luhan menangkapnya dan dengan cepat menggendongnya. Sedangkan dua laki – laki lainnya menggandeng Kyungsoo dengan Tiffany yang masih merangkul leher nya dan Sooyoung yang melongo melihat peristiwa yang terjadi saat ini.

“Kami rasa, perkenalannya nanti saja, ya?” Luhan berkedip pada Sooyoung, kemudian ia melirik dua pria tak dikenal lainnya dan dibalas dengan anggukan serentak.

***

Tiffany masih enggan turun dari gendongan Kyungsoo. Ia takut. Juga curiga pada empat orang di hadapannya saat ini. Padahal Luhan, salah satu dari empat orang mencurigakan (menurut Tiffany) yang duduk di hadapannya sudah menawarkannya sebotol obat untuk luka dan juga bantuan untuk mengoleskannya. Karena sedari tadi, darah masih mengalir membasahi baju dan celana Kyungsoo. Dan parahnya, mungkin Tiffany akan langsung mati kehabisan darah dan kehilangan kesempatan untuk menjadi artis.

Sedangkan Sooyoung barusan kembali dari suatu ruangan untuk mengistirahatkan Seohyun. Namun ketika ia baru saja akan duduk di samping Kyungsoo, tiba – tiba ia tersentak kaget dan matanya menajam seakan tersadar akan sesuatu.

“Aku akan menjaga Seohyun. Hati – hatilah,” pesan Sooyoung pada Tiffany dan Kyungsoo.

Dua orang yang diajak bicara mengangguk serentak. Sejurus kemudian, Sooyoung menghilang di balik pintu ruangan. Kyungsoo meneguk liur nya kasar. Bingung harus berbuat apa. Pikirannya kosong dan berlubang.

“Yah, tidak baik juga kalau terus seperti ini, jadi—” Luhan bangkit berdiri dari sofanya diikuti dengan dua pria asing tadi dan seorang lagi, perempuan.

“Namaku Park Chanyeol. Kalian bisa memanggilku Chanyeol!” yang paling tinggi dan bergigi lampu sorot tersenyum lebar.

‘Wa—wajahnya mesum sekali,’ Kyungsoo bergidik sebentar.

“Aku Huang Zi Tao. Panggil aku Zi Tao, atau Tao, atau Taozi, atau Baby Panda, at—”

“Tao, cukup.” Luhan menengahi. Sedangkan Tao hanya diam dengan wajah sebal.

‘Tunggu, jadi.. Seperti inikah panda asli Cina?’ Dan Kyungsoo kembali bergidik.

Yang terakhir memperkenalkan diri adalah yang perempuan. Wajahnya cantik luar biasa.

“Im Yoona. Salam kenal.” Singkat. Padat. Jelas. DINGIN.

“…..” Kyungsoo diam seribu Bahasa. Tidak hanya bergidik, bulu kuduknya ikut meremang melihat perempuan di hadapannya.

Luhan mulai angkat bicara, “Seohyun masih belum terbangun. Jadi kusarankan, tinggalah dulu di sini. Setidaknya sampai badai di luar reda.” Tiga orang asing dihadapan Kyungsoo dan Tiffany ikut mengangguk menyetujuinya. Tapi tidak bagi Tiffany dan Kyungsoo, mereka masih benar – benar curiga.

Yang bernama Park Chanyeol tiba  – tiba saja maju dan menarik tubuh Tiffany cepat dari balik punggung Kyungsoo.

“Kau bisa mati kalau tidak segera dibalut.” Katanya singkat sambil memamerkan senyum awas-lampu-sorot miliknya. Awalnya Tiffany memberontak, tapi apa mau dikata? Chanyeol seorang laki – laki yang tinggi dan besar, tentu saja ia pasti kuat. Lagipula Tiffany masih ingin hidup dan melanjutkan rajutan mimpinya.

Setelah Chanyeol menggendong Tiffany menuju ke ruangan lain, keadaan kembali menjadi sepi. Hingga pada akhirnya, Luhan membuka mulutnya memecah keheningan.

“Eum.. Kau? Siapa namamu?” Luhan menunjuk Kyungsoo yang memasang wajah cemas. Kyungsoo menoleh kan wajahnya pada Luhan dan meliriknya dengan ekor matanya. Kyungsoo gugup. Dn jika ia gugup maka—

“NAMAKU DO KYUNGSOO, CALON PENYANYI BESAR.”

Dan suasanya pun makin aneh jadinya dengan kalimat perkenalan Kyungsoo barusan. Ditambah lagi dengan tubuh Kyungsoo yang membungkuk berlebihan dan mata bulatnya yang makin bulat bukan main.

Hanya angin dan cicit burung yang terdengar. Kemudian perempuang dingin dan cantik maksimal berdiri dan menggeret Kyungsoo pergi, “Akan makin fatal suasananya jka kau terus ada di sini. Lebih kau kau bantu aku saja,” Im Yoona menyodorkan gelas kecil untuk menyiram kaktusnya pada Kyungsoo.

Dan keduanya pun larut dalam kegiatan menyiram kaktus.

***

.

.

.

.

.

TBC

A/N : Hay hay, Hyun Ra – Hyun Ah di sini~ Gimana chapter kali ini? Kita sih ngerasanya ini agak kependekan (banget malah) Agak freak pula._. Alurnya juga cepet. Kasih pendapat readers sekalian ya, comment, oke oke?

Kita baru tau nih kalo ternyata author freelance juga boleh bales comment readers, yeah! Jadi mulai chapter ini, kita bakal balesin comment readers^^

Oiya, kayaknya kita bakal ngecewain readers sekalian deh. Kenapa? Liat aja nanti jawabannya seiring dengan bertambahnya chapter *etdah bahasanya*

Terus kemarin ada yang bilang kalo poster WILD chapter 1 itu JessJung. Sebenernya itu bukan JessJung, itu Tiffany^^Hahahaha. Terus cewek yang tinggal serumah sama Luhan itu Yoona, bukan JessJung.

Segini dulu deh ya, note nya. Kita ketemu lagi di chapter berikutnya. Bye!

50 thoughts on “[Freelance] WILD (Chapter 2)

  1. nextt eonn ^^ .eh mengecewakan gmna?o_O main cast nya tetep seohyun kan eon😦 jangan mengecewakan lah eon, klo eonni tau akan mengecwakan seharusnya di hindari😦 aku baca teasernya keliatannya seru. kayanya si luhan cs punya rencana sesuatu dehh. next jangan lama lama eon. aku mohon supaya tidak mengecewakan😉

  2. iya eonn aku tau ko. tpi nnti seharusnya ada pairing nya/? ehh eonni.. ini ff nnti ada pairingnya ato cuma temenan gitu ? o.o

  3. woah ~ next ah thor! Maaf nih baru comment di chap 2 abisnya seru dehh🙂 next chap cepat-cepat!😉 ok? *main cast(s) nya jangan diganti ya thor :’ please* τнanκ чou..

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s