[Freelance] Confessions (Chapter 4)

jbrQRBZ97VvXc1

Judul:Confessions (chapter 4)

Author: Jung Eun Gi

Rating: PG-15

Length: chaptered

Genre: romance,angst,family

Main cast: Jessica Jung, Kris Wu

Support cast: Krystal Jung, Suho, Im Yoona, others find in the stories

Author’s note: cerita ini murni dari hasil pemikiran otakku, so don’t bash don’t judge and please appreciate it. Please tinggalkan jejak setelah membaca & gomawo readers~ sorry for typos, imperfection is human! Enjoy reading ^^ oh iy, kalau comment di chapter ini banyak, aku akan kirimkan chapter selanjutnya secepatnya. Tp kalau malah lebih sedikit drpd chapter sblmny, hmm… mau ga mau tunggu commentny bnyk br kirim chapter selanjutny. be a nice readers!

Poster by http://www.minus.com/baboracoon

 

Jessica POV

 

Aku membuka kedua mataku yang terasa berat dan mengedipkannya berkali-kali untuk menyesuaikan mataku dengan silaunya cahaya matahari yang menembus masuk ke dalam kamarku. Aku melirik jam kecil yang terletak di atas meja dekat tempat tidurku dan seketika itu juga, aku sadar bahwa aku sudah bolos sekolah karena jam sudah menunjukkan pukul setengah 11 pagi.

 

Aku bangun dari tempat tidur dengan malas dan saat di kamar mandi, aku tidak kaget saat mendapati kedua mataku yang sembab ketika bercermin di sana. Aku ingat semalam aku menangis entah berapa lama sampai akhirnya ketiduran. Bahkan sampai sekarang pun, aku merasa terlalu lelah untuk marah dengan kedua orang tuaku. Sebenarnya aku juga bingung kepada siapa air mataku yang semalam mengalir keluar ini ditujukan. Entahlah, semua kepedihan dan kekesalan yang kupendam selama ini kucurahkan ke dalam air mataku semalam.

 

Saat mengecek iphone-ku, aku mendapati miscall dan pesan singkat yang tidak sedikit jumlahnya dari Suho dan Yoona. Aku membuka dan membaca pesan dari mereka satu persatu dengan sabar dan dapat aku simpulkan bahwa intinya adalah mereka bertanya aku sedang dimana, kenapa tidak masuk dan mengingatkanku bahwa summer break sudah dimulai dan banyak tugas yang menumpuk. Kami diminta untuk mengerjakan tugas-tugas itu selama liburan dalam kelompok. Kabar baiknya, aku sekelompok dengan Suho dan Yoona. Kabar buruknya, aku sekelompok juga dengan Kris. Entah itu kabar buruk atau kabar baik bagiku, aku tidak tahu.

 

”Jessica-ya! Kau sudah bangun? Waktunya makan. Sica-ya?”, suara Kim ahjumma terdengar di luar pintu kamarku sambil mengetuk pintu kamarku berkali-kali.

 

Aku berpikir sejenak dan memutuskan untuk tidak meladeninya sama sekali serta bertekat untuk tidak keluar kamar seharian ini meski aku tahu bahwa sakit maag-ku akan kambuh jika aku tidak makan. Hitung-hitung, sebagai aksi protes dan kekesalanku terhadap orang tuaku. Oh iya, aku juga menon-aktifkan iphoneku demi menghindari rentetan pertanyaan yang malas kujawab dari Suho maupun Yoona. Aku hanya akan berkonsentrasi untuk menjahit gaun pesta yang akan kuhadiahi untuk Jihyo eomma jika aku ingin gaun itu jadi sebelum hari ulang tahunnya.

 

 

***

Author POV

 

“Yeobosseyo Kim ahjumma? Ada apa?”, Suho mengangkat ponselnya ketika ia sedang membereskan buku-bukunya saat sekolah usai.

 

“Mwo?! Arasseo aku akan segera ke sana. Ahjumma tenang saja, nee..”, Suho semakin mempercepat gerakannya dan menjejalkan buku-bukunya ke dalam tas secara asal.

 

“Suho-ya, ada apa?’, Tanya Yoona yang kebingungan melihat gerak-gerik Suho yang seperti cacing kepanasan. Kris pun hanya memandangi kedua temannya itu sembari menanti jawaban dari Suho.

 

Apakah Suho mendapat kabar tentang Jessica? Aish, kenapa aku malah memikirkan gadis itu. kris menggelengkan kepalanya.

 

“Aku akan ke rumah Jessica, sepertinya terjadi sesuatu dengannya. Ia menolak untuk makan padahal ia sendiri punya sakit maag. Kalian mau ikut? Mungkin kita dapat membujuknya untuk makan. Aish, lihatlah gadis itu jika sedang merajuk. Lihat saja, aku akan menjitakinya nanti. Dasar bodoh” Suho berjalan tergesa-gesa keluar kelas.

 

“Ya! kalian jadi ikut tidak? Cepatlah sedikit.” Suho membalikkan badannya tepat sebelum melangkah keluar kelas, menatap Yoona dan Kris bergantian yang masih berdiri mematung di tempat. Kedua orang itu melirik satu sama lain, mengangguk dan mengikuti Suho dengan langkah tergesa-gesa.

 

 

***

            “Ahjumma, dimana dia?”, Suho mengedarkan pandangannya pada ruangan luas di hadapannya.

 

“Dia di kamar dan mengurung dirinya di sana. Ia belum memakan apapun sejak pagi. Aku takut jika sakit maag-nya kambuh”, jawab Kim ahjumma dengan raut cemas.

 

“Baiklah, ahjumma tenang saja. Oh iya, mereka Kris dan Yoona. Mereka teman Jessica juga.” Kris dan Yoona langsung membungkukkan badannya bersamaan yang dibalas oleh Kim ahjumma.

 

“Baiklah kalau begitu, kami akan naik ke atas dulu”, pamit Suho.

 

***

            “YA JESSICA JUNG!” Suho berteriak dan menggedor-gedor pintu bercat putih di hadapannya.

 

Kris dan Yoona berdiri di belakang punggung Suho dalam diam, menanti kalau-kalau terdengar suara pintu yang dibuka dari dalam itu. beberapa detik menunggu dan tidak mendapat response, Suho membalikkan tubuhnya menghadap dua orang temannya yang membisu sejak tadi.

 

“Ya! bukankah ia sedang merajuk? Pelankanlah sedikit suaramu itu, mungkin dia sedang bad mood. Jika kau berteriak seperti itu hanya akan membuatnya semakin kesal. Kau berteriak seperti itu seperti ingin mengajak ribut di rumah orang saja.” Yoona berbicara setengah berbisik.

 

“Benarkah?”, Suho berdehem dan mencoba untuk berbicara lagi dan kali ini dengan suara yang lebih tenang dan terkontrol.

 

“Sica-ya? Aku tahu kau di dalam. Ada apa denganmu? Mau bercerita denganku?”

 

Masih tidak ada jawaban dari dalam sana.

 

Suho kembali menatap Kris dan Yoona bergantian, meminta petunjuk. Yoona mengibas-ngibaskan sebelah tangannya ke arah Suho, menyuruhnya untuk mencoba lagi.

 

“Sica-ya, bukankah kau belum makan seharian ini? Sekarang sudah sore. Bagaimana jika sakit maag-mu itu kambuh lagi, Eoh? Apa kau ingin makan sesuatu? Atau kau ingin pergi ke suatu tempat untuk makan?”

 

“Sica-ya, aku mohon buka pintunya. Semua orang mengkhawatirkanmu, kau tahu? Oh ya, ada Yoona dan Kris juga di sini. Mereka ingin menjengukmu. Apa kau tidak ingin bertemu mereka? mereka kan sudah ke sini padahal…”

 

KREKK!

 

Suho belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika terdengar suara gagang pintu yang dibuka dari dalam.

 

 

***

Jessica POV

            Aku terlonjak kaget saat mendengar seseorang meneriakkan namaku dari luar kamar yang disertai dengan gedoran-gedoran dari luar. Ya, gedoran. Bukan ketukan. Sudah pasti itu bukan ulah Kim ahjumma. Aku langsung menghentikan aktivitas menjahitku, keluar dari walk-in closet sekaligus ruang “kerja-ku” dan berjalan menghampiri pintu. Kulirik jam yang sudah menunjukkan waktu pukul setengah lima sore. Menjahit benar-benar membuatku lupa waktu.

 

Aku berdiri beberapa langkah dari pintu dan mendengar kasak-kusuk dari luar. Keadaan di luar sana hening sejenak sebelum akhirnya terdengar suara Suho. Aku bersandar pada pintu, melipat kedua tanganku di depan dada dan memejamkan kedua mataku, mendengarkan kata-kata Suho.

 

“Oh ya, ada Yoona dan Kris juga di sini…”

 

Ketika mendengar kata-kata itu, aku langsung menegang. Benar-benar di luar dugaan bahwa mereka akan datang ke sini dan menjengukku. Selama ini, satu-satunya orang yang pernah memasuki rumahku hanya Suho.

 

Aku langsung membuka laci mejaku dan mengambil kacamata besar dengan frame warna hitam lalu mengenakannya guna menyamarkan mata sembabku dan lingkaran hitam di bawahnya. Aku terlihat begitu menyedihkan dengan mata seperti ini dan aku benci dikasihani. Aku tidak keberatan jika Suho melihatku dalam keadaan seperti ini. Tapi tidak untuk Kris. Aku sudah pernah mempermalukan diriku sendiri di hadapannya saat menyatakan perasaanku dan aku tidak ingin mengulanginya lagi.

 

Tanpa pikir panjang, aku langsung membuka kunci pintu kamarku dan menekan gagang pintu lalu membukanya perlahan.

 

***

Author POV

 

Ketiga orang itu kaget bukan main saat tiba-tiba pintu kamar yang selama ini dianggap menjadi lawan bicara Suho daritadi terbuka dengan perlahan dan tampaklah seorang perempuan berdiri di balik pintu itu.Mereka hanya bisa menatap perempuan itu dalam diam. Jessica balas menatap mereka dari ujung kepala sampai ujung kaki, menunggu salah satu dari mereka memulai percakapan.

 

“Waeyo? Apa yang kalian lakukan di sini?” Akhirnya Jessica angkat bicara karena tidak satupun dari ketiga orang itu tampak ingin memulai pecakapan.

 

Tiba-tiba, Suho berjalan mendekati gadis di hadapannya itu dan menjitak kepalanya.

 

“Ya! mwoya? Aish, appa..”, Jessica meringis sambil mengusap-ngusap kepalanya.

 

“Jadi kau ke sini hanya…”, kata-kata Jessica terputus ketika Suho mendekapnya ke dalam pelukan laki-laki itu.

 

“Babo. Kami semua mencemaskanmu, tahu? Jangan seperti ini lagi, arasseo?”, Suho berkata sambil mengusap kepala gadis itu pelan yang hanya dibalas dengan anggukan Jessica yang tersandar di pundaknya meskipun gadis itu tidak membalas pelukannya.

 

“Kau tidak apa-apa kan? Maag-mu tidak kambuh? Kau lapar?”, Suho melepaskan pelukannya.

 

“Ya! lama-lama kau terdengar seperti Kim ahjumma saja. kau lihat sendiri kan, aku baik-baik saja?”, Jessica mengerucutkan bibirnya.

 

“Hi Kris, hi Yoona! Ayo masuk, aku akan mandi dan membereskan kamarku sebentar. Kita akan makan bersama malam ini dan jangan menolak, arasseo?”, Jessica melirik kedua temannya itu dan tersenyum lebar lalu masuk kembali ke dalam kamarnya. Ia sempat gugup saat menyapa Kris tadi dan berharap tidak ada yang menyadari jkegugupan dalam suaranya itu.

 

Ia tidak memperhatikan ekspresi dari dua orang temannya itu setelah adegan berpelukannya Suho dengan dirinya.  Yoona membuang muka, berusaha mengontrol ekspresinya lalu segera mengikuti Jessica ke dalam kamar dalam diam. Sedangkan Kris? Entahlah, ekspresinya saat ini sulit dideskripsikan.

 

 

***

            “Mari makaaan!”, suara lantang keempat remaja itu mengisi ruang makan begitu menu makan malam tersedia di atas meja makan panjang dalam ruangan itu, tidak sabar untuk segera melahapnya.

 

“Eo? Yoona-ya? kenapa tidak dimakan? Kau juga Kris? Apa kalian tidak suka? Tenang saja aku tidak akan meracuni kalian kok!”, Sahut Jessica bingung saat menyadari yang menyantap makanan dengan lahap hanya dirinya dan Suho.

 

“Bukan begitu, hanya saja… apa tidak apa-apa jika kami memakannya begitu saja? kemana orang tuamu? Aku jadi tidak enak”, balas Yoona.

 

“Mwo? Ya Im Yoona, jangan konyol. Kau tidak perlu malu-malu di rumah ini. Mereka belum pulang. Mereka baru akan pulang di malam hari dengan waktu yang tidak menentu. Ayo dimakan”

 

Yoona yang duduk disebelah Jessica hanya menuruti kata-kata Jessica dan makan dengan lahap karena perutnya memang sudah keroncongan dari tadi. Kris pun meniru hal yang sama dengan yang dilakukan Yoona tanpa banyak bicara.Mereka menikmati makanan masing-masing dalam hening, hanya terdengar suara dentingan sendok dengan piring dalam ruangan itu ketika pintu ruang makan terbuka dan tampak sesosok gadis seumuran mereka memasuki ruangan itu.

 

Semua mata memandangi gadis itu dan ia langsung tersentak dan salah tingkah, lalu membungkukkan badannya sebelum beranjak pergi ketika sebuah suara menahannya.

 

“Krystal? Darimana saja kau? Kau pasti belum makan kan? Ayo bergabung bersama kami. Akan kuperkenalkan kau dengan teman-teman Jessica” Suho tersenyum manis dan Jessica hanya memutar kedua bola matanya dan lanjut menyantap makan malamnya.

 

Krystal terlihat ragu sebelum akhirnya memutuskan untuk bergabung bersama mereka meski ia takut dengan Jessica akan marah padanya. Ia berdiri dekat meja makan dan memperkenalkan dirinya.

 

“Anyeonghasseyo, Krystal ibnida” Krystal membungkukkan sedikit badannya dan menangkap sosok seseorang yang familiar dari ekor matanya kemudian ia menundukkan kepalanya dan memain-mainkan ujung baju seragamnya.

 

“Eo, Krystal anyeong. Aku Im Yoona, teman Jessica. Kau adiknya bukan? Waktu itu Jessica sepertinya pernah memberitahuku” Yoona terlihat berpikir sejenak dan melemparkan senyum manisnya pada Krystal.

 

Ketika mendengar kata-kata Yoona, Suho langsung melirik Jessica, mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum jahil, tidak menduga bahwa Jessica akan mengakui Krystal dengan sebutan adiknya. Jessica hanya balas memelototi Suho dengan garang.

 

“Krystal anyeong. Aku tidak menyangka bahwa kau adik Jessica meski aku punya tanggapan dari awal bahwa wajah kalian mirip. Kau baru pulang sekolah ya? Kau bekerja terlalu keras untuk olimpiade-mu itu Krystal-ya. Sudah kubilang jangan khawatir, kau ini gadis yang cerdas lagipula aku akan mengajarimu. Aku ini tutor yang hebat, kau tahu?”

 

Kris berbincang-bincang dengan akrabnya seperti sudah mengenal Krystal, meski Krystal masih sering menundukkan kepalanya dan menatap Kris malu-malu. Tentu saja Krystal mengetahui kalau itu adalah Kris, sunbae tampan nan pintar di sekolahnya yang ditunjuk sonsaengnim untuk membinanya menghadapi olimpiade matematika nanti. Pertama kali bertemu Kris, Krystal sempat terpana karena wajahnya yang mirip pangeran seperti di film-film. Dalam hati, ia merasa beruntung karena mendapat tutor dari seorang sunbae tampan seperti Kris. Jessica hanya menatap mereka dengan tatapan bingung dengan bibir yang terkatup rapat, enggan untuk bertanya meskipun rasa penasarannya berdesakkan di dalam dirinya.

 

“Eo? Kalian sudah saling mengenal?” diam-diam Jessica merasa bersyukur karena pertanyaannya sudah diwakilkan oleh Suho. Ia pun menatap Krystal dan Kris secara bergantian, menanti jawaban dari mereka.

 

“Ne, Kris sunbaenim adalah tutor yang ditunjuk sonsaengnim di sekolah untuk mengajariku mempersiapkan diri mengahdapi olimpiade matematika nanti sehabis summer break” Krystal menjelaskan sambil menarik kursi disebelah Kris dan duduk di situ.

 

“Sunbaenim mwoya? Sudah kubilang panggil aku Kris oppa saja. aku pikir jika kita akrab satu sama lain akan memudahkan kita dalam proses belajar demi olimpiade-mu itu. betul kan Suho?” Krystal tersipu malu dan menundukkan kepalanya lagi.

 

Jessica membelalakkan kedua matanya saat mendengar kata-kata Kris. Untung saja air yang baru diminumnya tidak muncrat kemana-mana. Yang benar saja? Kris meminta Krystal memanggilnya oppa? Cih!

 

“Aku setuju denganmu, Kris. Kalau begitu selama summer break ini kalian belajar dimana? Bagaimana jika kalian belajar di rumah Jessica sekaligus kita mengerjakan tugas-tugas kita? Kita kan satu kelompok. Aku rasa itu akan lebih efisien. Kau tidak keberatan kan, Sica?” Suho menatap Jessica meminta persetujuannya.

 

Karena Jessica tidak kunjung menjawab, semua orang di meja makan itu menatap Jessica dalam hening. Jessica yang risih diperhatikan seperti itu pun angkat bicara.

 

“Apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu? terserah kalian saja” Jessica bangkit dari duduknya, mengambil piring dan gelas bekas makan malamnya, lalu berjalan menuju dapur.

 

 

***

Jessica POV

 

Aku mencuci piring-piring kotor sehabis makan malam di dapur seorang diri. Karena hari sudah malam, pelayan-pelayan di rumah ini sudah pulang sejak sore tadi dan yang tinggal di rumahku hanya Kim ahjumma dan suaminya sekaligus supirku, Shin ahjussi. Aku tidak keberatan jika harus mencuci piring seperti ini meski aku putri orang kaya. Aku tidak mau dianggap manja dan aku juga tidak tega jika harus melihat Kim ahjumma mengerjakan semuanya malam-malam begini.

 

Biasanya, Kim ahjumma akan menemaniku mengobrol di dapur sementara ia mengerjakan hal yang lain, namun saat ini ia sedang pergi ke supermarket ditemani Shin ahjussi untuk membeli sesuatu. Suasana di dapur sangat hening hanya terdengar suara air yang mengalir dari keran air di bak cuci piring. Samar-samar, terdengar suara riuh teman-temanku dan juga Krystal serta kedua orang tuaku dari ruang tengah.

 

Ya, orang tuaku. Mereka baru saja pulang dan membawa kabar gembira untuk Krystal bahwa mereka sudah membeli grand piano untuknya yang akan dikirimkan besok dan harus ku akui bahwa aku jengkel karenanya. Hey bukannya aku cemburu, hanya saja, aku menyimpan kenangan pahit tentang piano dan kekecewaan-ku dengan orang tuaku yang aku simpan rapat-rapat. Bahkan Suho saja tidak tahu tentang ini. Yang tahu hanya Stephanie saja karena ia sudah bersahabat denganku sejak kecil dan kami tidak dapat menyembunyikan rahasia dari satu sama lain.

 

Dan sekarang, mereka terlihat asyik berbincang-bincang dengan teman-temanku di ruang tengah. Seumur hidupku, baru kali ini aku melihat orang tuaku mengobrol dengan teman-temanku. Sejak dulu, mana pernah mereka mengobrol dengan teman-temanku? Bahkan mengenal mereka saja pun tidak. Mereka tidak peduli aku berteman dengan siapa.

 

Aku memutar ulang kejadian hari ini dengan tatapan kosong dan tangan yang terus mencuci piring. Entah apa aku terlewat melankolis dan sensitive atau apa. Orang tuaku bahkan tidak bertanya apa yang sudah terjadi padaku hari ini semenjak kejadian semalam saat dad menampar wajahku. Mereka tidak tahu jika hari ini aku bolos dan mengurung diri di kamar. Mereka terlihat tidak peduli jika maag-ku kambuh atau tidak and honestly, itu membuatku sedih. Sedangkan hubungan antara Kris dan Krystal? Entahlah, kepalaku terlalu jenuh untuk memikirkan semuanya.

 

PRANGG!

 

Aku tersentak kaget dari lamunanku ketika piring yang kupegang terlepas dari genggamanku yang menyebabkannya pecah berkeping-keping dan berserakan ke lantai maupun bak cuci piring. Aku sempat merasakan pecahan piring itu ada yang mengenai pipiku dan aku tidak tahu apakah pipiku terluka karenanya atau tidak.

 

Aku menghembuskan napas panjang, memutar tubuhku dan berniat untuk berjalan mengambil sapu ketika aku merasakan perih pada telapak kakiku. Aku mengangkat sebelah telapak kakiku dan mendapatinya berdarah karena terkena pecahan piring. Apa ini yang dinamakan sudah jatuh ketiban tangga? Sial sekali. Untungnya, pecahan piring itu tidak menancap pada telapak kakiku sehingga luka yang ditimbulkan tidak begitu dalam. Tapi tetap saja, darah mengalir keluar.

 

Aku berdiri di tempat, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku berjongkok dan dengan hati-hati memungut pecahan-pecahan piring itu dengan tangan.

 

“Aish jinjja!”, aku berenggut kesal ketika lagi-lagi, pecahan piring itu mengiris tanganku. Aku melangkah hati-hati dan membuang sebagian pecahan piring tadi ke tempat sampah, tidak peduli apakah aku menginjak serpihan pecahan piring lagi atau tidak.

 

Aku melirik telapak tanganku dan lantai dapur secara bergantian yang membuat kepalaku berputar-putar. Ya, aku melihat darah di lantai akibat telapak kakiku yang terluka. FYI, aku phobia darah. Aku akan panic jika melihat darah dan menjadi pusing karenanya. Aku mendudukkan diriku di sana dengan kepala yang kudongakkan bersandar pada kursi dan mata terpejam. Tiba-tiba, suara yang kusukai terdengar dalam telingaku, aku tidak tahu jika ini sebuah ilusi atau bukan tapi yang pasti, aku sangat merindukan suara itu memanggil namaku.

 

“Jess?”

 

Aku mendengar suara langkah kaki yang semakin dekat dan mendengarnya memanggil namaku lagi dengan nada kaget.

 

“Jessica!”

 

“Ya Jessica! Kau tidak apa-apa?”, aku merasakan seseorang mengguncang bahuku dan menepuk-nepuk sebelah pipiku dengan pelan.

 

“Kris?” Aku mendapati wajah Kris tepat berada di depan wajahku ketika aku membuka kelopak mataku.

 

“Ya! dimana kotak P3K?” ia masih memegang kedua bahuku dan bertanya dengan ekspresi khawatir? Panic? Entahlah.Aku menunjuk sebuah cabinet kecil dekat kulkas dan Kris dengan cekatan langsung berjalan cepat dan hati-hati demi menghindari pecahan piring yang masih berserakan di lantai untuk mengambil kotak P3K. Aku memejamkan mataku lagi dan tiba-tiba merasakan sentuhan hangat tangan Kris memegang kakiku dan mengobati luka pada telapak kakiku. Aku meringis pelan saat ia membubuhkan obat luka dan membalut telapak kakiku dengan perban.

 

“Apakah parah?” aku bertanya dan kali ini aku membuka kedua kelopak mataku untuk menikmati paras tampan wajahnya yang sedang serius membalut luka di kakiku.

 

“Tidak juga, hanya saja, darahnya masih terus mengalir meski lukanya tidak terlalu dalam. Kau tidak usah khawatir” Kris tersenyum menenangkan.

 

Setelah usai mengobati luka di kakiku, ia memegang sebelah tanganku yang teriris pecahan piring dan mengobatinya yang disertai ringisan pelan dariku.

 

“Apa kau pusing?” Kris bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari tanganku.

 

“Eo, kurasa aku phobia darah. Aku merasa pusing, panic dan lemas jika melihat darah yang keluar karena luka. Mengerikan”, aku bergidik ngeri yang dibalas senyuman dari Kris yang selalu membuatku terpaku di tempat jika melihat senyuman itu. aku baru sadar kalau ini merupakan interaksi pertamaku dengan Kris sejak ia menolak perasaanku dan aku yang berusaha menjauhinya. Kalau dipikir-pikir, piring pecah itu tidak sepenuhnya merupakan kesialan bagiku jika karenanya aku bisa mendapat perhatian seperti ini dari kris, meski jika kupikir dengan akal sehat, melukai diriku sendiri demi mendapat perhatian seseorang yang kucintai, tidak akan pernah masuk dalam pilihanku.

 

“Gomawo, Kris” Aku hendak bangun dari dudukku setelah Kris selesai megobati luka-lukaku. Tiba-tiba, ia menahan bahuku dan mendudukkanku kembali.

 

“Ya eodiga?”

 

“Waeyo? Bukankah kau sudah selesai mengobati luka-lukaku?”, aku bertanya keheranan.

 

“Belum semua”

 

Tiba-tiba Kris mendekap sebelah pipiku dan mendekatkan wajah kami. Bahkan hidung kami hampir bersentuhan. Aku menahan napasku dan aku dapat mendengar detakan jantungku sendiri yang berdegup semakin cepat. Ia menatapku tepat di mata entah selama berapa detik.

 

“Aigoo kau ini. Memangnya apa yang kau pikirkan sampai-sampai bisa terluka seperti ini? Ceroboh sekali”, Kris megusap sebelah pipiku pelan dengan ibu jarinya dan memperlihatkan ibu jarinya di depan wajahku yang tercoreng darah di situ. Aku baru ingat bahwa pipiku juga tergores pecahan piring tadi.

 

“I don’t know, I was just daydreaming”, sahutku sambil membuang muka, menolak untuk menatap matanya yang menghipnotis itu. oh! Dan tentu saja untuk menghindari adegan bertemunya pandanganku dengan bibirnya yang… ehem, kuakui sangat menggoda untuk dicium itu.

 

“What? Daydreaming? Dasar babo. Kenapa perempuan suka sekali melamun sih?” kata-kata Kris seakan menyadarkanku kembali dari pikiranku yang mulai melantur kemana-mana.

 

Aku menaikkan kedua alisku “Kau tahu darimana? Apakah perempuan yang kau kencani selama ini juga sering melamun?”

 

“Meski pintar, bukan berarti setiap hari aku membaca buku, bukan? Aku juga sering menonton film. Sebenarnya aku tidak mengencani banyak perempuan, aku bukan playboy meski, yah, bisa dibilang banyak perempuan yang naksir padaku” Kris mengedipkan sebelah matanya padaku yang langsung membuat kedua pipiku panas. Entah kenapa aku merasa kata-kata terakhirnya itu ditujukan untukku. And that gorgeous wink just made me feel so hard to breathe, damn it! Aku menggigit bibir bawahku dan membuang muka.

 

Ia melepas dekapannya dan berdiri memunggungi-ku untuk mengambil obat dan plaster. Diam-diam aku menghela napas lega. Berada dengan posisi sedekat itu dengan Kris seperti membakarku. Tiba-tiba saja, aku merasa kepanasan. Sepertinya aku tidak boleh merasa lega terlalu cepat karena ia mendekatkan wajahnya lagi denganku untuk mengobati luka di pipiku. Reflex, aku menahan napasku.

 

“Memangnya kau melamunkan apa tadi?”

 

“Mau tahu saja. Bukan urusanmu” jawabku ketus sambil menolak membalas tatapannya.

 

“Dasar babo” sahut Kris ketika selesai menempelkan plaster pada pipiku dan menyentil dahiku pean.

 

“Ya!” aku berseru sambil menatap punggungnya dan memperhatikan gerak-geriknya. Baiklah, kuakui aku memang bodoh. I’m such an idiot for loving a guy like you, Kris.

 

“Aigoo coba lihat perempuan ini. Melamun saja dari tadi” Kris berdecak pelan sambil membereskan lantai dari pecahan piring dan juga darahku yang sedikit menghiasi lantai dapur rumahku ini.

 

Aku memonyongkan bibir bawahku sambil memainkan kaki yang kugoyang-goyangkan berirama dari kursi yang kududuki. Tiba-tiba aku mendapati Kris berdiri di hadapanku. Ia jongkok dan memunggungiku. Aku hanya menaikkan kedua alisku menatap punggungnya.

 

“Cepat naik. Akan kugendong kau sampai ke kamarmu. Kakimu sedang luka kan?” Kris menengokkan kepalanya ke arahku.

 

Aku ragu sejenak, memutar otakku namun hasilnya tetap saja buntu! Dan akhirnya aku memutuskan menerima tawaran dari Kris karena otak dan hatiku yang bertolak belakang serta tidak bisa diajak untuk bekerja sama saat ini. Aku mengalungkan kedua lenganku pada lehernya dan menyandarkan sebelah pipiku dengan nyaman pada pundaknya. Dalam hati, aku berdoa agar laki-laki ini tidak mendengar detakan jantungku yang meronta-ronta dengan posisi dekat seperti ini.

 

 

TBC

Gimana? Gimana Krisica momentnya? Hehe semoga kalian suka yaa. stay tune n comment selalu supaya next chapter cpt d post. Gomawo readers~ aku harap kalian ga bosen sm ff ku ini yaa hehe ^^

32 thoughts on “[Freelance] Confessions (Chapter 4)

  1. Apa2an bgt deh itu krystal sama ortu nya sica -_- iiiih tp aduh krissica moment nya bikin aduhaaaaaiiiiii~ lanjut thor!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s