[Freelance] Instrumental

poster-instrumental2

Judul               : Instrumental

Author             : Kyuulans
Cast                 :
Kris / Wuyifan
Kwon Yuri

Support cast    :
Im Yoon Ah
Choi Siwon
Jung Soojung
Park Chanyeol

Genre              : Angst, Romance

Lenght             : Oneshot

Rating                         : PG-16
Disclaimer       : Semua cast dalam ff ini adalah milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Cerita ini murni karangan aku. No plagiat, no silent readers!

Summary         :
Kris adalah seorang komposer legendaris. Ia tampan, pintar, kaya dan terkenal. Hanya saja ia mempunyai kekurangan. Ia bisu. Kecelakaan tragis yang menimpa sahabatnya mampu meninggalkan trauma yang mendalam untuk Kris. Namun kehidupan kelamnya berubah saat ia bertemu dengan Yuri.
Recommended Song : Henry feat Seohyun – Trap Instrumental version
**********
Seorang lelaki tua duduk bersandar di bangku taman sambil memeluk sebuah album foto. Matanya menatap langit yang berawan. “Hai, apa kabar kau disana?” Ucap lelaki itu lirih. Butiran air mata berjatuhan membasahi pipinya.

“Kakek!” Panggil seorang gadis remaja menghampiri lelaki tadi. “Kakek sedang apa disini? Ayo masuk!” Ajak gadis itu. Lelaki tadi tak menjawab pertanyaan si gadis. Ia tak juga beranjak dari tempat duduknya.

“Baiklah kalau tak mau, aku akan menunggumu disini.” Ucap gadis itu pasrah. Ia pun duduk di sebelah lelaki tadi. Tiba-tiba mata gadis itu menangkap sesuatu yang sedang di peluk lelaki tadi. Sebuah album foto. “Apa itu kek? Boleh ku lihat?” Tanya si gadis meminta izin. Lelaki itu mulai mengendurkan pelukannya pada album itu dan memberikan album itu kepada sang gadis.

Album foto usang berwarna merah muda berhiaskan pita dan bunga mawar putih buatan di sampulnya. Di tengah album itu terdapat sebuah kalimat bertuliskan “My Heaven’s Gift” (Hadiah Surgaku).

Dibukanya perlahan album itu dan dilihatnya satu persatu foto yang ada. Ia menemukan banyak foto seorang gadis dengan senyum cerah menatap ke arah kamera. Dan ada beberapa foto yang diambil tanpa sepengetahuan si gadis. Siapa gadis itu? Itu bukan neneknya. Walaupun agak mirip, ia mampu membedakan neneknya sendiri dengan orang lain.

“Dia Yuri.” Dua kata terucap di bibir lelaki tadi.

“Kakek bisa bicara?” Kaget sang gadis. Ia tak percaya setelah bertahun-tahun ia mengira kakeknya bisu karena tak pernah menjawab semua pertanyaannya. Kini ia berbicara dan mengucapkan dua patah kata, ‘DiaYuri.’ yang semakin membuat sang gadis penasaran.

“Kau kaget Soojungie?” Gadis itu mengangguk dan tampaklah sebulir air mata di pelupuk matanya. Ia terharu. Ia sangat ingin mendengar suara sang kakek. “Maafkan aku. Ini pertama kali aku berbicara setelah kematiannya. Aku bahkan tetap bungkam sampai ajal menjemput nenek mu.” Kematian? Kematian siapa? Apakah gadis yang bernama Yuri ini?

Lelaki tadi mulai menitikkan air mata. Soojung menatap lamat wajah sang kakek. Keriput sudah mendominasi wajahnya, terutama di bagian dahi, mata dan di sekitar bibir. Rambutnya sudah tertutupi uban. Dan gerakannya yang sudah melambat. Tetapi saat mata soojung berpapasan
dengan mata tajam lelaki itu, ia meyakini bahwa kakeknya sangatlah tampan.

Flashback ON
Seorang gadis kecil berumur 13 tahun diam-diam mengikuti ayahnya yang sedang bertugas. “Ayah?” Gadis itu memanggil ayahnya. “Yoona! Haish sudah ayah bilang kau jangan ikut! Banyak virus disini!” Yoona tak menghiraukan ocehan ayahnya. Matanya terfokus pada seorang gadis kecil yang berdiri di depan jendela sambil menatap hujan. “Siapa gadis itu yah?” Tanya Yoona penasaran.

“Dia Yuri. Dia baru datang hari ini.” Jelas sang ayah. “Dia sakit apa?” Tanya Yoona kembali. “Kau ini mau tahu saja sih!” Ledek sang ayah lalu mencubit ujung hidung Yoona. “Boleh aku berteman dengannya?”

“Tentu saja boleh.” Ucap sang ayah tersenyum lalu mengacak poni depan Yoona. Yoona yang mendapat izin segera berlari menghampiri gadis itu. Memposisikan dirinya di depan jendela di sebelah Yuri. “Kau suka hujan?” Yuri yang kaget segera menengok ke arah sumber suara lalu ia tersenyum. “Iya aku suka hujan!” Angguk Yuri semangat. “Apa yang menarik dari hujan?”

 

Yuri menunduk. “Entahlah. Hujan membangkitkan kenangan. Saat melihat hujan, aku jadi teringat ibuku.” Jelas Yuri. “Memangnya kemana ibumu?”  Yoona bertanya dengan polosnya. “Ibuku…sudah meninggal.” Jawab Yuri pelan. Yoona terkaget. “Maafkan aku.” Ingin ia tarik kembali pertanyaannya. “Sudahlah. Tak apa.” Yuri tersenyum. “Hm namaku Yoona. Im Yoon Ah.” Yoona mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. “Aku Yuri. Kwon Yuri!” Ujar Yuri semangat menyambut tangan Yoona. “Kau sakit apa Yuri?” Tanya Yoona penasaran. “Kata Ayah hanya flu ringan.” Sejak saat itu Yuri dan Yoona mulai menjalin persahabatan.

**********
5 tahun kemudian di tempat yang berbeda. Dua anak lelaki berseragam SMA berlarian di lapangan basket saling mengoper bola layaknya pemain basket internasional. “Yeol! Kau curang!” Salah satu lelaki membanting bola basket. “Apanya yang curang, Kreasy?” Temannya terkekeh. “Berhenti memanggilku seperti itu!” Kris berjalan ke tengah lapangan lalu merebahkan tubuhnya disana. Memejamkan mata dan merasakan hangatnya terpaan sinar matahari. Chanyeol mengikuti Kris, melakukan hal yang sama.

“Yeol.” Kris memanggil Chanyeol. “Hm?” Gumam Chanyeol. “Aku akan pindah ke Kanada.” Lanjut Kris. “Apa?!” Chanyeol terkejut lalu memposisikan dirinya menjadi duduk, menunggu penjelasan dari Kris. “Setelah lulus nanti aku akan pindah ke Kanada bersama keluargaku dan
menetap disana.” Jelas Kris. “Tapi.. Tapi bagaimana dengan ku?” Kris mulai membuka matanya dan melirik Chanyeol. “Hei kau bukan bayi kan? Kau bisa hidup tanpa aku Yeol.”
Chanyeol termenung, mereka bersahabat dari kecil bahkan mungkin dari lahir dan selama persahabatan itulah Kris selalu membela Chanyeol dari ejekan teman-temannya karena badannya yang terlampau tinggi. Lalu jika tidak ada Kris, siapa yang akan membelanya? ‘Tidak, aku kan bukan anak kecil lagi!’ Batin Chanyeol. “Baiklah.” Chanyeol berusaha mengikhlaskan dirinya. Kris tersenyum lalu menepuk-nepuk bahu Chanyeol. “Terimakasih atas persahabatan yang indah ini, tumbuhlah menjadi lelaki yang kuat dan tegar.”

“Iya, aku akan berusaha.” Kata Chanyeol tersenyum walaupun air mata telah deras mengalir di pipinya. “Ayo kita pulang” Kris bangkit dari duduknya hendak berjalan pulang dan diikuti oleh Chanyeol di belakang.

Kris berjalan santai sambil mendengar lagu rock dari earphonenya. Ia sangat menikmati musik itu sampai-sampai ia tak melihat bahwa ia sudah berada di dekat jalur kereta dan ada kereta hendak melaju menghampiri Kris. Chanyeol yang menyadari itu segera meneriakkan nama Kris.

“KRIS! AWAS KERETA! KRIS!”

Kris tak mendengarnya, ia masih menikmati musik bersuara keras itu di telinganya.

“KRIS! AWAS KERETA!” Chanyeol berteriak kembali, namun Kris tetap mengacuhkannya.

“KRIS!!!” Kris terpental keluar dari jalur kereta. Dahinya mengucur darah segar akibat menghantam batu kecil. “Aw!” Lalu ia berbalik melihat siapa yang mendorongnya. Chanyeol. Ia tersenyum sedih kepada Kris.

Gojess… Gojess… Gojess…
Kereta itu sukses menghantam tubuh Chanyeol di hadapan Kris.

“CHANYEOL!!!”

Kris duduk tersungkur di hadapan jalur kereta. Darah di dahinya belum ada apa-apanya di bandingkan jalur kereta yang diselimuti darah sahabatnya. Kris pingsan. Sehari setelah kelulusan, seharusnya Kris yang meninggalkan Chanyeol pergi ke Kanada. Kenyataan berbalik menjadi sehari sebelum kelulusan, Chanyeol lah yang meninggalkan Kris untuk selamanya.

***********
Empat tahun kemudian.
Kris tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya. Trauma itu masih menghantuinya walaupun sudah empat tahun berlalu. Orang tua Chanyeol mengikhlaskan kepergian anaknya. Akan tetapi hal itu tidak berlaku untuk Kris. Ia mengutuk dirinya terus menerus dan mengatakan berulang kali kalau seharusnya dia yang mati, bukan Chanyeol. Dan satu kenyataan pahit yang harus Kris terima saat ini adalah… Ia bisu.

Kris duduk melamun di atas tempat tidur rumah sakit. Sebuah kecelakaan kecil kembali ia hadapi yang mengharuskan ia menginap disini. Kris tersadar dari lamunannya saat hujan di luar jendela nampak semakin deras. Ia melihat sesosok gadis menatap keluar jendela sambil tersenyum. Sosok itu menoleh ke arah Kris, lalu tersenyum kembali.

“Kau sudah sadar?” Tanya gadis itu kepada Kris. Kris tak menjawab. Gadis itu lalu menghampiri Kris. “Namaku Yuri.” Gadis itu mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan dengan Kris. Kris mengacuhkan Yuri dan kembali tidur membelakangi gadis itu.

“Cih, dasar Mr. Jutek!” Kesal Yuri atas respon Kris. Ia lalu kembali ke tempat tidurnya yang bertepatan di samping tempat tidur Kris.

**********
Seminggu telah berlalu, selama seminggu itu pula Yuri berusaha mendekati Kris walaupun tak pernah di tanggapi oleh Kris sendiri. Sebenarnya Yuri sangat senang Kris satu kamar dengannya karena sebelumnya belum ada satupun pasien yang menempati tempat tidur yang di tempati Kris sekarang.

Yuri mengajak Kris mengunjungi ruang perawatan kanker untuk bertemu dengan beberapa anak kecil pengidap kanker yang sering bermain dengan Yuri. Yuri sangat menyukai anak kecil. Ia juga mengajak Kris untuk berkenalan dengan Yoona, suster sekaligus sahabat Yuri selama di rumah sakit. Dan jangan lupakan Siwon, Dokter tampan favorit Yuri juga di kenalkan kepada Kris.

Sifat Yuri yang periang dan kekanakan lama-kelamaan merubah sikap dingin Kris terhadap Yuri. Namun Kris tetap berpura-pura bersikap dingin kepada Yuri walaupun di dalam hatinya, ia tersenyum.

Kadang Kris tersenyum diam-diam saat melihat tingkah Yuri yang kelewat manja terhadap dokter Siwon, kadang Kris juga merasa kesal saat dokter itu memberikan perhatian lebih terhadap Yuri. Apa mungkin ia cemburu? Tidak, menurut Kris. Ia tak mungkin cemburu atau lebih tepatnya tak mau. Ia berpikir seorang gadis secantik Yuri tidak akan sanggup
bersama pria cacat sepertinya, ia hanya akan menjadi beban, pikirnya.

Sampai suatu hari, Dokter Siwon datang menghampiri Yuri sambil membawakan sebuah amplop berukuran sedang. Ia memberikan satu amplop itu kepada Yuri, tak lupa ia memberikan juga amplop yang lain kepada Kris.

“Tolong sampaikan itu kepada keluarga kalian ya.” Ucap Dokter itu tersenyum.

“Apa ini Dokter?” Tanya Yuri.

“Undangan pernikahanku.” Yuri terdiam. Dokter Siwon segera keluar dari kamar itu. Membagikan undangan kepada pasien lain. Kris tersenyum senang, kalau saja ia bisa tertawa mungkin ia akan tertawa sekeras mungkin sambil meledek Yuri. Tetapi senyum itu hilang seketika saat Kris melihat Yuri yang sedih. Gadis itu menangis. Walaupun tertutupi tangan dan lututnya yang di tekuk, namun tubuhnya yang bergetar tak dapat menyembunyikan tangis sesaknya. Sesakit itukah? Apa ia tahu dalam hal ini ada seorang pria yang lebih merasa
tersakiti saat melihat wanita yang dicintainya menangisi pria lain?

Kris turun dari tempat tidurnya lalu ia naik ke atas tempat tidur Yuri, menempatkan dirinya duduk disamping Yuri. Tangannya meraih puncak kepala Yuri lalu mengusapnya perlahan. Berniat menghibur walau ia sadar itu tak akan cukup.

**********
Malamnya, Yuri kembali ceria. Sekarang ia duduk di kursi samping tempat tidur Kris sambil bercerita tentang anjing kesayangannya dirumah, Benben. Kris heran, wanita macam apa Yuri ini? Dapat mengganti suasana hatinya secepat itu? Ia merasa kalah dengan Yuri. Dirinya bahkan sampai saat ini belum merelakan kematian Chanyeol. Tetapi bukankah kematian lebih menyakitkan dibandingkan patah hati? Orang yang sudah mati tidak bisa dihidupkan kembali sedangkan orang yang patah hati akan segera mendapatkan penggantinya.

Kris kembali tersadar dari lamunannnya. Kini Yuri sudah tertidur pulas. Yuri tertidur sambil duduk, kepalanya berada di atas tempat tidur Kris. Kris segera menggendong Yuri kembali ke tempat tidurnya. Dibaringkannya Yuri di atas tempat tidurnya dengan hati-hati. Setelah selesai, Kris tak segera kembali ke tempatnya. Ia menyempatkan diri memandangi wajah Yuri yang tertidur. Dipandanginya rambut Yuri yang hitam panjang, alis yang tipis, bulu mata yang lentik, hidungnya yang mancung dan bibir pink cerinya. ‘Cantik’ Batin Kris lalu ia tersenyum.

**********
Seorang dokter datang memeriksa keadaan Kris. “Sepertinya luka mu sudah sembuh, kau sudah di perbolehkan pulang Kris.” Pulang? Hal itu terdengar seperti kabar baik untuk Kris, tetapi tidak
untuk Yuri. Yuri yang menguping pembicaraan itu kini tertunduk lesu.

Kris bersiap untuk pulang. Piyama pasiennya sudah ia lepas dan di gantikan dengan kemeja putih polos dan celana jeans panjang. Kini ia sedang memasukkan semua bajunya ke dalam sebuah koper besar. Ia mulai teringat sesuatu. Yuri.

Ia menengok ke arah tempat tidur Yuri. Dilihatnya Yuri menatap ia sedih. Ia mulai bertanya-tanya mengapa Yuri tak kunjung pulang? Padahal Yuri lebih lama tinggal di rumah sakit dibandingkan dirinya. Yuri sakit apa? Pertanyaan bodoh yang tak akan pernah terlontar di
bibirnya. Bagaimana ia bisa tahu kalau ia tidak bertanya? Dan bagaimana ia bertanya? Dengan menulisnya diatas kertas? Ia tak ingin Yuri mengetahui kalau ia bisu. Atau bahasa isyarat? Bodohnya. Selama empat tahun setelah kebisuannya ia hanya merutuki dirinya dan tak pernah belajar bahasa isyarat. Pada akhirnya Kris hanya menyimpan pertanyaan itu di benaknya.

Kris berjalan menghampiri Yuri. Ia mengusap rambut atas Yuri lalu mencium keningnya. Perasaan takut berpisah dengan Yuri lebih mendominasi dibandingkan rasa gengsinya. Rona merah mulai menghiasi pipi Yuri.

Tak lama Kris kembali meninggalkan Yuri untuk mengambil koper. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya saat sebuah tangan menggenggam erat kemejanya dari belakang. “Jangan pergi.” Ucap pemilik tangan itu.

Kris tersenyum lalu naik ke atas tempat tidur Yuri. Mengusap-usap rambut Yuri sampai Yuri tertidur pulas di pelukannya. Setelah Yuri tertidur, Kris diam-diam pergi meninggalkan Yuri. Tak lupa ia meninggalkan secarik kertas di atas meja pasien Yuri yang berisikan nomor ponsel Kris.

**********
Yuri terbangun dan menangis saat ia menyadari Kris sudah pergi meninggalkannya. Kembali ia menyembunyikan wajahnya di dalam lipatan tangannya diatas lutut. Sejak kecil ia memang selalu menyembunyikan wajahnya yang sedang menangis. Menurutnya jika ia memperlihatkan
wajahnya yang menangis, ia takut orang lain akan ikut sedih. Karena bukanlah kesedihan yang ingin ia bagi kepada orang di sekitarnya, melainkan kebahagiaan. Maka dari itu Yuri selalu tersenyum agar orang yang melihatnya ikut tersenyum. Bukankah senyum itu menular?

Hari menjelang malam, terlihat mata Yuri yang sembab karena menangisi Kris. Walaupun Kris tidak pernah berbicara, kehadiran Kris sangat berarti untuknya. Menangis seharian membuat tenggorokannya kering. Yuri hendak mengambil segelas air putih di meja samping tempat
tidurnya. Mata Yuri menangkap sebuah benda asing di atas meja itu. Secarik kertas. Di ambilnya kertas itu lalu di lihat tulisan yang tertera pada kertas itu. Sebuah nomor ponsel dan dibawahnya tertulis nama sang pengirim, Kris.

Yuri bergegas mengobrak-abrik seluruh isi laci mejanya, mencari ponsel yang sudah lama tak ia gunakan. “Aku harap pulsanya masih cukup.” Kata Yuri setelah mendapatkan ponsel itu di tangannya. Ia segera menelepon Kris.

Yuri mendekatkan telinganya pada ponsel itu. “Argh! Sial!” Yuri membanting ponselnya saat ia dapati suara disebrang sana yang berbunyi “Pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini.” Benar-benar tidak membantu, tak tahukah bahwa sekarang Yuri sangat merindukan Kris? Yuri kesal. Lalu ia kembali memeluk lututnya.

Malam ini suhu kamar itu begitu dingin. Apalagi saat Yuri menyadari tidak ada Kris di sampingnya. Yuri menoleh ke arah tempat tidur Kris. Jam segini biasanya Kris masih berkutat dengan laptopnya. Dan Yuri akan diam-diam memandanginya dari tempat tidurnya. Dan ketika Kris menyadari itu, Yuri akan berpura-pura tidur. “Sedang apa ya dia sekarang?” Tanya Yuri sambil membayangkan apa yang Kris lakukan saat ini. Mungkinkah sama seperti biasanya?

Yuri berjalan perlahan menghampiri tempat tidur Kris, lalu menaiki ranjang empuk itu. Yuri merebahkan dirinya disana. “Bau Kris.” Ya.Harum aroma tubuh Kris sudah seperti candu baginya. Aroma yang menenangkan, Yuri seakan merasa Kris masih berada disana. Mungkin
memeluknya? Pikiran itu membuat pipi Yuri kembali merona. Akhir-akhir ini setiap memikirkan Kris, Yuri selalu tersipu. Apa Yuri sudah mulai menyukai Kris?

**********
Esok harinya, terlihat suster Yoona membawakan troli makanan untuk Yuri. “Waktunya sarapan putri tidur!” Ucap Yoona membangunkan Yuri. Yang dibangunkan hanya bergumam. Yoona menatap Yuri jengkel. Dengan iseng Yoona membuka jendela lebar-lebar agar sinar matahari bisa masuk.

‘Sret!’ Bunyi tirai yang sedang di buka Yoona. Hal itu berhasil mengganggu tidur Yuri dan menyilaukan matanya. Tetapi itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba gadis itu berbalik membelakangi matahari. “Astaga anak ini! Ya! Bangun-bangun!” ‘Trang Trang’ Yoona
menggetok-getokan sendok ke piring alumunium di depan telinga Yuri. Yuri terbangun atas kegaduhan yang di buat Yoona.

“Ah kau ini mengganggu orang tidur saja!” Kesal Yuri lalu menimpuk bantal ke arah Yoona. Yoona dengan sigap menangkap bantal itu. “Sudah waktunya sarapan tahu! Nanti buburnya keburu dingin!” Bentak Yoona. Yang di bentak hanya mencibir tetapi tetap menuruti suster cantik itu. Yuri segera menghabiskan bubur yang ada di hadapannya.

Yuri kembali teringat Kris. Apa Kris sudah sarapan pagi ini? Dilihatnya kertas yang di tinggal kan Kris yang sudah ia taruh kembalidiatas meja. Lalu sebersit ide muncul di otaknya. “Yoona!” Yuri memanggil Yoona yang sedang merapikan tempat tidur Kris.

“Apa?” Yoona menyahut.

“Apa kau punya ponsel?”

“Tentu saja. Memangnya kenapa?”

“Boleh ku pinjam?”

“Tidak.”

“Oh ayolaaah nanti aku ganti pulsanya.”

“Tidak Yuri. Dengan kau memiliki ponsel itu akan membuat waktu istirahat mu berkurang. Kau tahu kan kau itu harus banyak istirahat.”

“Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapian!”

“Tapi… aku merindukan Kris.” Pekerjaan Yoona terhenti. Ia membalikkan tubuhnya menghadap ke sahabatnya itu. “Kau… jatuh cinta?”

“Entah. Tapi hati ini sakit saat menyadari ia tak lagi berada disamping ku.” Ucap Yuri tertunduk sambil menyentuh dadanya yang sesak. Yoona terdiam lalu ia merogoh saku seragam susternya. “Ini.” Yoona memberikan ponselnya kepada Yuri. Yuri mendongak. “Pergunakan dengan baik. Dan jangan lupakan waktu istirahatmu. Jika kau mulai merasa lelah, tidurlah. Aku akan mengambilnya kembali saat jadwal ku selesai.” Yuri terharu, lalu ia memeluk Yoona erat. “Terima kasih! Terima kasih Yoona! Kau sahabat terbaikku!”

Yoona tersenyum tulus. Dan ketika ia menutup pintu kamar Yuri, ia menangis. Kris. Ia memendam rasa pada pria itu bahkan sebelum Yuri mengenalnya. Yoona adalah seorang adik kelas yang setiap pulang sekolah selalu menyempatkan diri melihat Kris dan Chanyeol bermain
basket. Yoona yang setia berjam-jam menunggu Kris pulang dari pemakaman Chanyeol waktu itu. Kini ia harus merelakan pria itu untuk sahabatnya. ‘Sadarlah Yoona dia hanya masa lalu. Kris adalah masa lalu mu dan dia adalah masa depan Yuri.’ Batin Yoona. Lalu ia menyeka air
matanya dan merapikan seragamnya hendak kembali bekerja.

**********
Empat tahun berlalu tak mengalihkan Kris dari hobinya terhadap musik. Ia melanjutkan kuliahnya di Seoul International of Arts. Tepatnya di fakultas musik. Mimpinya untuk bersekolah di Kanada sirna. Semenjak kematian Chanyeol, Kris jadi tak mau pergi dan memutuskan akan tetap tinggal di negara tempat sahabatnya meninggal dunia.

Walaupun ia sangat mencintai musik, ia meninggalkan musik rock, metal, beat dan musik berisik lainnya. Sekarang ia cenderung menyukai music klasik. Ia bahkan sudah mahir menggunakan berbagai alat musik, diantaranya violin, piano, harpa dan sebagainya. Yang cukup mengherankan adalah tak ada satupun temannya yang menyadari ia bisu. Ia hanya di cap sebagai pria yang misterius, dingin, dan tak mau bergaul. Tetapi walaupun begitu, ada saja penggemarnya dan bahkan mereka membuat komunitas pecinta Kris.

Kini Kris sedang berada di depan piano putih besarnya. Membuat lagu untuk tugas kuliahnya yang akan di kumpulkan minggu depan. Kris menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Ia benar-benar tidak ada inspirasi saat ini.

“….nae eureurong eureurong dae.” nada dering ponsel Kris berbunyi, menandakan satu pesan masuk.

From: 0xxxxxx
Hi. Apa ini Kris? -Yuri-

Yuri? Rupanya Yuri hanya mengirim pesan dan tak bisa menelepon Kris. Yuri merasa tidak enak pada Yoona jika menelepon karena operator Kris yang berbeda. Tentu saja itu akan memakan tarif yang mahal. Kris tersenyum saat membaca pesan itu. Lalu ia membalas pesan itu.

To: 0xxxxxx
Bukan. Ini Siwon.

Tak butuh lama, pesan itu sudah terbalas kembali.

From: 0xxxxxx
Hahaha. Kau mengejekku? -_-

To: 0xxxxxx
Apa ini nomor ponselmu?

From: 0xxxxxx
Bukan. Ini nomor Yoona.

Setelah mengetahui itu nomor Yoona, Kris segera menamai nomor itu di ponselnya.

To: Yoona
Ada apa mengirimku pesan sampai-sampai meminjam ponsel Yoona? Kau
merindukanku rupanya haha.

From: Yoona
Percaya diri sekali kau! Ponsel ku pulsanya habis! Dan lagipula aku
ingin memarahimu karena meninggalkanku waktu itu!

Semua itu berlanjut menjadi obrolan yang sangat panjang. Selalu ada topik baru pada percakapan mereka. Dan baru berhenti saat jadwal shift Yoona telah selesai. Yoona mengambil ponselnya. Lalu langsung menghapus semua pesan. Ia tak sanggup membacanya dan lagipula itu adalah privasi antara Yuri dan Kris.

**********
Sudah setahun lebih Yuri dan Kris berteman. Semua berjalan seperti biasa, Yuri mengirimi Kris pesan dan Kris membalas pesan Yuri. Seakan tak ada habisnya topik yang ingin mereka bicarakan. Kris menceritakan semuanya kepada Yuri. Mulai dari kematian sahabatnya, masalah
perceraian orang tuanya, dan masalah-masalah lainnya. Hanya satu yang tak pernah Kris ungkapkan kepada Yuri. Kenyataan bahwa Kris adalah seseorang yang bisu.

Yuri menyadari sikap Kris yang menurutnya dingin saat mereka satu kamar, sangat berbanding terbalik dengan Kris yang sedang saling berbalas pesan dengannya. Ia kadang meragukan ini pasti bukan Kris, tetapi mengapa ia mengetahui semua kebiasaan Yuri saat di rumah sakit? Kris yang sedang berbalas pesan dengannya adalah Kris yang cerewet, suka mengejek dan menyebalkan.

Tetapi kadang Yuri merasa iba saat Kris menceritakan segalanya tentang kehidupannya. Yuri menangis mendengar kisah Kris. Entah ada hal apa dengan Yuri, Kris tak malu menceritakan seluruh kisah hidupnya. Yuri menawarkan diri untuk menjadi sahabat Kris. Tetapi Kris tak mau. Dan bukan Yuri namanya kalau kehendaknya belum tercapai. Yuri tetap menganggap Kris sahabatnya, walaupun Kris tak menganggap sebaliknya. Ya, apakah Yuri tidak peka? Kris tak mau kalau hanya sekedar sahabat tentu saja.

Tiga hari lalu Kris sudah lulus dari kuliahnya, dan hari ini ia sudah resmi bekerja sebagai seorang komposer musik klasik. Ia selalu mengirimkan beberapa lagu instrumental buatannya kepada Yuri melalui ponsel Yoona sebelum lagu itu diberikan kepada perusahaan tempat ia
bekerja.

Saat Yuri bertanya, “Mengapa kau selalu memberikan ku lagu yang bahkan tidak ada suara penyanyinya?” Dan Kris akan menjawab, “Tidak semua perasaan bisa diungkapkan dengan kata-kata. Pejamkan matamu dan nikmatilah. Kau akan bisa mengetahui apa yang disampaikan lagu
tersebut.”

Dan suatu hari, dimana hari yang tidak pernah terbayangkan oleh Yuri saat Kris berusaha menghilang dari kehidupan Yuri. Saat itu Yuri tidak tahan dengan ejekan yang selalu Kris katakan kepadanya. Seperti memanggilnya dengan sebutan “Blacky”. Yuri menyadari bahwa kulitnya yang agak gelap dibanding Kris. Tapi dengan sebutan itu, ia merasa seperti anjing. Yuri marah, lalu ia mengatakan, “mengapa kau selalu mengejekku seperti itu?! Bukankah tidak ada manusia yang sempurna?!” Dan dua pertanyaan itu berhasil membuat Kris bungkam. Kris tak lagi membalas pesan Yuri. Dan dia bahkan juga mengganti nomor ponselnya. Hal itu sungguh di sesalkan Yuri. Apa ada yang salah dengan ucapannya?

**********
Berhari-hari bahkan berbulan-bulan mereka sudah tidak berkomunikasi lagi. Kris sibuk dengan pekerjaan komposernya dan Yuri tetap setia menunggu balasan pesan dari Kris. Sebenarnya ada satu fasilitas lagi selain ponsel untuk berhubungan dengan Kris. Ya, melalui jejaring sosial media twitter. Hanya sekarang Kris sudah menghapus akunnya. Suatu hari Yuri tak sengaja melihat nama Kris di timeline twitternya. Dengan iseng ia membuka akun itu. Dan ternyata benar, itu memang Kris. Yuri mengurungkan niatnya untuk tidak memfollownya. Karena mungkin Kris yang sudah tidak ingin berteman dengannya. Tetapi Yuri tak pernah berhenti untuk mengecek twitter baru Kris tersebut.

Saat itu Yuri iseng mengetikkan usernamenya di tab search untuk melihat barang kali ada seseorang yang mengirimi ia pesan tanpa tag. Dan ia tercengang saat tab itu menunjukkan hasilnya. Akun baru Kris mengirimi ia pesan tanpa memention Yuri.

“Aku tahu bahwa aku adalah seseorang yang tak pernah berbuat baik, bibir ku sering berkata kasar, hobi ku mengejek orang lain. Tetapi di luar itu semua ada satu gadis yang paling mengerti diriku, tahan banting setiap aku mengejeknya dan bahkan dia menawarkan diri untuk menjadi sahabat yang tak pernah aku anggap… Maaf… Bukan maksud ku menjauhimu, aku hanya takut, kalau terus bersamaku, kau akan semakin sakit hati. Kwon Yuri.”

Lalu Kris menuliskan beberapa bait lagu ‘Because of you – Neyo’

“Seandainya kau dapat mendengar suaraku saat menyanyikan lagu ini, Yuri.”

Yuri menangis. Yuri menekan nomor ponsel Kris di ponsel Yoona. Berulang-ulang ia menelepon, namun tak ada jawaban di sebrang sana. Yuri belum menyadari bahwa Kris sudah mengganti nomor ponselnya.

**********
Suatu hari ada panggilan masuk ke ponsel Yoona. Yuri segera memanggil Yoona. “Yoona! Lihat ada telepon untukmu!” Yoona segera menghampiri Yuri dan menjawab telepon itu.

“Halo? Halo?” Tak ada jawaban dari sebrang sana.

“Siapa?” Tanya Yuri penasaran.

“Entahlah. Paling orang iseng.”

“Ohh…”

Panggilan asing itu terus saja menelepon. Tetapi tidak ada suaranya. Yang kadang membuat Yoona kesal karena harus segera bolak balik keluar kamar Yuri.

**********
Hari itu adalah tanggal 5 desember hari ulang tahun Yuri tepat ke 23 tahun. Ayahnya datang memberikan kado spesial untuknya.

“Apa ini yah?” Tanya Yuri.

“Buka saja.” Jawab ayah Yuri lalu tersenyum. Yuri segera membuka kado itu. Dan ia bahagia saat ponsel keluaran terbaru berada ditangannya kini.

“Ku dengar ponselmu rusak hm?”

“Terimakasih ayah!” Ujar Yuri lalu memeluk ayahnya. “Ah aku lupa membeli sim card. Yoona, boleh ku pinjam sim card milikmu sebentar?”

“Tentu saja.” Yoona segera mengeluarkan sim card dari ponselnya, lalu memberikan itu kepada Yuri. Yuri lalu memasang sim card Yoona di ponsel baru miliknya.

Kamar itu sudah sepi dan pesta kejutan pun telah usai. Tetapi Yuri masih mencoba mengutak-atik ponsel miliknya. Tiba-tiba Yuri di kagetkan oleh bunyi ponsel yang berdering tanda ada
telepon masuk.

Yuri segera memanggil Yoona. “Yoon, ada telepon!”

‘Hhh paling orang iseng itu lagi.’ Batin Yoona. “Kau saja yang angkat, aku sibuk!”

“Hmm baiklah… Apa ini? Video call?” Yuri pun segera menyentuh tombol answer dan terlihat orang yang selama ini dianggap Yoona adalah orang iseng. “Kris?” Pria itu melambaikan tangannya. Menyampaikan sebuah kalimat menggunakan bahasa isyarat.

‘Yuri, sebenarnya aku… bisu.’

Yuri segera mematikan sambungan telepon itu. Yuri menangis sesak, menutup kedua bibirnya dengan kedua tangan.

‘Drrrt drrrt…’ Ponsel Yuri bergetar, tanda ada pesan masuk. Dilihatnya satu pesan itu.

From: 0xxxxxx
Bukankah tidak ada manusia yang sempurna?

Ponsel itu kembali berdering menandakan telepon masuk. Namun Yuri tak juga mengangkat telepon. Rasa sesak masih memenuhi rongga dadanya. Ia menyesal. Bukan karena berteman dengan Kris. Bukan. Ia menyesal karena telah menanyakan hal itu kepadanya. Menanyakan tentang ketidak-sempurnaan. Ia mengaku salah. Ya, pantas saja Kris menjauhinya setelah berkata demikian. Akhirnya terjawablah sudah. Memang tidak ada manusia yang sempurna.

Ponsel Yuri kembali berdering untuk ke sepuluh kalinya. Yuri mengumpulkan tenaga untuk menjawab panggilan itu. Di sentuhnya tombol answer. Dan terlihat lah Kris sudah duduk di hadapan piano putih besarnya. Kris tersenyum, lalu kembali mengisyaratkan bahwa ia akan
mempersembahkan lagu ciptaannya untuk Yuri. Kris mulai memainkan jemarinya diatas tuts-tuts piano.

#Backsound instrumental Henry – Trap piano version

Setelah permainan piano Kris selesai. Kris menatap layar ponselnya dan menyuruh Yuri untuk memperhatikan bibirnya. Kris membuka mulutnya seakan sedang mengatakan, ‘I-Love-You’. Yuri tersenyum sambil terisak. “I love you too Kris…” Jawab Yuri tak kuasa menahan derai air
matanya.

**********
Hari itu tepat pada tanggal 5 Desember, Kris dan Yuri resmi menjadi sepasang kekasih. Sekarang Kris tak perlu malu lagi untuk berkunjung ke rumah sakit untuk menemui kekasihnya, Yuri. Kris selalu datang dengan sebuket mawar putih di tangannya. Setiap Yuri bertanya, “Mengapa kau selalu memberiku mawar putih?” Kris menjawab dengan bahasa isyaratnya, “Mawar putih adalah lambang kesetiaan dan ketulusan. Inilah makna cinta yang sesungguhnya.” Yuri tersenyum. Mengapa sekarang Kris jadi pintar menggombal?

“Kris, aku bosan disini. Bisa kau mengajakku ke taman?” Kris menuruti Yuri. Sebelumnya ia menggendong Yuri ke kursi roda, lalu mendorongnya menuju taman.

Kedua pasangan itu kini terduduk di salah satu bangku taman. Yuri menyandarkan kepalanya di pundak Kris. Kedua tangan mereka saling menggenggam. Menikmati semilir angin musim semi. “Kris, aku sangat bahagia saat ini. Jangan tinggalkan aku lagi, itu sungguh membuatku tersiksa.” ‘Tidak akan Yuri. Tidak akan.’ Kris mengeratkan genggaman tangannya.

Hari berlanjut menjadi hari paling membahagiakan untuk pasangan itu. Kadang Kris terlihat bermain piano bersama Yuri di sebelahnya, kadang juga mereka saling berfoto untuk mengabadikan momen kebersamaan mereka dan sebagainya yang dapat membuat semua orang iri melihat kebersamaan mereka.

Sampai ketika ayah Yuri mengetahui hubungan Yuri dengan Kris. Ayahnya menentang dan berusaha menjauhi Kris dari Yuri. Bahkan ayahnya bekerja sama dengan dokter-dokter yang merawat Yuri. Saat Kris hendak berkunjung, ia malah di usir keras oleh ayah Yuri. Alhasil Kris hanya bisa melihat keadaan Yuri dari kaca pintu kamar.

Sebenarnya ayah Yuri tidak sejahat itu. Ia hanya takut perasaan Yuri pada Kris akan semakin dalam. Dan di saat Yuri sudah sangat mencintai Kris, ia takut Kris akan meninggalkan Yuri ketika tahu bahwa Yuri mengidap penyakit yang tidak biasa. Semua ini demi Yuri, ya demi Yuri, itu menurutnya.

Tetapi kenyataan tidak demikian, ketidakhadiran Kris di sekitar Yuri membuat kesehatan gadis itu memburuk. Kini ia bahkan terbaring lemah sambil menggunakan alat bantu oksigen di hidungnya. Kris hanya menatap miris keadaan gadisnya dari kaca pintu. ‘Kau sakit apa Yuri?’

Kris mulai mencari tahu dengan menguping pembicaraan ayah Yuri dengan Dokter Siwon.

“Bagaimana keadaan Yuri?”

“Maaf sekali tuan Kwon. Belum mengalami kemajuan. Kami sudah mencoba mencarikan donor jantung untuknya, tetapi tubuhnya menolak. Sama sekali tidak bereaksi.”

“Saya mohon dokter donorkan saja jantung saya.”

“Tidak bisa tuan Kwon. Yuri memiliki sel darah yang berbeda dengan
tuan, kalau salah bisa berakibat fatal.”

“Saya akan bayar berapa pun dok, asal sembuhkan anak saya. Dia anak yang baik. Tidak ada yang menginginkan dia terlahir dengan jantung bocor.” Pria itu menangis terisak.

“Kami akan berusaha.” Dokter Siwon berusaha menenangkan.

Kris yang menguping pembicaraan itu merasakan lututnya tiba-tiba melemas. Inikah penyakit yang selama ini di derita Yuri? Jantung bocor. Kris menangis. Sesak saat mengetahui hal yang sebenarnya. Seharusnya ia tidak mencari tahu, kalau pada akhirnya akan seperti. Kris berjalan gontai keluar rumah sakit hendak pulang ke rumah. Mungkin setelah ini ia akan menghabiskan berlusin-lusin botol wine untuk menghilangkan sesaknya.

**********
Setelah Kris mengetahui rahasia itu, ia hanya berdiam diri dikamar. Selama tiga hari berturut-turut ia tak datang ke rumah sakit lagi. Ia masih sesak dan belum bisa menerima keadaan. Tetapi jika Kris tidak datang, bagaimana dengan Yuri?

Hari keempat akhirnya Kris memberanikan diri datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Yuri. Matanya terbelalak saat ia mengintip lewat kaca pintu tak ada Yuri disana. Lalu ia membuka pintu kamar itu dengan tergesa. Dicarinya Yuri dimanapun, namun nihil. Yuri tak ada
dimana-mana. Kris mulai takut, takut Yuri sudah benar-benar pergi meninggalkannya. Kris menjambak rambutnya frustasi.

Tak sengaja saat Kris melihat ke arah taman lewat jendela, terlihatlah Yuri sedang duduk di bangku taman. Kris segera berlari turun menghampiri Yuri. Kris menghampiri bangku taman. Terlihat punggung Yuri disana. Yuri menoleh ke belakang. Melihat Kris, lelaki yang ia tunggu-tunggu kedatangannya. Yuri menepuk bangku kosong di sebelahnya, menyuruh Kris untuk ikut duduk. Kris duduk di sebelah Yuri.

Yuri tersenyum. Senyumnya masih semanis dulu, hanya saja sekarang jauh lebih pucat. Lalu Yuri menyenderkan kepalanya di bahu Kris. Mereka saling perpegangan tangan.

“Hari ini aku menguping pembicaraan ayah dan Dokter Siwon.” Yuri mulai menyuarakan suaranya yang sekarang terdengar lebih serak dari sebelumnya. “Mereka bilang penyakitku bertambah parah, dan mungkin ajal akan menjemputku sebentar lagi.” Sesak. Itu yang di rasakan
keduanya. Terutama Kris, ia ingin menangis tetapi air matanya telah habis karena menangisi Yuri tiga malam. Kris mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Yuri.

“Kris, aku takut… Tidak akan lagi bertemu denganmu. Apa di surga ada malaikat yang berwujud sepertimu? Kris… Aku ingin di kehidupan yang akan datang, kau dapat memanggil namaku, membisikkanku kata-kata indah, dan… Aku juga ingin aku tak terlahir dengan jantung cacat
seperti ini.” Yuri menangis sesenggukan. “Hahaha aku lupa. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna?” Yuri tertawa miris.

“Kris…” Yuri memanggil nama Kris lirih. “Berjanjilah kepadaku, di kehidupan yang akan datang kita akan bertemu di tempat ini. Dan kau memanggil namaku… Yuri… Yuri… Yuri… Sarang…hae.” Yuri menghembuskan nafas terakhirnya di pundak Kris. Kris panik saat merasakan tangan Yuri mendingin. Lalu ia mencoba  menggoyang-goyangkan tubuh Yuri. Namun Yuri tak kunjung sadar. Kris menangis. Disaat seperti ini satu suara saja sangat dibutuhkan untuk membangunkan Yuri. Tetapi ia tak punya. Ia memeluk Yuri. Berharap tubuh Yuri tak lagi dingin. Namun tak ada respon apapun. Saat itu pula Kris menyadari bahwa Yuri telah tiada.

Ia memaksakan suaranya untuk memanggil nama Yuri. “Y-Yu…ri… Sarang…hae.” Terlambat. Yuri tak akan mendengar apapun. Kris kembali menangis sesak.

Kris mendekatkan bibirnya pada bibir Yuri. Menempelkan lapisan kulit terluar bibirnya ke bibir Yuri. Dingin. Hanya itu yang dapat dirasakannya.

**********
‘Tuhan… Mengapa kau selalu mengambil orang-orang yang berharga dalam hidupku? Apakah aku tak layak bahagia?’

Hari itu tanggal 26 Desember. Telah terbaring tenang seorang gadis cantik dengan gaun putihnya yang menawan. Pasangannya pun tak kalah tampan, jas hitam menghiasi tubuh tegapnya. Pria itu duduk di depan piano putih besar, disamping tempat terbaringnya gadis yang ia cintai. Mempersembahkan sebuah lagu terakhir untuk kekasihnya.

#Backsound Norihiro Tsuru – Last Carnival

Setelah lagu selesai dimainkan, pria itu berjalan menghampiri peti mati kekasihnya. Menaruh setangkai mawar putih pada tangan gadis di depannya yang terlipat diatas perut.

Kris berjalan lemas meninggalkan peti mati Yuri. Disampingnya berdiri Yoona yang tetap setia memayungi Kris dimana pun pria itu melangkah. Yoona menatap Kris sedih.

‘Tuhan… Bukan ini akhir yang ku inginkan. Kris memang bersamaku… Tetapi Yuri meninggalkan semuanya. Meninggalkan ku… Meninggalkan Kris… Meninggalkan banyak cinta yang tak akan pernah kami lupakan.’ Yoona menggigit bibirnya. Menahan jeritan sesak di hatinya.

Yoona’s flashback
7  tahun yang lalu
Menjadi suatu hobi bagi Yoona berdiri di balkon kelasnya sambil melihat dua orang lelaki yang sedang bermain basket. Matanya berbinar apalagi saat salah satu dari lelaki itu memasukkan bola ke ring basket. Lelaki itu terkekeh sombong saat menyadari temannya kalah.

“Jadi kan mentraktirku ramyun?” Yang ditanya memutarkan kedua bola matanya. “Baiklah. Tapi…” Lalu lelaki yang bernama Chanyeol itu membisiki telinga temannya setelah itu menepuk pundak temannya. “Semangat kawan!” Lelaki yang dibisiki tadi segera berlari memasuki gedung. Dan tak di sangka-sangka ternyata lelaki itu menghampiri Yoona.

“Nama ku Kris. Nama mu?”

“Y-Yoona…”

“Lelaki yang di bawah sana adalah temanku, Chanyeol.” Kris menunjuk Chanyeol dari atas. Yang di tunjuk melambaikan tangannya kepada Yoona. “Dia ingin meminta nomor ponselmu, bolehkan?”

“T-tentu s-saja sunbae!” Yoona menyebutkan nomor ponselnya. “Terima kasih. Senang bisa mengenalmu Yoona.” Kris tersenyum lalu meninggalkan Yoona. Yoona menyentuh dadanya. Degupan jantungnya masih terasa. Wajahnya memerah. Ia jatuh cinta.

Dua  tahun kemudian. Hari berduka. Yoona berdiri di bawah pohon memperhatikan dari jauh seorang pria yang sedang menangis di depan sebuah kuburan. Melihat pria itu berduka membuat dadanya sesak. Ia mencengkram erat tangkai payung yang dibawanya. Yoona berjalan perlahan menghampiri pria itu. Lalu ia memayungi pria itu. Namun pria itu masih belum menyadari akan kehadiran Yoona dan masih berlarut-larut dalam kesedihannya. Kris berduka atas kematian sahabatnya, Chanyeol.

Empat tahun kemudian. Setelah lulus dari SMA Yoona melanjutkan kuliahnya dan lulus sebagai Sarjana Keperawatan. Kini ia bekerja di rumah sakit yang kepalai oleh ayahnya sendiri. Yoona senang selain bisa bekerja di rumah sakit ayahnya, ia juga bisa selalu bertemu dengan Yuri,
sahabatnya sejak kecil. Dahulu ia hanya bisa bertemu Yuri seminggu sekali karena harus menyelesaikan pendidikannya. Hanya dengan bertemu Yuri, ia dapat menghilangkan penatnya. Yuri adalah gadis yang spesial. Sampai ketika Kris datang ke rumah sakit, membuat kesenangan Yoona berlipat ganda.

Yuri memperkenalkan Kris pada Yoona. “Kenalkan Kris, ini sahabat ku Yoona. Yoona, ini Kris.” Kris mengulurkan tangannya dan Yoona menyambutnya. Lalu Kris pergi begitu saja. ‘Apa ia tak mengingatku?’ Batin Yoona.
Kedatangan Kris ternyata tidak seperti yang Yoona kira. Kris mulai dekat dengan Yuri. Dan hal itu membuat Yoona cemburu. Apalagi saat Yuri berkata bahwa ia jatuh cinta pada Kris. Hal itu adalah pukulan terberat bagi Yoona. Pada akhirnya Yoona mengubur dalam-dalam rasa cintanya walau tak bisa sepenuhnya.
Yoona’s flashback END

Kris berhenti berjalan. Ia seperti mengingat sesuatu. Hal ini seperti pernah terjadi dulu sekali. Saat kawannya meninggal, pernah ada seseorang disampingnya dan memayunginya selama berjam-jam. Kris mendongak menatap payung itu lama. Seperti familiar di matanya. Lalu menengok ke samping, melihat sang pemilik payung itu. Yoona. Sedang menatapnya khawatir.

“Ada apa? Mengapa berhenti?”

Kris diam tak menjawabnya. Lalu Kris memeluk Yoona. Yoona terkaget. Payung yang berada di genggamannya terlepas dan jatuh ke tanah.

Beberapa tahun kemudian. Kris melamar Yoona dengan iringan lagu instrumental romantis dan menulis kata ‘Would you marry me?’ di kertas sketch booknya. Entah apa yang ada di pikiran Kris. Ia tak pernah menyuarakan suara bassnya kepada Yoona. Ia memutuskan suara itu hanya
akan ia keluarkan untuk Yuri bukan orang lain, bahkan istrinya sendiri.
Flashback OFF

Soojung menutup album foto di tangannya. Air mata telah deras mengalir di wajahnya. Menatap pria tua di hadapannya sedih. Sungguh tak pernah ia sangka. Seseorang yang sukses seperti kakeknya, telah menyimpan banyak kisah yang menyedihkan. Dan bahkan tak pernah ia sampaikan sampai berpuluh-puluh tahun lamanya.

Pria tua itu bersender pada bangku taman dan menutup matanya perlahan. Menghembuskan nafas terakhirnya tepat di tempat kekasihnya meninggalkannya.

 

“Menikah adalah nasib. Cinta adalah takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa, tetapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa. Dan salah satu hal tersulit dalam hidup ini adalah berhenti mencintai seseorang hanya karena dia telah berhenti mencintaimu.”

FIN

Author Notes : Manusia memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Jadi jangan patah semangat seperti halnya Yuri yang selalu membagi kebahagiaan kepada orang di sekitarnya dan terus berkarya seperti halnya Kris yang tetap melanjutkan hobi memusiknya walaupun ia bisu. Jika ada kata yang salah, mohon dimaafkan. Aku hanya manusia biasa yang pasti mempunyai kekurangan. Kritik dan saran readers, akan sangat membantu aku untuk menulis lebih baik lagi. ^^

Advertisements

25 thoughts on “[Freelance] Instrumental

  1. Wahhh!!
    This story is daebak..
    Krisyul !!!
    So sad this story but i love it..
    U are great authornim..
    Hope u will write more krisyul story..^^
    Thanks for make krisyul story..

  2. omo keren bnget chingu 🙂 aq suka bnget..menyentuh bnget jalan ceritanya 🙂
    hiiks hiiks kenapa yul harus pergi..
    tapi kris bner” setia ma yul meski dia nikah ma yoona..
    alur dan jalan ceritanya bagus chingu.. 🙂
    daebak buad ff nya chingu 🙂

  3. Ini FF? aku kira novel 😄 lagian bagus gitu FF nya 😀 Sedih… mengharukan… setengah sad setengah happy ending ^_^ ♥♥
    Bahasa nya juga bagus :))) Berjanji sampai nafas terakhir bahwa Kris tidak akan mengeluarkan/? suaranya pada orang lain, selain Yuri atau hal yg berhubungan dengan Yuri. O:-)

  4. Eon.. punya banyak persediaan tissue gak? Tissue yang udh kusiapkan udah abis../?Lupakan..

    Overall aku suka.. pair kris-yul.. aku juga pernah buat pair kris-yul dengan cerita hampir sama. Bedanya yuri buta./? Tidak ada yang menanyakan ini..

    Singkat aja.. Daebak!!대박!!

  5. sumpah ni ff kren bget . . . . Mian ne bru koment,ak pgl ny ap ya ? Eon aj gtu ? Aku line 98..salam kenal .. Smpah ff ny kren, d tgu krya slanjutnya trutama yg cast yuri

  6. Kata2ny keren bgt thor sumpah trus ffnya DAEBAAAKKKK!!
    mlem mlem dibikin nangis gara2 baca ff ini,tpi emang keren bgt thor!!
    KEEP WRITING!!

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s