[Freelance] Rose

ROSE POSTER

ROSE

Author

Shin Hyun Gi

Main Cast

Byun Baekhyun || Kim Taeyeon

Other Cast

You’ll find them by yourself

Genre

Romance || Fluff || etc

Length

Oneshot

Rating

T/PG-15

 

Disclaimer

Inspired by some songs that I listened before, but the storyline is absolutely mine. I don’t own the characters, because they belong to their parents and God. If there are some similarities with the other fanfictions, that’s absolutely an incident.

Anyway, I already posted this story in my blog first :

http://beautifuljuly.wordpress.com/2014/01/11/rose-oneshot/

 

Author’s Note

Halo semuanya, apa kabar? Semoga baik-baik ya. Hari ini saya kembali lagi dengan satu fanfic Baekyeon yang tergolong lebih manis dibandingkan karya saya yang lain yang tergolong lebih gelap dan mungkin ‘tragis’. Saya harap para reader bisa menyukai fanfic yang satu ini dan tidak segan memberikan komentarnya di sini, berhubung di fanfiction saya yang sebelumnya, terhitung cukup sedikit orang yang mau berkomentar di sana. I just, you know, a little bit disappointed.

But once again, let’s start the story and hope you enjoy it! Don’t forget to give me your comments! Respect the author who worked so hard for you🙂

——————–

Karena aku percaya, suatu saat nanti kau akan kembali. Aku senang berkhayal tentangmu dan selalu berharap, kau yang entah berada di ujung dunia mana, akan datang lagi untuk menjemputku yang dengan setia menanti kedatanganmu.

——————–

 Tetesan lembut air hujan masih terus mengalir di atas tanah basah Kota Seoul ketika Baekhyun baru saja menurunkan kedua kakinya dari dalam mobil jeep putih kesayangannya. Dalam beberapa menit, ia masih menundukkan setengah badannya masuk ke dalam mobil, berusaha meraih sebuah payung kecil yang berada di jok depan dengan kelima jemari tangan kanannya. Hingga kemudian, terdengar suara embusan nafas lega dari dirinya ketika pada akhirnya ia berhasil menggasak payungnya cepat dan membukanya selebar mungkin. Setidaknya dengan ini ia sudah bisa berlindung dari derasnya hujan yang mengalir di musim semi Kota Seoul pagi ini—yang sebenarnya amat sangat jarang terjadi di sana.

Sembari membetulkan mantel hujannya yang sudah agak lembab, lelaki muda itu melangkahkan kakinya memasuki sebuah kedai bunga kecil yang berada di pinggir jalan, yang kemungkinan besar, hanya berjarak sekitar lima meter darinya saat ini.

Baekhyun menggerakkan pagar kecil yang berada di hadapannya hati-hati, lalu melirik ke dalam kedai penuh perhatian. Tempat ini terhitung cukup kecil untuk sebuah toko yang terletak di kota sebesar Seoul, namun tak lebih dari itu, Baekhyun benar-benar menyukai suasana sejuk yang diberikan oleh sang pemilik kedai untuk para pembelinya. Baekhyun bahkan tak akan segan-segan memuji tempat ini kepada teman-teman prianya yang lain—yang mungkin saja—berniat untuk membelikan sebuket bunga untuk gadis mereka.

Kemudian baru beberapa lama memperhatikan beberapa bunga indah yang mungkin cocok untuk ia beli nanti, seorang gadis tiba-tiba keluar dari balik pintu kedai dan berjalan pelan memasuki kanopi kedai yang kini sedang Baekhyun tempati.

Baekhyun masih terdiam di tempatnya dan menatap gadis yang baru saja keluar itu perlahan, kedua matanya bergerak meneliti sosok gadis itu, dan ia langsung mendapatkan kesimpulannya sendiri. Pagi ini boleh saja masih temaram dan matahari juga belum hendak untuk menyibakkan sinar hangatnya lebih banyak lagi—semenjak hujan turun lebih dulu semenjak tadi subuh—tetapi Baekhyun juga tak dapat memungkiri bahwa gadis itu merupakan salah satu wanita tercantik yang pernah ditemuinya di dunia, setelah ibunya tentunya. Bersamaan dengan angin lembut yang berembus di antara hujan, sosok gadis itu bergerak mendekatinya.

“Anda ingin membeli apa, Nyonya?” gadis itu tersenyum lembut kepadanya, ia berkata dengan nada lembut layaknya para penjual lainnya, sopan sekali. Tetapi tunggu sebentar, Baekhyun merasa langsung ada satu hal yang aneh dari sosok gadis itu—apa maksud gadis itu menyebutnya dengan ‘Nyonya’?

“Permisi?” gadis itu bergumam pelan lagi, namun ia masih menundukkan kepalanya, sementara Baekhyun masih menatapnya dengan dahi sedikit berkerut.

“Aku…” Baekhyun akhirnya memutuskan untuk kembali bersuara, “aku seorang pria, Ahgassi.”

Sepertinya gadis itu langsung tersentak kaget ketika Baekhyun baru saja berkata kepadanya dan menjelaskan bahwa ia adalah seorang pria. Jelas sekali tubuhnya sempat bergetar selama beberapa saat, ia bahkan meremas gaun yang dikenakannya saat ini. “Maafkan aku, Tuan. Aku benar-benar tak tahu,” ia berdesis pelan dengan sedikit ragu. Bahkan sekali pun gadis itu menundukkan kepalanya dalam sekali hingga helaian rambut panjangnya menutupi hampir sebagian besar wajahnya, Baekhyun masih dapat melihat sedikit rona kemerahan dari pipinya yang mungkin disebabkan oleh rasa malu.

Gwaenchanayo, Ahgassi.” Baekhyun tertawa kecil dan menggapai pundak gadis itu perlahan, berusaha menenangkannya selama beberapa saat. Walaupun hal ini bisa saja terdengar sedikit aneh, mungkin gadis itu baru saja bangun dari tidurnya dan masih agak sedikit mengantuk untuk melayani pelanggan pertamanya hari ini. Ya, bisa saja. Begitulah analisis seorang pemuda yang terhitung agak malas bermain bersama logikanya seperti Baekhyun.

“Ah…” helaan nafas pertama gadis itu terdengar lagi, ia kini mulai mengangkat kepalanya dan menatap Baekhyun sekilas. Kedua kelopak matanya sudah terbuka kali ini, dan Baekhyun sudah mulai dapat menangkap sesuatu yang agak aneh dari sana. Iris gadis itu memang indah sekali—berwarna hazel terang dengan sedikit warna hitam di pinggirnya—namun sepertinya kedua matanya sama sekali tak bergerak seperti yang seharusnya. “Seharusnya aku memberitahukan hal ini kepadamu lebih dulu, Tuan,”

“Jika seorang gadis yang menjaga sekaligus memiliki kedai ini ialah seorang gadis buta—yang tak dapat melihat apa-apa.” Ia berujar lembut seakan tanpa beban di sana, tak ada guratan luka sama sekali yang terlihat dari dalam wajahnya—gadis itu bertindak seakan segalanya masih baik-baik saja—dan Demi Tuhan, Baekhyun benar-benar tak dapat mempercayai hal apa yang sedang terjadi di depannya saat ini.

Mianhae, Ahgassi.” Baekhyun langsung bergumam pelan dan mulai merutuki kebodohannya sendiri, ia bahkan baru sadar jika semenjak beberapa menit yang lalu, gadis itu melangkahkan kakinya untuk mendekati dirinya menggunakan alat bantu sebuah tongkat berjalan. Mungkin ia terlalu terpesona dengan aura sederhana yang dihadirkan oleh gadis itu, hingga membuatnya sedikit terlupa akan segala hal yang sedang dilaluinya selama beberapa menit yang lalu. Sepertinya begitu.

Lalu hening pun tiba-tiba mengambil alih suasana yang terjadi di antara mereka berdua. Hujan sudah mulai mereda dan beberapa burung juga sudah beranjak dari sarang mereka untuk bercicit riang di antara pepohonan. Namun belum ada jawaban apa pun yang terdengar dari bibir merah gadis itu untuk menanggapi ucapan permintaan maaf yang ditujukan Baekhyun untuknya. Hingga tiba-tiba, Baekhyun akhirnya memutuskan untuk mengelus pundak gadis itu perlahan.

Jelas sekali wajahnya mulai merona merah ketika sentuhan Baekhyun mendarat pada salah satu bagian tubuhnya. Jemari pemuda itu bergerak di antara rambut panjangnya yang diurai rapi—yang mungkin hal ini agak sedikit kurang ajar dilakukan oleh seorang pemuda yang bahkan tak pernah dikenalinya sebelumnya—tetapi entah kenapa, ia justru merasa amat nyaman dan menyukai sentuhan lembut yang diberikan oleh sosok pemuda itu kepadanya.

“Jadi kau ingin membeli bunga apa, Tuan?” gadis itu mendadak berujar pelan dan meraih tongkat pembantunya untuk berjalan lagi, ia melangkah pelan dan menunjukkan beberapa bunga yang berada di dekatnya dan menjelaskan keseluruhannya lagi dengan penjelasan yang tepat—seakan ia sudah hafal dengan segala jenis bunga yang ada di kedainya tanpa perlu melihat lagi.

“Hm,” Baekhyun berdeham pelan dan menggaruk kulit kepalanya yang sama sekali tidak gatal. “Aku ingin membeli sebuket bunga untuk seseorang,” ia berujar pelan, agak sedikit malu-malu.

“Untuk siapa? Kekasihmu?” gadis itu menyela ucapannya dan sedikit tergelak geli di sana. Mungkin ia memang tak bisa melihat dengan kedua matanya lagi, namun merasakan aura kegugupan seseorang? Ia bahkan sudah sangat ahli dalam melakukan hal yang satu itu. Bertahun-tahun sudah ia bertemu dengan ribuan pemuda yang ingin menyatakan perasaannya pada calon kekasih mereka yang pertama. Dan besar kemungkinannya jika pemuda yang satu ini—yang entah berapa umurnya—juga akan melakukan hal yang sama dengan ribuan pria lainnya di Kota Seoul.

“Bukan. Tentu saja bukan!” pemuda itu tiba-tiba berseru kepadanya, suara beratnya terdengar khas sekali di antara hiruk pikuk Minggu pagi Kota Seoul yang mulai ramai.

“Aku ingin membelikannya untuk ibuku.” Sepasang manik hitam milik Baekhyun menatap gadis itu penuh harap. Lagi-lagi, di antara hubungan penjual-pembeli yang sedang terjadi dari mereka, Baekhyun mulai merasakan hal yang lain lagi pada diri gadis itu—tentu saja bukan rasa kasihan karena gadis itu buta atau apa, tetapi ada sesuatu yang benar-benar aneh di sana—sebuah perasaan yang bisa saja meremukkan isi pencernaannya hanya dalam waktu beberapa detik. Baekhyun merasa isi perutnya sudah diputarbalikkan kali ini, benar-benar aneh. Dan sejujurnya ia juga merasa agak malu untuk menanyakan hal yang sedang berputar di dalam kepalanya sekarang, tetapi justru, ia tak memiliki pilihan lain kecuali bertanya kepada gadis itu.

“Tetapi masalahnya aku tak memiliki cukup informasi mengenai bunga kesukaan ibuku. Jadi…”

“Iya?” gadis itu mengangkat kepalanya dan mengangguk pelan kepada Baekhyun.

“Jadi aku ingin bertanya, bunga apa yang biasanya paling disukai oleh para gadis atau wanita pada umumnya?” ia berujar cepat sekali ketika bertanya, Baekhyun bahkan sudah tak menghiraukan lagi deru nafasnya yang terdengar berembus tak beraturan—ia gugup? Tentu saja.

“Kurasa,” gadis itu memainkan buku-buku jarinya yang pucat. “Kebanyakan para gadis menyukai bunga mawar, karena umumnya orang-orang menganggapnya sebagai lambang cinta sejati. Namun jika aku diperbolehkan untuk berpendapat, dibandingkan mawar merah, lebih baik Tuan memilih sebuket mawar putih untuk diberikan kepada ibumu. Karena mawar putih melambangkan cinta sejati, kemurnian, kesungguhan, kesucian, kelembutan, dan kerendahan hati. Dan kurasa, setiap wanita akan sangat menyukai makna mawar yang satu itu.”

“Tetapi bagaimana dengan mawar merah muda?” Baekhyun mulai berani untuk bertanya kepada gadis itu lagi.

“Itu artinya, kau menganggap ibumu juga sebagai sahabatmu sendiri. Makna yang indah juga,” gadis itu mengembuskan nafasnya perlahan dan tersenyum kepada Baekhyun lagi. Bias matahari pagi yang mulai memancar melalui kanopi kedai bunga yang tipis semakin mempercantik wajahnya yang terlihat tulus sekali. Benar-benar menakjubkan bagi Baekhyun.

“Jika begitu aku memilih keduanya saja. Kurasa akan lebih baik untuk menganggap ibuku sebagai lambang dari kedua mawar indah tersebut.” Seulas senyum indah tertarik dari kedua sudut bibir pemuda itu, wajahnya terlihat cerah sekali ketika gadis itu menganggukkan kepalanya setuju dan balas tersenyum kepada Baekhyun.

“Aku benar-benar tak menyangka bahwa apa yang akan kaupilih akan sama seperti yang kupilih,” ia menangkupkan kedua tangannya di dada, sedikit menahan angin musim semi yang berembus pelan dari balik bunga-bunganya yang berjejer rapi di atas etalase besi.

“Kautunggu di sini sebentar, aku akan merangkaikan bunga-bunga ini untukmu.” Lagi-lagi ia berujar pelan sembari meraih dua pot mawar merah muda dan putih yang berada di hadapannya.

“Tetapi bagaimana bisa?” Baekhyun memutar bola matanya tak percaya, ia masih menatap gadis itu hati-hati sekali ketika sosok mungilnya memasuki pintu bagian dalam toko dan mulai bergerak menyusun  bunga-bunganya dari sebuah meja kecil di balik jendela. Intuisi dan logikanya jelas-jelas sedang berperang besar dalam menentukan ‘strategi’ apa yang sebenarnya digunakan oleh gadis itu dalam menyusun mawar-mawarnya, merangkai satu persatu kuntum seakan tanpa kesulitan atau pun hambatan.

Pemuda itu menggigit bibir tipisnya khawatir. Entah karena alasan apa, ada perasaan lain yang mendera hatinya ketika jemari lentik gadis itu mulai bergerak merangkai mawar-mawar itu perlahan. Mungkin hal itu terasa agak sedikit berlebihan, tetapi bagaimana jika duri-duri mawar itu mengenai kulit tipis gadis itu? Bukankah tubuhnya saja sudah menggigil ketika angin hujan berembus memasuki pori-pori kulitnya? Ia benar-benar khawatir, hingga menyebabkan jantungnya terus bertalu kencang tak beraturan.

Ia bimbang—benar-benar bimbang dengan kondisi gadis itu.

Hingga tiba-tiba saja, gadis itu sudah menghampirinya lagi dengan sebuket besar mawar cantik yang sudah dirangkai sedemikian rupa. Ia sudah menggeser tongkat pembantu jalannya dan menyerahkan mawar-mawar itu kepada Baekhyun. Dan kembali, pemuda itu dibuat terpesona dengan kemampuan luar biasa yang dimiliki oleh gadis perangkai bunga yang tak bisa melihat tersebut. Merah muda dan putih telah berpadu di dalam satu wadah plastik besar berhiaskan sebuah pita merah muda cerah yang entah bagaimana caranya dapat disusun tak bercela oleh seorang gadis buta. Sempurna.

“Terima kasih.” Tak banyak kata yang dapat diucapkan oleh pemuda itu selain kata biasa yang satu itu.

Ia benar-benar kehilangan kemampuannya untuk berkata-kata lagi, logikanya sudah dihancurkan oleh seorang gadis buta cantik yang telah merubah sebagian besar pandangannya mengenai hidup dalam kurun waktu hanya sekitar sepuluh menit saja. Di dalam otaknya, ia masih terus bertanya dan terus bertanya. Bagaimana bisa ia melakukan hal ini? Bukankah matanya sudah tak dapat berfungsi lagi?

“Jika kau ingin bertanya bagaimana bisa aku melakukan hal ini, maka akan kujawab karena aku sudah terbiasa merangkai bunga bersama nenekku semenjak lima belas tahun yang lalu.” Seakan dapat membaca pikiran Baekhyun, gadis itu langsung berujar santai dan meleburkan seluruh pergulatan pikiran yang sedang terjadi di dalam otak pemuda itu. Gadis tersebut kemudian melanjutkan penjelasannya lagi, “Tetapi jauh di balik alasan terbiasa yang kukatakan sebelumnya, ada satu alasan lagi yang membuatku mampu melakukan hal seperti itu,”

“Apa itu?” sang pemuda langsung mengangkat kepalanya dan mendengarnya lagi dengan lebih perhatian, seakan gadis itu sedang akan memberitahukannya sebuah rahasia besar mengenai bagaimana caranya tinggal di surga tanpa harus berbuat kebaikan terlebih dahulu di dunia.

“Aku melakukan segalanya dengan hatiku—aku melihat bunga-bunga itu dengan hatiku—dan segalanya berjalan begitu saja. Merangkai mawar-mawar itu sama artinya seperti menikmati setiap keharuman dan kelembutan yang kurasakan dari setiap kuntum bunga yang berada di dalam genggamanku.”

Gadis itu menghela nafasnya perlahan dan terdiam selama beberapa saat, “Aku merangkai bunga dengan mengandalkan indera penciuman dan rabaanku, bukan penglihatan lagi. Dan hal ini sudah sering kulakukan semenjak beberapa tahun yang lalu,” ia tersenyum tipis seraya merapikan rambut panjangnya yang sedikit bergoyang diterbangkan oleh angin.

Belum selesai Baekhyun mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh gadis itu, tiba-tiba saja ia sudah menyelesaikan penjelasannya dan memilih untuk langsung menyerahkan sebuket mawar itu kepada Baekhyun yang berdiri di dekatnya. “Sepertinya kau hanya perlu tahu hal tersebut sebatas itu saja, Tuan. Dan sekarang, sampai jumpa.” Bisikan pelannya terasa begitu menghangatkan diri Baekhyun ke dalam relung bayangannya yang paling dalam ketika suara itu memasuki sebelah telinganya.

Ia merasa benar-benar nyaman dan tak ingin segera beranjak dari kedai bunga yang satu itu. Ia masih ingin di sana—bersama seorang gadis asing yang bahkan tak ia ketahui namanya tersebut. Setidaknya hingga gadis itu menjelaskan segalanya kepadanya, bukan setengah-setengah seperti ini.

“Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu?” Baekhyun tiba-tiba memutuskan untuk menanyakan hal tersebut kepada sang gadis penjual buket mawarnya. Dan tepat sasaran, pertanyaan itu sepertinya benar-benar mengenai isi hati sang perempuan. Gadis itu langsung terdiam dan memilih untuk tak bersuara.

“Mungkin kau bisa mengatakannya kepadaku, Ahgassi. Aku berjanji tak akan memberitahukan siapa pun mengenai hal ini, aku berjanji.” Baekhyun memilih untuk semakin mendesaknya untuk berbicara. Namun sepertinya, gadis itu sama keras kepalanya seperti Baekhyun, karena sama seperti yang sebelumnya, ia masih terus mempertahankan dirinya untuk tak berbicara.

“Ada banyak hal di dunia yang tak perlu kau ketahui, Tuan. Jadi, pergilah dulu.” Gadis itu tiba-tiba berdesis pelan di antara keheningan yang sempat mereka ciptakan. Air mukanya sudah mulai berubah menjadi agak sedikit lebih sendu, putus asa, lalu yang pasti, menyedihkan. Hingga dengan sedikit berat, Baekhyun akhirnya memilih untuk sedikit melangkah mundur mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh sang gadis kepadanya. Baekhyun jelas tak memiliki satu alasan pun untuk menolak pendapat yang diberikan oleh gadis itu, semenjak ia juga sadar bahwa dirinya hanyalah orang asing yang sebenarnya sama sekali tak pantas bertanya mengenai ini-itu kepada seorang gadis buta yang notabene-nya hanyalah seorang penjual bunga yang baru saja dikenalnya—ralat, ditemuinya. Karena sekarang, gadis itu sudah selangkah lebih maju dibandingkannya untuk menyudahi pembicaraan mereka.

“Tuan?”

“Hm,” Baekhyun berdeham pelan dan menatap gadis itu perhatian, berharap ia akan mengungkapkan alasannya menjadi buta saat ini juga. Namun ternyata, apa yang ia inginkan kali ini belum dapat terwujudkan juga, karena gadis itu hanya tersenyum kecil dan berbisik pelan kepadanya, “Jika kau ingin tahu, maka temui aku besok pagi di tempat ini.”

“Kau…” Baekhyun nyaris tak dapat menahan dirinya untuk memekik keras, “kau serius?”

Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya pelan, lalu lagi-lagi, ia menampakkan senyum cerahnya kepada Baekhyun—bahkan kali ini jauh lebih cerah dibandingkan yang biasanya. Karena gadis itu sudah semakin melebarkan senyumnya hingga deretan gigi putih rapinya terlihat jelas dari dalam sana. Ia meraih sebelah tangan Baekhyun yang tak memegang buket mawarnya—walaupun agak sedikit kesulitan—kemudian tak lama, ia bergumam pelan di sana.

“Mungkin agak terlambat bagiku untuk menanyakan hal ini kepadamu, tetapi—siapa namamu?”

Baekhyun benar-benar nyaris tergelak ketika gadis itu menanyai nama lengkapnya. Perasaan senangnya kali ini benar-benar tak dapat terbentengi lagi, karena segalanya telah tumpah seperti lava panas yang baru saja terlempar dari dalam gunung api yang baru saja meletus. Wajahnya sudah pasti sudah memerah melampaui rona kulit wajahnya yang biasa. Dan kali ini, setidaknya ia merasa amat bersyukur karena gadis itu tak dapat melihat dan menyadari seaneh atau segirang apa ekspresinya sekarang.

“Byun Baekhyun, Ahgassi. Namaku Byun Baekhyun!” ia berujar penuh semangat dan menyalami tangan kanan gadis itu perlahan. Genggaman tangan mereka sempat tertahan selama beberapa saat, hingga pada akhirnya Baekhyun memutuskan untuk beranjak pergi dari sana setelah menyadari bahwa sekarang sudah pukul delapan pagi dan sudah saatnya ia menemui sang ibu lagi—seperti kegiatan mingguannya seperti biasa.

Hari ini—seorang pemuda bernama Byun Baekhyun benar-benar merasa terberkati oleh Tuhan karena telah dipertemukan oleh seorang gadis penjual mawar secantik dan sebaik hati sosok gadis itu. Tanpa pernah tahu, sebahagia apa pun ia, masih ada sosok lain yang lebih bahagia dibandingkan dirinya hari itu. Dan sosok yang paling bahagia itu ialah gadis yang dikagumi oleh Baekhyun sendiri. Karena setelah sekian lama, harapannya yang sudah nyaris hancur dimakan musim telah tumbuh kembali, seperti mawar-mawar yang setiap hari dijaganya dengan sepenuh hati.

Ia merasa bahagia karena pemuda yang satu itu sudah kembali. Tak jelas memang, tetapi begitulah kenyataan yang sebenarnya.

——————–

Umma,” jemari Baekhyun bergerak pelan meraih beberapa daun kering yang berada di hadapannya. Perasaan bersalah yang besar tiba-tiba segera menyergap hatinya dalam satu waktu, kedua manik hitam pekat miliknya bergerak pelan meneliti bagian makam mana lagi yang harus ia bersihkan. Sebagai seorang putera satu-satunya yang dimiliki oleh ibunya, ia merasa benar-benar berdosa meninggalkan makam orangtuanya setelah sekian lama memilih untuk tinggal di Jeju bersama keluarga paman dan bibinya.

Dan hari ini adalah hari keempat ia mengunjungi pemakaman ini lagi semenjak ia memutuskan untuk kembali ke Seoul di usianya yang baru saja menginjak dua puluh tiga tahun.

Ia masih menatap hampa gundukan tanah berumput hijau itu selama hampir sepuluh menit, hingga tiba-tiba, sosok gadis itu melintasi pikirannya lagi. Bayangan senyum indahnya, kerjapan matanya yang tulus, rambut panjang hitamnya yang bergoyang lembut, segalanya masih sangat berbekas di dalam benaknya. Dan sepertinya hal itu sangat disayangkan untuk dilewati begitu saja tanpa diceritakan terlebih dahulu kepada sang ibu.

Umma,” pemuda itu kembali berbisik pelan, “kautahu, aku baru saja bertemu dengan seorang gadis paling mengagumkan di dunia—setelahmu, tentu saja—ia baik sekali, dan ia juga yang ikut merangkaikan mawar cantik yang kubawakan ini untukmu.”

“Kautahu, Umma,” Baekhyun mengembuskan nafasnya perlahan, bersamaan dengan beberapa kupu-kupu yang bergerak mendekati mawar-mawarnya. “Gadis itu buta. Namun caranya mengenali dan menerima dunia ini bahkan jauh lebih baik dibandingkan orang-orang pada umumnya di dunia, termasuk aku, bocah kecilmu yang nakal ini,” ia terkekeh geli pada candaannya sendiri.

“Semenjak kau bercerai dengan appa ketika umurku masih delapan tahun dulu, segalanya benar-benar menghancurkan dunia anak-anakku yang sebelumnya indah. Aku memang tak mengerti hal apa pun saat itu, Baekhyun kecil tak pernah paham bahwa jika saja pernikahan berbeda tujuan itu dipertahankan maka akibatnya akan jauh lebih parah dibandingkan sekarang. Namun segalanya sudah berakhir, bukan?” ia berbicara seakan hendak menanyai dirinya sendiri.

Baekhyun merasa jantungnya mulai akan berdegup tak beraturan lagi, “Dan aku benar-benar tak akan melupakan jasa Taeyeon Noona,” ia tersenyum kecil berusaha mengingat sosok sahabat, kakak, sekaligus cinta pertamanya ketika usianya baru dua belas tahun dulu. “Ia yang selalu hadir membawakanku mawar-mawar kesukaannya ketika aku mendapatkan giliran untuk menemuimu ke Kota Seoul setiap Minggu pagi. Dan Demi Tuhan, aku bahkan masih ingat sekali apa alasannya mendatangiku setiap minggu seperti itu—ia selalu berkata bahwa bermain bersama anak-anak perempuan lain tak semenyenangkan bermain denganku!”

“Dulu, ia alasanku untuk selalu tersenyum. Dan sekarang pun masih selalu begitu, walaupun aku tak pernah tahu keberadaannya lagi—mengingat wajahnya pun aku tak mampu—tetapi ia masih tetap berada di dalam relung terdalam hatiku.”

Berusaha menahan air matanya yang hendak mengalir, Baekhyun mengusap nisan berukuran sedang yang berada di dekatnya. “Aku jadi merasa agak bersalah kepadanya, Umma. Kau tahu, ‘kan, beberapa saat yang lalu aku baru saja mengatakan kepadamu bahwa aku jatuh hati lagi kepada seorang gadis cantik penjual bunga yang kutemui tadi pagi. Mungkin karena aku merasa mengenali gadis itu seperti aku mengenali Taeyeon Noona, maka aku dapat dengan mudah menyukainya begitu saja, seperti air sungai yang mengalir tanpa hambatan.”

“Kuharap Taeyeon Noona—di mana pun ia berada—akan bersedia memaafkanku karena aku jatuh cinta lagi dengan gadis lain yang mengingatkanku kepadanya.”

“Tetapi sampai kapan pun juga, Taeyeon Noona akan tetap menjadi mawarku yang paling cantik. Ia tetap malaikat terindahku yang selalu berusaha mempertahankanku untuk terus bahagia,” Baekhyun meletakkan buket bunganya di atas makam sang ibu seraya melebarkan senyumnya selama beberapa saat. “Umma, kurasa, sudah saatnya aku menyelesaikan cerita ini dan pergi—tentu saja untuk hari ini. Mungkin besok aku akan segera kembali.”

“Jadi jaga dirimu baik-baik di sana, Umma. Dan ingat, rahasia mengenaiku, Taeyeon Noona, dan gadis baik hati itu akan tetap menjadi sesuatu yang hanya diketahui oleh kita berdua saja. Dan kuharap, jikalaupun ada sesuatu yang ingin membuka rahasia itu, maka satu-satunya sosok yang akan kuminta untuk membukanya hanyalah waktu. Biarkan saja ia yang membukanya dan berbicara mengenai masa depanku nanti.”

Perlahan namun pasti, Baekhyun beranjak dari makam sang ibu lalu menatapnya sejenak, ada senyum misterius yang tergurat dari wajahnya yang tergolong cukup tampan ketika ia mengusap nisan makam sang ibu sekali lagi. Dengan berbicara kepada ibunya—walaupun tanpa ada satu jawaban pun yang akan membalas perkataannya—ia juga merasa sudah cukup puas. Kisah cintanya hingga saat ini akan terus menjadi sebuah rahasia, sampai suatu saat nanti—yang entah kapan akan terjadi—Tuhan akan membukakannya tabir penuh rahasia itu.

Lalu pada akhirnya, ia tahu kebenaran yang ada. Tanpa sesuatu yang ditutupi, tanpa ada rahasia lagi.

——————–

Tepat di pukul tujuh pagi hari Senin yang masih tak terlalu ramai, Baekhyun akhirnya tiba juga di depan kedai bunga yang kemarin dikunjunginya itu. Ia benar-benar tak akan melupakan janjinya bersama gadis itu, bahwa hari ini mereka akan bertemu lagi di depan kanopi kedai. Terlebih, keadaan cuaca hari ini juga dapat dikatakan nyaris mendekati sempurna. Tak terlalu dingin namun juga tak terlalu panas. Pengaturan yang tepat untuk melakukan proses ‘kencan’ pertamanya bersama gadis itu.

Ia baru saja hendak beranjak dari mobil jeep-nya saat ini ketika tiba-tiba, sosok gadis itu keluar dari kedai bunganya dengan gaun putih pendek sebatas lutut yang membalut tubuh rampingnya yang terhitung nyaris sempurna. Ia tersenyum dari kejauhan ketika Baekhyun pada akhirnya berseru keras dan mengatakan kepadanya bahwa pemuda itu sudah datang tepat di pukul tujuh Senin pagi—sesuai dengan permintaannya.

Perlahan, gadis itu meraih tongkatnya dan berusaha untuk melangkah lebih dekat mengikuti suara derap sol sepatu Baekhyun yang sepertinya bergerak cepat sekali mendekati dirinya. Hingga tiba-tiba saja, tak terhitung satu menit semenjak pemuda itu berseru girang kepadanya, sepasang lengan besar seseorang telah menahan bahunya untuk terus bergerak. Dan tanpa perlu untuk melihatnya pun, ia juga sudah tahu bahwa sosok itu ialah ‘Byun Baekhyun-nya’. Sesosok pemuda yang sudah lama sekali dinantinya untuk kembali dan memeluknya erat seperti masa-masa indah mereka dulu—ketika mereka masih bersama, sebagai sepasang sahabat, kakak-beradik, dan mungkin juga, sebagai pecinta yang saling menyukai satu sama lain secara diam-diam.

“Aku di sini, Rose,” suara berat pemuda itu berpadu lembut bersama embusan musim dingin yang memasuki telinganya. Seketika, nafas gadis itu langsung terasa tercekat ketika Baekhyun menyebutkan nama itu lagi kepadanya. Rasanya sudah lama sekali semenjak pemuda itu tak memanggilnya dengan sebutan indah itu lagi, dan sekarang, ketika ia kembali dan tak terlalu mengingat banyak hal, ia benar-benar menyebutkannya lagi. Baekhyun benar-benar menyebutkannya.

“Baekhyun ssi,” gadis itu tetap berusaha menahan nada bicaranya agar terdengar seperti biasa.

“Ada apa?” pemuda itu lantas segera mendongakkan kepalanya dan menatap wajah gadis itu perlahan. Sejenak, dirinya mulai menangkap sesuatu yang terasa amat dekat dan familiar dari dalam diri gadis itu. Ia benar-benar tak asing. Namun sekali lagi, Baekhyun tetap berusaha menepisnya dan menganggap tak ada satu hal pun yang aneh dari sana. Tenangkan dirimu, Byun Baekhyun, ia memperingati dirinya sendiri.

“Apakah kau tak menyukai sebutan ‘Rose’ yang kuberikan untukmu?”

Gadis itu terdiam dan menutup bibir kemerahannya rapat-rapat. Bohong sekali jika ia mengatakan kepadanya bahwa ia tak menyukai sebutan indah itu, lintasan hal itu langsung terbayang di dalam benaknya.

Perlahan, bersama dengan hitungan detik yang terjadi di antara mereka, gadis itu mulai menggelengkan kepalanya pelan dan sedikit menyibakkan poninya yang agak menutupi sebagian besar wajahnya. Seulas senyum cantik terbit dari wajahnya yang beraura lembut, “Tentu saja tidak. Aku sangat, sangat, sangat menyukai sebutan itu,” ia tahu ada sesuatu yang aneh yang mulai terjadi di jantungnya lagi dan hal itu sama sekali tak dapat disebut sebagai sesuatu yang aman lagi semenjak ia merasa pipinya mulai memanas. “Terima kasih untuk sebutan indah itu, Byun Baekhyun. Gomawo.”

Cheonmaneyo, Rose.” Baekhyun berseru pelan kepadanya, otot tubuhnya jelas menegang selama beberapa saat menanti jawaban apa yang akan diberikan oleh gadis itu kepadanya. Dan syukurlah, gadis itu menyukai sebutan ‘Rose’ yang disebutkannya untuk gadis itu. Walaupun entah karena apa, ada hal lain yang baru saja ditangkapnya dari kedua sudut mata sang gadis yang mulai bergerak gelisah.

“Rose?”

Gadis itu mendongakkan kepalanya lagi, “Ada apa?” sahutnya pelan sembari menyedekapkan kedua tangannya di dada. Tubuhnya agak sedikit menggigil ketika udara dingin kembali menusuk kulit tipisnya di beberapa bagian tubuhnya yang tak tertutupi oleh gaun pendeknya.

“Kurasa kau kedinginan, Rose.”

“Aku tidak apa-apa, Baekhyun ssi.”

“Jangan berbohong kepadaku,”

“Aku tidak berbohong.”

“Rose!” Baekhyun langsung meninggikan suaranya ketika gadis itu mulai menggelengkan kepalanya lagi, ia benar-benar tak habis pikir mengapa gadis sepertinya akan sekeras kepala ini dalam mengungkapkan hal apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam dirinya. Lidah gadis itu boleh saja berkata ia tak kedinginan sama sekali—tetapi tubuhnya, apakah akan terus dapat bertahan untuk tidak menggigil? Baekhyun rasa tidak sama sekali.

“Aku tahu kau kedinginan,” pemuda itu segera melepaskan jaket tebalnya dan menutupi tubuh mungil gadis yang berada di hadapannya itu dengan pakaiannya, sementara dirinya sendiri kini hanya berbalutkan pakaian sehari-harinya seperti biasa—kemeja pendek kotak-kotak merah, celana jeans biru muda, dan sepatu sneakers yang talinya diikat rapi—ia boleh saja kedinginan, tetapi gadis itu tak boleh sama sekali, begitulah nalurinya memperingatkan dirinya.

“Jadi,” Baekhyun mulai menggerakkan jemarinya kiku, setelah beberapa lama bertindak layaknya seorang pria sejati kepada kekasihnya, “kita akan ke mana sekarang?”

“Kau tahu taman kota tua yang berada di pinggir Kota Seoul?” Baekhyun menganggukkan kepalanya pelan, berusaha mencerna hal apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh gadis itu di dalam taman kota sekecil itu. “Bisakah kau membawaku ke sana?” ‘Rose-nya’ lagi-lagi bertanya kepadanya tanpa memberi penjelasan.

“Tentu saja bisa. Tetapi untuk apa kita ke sana?”

Jemari gadis itu bergerak meraih jemari Baekhyun perlahan dan mendekapnya erat-erat, “Kau akan tahu nanti,” ia mengusap kulit Baekhyun perlahan dan menggenggamnya cukup lama. “Jadi bawa dulu aku ke sana.”

——————–

            Ketika mereka tiba di sana, taman kota terasa benar-benar sepi—tanpa sedikit pun yang mengunjungi—kecuali mereka berdua. Byun Baekhyun dan seorang gadis yang disebutkannya sebagai ‘Rose’. Mereka menggenggam tangan satu sama lain dan membiarkan lamunan diri mereka masing-masing memperdalam suasana.

Hari itu, di dalam benaknya, sang gadis benar-benar merasa seperti seseorang yang paling beruntung di dunia ini. Karena ia telah dapat melaksanakan janjinya dulu lagi, ia tiba di taman kota yang telah ditinggalkannya nyaris sepuluh tahun lebih lamanya bersama orang yang sama—ia bersama Byun Baekhyun lagi—seorang lelaki yang sudah amat dirindukannya. Dan pemuda itu kembali serta menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja sudah sekedar lebih dari cukup untuknya. Ia puas—amat puas. Ia bahagia karena Baekhyun hadir tanpa berkekurangan apa pun.

Baekkie ya,” ia akhirnya memutuskan untuk menyebutkan sebutan kecil mereka lagi kepada Baekhyun. Walaupun ia tahu, Baekhyun benar-benar tak akan mengingat segala hal yang pernah terjadi di antara mereka sepenuhnya. Peristiwa itu sudah lama sekali terjadi, sepuluh tahun yang lalu, jadi mustahil Baekhyun akan dapat mengingatnya secepat yang ia inginkan.

Di lain sisi, tubuh Baekhyun pun masih bergetar tak percaya di saat gadis itu memanggilnya menggunakan nama kecilnya kembali. Darimana ia tahu hal itu? Hati kecilnya berujar penuh tanda tanya dari dalam sana. Tak banyak dari orang-orang yang pernah berada di dekatnya yang pernah memanggilnya dengan sebutan nama itu, bahkan ayahnya sendiri pun tak pernah tahu akan sebutan itu. Kecuali jika gadis itu ialah ibunya, atau mungkin… Taeyeon Noona-nya.

Tetapi, bukankah segalanya mustahil? Bukankah paman dan bibinya telah memberitahunya bahwa Taeyeon Noona-nya telah pergi entah ke kota mana dan tak akan kembali lagi?

“Rose,” Baekhyun menggumamkan nama pemberiannya kepada gadis itu kembali, berharap ia akan sesegera mungkin melepaskan sosok Taeyeon Noona dari dalam dirinya. Ia tak boleh lagi menjebak dirinya kepada sahabat masa kecilnya, kakak kesayangannya, cinta pertamanya. Tidak boleh. Sosok gadis kecil itu kini hanyalah ilusi belaka yang seringkali menghantuinya selama beberapa lama setelah kecelakaan yang berlangsung sepuluh tahun yang lalu itu, dan sekarang ia sudah harus melupakan Taeyeon.

Tidak ada lagi Kim Taeyeon di sana.

——————–

 

Menyadari Baekhyun yang sudah terdiam semenjak ia menyebutkan nama itu lagi, gadis itu akhirnya memutuskan untuk meraba pundak pemuda itu dan menepuknya sekitar tiga kali. Hingga beberapa saat kemudian, pemuda itu langsung tergelak dari khayalannya dan secepat mungkin membuyarkan lamunannya. Baekhyun sekarang mulai berusaha menguasai dirinya lagi dan menatap gadis itu dengan sedikit merasa bersalah, betapa berdosanya ia karena telah mengabaikan seorang gadis yang seharusnya tak boleh ia abaikan sama sekali.

Mianhae,” ia berujar penuh penekanan seraya mengusap jemari gadis itu lembut.

“Tidak apa-apa, Byun Baekhyun. Hanya saja, aku ingin bertanya kepadamu, hal apa yang sekarang kau lihat di sini?” gadis itu berbisik lembut dan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Baekhyun, berharap bahwa ia akan mengatakan sesuatu yang dapat meredakan degupan kekhawatiran kencang yang sedang mendera jantung gadis itu. Katakan sesuatu, Baek, ia membatin penuh harap.

“Ada beberapa ayunan panjang di sana. Dan entah mengapa, kurasa aku mengenalnya—maksudku, benar-benar mengenalnya. Lebih dari sekedar yang kutahu saat ini,” Baekhyun menelan ludahnya gugup. “Kurasa jauh beberapa tahun sebelum saat ini, aku sudah pernah mengunjungi tempat ini lama sekali. Sepertinya tak hanya sekali atau dua kali, namun berkali-kali. Berpuluh-puluh kali.”

Lamat-lamat gadis itu mulai menangkap sesuatu berbeda yang sedang terjadi di antara dirinya dan pemuda itu, Byun Baekhyun-nya. Genggaman tangan yang diberikan oleh Baekhyun kepadanya terasa semakin kencang ketika udara semakin bergerak dingin di antara mereka. Cuaca pagi yang tadinya terbilang cukup sempurna kini mulai memunculkan awan gelapnya yang sama sekali tak indah. Tubuh Baekhyun bergetar, sama halnya dengan tubuh gadis itu yang bergetar cepat. Mereka kini saling mengenggam tangan satu sama lain, dan tak berniat untuk melepaskannya sama sekali. Putaran memori masa kecil mereka kini mulai bermain. Dan segalanya terasa begitu putih dan terang, tanpa adanya keraguan, tanpa adanya ketakutan.

Ketika dunia mereka masih putih, bukan abu-abu atau pun hitam, persahabatan dan cinta mereka mulai terjalin.

——————–

Past

Kenangan pertama langsung dimulai ketika Baekhyun kecil—yang saat itu berusia delapan tahun—baru saja melangkahkan kakinya keluar dari rumah sang ibu yang berada di sebuah kompleks perumahan sederhana yang terletak tak seberapa jauh dari pusat Kota Seoul. Ia menghentak-hentakkan kaki kecilnya yang dibalut sepatu mahal penuh amarah ketika sang ibu melarangnya untuk membeli donat cokelat, jajanan kesukaannya, sebab sang ayah tak mengizinkannya untuk makan cokelat hari itu semenjak semalam ia baru saja didiagnosa terjangkit alergi pada jenis-jenis cokelat tertentu.

Ia marah—benar-benar marah. Hingga menyebabkannya tiba-tiba, secara tidak sengaja, menabrak tubuh mungil seorang gadis yang sedang memetik beberapa mawar di depannya. Gadis itu memekik keras sekali hingga menyebabkan telinga Baekhyun hampir saja lepas jika saja ia tak segera menutup keduanya dengan sepasang tangan miliknya.

“Kau jahat sekali!” gadis kecil itu memekik kesal sembari membereskan gaun sebatas lututnya yang kini sudah dipenuhi oleh potongan semak mawar yang patah karena tertimpa oleh tubuh kecilnya dan Baekhyun. Ditambah lagi, kulit putih pucatnya sudah tergores oleh duri-duri mawar di beberapa tempat, hingga menyebabkan sosok gadis kecil itu harus menahan sakit selama  beberapa lama akibat luka goresan yang terbuka di bagian tubuhnya—ia berdarah.

Masih agak sedikit terkejut dengan situasi sebenarnya sedang terjadi, Baekhyun pun segera bangkit dari atas rumput seraya menghampiri gadis kecil itu hati-hati. Ia mengerjapkan mata jernihnya lama sekali di saat pada akhirnya ia menyadari bahwa dirinya telah melukai tubuh seorang anak perempuan.

Mianhae, Rose!” ia berseru keras sekali dan segera mengganggam jemari gadis kecil itu kuat, tanpa menyadari hal apa yang baru saja disebutkannya tadi.

“Rose?” kali ini giliran sang gadis kecil lah yang mengerjapkan matanya tak mengerti. Tubuhnya memang agak sedikit kesakitan setelah menerima beberapa luka lecet dan gores akibat tabrakan—secara tak sengaja—oleh bocah lelaki itu. Tetapi rasa penasarannya mengenai makna kata ‘Rose’ membuat rasa sakitnya langsung menghilang seketika. Jelas-jelas gadis kecil itu manusia, bukan bunga mawar!

“Hm, begini,” bocah lelaki kecil itu berdeham pelan dan menggaruk bagian belakang lehernya yang sama sekali tidak gatal. “Aku memanggilmu ‘Rose’ karena sama sekali tak mengetahui namamu yang sebenarnya. Jadi, kupanggil kau dengan sebutan itu saja ya?” Baekhyun berujar pelan dan berusaha membuat gadis kecil itu mengerti dengan hal apa yang sebenarnya ingin dijelaskannya kali ini.

Seulas senyum kecil tiba-tiba terbit dari wajah polos gadis itu. Ia masih meringis kesakitan, namun juga turut merasa ikut senang menyadari bahwa kata ‘Rose’ memiliki sebuah makna yang cukup bagus untuknya. “Aku mengerti. Dan, oh ya, namamu siapa?”

“Byun Baekhyun!” bocah lelaki itu melompat girang dan segera menyalami jemari gadis kecil itu cepat.

“Nama yang bagus. Perkenalkan, namaku Kim Taeyeon.”

“Ah, Kim Taeyeon!” Baekhyun memekik senang kepadanya seraya tersenyum lebar sekali. Entah bocah lelaki itu yang hiperaktif atau Taeyeon yang benar-benar berhasil menarik perhatiannya, Baekhyun masih terus tersenyum cerah beberapa lama ketika Taeyeon mengutip mawar-mawar putihnya yang berjatuhan dari balik keranjang.

“Taeyeon ssi,” Baekhyun bergumam pelan dan mengerutkan kedua alis hitamnya penuh tanya. Ia kini telah menyilangkan kedua kaki pendeknya di atas rerumputan bersama dengan Taeyeon yang sedang merapikan pakaiannya sembari duduk di atas sebuah ayunan panjang di hadapan Baekhyun. “Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan dengan mawar-mawar ini?”

Mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Baekhyun kepadanya, Taeyeon, sang gadis kecil, segera menginjakkan kedua kakinya di atas tanah dan duduk tepat di hadapan Baekhyun. “Kautahu, halmeoni-ku seorang penjual bunga! Jadi, aku ingin belajar merangkai bunga sepertinya juga!” gadis kecil itu menjelaskan segalanya dengan penuh semangat, hingga Baekhyun ikut menganggukkan kepalanya tak kalah bersemangat pula.

Lalu di saat yang bersamaan, Baekhyun menepukkan kedua tangannya cepat. Ia kembali menatap wajah Taeyeon penuh kekaguman, “Hebat sekali! Rangkaian bungamu pasti akan terlihat sangat cantik!” wajah mungil Taeyeon mulai memerah ketika mendengar pujian yang diberikan oleh Baekhyun kepadanya ini. “Terima kasih, Baekkie ya.” Ia berujar lembut dengan agak tersipu malu.

“Omong-omong, umurmu berapa?” Baekhyun bertanya lagi kepadanya. Mungkin ia terlalu gembira  karena berhasil menemukan sosok teman sebayanya untuk yang pertama kali di kompleks tempat tinggal ibunya yang beberapa bulan lalu bercerai dengan sang ayah dan memutuskan untuk pindah ke Kota Seoul dibandingkan tetap bertahan di Jeju, tempat tinggal mereka yang lama.

Desah nafas teratur terdengar dari sana, Taeyeon tersenyum cerah sekali, hingga Baekhyun merasa layaknya disinari oleh cahaya matahari yang lembut namun menghangatkan dalam satu waktu. Gadis kecil itu kini menekuk kedua lututnya dan langsung memeluknya dengan kedua lengan kecilnya yang putih bersih, “Umurku sembilan tahun. Bagaimana denganmu?”

“Aku delapan tahun! Jadi, bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan ‘Taeyeon Noona’, Rose?” Baekhyun memainkan jemarinya gugup, bibirnya bahkan sempat memutih selama beberapa detik di saat kedua manik hazel terang milik Taeyeon menemui matanya. “Dan bolehkah…” Baekhyun mengembuskan nafasnya gugup, tak terlalu yakin dengan hal apa yang akan diucapkanya kali ini. “Bolehkah kita berteman, Noona?”

“Tentu saja, Baekkie!” tawa kecil gadis itu langsung menggema di taman kota yang tergolong cukup sepi itu, menyatu bersama udara musim semi yang tergolong tak seberapa hangat namun tak dingin pula. Tetapi bagi Baekhyun, gadis kecil tersebut saat itu sudah menjadi salah satu alasan terbesarnya lagi untuk kembali tersenyum semenjak kedua orangtuanya bercerai dan ia hanya memiliki kesempatan seminggu sekali untuk menemui sang ibu. Hingga terhitung sepuluh detik kemudian, Baekhyun ikut tertawa bersama Taeyeon, menertawakan sesuatu yang sebenarnya tak perlu mereka anggap lucu.

Namun pada dasarnya, begitulah dunia anak-anak. Segala hal yang sulit akan menjadi mudah di saat mereka bertemu dengan seseorang yang paling mereka sayangi. Dan pada ujung tertentu, bumi hanya menjadi setitik debu yang berputar di bawah telapak kaki mereka.

——————–

Oh Tuhan, kenangan ini ternyata masih belum berhenti juga, karena ada satu memori terdalam lagi yang baru saja berkelebat cepat di dalam pikiran seorang Byun Baekhyun. Semua tabir kini telah terbuka dan kenangan keduanya—yang termasuk ke dalam kenangan terburuknya—kini telah terkuak lagi. Memori itu bangkit, semakin kuat, dan semakin kuat.

Ingatan itu dimulai ketika Baekhyun yang baru saja berusia tiga belas tahun sedang bercengkrama bersama sahabatnya—Kim Taeyeon—sembari memainkan bola basket kesukaannya.  Sama seperti lima tahun yang lalu, hubungan mereka juga terus menghangat satu sama lain, bahkan lebih dari itu, Baekhyun dan Taeyeon sudah dapat dikatakan sebagai sepasang sahabat atau kakak beradik yang tidak akan terpisah satu sama lain.

Mereka kerap kali bercengkrama serta menertawakan banyak hal bodoh bersama, mengunjungi perpustakaan lalu meminjam buku yang sama, atau bahkan terkadang, juga ikut membaui bunga-bunga indah yang berada di kedai milik nenek Taeyeon bersama-sama—dan kali ini tolong dicatat, bahwa pekerjaan terakhir yang mereka lakukan juga cukup beresiko. Karena hampir sembilan puluh persen orang-orang Kota Seoul yang melihat mereka berdua tentunya akan berpikir bahwa dua orang gila muda telah terbebas dari rumah sakit jiwa secara diam-diam.

“Taeyeon Noona!” Baekhyun berseru keras sembari berlari mendekati Taeyeon yang sedang memetik mawar-mawarnya hati-hati. Bocah lelaki berusia tiga belas tahun itu kini menyedekapkan kedua tangannya di dada dengan sedikit sebal, menyadari Taeyeon yang sejak dua jam yang lalu masih menyibukkan dirinya dengan merangkai beberapa mawar cantik yang dikatakannya akan segera ia berikan pada ibu Baekhyun yang pada pukul dua belas malam nanti akan berusia tepat tiga puluh delapan tahun.

“Sampai kapan kau akan melakukan hal ini dan mengabaikanku terus?” desah nafas tak beraturan terdengar dari sosok Baekhyun yang kini mengenggam bola basketnya erat, ia menyipitkan kedua matanya yang pada dasarnya sudah cukup sipit, matanya sedikit berkedut memperhatikan jemari Taeyeon yang benar-benar bergerak penuh kehati-hatian ketika ia menyusun beberapa bunga-bunga kecil yang dikenalinya sebagai baby’s breath di sana.

“Tak perlu terlalu sempurna juga, umma-ku pasti akan menyukai hasil karyamu yang satu ini, Noona.”

“Tetapi ini kado ulang tahunku yang paling spesial untuknya, Baekkie ya,” gadis itu mendenguskan nafasnya sedikit kesal. Sebenarnya ia juga cukup tahu bahwa Baekhyun adalah sesosok anak laki-laki yang sama keras kepalanya seperti dirinya—namun setidaknya, untuk hari ini saja, bisakah ia mencoba untuk mengerti?

“Kalau begitu, kutunggu kau untuk datang ke taman kota di dekat rumah kita dalam jangka waktu lima belas menit ke depan. Dan jika kau tak datang…” Baekhyun jelas-jelas sedang berusaha menakuti Taeyeon yang masih bergerak merangkai bunga-bunganya dan tak berniat untuk mendengarkan ancaman Baekhyun sekali pun.

“Kau akan melakukan apa?” gadis itu mulai menatap Baekhyun dengan wajah datar, walaupun di dalam hatinya, ia sudah bersumpah dan memohon dengan penuh kekhawatiran kepada Tuhan agar Baekhyun tak melakukan sesuatu yang bodoh kepada dirinya sendiri.

“Tidak ada!” Baekhyun langsung tergelak dari bangku halaman rumahnya dan tertawa geli keras sekali. Ia mengatupkan kedua tangannya yang sekarang sudah lebih besar dibandingkan milik Taeyeon di perutnya, ia terbahak keras sekali menertawakan sahabatnya yang mungkin sempat berpikir bahwa dirinya akan melakukan suatu hal yang aneh pada dirinya sendiri. Dan bagi Taeyeon, sosok gadis itu bahkan tak dapat mengelak lagi, karena sehebat apa pun ia menjaga ekspresi wajahnya untuk tetap terlihat tak khawatir akan keadaan Baekhyun, maka akan selalu ada celah bagi bocah lelaki itu untuk mengetahui hal apa yang sebenarnya terjadi dalam dirinya.

Karena Baekhyun sudah mengenalnya lebih dari sepertiga bagian hidupnya saat itu.

“Baiklah, baiklah, terserah kau saja. Aku juga tak akan peduli,” Taeyeon menggelengkan kepalanya tak habis pikir di saat Baekhyun—lagi-lagi—bertingkah layaknya seorang bocah kecil kepadanya. “Aku menyerah, Tuan Byun Baekhyun!” ia mengangkat kedua tangannya sembari menatap Baekhyun sedikit jengkel bercampur geli.

“Aku akan menemuimu, tetapi tak bisa sekarang, bisa jadi sepuluh menit lagi. Boleh, ‘kan?”

Baekhyun segera menganggukkan kepalanya penuh semangat, “Tentu saja, Noona!” bocah lelaki itu sedikit menyisakan jeda di antara mereka sebelum ia akhirnya meraih bola basketnya lagi dan hendak menyebrangi jalanan. “Kalau begitu, aku pergi lebih dulu! Dan sampai jumpa!” Baekhyun berbisik pelan ke telinga gadis itu, dan berharap akan berhasil menggodanya lagi dengan guyonan-guyonan gilanya seperti biasa. Hingga tiba-tiba saja, bibir mungil Taeyeon mendarat di antara pipi kanannya.

Deg. Baekhyun mulai merasa ada suatu hal yang aneh yang sedang mendera dirinya saat itu, tepat bersamaan dengan tertahannya kecupan Taeyeon yang berada di pipinya selama beberapa detik. Aliran darahnya seakan hendak memancar keluar dari dalam tubuhnya, wajahnya mulai memanas, hingga pada akhirnya ia menundukkan wajahnya dan berusaha bersembunyi dari pandangan Taeyeon, sahabatnya, kakaknya, dan—mungkin—cinta pertamanya juga, sekali pun ia memang tak pernah mengutarakan hal tersebut sebelumnya kepada gadis itu. Ia terlalu malu, tentu saja.

“Aku tahu kau menginginkannya lagi, Byun Baekhyun.” Taeyeon tertawa geli sembari menyedekapkan kedua tangannya di dada, layaknya seorang pembajak laut yang berhasil merampas harta paling penting di dunia, ia tertawa puas menatap wajah Baekhyun yang mulai bersemu malu. Walaupun jauh di dalam hatinya, ia juga merasa agak malu melakukan hal seperti itu kepada Baekhyun. Karena dapat dikatakan, ia juga menyukai Baekhyun, lebih dari sekedar sebagai seorang adik atau sahabatnya sendiri.

Karena Byun Baekhyun, cinta pertamanya.

Noona,” Baekhyun mengembuskan nafasnya perlahan dan berusaha menguasai dirinya lagi, ia tak boleh terlihat sekikuk ini di depan sahabatnya sendiri, sementara Taeyeon bahkan masih terlihat baik-baik saja tanpa mengaluarkan sedikit ekspresi aneh apa pun. Dan bisa jadi karena ia terlalu gugup, Baekhyun yang biasanya sangat ahli dalam membaca ekspresi Taeyeon kini langsung kehilangan kemampuannya.

Kemudian pada akhirnya, ia memilih untuk berlari pelan sembari memantul-mantulkan bola basketnya di tengah jalan dan berseru, “Sampai jumpa lagi!” kepada Taeyeon ketika mendadak, sebuah mobil pick up berukuran sedang yang melaju dari arah berlawanan hendak menabraknya sebelum seorang gadis tiba-tiba saja berlari kencang ke arahnya dan menjadikan tubuh kecilnya sebagai tameng pelindung tubuh Baekhyun.

Dan sosok itu ialah Kim Taeyeon, yang kini tergeletak lemah di atas jalanan dengan kondisi tubuh berlumuran darah, padahal baru beberapa menit yang lalu ia tersenyum cerah kepada Baekhyun dan mengucapkan kata sampai jumpa kepadanya. Di antara hidup dan mati, nyata dan semu, Kim Taeyeon kini berjuang untuk mempertahankan hidupnya setelah beberapa menit yang lalu berhasil menyelamatkan Baekhyun yang kini hanya menderita luka ringan pada bagian kaki dan lengannya.

Baekhyun masih setengah sadar kala itu, ia juga masih sempat berteriak memanggil nama Taeyeon dan menyebutkan kata ‘Rose’ berkali-kali, sebelum pada akhirnya ia tak sadarkan diri juga. Sama seperti Taeyeon—sahabatnya, kakaknya, dan cinta pertamanya.

——————–

“Ja…” Baekhyun mulai terbata-bata menentukan kalimatnya, ia benar-benar tak tahan lagi kali ini. “Ja—jadi, kau Taeyeon Noona-ku? Kau gadis kecil yang sudah menjadi sahabatku semenjak usiaku baru delapan tahun dulu?” bibirnya bergerak pelan menahan rasa getir mulai menyesaki dadanya. Baekhyun benar-benar tak dapat mempercayainya, Taeyeon Noona-nya, cinta pertamanya, ia sudah kembali.

“Dan, jadi, ini juga alasanmu menjadi buta seperti ini?”

Taeyeon hanya menganggukkan kepalanya lemah, air matanya sudah menetes deras sekali di saat Baekhyun mulai meraih pundaknya dan memeluknya erat, membenamkan kepala Taeyeon di dalam dadanya.

“Mengapa kau tak bicara sejak awal, Noona?” Baekhyun menggigit bibirnya kuat. Sakit. Sesak. Pedih. Segalanya telah berbaur menjadi satu di dalam sana—ia merasa bersalah karena telah menyebabkan gadis itu menderita selama sepuluh tahun lamanya—membiarkannya kehilangan penglihatannya, membiarkannya kehilangan masa depannya, lalu pada ujungnya pula, Baekhyun mulai merasa dirinya sejak lama sudah tumbuh seperti iblis yang membiarkan hati seorang malaikat baik hati di belakang sana hancur karenanya.

“Lebih baik aku yang mati daripada kau yang menderita, Noona.” Tuturnya getir seraya semakin mengeratkan pelukannya pada pundak mungil gadis itu. Jika sepuluh tahun yang lalu mawar cantiknya pernah terlepas dan terpisah dengannya karena sebuah kecelakaan besar di antara mereka, maka ia tak akan pernah membiarkan hal seperti ini terjadi lagi.

“Aku menyayangimu, Noona. Mengapa kau tak memilih masa depanmu saja dibandingkan seorang pemuda bodoh seperti aku? Aku bahkan rela mati untukmu,”

“Tetapi aku juga rela mati untukmu, Baekkie ya. Buta bukan apa-apa untukku, karena asalkan kau baik-baik saja, segalanya juga sudah lebih dari cukup.” Taeyeon tiba-tiba melepaskan pelukannya dari tubuh Baekhyun, ia menengadahkan kepalanya dan tersenyum getir kepada pemuda itu. “Karena di masa-masa tersulit di hidupku pun, mengingat keadaanmu baik-baik saja, sekali pun kuyakin kau pasti lupa akan wajahku karena trauma kecelakaan hebat itu, sudah sangat membuatku merasa cukup tenang. Aku bersyukur usahaku menyelamatkanmu tak sia-sia sama sekali,”

“Karena aku percaya, suatu saat nanti kau akan kembali. Aku senang berkhayal tentangmu dan selalu berharap, kau yang entah berada di ujung dunia mana, akan datang lagi untuk menjemputku yang dengan setia menanti kedatanganmu. Dan untuk hari ini, terima kasih karena telah kembali, Baekkie ya.”

“Kau sahabatku. Cinta pertamaku.” Ada semburat merah yang membuncah di antara mereka berdua di kala Baekhyun dan Taeyeon—yang entah disengaja atau tidak disengaja—secara bersamaan menyebutkan kalimat itu bersama-sama.

“Dan hingga saat ini pun, aku juga masih mencintaimu, Noona. Saranghae.” Baekhyun meraih jemari sang gadis pelan lalu menggenggamnya erat-erat. Dengan langkah perlahan dan penuh kehati-hatian, ia menuntun gadisnya itu untuk menduduki salah sebuah ayunan besar yang berada paling dekat dengan mereka, sekaligus pula yang paling sering mereka mainkan di masa kecil dulu.

“Duduklah,” ia berbisik pelan dan tersenyum lembut kepada Taeyeon. Kemudian tak terhitung semenit setelah mereka melakukan hal itu bersama-sama, Baekhyun mulai menggerakkan dua rantai besi ayunannya. Ia menyatukan jemarinya bersama jemari Taeyeon yang menggenggam kuat rangkaian besi yang sudah mulai berkarat dimakan waktu tersebut. Namun siapa yang peduli? Ia justru merasa semakin bahagia, karena setidaknya mereka sudah mengungkapkan perasaan terdalam masing-masing yang telah disimpan rapat lebih dari satu dekade lamanya.

“Aku mencintaimu, Byun Baekhyun.” Taeyeon tersenyum kecil ketika dirinya mulai merasakan bahwa Baekhyun mulai beranjak dari posisi belakang tubuhnya dan kini menyamaratakan tinggi tubuhnya dengan Taeyeon yang kini tepat berhadapan dengannya.

“Aku juga mencintaimu, Rose-ku, mawarku,”

“Lebih dari sekedar yang kau tahu.”

Awan mendung kini telah menurunkan rintik-rintik hujannya lagi. Namun bukan berarti, langit tak merasa bahagia dengan menyatunya dua hati manusia yang sempat terpisah selama beberapa tahun ini. Mereka justru merasa amat bahagia atas hal indah yang sedang terjadi saat ini, dan hujan lah yang menjadi penandanya. Baekhyun kini semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuh Taeyeon yang sedang duduk di atas ayunan, lalu bibir mereka pun bertemu, merasakan kecupan lembut yang sudah lama dinanti satu sama lain.

“Menikahlah denganku, Kim Taeyeon.”

——————–

Untuk mendapatkan mawar yang terindah, mungkin dibutuhkan waktu yang panjang untuk menghadapi duri yang tertajam terlebih dahulu.

54 thoughts on “[Freelance] Rose

☆ Comment Juseyo ☆

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s